نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ
Khutbah Jum’ah
Hadhrat
Khalifatul Masih V atba
Tanggal 21
March 2014
Tentang: Tanda kebenaran Masih
dan Mahdi Mau’ud
Dari Baitul Futuh London UK
اَشْهَدُ اَنْ
لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَمَّا بَعْدُ
فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ,غَيْرِ
الْمَغْضُوْبِ
عَلَيْهِمْ
وَلاَ الضَّالِّيْنَo
Pada hari ini saya akan mengemukakan beberapa kutipan
dari karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjelaskan tentang kebenaran,
Tanda-tanda dan mu’jizat-mu’jizat. Namun sebelumnya saya ingin mengulangi
beberapa hal dari Khutbah yang lalu. Di dalam Khutbah yang lalu saya
menjelaskan tentang pentingnya dan cara meraih ma’rifat Ilahi berdasarkan
intisari dari karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Dan diantaranya saya telah
menjelaskan satu atau dua buah perkara yang nampaknya sulit juga. Akan tetapi
setelah saya mendengar terjemah Khutbah itu di dalam Bahasa Inggeris dan juga
melihat dalam bentuk tulisan di dalam bahasa Urdu yang akan dimuat di dalam Al
Fazle, saya merasa bahwa sebuah kutipan tidak dijelaskan dengan sempurna dan
hal itu mungkin para penterjemah di dalam berbagai Bahasa akan menghadapi
sedikit kesulitan begitu juga mungkin telah menyebabkan adanya kesulitan bagi
orang yang telah menyalin Khutbah itu. Oleh sebab itu hari ini pertama, saya
akan membaca sebagian dari kutipan itu dan menjelaskannya secara ringkas di
dalam bahasa yang mudah. Sambil menjelaskan bahwa hukum-hukum Ilahi tidak dapat
diamalkan tanpa ma’rifat Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Allah
Ta’ala telah menetapkan Ilmu dan ma’rifat sebagai dasar utama sarana untuk
meraih hakikat atau pengertian yang sebenarnya tentang Islam. Dan sekalipun masih
banyak lagi sarana-sarana lain untuk meraih hakikat Islam itu seperti, puasa,
salat, do’a dan semua hukum-hukum Ilahi yang jumlahnya lebih dari 600, akan
tetapi ma’rifat Keagungan Allah Ta’ala dan Tauhid-Nya, ma’rifat sifat-sifat
Jalali dan Jamali Hadhrat Bari ‘Azza Ismuhu, Wasilatul Wasail adalah tumpuan utama
bagi memahami semua. Orang yang lalai hatinya dan bernasib malang sepenuhnya dari ma’rifat Ilahi, ia
tidak akan mendapat taufiq untuk menunaikan kewajiban puasa, salat dan do’a
atau menaruh perhatian terhadap derma dan sedekah. Dan penggerak semua amal
saleh itu adalah ma’rifat Ilahi. Dan semua sarana-sarana lainnya juga
sesungguhnya tercipta dari padanya. (A’ina-e-Kamalat-e-Islam, Ruhani Khazain,
Vol. 5, pp. 187- 188 - Essence of Islam, Vol. I, pp. 203 – 204) Kutipan ini
penting sekali, oleh sebab itulah saya menganggap perlu untuk menjelaskannya
kembali demi memudahkan pemahamannya bagi setiap orang. Perkara utama yang
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah katakan adalah, bahwa hakikat atau pengertian
Islam dapat diketahui oleh seseorang apabila ia menela’ahnya secara mendalam,
berusaha untuk meraih ilmu dan ma’rifatnya. Atau akan diketahui hakikat-nya
apabila diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih marifatnya. Untuk
menghasilkan hakikat Islam banyak sekali sarananya. Dan hakikat Islam akan
jelas kepada mereka yang telah menghasilkan sarana-sarana itu. Jika mereka
berusaha untuk menghasilkan sarana-sarana itu barulah hakikat Islam akan jelas
kepada mereka. Diantara sarana-sarana itu adalah Salat, puasa, do’a dan semua
hukum-hukum Ilahi yang tercantum di dalam Kitab Suci Alqur’anul Karim. Dan
berdasarkan perkiraan jumlahnya lebih dari 600. Namun ingatlah! Seseorang tidak
akan mengetahui hakikat Salat, tidak akan mengetahui hakikat puasa, yakni
seseorang tidak dapat menunaikan salat dengan sesungguhnya dan tidak pula dapat
menunaikan kewajiban puasa dengan sesungguhnya dan tidak dapat pula mengetahui
hakikat do’a, tidak pula dapat memahami dengan benar hukum-hukum lainnya dalam
Al Qur’an. Pengertian mendalam tentang semua perkara itu, pentingnya dan
pengetahuan hakikatnya akan diperoleh apabila ilmu dan ma’rifat keagungan Allah
Ta’ala telah dihasilkan. Dan apabila ma’rifat wahdaniyat (keesaan) Zat Allah
Ta’ala telah dihasilkan. Harus yakin bahwa Dialah Tuhan tiada yang lain selain
Allah Ta’ala. Sifat-sfat Allah Ta’ala bermacam-macam, diantaranya adalah sifat
Jalal (gagah) dan Sifat Jamal (indah). Jika seseorang tidak memiliki pemahaman
tentang manifestasi yang cemerlang sifat-sifat-Nya itu dan tidak memiliki
ma’rifat-Nya, maka ia tidak akan dapat mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala.
Jika pengertian sifat-sifat Allah Ta’ala telah dipahami maka barulah
hukum-hukum-Nya dapat dia amalkan dengan sebaik-baiknya. Seolah-olah jika ruh
dan intisari Salat, puasa dan hukum-hukum lainnya harus betul-betul dipahami
maka sesuai dengan firman Allah Ta’ala :
yakni, setiap waktu Dia menampakkan sifat-Nya
dalam keadaan yang berlainan (Ar Rahman:30), memperoleh ma’rifatnya sangat
penting sekali. Maka, dasar untuk memahami hakikat Islam, ibadah dan
hukum-hukum Ilahi adalah mengetahui dengan pasti keagungan Allah Ta’ala. Betapa
agungnya Zat Allah Ta’ala itu. Mengetahui wahdaniyat Allah Ta’ala dan berbagai
segi sifat Jalali dan Jamali Allah Ta’ala dan kemuliaan-Nya sangat penting
sekali. Atau berusaha untuk menghasilkan ilmu dan ma’rifatnya sangat penting
sekali. Jika tidak dapat memahami sepenuhnya dan tidak memiliki pengertian,
maka manusia harus berusaha untuk memahami
betul sifat-sifat Allah Ta’ala itu agar dapat menunaikan ibadah
kepada-Nya dan mengamalkan hukum-hukum-Nya. Sebab untuk mengamalkan semua
hukum-hukum Allah Ta’ala itu bertumpu kepada ma’rifat Ilahi itu. Beliau a.s.
