Moderasi
Beragama, yang belakangan menjadi tren positif yang digawangi Kemenag RI
tentunya merupakan sejarah, dalam kemajemukan NKRI. Ditengah seolah-olah rasa
ke- Bhinneka Tunggal Ika-an kian “pudar” dari sanubari anak-anak bangsa yang
berbeda agama suku dan ras. Peristiwa-peristiwa yang mengatasnamakan agama
sebagai landasan tindakan kekerasan ( verbal dan tindakan) menjadi momok
mengerikan yang menjadi ledakan dahsyat ( baca : bom rumah ibadah)
Pemerintah dengan berbagai cara dan dengan dana yang
tidak sendikit dibawah naungan Kemenag tentunya mencari solusi untuk
permasalahan Radikalisme yang berpuncak pada Terorisme sepihak ( dari Islam).
Untuk menemukan solusi bagi citra Islam yang kian dianggap “teroris” ini,
Kemenag banyak melakukan FGD dll dengan berbagai kalangan, mulai dari akademisi tokoh agama dan tokoh
masyarakat dan sesepuh bangsa. Dari berbagai kajiannya, nampaknya kalimat
Moderasi Beragama jadi pilihan tepat untuk memurnikan kembali cara bagaimana
tiap orang mengekspresikan Tekstualitas dan Kontekstualitas keagamaannya.
Sehingga dengan cara itu Islam sendiri akan termurnikan kepada keadaan yang Rahmat Lil Alaminnya.
Selain tindakan
anarkisme akibat meluasnya faham takfiri dan tadhlili dll, yang
kemudian menjadi tren dikalangan
fundamentalisme Islam, bukan lagi dalam verbal tapi tindakan. Misalnya, segel
masjid atau tempat ibadah lainnya yang seolah
dibiarkan oleh pemerintah menjadi bola salju
yang sulit dibendung dan dihentikan. Dalam kasus ini kita akan mencoba mengambil misal Jamaah Ahmadiyah
Indonesia.
2011, Februari
tanggal 6, 3 Ahmadi dibantai oleh ekstrimis mengaku bagian dari FPI. Saat itu
belum ada kampanye Moderasi Beragama atau adapun dalam bentuk yang lain yakni
membumikan toleransi antar umat beragama dan antara umat beragama. Ini adalah
landasan pemikiran kepada judul moderasi beragama perspektif ahmadiyah perlu
rasanya diulas dan disajikan. Batasannya adalah apakah ada moderasi beragama
dalam Ahmadiyah ? bukan tentang persekusi kepada Ahmadiyah.
Untuk memulai
bahasan perlu kiranya mengutip lengkap dari eks-Menag RI tentang Moderasi
Beragama, LUKMAN SAIFUDDIN, (𝙼oderasi 𝙱eragama, 𝚔𝚎𝚖𝚎𝚗𝚊𝚐 𝚁𝙸 2019, 𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚝𝚊𝚗 M𝚎𝚗𝚊𝚐 𝚍𝚊𝚗 P𝚛𝚘𝚕𝚘𝚐).
Beliau pada Jalsah 2023 UK hadir dan bertemu Khalifah Ahmadiyah di London
beserta tamu undangan lainnya. Diantaranya :
Prof. Ahmad Najib Burhani, Alissa Wahid dan juga ketua FKUB Jateng K.H
Taslim Syahlan.
Saya menyadari bahwa
secara substantif moderasi beragama sebenarnya bukan hal baru bagi bangsa kita.
Masyarakat Indonesia memiliki modal sosial dan kultural yang cukup mengakar.
Kita biasa bertenggang rasa, toleran, menghormati persaudaraan, dan menghargai
keragaman.
Boleh dikata, nilai-nilai
fundamental seperti itulah yang menjadi fondasi dan filosofi masyarakat di
Nusantara dalam menjalani moderasi beragama.
Nilai itu ada di
semua agama karena semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai
kemanusiaan yang sama. Moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk
menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana setiap warga masyarakat, apa pun
suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling
mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola
dan mengatasi perbedaan di antara mereka.
Jadi jelas bahwa
moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan
memiliki sikap tenggang rasa. sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita
untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda dengan
kita.
Moderasi telah lama
menjadi aspek yang menonjol dalam sejarah peradaban dan tradisi semua agama di
dunia. Masing.masing agama niscaya memiliki kecenderungan ajaran yang mengacu
pada satu titik makna yang sama, yakni bahwa memilih jalan tengah di antara dua
kutub ekstrem, dan tidak berlebih.lebihan, merupakan sikap beragama yang paling
ideal.
Kesamaan nilai
moderasi ini pula yang kiranya menjadi energi yang mendorong terjadinya
pertemuan bersejarah dua tokoh agama besar dunia, Paus Fransiskus dengan Imam
Besar Al Azhar, Syekh Ahmad el.Tayyeb, pada 4 Februari 2019 lalu
Pertemuan tersebut
telah menghasilkan dokumen persaudaraan kemanusiaan (human fraternity document),
yang di antara pesan utamanya menegaskan bahwa musuh bersama kita saat ini
sesungguhnya adalah
ekstremisme akut (fanatic extremism),
hasrat saling
memusnahkan (destruction),
perang (war),
intoleransi
(intolerance),
serta rasa benci (hateful attitudes) di
antara sesama umat manusia, yang semuanya mengatasnamakan agama.
Moderasi beragama
juga bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara
serius. Sebaliknya, moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan
esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan
berimbang, tetapi berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama.
Dari kutipan diatas,
nampak bahwa masalah tafsir agama bisa dishare sejauh itu maslahat bagi
kemajemukan bangsa, sejauh itu berupa kebenaran berlandaskan asas adil dan berimbang.
Ahmadiyah memiliki kriteria diatas dan perlu nampaknya
diulas untuk menjadi bahan kajian dan penelaahan serta bahan pengenalan atau
ta’aruf. Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu. Semakin mengenal dan
mengenali maka akan sampai kepada pemikiran, kebenaran itu bukan milik
seseorang tapi milik Tuhan, mutlak. Terserah tuhan hendak menitipkan percikan
nur ilahiah hidayah dan kebenarannya
kepada siapa yang DIA kehendaki sesuai sunnahnya. Bukan kita (manusia) yang menentukan BENAR
dan SESAT.
Hal
ini Sesuai dengan Q.S. An-Nahl : 125.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Yakni,
Sungguh Tuhanmu Dialah yang lebih TAHU (‘alamu) kepada siapa yang Sesat
(Dhallun) dari jalan-Nya, dan Dia Jualah yang lebih TAHU (‘alamu) kepada yang
Muhtadin ( mendapat hidayah).
PENGERTIAN
𝙼oderasi berasal dari Bahasa
Latin moderâtio, yang berarti ke.sedang.an (tidak kelebihan dan tidak
kekurangan). Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan
dan kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian
kata moderasi, yakni:
1.
n pengurangan kekerasan, dan
2.
n penghindaran keekstreman.
Jika
dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu
bersikap wajar, biasa.biasa saja, dan tidak ekstrem.
Dalam
bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata),
core (inti), standard (baku), atau non.aligned (tidak berpihak).
Secara
umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral,
dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika
berhadapan dengan institusi negara.
Sedangkan
dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang
memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah.tengah), i’tidal (adil),
dan tawazun (berimbang).
Orang
yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula,
kata wasathiyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. Apa pun kata yang dipakai,
semuanya menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini
berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem.
Kata
wasith bahkan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata 'wasit' yang
memiliki tiga pengertian,
yaitu:
1)
penengah, perantara (misalnya dalam perdagangan, bisnis);
2)
pelerai (pemisah, pendamai) antara yang berselisih; dan
3)
pemimpin di pertandingan.
Menurut
para pakar bahasa Arab, kata wasath itu juga memiliki arti “segala yang baik
sesuai dengan objeknya”.
Misalnya,
kata “dermawan”, yang berarti sikap di antara kikir dan boros, atau kata
“pemberani”, yang berarti sikap di antara penakut (al.jubn) dan nekad
(tahawur), dan masih banyak lagi contoh lainnya dalam bahasa Arab.
Adapun
lawan kata moderasi adalah berlebihan, atau tatharruf dalam bahasa Arab, yang
mengandung makna extreme, radical, dan excessive dalam bahasa Inggris. Kata
extreme juga bisa berarti “berbuat keterlaluan, pergi dari ujung ke ujung,
berbalik memutar, mengambil tindakan/jalan yang sebaliknya”. Dalam KBBI, kata
ekstrem didefinisikan sebagai “paling ujung, paling tinggi, dan paling keras”.
