Jumat, 22 Januari 2021

Islam Tentang Krisis Global

 


PERSPEKTIF ISLAM TENTANG KRISIS GLOBAL
Oleh: Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba
di Parlemen Inggris, The House of Commons London, UK, 2008

Pidato bersejarah oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.b.a., Khalifatul Masih V, Pemimpin Internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah di House of Commons (Parlemen Inggris) pada 22 Oktober 2008. Acara diselenggarakan oleh Justine Greening – Anggota Parlemen dari Putney, daerah dimana Mesjid Fazl, Pusat Jemaat Muslim Ahmadiyah berada, dalam rangka menyambut 100 tahun berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Hadir dalam pertemuan itu adalah para anggota Parlemen; Gillian Merron, Rt Hon Hazel Blears, Alan Keen, Dominic Grieve, Simon Hughes kemudian Lord Eric Avebury serta para tamu terhormat dari kalangan pers, politisi dan profesional.

Perspektif Islam tentang Krisis Global

Bismillãhir Rahmãnir-Rahim – Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Pertama – tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu terhormat, para anggota parlemen dan dan seluruh hadirin Yang Mulia yang telah mengizinkan seorang pemimpin organisasi keagamaan untuk menyampaikan sepatah kata kepada anda. Saya sangat berterima kasih kepada yang terhormat Justine Greening, anggota Parlemen dari daerah kami, yang telah berusaha untuk menyelenggarakan acara ini demi sebuah komunitas kecil di wilayah pemilihannya pada kesempatan peringatan Seabad Khilafat. Itu menunjukkan kebesarannya, sikap terbuka dan perhatian terhadap perasaan setiap orang dan masyarakat yang tinggal di wilayah pemilihannya.

Meskipun Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah sebuah komunitas kecil, tetapi ia membawa standar dan mewakili ajaran Islam yang benar. Bagaimanapun, saya harus katakan bahwa setiap Ahmadi yang bermukim di Inggris adalah warga negara sangat setia dan mencintai negaranya, karena hal ini adalah ajaran Nabi Muhammad saw yang mengajarkan kami bahwa cinta kepada tanah air merupakan bagian integral dari iman seseorang.  [1] Ajaran Islam telah dijabarkan lebih lanjut dan dipertegas oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yang kami yakini sebagai Al Masih yang Dijanjikan sebagai Pembaharu di Zaman ini.

Beliau mengatakan bahwa dengan mengumumkan pendakwahannya, Allah swt telah menempatkan dua beban di atasnya. Pertama adalah hak Allah dan kedua adalah hak makhluk ciptaan-Nya. Beliau melanjutkan bahwa pemenuhan hak terhadap ciptaan Tuhan adalah tantangan paling sulit dan halus.  [2]

Dengan mengacu kepada Khilafat, Anda mungkin  khawatir bahwa suatu saat mungkin datang dimana sejarah berulang, dan perang mungkin terjadi sebagai buah dari bentuk kepemimpinannya. Biarkan saya meyakinkan Anda, bagaimanapun, walau tuduhan ini ditujukan terhadap Islam, Insya Allah, Khilafat Ahmadiyah akan selalu dikenal sebagai pembawa standar perdamaian dan kerukunan di dunia, serta setia kepada tanah air di mana anggotanya bermukim. Khilafat Ahmadiyah juga hadir di sini untuk melestarikan dan melanjutkan missi Al-Masih dan Al-Mahdi, jadi, sama sekali tidak ada alasan untuk takut pada Khilafat. Khilafat ini menarik perhatian anggota jamaahnya menuju pemenuhan dua kewajiban yang untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as diutus (Hak-hak Allah dan hak-hak manusia), dan sebagai hasilnya, mereka berupaya menciptakan perdamaian dan kerukunan di dunia.

Sekarang, karena keterbatasan waktu, saya akan membahas pokok masalah. Jika kita melihat beberapa abad terakhir secara adil, kita akan menyadari bahwa peperangan yang terjadi pada kurun waktu itu sesungguhnya bukanlah perang agama. Peperangan ini lebih bersifat geopolitik. Bahkan konflik dan permusuhan yang terjadi antar bangsa saat ini, juga kita sadari, muncul karena kepentingan politik, teritorial dan ekonomi.

Adalah suatu kekhawatiran saya, dengan memperhatikan hal-hal yang terjadi saat ini, dinamika politik dan ekonomi negara-negara di dunia dapat menyebabkan perang dunia. Tidak hanya menimpa negara-negara miskin, tetapi bangsa-bangsa yang kaya juga terlibat di dalamnya. Karenanya, adalah tugas negara adikuasa untuk duduk bersama dan mencari solusi dalam menyelamatkan manusia dari ambang bencana.

Inggris adalah juga salah satu negara yang bisa memengaruhi negara-negara maju disamping negara-negara berkembang. Inggris, jika ada keinginan, dapat membimbing dunia untuk mencapai kondisi yang berkeadilan.

Jika kita menoleh ke masa lampau, Inggris memerintah banyak negara dan mewariskan standar tinggi keadilan dan kebebasan beragama, khususnya di anak benua India dan Pakistan. Jemaat Muslim Ahmadiyah menjadi saksi akan hal itu, dan Pendiri Jemaat Ahmadiyah telah memberi pujian kepada Pemerintah Inggris atas kebijakannya yang adil dan menjamin kebebasan beragama. Ketika Pendiri Jemaat Ahmadiyah memberi ucapan selamat kepada Ratu Victoria pada Diamond Jubilee (Perayaan 60 tahun) dan memperkenalkan kepadanya pesan-pesan Islam, beliau secara khusus mendoakan agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberi ganjaran kepada beliau.

Jadi, sejarah telah menunjukkan bahwa kami selalu mengakui keadilan yang ditampilkan oleh Inggris, dan kami harap bahwa di masa datang juga, keadilan akan tetap menjadi ciri khas dari Pemerintah Inggris, tidak hanya dalam persoalan keagamaan, tetapi dalam seluruh aspek, serta tidak melupakan bahwa Anda mempunyai sifat baik pada masa lalu.

Hari ini, terdapat agitasi besar dan keresahan di dunia. Kita melihat perang dengan skala kecil sedang meletus, sementara di beberapa wilayah, negara-negara adikuasa mengklaim bahwa mereka sedang mencoba membawa perdamaian. Jika prasyarat keadilan tidak dipenuhi, kobaran dan api perang lokal ini akan menyebar dan melibatkan seluruh dunia. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya kepada Anda sekalian, saya memohon, selamatkan dunia dari kehancuran!

Sekarang, saya akan menjelaskan secara singkat bagaimana ajaran Islam bisa menjadi jalan menuju tercapainya perdamaian di dunia, atau bagaimana perdamaian bisa ditegakan di dunia dibawah cahaya ajaran ini. Saya berdoa agar tercipta perdamaian di dunia, dan mereka yang terlibat, seperti juga kaum Muslim, dapat melakukan sesuatu untuk terciptanya perdamaian. Tapi juga, tugas ini adalah tugas seluruh negara di dunia, seluruh negara adikuasa atau pemerintahnya, untuk melakukan hal yang sama menuju perdamaian.

Pada masa abad ini, ketika dunia telah benar-benar menciut menjadi satu desa global yang tidak pernah dibayangkan pada masa-masa sebelumnya, kita harus menyadari tanggung jawab kita sebagai manusia dan harus mencoba memperhatikan untuk memecahkan masalah hak asasi manusia, yang akan membantu menegakkan perdamaian di dunia. Jelas, upaya ini harus didasarkan pada keadilan dan memenuhi seluruh persyaratan keadilan.

Diantara masalah-masalah yang timbul saat ini,  – secara langsung atau pun tidak – adalah karena masalah agama. Beberapa kelompok Muslim menggunakan cara-cara yang melanggar hukum dan bom bunuh diri, bom atas nama agama untuk membunuh dan menyakiti non-Muslim termasuk di dalamnya tentara dan sipil yang tidak bersalah, dan pada saat yang sama juga membunuh secara brutal kaum Muslim yang tidak bersalah serta anak-anak juga. Tindakan kejam ini sangat tidak bisa diterima dalam Islam.

Karena perilaku yang mengerikan dari beberapa Muslim ini, kesan yang sangat keliru telah merebak di kalangan negara-negara non-Muslim, akibatnya beberapa kelompok masyarakatnya secara terbuka menentang Islam, sementara yang lainnya walau tidak secara terbuka, menyimpan kesan yang tidak baik tentang Islam di dalam hati mereka. Hal ini telah menimbulkan ketidakpercayaan dalam diri orang-orang dan negara Barat terhadap Islam. Dan disebabkan kelakuan beberapa gelintir Muslim ini, reaksi yang ditunjukkan non-Muslim bukannya membuat situasi baik, malah semakin buruk dari hari ke hari.

Sebuah contoh utama dari reaksi yang salah adalah serangan terhadap karakter Nabi Suci Muhammad saw dan Al-Quran Suci, Kitab Suci umat Islam. Dalam hal ini, sikap para politisi Inggris – apa pun asal partai-nya, dan kaum intelektual Inggris, telah mengambil sikap yang berbeda dengan para politisi dari negara-negara lain. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih. Faedah apa yang bisa diambil dengan melukai hal-hal sensitif yang menjadi sebab suburnya kebencian dan ketidak-senangan? Kebencian ini memicu kelompok ektrimis Muslim tertentu melakukan perbuatan tidak Islami, yang kemudian menimbulkan perlawanan lanjutan dari beberapa kelompok bukan Muslim yang meningkatkan suasana permusuhan.

Namun mereka yang bukan ekstremis dan mereka yang mencintai Nabi Muhammad saw secara mendalam, hatinya menjadi terluka karena serangan ini, dalam hal ini Jamaah Muslim Ahmadiyah yang paling merasakan. Tugas kami yang paling penting adalah memperlihatkan kepada dunia tentang akhlak sempurna Nabi Muhammad saw serta keindahan ajaran Islam. Kami yang menghormati dan menjunjung para Nabi dan meyakini mereka semua adalah Rasul yang diutus Tuhan, tidak akan mengatakan hal-hal yang tidak sopan terhadap salah satu diantara mereka. Tetapi kami sangat sedih ketika mendengar tuduhan yang tidak berdasar terhadap Nabi kami saw.


