Selasa, 20 April 2021

Demokrasi : Barat dan Islam

DEMOKRASI

Dalam pandangan Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH, Khalifatul Masih IV Jemaat Ahmadiyah Internasional.

Dalam Buku Islam dan Isyu Kontemporer, Huzur menjelaskan :

Konsep demokrasi meskipun berasal dari Yunani,
sebenarnya didasarkan pada pidato presiden Abraham Lincoln di Gettysburg yang menyatakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kata-kata itu merupakan klise yang amat menarik tetapi jarang diterapkan sepenuhnya di mana pun di muka bumi ini.

Bagian ketiga yaitu untuk rakyat definisinya sangat kabur dan bisa membahayakan. Apa yang dapat dideklarasikan secara pasti sebagai untuk rakyat? Dalam suatu sistem yang menganut pola mayoritas seringkali terjadi bahwa apa yang dianggap untuk rakyat sebenarnya adalah untuk mayoritas rakyat dan tidak berlaku bagi sisa minoritasnya.

Dalam sistem demokrasi bisa juga terjadi keputusan keputusan yang sangat penting ditentukan oleh mayoritas
absolut. Namun kalau ditelaah dan dianalisis lebih lanjut data dan faktanya, ternyata sebenarnya yang diputus itu berasal dari kelompok minoritas yang dilambungkan secara demokratis dan diterapkan pada mayoritas.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah bahwa partai yang berkuasa memperoleh kekuasaannya setelah dalam proses pemilihan umum kemudian menggandeng kelompok minoritas di berbagai faksi, karena memang tidak selalu partai yang berkuasa itu mendapat dukungan mayoritas saat pemilihan umum.

Kalau pun kemudian partai tersebut berhasil berkuasa, masih banyak hak yang bisa terjadi selama masa pemerintahannya. Opini publik bisa saja berubah drastis sehingga pemerintahan yang ada tidak lagi mewakili mayoritas.

Proses gradual perubahan minat selalu terjadi dalam setiap perubahan pemerintah. Kalau pun pemerintah bersangkutan tetap populer di mata pemilihnya, bisa saja terjadi bahwa ketika mengambil suatu keputusan penting, sebagian besar anggota partai yang berkuasa dalam hati sebenarnya tidak setuju dengan mayoritas tetapi karena loyalitas partai mereka harus patuh.

Jika perbedaan pandang itu berkaitan dengan kelebihan kekuatan partai yang berkuasa dibanding partai oposan, maka lebih sering terjadi bahwa keputusan yang katanya mayoritas itu sebenarnya merupakan keputusan minoritas yang diterapkan pada rakyat keseluruhan.

Kita juga menyadari bahwa konsep mengenai apa yang
baik untuk rakyat nyatanya berubah dari masa ke masa. Jika keputusan tidak berdasarkan prinsip absolut maka apa yang dianggap baik untuk rakyat akan selalu mengalami pergeseran kebijakan dengan berjalannya waktu. Apa yang dianggap baik hari ini mungkin dianggap buruk keesokan harinya dan baik
lagi lusanya.

Bagi orang awam keadaan ini menimbulkan situasi gamang. Eksprimen sistem komunisme dalam skala raksasa selama lebih dari setengah abad juga sebenarnya didasarkan pada slogan untuk rakyat. Adapun pemerintahan sosialis tidak semuanya bersifat diktatorial.

Berkaitan dengan pemerintahan oleh rakyat disini perlu
dicatat bahwa garis yang membedakan antara negara sosialis dan negara demokratis nyatanya amat tipis dan terkadang tidak ada.

Bagaimana orang bisa menuduh bahwa pemerintahan yang dipilih di negeri-negeri sosialis memperoleh kekuasaannya tidak oleh rakyat? Memang benar dalam negara totaliter dimungkinkan mendiktekan calon pilihan kepada dewan pemilih. Nyatanya hal yang sama dan bahkan taktik-taktik canggih lainnya dilakukan, kecuali di beberapa negara tertentu di Barat, di negara-negara dengan sistem pemerintahan demokratis.

