Selasa, 20 September 2022

Cahaya Allah 2 (terjemah google)

Revolusi Diri

The mission given to us was not limited to ourselves and our future generations, rather we are to ensure the whole world benefits from this divine water because although the water was present, most did not benefit from it. 

Misi yang diberikan kepada kita tidak terbatas pada diri kita sendiri dan generasi masa depan kita, melainkan kita harus memastikan seluruh dunia mendapat manfaat dari air ilahi ini karena meskipun air itu ada, sebagian besar tidak mendapat manfaat darinya.

Ahmadis are from those few who took benefit but we must ensure to spread it throughout the world too. For this, it was essential we improved and paid attention to our spiritual and religious conditions and created a revolution within ourselves to honour the pledge we made to the Imam of the Age. 

 Ahmadi adalah dari sedikit orang yang mengambil manfaat tetapi kita harus memastikan untuk menyebarkannya ke seluruh dunia juga.  Untuk ini, penting bagi kita untuk meningkatkan dan memperhatikan kondisi spiritual dan keagamaan kita dan menciptakan sebuah revolusi di dalam diri kita sendiri untuk menghormati janji yang kita buat kepada Imam Zaman.

We should always keep in mind that if we did not give our utmost to create a spiritual revolution within ourselves, then our pledges were empty and hollow, Huzoor (atba) emphasised. If we, ourselves did not change for the better, then how could we improve future generations?

 Kita harus selalu ingat bahwa jika kita tidak memberikan yang terbaik untuk menciptakan revolusi spiritual dalam diri kita sendiri, maka janji kita kosong dan hampa, tegas Hudhur (atba).  Jika kita sendiri tidak berubah menjadi lebih baik, lalu bagaimana kita bisa memperbaiki generasi mendatang?


Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Inaugural address at Jalsa Salana UK 5th August 2022


Surga, Penjara dan Jatuh Cinta

In the next life, a believer will be blessed with a magnificent manifestation of paradise, but even in this world they are bestowed a hidden paradise. 

Di kehidupan berikutnya, seorang mukmin akan diberkati dengan manifestasi surga yang luar biasa, tetapi bahkan di dunia ini mereka diberikan surga yang tersembunyi.


The statement that this world is a prison or sijnun for a believer only refers to the initial state in which a person places themselves within the confines of the shariah and has not yet become fully accustomed to it; that time is a painful period for such an individual.

Adapun sebuah sabda bahwa dunia ini adalah penjara atau sijnun bagi seorang mukmin hanya mengacu pada keadaan awal di mana seseorang menempatkan dirinya dalam batas-batas syariah dan belum sepenuhnya terbiasa dengannya;  waktu itu adalah periode yang menyakitkan bagi individu seperti itu.


For such a one removes themselves from the freedom of irreligiousness and places oneself in the captivity of divine commandments against the inclination of the baser self. 

Karena orang seperti itu melepaskan diri dari kebebasan ketidakberagamaan dan menempatkan dirinya dalam tawanan perintah-perintah ilahi melawan kecenderungan diri yang lebih rendah.

Ultimately, however, such a person develops so great an attachment that the very same state becomes a paradise for them. 

Namun, pada akhirnya, orang seperti itu mengembangkan keterikatan yang begitu besar sehingga keadaan yang sama menjadi surga bagi mereka.

The likeness of such an individual is like a person who falls in love with someone in a prison. Do you think that such a one would ever want to leave that prison?”
Perumpamaan orang seperti itu seperti orang yang jatuh cinta dengan seseorang di dalam penjara.  
 Apakah Anda pikir orang seperti itu ingin meninggalkan penjara itu? ”

The Promised Messiah (as)
~Malfuzat Vol 3, P. 187

Ucapan = Perbuatan

Every member of the Jamaat should ensure their deeds and actions are the same and there is no hypocrisy.

Setiap anggota Jemaat harus memastikan selaras diperbuatan dan tindakan mereka dan tidak ada kemunafikan.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Inaugural address at Jalsa Salana UK 5th August 2022


Manusia itu lemah, dan terkadang, meski berusaha untuk tidak melakukannya, akhirnya melakukan kesalahan.  Namun, Tuhan Yang Mahakuasa tidak melihat setiap kesempatan untuk menghukum orang karena kesalahan mereka.  

Sebenarnya, Tuhan Yang Maha Esa telah menetapkan sebuah metode di mana seseorang dapat meminta pengampunan atas dosa-dosa mereka dan menjaga diri mereka sendiri dari melakukannya di masa depan juga, dan itu adalah melalui Istighfar [mencari pengampunan].

 Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba)
 ~Khutbah Jum'at 2 November 2018

sombong

Arrogance and mischief are evil. A slight mistake might destroy all the good achieved over a period of seventy long years. 

Kesombongan dan kenakalan itu jahat.  Sebuah kesalahan kecil dapat menghancurkan semua kebaikan yang dicapai selama periode tujuh puluh tahun yang panjang.


It is written of a holy man who dwelt in a mountain where no rain had fallen over a long period, that one day when rain fell over stones and rocks also, he felt that rain was needed by fields and gardens and that much of it which had fallen on stones and rocks had been wasted. 

Ada tertulis tentang seorang suci yang tinggal di sebuah gunung di mana tidak ada hujan yang turun dalam waktu yang lama, bahwa suatu hari ketika hujan turun di atas batu dan batu juga, dia merasa bahwa hujan dibutuhkan oleh ladang dan kebun dan banyak lagi yang  telah jatuh di atas batu dan batu telah terbuang sia-sia.


It would have been of much greater benefit if it had fallen over cultivated fields. Thereupon God Almighty deprived him of all holiness. He became very sorrowful and sought help from another holy person and was told in the end that he had offended God because of his criticism. 

 Akan jauh lebih bermanfaat jika jatuh di atas ladang yang dibudidayakan.  Kemudian Tuhan Yang Mahakuasa mencabutnya dari semua kesucian.  Dia menjadi sangat sedih dan mencari bantuan dari orang suci lainnya dan pada akhirnya diberitahu bahwa dia telah menyakiti Tuhan karena kritiknya.

 
[Malfuzat, vol. VI, p. 57]


Perang Menurut MEREKA

Today, undoubtedly, the world says that warfare is bad, and this is what every world leader says, but what they actually mean is, “If someone fights with us, then it is bad”, and, “If we start warfare, then it is not bad.” This is all because they have no fear of their Creator, Who has the power to provide peace to the world.

Hari ini, tidak diragukan lagi, dunia mengatakan bahwa peperangan itu buruk, dan inilah yang dikatakan setiap pemimpin dunia, tetapi yang sebenarnya mereka maksudkan adalah

 “Jika seseorang berkelahi dengan kita, maka itu buruk”, dan, 
 “Jika kita memulai peperangan, maka  itu tidak buruk."  
 
Ini semua karena mereka tidak takut pada Pencipta mereka, yang memiliki kekuatan untuk memberikan kedamaian bagi dunia.


Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Concluding address at Jalsa Salana Germany 21st August 2022

Perdamaian adalah Kita

A huge responsibility has been placed on the shoulders of every member of the Jamaat, to achieve peace inside our homes and outside.

Tanggung jawab besar telah diletakkan di pundak setiap anggota Jemaat, untuk mencapai perdamaian di dalam rumah-rumah kita dan juga di luar rumah

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 
~Concluding address at Jalsa Salana Germany 21st August 2022

Cara DOA 

How one should pray to Allah in order to have their prayers accepted?

Hazrat Amirul Momineen (atba) said:

“First of all, you have to look at your condition to see if you have done what Allah has commanded you to do. Allah has commanded to offer prayers five times a day and to offer them at their prescribed times. Do you perform the five daily prayers? Allah says, ‘Remember Me’, do you remember Him? […] After fulfilling all these conditions, God says, ‘Pray to Me and you will become My true servant, and when you do, I answer your prayers.’ Allah Almighty says, ‘You must have firm faith in Me, have faith that I accept prayers’”. 

Huzoor (atba) added that if any prayer was not accepted by Allah, then one should consider its acceptance unfavourable and thus, Allah did not accept the prayer. 

Huzoor (atba) also emphasised the importance of invoking and reciting durood.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (May Allah be his helper) 💫
~Virtual Mulaqat with Majlis Khuddam-ul-Ahmadiyya Germany 21 August 2021


Bagaimana seseorang harus berdoa kepada Allah agar doa mereka diterima?

 Hazrat Amirul Mukminin (atba) berkata:

 “Pertama-tama, Anda harus melihat kondisi Anda untuk melihat apakah Anda telah melakukan apa yang Allah perintahkan.  Allah telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu dan melaksanakannya pada waktu-waktu yang telah ditentukan.  Apakah Anda melakukan shalat lima waktu?  Allah berfirman, 'Ingatlah Aku', apakah kamu mengingat-Nya?  […] Setelah memenuhi semua persyaratan ini, Tuhan berkata, 'Berdoalah kepada-Ku dan kamu akan menjadi hamba-Ku yang sejati, dan ketika kamu melakukannya, Aku menjawab doa-doamu.' Allah SWT berfirman, 'Kamu harus memiliki iman yang teguh kepada-Ku, berimanlah  bahwa saya menerima doa'”.