Duduk dari kiri: Lord Avebury (Partai Liberal Demokrat, juru bicara urusan luar negeri), Rt. Hon. Hazel Blears MP (Sekertaris Negara untuk urusan Kemasyarakatan dan Pemerintahan Daerah); Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul-Masih V aba; Justine Greening MP (Menteri Keuangan Kabinet Bayangan); Gillian Merron MP (Menteri Departemen Luar Negeri); Councillor Louise Hyams (Walikota Westminster). Berdiri dari kiri: Jeremy Hunt MP (Menteri Kebudayaan Kabinet Bayangan); Rafiq Hayat (Amir Nasional Ahmadiya UK); Virendra Sharma MP, Rt. Hon. Malcolm Wicks MP (Mantan Menteri di Departemen Perdagangan dan Perindustrian);Rob Marris MP, Simon Hughes MP (Presiden Partai Liberal Demokrat); Martin Linton MP; Alan Keen MP.

Saat ini, ketika dunia semakin terbagi ke dalam blok-blok; ekstrimisme meningkat, situasi ekonomi dan keuangan yang memburuk, maka terdapat suatu kebutuhan mendesak untuk mengakhiri segala bentuk kebencian dan memulai membangun dasar-dasar perdamaian. Hal ini hanya bisa dilaksanakan dengan menghormati semua perasaan satu sama lain. Jika hal ini tidak dilakukan dengan benar, jujur, dan disertai kebajikan, maka akan meningkatkan gejolak yang tidak terkendali. Saya menghargai, negara-negara Barat telah bermurah hati, mengizinkan rakyat miskin negara-negara berkembang untuk menetap di negara-negara yang terkait, yang diantaranya juga adalah orang-orang Islam juga.

Hakikat keadilan mensyaratkan bahwa perasaan dan praktik keagamaan dari para pemeluknya harus dihargai. Ini adalah cara dimana ketenangan pikiran dapat dijaga dengan bijaksana. Kita harus ingat ketika ketenangan pikiran seseorang terganggu, maka akan berpengaruh kepada ketenangan pikiran masyarakat.

Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, saya berterimakasih kepada para legislator dan politisi Inggris karena telah memenuhi persyaratan keadilan dan tidak turut campur. Sesungguhnya, inilah ajaran Islam yang disampaikan dalam Al-Quran Suci kepada kita. Al-Quran Suci menyatakan:

لا إِكراهَ فِي الدّينِ ۖ

Tidak ada paksaan dalam agama (QS.2 Al-Baqarah ayat 257)

Perintah ini tidak hanya menentang pendapat bahwa Islam disebarkan melalui pedang, tapi juga mengatakan kepada umat Islam bahwa keimanan adalah masalah antara manusia dengan Tuhan-nya, dan anda tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Setiap orang dipersilakan hidup sesuai dengan keimanannya dan menjalankan ritual keagamaannya. Bagaimanapun, jika ada praktek ritual atas nama agama yang melukai orang lain dan melawan hukum yang berlaku, maka kekuatan hukum di Negara itu harus bertindak, karena praktik ritual yang kejam atas nama agama, tidak pernah diajarkan oleh seorang pun dari Nabi-nabi Allah.

Ini adalah prinsip fundamental untuk menegakkan perdamaian pada tingkat lokal dan juga tingkat internasional.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan kepada kita bahwa manakala akibat dari perubahan keimanan Anda, masyarakat atau kelompok, atau pemerintahan mencoba untuk campur tangan dalam ketaatan praktik keagamaan Anda, dan setelah itu kemudian terjadi perubahan yang mendukung Anda, maka hendaklah selalu ingat bahwa Anda janganlah menyimpan kedengkian atau niat jahat. Anda jangan berpikir untuk membalas dendam tetapi harus menegakkan keadilan dan kesetaraan. Al-Quran menyatakan:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كونوا قَوّامينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالقِسطِ ۖ وَلا يَجرِمَنَّكُم شَنَآنُ قَومٍ عَلىٰ أَلّا تَعدِلُوا ۚ اعدِلوا هُوَ أَقرَبُ لِلتَّقوىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعمَلونَ

Hai orang-orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian kepada suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui atas apa yang kamu kerjakan. (QS.5 Al-Maidah ayat 9)

Inilah ajaran untuk menegakkan perdamaian dalam masyarakat. Jangan pernah meninggalkan keadilan bahkan kepada musuh Anda sekalipun. Sejarah awal Islam memperlihatkan kepada kita bahwa manakala ajaran ini diikuti, segala tuntuan keadilan terpenuhi. Saya tidak akan memberi banyak contoh tentang ini, tetapi sejarah telah memberikan kesaksian bahwa setelah Kemenangan Mekah, Nabi Muhammad saw tidak melakukan balas dendam kepada mereka yang telah menyiksa beliau melainkan mengampuni mereka dan mempersilakan mereka menganut agama mereka masing-masing. Saat ini, perdamaian akan dapat ditegakkan jika prasyarat keadilan juga diberikan kepada musuh, tidak hanya dalam perang melawan ekstrimis agama, tetapi juga untuk semua perang lainnya. Hanya dengan hal demikian perdamaian bisa lestari.

Di abad terakhir, telah terjadi dua perang dunia. Apapun penyebabnya, jika kita melihat secara mendalam, hanya satu penyebab menonjol, dan itu adalah karena keadilan itu tidak secara benar ditegakkan dalam contoh pertama. Sebagai reaksinya, apa yang dianggap sebagai api yang telah padam ternyata menjadi bara yang terus membakar perlahan, akhirnya meledak dan terbakar serta menyelimuti seluruh dunia untuk kedua kalinya.

Saat ini, keresahan terus meningkat dan peperangan serta tindakan menjaga perdamaian bahkan menjadi faktor pemicu bagi perang dunia. Selain itu, masalah-masalah ekonomi dan sosial saat ini akan menjadi sumber yang memperparah situasi.

Al-Quran telah memberikan beberapa prinsip emas untuk menciptakan perdamaian di dunia. Ini adalah fakta nyata bahwa keserakahan menyebabkan timbulnya permusuhan. Kadang-kadang hal ini terwujud dalam bentuk ekspansi wilayah atau merebut sumber daya alam, yang tentunya untuk memberi kesan superioritas terhadap bangsa lain. Hal ini menyebabkan kekejaman, apakah itu di tangan para pemimpin lalim yang tanpa tanpa ampun merampas hak-hak orang lain dan membuktikan supremasi mereka dalam mengejar kepentingan pribadi mereka atau di tangan kekuasaan kolonial. Terkadang, tangisan dan penderitaan orang-orang yang diperlakukan dengan kejam memanggil dunia luar.

Dan mungkin tepat sekali, bahwa kita telah diajarkan prinsip emas berikut oleh Nabi Suci Islam saw, yaitu: Tolonglah  mereka yang dizolimi dan yang menzolimi. Para sahabat Nabi saw bertanya bahwa mereka bisa memahami membantu orang yang dizalimi, tetapi bagaimana mereka bisa membantu orang zalim? Nabi saw menanggapi dengan bersabda, “Dengan menghentikan tangannya dari melakukan kekejaman karena kekejaman yang diluar batas akan membuatnya layak mendapat hukuman Allah”. [3]

Jadi, dari belas kasihan, anda mencoba untuk menyelamatkannya. Prinsip ini melampaui sekat terkecil masyarakat sampai ke tingkat  internasional. Dalam hubungan ini, Al-Qur’an mengatakan:

وَإِن طائِفَتانِ مِنَ المُؤمِنينَ اقتَتَلوا فَأَصلِحوا بَينَهُما ۖ فَإِن بَغَت إِحداهُما عَلَى الأُخرىٰ فَقاتِلُوا الَّتي تَبغي حَتّىٰ تَفيءَ إِلىٰ أَمرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فاءَت فَأَصلِحوا بَينَهُما بِالعَدلِ وَأَقسِطوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُقسِطينَ

Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya, maka jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain, maka perangilah pihak yang menyerang, hingga ia kembali kepada perintah Allah. Kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuatlah adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.(QS.49, Al-Hujurat 10)

Meskipun ajaran ini adalah tentang umat Islam, namun dengan mengikuti prinsip ini, dasar perdamaian secara universal dapat diletakkan.

Dalam upaya menjaga perdamaian, telah dijelaskan di awal bahwa hal yang paling dibutuhkan adalah keadilan. Dan, jika dengan mengikuti prinsip keadilan upaya menciptakan perdamaian belum berhasil, maka selanjutnya diperlukan langkah yang sama, berjuang bersama melawan pihak yang melakukan pelanggaran (agresor) dan berlanjut sampai beberapa waktu sehingga pihak pelanggar siap untuk berdamai. Setelah pihak agresor siap untuk berdamai, persyaratan keadilan yang diperlukan adalah: Jangan membalas dendam, jangan memaksakan pembatasan atau embargo. Makna keseluruhan adalah disatu pihak dilakukan mengawasi pihak agresor dan pada waktu yang sama mencoba memperbaiki keadaan.

Untuk mengakhiri kerusuhan yang terjadi di beberapa negara di dunia saat ini – dan sayangnya, beberapa negara Muslim justru menonjol di antara mereka – harus dianalisis khususnya oleh negara-negara yang memiliki Hak Veto, untuk memastikan benar atau tidaknya keadilan telah dirusak. Ketika diperlukan bantuan, kekuatan dibentangkan ke arah bangsa-bangsa yang kuat.

Sebagaimana telah saya uraikan, kami memberikan kesaksian akan fakta sejarah dimana dalam sejarahnya pemerintah Inggris selalu menjunjung keadilan dan hal ini telah mendorong saya untuk menarik perhatian Anda semua untuk ikut terlibat dalam masalah ini.