Adalah suatu kenyataan bahwa demokrasi di sebagian besar dunia tidak sepenuhnya dilaksanakan dan jarang pemilihan umum oleh rakyat. Melalui cara-cara kecurangan pemilihan, jual beli suara (cow trading/ horse trading ), teror polisional dan cara korup lainnya, semangat dan isi demokrasi di dunia ini sudah tercemar sehingga pada akhirnya tersisa sedikit saja yang bisa disebut masih murni demokratis.

Demokrasi Islam

Menurut Al-Quran, umat manusia bebas memilih sistem
pemerintahan yang paling cocok untuk mereka. Demokrasi, kerajaan, sistem kesukuan atau feodalisme bisa saja diterima sepanjang diterima oleh rakyat sebagai warisan tradisi masyarakat mereka masing-masisng.
Hanya saja yang disukai dan paling direkomendasikan oleh Al-Quran adalah demokrasi. Umat Muslim dianjurkan memiliki sistem demokrasi meskipun tidak sepenuhnya sama dengan pola demokrasi Barat.

Islam tidak ada memberikan definisi hampa mengenai
demokrasi. Agama ini hanya mengatur tentang prinsip-prinsip penting saja dan sisanya diserahkan kepada umat. Ikutilah dan kalian akan menerima manfaat, tinggalkan dan kalian akan dihancurkan.

Pilar Demokrasi

Hanya ada dua pilar bagi konsep demokrasi menurut Islam, yaitu:

(1). Pemilihan umum secara demokratis harus
didasarkan pada azas amanah dan kejujuran. Islam
mengajarkan bahwa ketika kita memberikan suara
dalam pemilihan umum, lakukanlah hal itu dengan
kesadaran bahwa Tuhan mengawasi kita dan kita harus
mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.
Pilihlah mereka yang paling mampu mengemban amanat
nasional dan mereka adalah orang-orang yang dapat
dipercaya.

Implisit dalam ajaran ini ketentuan bahwa
mereka yang memiliki hak pilih harus melaksanakan
haknya itu, kecuali memang ada kondisi di luar kendali
yang menjadikannya berhalangan.

(2). Pemerintah harus berfungsi atas dasar prinsip keadilan mutlak. Pilar kedua dari demokrasi menurut Islam ini mengatur bahwa apa pun keputusan yang diambil, lakukan dengan berlandas pada prinsip keadilan mutlak.

Baik berkaitan dengan masalah politis, agama, sosial atau pun ekonomis, keadilan tidak boleh dikompromikan.
Setelah terbentuknya pemerintahan, pemungutan suara
di dalam partai pun harus selalu berorientasi pada
keadilan.

Dengan kata lain, tidak boleh mempengaruhi
proses pengambilan keputusan karena kepentingan
kelompok atau pertimbangan politis. Dalam jangka
panjang, semua keputusan yang dilakukan dalam
semangat ini akan benar-benar dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat.

Musyawarah

Substansi demokrasi secara tegas dibahas dalam Al￾Quran dan sepanjang berkaitan dengan tuntunan bagi
umat Muslim, walaupun sistem kerajaan tidak juga ditolak, sistem demokrasilah yang lebih disukai dibanding sistem pemerintahan lainnya. Menguraikan bagaimana seharusnya masyarakat Islam, Al-Quran menyatakan:

Asy-Syura 42:36

فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَاۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,

Asy-Syura 42:37

وَٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا۟ هُمْ يَغْفِرُونَ

dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf,

Asy-Syura 42:38

وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,

Asy-Syura 42:39

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ

dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri.

Kata-kata Arab Amruhum Shūrā Bainahum (urusan
mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka) berkaitan dengan kehidupan politis masyarakat Muslim, jelas mengindikasikan bahwa dalam masalah pemerintahan, keputusan-keputusan harus diambil secara musyawarah. Hal ini mengingatkan pada bagian pertama dari definisi tentang demokrasi yaitu pemerintahan dari rakyat. Keinginan bersama dari rakyat menjadi peraturan legislatif melalui musyawarah.

