Rabu, 18 September 2024

PAKISTAN : AHMADIYAH DAN KIPRAH AHMADI dalam PENDIRIAN NEGARA PAKISTAN

 

PAKISTAN : AHMADIYAH DAN KIPRAH AHMADI dalam PENDIRIAN NEGARA PAKISTAN

 

KHOTBAH JUM’AT SAYYIDINA AMIRUL MU’MININ

0F

 
Khalifatul Masih V

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

{ ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz} [1]

tanggal 23 Aman 1391 HS/Maret 2012

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

 Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd


Hari ini saya dengan kehati-hatian ingin menyampaikan mengenai Pakistan untuk dijadikan sebagai catatan. Tanggal 23 Maret di Pakistan juga sedang dirayakan sebagai Hari Pakistan.

 

 Sehubungan dengan itu saya anjurkan kepada AHMADI Pakistani untuk memanjatkan doa-doa bagi Negara Pakistan yang sedang melewati keadaan yang sangat kritis dan berbahaya sekali. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan Negara itu, demi anggota Jemaat Ahmadiyah semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka. Sebab, orang-orang Ahmadi banyak memanjatkan doa demi keselamatan negara itu.

 

Saya ingin mengemukakan beberapa bukti sampai dimana orang-orang Ahmadi berusaha terus- menerus demi terbentuknya Negara Pakistan?

 

 

Pada tahun 1923 sebuah Surat Kabar ‘Daor-e-Jadid’ telah menulis mengenai Hadhrat Choudhri Zafrullah Khan Sahib:

 

“Semua Muslim di seluruh Provinsi Punjab, dewan yang dianggap berhak mewakili seluruh Punjab ketika merasa perlu bahwa seorang wakil atas nama orang-orang Muslim harus dikirim ke Inggris maka mereka menganggap Hadhrat Choudhri Zafrullah Khan Sahib sesuai betul untuk diutus ke sana.

 

Alhasil Choudhri Zafrullah Khan Sahib pergi ke Britania dengan biaya sendiri dan mengemukakan permasalahan secara langsung dan sangat indah sekali di hadapan penguasa dan para ahli politik Britania yang sesudahnya bukan hanya dipuji oleh Punjab Council (Dewan Punjab) bahkan Pemerintah juga sangat terkesan…” [2]

 

Itulah peristiwa dan bukti yang sangat gemilang yang sekurang-kurangnya satupun dari persatuan Surat Kabar manapun didunia tidak dapat mengingkarinya.

 

Ada seorang wartawan terkenal Maulana Muhammad Ali Johar Sahib pemilik Surat Kabar Hamdard pada tanggal 26 September 1927 telah menulis,

 

“Tidak bersyukur rasanya terhadap Janab (Yang Mulia) Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad beserta Jemaatnya jika kita tidak menyatakan di sini sekalipun kita berbeda kepercayaan dengan beliau dalam hal agama bahwa beliau telah berjuang keras mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kesejahteraan orang-orang Muslim umumnya diatas dunia    dan tidak jauh lagi waktunya akan tiba kala golongan Islam (Ahmadiyah) yang sangat terorganisir ini terbukti menjadi contoh penunjuk jalan dunia Islam umumnya bagi orang-orang yang duduk didalam mesjid-mesjid berkubah tinggi di kawasan- kawasan tertentu.” [3]

 

Yakni Maulana Muhammad Ali Jouhar Sahib juga bukan hanya memuji dan menghargai usaha-usaha Jemaat Ahmadiyah bahkan beliau menganggap Jemaat Ahmadiyah adalah salah satu golongan Islam yang patut dicontoh.

 

 Sebaliknya, para pemimpin Negara Pakistan yang berkuasa sekarang berusaha untuk menghapuskan nama Jemaat Ahmadiyah dari lembaran sejarah Nasional mereka. Bahkan, bukan hanya dihapus dari sejarah melainkan dikeluarkan dari Islam menurut undang-undang yang dibuat oleh tangan mereka sendiri.

 

Begitu juga seorang tokoh sastrawan senior bernama Khawajah Hasan Nizami telah menulis tentang Konferensi Meja Bundar,

 

”Dalam Konferensi Meja Bundar setiap orang Hindu dan Muslim dan setiap orang Inggris mengakui kecerdasan, kecakapan dan kemahiran Choudhri Muhammad Zarullah Khan Sahib yang sangat gemilang dan berkata bahwa jika di kalangan orang-orang Islam ada orang cerdas yang tidak berbicara sia-sia dan paham politik dunia baru di zaman ini maka orang itu hanyalah Choudhri Muhammad Zafrullah Khan Sahib.” [4]

 

Kemudian Doktor Ashiq Husain Batalwi Sahib menulis, ”Dari antara delegasi Muslim (peserta utusan) yang mengikuti Konferensi Meja Bundar yang paling banyak mendapatkan sukses adalah Agha Khan Sahib [pemimpin Syiah aliran Ismailiyyah] dan Choudry Zafrullah Khan Sahib. [5]

 

Ada satu buku lain yaitu ‘Iqbal ke Aakhiri do sal’ – “Dua Tahun terakhir Iqbal”, pencetaknya Iqbal Academic Pakistan.