bersabda: “Hati yang lalai yang tidak tahu apakah ma’rifat Ilahi itu dan apakah keagungan Wahdaniyat, Zat dan Sifat
Allah Ta’ala itu, bagaimana ia akan memperoleh taufiq untuk menunaikan ibadah
kepada-Nya dan mengamalkan hukum-hukum-Nya serta punya perhatian terhadap do’a
dan memberi sedeqah. Ilmu atau ma’rifat Ilahi-lah yang memberi inspirasi kepada
manusia untuk melakukan semua amal saleh itu. Semakin banyak manusia memahami
ma’rifat Allah Ta’ala semakin banyak perhatian untuk menunaikan ibadah, dan
memahami ruh amal saleh. Jika kita menaruh perhatian penuh untuk memahami
ma’rifat Allah Ta’ala maka akan timbul perhatian kita terhadap melaksanakan
hukum-hukum Allah Ta’ala juga.” Memang
betul, mula-mula pengertian tentang Tuhan adalah anugerah khas dari pada Sifat
Rahmaniyat-Nya (Sifat Pengasih) kepada orang-orang saleh. Akan tetapi ma’rifat
ini meningkat terus berkat keindahan iman dan melakukan amal saleh. Dan manusia
sampai kepada martabah dimana ia mengetahui keadaan Islam hakiki dan hatinya
menjadi cemerlang dengan ma’rifat Allah Ta’ala. Martabah itulah yang harus
diraih oleh setiap orang yang menamakan diri orang Muslim. Dua hari lagi, insya
Allah Ta’ala, Jema’at akan memperingati Hari Masih Mau’ud pada tanggal 23 Maret
2014. Para Ulama Jema’at dan penceramah akan menyampaikan pidato atau ceramah
tentang tajuk ini dan tentang Tanda-tanda serta pertolongan-pertolongan Tuhan
terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Walhasil, kesempatan ini sangat baik sekali
dua hari sebelum waktunya saya sedang memberi penjelasan tentang tajuk yang
sama. Tentang itu saya ingin memberi tahukan bahwa pada tahun ini akan
disiarkan secara langsung dari Qadian selama tiga hari untuk memperingati Hari
Masih Mau’ud. Program ini akan disiarkan di dalam Bahasa Arab. Saudara-saudara
kita dari Arab sudah berangkat ke Qadian untuk menyiarkan program ini dan akan
menjelaskan pentingnya hari ini atau pentingnya tajuk ini yang akan disiarkan
langsung dari Qadian. Dan insya Allah Ta’ala, saya juga dalam kesempatan ini
diharapkan akan menyampaikan amanat pada hari Minggu. Saudara-saudara juga harus
berusaha untuk mengmbil faedah dari program ini.
Sekarang saya akan menyampaikan beberapa kutipan dari
tulisan dan sabda Hadhrat Masih Mau’ud
a.s. Pertama tentang kedatangan dan kebenaran beliau a.s. sendiri. Dalam
menjelaskan mengenai gerhana bulan dan gerhana amatahari Hadhrat Masih Mau’ud
a.s. bersabda:” Di dalam Sahih Daru Qutni terdapat sebuah Hadis bahwa Imam
Muhammad Bakir meriwayatkan sebagai berikut : Inna limahdiyyina ayataini lam
takuna munzu kholqis samaawaati wal ardha, yankasiful qomaru fi awwali lailatin
mir Ramadhana wa tankasifusy syamsu fi nisfi minhu. Artinya: Untuk Mahdi
kami akan terdapat dua tanda, semenjak Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi
kedua tanda ini tidak pernah timbul di dalam waktu seorang Utusan atau Rasul
Allah manapun. Salah satu diantaranya adalah di zaman Mahdi Mau’ud gerhana
bulan akan terjadi pada awal bulan Ramadhan, yakni tanggal 13 dan gerhana
matahari pada pertengahannya diantara hari-hari terjadinya gerhana, yakni pada
tanggal 28 di dalam bulam Ramadhan itu juga. Dan peristiwa seperti itu semenjak
dunia diciptakan di zaman seorang Nabi atau Rasul manapun tidak pernah terjadi,
hanyalah ditetapkan di waktu datangnya Imam Mahdi. Semua Surat Kabar berbahasa
Inggeris dan Urdu dan sejumlah para pakar telah menjadi saksi di zaman saya
kira-kira 12 tahun sudah berlalu sudah terjadi gerhana bulan dan gerhana mata
hari itu di dalam bulan Ramadhan. Dan sebagaimana telah diriwayatkan di dalam
Hadis lainnya bahwa gerhana ini sudah dua kali terjadi di dalam bulan Ramadhan,
pertama di Negeri ini (India) dan kedua di America dan kedua-duanya telah
terjadi di dalam tanggal-tanggal yang sama, yang telah disebutkan di dalam
hadis tersebut. Dan oleh karena di waktu terjadi gerhana itu tidak ada orang
lain di atas dunia ini yang menda’wakan diri sebagai Mahdi Mau’ud kecuali saya,
dan tidak ada pula orang seperti saya yang menyatakan gerhana itu sebagai tanda
kebenaran dirinya sebagai Mahdi, dan menyebarkan beratus ribu selebaran dan
risalah di dalam Bahasa Urdu, Farsi dan Bahasa Arab di atas dunia, oleh sebab
itu tanda samawi ini telah ditetapkan hanyalah bagi saya. Dalil kedua adalah,
12 tahun sebelum gerhana ini zahir Allah Ta’ala telah memberi tahu kepada saya
bahwa tanda seperti ini akan zahir dan kabar ini telah ditulis di dalam Barahin
Ahmadiyya, dan sebelum tanda ini zahir beratus ribu manusia telah menerima
selebaran ini. (Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, vol. 22, p.202 – Essence of
Islam, Vol. V, p. 166)
Sekalipun banyak orang telah menentang dan mengemukakan
dalil-dalil tentang gerhana bulan ini, akan tetapi keistimewaannya adalah, jauh
sebelumnya beliau telah mengumumkan tentang akan terjadinya gerhana ini. Dalam
menjelaskan lebih lanjut tentang itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Hadis
ini mengandung kabar ghaib yang telah zahir setelah 1300 tahun. Ringkasannya
adalah, di zaman Mahdi Mau’ud, akan terjadi gerhana bulan pada malam ke 13 di
bulan Ramadhan dan di dalam bulan ini juga gerhana mata hari akan terjadi pada
hari yang ke 28. Dan peristiwa seperti ini tidak akan terjadi di zaman siapapun
yang mendawakan diri sebagai Utusan Tuhan kecuali di zaman Mahdi Mau’ud. Dan
jelaslah bahwa memberi tahu perkara ghaib dengan jelas bukan pekerjaan siapapun
kecuali seorang Nabi Allah. Didalam Al Qur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman:
Yakni:
Dia tidak menzahirkan rahasia ghaib kepada siapapun. Kecuali kepada Rasul
yang Dia ridhai. (Al Jin ayat 27-28). Maka semenjak nubuatan ini dari segi
maknanya telah terpenuhi dengan sempurna, kemudian mereka berkata bahwa hadis
ini Dhoif (lemah) atau ini hanyalah perkataan Imam Muhammad Baqir, maka
sesungguhnya mereka itu sekali-kali tidak menghendaki nubuatan apapun dari Nabi
Muhammad saw atau nubuatan Al Qur’an menjadi sempurna. Tanda kebenaran ini