Prinsip lain yang telah diajarkan untuk memulihkan perdamaian di dunia tidak memandangkan mata rakus kepada kekayaan orang lain. Al-Quran mengatakan:

وَلا تَمُدَّنَّ عَينَيكَ إِلىٰ ما مَتَّعنا بِهِ أَزواجًا مِنهُم زَهرَةَ الحَياةِ الدُّنيا لِنَفتِنَهُم فيهِ ۚ

Dan jangan sekali-kali engkau tujukan kedua mata engkau yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka untuk waktu sesaat –berupa keindahan kehidupan dunia- supaya Kami menguji mereka di dalamnya … (QS.20 Tha Ha ayat:132)

Keserakahan karena iri melihat kekayaan orang lain merupakan penyebab kegelisahan di dunia. Pada tingkat pribadi, ‘Mencontoh cara hidup tetangga” (Keeping up with the Joneses), seperti kata pepatah, telah mengakibatkan keserakahan tanpa akhir dan menghancurkan kedamaian sosial. Kompetisi keserakahan antar bangsa telah dimulai dan menyebabkan kehancuran perdamaian dunia. Hal ini dibuktikan oleh sejarah dan setiap orang yang menggunakan akal dapat menilai bahwa keinginan untuk menguasai kekayaan orang lain menyebabkan timbulnya kecemburuan dan keserakahan serta ini menjadi sumber kerugian.

Inilah mengapa Tuhan Yang Maha Kuasa berfirman bahwa seseorang yang memiliki sumber daya sendiri agar berbagi kepada yang lain. Upaya memperluas wilayah adalah untuk mengambil keuntungan sumber alam. Pengelompokkan bangsa-bangsa dan pembuatan kekuatan blok bertujuan menguasai sumber alam di beberapa negara. Terkait hal ini, beberapa penulis yang sebelumnya bekerja sebagai penasihat pemerintah, telah menulis buku yang secara rinci menjelaskan bagaimana beberapa negara berupaya untuk mengontrol sumber daya bangsa yang lain. Seberapa jauh penulis itu mengungkap kebenaran isinya, hanya mereka yang tahu dan juga Tuhan Maha Mengetahui. Tetapi situasi yang muncul dari membaca kondisi ini adalah menyebabkan penderitaan serius dalam hati warga masyarakat yang tinggal di negara-negara miskin tersebut, dan ini merupakan alasan utama bagi tumbuhnya terorisme dan perlombaan senjata pemusnah masal.

Saat ini, dunia menganggap dirinya lebih bijaksana, lebih sadar dan lebih terdidik dibanding masa lalu. Bahkan di negara-negara miskin banyak terdapat jiwa-jiwa cerdas yang sangat unggul dalam pendidikan di bidang masing-masing. Pikiran-pikiran intelektual yang sangat tinggi bekerja sama dalam pusat penelitian besar dunia. Dalam keadaan seperti itu, kita pasti membayangkan bahwa orang-orang tersebut harus bergabung bersama dan mencoba untuk mengakhiri pemikiran yang salah dan kebodohan di masa lalu yang telah mengakibatkan permusuhan dan telah menyebabkan perang yang mengerikan. Intelek yang dianugerahkan Tuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya digunakan untuk kemajuan umat manusia dan untuk merumuskan metode yang bermanfaat dari sumber lainnya.

Tuhan telah menganugerahkan setiap negara dengan sumber daya yang seharusnya dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengubah dunia menjadi sebuah dunia yang damai. Tuhan telah memberi banyak negara dengan iklim dan lingkungan yang sempurna untuk ditumbuhi beragam tanaman yang berbeda. Perencanaan yang tepat harus diterapkan dengan teknologi pertanian modern, sehingga memperkuat kondisi ekonomi dan juga kelaparan dapat dikurangi di dunia ini.

Negara-negara yang telah dianugerahi dengan sumber daya mineral dipersilakan untuk mengembangkan dan melakukan perdagangan dengan harga wajar dan terbuka, sehingga satu negara dapat memberi manfaat dari sumber daya yang dimiliki negeri lain. Jadi, ini akan menjadi cara yang tepat, cara yang diridhai oleh Allah Taala.

Tuhan Yang Maha Kuasa mengirim para Utusan-Nya kepada manusia agar mereka dapat menunjukkan kepada manusia jalan yang membawa kedekatan manusia kepada Tuhan. Pada saat yang sama, Allah berfirman manusia diberi kebebasan penuh dalam berkeyakinan. Menurut keyakinan kami, hukuman dan ganjaran akan diberikan di alam akhirat, tetapi di bawah sistem yang telah Tuhan tetapkan, yaitu saat kekejaman telah ditimbulkan kepada ciptaan-Nya dan ketika keadilan diabaikan, maka sesuai dengan hukum alam, segala akibatnya akan dilihat di dunia ini juga. Berbagai dampak parah dari ketidakadilan telah terlihat dan kemudian tidak ada jaminan dari dampak yang benar atau salah.

Jalan yang benar untuk menundukkan dunia tersebut adalah setiap upaya harus ditujukan untuk meningkatkan martabat negara-negara miskin.

Masalah utama saat ini adalah krisis ekonomi yang diistilahkan sebagai kredit macet. Aneh kedengarannya, tetapi bukti telah menunjukkan kenyataannya. Al-Quran Suci membimbing kita dengan mengatakan: Hindarilah riba, karena riba adalah tercela dan membahayakan bagi perdamaian domestik, nasional dan internasional. Kita telah diperingatkan, mereka yang menerima riba suatu saat akan menjadi orang yang dirasuki syetan dengan penyakit gila.[4] Jadi setiap Muslim telah diperingatkan untuk menghindari situasi seperti ini, berhenti dalam praktek riba, karena uang yang diperoleh dari riba tidak akan membuat Anda bertambah makmur, walaupun pada suatu sisi, tampak kekayaan itu bertambah. Tidak pelak lagi, waktu itu akan tiba ketika efek sebenarnya tumbuh. Kemudian, kita telah diperingatkan bahwa tidak diperkenankan memasuki bisnis riba, disertai peringatan jika kita melakukannya, maka berperang dengan Tuhan. [5]

Faktor ini sangat jelas dari kredit macet saat ini. Pada awalnya beberapa orang meminjam uang untuk membeli properti, tetapi sebelum mereka bisa memegang kepemilikan properti tersebut, biasanya mereka akan mati terlilit beban utang. Sekarang banyak pemerintah yang terpesona dan tergila-gila dengan utang. Perusahaan-perusahaan berskala besar telah menjadi bangkrut. Beberapa Bank dan lembaga keuangan mengalami krisis dan kemudian menjadi beban pemerintah dengan cara menalangi beban utangnya. Situasi ini terjadi hampir di setiap negara, terlepas dari siapa yang menjadi kaya atau siapa miskin. Anda mengetahui lebih baik dibanding saya tentang krisis ini. Uang dari deposan telah lenyap. Sekarang tergantung pada pemerintah tentang bagaimana dan sejauh mana melindungi mereka. Tapi untuk saat ini, ketenangan pikiran unit keluarga, para pebisnis dan pemimpin pemerintah di sebagian besar negara di dunia telah hancur.

Apakah situasi ini tidak memaksa kita untuk berpikir bahwa dunia sedang menuju ke kesimpulan logis yang peringatannya telah diberikan dengan baik kepada kita? Tuhan Maha Tahu atas apa konsekuensi lebih lanjut dari situasi ini.

Allah telah berfirman: Perdamaian akan terjamin saat perdagangan dijalankan dengan fair dan ketika sumber-sumber alam digunakan secara baik dan adil.

Sekarang saya ingin mengakhiri dengan poin singkat ajaran kami sebagai pengingat bahwa perdamaian sejati di dunia akan terjadi mendekatkan diri kepada Tuhan. Semoga Tuhan menjadikan dunia memahami butir ini, dan mereka dapat memenuhi hak-hak bangsa lain.

Akhirnya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Anda sekalian atas kehadirannya dan mendengarkan penjelasan saya.

Terima kasih banyak.

[1] Tafsir-e-Haqqi, Surah al-Qasas, no. 86, and Fathul-BarfSharh Sahih al-Bukhari, Babu Qaulillahi  Ta‘ala Wa’tul-buyuta… and Tuhfatul-AhwadhSharhu Jami‘ it-Tirmadhi, Babu Ma Yaqul

[2] Malfuzat, vol.1, hal.326

[3] Sahih al-Bukhari, Kitabul-Ikrah, Babu Yaminir-Rajuli Li Sahibihi… Hadith no. 6952…

[4] Q.S. 2 Albaqarah: 276

[5] Q.S. 2 Albaqarah: 278-279


Pidato Perspektif Islam Tentang Krisis Global ini adalah diambil dari buku “Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian”

Tag: Islam, Krisis Global, Perdamaian

Sumber : https://ahmadiyah.id/khilafat/masroor-ahmad/perspektif-islam-tentang-krisis-global

ISLAM : REALITAS AGAMA SEMPURNA

 


ISLAM : Realitas AGAMA  Sempurna 

Hal utama yang harus dipahami adalah apa yang dimaksud dengan realitas Islam, bagaimana cara-cara mencapai realitas tersebut dan apa hasil yang didapat dengan mengikuti realitas demikian karena pengetahuan mengenai hal ini merupakan inti guna memahami berbagai misteri. Alangkah baiknya jika para lawan kita mau mempelajari masalah ini dengan tekun karena berbagai keraguan yang menerpa pikiran mereka adalah akibat dari kegagalan mereka mencerna secara sempurna realitas Islam, sumber-sumbernya dan buahnya. Para lawan agama kita juga akan memperoleh manfaat dari telaah demikian. Mereka akan bisa memahami apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang menjadi tanda-tanda kebenarannya. Dalam istilah bahasa Arab, kata Islam mengandung arti uang yang dibayarkan untuk menyelesaikan suatu perjanjian, atau menyerahkan urusan kepada seseorang, atau mencari kedamaian, atau menyerah mengenai suatu hal atau pandangan. Pengertian praktis tentang Islam dikemukakan dalam ayat:

بَلىٰ مَن أَسلَمَ وَجهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحسِنٌ فَلَهُ أَجرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلا خَوفٌ عَلَيهِم وَلا هُم يَحزَنونَ

‘Barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan juga ia berbuat kebajikan, maka bagi ia ada ganjarannya di sisi Tuhan- nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka mengenai yang akan datang dan tidak pula mereka akan berdukacita mengenai apa yang sudah lampau’ (QS.2 Al-Baqarah:113).