Dalam
bahasa Arab, setidaknya ada dua kata yang maknanya sama dengan kata extreme,
yaitu al.guluw, dan tasyaddud. Meski kata tasyaddud secara harfiyah tidak disebut
dalam Alquran, namun turunannya dapat ditemukan dalam bentuk kata lain,
misalnya kata syadid, syidad, dan asyadd.
Ketiga
kata ini memang sebatas menunjuk kepada kata dasarnya saja, yang berarti keras
dan tegas, tidak ada satu pun dari ketiganya yang dapat dipersepsikan sebagai
terjemahan dari extreme atau tasyaddud. Dalam konteks beragama, pengertian
“berlebihan” ini dapat diterapkan untuk merujuk pada orang yang bersikap
ekstrem, serta melebihi batas dan ketentuan syariat agama.
Karenanya,
moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan
perilaku selalu mengambil posisi di tengah.tengah, selalu bertindak adil, dan
tidak ekstrem dalam beragama.
Salah satu prinsip dasar
dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal,
misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara
hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal,
antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama,
antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan
masa depan.
Begitulah,
inti dari moderasi beragama adalah adil dan berimbang dalam memandang,
menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep yang berpasangan di atas.
Dalam
KBBI, kata “adil” diartikan:
1)
tidak berat sebelah/tidak memihak;
2)
berpihak kepada kebenaran; dan
3)
sepatutnya/tidak sewenang.wenang.
Kata
“wasit” yang merujuk pada seseorang yang memimpin sebuah pertandingan, dapat
dimaknai dalam pengertian ini, yakni seseorang yang tidak berat sebelah,
melainkan lebih berpihak pada kebenaran. Prinsip yang kedua, keseimbangan,
adalah istilah untuk menggambarkan cara pandang, sikap, dan komitmen untuk
selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan.
Kecenderungan
untuk bersikap seimbang bukan berarti tidak punya pendapat. Mereka yang punya
sikap seimbang berarti tegas, tetapi tidak keras karena selalu berpihak kepada
keadilan, hanya saja keberpihakannya itu tidak sampai merampas hak orang lain
sehingga merugikan. Keseimbangan dapat dianggap sebagai satu bentuk cara
pandang untuk mengerjakan sesuatu secukupnya, tidak berlebihan dan juga tidak
kurang, tidak konservatif dan juga tidak liberal.
Ajaran
wasathiyah, seperti telah dijelaskan pengertiannya, adalah salah satu ciri dan
esensi ajaran agama. Kata itu memiliki, setidaknya, tiga makna, yakni: pertama
bermakna tengah-tengah; kedua bermakna adil; dan ketiga bermakna yang
terbaik. Ketiga makna ini tidak berarti berdiri sendiri atau tidak saling
berkaitan satu sama lain, karena sikap berada di tengah.tengah itu seringkali
mencerminkan sikap adil dan pilihan terbaik.
Contoh
yang mudah dicerna dalam kehidupan seharihari adalah kata “wasit”. Ia merupakan
profesi seseorang yang menengahi sebuah permainan, yang dituntut untuk selalu
berbuat adil dan memutuskan yang terbaik bagi para pihak. Contoh lain,
kedermawanan itu baik, karena ia berada di tengah-tengah di antara keborosan
dan kekikiran. Keberanian juga baik karena ia berada di tengah-tengah di antara
rasa takut dan sikap nekad. Demikian seterusnya.
Dari
sejumlah tafsiran, istilah “wasatha” berarti yang dipilih, yang terbaik,
bersikap adil, rendah hati, moderat, istiqamah, mengikuti ajaran, tidak ekstrem,
baik dalam halhal yang berkaitan dengan duniawi atau akhirat, juga tidak
ekstrem dalam urusan spiritual atau jasmani, melainkan tetap seimbang di antara
keduanya. Secara lebih terperinci, wasathiyah berarti sesuatu yang baik dan
berada dalam posisi di antara dua kutub ekstrem. Oleh karena itu, ketika konsep
wasathiyah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak akan memiliki
sikap ekstrem.
Dalam
berbagai kajian, ‘wasathiyat Islam’, sering diterjemahkan sebagai ‘justly .
balanced Islam’, ‘the middle path’ atau ‘the middle way’ Islam, di mana Islam
berfungsi memediasi dan sebagai penyeimbang. Istilah-istilah ini menunjukkan
pentingnya keadilan dan keseimbangan serta jalan tengah untuk tidak terjebak
pada ekstremitas dalam beragama
Selama
ini konsep wasathiyat juga dipahami dengan merefleksikan prinsip moderat
(tawassuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan adil (i`tidal). Dengan
demikian, istilah ummatan wasathan sering juga disebut sebagai ‘a just people’
atau ‘a just community’, yaitu masyarakat atau komunitas yang adil.
Kata
wasath juga biasa digunakan oleh orang.orang Arab untuk menunjukkan arti khiyar
(pilihan atau terpilih). Jika dikatakan, “ia adalah orang yang wasath”, berarti
ia adalah orang yang terpilih di antara kaumnya. Jadi, sebutan umat Islam
sebagai ummatan wasathan itu adalah sebuah harapan agar mereka bisa tampil
menjadi umat pilihan yang selalu bersikap menengahi atau adil. Baik dalam
beribadah sebagai individu maupun dalam berinteraksi sosial sebagai anggota
masyarakat, Islam mengajarkan untuk selalu bersikap moderat. (𝙼oderasi 𝙱eragama,
𝙺𝚎𝚖𝚎𝚗𝚊𝚐
𝚁𝙸 𝙷𝙰𝙻.15.19, 𝙱𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗
𝙿𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊)
Sedangkan
Pemerintah, Menerjemahkan Moderasi
Beragama dalam Perpres No. 58 tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama.
Dikatakan bahwa :
Moderasi
Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan
bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang
melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan
prinsip adil, berimbang, dan menaati Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai kesepakatan berbangsa.
Penjelasan diatas
sudah membuat kita sadar bahwa menjadi wasit itu harus, dalam interaksi sosial
sebagai warga Negara yang baik tentunya. Apalagi dikuatkan oleh Perpres
tersebut. Nah, Apakah Ahmadiyah memenuhi syarat menjadi bagian Ummatan
Wasathan?
ADAKAH
MODERASI BERAGAMA di DALAM JAMAAH
AHMADIYAH?
Pencantuman
tulisan diatas ( dari buku Kemenag, Moderasi Beragama) sebagai dasar acuan
untuk mengantarkan kepada pertanyaan bahwa adakah moderasi beragama di dalam
Ahmadiyah atau jika bisa ubah menjadi bagaimana sikap dan amaliyah Ahmadiyah dalam memandang perbedaan yang
memang niscaya. Dari agama, suku bangsa, firqah seagama dll. Berikut tentunya
ada sedikit gambaran umum bagaimana moderasi
yang dijalankan Ahmadiyah dalam memahami dan mengaktualisasikan teks
maupun konteks dasar agama Islam. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nizam.
Perlu dipahami bahwa Ahmadiyah didirikan
di Hindustan, etnik agama dll begitu kompleksnya sehingga ditempat asalnya
perbedaan sudah dalam kesehariannya bagi pendiri Ahmadiyah dan Penerusnya.
Mengutip kalimat pada laman buku Moderasi Beragama
diatas. Yakni :
Moderasi beragama
juga bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara
serius.
Sebaliknya, moderat
dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang
dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi berbagi
kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama.
Kemudian,
Salah satu prinsip
dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua
hal, misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan
rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual
dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks
agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan,
serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan.
Menjadi
bahan dasar untuk menguji pertanyaan diatas. Yakni apakah ada kesesuaian dengan
Ahmadiyah, yang telah dirikan oleh
pendirinya 1889 lalu atas petunjuk wahyu ilahi, dengan moderasi beragama masa
kini di Indonesia yang digawangi oleh Kemenag RI bahkan kini Peraturan Presiden
No.58 2023 telah terbit dengan isi penguatan Moderasi Beragama ini.
Ahmadiyah dalam menjalankan Moderasi Beragama
dalam berjamaahnya, tiada lain adalah dengan taat kepada Suara Khalifah.