adalah tanda sempurnanya nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. Dunia sudah hampir
akan berakhir, namun menurut mereka di akhir zaman ini tidak ada suatu nubuatan
yang telah sempurna. Hadis mana lagi yang lebih sohih dari pada hadis ini,
sebab hadis ini tidak pernah dikritik oleh para Muhaditsin (para Ahli Hadis)
bahkan kesohihannya telah ditunjukkan oleh sempurnanya Hadis ini sendiri, bahwa
kesohihannya mencapai tingkat yang sangat tinggi. Jika mereka tidak mau
menerima kebenaran Tanda dari Allah Ta’ala lain perkara. Padahal, ini adalah
sebuah Tanda yang sangat agung sekali. Beribu-ribu Ulama dan para Muhaditsin
sebelum saya sangat menunggu-nunggu waktu kejadiannya. Dan mereka naik keatas
mimbar kemudian mengingatkan orang-orang tentang itu. Yang paling akhir dari
antara mereka adalah Maulwi Muhammad Lukhoky yang telah menulis sebuah syair di
dalam kitabnya bernama ‘Ahwalul Aakhirat’ dimana dijelaskan tentang gerhana
bagi Mahdi Mau’ud (syai’ir di dalam Bahasa Punjabi) yaitu: terhwin chand so
therwin suraj grehen ho si ho sale andar mah e ramzan lekhea ik riwayat wale.
(Sudah tertulis di dalam Hadis bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari akan
terjadi di abad ke tiga belas dalam bulan Ramadhan). Kemudian, seorang suci
lainnya lagi menulis sya’ir di dalam Bahasa Farsi yang sangat terkenal semenjak
berabad-abad, bahwa apabila terjadi gerhana bulan dan matahari di dalam satu
bulan di abad ke 14 tahun 1311 Hijriyah, maka ia akan menjadi tanda turunnya
Mahdi Mau’ud dan Dajjal. Syair ini telah memberi tahukan waktu yang tepat bagi
terjadinya gerhana bulan dan matahari. (Haqiqat-ul-Wahi, hal.204-205)
Berkenaan dengan hubungan dengan Allah Ta’ala sebelum
menda’wakan diri, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Ketika saya diberi kabar
bahwa ayah saya akan wafat setelah matahari terbenam, karena sebagai manusia saya
merasa sedih sekali mendengar kabar ini. Sebab sumber penghasilan saya sangat
bergantung dengan wujud beliau dan beliau biasa menerima wang pension dari
Pemerintah British lebih-lebih suka menerima hadiah-hadiah yang cukup besar
jumlahnya yang terikat dengan syarat kehidupan beliau. Oleh sebab itu sebuah
perkiraan telah terlintas di dalam benak, bahwa kami akan menghadapi kesempitan
dan kesulitan. Dan semua anggapan seperti itu tiba-tiba datang dan tiba-tiba
hilang lenyap dari benak saya laksana sebuah kilat, barulah ketika dalam
keadaan sedikit ngantuk diterima ilham kedua
Yakni:
Tidakkah cukup Allah bagi hamba-Nya? (Az Zumar :37). Berkat menerima
ilham Ilahi ini hati saya begitu kuat dan tegar sekali laksana sebuah luka yang
sangat ngeri dan menakutkan tiba-tiba dengan spontan menjadi sembuh karena
diolesi salep (ointment) obat luka. Sesungguhnya perkara ini telah
berulang kali dialami bahwa wahyu Ilahi mempunyai keistimewaan sendiri untuk
menenteramkan kalbu. Dan akar keistimewaan ini adalah manusia harus mempunyai
keyakinan terhadap wahyu Ilahi. Alangkah disesalkannya sekalipun mereka
mendawakan menerima Ilham namun orang-orang itu mengatakan bahwa Ilham kami
hanyalah prasangka belaka, mereka tidak yakin apakah wahyu ini datang dari syaitan
atau dari Tuhan Yang Rahman. Ilham demikian lebih banyak bahayanya ketimbang
faedahnya. Namun saya bersumpah atas Nama Allah, bahwa saya beriman kepada
Ilham ini seperti saya beriman kepada Al Qur’an dan kepada Kitab-kitab Tuhan
lainnya. Dan sebagaimana saya yakin sepenuhnya bahwa Al Qur’anul Karim adalah
kalam atau firman Allah Ta’ala, seperti itu juga kalam atau firman Tuhan yang
turun kepada saya adalah juga kalam Allah Ta’ala. Sebab saya melihat nur Ilahi
di dalamnya. Dan saya mendapatkan contoh-contoh Kudrat Allah Ta’ala di
dalamnya. Pendeknya, ketika saya menerima Ilham ini
yakni: Tidakkah cukup Allah bagi
hamba-Nya? (Az Zumar :37), maka pada waktu itu juga saya mengerti bahwa
Tuhan tidak akan meninggalkan saya. Maka saya tulis Ilham itu kemudian
diberikan kepada seorang Hindu bernama Mulawalmal yang tinggal di Qadian dan
sampai sekarang masih hidup, dan saya ceritakan semua kissah kepadanya kemudian
saya kirim dia ke Amritsar supaya melalui Hakeem Maulwi Muhammad Sharif
Kalanoori membuat sebentuk cincin bertuliskan wahyu itu diatasnya. Dan saya
menyuruh seorang Hindu untuk pekerjaan itu semata-mata dengan tujuan agar dia
menjadi saksi terhadap nubuatan agung itu dan Hakeem Maulwi Muhammad Sharif
Kalanoori juga menjadi saksi untuk itu. Maka melalui Maulwi Muhammad Sharif
Sahib itu cincin yang dimaksud telah selesai dipersiapkan dengan biaya 5 Rupees
dan sampailah kepada saya, yang sampai sekarang masih ada ditangan saya. Ilham
ini turun diwaktu semua perbelanjaan saya sehari-hari bergantung kepada
penghasilan ayah saya yang tidak berapa banyak jumlahnya. Dan seorang-pun dari
luar tidak ada yang kenal kepada saya. Saya seorang yang tidak dikenal tinggal
di sebuah sudut kampung Qadian yang betul-betul sunyi. Kemudian setelah itu
sesuai dengan nubuatan itu, Allah Ta’ala telah memalingkan sebuah dunia kearah
saya dan menyediakan bantuan keuangan melalui keberhasilan yang terus-menerus
sehingga saya tidak mempunyai kata-kata untuk menyatakan rasa syukur
kepada-Nya. Mengingat keadaan saya diwaktu itu, saya betul-betul tidak
mempunyai harapan sekalipun untuk menerima 10 Rupees setiap bulan. Akan tetapi
Allah Ta’ala Yang mengangkat hamba yang lemah dari debu dan menjatuhkan
orang-orang takabbur kedalam debu, Dia telah mengayomi saya demikian rupa
sehingga saya berkata dengan penuh yakin sampai sekarang sudah diterima wang
sebanyak Rupees 300.000, mungkin juga lebih. Pendapatan ini harus dipikirkan
penggunaannya. Bahwa bertahun-tahun biaya Langgar Khana saja mencapai Rupee
1500 per bulan. Perbelanjaan lainnya, seperti Madrassa, biaya percetakan
buku-buku terpisah dari perbelanjaan
itu. Maka harus diperhatikan bahwa nubuatn
Yakni:
Tidakkah cukup Allah bagi hamba-Nya? (Az Zumar :37) telah sempurna
dengan sangat cemerlang sekali. Apakah ini pekerjaan seorang pendusta atau
sebuah penipuan syaitan? Sama sekali bukan!