Bagian kedua dari definisi demokrasi menyangkut
oleh rakyat. Hal ini dijelaskan dalam ayat

An-Nisa' 4:58

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,

Berarti bahwa kapan saja kita menyatakan keinginan untuk memilih penguasa di atas kita, selalu tempatkan kepercayaan pada orang yang tepat. Hak rakyat untuk memilih penguasanya disinggung juga tetapi secara insidentil.

Tekanan utamanya adalah pada bagaimana seseorang melaksanakan haknya itu. Umat Muslim diingatkan bahwa bukan hanya masalah melaksanakan hak mereka dengan cara bagaimana, yang harus diperhatikan adalah amanat nasional.

Dalam masalah pengembanan amanat, seseorang tidak mempunyai banyak pilihan. Kita harus melaksanakan amanah itu dengan kejujuran, integritas dan semangat tidak mementingkan diri sendiri. Amanah harus
berada pada mereka yang berhak.

Banyak ilmuwan Muslim mengutip ayat di atas sebagai penyokong sistem dan teori demokrasi seperti yang dipahami dalam filsafat politik Barat, sedangkan sebenarnya hal itu baru sebagian benar.

Sistem musyawarah sebagaimana dikemukakan AlQuran tidak memberikan tempat bagi partai-partai politik
dari demokrasi Barat kontemporer. Tidak juga memberikan kesempatan kepada gaya dan semangat perdebatan politik dalam parlemen dan majelis perwakilan yang dipilih secara demokratis.

Perlu dicatat bahwa berkaitan dengan bagian kedua dari definisi demokrasi, menurut konsep permusyawaratan ini, hak memilih adalah mutlak milik pemilih tanpa boleh ada persyaratan yang mencampuri hak tersebut.

Berdasarkan norma-norma demokrasi yang sekarang
berjalan, si pemilih boleh saja memberikan suaranya kepada sebuah boneka atau meremas atau membuang kertas tanda pilihnya ke kotak sampah dan bukan ke kotak suara. Yang bersangkutan tidak bisa ditegur atau disalahkan sebagai telah merusak suatu prinsip demokrasi.

Adapun menurut definisi Al-Quran, seorang pemilih
bukanlah penguasa mutlak hak suaranya melainkan sebagai pengemban amanat. Sebagai pengemban ia harus melaksanakan amanatnya secara adil dan tegas dimana dan kepada siapa yang berhak. Ia harus selalu awas dan menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan tindakannya itu kepada Tuhan-nya.

Dalam pandangan konsep Islam demikian, kalau suatu partai politik telah menominasikan seorang calon sedangkan seorang anggota partai itu menganggap calon bersangkutan akan gagal mengemban amanat nasional, maka anggota tersebut sebaiknya keluar dari partainya daripada memberikan suaranya kepada seseorang yang tidak seharusnya diberi kepercayaan.

Kesetiaan kepada partai tidak boleh mempengaruhi pilihannya itu. Jadi sebagai pengulangan, amanat harus dilaksanakan dengan itikad baik. Karena itu semua pemilih harus berpartisipasi penuh melaksanakan hak pilihnya di dalam suatu pemilihan umum, kecuali ia memang berhalangan. Kalau tidak, maka yang bersangkutan dianggap gagal mengemban amanatnya sendiri.