Sehingga kemoderatan Ahmadiyah dalam beragama berada pada satu titik taat
kepada sabda Khalifah. Inilah yang Ahmadiyah jalankan antara kesesuaian antara akal dan wahyu, bahkan
jasmani rohani karena Ahmadiyah dimasa awal adalah berlandaskan wahyu Allah
Taala dan dilanjutkan oleh Ijtihad Khalifah sebagai penerus murni, pembimbing
rohani dengan petunjuk dari Allah Taala.
Dengan
adanya konsep ini Ahmadiyah dinilai
telah mengamalkan moderasi beragama
secara terstruktur dan terorganisir. Sehingga Ahmadiyah telah serius dan
percaya diri dalam menjalankan ajaran agama Islam yang ditafsirkan oleh pendiri
Ahmadiyah berdasarkan wahyu-wahyu yang Beliau a.s. terima sehingga senantiasa adil dan berimbang dalam hal Hablun
Minallah dan Hablun Minannasnya, serta
hal itu senantiasa akan sama karena diteruskan oleh penerus pendiri
Ahmadiyah (yang mengaku sebagai al-Masih Muhammadi akhir zaman berdasarkan
wahyu ilahi), Yakni Khalifah sebagai tokoh sentral spiritual, mengontrol amal
dan akal budi melalui sabda, doa dan surat menyurat (anggota menulis surat
kepada khalifah)
Konsep
kontrol amal dan akal budi ini mirip dengan
ayat Tawashou bis-Shobr wa
Tawashou bil-Marhamah dan Tawashou bil-Haq Tawashou bis-shobr, (Al-Balad dan
Al-‘Ashr). Perpaduan antara konsep kesabaran dan kasih saying, serta perpaduan
konsep kebenaran dan kesabaran, jika jadi rumus maka : kesabaran + kasih sayang
+ kebenaran + kesabaran = sabar. Mulailah dengan sabar dilandasi kasih sayang
untuk menyampaikan kebenaran dengan penuh kesabaran maka hasilnya adalah
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Innallaha ma’as-shobirin (2:153), yakni kita
bersama Allah Taala. Ini ciri khas Ahmadiyah sesuai dengan Sabda pendirinya
yakni Hadhrat Masih Mauud as dalam buku Bahtera Nuh, https://neratjapress.online/
source : Bahtera Nuh. Dan sesuai dengan
sabda Nabi SAW :
عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
عَجَبًا لِأَمْرِ
الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ
أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin.
Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali
oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik
baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.”
(HR. Muslim, no. 5318)
Selain
hal tersebut diatas bahwa para Ahmadi (sebutan pengikut Ahmadiyah) benar-benar
taat sepenuhnya kepada keputusan ilahiah melalui Khilafah, karena Khalifah
adalah pilihan yang diridhai oleh Allah Taala. Menurut Prof. DR. Ahmad Najib
Burhani,PHD menyebut Sistem Khilafah Ahmadiyah itu dengan kalimat The Divine
System, laman kalimahsawa.id mengatakan :
Dalam keyakinan Ahmadiyah, khilafah adalah the divine
system (sistem ilahi).
Kedudukannya tepat dibawah konsep kenabian mengingat khalifah merupakan
pelanjut nabi sebagai pembimbing umat. Kekhalifahan menjadi doktrin yang
sedemikian kuat karena ia merupakan sumber kekuatan dan alat pemersatu umat.
Tanpa khilafah, Ahmadiyah akan mengalami kehancuran dan disintegrasi.
Doktrin ini juga diyakini oleh sementara kalangan sunni yang
masih berusaha mendirikan khilafah sendiri. Para Ahmadi meyakini bahwa
kekhalifahan akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Khalifah juga akan
mendapatkan bimbingan dan pertolongan ilahi secara langsung, karena ia dipilih
oleh Allah. https://kalimahsawa.id/konsep-khilafah-model-ahmadiyah/
Selain
Tokoh sentral dalam spriritual sebagai penguat dalam menjalankan moderasi
beragama penganut Ahmadiyah. Ahmadi memiliki varian dalam hal moderasi beragamanya
(baca: moderasi beragama perspektif Ahmadiyah) , misal : teologi islam dan metode
dakwahnya guna terciptanya tazkiyah nafs yang hakiki, yang diajarkan oleh Allah
Taala kepada Pendiri Ahmadiyah. (Baca: Hadhrat Mirza Ghulam ahmad, Imam Mahdi
dan Almasih). Sehingga The Divine Systemnya berlangsung hingga kiamat.
Diantara
Moderasi Beragama yang telah dan terus dilakukan oleh Ahmadiyah, yang ditawarkan
komplit dari berbagai segi sesuai dengan kriteria yang dijadikan misal diatas,
yakni keseimbangan antara akal dan wahyu,
antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan
individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara
teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta
keseimbangan antara masa lalu dan masa depan, adalah sebagai berikut :
Teologi
1. Kewafatan
Isa israeli as secara wajar. https://ahmadiyah.id/pustaka/brosur/nabi-isa-ibnu-maryam-sudah-wafat
2. Pintu
Wahyu Masih dan terus berlangsung hingga kiamat https://www.alhakam.org/how-the-promised-messiahs-revelations-visions-and-dreams-were-recorded/
3. Nabi
Isa Muhammadi Telah hadir dalam konsep ruhani https://ahmadiyah.id/pendakwahan-mirza-ghulam-ahmad-sebagai-isa-almasih-dan-imam-mahdi-yang-dijanjikan.html
4. Khilafah
Ala Manhaj Nubuwwah bukan Manhaj Politik https://ahmadiyah.id/ahmadiyah/khilafat
5. Jihad
Tanpa pedang https://ahmadiyah.id/penangguhan-jihad-benarkah-ahmadiyah-menghapuskan-jihad.html
6. Baiat
(ikrar setia) https://ahmadiyah.id/10-syarat-baiat-dalam-ahmadiyah.html
Media
7. Jihad dengan Pena ( website medsos dll)
https://www.alislam.org/
https://www.reviewofreligions.org/
https://ahmadiyah.id/
https://www.alhakam.org/
https://wartaahmadiyah.org/
Pendidikan
8. Jamiah Ahmadiyah (sekolah khusus mubalig )
https://ahmadiyah.id/siaran-pers/pemimpin-ahmadiyah-menggelar-pertemuan-bersejarah-dengan-jamiah-ahmadiyah-indonesia
https://jamiaahmadiyya.uk/
https://www.jamiaghana.org/
Satelite
TV
9. Muslim Television Ahmadiyya (MTA)
https://new.mta.info/
https://www.mta.tv/
https://www.youtube.com/channel/UCzwStZimmt6kg1ph4GuS7D A
MTA indonesia
https://ahmadiyah.id/muslim-television-ahmadiyya-mta-perwujudan-nubuatan-agung.html
Dakwah
10. Mengirim Mubalig ke seluruh dunia.
https://id.wikipedia.org/wiki/Maulana_Rahmat_Ali
https://en.wikipedia.org/wiki/Ahmadiyya_in_the_United_States
https://www.reviewofreligions.org/38121/islam-ahmadiyyat-in-africa-fulfillment-of-a-grand-prophecy/
Khalifah ke-5 Jamaah
Muslim Ahmadiyah dalam khutbahnya bersabda :
Kita amati bahwa Allah Ta’ala memperlakukan beliau as demikian di dunia nyata dan
juga masih terus memperlakukan demikian terhadap Jemaat beliau as. Hendaknya diketahui bahwa
ketika Allah Ta’ala sebelumnya telah dahulu mengabarkan kepada beliau as tentang berbagai macam bentuk
penentangan terhadap beliau as dan
akhir yang sangat menyedihkan dari para penentang;
Dia pun mengabarkan kepada beliau tentang kemajuan dan perkembagan
Jemaat beliau meski menghadapi penentangan tersebut. Allah Ta’ala mengungkapkan
banyak sekali wahyu perihal ini, salah satunya berikut ini:
‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga.’ – “Aku akan memperbanyak Jamaah pecinta engkau
yang jujur dan tulus ikhlas.”
Lalu ada wahyu lainnya, ’Me tere sath aur tere tamam
piyarong ke sath hu.’ (“I am with you and with all your dear
ones.”) “Aku bersama engkau
dan bersama dengan semua orang yang mengasihi engkau.” (1907)
Kemudian Allah berfirman: ‘Yanshuruka rijaalun nuuhii
ilaihim minas samaa-i.’ – “Orang-orang yang Kami ilhamkan dari langit
akan menolong engkau.” (1900)
Juga Dia berfirman: ‘Me tujhe ‘izzat dungga aur barhaungga..’ – “Aku yang akan menetapkan kemuliaan
bagi engkau dan memelihara perkembangan engkau.” (1891)
Dan lagi wahyu lain berbunyi sebagai berikut: ‘YanshurukaLlahu
min ‘indi-Hi’ – “Allah
akan menolong engkau dari diri-Nya sendiri.” (tahun 1900)
Ada juga janji Allah Ta’ala terkait secara istimewa dengan
Tabligh dan penyampaian pesan beliau, ‘Me teri tabligh ko zamin ke
kinarung tak pahuncaungga.’ – “Aku akan sampaikan tabligh
engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia.”