Melainkan ini adalah kinerja
Tuhan Yang di tangan-Nya terletak segala kehormatan, kehinaan, kesengsaraan dan
juga kemakmuran. Jika tidak percaya terhadap perkataan saya maka tengoklah ke
dalam Buku Register Kantor Pos 20 tahun kebelakang berapa banyak wang telah
diterima selama itu.” (Haqiqat-ul-Wahi, pp. 219-221)
Dengan karunia Allah Ta’ala sekarang Langgar Khana
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini telah dibuka diseluruh dunia dan di UK juga telah
dibuka secara permanent, sebab Khilafat berada di sini. Ini juga salah satu
cabang dari missi Hadhrat Masih Mau’ud yang tidak kurang pentingnya. Oleh sebab
itu merupakan kewajiban para petugas pengelola Langgar Khana untuk menangani
pengkhidmatan para tamu yang datang kesini dengan perhatian yang khas. Memang
belanja berlebihan tidak dibenarkan, harus dibuat suatu perencanaan anggaran,
akan tetapi sebaliknya jangan berlaku kedekut atau kikir terhadap para tetamu.
Sebab Langgar ini bukan milik saudara-saudara melainkan milik Hadhrat Masih
Mau’ud a.s. Kadangkala diterima keluhan tentang dhiafat (pengkhidmatan tamu),
tentang kelompok pengelola atau tentang para pengurus Langgar Khana. Mereka
harus menaruh perhatian penuh terhadap kewajiban mereka ini, disetiap tempat di
seluruh dunia, terutama para petugas di sini, di Rabwah dan juga di
Qadian.
Dalam menguraikan kemajuan Jem’aat sambil membacakan
sebuah Ilham beliau, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Terdapat sebuah
nubuatan di dalam kitab Barahin Ahmadiyya bahwa: 
Yakni: laksana tanaman yang mengeluarkan
tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh dan berdiri mantap pada
batangnya..(Al Fahtah:30). Ini sebuah nubuatan yang sangat agung yang
dicetuskan 25 tahun yang silam tentang perkembangan Jema’at padahal pada waktu itu
Jema’at ini belum di-dirikan dan tidak pula ada orang yang menjalin hubungan
dengan saya untuk Bai’at. Bahkan belum ada orang yang kenal dengan nama saya.
Kemudian setelah itu dengan karunia Allah Ta’ala Jema’at ini telah didirikan
yang sekarang anggotanya sudah mencapai 300.000 orang lebih. Saya laksana
sebutir biji yang kecil sekali yang telah ditanamkan melalui tangan Tuhan,
kemudian saya tetap tersembunyi untuk beberapa waktu lamanya, kemudian saya
mulai menampakkan diri, dan banyak sekali orang yang membuat hubungan dengan
saya. Maka nubuatan ini semata-mata telah sempurna melalui karunia Allah
Ta’ala.” Dan sekarang dengan karunia Allah Ta’ala kita dapat melihat Jema’at
sudah berdiri di 204 Negara diseluruh dunia dan dengan karunia Allah Ta’ala jumlah
anggotanya sudah mencapai puluhan bahkan ratusan juta dan amanat Hadhrat Masih
Mau’ud a.s. sedang berkumandang kesegenap penjuru dunia melalui MTA.
Selanjutnya tentang sebuah Tanda Hadhrat Masih Mau’ud
a.s. bersabda:” Di dalam Kitab Barahin Ahmadiyya terdapat sebuah nubuatan lain
lagi yakni
Yakni : Allah Ta’ala pasti akan menyelamatkan
engkau dari semua musibat.Sekalipun manusia tidak menghendaki agar engkau
selamat. Nubuatan ini untuk zaman dulu ketika saya masih tinggal sendiri
dan belum dikenal, tidak ada seorangpun yang menjalin hubungan dengan saya dan
tidak ada pula permusuhan. Dalam nubuatan ini Tuhan akan menyelamatkan saya
dari tangan manusia, jangankan permusuhan sedangkan seorang-pun belum ada yang
kenal dengan saya, bagaimana saya akan dselamatkan dari musuh. Namun setelah
saya menda’wakan sebagai Masih Mau’ud, maka kemarahan semua maulvi bersama
teman-teman mereka berkobar laksana kobaran api. Pada masa itu seorang Padri
bernama Dr Martyn Clark telah mengadukan saya ke Pengadilan dengan tuduhan
pembunuhan. Di dalam sidang Pengadilan itu saya sudah berpengalaman bahwa para
maulvi seluruh Punjab merasa haus akan darah
saya dan mereka menganggap saya lebih buruk dari pada Kristen. Seorang Kristen
yang menjadi musuh Hadhrat Rasulullah saw dan memaki-maki beliau saw karena ia
menganggap beliau saw orang sangat jelek. Oleh karena para maulvi itu menentang
saya, mereka hadir di Pengadilan menjadi para pendukung Padri itu dan memberi
kesaksian atas namanya, dan kebanyakan mereka memanjatkan do’a agar Padri itu
mendapat kemenangan di dalam persidangan itu. Saya mendengar suara dari Masjid
bahwa mereka berdo’a sambil menangis : Hai Tuhan, tolonglah Padri ini dan
berilah kemenangan kepadanya! Namun Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, tidak
mendengar do’a seorang–pun dari mereka, tidak pula orang yang memberi kesaksian
untuk Padri itu berhasil di dalam kesaksian mereka dan tidak pula do’a mereka
terkabul. Itulah para Ulama, penolong Agama, itulah kaum yang biasa dihormati
masyarakat. Mereka telah berjuang keras sampai keujung kuku jari kaki mereka
agar saya dijatuhi hukuman mati di hadapan mereka. Dan mereka telah membantu
seorang musuh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Mereka telah berusaha keras
membuat rencana untuk membantu musuh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Maka
secara alami timbul pikiran di dalam benak saya bahwa semua maulvi dan semua
pengikut mereka telah menjadi musuh yang haus akan darah saya. Siapakah yang
telah menolong saya dari api yang berkobar-kobar itu? Padahal delapan bahkan
sembilan orang saksi untuk membinasakan saya telah hadir di hadapan Pengadilan.