Dalam konsep demokrasi menurut Islam tidak ada tempat untuk absenteeisme atau menahan diri tidak memilih (golput?) sebagaimana terjadi di Amerika Serikat dimana hampir separuh pemilih tidak menggunakan hak pilihnya. (Islam dan Isyu Kontemporer, Neratja Press, Jakarta 2018, Cet.1, hal. 252-259)




Selasa, 06 April 2021

INTROSPEKSI, MAWAS DIRI, REFLEKSI DIRI


"Terus Bekerja dalam TARBIYAT tidak LENGAH dalam Refleksi Diri"
________________________________________________
CHALLENGE (1)

Temukan Kutipan dibawah ini :

"Hanya Dia Sendiri Yang dapat 
mengatakan apakah seseorang yang nampaknya “kering” dan “kosong dari 
segala kehidupan rohani” akan menjadi “hijau” bila diberi siraman air ataukah 
ia “mati” dan tak bisa dihidupkan lagi"

PEMECAH KEBEKUAN

Pembaca budiman, keghaiban masa depan manusia tidak bisa didasari dengan prediksi buta dengan menjadikan penghakiman kepada orang-orang yang dianggap "lemah" dalam rohani. Karena bisa jadi kita takabur seolah sudah dalam "tinggi" tingkat rohani, dengan menganggap yang lain ada di keraknya neraka buatan Ilahi. 

Atau, jikapun tidak seperti diatas gambarannya yakni Kita Lalai saja dengan tugas kita sebagai Makhluk Allah yang paling diridhai ilahi itu bisa jadi sama saja miripnya dengan keadaan diatas tadi (naudzubillahi min dzalik) 

Bagaimana Allah Taala memberi resep mengasihi manusia dengan sharing / saling memberi nasehat sebagai ciptaan-Nya yang paling dikasihi? Jadi resepnya bukan dengan menghakimi.

Resepnya terdapat dalam Firman-Nya tentunya yakni

Al-'Ashr 103:4

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ 

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam hal yang haq/kebenaran dan saling menasehati dalam hal sabar.

Al-Balad 90:18

ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ 

Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasehati dalam hal sabar dan saling menasehati dengan kasih sayang.

Gambaran diatas dapat disimpulkan dalam 3 point : 

1. Saling memberi nasehat dalam hal yang HAQ yakni kebenaran 
2. Saling memberi nasehat dalam hal SABAR (sabar dalam hal apapun)
3. Saling memberi nasehat dengan MARHAMAH yakni kasih cinta dan sayang 

INTRO 1 :
"love for all, hatred for none"
_________________________

PEMBAHASAN : Lawan Lengah dengan Bekerja

Kemudian pembaca budiman, bagaimana dengan judul tulisan ini? Ada tidak Dasarnya ? Yakni antara terus bekerja dan tidak lengah. 

Kita temui dalam Firman-Nya, Termaktub berikut ini : 

1. Al-An'am : 60

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ

Dan di hadirat-Nya-lah 
kunci-kunci segala yang gaib,
 
 لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ 

tidak ada yang mengetahui perkara-perkara yang gaib itu kecuali 
Dia. 

وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِۚ 

Dia mengetahui apa yang 
ada di daratan dan di lautan. 

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا 

Tidaklah gugur sehelai daun pun 
melainkan Dia mengetahuinya; 

وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ 

dan tiada sebutir biji pun dalam 
kegelapan bumi yang pekat dan 
tidak pula sesuatu yang basah 
atau yang kering, melainkan ter-
tulis dalam Kitab (854) yang terang.

PENJELASAN TAFSIR 854 

Ayat ini dan ayat berikutnya meletakkan asas penyuluh bahwa 
keputusan untuk menurunkan azab atas orang-orang kafir tidak diserahkan 
ke tangan Rasulullah Saw sebagaimana dituntut oleh mereka.
 
Jika demikian 
halnya sudah lama mereka akan menemui ajal mereka, sehingga banyak 
dari orang-orang yang dahulunya merupakan musuh Islam seperti Umar 
dan Khalid yang kemudian ditakdirkan memainkan peranan penting dalam 
melebarkan sayap serta menegakkan kekuasaan Islam niscaya akan meninggal 
dunia dalam keadaan kafir. 

Akan tetapi oleh karena Allah Swt itu Mahakuasa, Dia lambat sekali 
menghukum dan karena mengetahui sepenuhnya tentang gerak-gerik batin 
manusia maka Dia mengetahui bila dan siapa yang harus dihukum. 