Lalu firman-Nya, Kataballahu
Laaghlibanna anawa rusuli “Allah
telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku akan menang.’” Banyak sekali ilham
dari segi dukungan dan pertolongan ini.
Hal-hal ini bukanlah hanya pendakwaan-pendakwaan belaka dari
Hadhrat Masih Mau’ud as, wal ‘iyaadz biLlaah. Tidak
demikian! Melainkan kita melihat Allah selalu menyelesaikan janji-janji ini di
setiap era, kadang-kadang Allah menunjukkan pemandangan dukungan praktis untuk
merobohkan rancangan licik penentang atas mereka, dan kadang-kadang Dia memandu
orang-orang dan mengungkapkan pada mereka kebenaran Ahmadiyah, dan kadang-kadang
memberi ilham kedalam hati orang-orang non Ahmadi [yang berfitrat baik] untuk
mendukung para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi serangan dari para penentang terhadap mereka.
Jadi kita melihat bahwa janji-janji Allah terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as secara praktis terpenuhi dari
waktu ke waktu. (https://ahmadiyah.id/khotbah/bukti-bukti-kebenaran )
Motto
11. Love for all Hatred For none
https://trueislam.co.uk/articles/what.does.love.for.all.hatred.for.none.mean/
While
laying the foundation stone for the mosque in Pedro Abad, Spain, on 9th
October 1980, he stated:
“Erecting
a mosque is a matter of great importance, and it is always built with the aim
that Allah alone be worshipped there. The lesson that it imparts is that all
human beings, in the eyes of Allah are One, whether they may be rich or poor;
whether they may be learned or illiterate; whether they may be residents of
Pedro Abad or come from a distance of 1,000 miles or more and may be residing
in Pakistan; as human beings they are all equal. Islam teaches us to live with
mutual love and affection and with humility. It teaches us no distinction
between a Muslim or a non.Muslim. My message to everyone is that you must have
‘Love for all, Hatred for none!”
In his Friday Sermon delivered on 9th
May 2014, Hazrat Mirza Masroor Ahmad(aba), the Fifth Caliph of the
Promised Messiah(as), stated:
“We also use this
slogan (Love for All, Hatred for None) to make it clear to the world that Islam
teaches love, peace and kindness and it is not correct to associate cruelty and
viciousness with the faith of Islam. We employ this slogan to signify that we wish
to live together by breaking down walls of hatred. When we serve humanity in
any way at all or when we disseminate the message of Islam we do so because we
have love for every person in the world and we wish to remove hatred from each
heart and instead sow the seeds of love. We do so because this is what our
master, the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) taught us.”
Friday Sermon, 9th
May 2014, Mirza Masroor Ahmad(aba)
Kemanusiaan
12. Humanity First
https://humanityfirst.org/ HF Indonesia
https://humanityfirst.id/ HF Internasional
https://hfuk.org/
HF inggris raya
https://www.humanityfirstcanada.ca/ Kanada
Dialog
13. Peace Symposium
https://loveforallhatredfornone.org/peace-symposium/
This Symposium is a key event of the Community held at the
largest mosque in Western Europe and marks the 17th to date. The event promotes
a deeper understanding of Islam and other faiths and seeks to inspire a
concerted effort for lasting peace. The theme for this year's peace symposium
is 'The Foundations for True Peace'.
More than 800
guests attend the unique event including Secretaries of State,
parliamentarians, diplomats, faith and civic leaders as well as representatives
from numerous charities and faith communities. Guests will also get an
opportunity to be given a guided tour of the mosque complex. The keynote
address will be delivered by His Holiness, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, the
worldwide Head of the Ahmadiyya Muslim community.
Selain hal diatas,
ada sebuah konferensi agama-agama yang pernah dan pertama kali dilakukan oleh
agama-agama dan aliran keagamaan di Hindustan yakni, tahun 1896. Saat itu
Ahmadiyah diberikan tempat untuk menyampaikan keindahan Islam dan Murni hanya
Islam. Naskah dalam pertemuan ini berjudul Filsafat Ajaran Islam. Islami Ushul
Ki Philoshopy.
Keuangan
14. Alwasiyat https://ahmadiyah.id/buku-al-wasiat
15. Tahrik Jadid https://ahmadiyah.id/khotbah/84-tahun-tahrik-jadid
16. Waqfi Jadid https://ahmadiyah.id/khotbah/perjanjian-waqfi-jadid-periode-baru
17. Candah https://www.neliti.com/id/publications/300490/konstruksi-pemikiran-candah-dalam-jemaat-ahmadiyah-tinjauan-filsafat-hukum-islam dan https://kabardamai.id/sistem-infaq-candah-dalam-ahmadiyah/
Tarbiyat Ruhani
18. Jalsah Salanah
https://jalsasalana.org.uk/
https://witness.tempo.co/article/detail/5760/jalsah-salanah-ahmadiyah-indonesia-2023.html
https://ahmadiyah.id/khotbah/tujuan-tujuan-jalsah-salanah
19. Ijtima Khuddam Anshar LI https://wartaahmadiyah.org/tag/ansharullah
20. Tahajjud https://ahmadiyah.id/cara-bangun-shalat-tahajud.html
21. Surat Menyurat
Literasi
https://neratjapress.online/
https://witness.tempo.co/article/detail/6828/amir-nasional-jai-resmikan-8-perpustakaan-ahmadiyah.html
Selain
ke-21 hal diatas terkhusus kepada Khalifah Ahmadiyah ke.2 dan 4 telah membuat
sebuah ulasan tentang Moderasi beragama perspektif Ahmadiyah, dalam buku.buku beliau.
Yang tentunya menambah dan mengawal anggota Ahmadiyah agar senantiasa sesuai
dengan khiththahnya dengan adanya goresan pena dari pendiri Ahmadiyah dan para
Khalifahnya.
Berikut gambaran
beberapa buku.buku yang mengandung tentunya konsep moderasi beragama perspektif
Ahmadiyah.
Khalifatul Masih II, Hadhrat Mirza Bashiruddin
Mahmud Ahmad r.a :
The New World
Order Of Islam
https://www.alislam.org/book/new.world.order.islam/
In the backdrop of the then
prevailing ideologies of communism and capitalist democracy, the second successor
of the Ahmadiyya Movement, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, addressed
this lecture to the Ahmadiyya Annual Gathering on December 28, 1942.The address
answers the question, ‘How does Ahmadiyyat, the True Islam, propose to deal
with the grave problem of socio.economic inequality in the world?’ The
Ahmadiyya solution is the solution of Islam shaped under divine guidance for
present needs by the Holy Founder(as) of the Ahmadiyya movement.
The speaker examines and
analyses the role played by different movements to alleviate poverty and
sufferings, such as, Socialism, International Socialism, Marxism, Bolshevism,
Nazism and Fascism and so on. The speaker also, explores the major religions of
the world regarding the basic question “social inequality a serious problem.”
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, the
Promised Messiah and Mahdi, the founder of the Ahmadiyya Muslim Jama’at, laid
down the foundations of the New World Order, by initiating the scheme of Wasiyyat based
on Islamic teachings and under the Divine guidance in his book ‘Al.Wassiyat’
written in 1905. Later in 1934 Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad(ra) inaugurated
Tahrik.e.Jadid to prepare the ground for the full implementation of the New
World Order of the institution of Wasiyyat. In the present lecture he
elaborates the aims and objectives of Tahrik.e.Jadid and claims that the New
World Order in all its aspects, economic, social and religious, as introduced
by Nizam.e.Wassiyat, will at the end prevail and a new and genuine
revolution will take place.
The Economic
System Of Islam
https://www.alislam.org/library/books/Economic.System.of.Islam.pdf
English translation of “Islam
Ka Iqtisadi Nizam”
The Economic System of Islam, is
an English version of a lecture delivered in Urdu by Hazrat Mirza Bashir.ud.Din
Mahmud Ahmad, the Second Khalifah Head of the Ahmadiyya Muslim Community to a
gathering of academia in Lahore, Pakistan, in 1945.