Jawabannya adalah: Saya telah diselamatkan oleh Dia Yang telah berjanji 25
tahun yang lampau kepada saya bahwa:
Kaum engkau tidak akan menyelamatkan engkau bahkan mereka berusaha agar engkau
binasa, akan tetapi Aku akan menyelamatkan engkau! Sebagaimana Dia telah
memberi tahu sebelumnya, dan 25 tahun sebelumnya telah tertulis di dalam Kitab
Barahin Ahmadiyya. Inilah janji-Nya itu: Fabarra-ahu mimma qoluu wa
‘indallahi wajihan. Yakni, Allah Ta’ala telah menyelamatkan-nya dari
tuduhan mereka yang telah dituduhkan kepadanya dan dia mempunyai kedudukan
tinggi bersama Tuhan.” (Haqiqat-ul-Wahi,
Ruhani Khazain,jld 22, hal. 242-243 – Essence of Islam,jld. V, hal.128 – 130)
Tengoklah, Tanda ini telah sempurna dengan cemerlang
sekali, ketika anak dari cucu Martyn Clark
mengakui secara terbuka di depan kita katanya: Ayah kakek saya (Martyn Clark)
ada di pihak yang salah sedangkan Mirza Ghulam Ahmad Qadiani di pihak yang
benar. Tentang sebuah Tanda lain lagi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:”
Maulvi Ghulam Dastagir Kasturi telah menerbitkan sebuah risalah bernama Fatah
Rahmani untuk menentang saya dalam bentuk mubahala dan berdo’a buruk untuk saya
sebagai berikut: Allahumma ya zal jalali wal ikram, ya malikal mulki, Ya Allah sebagaimana
Engkau telah membinasakan seorang pendusta dan penda’wa palsu sebagai Mahdi
melalui do’a dan usaha seorang ulama…seperti itulah hamba yang fakir dari Kasur
berdo’a dan memohon kepada Allah, yang sedang mengkhidmati Agama Engkau sesuai
dengan kemampuannya bahwa Engkau berilah taufiq kepada Mirza Qadiani dan para
pengikutnya untuk bertobah dengan sesungguhnya. Dan jika hal itu tidak mungkin
terjadi, maka jadikanlah dia sasaran dari ayat Qur’an berikut ini:
Beberapa orang maulvi dungu menulis katanya, Maulwi Ghulam Dastagir tidak melakukan
mubahalah, hanya berdo’a buruk terhadap orang zalim. Akan tetapi saya berkata
bahwa, karena dia memohon keputusan kepada Allah Ta’ala untuk kematian saya dan
saya dinyatakan zalim olehnya, maka mengapa do’a buruk atau kutukan itu jatuh
menimpa dirinya sendiri? Dan mengapa Allah Ta’ala mematikan Maulwi Ghulam
Dastagir di waktu yang sangat kritis, yaitu di waktu orang-orang sedang
menanti-nantikan keputusan Ilahi, karena dia menghendaki kematian saya melalui
do’anya itu, supaya dia dapat membuktikan kepada dunia bahwa seorang Mahdi dan
Masih palsu sudah mati sebagaimana melalui do’a buruk Mohammad Tahir seorang
Mahdi palsu telah mati, begitu juga melalui do’a saya orang ini telah binasa.
Mengapa kesan do’a itu jadi terbalik? Memang betul melalui do’a Muhammad Tahir
seorang Mahdi dan Masih dusta dan palsu telah binasa dan dengan menjiplak cara
Muhammad Tahir itu Maulwi Ghulam Dastagir telah berdo’a buruk untuk saya, maka
sekarang manusia harus berpikir bagaimana kesan do’a Muhammad Tahir dan
bagaimana kesan do’a Maulwi Ghulam Dastagir itu. Jika dikatakan bahwa Ghulam
Dastagir mati tanpa diduga, maka Mahdi palsu juga telah mati tanpa diduga.
Muhammad Tahir tidak mempunyai suatu kelebihan apapun. Laknatullah ‘alal
kazibin! Kira-kira sebelas tahun sudah berlalu semenjak kematian Ghulam
Dastagir, orang zalim itu telah dibinasakan oleh Allah Ta’ala dan rumahnya
dijadikan sunyi senyap. Sekarang katakanlah secara adil, akar siapkah yang
telah dipotong dan menimpa siapa kesan do’a itu? Allah Ta’ala berfirman sebagai
berikut :
Selanjutnya Tanda tentang ke-fasihan Bahasa Arab
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Telah tertulis nubuatan di dalam Kitab
Barahin Ahmadiyya bahwa: Engkau akan dianugerahi kefasihan dan kelebihan Bahasa
Arab. Tidak akan ada orang yang dapat menandingi engkau. Maka sampai sekarang
tidak ada seorang-pun yang dapat menandingi saya. Tentang ini telah diterima
Ilham dari Allah Ta’ala : Kalamun fusihat mil ladun rabbin karim. Yakni,
Kitab yang telah saya tulis di dalam Bahasa Arab sampai sekarang, diantaranya
banyak yang berupa prosa dan banyak berupa puisi atau Nazam juga. Yang
tandingannya tidak dapat dilakukan oleh para ulama yang melawan saya. Buku-buku
yang ditulis di dalam Bahasa Arab iu rinciannya sebagai berikut: Anjaam Atham
halaman 73 sampai 282 di dalam Bahasa Arab, At Tabligh, Aina Kamalati Islam,
Karamatus Sadiqeen, Hamamatul Bushra, Seeratul Abdal, Nurul Haq bagian I, Nurul
Haq Bagian II, Tuhfa Baghdad, Ijazul Masih, Itmamul Hujjat, Hujjatullah, Sirrul
Khilafa, Muwahibur Rahman, Ijaz e Ahmadi, Khutbah Ilhamiyya. Al Huda,
Tadhkiratush Shahadatain dan buku-buku lainnya telah ditulis di dalam Bahasa
Arab namun belum dicetak yaitu: Targhibul Mu’mineen, Lujjatun Noor, Najmul
Huda.” (Haqiqatul Wahi hal.235)
Itu semua sesuai dengan nubuatan Allah swt dan
buku-buku-pun telah ditulis di dalam Bahasa Arab. Kefasihan dan keistimewaan
Bahasa Arab di dalam buku-buku saya itu telah diakui oleh orang-orang Arab
sendiri. Sebagaimana telah saya jelaskan dalam beberapa Khutbah sebelumnya berdasarkan
kutipan-kutipan.
Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Pada
suatu hari seorang Hindu datang kepada saya di Qadian, namanya saya tidak ingat
lagi. Dia berkata, saya ingin mengadakan Jalsa Agama-agama. Tuan juga tulislah
sebuah naskah tentang keindahan dan keistimewaan Agama tuan untuk dibacakan di
dalam Jalsa itu. Saya menyatakan keberatan namun dia dengan mendesak berkata :
Tuan harus menulis sebuah naskah! Oleh karena saya sendiri tahu, saya tidak
dapat menulis apapun, bahkan saya tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Saya
tidak bisa bercakap tanpa dukungan Allah Ta’ala. Dan tanpa diperlihatkan
oleh-Nya sedikitpun saya tidak bisa melihat. Itulah sebabnya saya berdo’a
kepada Allah Ta’ala Yang Maha Mulia, agar Dia mewahyukan sebuah naskah kepada
saya yang akan unggul diatas semua pidato-pidato yang akan disampaikan di dalam
Jalsa itu. Setelah berdo’a saya merasa suatu kekuatan telah ditiupkan kedalam
diri saya. Saya merasa ada sebuah kekuatan gerak samawi di dalam diri saya, dan
teman saya yang hadir pada waktu itu dihadapan saya mengetahui, bahwa saya
tidak menulis sebuah konsep apapun untuk naskah pidato itu. Apapun yang telah
saya tulis adalah tanpa persiapan sebelumnya. Dan saya tulis naskah itu
demikian cepatnya sehingga menyusahkan orang yang menyalinnya. Ketika saya
selesai menulis naskah itu maka diterima Ilham dari Allah Ta’ala yakni mazmoon
balaa raha. Yakni, naskah unggul di atas semua! Ringkasnya, ketika
naskah itu dibacakan di dalam Jalsa itu, semua hadirin sangat terpesona dan
tergiur oleh keindahannya sehingga terdengar sambutan gegap gempita dari setiap
sudut ruangan Jalsa itu. Sehingga orang Hindu yang memimpin Conferensi itu juga
tanpa disadari keluar ucapan dari mulutnya : “The paper transcends all others.”
Yakni, Nskah ini unggul diatas semua naskah lainnya! Sebuah Surat Kabar harian
berbahasa Inggeris yang diterbitkan dari Lahore
The Civil and Military Gazette
juga meliput-nya sebagai saksi sambil mengatakan “The paper
transcends all others.” Kira-kira 20 buah Surat Kabar berbahasa Urdu juga
memberi kesaksian yang sama. Didalam Conferensi itu selain orang-orang anti
yang berprasangka buruk, semua orang menyatakan : Naskah ini telah unggul diats
semua naskah! Dan sampai sekarang ada beratus ribu orang yang memberi kesaksian
sama seperti itu. Pendeknya, dengan kesaksian setiap golongan dan kesaksian
Surat Kabar Bahasa Inggeris nubuatan saya telah sempurna bahwa mazmoon balaa
raha. Yakni, naskah unggul di atas semua! Pertandingan itu laksana
sebuah pertandingan Nabi Musa dengan para pakar atau ahli Sihir. Sebab di dalam
Conferensi itu semua Mazhab telah memperdengarkan pidato mereka masing-masing.
Diantaranya beberapa orang dari Kristen, beberapa orang dari Sanatan Dharma
atau Arya Samaj, beberapa orang dari Brahmus, Sikh dan beberapa orang Muslim
penentang kita. Semua telah memainkan tongkat mereka kedalam sistim khayalan
ular mereka. Akan tetapi ketika Tuhan melalui tangan saya melepaskan tali
kebenaran Islam melawan mereka dalam bentuk sebuah pidato yang suci bersih
telah dilepas melawan mereka, ia berobah menjadi seekor ular naga yang menelan
semua ular-ular mereka. Dan sampai sekarang Bangsa-bangsa di dunia terus memuji
keindahan naskah pidato saya yang keluar dari mulut saya. Alhamdulillah ‘ala
zalik! (Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, vol. 22, pp. 291-292 – Essence of
Islam, Vo. V. pp. 59-61)
Bukan hanya orang-orang yang hidup di zaman itu
melainkan sampai sekarang juga orang-orang mengakui dan memujinya. Oleh sebab
itu saya sering menganjurkan agar kemasyhuran Kitab ini disebarkan terus
melalui literature Jema’at. Banyak orang-orang Ghair Muslim mengirim surat kepada saya, kami
mengetahui keindahan ajaran Islam dengan membaca Kitab itu. Sering saya
bertanya kepada para Mubaiyi’in baru mengenai kesan-kesan buku tersebut. Mereka
mengatakan bahwa buku Pilsafat Ajaran Islam sangat mengesankan sekali sehingga
perhatian kami terpusat kepada Islam dan Ahmadiyyah.
Tentang sebuah nubuatan, Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
bersabda: “ Aku tidak akan meninggalkan engkau selama belum membedakan antara
yang suci dengan yang kotor di zaman ini telah dizahirkan. Maka kalian telah
menyaksikannya, sekalipun perlawanan kalian sangat keras dan do’a-do’a buruk
yang kalian panjatkan menentang saya, Tuhan tidak meninggalkan saya dan Dia
menjadi Penolong saya di setiap medan .