 

Selanjutnya mengenai kembalinya Hadhrat Qaid-A’zham (Sang Pemimpin Agung/Besar, julukan untuk Muhammad Ali Jinnah, Pendiri Pakistan, Gubernur Jenderal Pertama) ke dunia politik sepulangnya dari UK ke Hindustan, beliau menulis,

 

”Ketika saya mulai merasa bahwa kini saya tidak mampu menolong orang-orang Islam di Hindustan dan saya tidak mampu merubah mentalitas mereka dan tidak pula saya mampu membuka mata orang-orang Muslim maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke London dan menetap di sana.” [6]

 

 

Sebuah buku berjudul ‘Qaid A’zham aur un ka ‘Ehed’ “Qaid A’zham dan Janjinya” karya tuan Rais Ja’fari mengutip hal ini. “Pada waktu itu Jemaat Ahmadiyah berusaha membujuk beliau untuk kembali ke Hindustan dan Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengutus Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid London berjumpa dengan Muhammad Ali Jinnah Sahib, Qaid A’zham dan mendesak beliau agar kembali ke Hindustan demi memimpin umat Islam di sana agar hak-hak mereka dapat ditegakkan. Akhirnya Qaid A’zham pun kembali ke Hindustan dan mulai giat mempersatukan ummat Islam demi menuntut hak-hak mereka. Akhirnya ‘Qaid A’zham’ kembali ke Hindustan dan mengkhidmati orang-orang Muslim dengan sepenuh hati.

 

Dengan jujur beliau berkata, ’

 

The eloquent persuasion of The Imam left me no escape.’ – ”Bujuk rayu sang Imam yang sangat fasih dan menawan hati membuat saya tidak melarikan diri.” [7]

 

Seorang wartawan terkenal bernama Muhammad Syafiq yang dikenal dengan panggilan Miim Syiin telah menulis,

 

”Mr. Liaqat Ali dan Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid Fazal London-lah yang telah merubah sikap Muhammad Ali Jinnah dan natijahnya pada tahun 1934 Mr Jinnah kembali ke Hindustan dan tanpa saingan beliau langsung terpilih menjadi anggota National Assembly (Majlis Nasional).” [8]

 

Para penentang yang sangat keras juga pada waktu itu mengakuinya. Maka pada tahun 1946 golongan Ahrar telah mencetak sebuah buku dengan judul ‘Muslim League aur Mirzaiyong ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah’ secara jelas di dalamnya menulis,

 

 “Mr. Jinnah berpidato di Quetta dan beliau memuji kebijakan Mirza Mahmud mendukung Muslim League maka sebagai dampaknya ketika diadakan pemilihan umum seluruh Mirzai (orang-orang Ahmadi) memberi suara kepada Muslim League.” [9]

 

Seorang Ahli Hadis terkenal bernama Maulwi Mian Noor Ibrahim Sialkoti menulis didalam kitabnya dengan judul Paighame Hidayat bataidi Pakistan Muslim League menulis:

 

 “Bernaungnya orang-orang Ahmadi dibawah bendera Islam merupakan dalil untuk membuktikan bahwa Muslim League betul-betul golongan nomor satu yang mewakili umat Islam” yakni dalam pandangan mereka orang-orang Ahmadi itu adalah orang Muslim dan mengorbankan jiwa raga mereka demi terbentuknya Negara Pakistan.

 

Pengkhidmatan Choudhri Zafrullah Khan Sahib kepada Komisi Perbatasan (India-Pakistan) telah disiarkan oleh Hamid Nizami Sahib Pendiri Surat Kabar “Nawa-e-Waqt” dengan kata- kata yang sangat gamblang. Namun sebaliknya pada zaman sekarang Surat Kabar Nawa-e-Waqt ini seringkali menurunkan tulisan-tulisan yang sedikit banyak menentang Jemaat Ahmadiyah, kebijakan mereka telah berubah sekarang mereka hanya berusaha untuk meraup keuntungan duniawi. Akan tetapi Hamid Nizami Sahib pendiri Surat Kabar itu menulis,

 

 “Pertemuan-pertemuan Komisi Perbatasan sudah selesai..selama empat hari berturut-turut Mukarram Choudhri Zafrullah Khan Sahib atas nama orang-orang Muslim telah menyampaikan solusinya dengan sangat lantang dan mahir sekali disertai dengan alasan-alasan yang tepat dan diterima akal. Adapun kemenangannya ada di tangan Tuhan. Akan tetapi dengan sangat jitu dan sangat mahir sekali Sir Zafrullah Khan Sahib telah mengemukakan permasalahan orang-orang Muslim.