The book presents a detailed
account of the teachings of Islam regarding the system of economics. It
demonstrates that economic system of Islam is placed within the broader
teachings of Islam, with the objective of attaining the pleasure of Allah and
everlasting bliss in the Hereafter. It provides for a healthy and progressive
society in which the basic needs of all are met, and incentives for achieving
excellence are provided, with due regard to justice and fair play.
The lecture then makes a
critical evaluation of the economic aspects of Communism. It provides ample
evidence that Communism has failed in its pretensions of promoting
justice and equality both within its own borders and in international
affairs. It brings out serious objections against Communism from a religious
point of view, and cites three prophecies about the decline of Communism.
Introduction
To The Study Of The Holy Quran
https://www.alislam.org/book/introduction.study.holy.quran/
Daftar
Isi terjemahan :
Bab I: Pengantar Umum
1. Perlunya Terjemahan dan Tafsir Baru
2. Terjemahan Ini Memenuhi Kebutuhan
Tersebut
3. Ciri Khas Tafsir Ini
4. Kitab-Kitab Wahyu Yang Lain
5. Perlunya Al-Quran Diturunkan
6. Tuhan Dalam Bibel adalah Tuhan Kebangsaan
7. Weda Juga Kitab Kebangsaan
8. Tuhan Itu Esa
9. Agama Bukan Hasil Karya Cipta Manusia
10. Ajaran Yang Diwahyukan Selamanya
Menentang JalanPikiran Yang Ada
11. Mengapa Ajaran-Ajaran Berbagai Agama
Berbeda
12. Islam Mengajarkan Tauhid Ilahi dan
Martabat Kemanusiaan
13. Isa Bukan Guru Jagat
14. Arti Peradaban dan Kebudayaan
15. Berbagai Masa Peradaban dan Kebudayaan
16. Kebudayaan-kebudayaan Yahudi dan
Kristetn
17. Satu Pertanyaan Yang Mendesak
18. Pertententangan-Pertentangan dalam
Perjanjian Lama
19. Ajaran Keras dalam Perjanjian Lama
20. Ajaran Perjanjian Lama Yang Tak Masuk
Akal
21. Nabi-nabi Dicemarkan oleh Bible
22. Perjanjian Baru Ditelaah Ulang
23. Pengakuan Isa Sendiri
24. Kesaksian Ulama-ulama Kristen
25. Pertentangan-Pertentangan dalam
Perjanjian Baru
26. Takhayyul dalam Injil .
27. Tata Susila Perjanjian Baru Yang
Meragukan
28. Campurtangan Manusia dalam Weda
29. Ajaran-ajaran Kejam Weda
30. Takhayul dalam Kitab.kitab Weda
31. Pertentangan-Pertentangan dalam Kitab.kitab
Weda
32. Jumlah Dewa-dewa Menurut Kitab Weda
33. Perjanjian Tuhan kepada Ibrahim
34. Nubuatan dalam Kitab Ulangan
35. Paran Merupakan Bagian Arabia
36. Kaum Quraisy adalah Keturunan Bani
Ismail .
37. Kedatangan Rasulullah Saw telah
Dinubuatkan oleh Habakuk .
38. Kedatangan Rasulullah Saw telah
Dinubuatkan oleh Nabi Sulaiman
39. Nubuatan-nubuatan Yesaya .
40. Nubuatan-nubuatan Daniel .
41. Nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Baru .
Bab II: Riwayat Rasulullah Saw.
1. Riwayat Singkat
2. Kehidupan Rasulullah Saw Bagaikan Kitab
Terbuka
3. Arabia Saat Rasulullah Saw Lahir
4. Pernikahan Rasulullah Saw dengan Siti Khadijah
5. Rasulullah Saw Menerima Wahyu Pertama
6. Pengikut-pengikut Pertama
7. Kaum Mukmin Dianiaya
8. Tabligh Islam
9. Hijrah ke Abessinia
10. Umar Masuk Islam
11. Aniaya Bertambah Berat
12. Rasulullah Saw ke Ta’if
13. Islam Meluas ke Madinah
14. Sumpah Pertama di Aqaba
15. Hijrah ke Madinah
16. Suraqa Mengejar Rasulullah Saw
17. Rasulullah Saw Tiba di Madinah
18. Abu Ayub Ansari Sebagai Tuan Rumah Bagi
Rasulullah Saw .
19. Kehidupan di Madinah Tidak Aman .
20. Perjanjian Antara Berbagai Suku Madinah .
21. Kaum Mekkah Siap Menyerang Madinah .
22. Pertempuran Badar .
23. Kabar Gaib Agung Menjadi Sempurna .
24. Pertempuran Uhud .
25. Kemenangan Berubah Menjadi Kekalahan .
26. Isyu Rasulullah Saw Wafat Sampai ke Madinah
.
27. Pertempuran Dengan Banu Mustaliq .
28. Pertempuran Khandak .
29. Pertempuran Melawan Kekuatan Yang Jauh
Lebih Besar .
30. Pengkhianatan Banu Quraiza .
31. Laskar Persekutuan Melarikan Diri .
32. Banu Quraiza Dihukum .
33. Keputusan Sa’d Sejalan dengan Bibel .
34. Adakah Rasulullah Saw Berusaha Meneruskan Perang?
35. Ajaran Yudaisme dan Kristen Mengenai
Perang .
36. Al-Quran Tentang Perang dan Damai .
37. Peraturan Rasulullah Saw tentang
Peperangan .
38. Serangan Sporadis dari Kaum Kufar .
39. Rasulullah Saw Menuju Mekkah dengan 1.500
Sahabat .
40. Perjanjian Hudaibiya .
41. Surat Rasulullah Saw Kepada Raja.raja .
42. Surat Kepada Raja Persia .
43. Surat Kepada Raja Negus .
44. Surat Kepada Penguasa Mesir .
45. Surat Kepada Pemimpin Bahrain .
46. Khaibar Jatuh .
47. Kasyaf Rasulullah Saw Menjadi Sempurna .
48. Pertempura Mu’tah .
49. Derap Langkah Rasulullah Saw bersama 10.000
Sahabat
Menuju Mekkah .
50. Mekkah Jatuh .
51. Rasulullah Saw Memasuki Mekkah .
52. Ka’bah Dibersihkan dari Berhala.berhala .
53. Rasulullah Saw Mengampuni Para Musuh .
54. Ikrima Menjadi Muslim .
55. Pertempuran Hunain .
56. Rasulullah Saw Memanggilmu .
57. Musuh Kental Menjadi Pengikut yang
Mukhlis .
58. Rasulullah Saw Membagi Rampasan Perang .
59. Tipu Muslihat Abu Amir .
60. Gerakan Militer ke Tabuk .
61. Haji Terakhir .
62. Rasulullah Saw Memberi Isyarat
Kewafatannya .
63. Hari.hari Terakhir Kehidupan Rasulullah
Saw .
64. Rasulullah Saw Wafat .
Bab III: Karakter & Kepribadian Rasulullah
Saw .
1. Kepribadian dan Watak Rasulullah Saw .
2. Kesucian Pikiran dan Kebersihan Badan Rasulullah
Saw .
3. Hidup Sederhana Rasulullah Saw .
4. Hubungan dengan Tuhan .
5. Tidak Setuju Menghukum Diri Sendiri untuk
Menebus Dosa .
6. Sikap Terhadap Istri.istri .
7. Ketinggian Akhlak .
8. Penguasaan Diri .
9. Keadilan dan Perlakuan Adil .
10. Perhatian terhadap Kaum Miskin .
11. Menjaga Kepentingan Kaum Miskin .
12. Perlakuan terhadap Para Budak .
13. Perlakuan terhadap Wanita .
14. Sikap terhadap Orang Yang Meninggal .
15. Perlakuan terhadap Tetangga .
16. Perlakuan terhadap Sanak Saudara .
17. Pergaulan Baik .
18. Menjaga Kepercayaan .
19. Menutupi Kesalahan Orang Lain .
20. Kesabaran dalam Kesusahan .
21. Bekerjasama .
22. Kejujuran .
23. Ingin Tahu Tidak Pada Tempatnya .
24. Jual Beli Secara Terus Terang .
25. Pesimis .
26. Kekejaman terhadap Hewan.hewan .
27. Toleransi Agama .
28. Keberanian .
29. Tenggang Rasa terhadap Orang Yang Kurang
Sopan .
30. Menyempurnakan Perjanjian .
31. Penghargaan terhadap Abdi.abdi
Kemanusiaan .
