PAKISTAN : AHMADIYAH DAN KIPRAH AHMADI dalam PENDIRIAN NEGARA PAKISTAN
KHOTBAH JUM’AT SAYYIDINA AMIRUL MU’MININ
0F
Khalifatul Masih V
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
{ ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz} [1]
tanggal 23 Aman 1391 HS/Maret 2012
di Masjid Baitul Futuh, London-UK
Hari ini saya dengan kehati-hatian ingin menyampaikan
mengenai Pakistan untuk dijadikan sebagai catatan. Tanggal 23 Maret di Pakistan
juga sedang dirayakan sebagai Hari Pakistan.
Sehubungan dengan itu saya
anjurkan kepada AHMADI Pakistani untuk memanjatkan doa-doa bagi Negara Pakistan
yang sedang melewati keadaan yang sangat kritis dan berbahaya sekali. Semoga
Allah Ta’ala menyelamatkan Negara itu, demi anggota Jemaat Ahmadiyah semoga
Allah Ta’ala menyelamatkan mereka. Sebab, orang-orang Ahmadi banyak memanjatkan
doa demi keselamatan negara itu.
Saya ingin mengemukakan beberapa bukti sampai dimana
orang-orang Ahmadi berusaha terus- menerus demi terbentuknya Negara Pakistan?
Pada tahun 1923 sebuah Surat Kabar ‘Daor-e-Jadid’ telah menulis
mengenai Hadhrat Choudhri Zafrullah Khan Sahib:
“Semua Muslim di seluruh Provinsi Punjab, dewan yang dianggap berhak
mewakili seluruh Punjab ketika merasa perlu bahwa seorang wakil atas nama
orang-orang Muslim harus dikirim ke Inggris maka mereka menganggap Hadhrat
Choudhri Zafrullah Khan Sahib sesuai betul untuk diutus ke sana.
Alhasil Choudhri Zafrullah Khan Sahib pergi ke Britania dengan biaya
sendiri dan mengemukakan permasalahan secara langsung dan sangat indah sekali
di hadapan penguasa dan para ahli politik Britania yang sesudahnya bukan hanya
dipuji oleh Punjab Council (Dewan Punjab) bahkan Pemerintah juga sangat
terkesan…” [2]
Itulah peristiwa dan bukti yang sangat gemilang yang sekurang-kurangnya
satupun dari persatuan Surat Kabar manapun didunia tidak dapat mengingkarinya.
Ada seorang wartawan terkenal Maulana Muhammad Ali Johar Sahib pemilik
Surat Kabar Hamdard pada tanggal 26 September 1927 telah menulis,
“Tidak bersyukur rasanya terhadap Janab (Yang Mulia) Mirza Basyiruddin
Mahmud Ahmad beserta Jemaatnya jika kita tidak menyatakan di sini sekalipun
kita berbeda kepercayaan dengan beliau dalam hal agama bahwa beliau telah
berjuang keras mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kesejahteraan orang-orang
Muslim umumnya diatas dunia dan tidak
jauh lagi waktunya akan tiba kala golongan Islam (Ahmadiyah) yang sangat
terorganisir ini terbukti menjadi contoh penunjuk jalan dunia Islam umumnya
bagi orang-orang yang duduk didalam mesjid-mesjid berkubah tinggi di kawasan-
kawasan tertentu.” [3]
Yakni Maulana Muhammad Ali Jouhar Sahib juga bukan hanya memuji dan
menghargai usaha-usaha Jemaat Ahmadiyah bahkan beliau menganggap Jemaat
Ahmadiyah adalah salah satu golongan Islam yang patut dicontoh.
Sebaliknya, para pemimpin Negara
Pakistan yang berkuasa sekarang berusaha untuk menghapuskan nama Jemaat
Ahmadiyah dari lembaran sejarah Nasional mereka. Bahkan, bukan hanya dihapus
dari sejarah melainkan dikeluarkan dari Islam menurut undang-undang yang dibuat
oleh tangan mereka sendiri.
Begitu juga seorang tokoh sastrawan senior bernama Khawajah Hasan
Nizami telah menulis tentang Konferensi Meja Bundar,
”Dalam Konferensi Meja Bundar setiap orang Hindu dan Muslim dan setiap
orang Inggris mengakui kecerdasan, kecakapan dan kemahiran Choudhri Muhammad
Zarullah Khan Sahib yang sangat gemilang dan berkata bahwa jika di kalangan
orang-orang Islam ada orang cerdas yang tidak berbicara sia-sia dan paham
politik dunia baru di zaman ini maka orang itu hanyalah Choudhri Muhammad
Zafrullah Khan Sahib.” [4]
Kemudian Doktor Ashiq Husain Batalwi Sahib menulis, ”Dari antara
delegasi Muslim (peserta utusan) yang mengikuti Konferensi Meja Bundar yang
paling banyak mendapatkan sukses adalah Agha Khan Sahib [pemimpin Syiah aliran
Ismailiyyah] dan Choudry Zafrullah Khan Sahib. [5]
Ada satu buku lain yaitu ‘Iqbal ke Aakhiri do sal’ – “Dua Tahun
terakhir Iqbal”, pencetaknya Iqbal Academic Pakistan.