 Hudhur (atba) menambahkan bahwa jika ada doa yang tidak diterima oleh Allah, maka orang harus menganggap penerimaannya tidak baik dan dengan demikian, Allah tidak menerima doa tersebut.

 Hudhur (atba) juga menekankan pentingnya berdoa dan membaca durood.

 Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (Semoga Allah menjadi penolongnya)
 ~Mulaqat Virtual Bersama Majlis Khuddam-ul-Ahmadiyya Jerman 21 Agustus 2021


Benih dan Buah

Some people go to the mosques to offer their Prayers and observe other fundamental principles of Islam, yet Allah’s support and succour does not accompany them.
Beberapa orang pergi ke masjid untuk salat dan menjalankan prinsip-prinsip dasar Islam lainnya, namun dukungan dan pertolongan Allah tidak menyertai mereka

There is no palpable change in their morals and habits. This shows that they are following a routine of rituals. 
 Tidak ada perubahan nyata dalam moral dan kebiasaan mereka.  Ini menunjukkan bahwa mereka mengikuti rutinitas ritual. 
 
There is no substance in them because compliance with Allah’s commandments is like sowing a seed. It influences both, the body and the soul. 
Tidak ada substansi di dalamnya karena mematuhi perintah Allah seperti menabur benih.  Ini mempengaruhi keduanya, tubuh dan jiwa. 

After watering and sowing with meticulous hard work, if nothing sprouts after a few weeks, then one has to admit that the seed was bad. 
Setelah disiram dan disemai dengan kerja keras yang cermat, jika tidak ada yang bertunas setelah beberapa minggu, maka harus diakui bahwa benih itu buruk. 

A similar concept applies to the worship of Allah. If a person believes in the Oneness of God, performs Salat, observes the Fasts, and seemingly follows the commandments of God, but no exclusive help from God Almighty is bestowed upon him, then one must admit that the seed he is sowing is itself bad.

 Konsep serupa berlaku untuk ibadah kepada Allah.  Jika seseorang percaya pada Keesaan Tuhan, melakukan shalat, menjalankan Puasa, dan tampaknya mengikuti perintah-perintah Tuhan, tetapi tidak ada bantuan eksklusif dari Tuhan Yang Mahakuasa yang diberikan kepadanya, maka seseorang harus mengakui bahwa benih yang dia tabur itu sendiri buruk.  .

 ~ Malfuzat Vol 10, Hal. 54

Dicapai Kedamaian jika?

True peace can only be achieved when one disregards any national and familial ties and disregards any biases and then works towards achieving global peace.

Perdamaian sejati hanya dapat dicapai ketika seseorang mengabaikan ikatan kebangsaannya dan ikatan kekeluargaannya serta mengabaikan bias apa pun lalu kemudian berupaya mencapai perdamaian global.

 Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 
~Concluding address at Jalsa Salana Germany 21st August 2022

Cahaya Allah 1 (Terjemah Google)


Beramal Baik dan Husnuzhan

He who cannot do any good to the people in this world cannot expect any reward in the next world. That is why you should think good of everybody.

Dia yang tidak bisa berbuat baik kepada orang-orang di dunia ini tidak bisa mengharapkan imbalan apa pun di dunia berikutnya (akherat).  Itulah mengapa Anda harus berpikir baik tentang semua orang.

(Malfoozat Vol. III, p.319)

Dosa dan Doa

He who is committing sins and thinks that he has gone too far in it, should not desist from praying to God for the forgiveness of his sins. Prayer is like an elixir. If he continues praying, he will find that sin has become undesirable to him (he has started hating sin).

Dia yang melakukan dosa dan berpikir bahwa dia telah melangkah terlalu jauh di dalamnya, tidak boleh berhenti berdoa kepada Tuhan untuk pengampunan dosa-dosanya.  Doa itu seperti obat mujarab.  Jika dia terus berdoa, dia akan menemukan bahwa dosa telah menjadi tidak diinginkannya (dia sudah mulai membenci dosa).

Malfoozat Vol. 1, p .4

Oksigen dan Doa

We should inculcate the belief (within Ahmadi Muslims) that just as the human body cannot survive without oxygen, our spiritual body needs nourishment through prayer.