Bab IV: Penyusunan Al-Quran .
1. Ikhtiar-ikhtiar yang Ditempuh Guna
Menjaga Keutuhan Teks Al-Quran .
2. Para Pengajar Al-Quran .
3. Orang-orang Yang Hafal Al-Quran .
4. Al-Quran Dihafal di Luar Kepala .
5. Al-Quran Dikumpulkan dalam Satu Jilid .
6. Naskah.naskah Al-Quran Yang Dibakukan (Distandarkan) .
7. Kebiasaan Menghafal Al-Quran Bersinambung .
8. Penataan Surah-surah dan Ayat-ayat .
9. Beberapa Khabar Gaib dalam Al-Quran .
Bab V: Ciri.ciri Khas Ajaran Al-Quran .
1. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Hidup .
2. Konsepsi Al-Quran tentang Keselamatan (Najat) .
3. Mukjizat .
4. Ibadah Kepada Tuhan .
5. Masjid Islam .
6. Puasa Dalam Islam .
7. Ibadah Haji .
8. Zakat .
9. Bidang-bidang Sosial Lainnya .
10. Bentuk Pemerintahan Islam .
11. Al-Quran tentang
Perbudakan .
12. Roh Manusia .
13. Rencana Al-Quran tentang Alam Rohani .
14. Tuhan Semua Bangsa .
15. Tuhan, Penyebab Terakhir Segala Kejadian
.
16. Sifat-sifat Ilahi Yang Utama .
17. Sifat-sifat Tuhan Lainnya .
18. Tiga Golongan Sifat Ilahi .
19. Sifat-sifat Allah tidak Bertentangan .
20. Manusia Pusat Alam Semesta .
21. Puncak Proses Evolusi .
22. Tujuan Manusia Diciptakan .
23. Hukum Alam dan Hukum Syari’at .
24. Evolusi Alam Semesta Rohani Genap di
Dalam Wujud Rasulullah Saw .
25. Al-Quran Kitab Suci Yang Paripurna .
26. Prinsip-prinsip Guna Menegakkan
Ketertiban dalam Masyarakat .
27. Kehidupan Sesudah Mati .
28. Ahmad
Masih Yang Dijanjikan .
29. Putra Almasih Yang Dijanjikan .
30. Terjemah ke Dalam Bahasa Lain .
31. Himbauan Kepada Para Pemeluk Agama-agama
Lain .
32. Ungkapan Terimakasih .
Khalifatul
Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad r.h :
Murder In The
Name Of Allah
https://www.alislam.org/book/murder.name.allah/
Murder in the Name of Allah is the first translation into
English of Mazhab Ke Nam Per Khoon, a re.affirmation of the basic tenets of
Islam.
Hardly a day passes on which an Islamic event does not make
headlines. The president of a Muslim country is assassinated by the supporters
of Muslim brotherhood; a European journalist is taken hostage by Islamic Jihad;
a Pan-American aircraft is hijacked by another Muslim group; American
university professors are taken into custody by Hezbullah; Two passenger
carrying airplanes were slammed in to world trade center. The glare of
‘Islamic’ revolution in Iran is reflected through the flares of every gulf oil
refinery.
This book is a reminder that the purpose of any religion is the
spread of peace, tolerance and understanding. It argues that the meaning of
Islam—submission to the will of God—has been steadily corrupted by minority
elements in the community. Instead of spreading peace, the religion has been
abused by fanatics and made an excuse for violence and the spread of terror,
both inside and outside the faith.
In confirming the true spirit of Islam, it makes the point to
followers of all religions that the future of mankind depends on the intrinsic
values of love, tolerance, and freedom of conscience and of belief.
Terjemahan Bahasa Indonesia ( 1984)
Pendahuluan 9
Penumpahan
Darah Atas Nama Agama 11
Dua
pandangan Mengenai Penyebaran Islam 33
Pandangan-pandangan
Maulana Maududi dan beberapa orang yang bukan islam mengenai penyebaran islam
35
Tuduhan
Bahwa Islam Tersiar Melalui tindak kekerasan disorot Dari Segi Fakta-fakta
Sejarah .47
Penasehat
Zaman Bahari dan Askar-askar Ilahi daur ini 75
Para
Penasehat Masa Lampau dan Jemaat Lasykar ilahi ini 77
Kehausan
Akan Kekuasaan .89
Pembunuhan
Terhadap Orang Murtad Menurut faham maududi 97
Beberapa
Pandangan Keliru lainnya mengenai tindak kekerasan 122
Satu
Gambaran Mengenai Masa Pemerintahan ala Maududi andainya Mereka Berkuasa . 138
Para
Ulama Ahrar di Medan Amal Sekilas Per'istiiwa151
Tujuan
Dari kerusuhan-kerusuhan dan cara pelaksanaanya 153
Beberapa
Kilasan Penorama Darma Bakti kepada islam
166
Perpaduan
Dua Hal Saling Berlawanan 176
Beberapa
Bahaya Yang Nyata .. 191
Apakah
Yang Kita Telah Kehilangan Dan apakah yang kita peroleh
dalam keasyikan ini 208
Ada beberapa kutipan penting dari buku diatas. Hadhrat
Khalifatul Masih IV r.h Bersabda :
“Perbedaan akidah dan kepercayaan agama di dunia iui memang
selalu mewarnai keadaan sepanjang masa. Dan dalam hal itu manusia bebas serta
berhak penuh memilih akidah dan kepercayaan yang sesuai dengan keyakinannya,
dan dapat mendasarkan keselamatannya pada pandangan-pandangan yang disukainya.
Akan
tetapi kepada siapa pun tidak dapat diberi hak untuk berusaha memaksa orang lain mengakui akidahnya atau
mengatur amal perbuatannya berdasarkan kepercayaan-kepercayaan yang mengajarkan
kezaliman. Sebab manakala cara itu ditempuh, pasti akan lambat laun menimbulkan
rangkaian kernsuhan-kerusuhan yang tiada berakhir.
Satu-satunya
jalan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan sampai batas kemungkinan atau
untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran ialah bahwa pandangan-pandangan
masing-masmg disampaikan kepada satu sama lain dalam suasana aman dan damai
dengan membersihkan diri dari segala macam kefanatikan dan harus ada usaha untuk
memahami pandangan orang-orang lain dengan sejujur-jujurnya dengan sikap yang
tidak berat sebelah.
Semakin
dalam perbedaan pendapat semakin dalam pula diperlukan tenggang rasa,
pengendalian diri, dan ketabahan dalam mencapai saling pengertian. Dan dalam pertentangan
yang bagaimana pun memuncaknya, senantiasa harus sadar akan kejujuran dan tidak
melepaskan hubungan kesetiakawanan, toleransi dan rasa persaudaraan yang mendalam
lalu berusaha mengendalikan diri dari gejolak emosi serta dari slogan-slogan
anti pati dan permusuhan.” ( Pendahuluan : 9 )
Revelation, Rationality, Knowledge and Truth
https://www.alislam.org/book/revelation.rationality.knowledge.truth/
Any divide between revelation and rationality, religion and
logic has to be irrational. If religion and rationality cannot proceed hand in
hand, there has to be something deeply wrong with either of the two.
Does revelation play any vital role in human affairs? Is not
rationality sufficient to guide man in all the problems which confront him?
Numerous questions such as these are examined with minute attention.
All major issues which intrigue the modern mind are attempted to
be incorporated in this fascinatingly comprehensive statute.
Whatever the intellectual or educational background of the
reader, this book is bound to offer him something of his interest.
It examines a very diverse and wide range of subjects including
the concept of revelation in different religions, history of philosophy,
cosmology, extraterrestrial life, the future of life on earth, natural
selection and its role in evolution. It also elaborately discusses the advent
of the Messiah, or other universal reformers, awaited by different religions.
Likewise, many other topical issues which have been agitating the human mind
since time immemorial are also incorporated.
The main emphasis is on the ability of the Quran to correctly
discuss all important events of the past, present and future from the beginning
of the universe to its ultimate end.
Aided by strong incontrovertible logic and scientific evidence,
the Quran does not shy away from presenting itself to the merciless scrutiny of
rationality.
It will be hard to find a reader whose queries are not satisfactorily
answered. We hope that most readers will testify that this will always stand
out as a book among books – perhaps the greatest literary achievement of this
century.