 

Dengan demikian perasaan hati dan pikiran orang-orang Muslim pasti mendapat ketenteraman bahwa hak-hak dan keadilan mereka telah dikemukakan di hadapan Pemerintah dengan sangat tepat dan dengan cara yang mudah oleh seorang yang tepat dan mahir sekali yakni Sir Zafrullah Khan Sahib.

 

Beliau diberi waktu sangat singkat untuk mempersiapkan dan menyusun kasus-kasus itu namun karena hati beliau sangat tulus-ikhlas dan cerdas disertai kemahiran yang tinggi beliau telah menyelesaikan kewajiban dengan sangat baik. Kami sangat yakin bahwa semua orang Muslim di Provinsi Punjab tanpa menghiraukan akidah akan mengakui dan berterima kasih pada perjuangan beliau.” [10]

 

 

Dan lagi, dalam menghadapi kerusuhan-kerusuhan pada tahun 1953. Jemaat Ahmadiyah diajukan ke pengadilan. Hakim pada waktu itu bernama Munir.

 

Beliau menulis,

 

“Telah terjadi permusuhan dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar terhadap Jemaat Ahmadiyah sehingga kami telah memberi keputusan dengan mengikutsertakan Distrik Gurdaspur India juga, alasannya Ahmadiyah telah berikhtiar secara khusus dan Qaid-i- A’zam telah mengirim Choudhri Zafrullah Khan Sahib untuk menghadapi masalah Muslim League dan beliau telah mengemukakan dalil-dalil yang khas akan tetapi Pimpinan Pengadilan ini (Hakim Munir) yang telah menjadi anggota Komisi Perbatasan itu (bersama Choudry Zafrulah Khan Sahib) saya menganggap wajib mensyukuri ketenangan dan ketenteraman yang telah dihasilkan oleh perjuangan dan keberanian Choudhri Zafrullah Khan Sahib dalam menangani masalah-masalah di Gurdaspur India.

 

Sebenarnya semua itu adalah dokumen Boundary Commission (Komisi Perbatasan) yang sangat kuat dan jelas sekali dan barangsiapa yang mempunyai niat dan minat untuk memeriksa atau mempelajari dokumen itu dengan senang hati dapat melakukannya.

 

Choudhri Muhammad Zafrullah Khan Sahib tanpa pamrih telah melakukan pengkhidmatan sangat baik demi membela hak dan keadilan orang-orang Muslim. Namun sekalipun hasil penyelidikan itu yang dilakukan dengan cara sangat adil namun beberapa golongan telah menunjukkan reaksi yang memalukan sekali yang menunjukkan tidak ada rasa terima kasih terhadap hasil penyelidikan pengadilan ini.” [11]

 

 

Sekarang ini kebanyakan organisasi politik semakin meningkat rasa tidak berterimakasih mereka yang memalukan. Keadaan dan situasi negara [Pakistan] sekarang ini dapat kita ketahui dan saksikan dengan terang dan jelas sekali.

Oleh sebab itu mengingat hal itu, semua orang Pakistani harus memanjatkan doa sebanyak-banyaknya untuk negara mereka Pakistan; semoga Allah Ta’ala melindungi dan menyelamatkan negara itu dari jalan yang sedang menuju kehancuran.

 



[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Suratkabar ‘Daur Jadid’ 16-Okt.-1923 dari ‘Pengorbanan Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian Negara Pakistan’ oleh Mirza Khalil Ahmad Qamar h. 11

 [3] Suratkabar ‘Hamdardi’ 26 September 1927, rujukan dari ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’ h. 7

[4] Suratkabar Munadi, 24-10-1934 “Sejarah Pakistan dan Jemaat Ahmadiyah”.[5] Buku Dua Tahun Terakhir Iqbal ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’ halaman 24

 [6] ‘Qaid A’zham dan masa hidup beliau’ oleh Rais Ahmad Ja’fari halaman 192 artikel berjudul ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’

[7] Tarikh Ahmadiyah jilid 6 halaman 102 edisi baru.

 [8] Pakistan Times 11 September 1981

[9] Moslem League aur Mirzaiyyun ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah halaman 18 artikel ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah..’

 [10] Suratkabar ‘Nawae Waqt’ 1 Agustus 1947 artikel berjudul ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’

[11] Laporan Tahqiqaati ‘Adaalat dikenal ‘Munir Report’ h. 305 edisi baru

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...