Senin, 16 September 2024

Islam itu Indah : Akhlaq Fadhilah. Bukan Nafsu Amarah

Islam : Antara Perang dan Akhlaq Fadhilah.


      “Saya membaca sebuah hikayat di dalam sebuah buku. Di situ tertulis bahwa. Hadhrat Ali r.a. sedang melawan seorang kafir. Dalam perlawanan itu orang kafir tersebut kalah dan melarikan   diri. Hadhrat Ali r.a. mengejar orang itu, dan akhirnya menangkap orang kafir tersebut. Terjadi pergumulan dan beliau berhasil menjatuhkan orang itu. 


      Ketika beliau r.a. duduk di atas dada orang itu dan mengeluarkan pisau untuk membunuhnya, maka orang kafir tersebut meludahi wajah beliau. Akibat hal itu Hadhrat Ali r.a. berdiri dan meninggalkan orang tersebut. Orang kafir tersebut heran, dan menanyakan apa sebabnya? 


      Hadhrat Ali r.a. menjelaskan,  "Sebenarnya kami memerangi kalian hanyalah karena perintah Allah. Kami tidak melakukannya untuk tujuan nafsu  tertentu. Justru kami mencintai kalian. Saya telah menangkap engkau adalah untuk Allah. Namun ketika engkau meludahi wajah saya, maka akibat emosi saya sebagai manusia, saya pun jadi marah. Saat itulah saya takut, jangan-jangan saat itu – tatkala dorongan nafsu saya pun sudah terlibat di dalamnya -- dengan membunuh engkau, maka seluruh amal perbuatan saya menjadi hancur, dan akibat adanya keterlibatan dorongan nafsu saya maka amal-amal baik saya yang murni hanya demi Allah itu akan  hapus.” 


      Lihatlah peristiwa itu, betapa ketakwaan orang-orang itu telah merasuk sampai ke dalam hal-hal yang sangat halus sekali.


 Orang kafir itu mengatakan: "Saya tidak dapat mempercayai bahwa agama orang-orang seperti ini adalah batil (palsu)." Akhirnya orang kafir tersebut pada saat itu juga telah masuk Islam.


      Ringkasnya, seperti itu jugalah  peperangan  Jemaat saya. Janganlah campurkan dorongan nafsu di dalamnya. Lihat, jika pada pandangan Allah Ta’ala kita ini bukan kafir dan dajjal, maka tuduhan orang-orang bahwa kita kafir dan dajjal tidak akan membuat perbedaan (pengaruh buruk) apa pun pada, diri kita. Dan jika memang benar kita pada pandangan Allah Ta’ala tidak diterima bahkan ditolak (mardud), maka walau pun orang-orang menyebut  kita ini baik maka tetap saja kita tidak dapat  selamat dari cengkeraman Allah Ta’ala.


       Jadi, ingatlah, lembut adalah sifat yang baik. Tanpa kelembutan pekerjaan tidak dapat berjalan (berlangsung). Kemenangan diperoleh tidak melalui peperangan. Dan kalau pun ada kerugian yang dapat ditimbulkan pada suatu pihak melalui peperangan, apalah artinya? 


       Hendaknya kalian memenangkan  (menguasai) kalbu-kalbu [manusia], dan kalbu tidak dapat dimenangkan (dikuasai) melalui peperangan. Justru dapat dimenangkan melalui akhlak-akhak fadhilah. 


Jika manusia dapat bersabar demi Allah atas penderitaanpenderitaan yang ditimbulkan  oleh musuh, maka akhirnya di suatu  hari di dalam kalbu musuh itu sendiri  timbul suatu pikiran dan pengaruh, tatkala melihat berkat-berkat, karunia-karunia, dan pertolongan Ilahi, dan dia menyaksikan perlakuan dalam bentuk akhlak fadhilah, maka dengan sendirinya di dalam kalbunya timbul pemikiran bahwa: “Jika orang ini dusta  dan melakukan kedustaan atas Allah Ta’ala  maka tentu sama-sekali tidak akan ada pertolongan serta dukungan dari Allah atas dirinya." (Malfuzat, jld. X. hlm. 340-341).


Hazrat Khalifatul Masih IV r.h. bersabda :

Tidak akan pernah kebenaran hati nurani dapat ditaklukkan dengan kekuatan pedang apa pun. Kendatipun pedang itu dapat menguasai daging dan tulang tetapi akal, perasaan, dan akidah tidak dapat digoyahkan atau dipaksa ( Penumpahan Darah Atas Nama Agama, hal.17, 1984 )


Kemudian, Dalam buku lainnya, Beliau r.h bersabda bahwa :

"Pedang bisa memenangkan negeri tetapi tidak mungkin hati. Paksaan dapat menundukkan kepala tetapi tidak mungkin  fikirannya"

Islam melarang penggunaan paksaan sebagai sarana penyebaran ajarannya. 

Difirmankan :

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak diperkenankan suatu paksaan dalam agama. 

Sesunguhnya telah nyata bedanya kebenaran dari kesesatan.”  (QS.2 Al-Baqarah : 257)

Dengan demikian tidak perlu adanya paksaan dalam bentuk apa pun. Biarkanlah manusia menentukan mana yang Benar. 

Tuhan tegas mengingatkan Rasulullah Saw untuk jangan sekali-kali berfikir menggunakan kekerasan untuk mengubah masyarakat.  (Islam Dan Isu Kontemporer,  hal. 33 Neratja Press 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...