“PELITA” (Pemuda Lintas Iman) YANG MENJADI PENERANG KE BHINEKAAN
Kamis 1 Mei Pkl.22.00 WIB kami rombongan Pelita berangkat menuju Jogjakarta. Devida, Nashihin, Omen, Ariel, Murjiah, Diaz, Hadi, Arief dan Ahmad itulah personil yang sempat semobil menuju Jogjakarta. Sementara Hany dari Budha, Frans dari gratia, Sugi dari OMK berangkat terpisah menggunakan keretaapi.

Foto 1. Beberapa wajah para penggiat lintas iman Cirebon dan Jombang
Jumat 2 Mei Pkl.07.00 WIB, kami memasuki Kota Jogjakarta menuju kantor Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di depan Polsek Danurejan Jl. Atmosukarto 15 Kotabaru. Kami dijemput oleh Mln. Shagir Ahmad, Mubaligh Wilayah DIY, di Stasiun Lempuyangan. Setelah sampai Masjid Fadhil Umar, kompleks kantor JAI, kami lekas diarahkan ke Guest House yang berada di lantai 2 bangunan ini, guna bersih-bersih diri. Setelah semuanya kelar kami disuguhi sarapan pagi dengan lontong sayur Jogja yang begitu nikmat di Aula Taman Pustaka Arief Rahman Hakim. Mln. Shagir Ahmad menyalakan siaran Muslim Television Ahmadiyya(MTA) yang memang chanel resmi Ahmadiyah yang siarannya 24 jam nonstop tanpa iklan, yang dapat ditangkap dengan perangkat parabola tanpa berlangganan. Saat itu tayangan ketika Pimpinan Internasional Ahmadiyah yang kelima Mirza Masroor Ahmad aba sedang tour ke timur jauh dari Singapura, Australia, Selandia baru dan Jepang pada tahun lalu. Sambil makan dan bincang pagi, salah seorang kawan dari pengurus Pelita dan juga mahasiswa ISIF (Institute Studi Islam Fahmina) bertanya tentang apa yang sedang tayang di MTA. Dijelaskan bahwa itu adalah Pemimpin Ahmadiyah sedang kunjungan ke timur jauh (saat tayang Huzur sedang di Australia dan selandia baru). Penjelasan lanjut bahwa Ahmadiyah Internasional sudah dan sedang menerjemahkan Al-Quran ke dalam 100 bahasa dunia. Dan baru-baru ini sudah menyelesaikan terjemahan ke dalam bahasa Maori[1], bahasa lokal Selandia Baru. penulis pun mengumpulkan beberapa contoh terjemahan dari ayat-ayat pilihan ke dalam berbagai bahasa yang tersedia di Taman Pustaka. Sambil kagum dan raut muka mengiyakan karena baru mengetahui apa yang telah dikerjakan Ahmadiyah dalam penerjemahan, mereka pun meneruskan perbincangan sesama Pelita lainnya .[2]
Setelah semua sarapan kami bergegas ke agenda kedua yakni berkunjung ke penggiat toleransi pertama di Indonesia yang berbentuk Institut Dialog Antariman di Indonesia atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia, disingkat Institut DIAN/Interfidei.Kami tiba di markas interfidei ± Pkl.10.15 WIB dan diterima oleh BuWiwin dan Bu Elga. Perbincangan mulai dari perkenalan masing-masing lanjut dari maksud dan tujuan kedatangan kami di Interfidei. Bu Wiwin menjelaskan banyak hal tentang bagaimana interfidei menyuarakan dan mengkampanyekan perdamaian diantara pemeluk agama-agama di Indonesia melalui dialog. Pkl.11.10 WIB kita pun berpamitan untuk kembali ke markas JAI Jogjakarta guna shalat Jumat dan diakhiri dengan foto bersama di depan DIAN interfidei.[3]

Foto 2. Bu Elga dengan senyum khasnya di markas DIAN
Pkl.13.30 WIB setelah lunch kita ke agenda berikut yakni menyambangi CRCS (Center for Religious & Cross-cultural Studies/Studi Agama dan Lintas Budaya) pasca sarjana UGM. Kami diterima oleh DR.Mohammad Iqbal yang masih muda dansmart. Beliau mempromosikan tentang beberapa buku hasil penelitian yang diterbitkan CRCS dan berbagi pengalaman tentang CRCS.[4] Kemudian kami berpamitan untuk menuju langsung ke agenda utama di hotel Grand Aston Jogjakarta untuk memenuhi undangan Universitas Islam Indonesia Prodi Ilmu Komunikasi.

Foto 3. Kami tiba di Aston Hotel Pkl.16.00 WIB dan disambut panitia acara Bu Mutia dan Nn.Elmi.
Pada pertemuan ini yang bertajuk JOINT COUNCIL : Promosi Perdamaian Dan Transformasi Konflik Oleh Pemuda Lintas Agama Melalui Potensi Kearifan Lokal Serta Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Esensi dari Joint Council ini adalah perjumpaan berbagai elemen pemeluk agama yang beragam sebagai basis potensi multikulturalisme-sekaligus pluralism di Indonesia. Acara dibuka pada Pkl.19.00 WIB oleh Kordinator acara Abdur Rahman (Oman).