“Dengan demikian Islam berarti seseorang yang menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah Yang Maha Kuasa, yaitu orang yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam mengikuti petunjuk- Nya dan berusaha mencari keridhoan-Nya, lalu bersiteguh melakukan amal baik demi Allah s.w.t. dan mengerahkan seluruh kemampuan dirinya untuk tujuan tersebut. Dengan kata lain ia menjadi milik Allah sepenuhnya, baik secara akidah mau pun pelaksanaannya.”

“Menjadi milik Allah s.w.t. secara akidah mengandung arti bahwa seseorang meyakini kalau dirinya diciptakan sebagai mahluk yang mengakui Allah Yang Maha Kuasa, kepatuhan kepada-Nya serta mencari kasih dan keridhoan-Nya. Menjadi milik Allah s.w.t. dalam pelaksanaan bermakna melakukan segala sesuatu yang baik dengan segala kemampuannya secara rajin dan penuh perhatian seolah-olah melihat wujud yang Maha Terkasih di dalam cermin keitaatannya.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain , vol. 5, hal. 57-58, London, 1984).

Realitas dari Islam adalah seperti menyerahkan leher kita kepada Allah s.w.t. sebagaimana seekor domba kurban, meninggalkan semua keinginan diri sendiri dan mengabdi sepenuhnya kepada keinginan dan keridhoan Allah s.w.t., melenyapkan diri di dalam Tuhan dan seolah memfanakan dirinya sendiri, menjadi diwarnai dengan kasih Allah s.w.t. serta taat penuh kepada-Nya semata-mata karena mengharapkan Kasih-Nya, memperoleh mata yang bisa melihat melalui Dia dan mendapatkan telinga yang bisa mendengar semata-mata melalui Wujud-Nya, menyempurnakan hati yang sepenuhnya diabdikan kepada-Nya, dan mendapat lidah yang bicara semata-mata berdasar perintah- Nya. Ini adalah tingkatan dimana semua kegiatan berkelana telah berakhir, kemampuan manusia telah menyelesaikan semua fungsi-fungsinya dan ego manusia menjadi mati sama sekali. Pada saat itu barulah rahmat Ilahi akan memberikan kepada si pengelana itu hidup yang baru melalui kata-kata-Nya yang hidup dan Nur- Nya yang bercahaya. Ia itu akan memperoleh kehormatan berkomunikasi dengan Allah s.w.t. dan sebuah Nur yang indah yang tidak bisa dikenali melalui penalaran biasa serta tidak dikenal oleh mata manusia, akan masuk ke dalam hatinya sebagaimana firman Allah:

وَنَحنُ أَقرَبُ إِلَيهِ مِن حَبلِ الوَريدِ

‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS.50 Qaf:17).

“Melalui cara demikian, Allah s.w.t. mengaruniakan kedekatan Wujud-Nya kepada manusia.”

“Kemudian datang saatnya dimana kebutaan yang bersangkutan diangkat dan matanya diberi wawasan mendalam dimana manusia akan melihat Tuhan-nya dengan mata yang baru, mendengar suara-Nya serta merasa dirinya ditutup jubah Nur-Nya. Dengan cara demikian itulah tujuan dari agama tercapai dan setelah bertemu dengan Tuhan-nya maka manusia akan membuang baju kotor dari kehidupan rendahnya dan mengenakan jubah Nur serta menanti penampilan daripada Allah dan surga, tidak semata-mata sebagai janji yang akan dipenuhi di akhirat, tetapi dalam kehidupan sekarang pun ia sudah akan memperoleh karunia pemandangan, komunikasi dan surga itu sendiri. Sebagaimana dinyatakan Allah s.w.t. bahwa:

إِنَّ الَّذينَ قالوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ استَقاموا تَتَنَزَّلُ عَلَيهِمُ المَلائِكَةُ أَلّا تَخافوا وَلا تَحزَنوا وَأَبشِروا بِالجَنَّةِ الَّتي كُنتُم توعَدونَ

‘Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka bersiteguh, malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita, dan bergembiralah atas khabar suka tentang surga yang telah dijanjikan kepadamu” (QS.41 Ha Mim As-Sajdah: 31)

“Hal ini berarti bahwa para malaikat akan turun kepada mereka yang menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Yang Maha Esa yang memiliki semua sifat sempurna, yang tidak mempunyai sekutu dalam Wujud maupun Sifat-sifat- Nya, dimana setelah mengikrarkan demikian mereka lalu bersiteguh sehingga tidak ada yang namanya gempa bumi, bencana atau pun ancaman kematian bisa menggoyang keimanan mereka. Allah s.w.t. berbicara dengan mereka dan meyakinkan mereka agar tidak perlu merasa takut atas segala bencana atau musuh serta jangan merasa sedih atas segala kesialan mereka di masa lalu. Dia meyakinkan mereka bahwa Dia ada beserta mereka dan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka surga di dunia ini juga sebagaimana dijanjikan dimana mereka bisa bergembira di dalamnya.”

“Ini adalah janji yang sekarang ini pun telah dipenuhi. Banyak kesaksian dari ribuan orang dalam Islam yang rendah hati yang telah menikmati surga keruhanian sebagaimana dijanjikan dalam firman tersebut. Para penganut Islam yang benar oleh Allah Yang Maha Kuasa telah dijadikan pewaris dari para muttaqi terdahulu dan mereka memperoleh karunia sama seperti yang telah diterima para pendahulunya itu.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: Ruhani Khazain , vol. 20, hal. 160-161, London, 1984).


“Seseorang dikatakan muslim jika seluruh wujudnya beserta seluruh kemampuannya, baik jasmani maupun ruhani, diabdikan seluruhnya kepada Allah Yang Maha Agung dan amanah yang ditugaskan oleh Yang Maha Agung dilaksanakan olehnya demi Yang Maha Memberi. Ia itu harus memperlihatkan ke-Muslimannya tidak saja secara akidah tetapi juga dalam amal perbuatan. Dengan kata lain, seorang yang mengaku sebagai Muslim harus membuktikan bahwa tangan dan kaki, hati dan pikiran, penalaran dan pemahaman, kemarahan dan kasih, kelembutan dan pengetahuan, semua kemampuan jasmani dan ruhani, kehormatan dan harta bendanya, kesenangan dan kesukaan serta apa pun yang berkaitan dengan dirinya dari puncak kepala sampai ke alas kakinya, berikut dengan segala motivasi dirinya, segala ketakutan, segala nafsu, telah dibaktikan kepada Allah Yang Maha Perkasa sebagaimana anggota tubuhnya sendiri berbakti kepada dirinya.”

“Harus dibuktikan bahwa ketulusannya telah mencapai suatu tingkatan dimana apa pun yang menjadi miliknya bukan lagi haknya tetapi menjadi milik Allah Yang Maha Agung, dan bahwa semua anggota tubuh serta kemampuan dirinya telah demikian diabdikan kepada pelayanan Allah s.w.t. seolah-olah semuanya itu menjadi anggota tubuh Ilahi.”

“Renungan atas ayat-ayat tersebut (QS.2 Al-Baqarah:113) menunjukkan secara jelas bahwa mengabdikan hidup seseorang kepada pengkhidmatan Allah s.w.t. , yang merupakan inti dari agama Islam, mengandung dua aspek. Pertama, bahwa Allah Yang Maha Kuasa harus menjadi tumpuan kepercayaan dan sasaran yang haqiqi serta yang terkasih, dan bahwa tidak ada satu pun yang disekutukan dalam penyembahan Wujud-Nya, kecintaan kepada-Nya serta harapan kepada-Nya. Semua firman, batasan, larangan serta ketentuan-Nya harus diterima dengan kerendahan hati. Semua kebenaran dan pemahaman yang menjadi sarana untuk menghargai kekuasaan-Nya yang Maha Besar serta untuk meneliti keagungan luas kerajaan dan kekuasaan-Nya yang menjadi petunjuk untuk mengenali karunia dan rahmat-Nya, juga harus ditegakkan.”

“Aspek yang kedua dari pengabdian diri kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah dengan mengabdikan dirinya kepada pengkhidmatan kepada mahluk ciptaan-Nya, mengasihi mereka, berbagi beban dan kesedihan mereka. Selayaknya ia bersusah payah untuk memberikan kesenangan kepada mereka dan mengalami kesedihan untuk bisa memberikan penghiburan.”

“Dari sini terlihat bahwa yang namanya realitas Islam itu adalah sesuatu yang amat luhur dimana tidak ada seorang pun bisa benar-benar mengaku Muslim sampai ia itu menyerahkan seluruh wujud dirinya kepada Allah s.w.t. berikut dengan segala kemampuan, nafsu, keinginan dan sampai ia mulai menapaki jalan itu sambil menarik diri sepenuhnya dari ego dan sifat- sifat ikutannya. Seseorang disebut Muslim sejati hanya jika kehidupannya yang semula tidak mengindahkan apa pun, telah mengalami revolusi total dan kecenderungan kepada dosa berikut semua nafsu ikutannya, telah dihapus sama sekali, dimana ia memperoleh kehidupan baru yang dicirikan oleh tindakannya yang hanya melaksanakan perintah Allah, dan terdiri semata-mata dari kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta serta kasih kepada mahluk ciptaan-Nya.”

“Kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta mengandung arti bahwa untuk memanifestasikan kehormatan-Nya, Keagungan dan Ke-Esaan-Nya, seseorang harus siap menghadapi segala bentuk perendahan dan penghinaan, dan ia harus siap mati beribu kali agar bisa menegakkan Ketauhidan Tuhan. Tangan yang satu harus siap memotong tangan yang lain dengan senang hati semata-mata demi ketaatan kepada-Nya dan kecintaan kepada keagungan Firman-Nya serta haus mencari keridhoan-Nya dimana hal itu menjadikan dosa sebagai suatu yang sangat dibenci seperti api yang menghanguskan atau racun yang mematikan atau petir yang menghancurkan, sehingga seseorang harus melarikan diri menjauhi dengan sekuat tenaganya. Demi memperoleh keridhoan-Nya, kita harus membawahkan semua ego kita. Untuk menciptakan hubungan dengan Wujud-Nya, kita harus siap memasuki semua bentuk mara bahaya dan untuk membuktikan hubungan demikian, selayaknya kita memutuskan hubungan dengan yang lainnya.”