Kita harus menanamkan keyakinan (dalam diri Muslim Ahmadi) bahwa sama seperti tubuh manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa oksigen, tubuh ruhani kita membutuhkan makanan melalui doa.

يجب أن نغرس الإيمان (لدى المسلمين الأحمديين) بأنه مثلما لا يستطيع الجسم البشري أن يعيش بدون أكسجين ، فإن أجسادنا الروحية تحتاج إلى التغذية من خلال الصلاة.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Virtual Mulaqat with Lajna A‘mala Members from Italy -  4 September 2021

“If you keep a distance from God, then in turn He will also keep a distance from you.”

“Jika kamu menjaga jarak dengan Tuhan, maka pada gilirannya Dia juga akan menjaga jarak darimu.”

~Malfuzat, Vol.4. pp. 70-71, UK, 1985

Whether you are 15, 20, 30 or 40 or of any other age, grasp every opportunity to serve Islam as though it is your last.

Apakah Anda berusia 15, 20, 30 atau 40 tahun atau usia lainnya, raihlah setiap kesempatan untuk melayani Islam seolah-olah itu adalah yang terakhir bagi Anda.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Address at National MKA UK Ijtema 11th September 2022

Shalat dan Perumpamaannya

Always keep in mind that Namaz is a key ingredient for a person to live a Moral life.

Ingatlah selalu bahwa Shalat adalah bahan pokok bagi seseorang untuk menjalani kehidupan yang berakhlak

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Address at National MKA UK Ijtema 11th September 2022

Whoever wishes to excuse himself from prayer, what does he or she achieve more than animals? Theirs is the same condition as animals – to merely eat, drink and sleep like animals can never be called religion, rather it is the way of the disbelievers.

Barangsiapa ingin menghindarkan diri dari shalat, apa yang ia peroleh tak lebih dari binatang?  Kondisi mereka sama seperti binatang – hanya makan, minum dan tidur seperti binatang tidak pernah bisa disebut beragama, melainkan itu adalah cara orang-orang yang tidak beriman.

~Malfuzat, Vol. 5, pp. 253-254, 1985, UK

Pengorbanan dan Shalat

It is a great favour of Allah on our Jamaat that He has bestowed this community with people who are ever-ready to offer their time and sacrifice for the sake of the Jamaat.

Recently, thousands of Ahmadis presented themselves for Jalsa Salana UK and put aside their jobs and other occupations.

Many did not sleep properly for days, or even weeks. Never did they express fatigue or other signs of non-cooperation.

There were many who offered sacrifices whenever a scheme was launched.

It is important to remember that it is not enough to offer temporary sacrifices; rather, Allah desires for a permanent state of righteousness and the way to achieve this is namaz. 

Ini adalah nikmat Allah yang besar pada Jemaat kita bahwa Dia telah menganugerahkan jemaat ini dengan orang-orang yang selalu siap untuk menawarkan waktu dan pengorbanan mereka demi Jemaat.

Baru-baru ini, ribuan Ahmadi hadir untuk Jalsah Salanah Inggris dan mengesampingkan pekerjaan mereka dan pekerjaan lainnya.

Banyak yang tidak tidur nyenyak selama berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu.  Mereka tidak pernah menunjukkan kelelahan atau tanda-tanda non-kooperatif lainnya.

Ada banyak yang mempersembahkan pengorban setiap kali program diluncurkan.

Penting untuk diingat bahwa mempersembahkan pengorbanan sementara saja tidak cukup;  sebaliknya, Allah menginginkan keadaan kebenaran yang permanen dan cara untuk mencapainya adalah shalat.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Address at National MKA UK Ijtema 11th September 2022

Berkata Benar

One who comes to God Almighty with true passion and complete honesty and sincerity, is never wasted.

Seseorang yang datang kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan semangat sejati dan kejujuran serta ketulusan yang utuh, tidak akan pernah sia-sia.

~ Malfuzat Vol 10, Hal. 55

Falsehood is a “sin of immense gravity and harmful to both the individual and the wider society.”

Kebohongan adalah “dosa yang sangat berat dan berbahaya baik bagi individu maupun masyarakat luas.”