Selanjutnya mengenai kembalinya Hadhrat Qaid-A’zham (Sang Pemimpin
Agung/Besar, julukan untuk Muhammad Ali Jinnah, Pendiri Pakistan, Gubernur
Jenderal Pertama) ke dunia politik sepulangnya dari UK ke Hindustan, beliau
menulis,
”Ketika saya mulai merasa bahwa kini saya tidak mampu menolong
orang-orang Islam di Hindustan dan saya tidak mampu merubah mentalitas mereka
dan tidak pula saya mampu membuka mata orang-orang Muslim maka akhirnya saya
memutuskan untuk pergi ke London dan menetap di sana.” [6]
Sebuah buku berjudul ‘Qaid A’zham aur un ka ‘Ehed’ “Qaid A’zham dan
Janjinya” karya tuan Rais Ja’fari mengutip hal ini. “Pada waktu itu Jemaat
Ahmadiyah berusaha membujuk beliau untuk kembali ke Hindustan dan Hadhrat
Khalifatul Masih II ra mengutus Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid London
berjumpa dengan Muhammad Ali Jinnah Sahib, Qaid A’zham dan mendesak beliau agar
kembali ke Hindustan demi memimpin umat Islam di sana agar hak-hak mereka dapat
ditegakkan. Akhirnya Qaid A’zham pun kembali ke Hindustan dan mulai giat
mempersatukan ummat Islam demi menuntut hak-hak mereka. Akhirnya ‘Qaid A’zham’
kembali ke Hindustan dan mengkhidmati orang-orang Muslim dengan sepenuh hati.
Dengan jujur beliau berkata, ’
The eloquent persuasion of The Imam left me no escape.’ – ”Bujuk rayu
sang Imam yang sangat fasih dan menawan hati membuat saya tidak melarikan
diri.” [7]
Seorang wartawan terkenal bernama Muhammad Syafiq yang dikenal dengan
panggilan Miim Syiin telah menulis,
”Mr. Liaqat Ali dan Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid Fazal
London-lah yang telah merubah sikap Muhammad Ali Jinnah dan natijahnya pada
tahun 1934 Mr Jinnah kembali ke Hindustan dan tanpa saingan beliau langsung terpilih
menjadi anggota National Assembly (Majlis Nasional).” [8]
Para penentang yang sangat keras juga pada waktu itu mengakuinya. Maka
pada tahun 1946 golongan Ahrar telah mencetak sebuah buku dengan judul ‘Muslim
League aur Mirzaiyong ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah’ secara jelas di
dalamnya menulis,
“Mr. Jinnah berpidato di Quetta
dan beliau memuji kebijakan Mirza Mahmud mendukung Muslim League maka sebagai
dampaknya ketika diadakan pemilihan umum seluruh Mirzai (orang-orang Ahmadi)
memberi suara kepada Muslim League.” [9]
Seorang Ahli Hadis terkenal bernama Maulwi Mian Noor Ibrahim Sialkoti
menulis didalam kitabnya dengan judul Paighame Hidayat bataidi Pakistan Muslim
League menulis:
“Bernaungnya orang-orang Ahmadi
dibawah bendera Islam merupakan dalil untuk membuktikan bahwa Muslim League
betul-betul golongan nomor satu yang mewakili umat Islam” yakni dalam pandangan
mereka orang-orang Ahmadi itu adalah orang Muslim dan mengorbankan jiwa raga
mereka demi terbentuknya Negara Pakistan.