“Berkhidmat kepada sesama mahluk mengandung arti bahwa kita harus berupaya demi kemaslahatan mereka dalam segala kebutuhan mereka semata-mata karena Allah s.w.t. dimana hubungan saling ketergantungan satu sama lain semata-mata didasarkan pada simpati tanpa pamrih. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus dibantu dengan segala kemampuan pemberian Tuhan yang dimilikinya dan harus berupaya untuk perbaikannya baik di dunia mau pun di akhirat.”

(Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; Ruhani Khazain , vol. 5, hal. 59-62, London, 1984).

sumber : https://ahmadiyah.id/islam/realitas-sempurga-agama-islam

ISLAM DAN HAJI : RUKUN ISLAM KE-5

 


Haji : Menunaikan Ibadah Haji

Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim tentang keagungan Baitullah dan kepentingan sejarah Baitullah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِناً

Yakni, rumah paling pertama yang dibangun untuk manfaat semua orang terletak di Mekah. Itu merupakan tempat beberkat bagi seluruh alam dan sarana petunjuk. Di dalamnya terdapat beberapa tanda yang terang. Itu merupakan tempat tinggal Ibrahim. Orang yang masuk ke dalamnnya, ia berada dalam keadaan aman. (Ali Imran: 97-98)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Ismail meletakkan pondasi rumah tersebut, mereka berdua berkata: “Wahai Tuhan kami! Terimalah pengkhidmatan ini dari kami. Engkau-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami! Kami memohon kepada Engkau supaya Engkau jadikan kami berdua sebagai hamba-hamba Engkau yang taat, jadikanlah diantara keturunan kami sebuah Jemaat Engkau yang taat, beritahukanlah kepada kami cara ibadah yang sesuai dengan keadaan kami dan perhatikanlah kami dengan karunia Engkau. Sesungguhnya Engkau memperhatikan para hamba Engkau dan terus mengasihani. Wahai Tuhan kami! Kami memohon kepada Engkau supaya Engkau membangkitkan diantara mereka seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Engkau pada mereka, mengajarkan kitab dan hikmah pada mereka dan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaunggul dan Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 128-130)

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ketika Kami memberikan kesempatan kepada Ibrahim untuk tinggal di Baitullah dan mengatakan: “Jangan jadikan sesuatu sebagai sekutu Kami dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, tegak beribadah, rukuk dan sujud”. (Al-Haj: 27)

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah ini (yakni Ka’bah) sebagai tempat untuk berkumpul berulang kali dan tempat yang aman bagi orang-orang dan memerintahkan supaya kalian menjadikan tempat berdiri Ibrahim sebagai tempat shalat. Kami menegaskan kepada Ibrahim dan Ismail supaya mensucikan dan menjaga kebersihan rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, itikaf, rukuk dan sujud. (Al-Baqarah: 126)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan ingatlah ketika Ibrahim mengatakan: “Wahai Tuhan-ku! Jadikanlah tempat ini sebagai kota yang penuh keamanan dan anugerahkanlah segala macam buah kepada para penduduk yang beriman kepada Allah dan hari yang akan datang”. Allah Taala berfirman kepadanya: “Barangsiapa yang ingkar, maka Aku akan memberikan manfaat untuk sementara waktu. Lalu, Kupaksa dan Kubawa dia ke azab neraka. Ini merupakan akhir yang sangat buruk”. (Al-Baqarah: 127)

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan umumkanlah kepada semua orang supaya mereka selalu datang kepada engkau dengan niat haji dengan berjalan kaki dan kendaraan-kendaraan yang melelahkan akibat perjalanan yang jauh. Kendaraan-kendaraan seperti ini akan datang dari jauh melalui jalan yang curam. Supaya mereka (orang-orang yang datang) menyaksikan manfaat-manfaat yang ditetapkan untuk mereka dan mengingat Allah pada beberapa hari yang ditetapkan dengan nikmat-nikmat yang Kami berikan kepada mereka. Yakni, dari jenis hewan-hewan besar, seperti unta, sapi/lembu dan lain-lain. Jadi, mereka hendaknya memakan dagingnya dan memberi makan orang-orang tak mampu yang kesusahan. Lalu menjauhkan kotoran mereka dan memenuhi nadzarnya serta tawaf di rumah yang lama (Ka’bah). (Al-Haj: 28-30)

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan Allah telah mewajibkan atas orang-orang supaya menunaikan haji ke rumah ini, yakni siapapun yang mendapatkan taufik untuk pergi ke sini. Siapa yang ingkar, maka ingatlah bahwa Allah tidak peduli pada semua alam. (Ali Imran: 98)

Falsafah Haji

Haji adalah suatu ibadah yang mengasyikan. Ketika ada seseorang yang mencintai seseorang dan menjadi kekasihnya, maka dia melakukan berbagai macam cara untuk menyenangkan kekasihnya, tidak memperdulikan keadaannya, mondar-mandir seperti orang mabuk, berputar-putar di sekeliling rumah kekasihnya, menyayangi barang-barang yang berhubungan dengannya, mulai menciumnya dan memilih semua cara yang mengasyikan ini supaya kekasihnya senang kepadanya. Melihatnya dengan pandangan cinta, akan muncul keadaan untuk hubungan dan pertemuan. Dikarenakan kekasih sejati seorang mukmin adalah Allah Taala, maka ada beberapa contoh yang diletakkan dalam ibadah haji untuk melukiskan rasa cintanya dan menampakkan kasih sayangnya. Dia mengenakan 2 cadar yang tidak dijahit. Kepalanya dibiarkan terbuka. Kakinya memakai sandal. Rambutnya dibiarkan tidak rapih, karena tidak ada izin untuk menyisir. Dia menghadap ke rumah Allah sambil mengatakan ‘labbaik-labbaik’ (aku hadir-aku hadir), mencium Hajar Aswad, mengelilingi sekitar Baitullah. Semua ini merupakan cara untuk menzahirkan kecintaan.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda seraya memberikan isyarat pada hikmah haji:

“Dalam nuansa cinta, ruh manusia berputar disekitar kekasih-Nya setiap waktu dan mencium singgasana-Nya. Demikian pula, Ka’bah dijadikan contoh bagi kekasih-kekasih sejati secara jasmani. Tuhan berfirman: “Lihatlah! Ini adalah rumah-Ku dan Hajar Aswad adalah batu singgasana-Ku”. Dia memerintahkan demikian supaya manusia memperlihatkan gejolak rasa cinta dan kasih sayangnya secara jasmani. Jadi, orang-orang yang menunaikan haji mengitari-Nya di tempat haji secara jasmani. Menjadikan keadaan seperti ini, seolah-olah mereka mabuk dalam kecintaan kepada Tuhan. Mereka meninggalkan perhiasan, mencukur rambut, mereka termagnetis dan melakukan tawaf yang mengasyikan di sekitar-Nya, membayangkan batu tersebut sebagai batu singgasana Tuhan dan menciumnya. Gejolak jasmani ini melahirkan rasa panas dan cinta secara rohani. Tubuh melakukan tawaf di sekitar rumah-Nya dan mencium batu singgasana-Nya. Pada saat itu ruh pun tawaf di sekitar kekasih sejati-Nya dan mencium singgasana rohani-Nya. Dan cara ini tidak menimbulkan syirik. Seperti seorang sahabat mencium surat yang ia dapat dari temannya. Seorang muslim tidak menyembah Ka’bah dan tidak meminta kebutuhan-kebutuhan kepada Hajar Aswad, bahkan hanya ketetapan Tuhan semata yang dianggap sebagai contoh jasmani. Seperti halnya kita bersujud di bumi. Akan tetapi, sujud itu bukan untuk bumi. Demikian pula, kita mencium Hajar Aswad. Akan tetapi, ciuman itu bukan untuk batu tersebut. Batu adalah batu yang tidak memberi manfaat pada seseorang dan juga tidak merugikannya. Akan tetapi, di situ ada tangan Tuhan yang ditetapkan sebagai contoh singgasana-Nya. (Casymah Ma’rifat; Ruhani Khazain, jilid 23, halaman 100)

Hadhrat Ibrahim as. telah meletakkan dasar untuk mukim di suatu tempat yang sunyi sesuai perintah Allah Taala dimana dia menempatkan istri beliau ( Hadhrat Hajar) dan putra beliau (Hadhrat Ismail) di sana. Pada saat itu, di sana tidak ada air dan tidak ada orang yang lewat. Tujuan pengorbanan yang tiada tara bandingannya ini adalah supaya di masa mendatang tempat ini menjadi pusat petunjuk sedunia. Dari antara keturunan Hadhrat Ismail as. yang tinggal di sini, dibangkitkanlah seorang nabi agung (saw.) yang karenanya ala mini diciptakan dan juga sebagai rahmat bagi sekalian alam. Ajaran yang dibawanya adalah untuk seluruh dunia dan zaman. Jadi, meskipun tiada sarana apapun, apa yang diharapkan oleh Hadhrat Ibrahim as. dari Maula/Tuhan-nya, begitulah yang telah nampak/zahir. Di sana Tuhan telah menyediakan air dalam keadaan yang luar biasa. Tempat ini lambat-laun menjadi berpenduduk dan disebut dengan Bakah atau Mekah. Di sini Hadhrat Ibrahim as. mencari jejak-jejak yang dibangun untuk menyembah Allah Taala yang telah hilang ditelan zaman, membangun kembali tempat ini bersama dengan putranya dan untuk menjadikannya sebagai Matsabatan Linnas (tempat berkumpul semua orang)’, mereka memohon ke hadapan Allah Taala sambil berdoa.