Setiap batu yang dilemparkan kepada saya Dia ambil dengan tangan-Nya. Setiap
ujung tombak yang dilepaskan kepada saya Dia kembalikan ujung tombak itu kearah
musuh yang telah melemparkannya. Saya dahulu lemah tidak berdaya, Dia memberi
perlindungan kepada saya. Saya dahulu seorang diri, Dia ambil dan meletakkan
aku diatas pangkuan-Nya. Saya sangat tidak berarti, namun Dia membuat daku
masyhur dengan penuh hormat. Dan membuat beratus ribu orang menyerahkan diri
kepada-ku. Kemudian Dia berfirman dengan wahyu muqaddas-Nya yakni : Apabila
pertolongan-Ku sampai kepada engkau dan perkataan mulut-Ku akan sempurna. Yakni
makhluk Allah akan menyerahkan diri kepada engkau dan pertolongan berupa harta
akan sampai kepada engkau- maka akan dikatakan kepada orang-orang yang ingkar:
Tengoklah! Apakah tidak sempurna apa yang telah dikatakan sebelumnya, tentang
mana kalian ingin cepat dan menunjukkan tidak sabar? Maka sekarang semua
perkara telah zahir dengan sempurna. Tidak perlu lagi mengatakan bahwa Tuhan
telah menepati janji-Nya dan membuat ratusan ribu manusia menyerahkan diri
kepada-ku. Dan telah menganugerahkan pertolongan harta yang sangat melimpah
kepadaku diluar dugaan siapapun sebelumnya. Maka, hai para penentang! Semoga
Allah Ta’ala mengasihani kalian dan semoga Dia membuka mata kalian. Kalian
harus berpikir, apakah ini semua perbuatan makar manusia ? Janji-janji ini
semua telah dibuat diwaktu Kitab Barahin Ahmadiyya sedang disusun, dan
janji-janji ini patut ditertawai oleh kaum penentang ketika dikekmukakan kepada
mereka. Dan kedudukan saya juga di waktu itu tidak mempunyai bobot sedikitpun,
laksana bobot sebutir biji wijen (sesame). Adakah diantara kalian yang percaya
kepada pernyataan ini? Siapakah diantara kalian yang dapat membuktikan bahwa di
waktu itu ribuan orang telah menyerahkan diri kepada-ku? Ketika Kitab Barahin
Ahmadiyya sedang dicetak saya sama sekali tidak dikenal oleh siapapun. Buku
saya Barahin Ahmadiyya dicitak di Amritsar
melalui sebuah percetakan milik seorang padri Kristen bernama Rajab ‘Ali. Untuk
memeriksa proof (proof reading) dan
untuk mencetak buku itu saya sering pergi sendirian ke Amritsar
dan pulang dari sana
juga sendirian. Tidak ada seorangpun yang bertanya kepada saya di waktu pergi
dan di waktu balik dari sana .
Dan tidak ada orang yang kenal kepada saya. Dan bukan pula saya orang yang
patut dihormati. Orang-orang Aria di Qadian menjadi saksi tentang keadaan saya
seperti itu, diantara mereka bernama Sharampat yang sampai sekarang masih
tinggal di Qadian. Kadangkala ia pergi bersama saya ke percetakan milik Padri
Rajab ‘Ali itu di Amritsar
dimana buku saya Barahin Ahmadiyya dicitak. Dan semua nubuatan itu secara
lengkap ditulis oleh Katib (juru tulis) di Percetakan itu. Dan Padri itu
sendiri membaca nubuatan-nubuatan itu sambil keheran-heranan, bagaimana mungkin
terjadi semua dunia akan rujuk terhadap seorang biasa dan sederhana? Akan
tetapi oleh karena perkataan itu datang dari Allah Ta’ala dan bukan buatan saya
sendiri, semua telah terjadi dengan sempurna pada waktunya masing-masing dan
terus-menerus sempurna sesuai dengan nubuatan-nubuatan itu. Pada suatu waktu
mata manusia merasa ta’ajub dan pada suatu waktu mata manusia melihatnya juga.”
(Barahin-e-Ahmadiyya, part 5,
Ruhani Khaza’in, vol. 21, pp.79-80 – Essence of Islam, Vol. V, pp. 136 – 137)
Dengan karunia Allah Ta’ala sekarang nubuatan-nubuatan
itu sedang terus-menerus mencapai kesempurnaannya. Sebagaimana telah saya
katakan sebelumnya bahwa melalui MTA amanat beliau a.s. telah sampai keseluruh
pelosok dunia. Begitu juga dahulu kita sering pergi ke Amritsar untuk mencetak buku-buku, akan
tetapi sekarang dengan karunia Allah Ta’ala di Qadian juga sudah ada Percetakan
dimana Buku-buku Jema’at sedang banyak dicetak disana.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Untuk kesaksian
kebenaran saya Allah Ta’ala telah menzahirkan lebih dari 300.000 Tanda Samawi.
Dilangit telah terjadi Gerhana Bulan dan Matahari di bulan Ramadhan. Sekarang
manusia yang tidak percaya kepada firman Allah dan Rasul-Nya dan mendustakan Al
Qur’anul Karim dan dengan sengaja menolak Tanda-tanda Allah Yang Maha Mulia dan
sekalipun telah zahir ratusan Tanda mereka tetap menuduh saya pendusta, maka
bagaimana ia dapat menjadi orang mu’min? (Haqiqat-ul-Wahi, p. 168).
Ringkasnya, saya telah mengemukakan beberapa
Tanda-tanda, yang menurut sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ratusan ribu
banyaknya. Semuanya adalah Tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan
Tanda-tanda itu terus berlangsung sampai sekarang. Dan dengan karunia Allah
Ta’ala ribuan orang Bai’at masuk Jema’at Ahmadiyya setelah menyaksikan
Tanda-tanda itu. Memang di beberapa tempat orang-orang Ahmady menghadapi bermacam-macam
kesulitan, akan tetapi insya Allah waktunya akan tiba apabila semua kesulitan
itu akan sirna. Dan dengan meyaksikan-nya akan meningkatkan iman dan ma’rifat
kita kepada Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Para pemerhati harus merenungkan sedikit karena Allah, terhadap
suasana ini agar Allah Ta’ala memberi pembalasan. Bahwa Allah Ta’ala belum
berhenti menunjukkan Tanda-tanda-Nya dan pertolongan-Nya. Saya bersumpah, demi
Allah, Dia tidak akan berhenti selama kebenaran saya belum nampak seluruhnya
kepada dunia. Maka, hai semua manusia! Dengarlah suara-ku dan takutlah kepada Tuhan dan hindarilah
perbuatan melampaui batas. Jika semua program ini buatan manusia, maka pasti
Tuhan telah membinasakan saya dan semua usaha gerakan ini akan hancur
berantakan. Akan tetapi kalian telah menyaksikan bahwa pertolongan Allah Ta’ala
selalu bersama saya. Dan betapa banyak Tanda-tanda telah turun yang tidak
terhitung banyaknya. Tengoklah betapa banyak musuh yang telah melakukan
mubahallah dengan saya kemudian mereka sendiri yang telah binasa. Hai
hamba-hamba Allah! Berpikirlah sejenak, apakah Allah Ta’ala bersikap demikian
terhadap penda’wa dusta? (Haqiqat-ul-Wahi,
p. 554)
Pada hari ini genap 125 tahun dan Jema’at
terus-menerus bergerak maju sambil menyandang sukses yang luar biasa. Apakah
orang-orang itu tidak menggunakan akal? Para
penentang tidak akan berhenti menentang? Hanya do’a yang dapat kita panjatkan
semoga Allah Ta’ala memberi akal kepada mereka. Dan semoga mereka mengenal Imam
Zaman, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Mahdi dan Masih Mau’ud a.s. Sebab apabila turunnya kemurkaan Allah Ta’ala sudah
tiba sa’atnya, maka berapapun hebatnya kekuatan yang dimiliki para penentang
akan diterbangkan sampai hancur laksana debu. Semoga mereka segera menggunakan
akal dan menjadi para penerima kebenaran. Disamping itu kita harus mendo’akan
para Ahmady yang tinggal di Syria
begitu juga para Ahmady yang tinggal di seluruh Pakistan harus kita do’akan secara
khusus. Kebanyakan para Ahmady tinggal di Mesir juga sedang menghadapi banyak
kesulitan, harus kita do’akan secara khas. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan semua
kesulitan mereka, agar kita dapat menyaksikan turunnya pertolongan Tuhan kepada
mereka, sehingga dengan bebas mereka dapat menyatakan identitas mereka dan
dengan bebas melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dan semoga Allah Ta’ala
menjauhkan semua jenis sekatan-sekatan yang diberlakukan terhadap para Ahmady
dimanapun juga berada. Amin !