~Address at National MKA UK Ijtema 11th September 2022

Khidmat = Fadhl

میں بار بار تمہیں کہتا ہوں کہ خدا تمہاری خدمتوں کا ذرا محتاج نہیں۔ ہاں تم پر یہ اس کا فضل ہے کہ تم کو خد کا موقع دیتا ہے “

{ مجموعه اشتہارات جلد سوم صفحہ 498-497 }

Saya katakan lagi dan lagi bahwa Tuhan tidak membutuhkan layanan Anda sama sekali.  Ya, itu adalah anugerah-Nya kepada Anda bahwa Tuhan memberi Anda kesempatan. ”

{Majmuah Isytiharat Jilid III Halaman 498-497}

Fisik dan Ruh

Just as our physical bodies require food and air, in the same way, our souls need continuous spiritual nourishment.

Sama seperti tubuh fisik kita membutuhkan makanan dan udara, dengan cara yang sama, jiwa kita membutuhkan makanan rohani yang terus menerus.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Address at National MKA UK Ijtema 11th September 2022

Pendidikan Anak

“Educate your sons in such a manner that they grow up to become good husbands and positive members of the Jamaat.”

Didiklah putra-putra Anda sedemikian rupa sehingga mereka tumbuh menjadi suami yang baik dan anggota Jemaat yang  (membawa pengaruh) positif.”

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (atba) 💫
~Virtual Mulaqat with Lajna A‘mala Members from Italy -  4 September 2021

Doa adalah..

What is prayer? It is to present your humility and shortcomings before God Almighty and to beseech from Him for all that you require.

Apa itu doa?  Ini adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan kekurangan Anda di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan memohon kepada-Nya untuk semua yang Anda butuhkan.

~Malfuzat, Vol. 5, pp. 253-254, 1985, UK

Orang tua dan Anaknya

Ahmadi parents should develop a bond of friendship with their children. 

You should encourage your children to talk to you freely and openly, children are naturally curious and it is the duty of mothers to answer their questions.

We live in a society and time where at every turn there are temptations that leads a person towards sin or act in a way that incurs the displeasure of Allah.

If you fail to show kindness to others, your children will learn the same. Conversely, if you are kind and considerate, your children will naturally learn from you.
_____

Orang tua Ahmadi harus mengembangkan ikatan persahabatan dengan anak-anak mereka.

Anda harus mendorong anak-anak Anda untuk berbicara dengan Anda secara bebas dan terbuka, anak-anak secara alami ingin tahu dan itu adalah tugas ibu untuk menjawab pertanyaan mereka.

Kita hidup dalam masyarakat dan waktu di mana di setiap kesempatan ada godaan yang membawa seseorang ke arah dosa atau bertindak dengan cara yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Jika Anda gagal menunjukkan kebaikan kepada orang lain, anak-anak Anda akan belajar hal yang sama.  Sebaliknya, jika Anda baik dan penuh perhatian, anak-anak Anda secara alami akan belajar dari Anda.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba) 💫
~Address at the National Lajna UK Ijtema 18 September 2022

Selasa, 02 Agustus 2022

DOA : Kedua Orangtua

Doa Qurani untuk Kedua Orang Tua (Walidain)

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

(Al-Isrā' [17]:24)


2. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

Doa Nabi Ibrahim as

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ ࣖ

Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”
(Ibrāhīm [14]:41)


3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
Doa Nabi Nuh as

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا ࣖ

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kehancuran.”
(Nūḥ [71]:28)



Penggunaan Walidain dalam Alquran


1. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ  ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ

(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.
(Al-Baqarah [2]:83)



2. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ ۨالْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ ۗ

Diwajibkan kepadamu, apabila seseorang di antara kamu didatangi (tanda-tanda) maut sedang dia meninggalkan kebaikan (harta yang banyak), berwasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang patut (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.
(Al-Baqarah [2]:180)

3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.
(Al-Baqarah [2]:215)

4. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.
(An-Nisā' [4]:7)

5. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
(An-Nisā' [4]:36)

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2759274357501812"
     crossorigin="anonymous"></script>

6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


۞ قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ ۚوَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kemarilah! Aku akan membacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu, (yaitu) janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. (Tuhanmu berfirman,) ‘Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.’ Janganlah pula kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu mengerti.
(Al-An‘ām [6]:151)

IBLIS : Sebutannya dalam alquran

Iblis Dalam Alquran

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ  اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.
(Al-Baqarah [2]:34)

وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ  لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-mu. Lalu, Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud.(Al-A‘rāf [7]:11)

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A‘rāf [7]:12)

قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Ia (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan.”(Al-A‘rāf [7]:14)

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.(Al-A‘rāf [7]:16)

اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰىٓ اَنْ يَّكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ

kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama para (malaikat) yang bersujud.(Al-Ḥijr [15]:31)

قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا لَكَ اَلَّا تَكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apa yang menyebabkanmu enggan bersama mereka yang bersujud itu?”(Al-Ḥijr [15]:32)

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”(Al-Ḥijr [15]:36)

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua,
(Al-Ḥijr [15]:39)

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِيْنَ

Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.”(Al-Ḥijr [15]:42)

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ قَالَ ءَاَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِيْنًاۚ

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam.” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) berkata, “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”(Al-Isrā' [17]:61)

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا

Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku tentang orang ini yang lebih Engkau muliakan daripada aku. Sungguh, jika Engkau memberi tenggang waktu kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya aku benar-benar akan menyesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.”(Al-Isrā' [17]:62)

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَاَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا

Perdayakanlah (wahai Iblis) siapa saja di antara mereka yang engkau sanggup dengan ajakanmu. Kerahkanlah pasukanmu yang berkuda dan yang berjalan kaki terhadap mereka. Bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, lalu berilah janji kepada mereka.” Setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.(Al-Isrā' [17]:64)

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيْلًا

(Allah berfirman lagi,) “Sesungguhnya tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) atas hamba-hamba-Ku (yang mukmin). Cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga (mereka darimu).”(Al-Isrā' [17]:65)

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia termasuk (golongan) jin, kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai penolong449) selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Dia (Iblis) seburuk-buruk pengganti (Allah) bagi orang-orang zalim. (Al-Kahf [18]:50)

۞ مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا

Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri. Aku tidak menjadikan mereka yang telah menyesatkan itu sebagai penolong.(Al-Kahf [18]:51)

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَ اَبٰى ۗ

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia menolak.(Ṭāhā [20]:116)

فَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اِنَّ هٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقٰى

Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam, sesungguhnya (Iblis) inilah musuh bagimu dan bagi istrimu. Maka, sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga. Kelak kamu akan menderita.(Ṭāhā [20]:117)

وَجُنُوْدُ اِبْلِيْسَ اَجْمَعُوْنَ ۗ

(Begitu pula) bala tentara Iblis (dan) semuanya (dijungkirbalikkan).(Asy-Syu‘arā' [26]:95)

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.(Saba' [34]:20)

وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّ ۗوَرَبُّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ ࣖ

Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.(Saba' [34]:21)

اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir.(Ṣād [38]:74)

قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ

(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”(Ṣād [38]:75)

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”(Ṣād [38]:76)

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”(Ṣād [38]:79)

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Ṣād [38]:82)

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag




sodakoh, sedekah, infaq fi sabilillah

Menurut Alquran


1. 
اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah peinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS. Al hadid: 18).


2. 
{وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ}

Artinya: "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10

Menurut Hadis


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim) [No. 2588 Syarh Shahih Muslim] Shahih.


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ السُّوْءِ}.

Nabi saw. bersabda, “Shadaqah itu menutup tujuh puluh pintu kejelekan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani dari sahabat Rafi’ bin Khadij dengan sanad yang dhaif.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {اتّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإنْ لَمْ تَجِدُوْا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Takutlah dengan api neraka (jadikanlah shadaqah dan amal-amal kebajikan antara kamu dan neraka jahannam sebagai penjaganya) meskipun dengan separuh kurma, jika kalian tidak menemukannya (untuk dijadikan shadaqah), maka dengan perkataan yang baik.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Al-Bukhari, dan imam Muslim dari sahabat ‘Adi bin Hatim r.a.


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena shadaqah.” Hadis ini merupakan penggalan hadis riwayat imam At-Thabarani dari ummul mukminin Ummu Salamah r.a

َ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah radliallahu anhu berkata,: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahualaihiwasallam dan berkata,: "Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?". Beliau menjawab: "Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu kamu berkata, si fulan begini (punya ini) dan si fulan begini. Padahal harta itu milik si fulan". (HR. Bukhari) [No. 1419 Fathul Bari] Shahih



عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, 

“Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Rasulullah, orang-orang *Kaya* lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaoh?

_Sesungguhnya tiap-tiap *tasbih* adalah shodaqoh,

_tiap-tiap *tahmid* adalah shodaqoh,

_tiap-tiap *tahlil* adalah shodaqoh,

_menyuruh kepada kebaikan (amar ma'ruf) adalah shodaqoh, 

_mencegah kemungkaran (nahi munkar) adalah shodaqoh dan 

_persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. 

Mereka bertanya, 

“ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 

“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang *haram*, dia berdosa. 

Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat *pahala*”.  (HR. Muslim no. 2376)

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...