Inilah rumah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah Taala. Namanya adalah Baitullah, Baitul ‘Atiq, Baitul Ma’mur dan Ka’bah. Semua orang Islam di dunia mengerjakan shalat dengan menghadap ke arahnya. Ringkasnya, rumah ini adalah kota dan tempat-tempat di sekelilingnya terdapat tempat-tempat dimana ratusan tanda agung Allah Taala telah nampak/zahir, dimana jejak-jejak langkah ini juga memberi kesaksian bahwa orang-orang yang berkorban demi Allah Taala tidak pernah disia-siakan. Untuk menyegarkan ingatan terhadap tanda-tanda Ilahi ini dan mendapatkan keyakinan bahwa Dia adalah Pejanji yang sejati, orang-orang Islam diperintahkan supaya mengunjungi Ka’bah dan tanda-tanda Ilahi yang lain dan menyaksikan bahwa apa yang telah dikatakan oleh Tuhan, itu sempurna dalam corak yang begitu indah.

Setiap bangsa dan agama memiliki pusat persatuan. Dimana orang-orang bangsa ini berkumpul dan menyembah Tuhan. Mereka menyaksikan banyak budaya dan peradaban. Orang-orang yang beragama saling mengenal. Mereka memahami kesulitan satu sama lain dan berencana untuk menjauhkannya serta mencoba bersatu untuk meraih tujuan-tujuan.

Sebagaimana difirmankan:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

Bagi setiap bangsa, Kami telah jadikan pusat, dimana orang-orang berkumpul untuk mengingat Allah-nya dengan gejolak kepercayaannya. (Al-Haj: 35)

Untuk gambaran inilah, ibadah haji dijadikan sebagai sebuah contoh. Supaya orang-orang Islam yang berkumpul untuk haji bersatu dan menyanjung keindahan Pemilik dan Pencipta-nya. Mereka mensyukuri karunia-karuniaNya. Mereka memanjatkan doa dengan merendahkan diri di hadapan-Nya untuk menjauhkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang Islam yang tinggal di segala penjuru dunia saling mengenal. Mereka mengokohkan pondasi kepercayaan yang menyeluruh, memberikan peluang untuk saling memberi saran dan berjuang keras bersama-sama. Semua ini dan beberapa manfaat lain termasuk bagian dari hikmah haji.

Tempat-Tempat Haji

Baitullah

Ribuan tahun yang lalu, atas perintah Allah Taala, telah dibangun sebuah tempat untuk beribadah di suatu tempat yang sunyi. Kita tidak dapat mengatakan dengan yakin, siapa yang telah membangunnya? Akan tetapi, hal ini tidak diragukan lagi bahwa tempat ibadah tersebut merupakan tempat ibadah paling pertama di dunia dari segi kebangsaan dan keagamaan. Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib memberitahukannya dengan firman-Nya:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ

“Sesungguhnya bait pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah yang berada di Mekah”. (Ali Imran: 97)

Selanjutnya difirmankan:

جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَاماً لِّلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ

Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai sarana kemajuan yang kekal bagi manusia dan juga bulan suci. (Al-Maidah: 98)

Ringkasnya, sampai waktu yang cukup lama orang-orang terus menyebut nama Allah Taala di tempat ibadah ini. Akan tetapi, tidak diketahui apa perubahan-perubahan yang terjadi sehingga tempat tersebut menjadi sunyi dan orang-orang yang beribadah menjadi bubar. Akan tetapi, Allah Taala menyukai tempat ini. Jadi, Dia berkehendak supaya tempat itu dihuni kembali dan menjadi pusat petunjuk dunia untuk selamanya.

Oleh karena itu, untuk memakmurkannya, Allah Taala telah memilih seorang insan suci yang keturunannya telah menerangi dunia sampai saat ini dengan sinar-sinar rohaninya.

Insan ini lahir di sebuah rumah tangga penyembah berhala. Dia tinggal di kota Irak (Kadim/Ur). Keluarganya menjalani hidup dengan sesajen berhala dan menjual berhala. Ayahnya meninggal pada saat ia masih kecil dan ia dipelihara oleh paman yang telah menyuruhnya untuk bekerja sebagai penjual berhala. Paman yang belum mengenal hakikat tidak tahu, hati siapa yang telah sang Pencipta pilih. Tempat apa yang cocok untuk berhala. Pada waktu dulu, ada seorang pelanggan yang sudah tua dan kaya, datang untuk membeli berhala. Anak laki-laki paman penjual berhala senang bahwa hari ini akan ada jual beli dengan harga yang bagus. Orang tua yang kaya tersebut mulai memilih berhala yang bagus dan memberi harga, sehingga pandangan anak ini tertuju pada pelanggan dan bertanya kepadanya: “Kek! Kamu sudah bau tanah (akan segera meninggal), apa yang akan kamu lakukan terhadap berhala ini?”. Dia menjawab: “Aku akan membawanya ke rumah, meletakkannya di tempat yang suci dan bersih dan menyembahnya”. Anak yang bersih ini tidak dapat menahan emosinya dalam pikiran demikian. Dia berkata kepada orang tua tersebut: “Kek! Berapa usiamu?”. Dia memberitahu usianya dan anak tersebut menertawakannya dan berkata dengan nada menghina: “Kamu sudah tua dan patung ini memang telah paman saya buat beberapa hari yang lalu. Apakah kamu tidak malu sujud di hadapannya?”. Tidak tahu, apakah pada hati orang tua tersebut muncul pancaran tauhid atau tidak? Akan tetapi, pada saat itu ia kesulitan membeli patung tersebut. Dia membuang patung tersebut di sana dan pulang. Jadi, ketika melihat seorang pelanggan yang baik pulang tidak membawa apa-apa, saudaranya sangat marah dan dia memberitahu bapaknya yang telah mengurus anak tersebut dengan baik.

Inilah penderitaan pertama yang wujud suci telah tanggung demi tauhid. Akan tetapi, meskipun usianya masih kecil, hukuman ini tidak mendinginkan semangat tauhid, bahkan menjadi sumber untuk menyalakannya. Hukuman telah membuka pintu pemikiran dan pikiran telah membuka pintu-pintu makrifat. Sehingga kegembiraan alami masa kanak-kanak menjadi akidah masa muda yang kuat dan akhirnya cahaya Allah Taala jatuh pada cahaya mental pemuda serta menjadi sumber untuk melahirkan sinar ilham.

Akhirnya, anak ini terkenal dengan nama Ibrahim di dunia. Karena sakit hati terhadap keadaan kota, insan yang agung ini keluar dari sana, berhijrah dari Irak menuju Palestina bersama istrinya, Sarah dan lama tinggal di negara ini. Akan tetapi, di rumahnya tidak ada keturunan, anak laki-laki atau perempuan. Akhirnya, Sarah berkata kepada Ibrahim bahwa di rumah kita tidak ada keturunan. Aku ingin bahwa anak yang diberikan ke hadapan kita oleh raja Mesir, engkau jadikan istri, mudah-mudahan Allah Taala menganugerahi kita keturunan darinya. Pada hakikatnya, perempuan yang saleh dan suci ini merupakan seorang putri dari keluarga raja Mesir. Dikarenakan dia melihat kekuatan mukjizat pada pribadi Ibrahim, maka dia menyertakannya ke hadapan beliau dengan tujuan mendapatkan doa-doa beliau. Nama putri tersebut adalah Hajar. Ibrahim menerima perkataan istri beliau ini dan menikahi Hajar. Allah Taala menganugerahi Abram pada masa tua dengan seorang anak yang diberi nama Ismail. Yakni, Allah Taala telah mendengar doa kita. Karena kelahiran anak ini, Allah Taala mengganti nama Abram menjadi Abraham. Karena beliau telah dijanjikan nikmat-nikmat lebih dan keberkatan-keberkatan samawi. Pelapalan Abraham dalam bahasa Arab adalah Ibrahim. Oleh karena itu, orang-orang Ibrani menyebutnya Abraham dan orang-orang Arab menyebutnya Ibrahim. Sarah yang telah menyarankan Ibrahim untuk menjadikan Hajar sebagai istri, sakit hati karena kelahiran anak tersebut, mulai menyakiti Hajar dan anaknya karena kelemahan alami. Meskipun keadaan ini menyakiti hati Ibrahim, akan tetapi beliau tidak dapat berkata sedikit pun karena memperhatikan pengkhidmatan istri yang bertahun-tahun dan keikhlasannya. Bahkan beliau mengatakan bahwa Hajar adalah pelayanmu. Apa yang kamu inginkan, perlakukanlah ia. Wah, Ibrahim benar-benar tahu bahwa semua hal ini untuk tujuan lain. Semua peristiwa ini adalah gelang dari silsilah hijrahnya Ibrahim.

Pada hari-hari ketika Ismail sudah berpemahaman dan mulai berlari-lari dengan ayahnya, Ibrahim melihat sebuah mimpi bahwa beliau mengorbankan Ismail demi Allah Taala. Pada saat itu, pengorbanan manusia sudah menjadi tradisi dan dianggap sebagai sarana untuk meraih karunia Allah Taala. Ibrahim berpikir bahwa Allah Taala hendak menguji keikhlasanku. Oleh karena itu, beliau siap untuk mengorbankan keturunannya yang paling tua dan berkata kepada anak dengan penuh kecintaan: “Apa pendapatmu?”.

Meskipun anak tersebut masik kecil, akan tetapi sinar kenabian memancar dari keningnya. Karena tarbiyat seorang bapak yang saleh, meskipun belum memahami pokok-pokok agama, akan tetapi dia tahu bahwa hukum Allah Taala tidak boleh diingkari. Dia berkata: “Apa yang kamu mau, sempurnakanlah hukum Allah!”. Bapak menutupi matanya, siap untuk menyembelih anak dan membaringkannya pada kening. Akan tetapi, maksud mimpi tersebut lain dan tabirnya juga akan nampak lain. Oleh karena itu, pada saat itu Allah Taala mengilhamkan kepada Ibrahim bahwa kini tidak perlu menyembelih anak secara lahiriah. Karena untuk meraih kedekatan kepada Tuhan, cara pengorbanan manusia telah dibatalkan selamanya. Di masa mendatang, pengorbanan akan diterima dalam corak nyawa, harta, kehormatan dan waktu dikorbankan demi keridhaan dan agama Tuhan. Namun, untuk tanda lahir ikrar ini, pada tanggal 10 Dzulhijah setiap tahunnya, hewan yang bagus dan berharga dikorbankan sebagai kenangan.