Daftar Isi terjemahan bahasa Indonesia (2014)
Bagian I
1. Pengenalan dengan
Perspektif Sejarah . 13
2. Individu dan
Masyarakat . 22
3. Aliran Pemikiran
Islam . 29
4. Filsafat Eropa . 51
5. Filsafat Yunani . 87
Bagian II
1. Agama Hindu . 119
2. Agama Buddha . 145
3. Agama Konghucu . 170
4. Agama Tao . 183
5. Agama Zoroaster . 188
6. Masalah Penderitaan . 196
Bagian III
1. Sudut Pandang
Sekulerisme . 215
2. Konsep Ketuhanan Suku.Suku
Bangsa Aborigin di Australia . 239
Bagian IV
1. Fitrat Suatu Wahyu . 261
2. Wahyu Ilahi dan
Rasionalitas . 277
3. Iman Kepada “Yang
Ghaib” . 293
4. Al-Bayyinah: Prinsip
Kebenaran Yang Nyata,
Al-Qayyimah: Ajaran Yang Berkesinambungan .
319
5. Al-Quran dan Kosmologi . 328
6. Entropi dan Keterbatasan Alam Semesta .
345
7. Al-Quran dan Kehidupan
di Luar Bumi . 357
Bagian V
1. Kehidupan Menurut Perspektif Wahyu Al-Quran : Pengantar Singkat
. 367
2. Asal Mula Kehidupan: Berbagai Teori dan Pendapat . 380
3. Hakikat Jinn . 389
4. Peran Tanah Lempung dan Fotosintesis dalam Evolusi . 395
5. Kelangsungan Hidup: Faktor Kebetulan atau Takdir? . 420
6. Khiralitas (Keberpihakan) di Alam .
439
7. Seleksi Alam dan Kelangsungan Hidup
bagi yang Tercakap . 451
8. Permainan Catur atau Permainan Judi .
508
9. Masa Depan Kehidupan di Bumi .
517
10. Sistem Organik dan Evolusi .
533
11. "Pembuat Jam yang Buta", Tuli dan Bisu . 562
Bagian VI
1. Al-Quran Membuka Tabir
“Yang Ghaib”:
Perspektif Sejarah . 621
2. Bencana Nuklir . 667
3. Rekayasa Genetik . 681
4. Wabah Pes . 685
5. Virus AIDS . 699
Bagian VII
1. Masa Depan Wahyu . 707
2. Upaya Pembenaran Secara Filosofis: Masalah Kekhataman Kenabian
Tanpa Syariat . 729
3. Nabi Isa dan Masalah
Khaataman Nabiyyin . 742
Islam’s response
to contemporary issues
https://www.alislam.org/book/islam.response.contemporary.issues/
islam’s Response to Contemporary
Issues is a lecture delivered at the Queen Elizabeth II Conference Centre
(London) by Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV(rh), the
Head of the worldwide Ahmadiyya Muslim Community. Based on Quranic teachings,
the Speaker argues that:
·
Swords can win territories but
not hearts, force can bend heads but not minds;
·
The role of women is not of
concubines in harems nor a society imprisoned in the four walls of their homes;
·
Richer nations provide aid with
strings attached and yet the flow of wealth continues to be in the direction of
the rich while the poorer sink deeper in the red;
·
Religion does not need to be the
predominant legislative authority in the political affairs of a state;
·
Irrespective of the thawing of
the Cold War, the issue of war and peace does not only hang by the thread of
superpower relationship;
·
Without God there can be no
peace.
It also contains comprehensive
discussion on interest; financial aid; international relations; and the role of
Israel, America and the United Kingdom in a new world order.
Its message is timeless and
relates to the future prospects for peace. It is a compulsory read for non-Muslims
as well as for those Muslims who have forgotten the true message of Islam.
Daftar Isi terjemahan
bahasa Indonesia (2018)
Bab I. Perdamaian dan Kerukunan Antar Agama
1. Nilai-Nilai Keagamaan Telah Luntur .
2. Pemahaman Universal Mengenai Kenabian ..
3. Semua Nabi Sama Derajatnya ..
4. Mungkinkah Tingkatan Akan Berbeda Jika
Autentisitas Sama? . .
5. Keselamatan (Syafaat) Bukan Monopoli Salah Satu Agama ..
6. Pengembangan Kerukunan dan Saling
Menghargai Di Antara Agama.Agama .
7. Konsep Universalitas ..
8. Islam Adalah Agama Universal .
9. Sarana Perjuangan Bukan Paksaan .
10. Survival Of The Fittest (Yang Terbaik Yang
Berhasil) .
11. Kemerdekaan Berbicara . .
12. Kemerdekaan Dan Emansipasi Di Dunia
Kontemporer ..
13. Hujatan / Cemoohan ..
14. Kerjasama Antar Agama . .
15. Kesimpulan
Bab II. Kedamaian Sosial ..
1. Tatanan Sosial Kontemporer ..
2. Dua Iklim Tatanan Sosial ..
3. Kesombongan Masyarakat Materialistis dan
Tujuan Akhirnya ..
4. Pengingkaran Terhadap Akhirat ..
5. Empat Karakteristik Masyarakat Materialistik .
6. Akuntabilitas ..
7. Iklim Sosial Islam ..
8. Dasar-dasar Masyarakat Islam .
9. Menjaga Kehormatan .. .
10. Segregasi Jenis Kelamin .
11.
Fajar Baru Bagi Hak.hak Wanita ..
12.
Hak Yang Sama Bagi Wanita .. .
13.
Poligami . .
14.
Pemeliharaan Orang Lanjut Usia ..
15.
Generasi Masa Depan .. .
16.
Menghentikan Pencarian Tujuan Yang TidakBermanfaat ..
17.
Pengendalian Nafsu . .
18.
Menciptakan Kepercayaan Serta Memelihara Amanat Dan Perjanjian . .
19.
Memusnahkan Kejahatan Tanggungjawab
Kolektif
.
20.
Yang Patut Dilakukan dan Tidak Dilakukan .
21. Penolakan
Terhadap Rasialisme
Bab III. Kedamaian Sosio Ekonomi ..
1.
Pengenalan ..
2.
Keadilan Ekonomi Menurut Sistem Kapitalisme,
Sosialisme Dan Islam
. .
3.
Membelanjakan Harta Untuk Tujuan Yang Baik Meskipun Dalam Masa Sulit ..
4.
Membelanjakan Harta Untuk Kaum Miskin .
5.
Bersyukur .. .
6.
Berterima Kasih Kepada Manusia ..
7.
Mengemis .
8.
Apa Yang Akan Diberikan Jika Ada Yang Mengemis? .. .
9.
Memberi Secara Terbuka Dan Secara Rahasia ..
10.
Tanggungjawab Sosial ..
11.
Contoh Dari Masa Awal Islam . .
12.
Perluasan Pembelanjaan Harta . .
13.
Pengkhidmatan Sesama . .
14. Larangan Minum
Minuman Keras Dan Berjudi .
Bab IV. Kedamaian Ekonomi .
1.
Filsafat Ekonomi Sistem Kapitalisme, Komunisme Dan Islam .
2.
Kapitalisme . .
3.
Sosialisme Ilmiah ..
4.
Konsep Islam ..
5.
Empat Karakteristik Masyarakat Kapitalis . .
6.
Kapitalisme Membawa Ke Arah Kehancuran .. .
7.
Perubahan Dalam Tatanan Ekonomi . .
8.
Sistem Ekonomi Islam .. .
9.
Zakat .. .
10.
Larangan Tentang Bunga Uang .
11.
Tingkat Suku Bunga Uang Di Inggris .
12.
Bentuk Lain Kemudharatan Bunga Uang ..
13.
Bunga Uang Merupakan Ancaman Bagi
Perdamaian
. .
14.
Larangan Menumpuk Harta ..
15. Gaya Hidup
Sederhana . .
16.
Biaya Perkawinan .
17. Menerima Undangan Orang Miskin . .
18. Bersahaja Dalam Kebiasaan Makan . .
19. Meminjam Uang . .
20. Perbedaan Kelas Sosial Ekonomi ..
21. Hukum Islam Mengenai Waris .
22. Larangan Memberi Suap .. .
23. Etika Komersial ..
24. Kebutuhan Dasar ..
25. Peribadatan Sebagai Sarana Persatuan Ekonomi .
26. Tanggungjawab Internasional
Bab V. Kedamaian Politis ..
1. Kedamaian Politis ..
2. Jangan Langsung Mencerca Sistem Politik ManaPun
. .