Foto 4. Sesi perkenalan oleh Oman
Sesi pertama adalah perkenalan sesama peserta. Tercatat peserta ini dari 4 Provinsi : Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Jawa Barat diwakili oleh Pemuda Lintas Iman Cirebon yang terwakili oleh : Pengurus Pelita, Pemuda Katolik dan Kristen, Muda Mudi Hindu, Patria Budha, Hidup dibalik Hidup. Jawa Tengah terwakili oleh FKUB Rembang, Kristen dan Katolik, Hindu dan Budha Theravada.. Jawa Timur diwakili oleh : Stara Muda Jombang, Fokmas Lasem, PKPD Tebuireng Jombang, Gusdurian Malang, Takmir Masjid Mojowarno, GKJW (Gereja Kristen Jawa Wetan), Komunitas LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender) dan Jogjakarta oleh Kodama (komunitas Dakwah Mahasiswa) dan AMAI (Angkatan Muda Ahmadiyah Indonesia).
Sesi kedua adalah deskripsi Kegiatan dan Ekspektasi dipandu oleh Oman. Sesi ketiga pada hari sabtu 3 Mei Pkl 08.30 WIB adalah Wacana Transformasi Konflik dipandu oleh Search for Common Ground[5]. Sesi keempat adalah Pemaparan temuan Riset Lapangan oleh Muzayyin. Sesi kelima adalah Diskusi Rencana Tindak Lanjut yang dibimbing oleh Panitia. Sesi enam adalah Pleno Action Plan (atau pemaparan dari RTL di sesi kelima) dan sesi terakhir pada hari Ahad 4 Mei Pkl.08.30 WIB tentang Diskusi action Plan kampanye melalui media baru berbasis teknologi informasi dan komunikasi oleh Zaki.

Foto 5. Sesi ke empat oleh Muzayyin
Dari semua sesi tersebut ada beberapa sesi yang menarik terutama dalam proses perkenalan. Dalam proses ini peserta diperintahkan untuk menutup mata oleh panitia. Disaat menutup mata panitia menempelkan kertas warna yang ditempel di dahi. Warna itu adalah merah, hijau dan kuning. Keterangan dari kertas warna itu adalah merah berarti orang yang diajak bicara adalah orang yang menguntungkan buat kita, hijau berarti orang yang tidak memiliki keuntungan buat kita serta kuning adalah kita tidak tahu apakah orang tersebut menguntungkan atau tidak. Dalam prosesnya kita diarahkan untuk memulai perkenalan, dimana orang yang diajak berbicara dan berkenalan ini tidak mengetahui apa warna kertasnya. Dari semua peserta menanggapi beragam dalam proses perkenalan ini yang didahului pelabelan pada kertas. Ada yang tidak terpengaruh ada juga yang bangga setelah tahu bahwa dia adalah kertas merah yang merupakan orang yang dianggap menguntungkan.Tapi ini hanya proses simulasi perkenalan yang mengesampingkan perbedaan. “pertumpul perbedaan pertajam persamaan, lembut kepada manusia keras terhadap masalah” . kalimat itulah kira-kira yang terucap dari sesi perkenalan unik ini.
Hal menarik berikutnya adalah diakhir sesi penutupan setiap malamnya dicari relawan untuk menjadi agen mata dan telinga sebanyak dua pasang. Tugas agen ini adalah mereview kembali pada setiap sesi yang telah terlaksana. Tugas mata adalah mereview dan merceritakan apa yang dia lihat semua pada sesi-sesi sebelumnya, sedangkan telinga dia bertanggungjawab untuk menceritakan apa yang dia dengar pada sesi-sesi sebelumnya. Ini adalah proses guna mengulang dan melatih peserta agar jeli dan bisa berbicara dimuka umum tentang apa yang dia lihat dan dia dengar.

Foto 6. Hany sebagai MATA
Selanjutnya adalah ada sesi patung Current Situation, peserta dibagi dalam 5 kelompok untuk mengekspresikan keadaan yang dilihat didengar dan dirasa dalam bentuk patung yang menyampaikan pesan perdamaian di Indonesia.

Foto 7. Current situation
Pada sesi akhir yang begitu menarik dan penting, kita diarahkan membuat sarana baru melalui media massa seperti Facebook, Laman Facebook dan Twitter untuk mengkampanyekan perdamaian ini. Munculah beberapa ide dalam sesi ini untuk medsos dengan masukan kata #onepeace dan dapur damai sebagai kata kunci.
Kata akhir tentang Workshop ini, adalah begitu indah dalam perbedaan yang begitu nyata. Pertemuan ini diwakili oleh para pemuda-pemudi dari berbagai elemen masyarakat dari 4 provinsi yang tentunya berbeda agama, budaya, bahasa dan latar belakang. Namun demi kebhinekaan mau duduk bersama mewujudkan perdamaian dalam perbedaan.
Foto 8. Sesi foto bersama dengan panitia dan peserta
Ahad Pkl.16.00 WIB kami rombongan Pelita bergegas menuju Cirebon setelah melampiaskan rasa dahaga belanja buku di Taman Pintar Jogjakarta. Bergaul dan bercengkrama dengan berbagai elemen ini, menjadi semangat baru dan terpacu guna meneruskan dan mengkampanyekan perdamaian tanpa menghindari konflik yang ada. Salam Pelita. (diat)