Pokoknya, sebagai akibat dari pengorbanan-pengorbanan dan doa-doa ini, Hadhrat Ibrahim as. mendapatkan kabar suka bahwa Aku akan meningkatkan keturunan anak ini dan orang-orang akan mendapatkan berkat dengan perantaraannya. Oleh karena itu, berdasarkan isyarat Tuhan dan keadaan yang ada, Hadhrat Ibrahim as. meninggalkan istri beliau (Hadhrat Hajar ra) dan putra tercinta beliau (Hadhrat Ismail as) di Mekah. Pada zaman dahulu, namanya adalah Bakah. Tujuan sebenarnya dari meninggalkan Hadhrat Ismail as. dan ibunya di sini dan meramaikan tempat ini adalah dibangunnya kembali pusat kehidupan kekal “Bait Al-‘Atiq”, yang batu pertamanya tersembunyi sejak berabad-abad yang lalu dalam gundukan pasir.

Ringkasnya, setelah tinggal beberapa lama di sini, atas petunjuk Tuhan, Hadhrat Ibrahim as. membangun rumah (kiblat dunia) dengan bantuan anaknya (Hadhrat Ismail as). Rumah ini terkenal dan termasyhur dengan nama Ka’bah dan Baitullah. Rumah ini berdiri diantara Masjidil Haram. Rumah ini diselimuti dengan selendang sutra.

Bentuk Ka’bah sekarang adalah persegi panjang. Panjang 44 kaki, lebar 33 kaki dan tinggi 45 kaki.

 

Hatim

Di samping utara Ka’bah terdapat tempat kosong berbentuk busur. Di sekitarnya terdapat dinding-dinding kecil. Akan tetapi, di atasnya tidak ada langit-langit. Konon, sebelum kebangkitan Rasulullah saw., ketika orang-orang Quraisy membangun Ka’bah kembali, maka bagian ini dibiarkan terbuka tanpa langit-langit karena tidak didapatkannya kayu yang pas. Bagian ini termasuk dalam tawaf. Akan tetapi, ketika shalat di Masjidil Haram hanya menghadap ke arah bagian ini, maka shalat tidak dibenarkan. Pipa emas Kabah Mizabur Rahmat jatuh ke Hatim.

 

Hajar Aswad

Di sebelah tenggara Ka’bah terletak sebuah batu berwarna hitam yang disebut dengan Hajar Aswad. Batu ini dianggap sangat beberkat. Batu ini mungkin merupakan bagian yang sangat besar dari komet yang jatuh di gunung Abu Qubais di dekat Mekah. Pada waktu pembangunan Ka’bah, Hadhrat Ibrahim as. mengangkat batu yang indah ini dari sana dan meletakkannya di dinding ini sebagai tamsilan “Batu Penjuru” dan kenangan yang agung. Kini, orang yang tawaf di Ka’bah diperintahkan supaya pertama-tama mencium “Batu Kenangan” ini. Batu ini termasuk diantara tanda-tanda Ilahi Taala dan merupakan lambang khusus Sang Pencipta dan Pembenar Janji. Orang yang mencintainya akan dicintai oleh barang-barang khusus yang berhubungan dengannya. Inilah falsafah mencium Hajar Aswad. Jika tidak, pada substansinya batu ini tidak merugikan dan menguntungkan seseorang dan seorang muslim tidak dapat menganggapnya bermanfaat dan memudharatkan dalam satu corak.

 

Multazam

Bagian dinding utara antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Orang-orang yang melaksanakan haji memeluk bagian Ka’bah ini pada waktu pulang, yang disebut dengan ‘Mu’anaqah’ (merangkul). Ini merupakan cara perpisahan dengan Baitullah dan ziarah terakhirnnya.

 

Rukun Yamani

Dikarenakan sebelah barat daya Ka’bah adalah arah Yaman, maka itu disebut Rukun Yamani. Menyentuhnya dengan tangan pada waktu tawaf dan menciumnya adalah mustahab (disukai).

 

Mathaf

Di sekitar Ka’bah terdapat sebuah lingkaran yang terbuat dari batu Marmer. Di sini, orang-orang tawaf di sekitar Baitullah. Tawaf adalah ibadah yang dilakukan dengan mengelilingi Baitullah 7 kali.

 

Maqam Ibrahim

Di depan pintu Baitullah dan Multazam terdapat bangunan yang berkubah. Di dalamnya terdapat sebuah batu yang di atasnya Hadhrat Ibrahim as. berdiri dan memilih dinding-dinding Ka’bah. Tempat terletaknya batu tersebut disebut Maqam Ibrahim.

 

Melaksanakan 2 rakaat setelah tawaf 7 keliling adalah wajib. Melaksanakan 2 rakaat ini di Maqam Ibrahim menjadi sumber banyak pahala. Allah Taala berfirman:

وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Yakni, jadikanlah Maqam (tempat berdiri) Ibrahim sebagai Mushola (tempat untuk shalat). (Al-Baqarah: 126)

 

Zamzam

Di sebelah kiri Maqam Ibrahim dan sebelah timur Ka’bah terdapat sebuah sumur yang nampak sebagai tanda perjalanan Hadhrat Ismail as. akibat kehausan. Sumur ini disebut Zamzam sebagai kenangan saat itu. Air zamzam diminum dengan sangat hormat sambil berdiri menghadap Kiblat dengan tujuan mendapatkan berkat.

 

Masjidil Haram

Di sekitar Ka’bah terdapat sebuah mesjid yang luas dan lebar dengan halaman yang bulat terbuka. Dimana orang-orang dapat membuat barisan dalam bentuk lingkaran dan mengerjakan shalat dengan menghadap ke arah Baitullah. Dalam Alquran Karim, mesjid tersebut disebut Masjidil Haram. Sebagaimana Dia berfirman:

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ

Sungguh kalian yang memasuki Masjidil Haram insya Allah berada dalam keadaan aman. (Al-Fath: 28)

Sekarang luas mesjid yang ada saat ini lebih dari 100.000 m. Pada tiang-tiang batu sekitar, terletak beranda-beranda dengan langit-langit yang berkubah. Orang-orang yang shalat dapat berdiri di beranda-beranda tersebut. Pada zaman Rasulullah saw., bentuk dan rupa mesjid ini sangat sederhana dan jauh berbeda.

 

Safa dan Marwah

Di arah selatan dekat Masjidil Haram di Mekah terdapat 2 bukit kecil. Sekarang sudah sedikit rata dan berbentuk seperti halaman rumah dan beranda. Ketika kita keluar dari Masjidil Haram, maka pertama kali nampak bukit Safa. Setelah itu, bergeser ke arah timur nampak bukit Marwah. Hadhrat Hajar ra. mengelilingi bukit ini sebanyak 7 kali berkeliling dalam keadaan mencari air dan kuatir. Beliau mendaki Safa, berlari ke arah Marwah dan kembali lagi ke Safa. Untuk mengenang karunia-karunia Allah Taala yang nampak akibat keadaan gelisah, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah diperintahkan untuk mengelilingi Safa dan Marwah sebanyak 7 kali. Ibadah tersebut disebut Sa’i antara Safa dan Marwah.

Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

Sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk diantara tanda-tanda Allah. Jadi, barangsiapa yang menunaikan haji atau umrah ke rumah ini (Ka’bah), maka dia tidak berdosa untuk berjalan cepat diantaranya. (Al-Baqarah: 159)

 Tempat-Tempat Yang Berada di Luar Mekah

 Mina

Sebuah lapangan luas dengan jarak 3 mil dari arah timur Mekah. Di lapangan ini, terdapat 3 buah batu yang terkenal dengan nama jumrah atau setan. Ketiga nama batu tersebut adalah Jumratul Ula, Jumratul Wustha dan Jumratul ‘Aqabah. Setelah kembali dari Muzdalifah, jumrah ini dilempari dengan kerikil pada tanggal 10-14 Dzulhijah yang disebut lempar jumrah. Orang-orang yang menunaikan haji tiba di Mina dari Mekah pada tanggal 8 Dzulhijah. Mereka mengerjakan shalat Zhuhur sampai shalat Isya di sini. Shalat Subuh tanggal 9 Dzulhijah dilaksanakan di sini juga. Di salah satu bagian lapangan ini terdapat tempat pengorbanan, dimana setiap tahun ratusan ribu hewan disembelih untuk mengenang pengorbanan Hadhrat Ibrahim as. dan Hadhrat Ismail as. Allah Taala berfirman sambil mengisyaratkan pada pentingnya pengorbanan ini:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami menebusnya (Ismail) dengan pengorbanan yang sangat besar. (Al-Shaffat: 108)

حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

Sebelum hewan korban sampai ke tempatnya. (Al-Baqarah: 197)

Maksud dari mahillah di sini adalah tempat yang dikatakan Mina.

 

Arafah

Sebuah lapangan besar dengan jarak kira-kira 8 mil dari arah timur laut Mekah, dimana semua orang yang menunaikan haji berkumpul di sini pada tanggal 9 Dzulhijah. Lapangan tersebut disebut Arafah. Orang-orang yang melaksanakan haji menetap di sini dari waktu Zhuhur sampai terbenam matahari, yang disebut wukuf Arafah. Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Ketika kalian kembali dari Arafah, maka ingatlah Allah di sekitar Masy’aril Haram. (Al-Baqarah: 199)

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ

Kemudian kembalilah kalian dari tempat orang-orang kembali. (Al-Baqarah: 200)

Jabal Rahmah adalah nama sebuah bukit yang ada di lapangan ini.