Dia 
Sendiri mengetahui betapa jauh kesukaran-kesukaran atau kesenangan-kesenangan dapat mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia, dan apakah 
mungkin atau tidak, pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan manusia jadi hapus atau sia-sia oleh bekerjanya sebab-sebab lain. 

Dia Sendiri mengetahui 
benih-benih kebaikan yang tertanam di dalam hati manusia dan mengetahui 
apakah mungkin atau tidak, benih-benih itu akan bersemi lalu tumbuh dan 
berkembang subur lalu menghasilkan buah. 

Hanya Dia Sendiri Yang dapat 
mengatakan apakah seseorang yang nampaknya “kering” dan “kosong dari 
segala kehidupan rohani” akan menjadi “hijau” bila diberi siraman air ataukah 
ia “mati” dan tak bisa dihidupkan lagi. 

Pendek kata, hanya Tuhan Yang 
mempunyai pengetahuan sepenuhnya tentang segala hal, segala keadaan, 
segala kemungkinan dan segala kemampuan yang tersembunyi, dan karena 
itu hanya Dia Sendiri pula Yang dapat mengatakan siapa harus dihukum dan 
siapa tidak.


2. Al-An'am 6:61

وَهُوَ ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيْلِ  

Dan 
Dia-lah Yang mewafatkan kamu di waktu malam, 

وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِٱلنَّهَارِ 

dan Dia mengetahui apa 
pun yang kamu perbuat pada 
waktu siang, (855) 

ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ 
kemudian Dia 
membangunkan kamu pada 
waktu siang itu, 

لِيُقْضَىٰٓ أَجَلٌ مُّسَمًّىۖ 

supaya menjadi 
genap jangka waktu (856) yang telah 
ditetapkan. 

ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ 

Kemudian kepada-Nya kamu akan dikembalikan, 

ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

lalu Dia akan memberitahukan 
kepadamu tentang apa yang 
senantiasa kamu kerjakan.

PENJELASAN TAFSIR 855

 “Yatawaffakum bil-Lail” berarti mengambil ruh di waktu malam. 
Hanya Tuhan Sendiri mengetahui keadaan manusia di waktu malam dan 
perbuatan-perbuatannya di waktu siang, dan semua waktu ada di bawah 
pengawasan-Nya. 

Oleh karena itu hanya Dia Sendiri juga yang mengetahui 
tabiat sebenarnya orang yang saleh dan yang jahat. Maka, sebagai akibatnya, 
hanya Dia Sendiri pula Yang berwenang menghukum

PENJELASAN TAFSIR 856

“Jangka waktu” yang dikatakan di sini ditetapkan oleh kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan kepada manusia 
semenjak ia dilahirkan dan dapat diperpanjang atau diperpendek menurut 
benar atau salahnya ia menggunakan kemampuan
-kemampuan dan kekuatan kekuatan itu. Di sini tidak disebutkan mengenai kearifan Tuhan yang kekal abadi.

INTRO 2 : 
Peace,  love and humanity.
_________________________

3. Al-An'am 6:62

وَهُوَ ٱلْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۦۖ 

Dan Dia Mahaunggul (857)
atas hamba-hamba-Nya 

وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً 

dan Dia 
mengutus penjaga-penjaga kepadamu,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ 
hingga apabila kematian 
mendatangi salah seorang di 
antaramu 

تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ 
maka utusan-utusan 
Kami mewafatkannya, dan mereka 
tidak melalaikan tugasnya. 

PENJELASAN TAFSIR 857

Ayat ini memberikan alasan lainnya mengapa Allah Swt sendiri yang 
berhak menghukum. 

Dia Qāhir yakni Mahagagah-perkasa dan Berkuasa atas 
segala sesuatu; oleh karena itu Dia dapat menghukum makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya yang tak kenal salah itu manakala Dia 
menganggap tepat. Wujud-wujud yang gagah-perkasa tidak pernah terburu-buru menghukum.