Setelah salat Jum’ah saya akan memimpin salat jenazah
ghaib untuk Sister Latifa Ilyas of Baltimore, USA yang wafat tgl 9 Maret 2014
pada umur 76 tahun. Beliau seorang wanita African American yang masuk Jema’at
lebih dari 50 tahun yang lalu. Beliau sangat sederhana, Ahmady solehah yang
mempunyai kecintaan penuh terhadap Khilafat. Putera beliau Jamal Ilyas juga
seorang Ahmady mukhlis. Sadr Jema’at menulis bahwa sekalipun sumber kehidupan
beliau sangat terbatas, namun beliau sering membawa barang-barang peralatan
kebersihan dan berjam-jam lamanya beliau membersihkan Masjid. Selesai
membersihkan Mesjid beliau sibuk dengan senandung puji dan syukur kepada Allah
swt. Bulan Ramadhan beliau datang kemesjid jauh sebelum waktu santap iftar tiba,
kemudian langsung membersihkan dapur. Tidak pernah mengeluh mengapa orang-orang
mengotori halaman Mesjid dengan sampah berserakan. Beliau mengamalkan sabda
ini: Anggaplah khidmat agama sebagai karunia Ilahi. Sekalipun umur telah mencapai 70 tahun beliau datang ke
Masjid berjalan kaki. Jika ada orang ingin menolong beliau bersama-sama naik
kendaraan ke Masjid sebagai tanda hormat, beliau menolak dan berkata: Semakin
banyak langkah ke Masjid semakin banyak pehalanya, biarkanlah saya berjalan
kaki! Beliau sering menjalankan tugas sebagai security dan juga sebagai
sekretaris kewangan Lajna serta Sekretaris Khidmat Khalq. Beliau tidak pernah
mempunyai sifat benci kepada siapapun, bahkan sebaliknya mempunyai kecintaan
sangat dalam terhadap anak-anak. Beliau sangat regular mendengarkan Khutbah
Jum’ah di MTA dengan semangat dan penuh perhatian dan selalu menganjurkan
kepada yang lain juga untuk mendengarkannya. Dengan sangat rajin beliau datang
ke Masjid untuk menunaikan salat Jum’ah. Jika anak beliau tidak pergi ke Masjid
untuk salat Jum’ah ditanya mengapa tidak pergi? Beliau selalu memberi nasihat
kepada anak beliau jangan meninggalkan salat Jum’ah. Dasar-dasar tarbiyyat
beliau sangat berkesan terhadap anak beliau. Anak beliau juga mempunyai semangat
mendengarkan Khutbah melalui MTA. Kadang-kadang sambil driving juga ia
mendengarkan Khutbah yang disiarkan langsung melalui MTA. Seorang telah menulis
katanya, Sister Latifa Ilyas sebuah Tanda yang sangat indah bagi kebenaran
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan beliau sangat mencintai Khilafat bahkan berserah
diri terhadap Khilafat Ahmadiyyah. Semoga Allah swt berlaku kasih sayang kepada
beliau. Dan orang-orang lain juga harus menaruh perhatian penuh terhadap MTA,
mereka harus menyaksikan tayangan Khutbah melalui MTA. Jika setiap Ahmady mulai
menyaksikan siaran langsung Khutbah Jum’ah melalui MTA dengan penuh perhatian
maka dengan karunia Allah Ta’ala standar tarbiyyat kita akan semakin baik.
Semoga Allah swt memberi taufiq kepada semua untuk melakukan hal itu. Dan
semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat Sister Latifa Ilyas dan memelihara
putera beliau di bawah naungan dan perlindungan-Nya. Amin !
Alihbahasa oleh Hasan Basri
KETERANGAN
Hadhrat
adalah panggilan kehormatan seperti Yang Mulia
Mirza, seperti Chouhdry, Nawwab, atau Raden dsb sebutan bagi
sebuah marga.
Mirza Ghulam Ahmad Qadiani
nama Pendiri Jema’at Ahmadiyyah.
Imam Mahdi adalah
seorang Imam yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw akan diutus di akhir zaman
oleh AllahTa’ala dan sebagai Nabi tanpa membawa Syari’at baru.
Al Masih adalah Al Masih Isa Ibnu Mariyam
nama yang diberikan Allah Ta’ala kepada Nabi Isa a.s. di dalam Surah Ali Imran ayat 45/46 

Al Masih Al Mau’ud atau Masih Mau’ud adalah Nabi Isa yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw akan turun di
akhir Zaman dari ummat beliau sebagai Imam Mahdi.
Imam Mahdi, Masih Mau’ud adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani
a.s.
Muslih Mau’ud artinya Reformer yang dijanjikan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi,
Masih Mau’ud a.s. yang akan lahir dari keturunan beliau dan akan menjadi
Khalifah yaitu Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad lahir pada tahun 1889 wafat tahun
1965. Pada tahun 1914 dalam usia 25 tahun beliau terpilih sebagai Khalifatul
Masih II
Muslih Mau’ud adalah
Khalifatul Masih II Hadhrat Mirza
Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.
Khalifatul Masih adalah pengganti Masih Mau’ud, Al Masih yang
dijanjikan atau Imam Mahdi a.s.