3. Kerajaan .
4. Definisi Demokrasi . .
5. Definisi Demokrasi Menurut Islam . .
6. Dua Pilar Dalam Konsep Demokrasi MenurutIslam ..
7. Perlunya Bermusyawarah . .
8. Kerancuan Tentang Sifat Dasar Dari
Pemerintahan Islam . .
9. Mullahisme ..
10. Perpecahan Kesetiaan Antara Negara Dan
Agama .. .
11. Apakah Agama Harus Memiliki Otoritas
Legislatif? ..
12. Pemerintahan Islam .
13. Hubungan Internasional: Penerapan Prinsip Keadilan
Mutlak ..
14. Peran Perserikatan Bangsa.Bangsa ..
Bab VI. Kedamaian Individual .
1. Berdamai Dengan Diri Sendiri . .
2. Berlomba Dalam Perbuatan Baik ..
3. Kasih Sayang Di Antara Keluarga ..
4. Mengkhidmati Orang Lain ..
5. Mencari Keridhoan Allah . .
6. Kesadaran Akan Keberadaan Manusia Lain .
7. Ruang Lingkup Kecintaan Yang Lebih Luas . .
8. Tujuan Diciptakannya Manusia ..
9. Tanpa Tuhan, Tidak Akan Ada Kedamaian . .
PENUTUP
Dari
keseluruhan hal diatas dan juga gambaran isi serta kutipan sumber buku
Ahmadiyah tersebut, Jika sebagai bahan kajian nampaknya pemikiran Ahmadiyah
sudah menjadi bagian dari Moderasi beragama. Wahyu, Akal, Pengetahuan dan
Kebenaran menjadi sinkron didalam amalan Ahmadiyah sehingga tidak menimbulkan
tindakan yang Ekstrim atau melakukan pembalasan biadab menuntut si pembunuh 3
Ahmadi yang Syahid di 6 Februari 2011 yang viral, atau pensyahidan sebelumnya
ketika pasca kemerdekaan..
Hanya
doa dan doa yang biasa para Ahmadi lakukan untuk membalas kedegilan yang
membencinya bahkan sedang mengincar nyawanya. Sebagai akhir perlu kiranya
mencantumkan isi dalam dari relung palung hati
Ahmadiyah.
Selain
bebrapa hal dari isi dan kutipan ada hal Berikut yang menjadi pedoman amaliyah keseharian para Ahmadi :
Disusun oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani Masih Mau’ud dan Imam Mahdi (alaihi-salam)
Orang yang bai’at
berjanji dengan hati yang jujur bahwa:
1.
Di masa yang akan datang
hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2.
Akan senantiasa
menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap
bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan
huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya
meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3.
Akan senantiasa
mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala
dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat
Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a. w.
dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat
setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tuIus,
serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4.
Tidak akan mendatangkan
kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan
kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau
dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5.
Akan tetap setia terhadap
Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah atau pun senang, dalam duka atau
suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala.
Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan
Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu
musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6.
Akan berhenti dari adat
yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi
perintah Alquran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu
akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7.
Meninggalkan takabur dan
sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi
pekerti yang halus, dan sopan-santun.
8.
Akan menghargai agama,
kehormatan agama dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya,
anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.
9.
Akan selamanya menaruh
belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin
mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang
dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10.
Akan mengikat tali persaudaraan
dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah
dengan pengakuan taat dalam hal ma’ruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri
di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian
ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun
ikatan kerja. (Diterjemahkan dari Isytihar Takmil Tabligh, January 12, 1889)
Kemudian,
selain 10 Syarat Janji Setia ( baca : baiat) ada hal atau step berikutnya untuk
menjaga akal dan amal BAHKAN rohani para Ahmadi yakni :
1.
Barangsiapa Tidak Meninggalkan Perbuatan Dusta Dan
Tipu Menipu, Ia Bukan Dari Jemaatku.
2.
Barangsiapa Yang Terjepit Oleh Ketamakan Duniawi Dan
Sama sekali Tidak Mengarahkan Pandangannya Ke Arah Hari Kemudian, Ia
Bukanlah Dari Jemaatku.
3.
Barangsiapa Yang Sesungguh-Sungguhnya Tidak
Mengutamakan Agama Dari Pada Keduniaan, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
4.
Barangsiapa Tidak Benar-Benar Bertobat Dari
Tiap-tiap Kejahatan Dan Dari perbuatan Buruk Seperti meminum Minuman Keras,
Berjudi, Memandang Dengan Nafsu BIrahi, Khianat, Dan Suap-Menyuap, Dan Dari
Setiap Perbuatan Hendak Menguasai Sesuatu Tanpa Sah, Ia Bukanlah Dari
Jemaatku.
5.
Barangsiapa Tidak Mewajibkan Atas Dirinya Untuk
Mendirikan Shalat Lima Waktu, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
6.
Barangsiapa Tidak Dawam Dalam Memanjatkan Doa Dan
Mengingat Allah Dengan Rendah Hati, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
7.
Barangsiapa Yang Tidak Melepaskan Kawan Yang Tidak
Baik Sehingga Memberi Pengaruh buruk
Kepadanya Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
8.
Barangsiapa Tidak Menghormati Ayah Ibunya, Dan Tidak
Menaati Mereka Dalam Perkara Kebaikan Dan Yang Tidak Bertentangan Dengan
Alquran Dan Ia Tidak Peduli Terhadap Kewajiban Bakti Terhadap Mereka, Ia
Bukanlah Dari Jemaatku.
9.
Barangsiapa Tidak Berlaku Halus Dan Kasih-Sayang
Terhadap Isterinya, Dan Sanak-Saudara Dari Pihak Isterinya, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
10.
Barangsiapa Mengasingkan Tetangganya Dari Menerima
Kebaikan Yang Sekecil-Kecilnya Sekalipun, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
11.
Barangsiapa Tidak Mau Memaafkan Kesalahan Orang
Bersalah Terhadapnya, lantas ia jadi Seorang Pendendam, Ia Bukanlah Dari
Jemaatku.
12.
Setiap Suami Yang Berlaku Khianat Terhadap
Isterinya, Dan Setiap Isteri Yang Berlaku Khianat Terhadap Suaminya Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
13.
Barangsiapa Menyalahi Janji Yang Dibuatnya Tatkala
Ia Baiat Bagaimanapun Caranya, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
14.
Barangsiapa Yang Tidak Benar-Benar Yakin Bahwa Aku
Adalah Masih Mau'ud Dan Mahdi Yang Dijanjikan, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
15.
Barangsiapa Yang Tidak Bersedia Menaatiku Dalam
Segala Perkara Baik, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
16.
Barangsiapa Duduk Bercengkerama Di Tengah Kumpulan
Orang-Orang Yang Menentangku Serta Mengiakan Apa Yang Dikatakan Mereka, Ia
Bukanlah Dari Jemaatku.
17.
Tiap-Tiap Tukang Zina, Orang Fasik, Peminum,
Pembunuh, Pencuri, Penjudi, Pengkhianat, Tukang Suap-Menyuap, Perampas, Orang
Aniaya, Pembohong, Pemalsu Dan Orang Sepergaulan Dengan Mereka, Begitu Pula
Tiap Orang Yang Suka Melemparkan Tuduhan Terhadap Saudara-Saudaranya, Baik Yang
Laki-Laki Maupun Yang Perempuan, Dan Tidak Bertobat Dari Perbuatan Buruknya
Serta Tidak Meninggalkan Pergaulan Buruk, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.
Sumber : Terjemahan Buku
Bahtera Nuh hal.28-29 cetakan 1996
JIKA
semua mengaplikasikan apa yang dilakukan atau amalkan oleh para Ahmadi dan
setiap Ahmadi berprilaku sesuai dengan anjuran dan arahan pendiri Jamaah Ahmadiyah
dan Khalifahnya, dunia akan aman dan damai (baca: meminimalisir keburukan dunia
dan solusi suluk kepada Allah ).
Ini
akan jadi wasitnya dalam arti tidak kearah ekstrimis, radikalis apalagi
teroris. Sependek jangkauan memahami Moderasi Beragama tak lain adalah
membentengi tiap umat agama apapun, Ormas manapun yang ada di NKRI
ini untuk menjadi lebih bijak dan adil
serta memahami betul bahwa NKRI ini warisan yang harus dijaga agar langgeng
tidak tercabik atau terdisintegrasi laksana beberapa negara di Timur Tengah.
Yang menjadi kiblat khususnya agama-agama besar dunia, Yahudi, Kristen dan
Islam. Ahmadiyah lahir menawarkan ini semua, Love For All, Hatred For None.
Sekian.