 

Muzdalifah

Sebuah lapangan ke arah Mina dengan jarak kira-kira 3 mil dari Arafah. Masy’aril Haram (yang adalah sebuah bukit) juga berada di lapangan ini. Para haji yang kembali dari Arafah melewati malam di lapangan ini dan mereka mengerjakan shalat Magrib dan Isya dengan jamak di sini. Shalat Subuh tanggal 10 Dzulhijah juga dilaksanakan di sini. Setelah shalat Subuh, diperintahkan untuk pergi ke dekat Masy’aril Haram dan banyak mengingat Tuhan. Allah Taala berfirman:

فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Ingatlah Allah di sekitar Masy’aril Haram. (Al-Baqarah: 199)


Mawaqit

Mawaqit adalah jamak dari miqat. Maksud dari miqat adalah tempat dimana orang-orang yang datang ke Mekah dari pelosok dunia dan tempat-tempat jauh dengan niat haji serta memakai pakaian ihram. Berderap maju dari miqat-miqat ini tanpa memakai pakaian ihram adalah dilarang. Maksud dari ihram adalah melaksanakan haji atau umrah dengan cara yang khusus.

Rincian mawaqit untuk daerah-daerah yang berbeda:

 Dzulhalifah

Sebuah kampung dari Medinah dengan jarak kira-kira 5 mil ke Mekah (ini merupakan sumber mata air bagi Bani Jasyam). Orang-orang yang datang dari Medinah atau arah ini dengan niat haji sampai di sini dan memakai pakaian ihram. Berderap maju dari tempat ini tanpa memakai pakaian ihram tidak dibenarkan.

Juhfah

Sebuah tempat dengan jarak kira-kira 40 mil dari sebelah utara Mekah dan merupakan tempat berhenti bagi orang-orang yang datang dari Mesir, Syam dan Barat, yakni Afrika Utara.

Dzatul ‘Iraq

Sebuah kampung pegunungan dengan jarak kira-kira 30 mil dari Mekah dan merupakan tempat bagi orang-orang yang datang dari Irak, jalan-jalan darat dan daerah-daerah Timur.

Qurn Manazil

Sebuah pegunungan ke arah timur dengan jarak kira-kira 30, 40 mil dari Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang datang dari Nejad.

Yalamlam

Nama sebuah bukit yang berada di tengah lautan dengan jarak kira-kira 30 mil dari sebelah selatan Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang datang dari Yaman. Ini juga merupakan miqat bagi orang-orang yang pergi dengan perantaraan kapal laut dari Pakistan.

Tan’im (tempat yang disebut dengan mesjid Aisyah)

Sebuah tempat dekat Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang tinggal di Mekah. Yakni, barangsiapa yang tinggal di Mekah dan berkeinginan untuk melakukan umrah, maka dia dapat datang ke Tan’im yang berada di luar Mekah, kemudian setelah dia mengikat ihram umrah dari sana, dia masuk ke Mekah supaya untuk melakukan umrah juga telah dilakukan syarat satu kali perjalanan.

Tertera dalam Hadis:

اِنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَمَرَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنِ اَبِىْ بَكْرٍ اَنْ يُعَمِّرَ عَائِشَةَ مِنَ التَّنْعِيْمِ

Sesungguhnya Nabi saw. memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar untuk memakmurkan mesjid Aisyah dari Tan’im. (Tirmidzi, kitabul Haj, babul Umrah Minat Tan’im, jilid 1, halaman 112)

Haram

Batas yang ditetapkan adalah utara Mekah (6 km sampai Tan’im), selatan Mekah (12 km sampai Adha’), timur Mekah (16 km sampai Ju’ranah), timur Mekah (15 km sampai Syamisi), timur laut Mekah (14 km sampai lembah Nakhlah)

 

Waktu-Waktu Haji

Untuk haji ditetapkan bulan-bulan yang khusus yang disebut dengan ‘Asyhur Al-Haj’ (bulan-bulan haji). Allah Taala berfirman dalam Alquran:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Bulan-bulan haji adalah bulan-bulan yang diketahui oleh semua orang. Jadi, barangsiapa yang bertekad kuat untuk haji pada hari itu, ingatlah bahwa pada hari-hari haji tidak diperbolehkan untuk membicarakan perkara syahwat, menentang dan bertengkar. (Al-Baqarah: 198)

Tiga bulan ini (Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijah) disebut Asy’ar Al-Haj karena dimulai dengan rukun amaliah seperti persiapan haji, perbaikan akhlak dan hukum haji yang lain, misalnya ihram dan lain-lain. Manasik haji yang terakhir dilaksanakan pada tanggal 13 Dzulhijah. Akan tetapi, tawaf Ifadhah yang disebut tawaf Ziarah dapat dilaksanakan mulai tanggal 10 Dzulhijah sampai akhir bulan.

Syarat-Syarat Fardhu Haji

Muslim, akil balig, orang yang berharta (selain memiliki biaya pengeluaran rumah tangga, memiliki perbekalan yang sesuai). Sebagaimana Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Dan sediakanlah perbekalan. Sesungguhnya perbekalan yang terbaik adalah takwa. (Al-Baqarah: 198)

Yakni, memiliki uang banyak untuk biaya perjalanan, sehat dan mampu berjalan, aman di perjalanan dan tidak ada halangan untuk pergi ke Mekah.

Rukun-Rukun Haji

  1. Ihram, yakni berniat
  2. Wukuf di Arafah, yakni tinggal di medan Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah
  3. Tawaf Ziarah yang disebut dengan tawaf Ifadhah. Yakni, tawaf yang dilaksanakan setelah wukuf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijah atau pada tanggal-tanggal setelahnya

 

Umrah

Tawaf di Baitullah dan sa’i diantara Safa dan Marwah disebut umrah. Untuk itu, kita hendaknya memakai pakaian ihram dari tempat yang berada di luar Mekah. Oleh karena itu, orang-orang yang tinggal di Mekah pergi ke Tan’im untuk ihram umrah dan setelah memakai pakaian ihram dari sana, mereka kembali ke Mekah supaya ibadah ini diamalkan dengan syarat satu kali perjalanan. Untuk umrah tidak ada waktu yang ditetapkan (dapat dilakukan kapan saja). Akan tetapi, memakai pakaian ihram umrah mulai 9 Dzulhijah sampai 13 Dzulhijah tidak dibenarkan. Karena ini merupakan hari-hari untuk melaksanakan haji.

Sehubungan dengan rukun Islam kelima, beliau ‘Alaihis-salaam bersabda: “Lihat, pergi menunaikan ibadah Haji dengan ikhlas dan kecintaan adalah perkara mudah. Namun, kembali dalam kondisi yang seperti itu adalah sulit. Banyak sekali orang yang pulang dalam keadaan gagal dan kalbunya menjadi keras. Penyebabnya adalah mereka tidak menemukan hakikat yang ada di sana. Melihat kekurangan-kekurangan, mereka langsung protes sehingga mereka luput dari karunia-karunia di sana akibat dari perbuatan buruk mereka sendiri, dan karena melontarkan tuduhan pada pihak-pihak lain. Oleh karena itu, adalah penting tinggal menetap bersama Utusan [Ilahi] untuk beberapa lama dengan hati tulus dan teguh supaya manusia menjadi sadar akan kondisi-kondisi batinnya dan supaya kebenaran itu sepenuhnya menyinari.” (Malfuzhat, Jld. V. hal. 177, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)

Masalah ini patut dipahami bahwa ketika seseorang menjauhkan dirinya dari nafsu duniawi maka dirinya itu berharap bisa karam sepenuhnya dalam kasih Ilahi. Gairah dari kasih demikian akan berkembang sampai kepada suatu tingkatan dimana kesulitan perjalanan atau pun mara bahaya atas diri dan harta miliknya atau juga keterpisahan dari yang dikasihinya tidak lagi menjadi sesuatu yang berarti baginya. Sebagaimana seseorang yang siap mengurbankan segalanya bagi sang kekasih, begitu juga halnya dengan orang yang mencintai Tuhan sama siap melakukannya. Contoh simbolis dari bentuk hubungan demikian tergambar dalam laku Haji.

Sebagaimana seseorang yang kasmaran mengitari kekasihnya, begitu juga yang dilakukan orang saat tawaf sekeliling Ka’abah pada pelaksanaan ibadah Haji. Masalah ini pelik dan halus sekali. Sebagaimana ada sebuah Baitullah (Rumah Tuhan) di bumi, begitu juga yang sama ada di atas sana. Kalau kita tidak bertawaf juga pada yang di atas itu maka tidak ada manfaatnya tawaf yang dilakukan di bumi dan karena itu tidak ada ganjarannya. Keadaan tawaf yang dilakukan pada ‘orbit’ yang lebih tinggi itu haruslah sama seperti yang terlihat di bumi dimana orang hanya menggunakan pakaian yang paling mendasar. Mereka yang bertawaf pada Baitullah yang luhur juga sama harus menanggalkan ‘pakaian’ keduniawian dan berlaku merendahkan diri dan lembut hati serta melakukan tawaf dengan hati penuh kecintaan. Tawaf merupakan simbol dari kecintaan kepada Tuhan yang sangat, dimana seseorang melakukan tawaf mengitari wujud keridhaan Ilahi, dan tidak ada tujuan lain dari laku demikian.(Malfuzat, vol. 9, h.122 – 124)

Namun, ada sebagian orang Islam yang berupaya menghalang-halangi orang Islam yang ingin menunaikan ibadah Haji ke Baitullah. Padahal sikap demikian ini sangat bertentangan dengan Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Hadhrat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ إِتَّقُوْا اللهَ وَلاَ تمَـْنَعُوْا مِنَ الحْـَاجِّ شَيْئًا ممِـَّا يَنْتَفِعُ بِهِ فَإِنْ فَعَلْتُمْ فَأَنَا خَصْمُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Wahai kaum Quraisy, bertakwalah kepada Allah dan janganlah melarang orang mengambil manfaat dari ibadah Haji, apabila kamu melakukan pelarangan Haji, maka aku menjadi musuhmu di hari Qiyamat.” (HR Abu Nu’aim dari Hadhrat Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz V/12361)


SOURCE : https://ahmadiyah.id/islam/rukun-islam/haji 

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...