AJARAN NABI MUHAMMAD SAW 

Pada penjelasan tafsir 854 diatas ada ungkapan :
"Dia Sendiri mengetahui 
benih-benih kebaikan yang tertanam di dalam hati manusia dan mengetahui 
apakah mungkin atau tidak, benih-benih itu akan bersemi lalu tumbuh dan 
berkembang subur lalu menghasilkan buah"

AL-KISAH

Kisah Hadhrat Umar r.a dan Hadhrat Khalid r.a

Rumitnya palung hati dimana hanya Allah Taala yang benar-benar faham isinya, menjadi misteri dan ghaib bagi makhluqnya. Sehingga contoh yang dikemukakan diatas adalah sahabat Umar Bin Khaththab R.A dan Sahabat Khalid Bin Walid R.A. Bukan tanpa alasan contoh tersebut, mengapa? Karena Islam menyebar begitu pesatnya dimasa Hadhrat Umar R.A sebagai Khalifah Rasyidah sedangkan Hadhrat Khalid bin Walid R.A sebagai Panglima terdepannya, sehingga laskar Islam menyangka seolah-olah karena Hadhrat Khalid R.A lah pasukan muslim selalu menang dalam peperangan dimasa itu. 

Karena anggapan tersebut sehingga Khalifah Umar R.A mengganti Hadhrat Khalid R.A  dengan Hadhrat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah R.A, untuk menjaga ketauhidan kaum muslimin dari kemusyrikan. Karena, sesungguhnya kemenangan gilang gemilang itu adalah ridha Allah taala . 
Betul-lah bahwa dibawah komando Hadhrat Abu Ubaidah al-Jarrah R.A pun, kaum muslimin tetap mendapati kemenangan demi kemenangan. Peristiwa ini pasti lagi-lagi berkenaan dengan hati. Jika saja bukan karena iman dan taat apalagi dasarnya? 

Dari hal ini tentunya kita tidak bisa menghakimi hati seseorang cenderung kemana (baca : aktifnya kenapa dan tidak aktif karena apa). Kekhasan Hati ini Rasulullah Saw memiliki resep mujarab agar istiqomah bagi ummatnya. 

Baik ummatnya yang awalin di Jemaat maupun yang baru berbaiat (MB), maka  seyogyanya tidaklah berkecil hati karena ada Petuah Agung Nabi Saw  tentang Doa ke-Istiqomahan Hati. Agar kita terjaga dan dijaga oleh Allah Taala.

UTASAN DOA

Doanya Yakni :

1. MUQOLLIB al-QOLB

وَعَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ ، قَالَ : قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، يَا أُمَّ المُؤْمِنِيْنَ ، مَا كَانَ أكثْرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، إِذَا كَانَ عِنْدَكِ ؟ قَالَتْ : كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ : 

(( يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ ))

  رَوَاهُ التِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ ))

Dari Syahr bin Hawsyab, ia berkata, “Aku berkata kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ‘Wahai Ummul Mukminin, doa apa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  jika ia berada di sisimu?’ Ummu Salamah menjawab, ‘Yang paling sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: 

YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALA DIINIKA

(artinya: Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).’” (HR. Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan) [HR. Tirmidzi, no. 3522].

2. MUSHARRIF al-QOLB

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

 اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa;

 “ALLAHUMMA  MUSHARRIFAL QULUUB, SHARRIF QULUBANA ALA THO'ATIKA”
 
 [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (HR. Muslim no. 2654). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab, “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.”
 
(Aamiin Ya Rabbal Alamin)

Ayat, Hadis, tafsirnyapun usai. Kini mari sama-sama amalkan. Sehingga kelengahan kita sirna. Ridha Tuhan (GOD BLESS) bukan sebuah grup band semata, namun kita semuapun dapat meraihnya. Aamiin tsumma Aamiin.

Referensi :
1. Tafsir Singkat ed.Malik Ghulam Farid. Bahasa.Indonesia, JAI 2017.
2. Kitab Hadis Muslim dan Kitab Hadis Muslim





PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...