Pengkhidmatan Choudhri Zafrullah Khan Sahib kepada Komisi Perbatasan
(India-Pakistan) telah disiarkan oleh Hamid Nizami Sahib Pendiri Surat Kabar
“Nawa-e-Waqt” dengan kata- kata yang sangat gamblang. Namun sebaliknya pada
zaman sekarang Surat Kabar Nawa-e-Waqt ini seringkali menurunkan
tulisan-tulisan yang sedikit banyak menentang Jemaat Ahmadiyah, kebijakan
mereka telah berubah sekarang mereka hanya berusaha untuk meraup keuntungan
duniawi. Akan tetapi Hamid Nizami Sahib pendiri Surat Kabar itu menulis,
“Pertemuan-pertemuan Komisi Perbatasan
sudah selesai..selama empat hari berturut-turut Mukarram Choudhri Zafrullah
Khan Sahib atas nama orang-orang Muslim telah menyampaikan solusinya dengan
sangat lantang dan mahir sekali disertai dengan alasan-alasan yang tepat dan
diterima akal. Adapun kemenangannya ada di tangan Tuhan. Akan tetapi dengan
sangat jitu dan sangat mahir sekali Sir Zafrullah Khan Sahib telah mengemukakan
permasalahan orang-orang Muslim.
Dengan demikian perasaan hati dan pikiran orang-orang Muslim pasti
mendapat ketenteraman bahwa hak-hak dan keadilan mereka telah dikemukakan di
hadapan Pemerintah dengan sangat tepat dan dengan cara yang mudah oleh seorang
yang tepat dan mahir sekali yakni Sir Zafrullah Khan Sahib.
Beliau diberi waktu sangat singkat untuk mempersiapkan dan menyusun
kasus-kasus itu namun karena hati beliau sangat tulus-ikhlas dan cerdas
disertai kemahiran yang tinggi beliau telah menyelesaikan kewajiban dengan
sangat baik. Kami sangat yakin bahwa semua orang Muslim di Provinsi Punjab
tanpa menghiraukan akidah akan mengakui dan berterima kasih pada perjuangan
beliau.” [10]
Dan lagi, dalam menghadapi kerusuhan-kerusuhan pada tahun 1953. Jemaat
Ahmadiyah diajukan ke pengadilan. Hakim pada waktu itu bernama Munir.
Beliau menulis,
“Telah terjadi permusuhan dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar terhadap
Jemaat Ahmadiyah sehingga kami telah memberi keputusan dengan mengikutsertakan
Distrik Gurdaspur India juga, alasannya Ahmadiyah telah berikhtiar secara
khusus dan Qaid-i- A’zam telah mengirim Choudhri Zafrullah Khan Sahib untuk
menghadapi masalah Muslim League dan beliau telah mengemukakan dalil-dalil yang
khas akan tetapi Pimpinan Pengadilan ini (Hakim Munir) yang telah menjadi
anggota Komisi Perbatasan itu (bersama Choudry Zafrulah Khan Sahib) saya
menganggap wajib mensyukuri ketenangan dan ketenteraman yang telah dihasilkan
oleh perjuangan dan keberanian Choudhri Zafrullah Khan Sahib dalam menangani
masalah-masalah di Gurdaspur India.
Sebenarnya semua itu adalah dokumen Boundary Commission (Komisi
Perbatasan) yang sangat kuat dan jelas sekali dan barangsiapa yang mempunyai
niat dan minat untuk memeriksa atau mempelajari dokumen itu dengan senang hati
dapat melakukannya.
Choudhri Muhammad Zafrullah Khan Sahib tanpa pamrih telah melakukan
pengkhidmatan sangat baik demi membela hak dan keadilan orang-orang Muslim.
Namun sekalipun hasil penyelidikan itu yang dilakukan dengan cara sangat adil
namun beberapa golongan telah menunjukkan reaksi yang memalukan sekali yang
menunjukkan tidak ada rasa terima kasih terhadap hasil penyelidikan pengadilan
ini.” [11]
Sekarang ini kebanyakan organisasi politik semakin
meningkat rasa tidak berterimakasih mereka yang memalukan. Keadaan dan situasi
negara [Pakistan] sekarang ini dapat kita ketahui dan saksikan dengan terang
dan jelas sekali.
Oleh sebab itu mengingat hal itu, semua orang
Pakistani harus memanjatkan doa sebanyak-banyaknya untuk negara mereka
Pakistan; semoga Allah Ta’ala melindungi dan menyelamatkan negara itu dari
jalan yang sedang menuju kehancuran.
[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa
[2] Suratkabar ‘Daur Jadid’ 16-Okt.-1923 dari ‘Pengorbanan Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian Negara Pakistan’ oleh Mirza Khalil Ahmad Qamar h. 11
[4] Suratkabar Munadi, 24-10-1934 “Sejarah Pakistan dan Jemaat Ahmadiyah”.[5] Buku Dua Tahun Terakhir Iqbal ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’ halaman 24
[9] Moslem
League aur Mirzaiyyun ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah halaman 18
artikel ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah..’
[11] Laporan Tahqiqaati ‘Adaalat
dikenal ‘Munir Report’ h. 305 edisi baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar