Rabu, 12 Agustus 2020

Mayyit, Maut dan Wafat (Tadzikatul Maut)


Pengertian Mayyit
تعريف و معنى ميت . في معجم المعاني الجامع - معجم عربي عربي
مَيْت: (اسم)
مَيْت : فاعل من ماتَ
مِيَت: (اسم)
مِيَت : جمع مِيْتَةُ

مَيت: (اسم)
الجمع : أَمْوات و مَوْتَى
المَيْتُ : صفة مشبَّهة تدلّ على الثبوت من ماتَ
المَيْتُ : مَنْ فارق الحياةَ، الشّخص الذي مات ،ضِدُّ حَيَّ
دَمُ الميْت في عنقه: أي: كان مسئولاً عن موته
مَيِّتٌ : (اسم)
الجمع : مَيِّتُون
المَيِّتُ: مَنْ في حكم الميّت وليس به
المَيِّتُ: المَيْتُ
لُغَةٌ مَيِّتَةٌ : لُغَةٌ انْقَرَضَتْ، أَيْ لَمْ تَعُدْ مُسْتَعْمَلَةً
مَيِّتٌ مَنْدُوبٌ:
مَنْ يُنْدَبُ مِنَ الأَمْوَاتِ.
فلان مَيِّتُ الدَّاءِ:
لا يَحقِد على مَن يُسيء إِليه.
مَيْتُون : (اسم)
مَيْتُون :جمع مَيْت

Pengertian Maut

تعريف و معنى موت في معجم المعاني الجامع - معجم عربي عربي
مَوَّتَ: (فعل)
مَوَّتَ يموِّت ، تمويتًا ، فهو مُمَوِّت ، والمفعول مُموَّت
مَوَّتَ الْمَريضَ : جَعَلَهُ يَمُوتُ، أَمَاتَهُ
مَوَّتَتِ الدَّوَابُّ : كَثُرَ فِيهَا الْمَوْتُ
مَوْت: (اسم)
مَوْت : مصدر ماتَ

مَوت: (اسم)
مصدر مَاتَ
الموت : زَوَالُ الْحَيَاةِ عَنْ كُلِّ كَائِنٍ حَيٍّ، آل عمران آية 185 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ (قرآن)
الْمَوْتُ الأَبْيَضُ : زَوَالُ الْحَيَاةِ عَنِ الكَائِنِ طَبِيعِيّاً الْمَوْتُ الطَّبِيعِيُّ
الْمَوْتُ الأَحْمَرُ : زَوَالُ الْحَيَاةِ قَتْلاً
الْمَوْتُ الأَسْوَدُ : زَوَالُ الْحَيَاةِ خَنْقاً
الْمَوْتُ الزُّؤَامُ : زَوَالُ الْحَيَاةِ فَجْأَةً، سَرِيعاً
الموت : الخَوْفُ، الذُّعْرُ، الْحُزْنُ
يطلق الموت :ما يقابل العقل والإِيمان، نحو ما فى التنزيل العزيز:الأنعام آية 122 أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشىِ بهِ في النَّاسِ) )
خطر الموت: يقصد بهذه العبارة تنبيه الأشخاص بعدم لمس أو الاقتراب من أي شيء مسجَّل عليه: خطر الموت،
فلانٌ بين الحياة والموت: يعاني سكرات الموت،
فلانٌ على فِراش الموت: يحتضر
مَوْت الملك: نقلة حجر في لعبة الشطرنج تحصر الملك وتُنْهي اللّعبة
الموت المدنيّ: (القانون) الحرمان من الحقوق المدنيّة نتيجة الإدانة بالخيانة أو جريمة كبرى أخرى
أمنية الموت: (علوم النفس) رغبة في هدم الذّات يرافقها عادة اكتئاب ويأس وتقريع للذّات
موت الفوات: (مصطلحات)
موت الفجأة. (فقهية)
تَمويت: (اسم)
مصدر مَوَّتَ
تَمْوِيتُ الرَّجُلِ: جَعْلُهُ يَمُوتُ، إمَاتَتُهُ
تَمْوِيتُ الدَّوَابِّ : كَثْرَةُ الْمَوْتِ فِيهَا


“maut” adalah keluarnya ruh dari makhluk hidup, apakah itu manusia, hewan atau tumbuhan. Setiap organisme yang hidup di muka bumi ini memiliki kehidupan, apabila ruh tersebut keluar pada waktunya (ajal) dan berhenti aliran darah tubuh, maka dikatakan “mati”.

Demikian menurut al-Adnan, “Tercerabutnya ruh dari tubuh dan berhentinya aliran darah yang mengalir dari anggota tubuh, dan tidak terdapat tanda-tanda kehidupan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].

Allah berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az Zumar:30].

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 30-31 :

Sesungguhnya engkau (wahai rasul), akan mati dan mereka juga akan mati. Kemudian kalian semuanya (wahai manusia) akan berselisih di hari kiamat di sisi tuhan kalian, sehingga Allah menetapkan keputusanNya dianatra kalian dengan adil dan obyektif.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 30-31.

Hai Muhammad, kamu pasti akan mati begitu pula dengan mereka, itu merupakan kepastian yang tidak dapat diingkari. Dan kalian semua -hai manusia- pada hari kiamat kalian akan saling berselisih di hadapan Tuhan kalian, kemudian Allah akan memberi ketetapan bagi kalian dengan benar dan adil.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah 30. إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ (Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati) Yakni dikabarkan kemataian Rasulullah kepada dirinya, dan dikabarkan kematian mereka kepada diri mereka. Dan dalam ayat ini Allah mengabarkan kepada para sahabat bahwa Rasulullah juga akan mati, sebab sebagian sahabat menyangka bahwa beliau tidak akan mati. Dan dalam ayat ini pula terdapat dorongan bagi orang-orang kafir Quraisy agar memanfaatkan kesempatan yang masih ada dan segera untuk beriman dan menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah, sebab beliau tidak akan tinggal bersama mereka dalam waktu yang lama, dan tidak akan tinggal bersama mereka selamanya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 30.

Wahai Nabi (Muhammad) sesungguhnya engkau akan mati dan mereka semua (juga) akan mati dan kematian datang perlahan pada mereka

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

(Sesungguhnya kamu) khithab ini ditujukan kepada Nabi saw. (akan mati dan mereka akan mati pula) kelak kamu akan mati dan mereka kelak akan mati pula, maka tidak usah ditunggu-tunggu datangnya mati itu. Ayat ini diturunkan sewaktu mereka merasa lambat akan kematian Nabi saw.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala,

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?”

(Terj. Al Anbiya’: 34) Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I 30-31.

Wahai nabi Muhammad, sesungguhnya engkau akan mati dan kembali ke hadirat tuahnmu, dan mereka yang ingkar itu pun akan mati pula. Kemudian, sesungguhnya kamu semua pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan tuhanmu, kemudian dia akan memberi keputusan secara adil; orang beriman akan mendapatkan surga dan orang kafir akan mendapatkan siksa neraka. []30-31 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

https://tafsirweb.com/8692-quran-surat-az-zumar-ayat-30.html


Sedangkan “Wafat” adalah berhentinya catatan amal seorang hamba yang sudah mukallaf dan dinyatakan selesai, serta mendapatkan semua balasannya dari Allah atas apa yang telah dilakukan, dan dikeluarnya ruh dari jasadnya.

وَقُّفُ جَرَيَانِ الْقَلَمِ وَ انْقِطَاعُ عَمَلِ العَبْد العَاقِلِ الْمُكَلَّفِ وَوَفاءَهُ وَتَمَاَمه، وَجَزَاءُ أجْرِهِ مِنَ الله واسْتِيْفَاءهِ بِخُرُوْجِ نفَسِهِ مِنْ جَسَدِهِ

Secara umum keduanya bermakna meninggal dunia, namun berbeda dalam penggunaannya, kata “maut” digunakan untuk semua makhluk yang memiliki ruh atau nafas, baik hewan atau manusia, atau mungkin makhluk lainnya. sedangkan “Wafat” hanyalah untuk mereka yang dikenai perintah atau larangan (mukallaf) oleh Allah dan dari perintah dan larangan itu mengalirlah catatan-catatan itu, dan makhluk yang dikenahi perintah itu, adalah manusia.

Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab, “al-Wafat” adalah “Maut”, dan wafat itu ada dua; wafat shugra (kecil) dan wafat kubra (besar), wafat Sughra adalah tidur, sedangkan wafat kubra adalah mati (maut) sebagai dalam ayat 42, surat Azzumar

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى (الزمر، 42).

Ibnu Katsir tentang ayat di atas juga menafsirkan sebagaimana dalam Lisan al-Arab, bahwa wafat ada dua; Wafat kubra (kematian besar) dan wafat shugra (kematian kecil), “An-naum” bermakna “al-maut”.

KEMATIAN ITU KENISCAYAAN.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Dimana saja kamu berada, kematian akan
  mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78]

. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8]

SAKARATUL MAUT
. وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. [Qaaf:19].

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

لقنوا موتا كم لا إله إلا الله

“Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’”(Muslim 916)

Di dalam buku Tadzkirah fi ahwalil mautaa wa umuril akhirah: 30,imam Al Qurthubiy, cet:Daarul ‘Aqidah.

Imam Al Qurthubiy berkata: “Apabila seorang yang akan meninggal dunia telah membaca ‘Laa Iaaha Illa Allah’ satu kali maka tidak perlu diulang lagi”.

Ibnu Al Mubarak berkata: ”Talqinlah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan jika telah mengucapakannya maka jangan diulangi lagi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan [Al Waqi’ah:60].

Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabat dari kalangan Anshar lalu mengatakan:

يا خال! قل: لا إله إلا الله،
Wahai Paman..! Ucapkanlah LAAILAAHA ILLALLAAH

HR. Ahmad, Syaikh Al-Albaniy mengatakan: “Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim”, Ahkamul Janaiz, hal. 20 sebagaimana disebutkan dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah al Muyasarah:4/38, Cet: Dar Ibnu Hazm

Bacakan Yaasiin

اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ
Bacakanlah Yaasiin, saat saudaramu dalam keadaan sakaratul maut.

An-Nasaa’i di dalam Amalul Yaumi wal Lailah (hlm. 581, 582, no. 1074, 1075),

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].

HADIS HADIS


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ (جة 4236,ت 3550, الصحيحة 757, وهو حديث حسن)

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.”

[HR Ibnu Majah, no. 4.236; Tirmidzi, no. 3.550. Lihat Ash Shahihah, no. 757].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.

[HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].

Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.

[Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333].

Syumaith bin ‘Ajlan berkata:

مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا وَلاَ بِسَعَتِهَا

Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua
matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya.

[Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].
 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya:

“Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?”

Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.”

Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?”

Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.”

[HR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat Ash Shahihah, no. 1.384].

Marilah kita renungkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ

يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ

فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap.

Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya.

Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap.

[HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa-i]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya, Rabbku. Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. [Al Munafiqun: 9-11].

Imam Bukhari meriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku, lalu bersabda,”

Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.”

Dan Ibnu Umar mengatakan:

“Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.”

[HR Bukhari, no. 5.937].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur.

[HR Bukhari, no. 5.942, dari Anas bin Malik].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:

“Allah meniadakan alasan seseorang yang Dia telah menunda ajalnya sehingga mencapai 60 tahun.

[HR Bukhari, no. 5.940].

  Imam Ibnu Majah meriwayatkan:
 
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: “

Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini,!”

[HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani].

Darus Salam : Rumah Keselamatan ?

 

Sang Khaliq Bercerita Makhluqnya.
1400 Tahun Lalu Allah Taala melalui Jibril As. Menyampaikan Wahyu kepada Rasulullah Saw.. Yakni kisah Makhluq oleh Sang Khaliq.

Makhluq itu adalah Manusia. Diantara Sifat Manusia yang Makhluq ini, dibawah ini adalah sifat buruknya. Agar manusia itu sadar sedari awal bahwa dia pasti akan seperti ayat ayat ini.


Coba Perhatikan Ayat demi ayat ini.. Allah Taala Berfirman :

وَ اِذَاۤ  اَذَقۡنَا النَّاسَ رَحۡمَۃً  مِّنۡۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ

Dan apabila Kami membuat manusia merasakan suatu rahmat setelah kesusahan menimpa mereka

  مَسَّتۡہُمۡ  اِذَا لَہُمۡ  مَّکۡرٌ  فِیۡۤ  اٰیَاتِنَا ؕ
tiba-tiba mereka mulai membuat rencana terhadap ayat-ayat Kami.

قُلِ اللّٰہُ  اَسۡرَعُ مَکۡرًا ؕ 

Katakanlah kepada mereka, “Allah lebih cepat dalam membuat rencana;
اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ

sesungguhnya malaikat utusan-utusan Kami menuliskan apa yang kamu rencanakan.” (Yunus:21)

Nah Kan betul apa Firman Allah Taala Yang MAHA MENGETAHUI.?
Manusia itu dasarnya ya begitu.. Banyak Inkar kepada Nikmat Allah..

Mulai kan berbuat Buruk. Setelah dapat nikmat.
Rahmat turun dari Tuhan, tetapi kemalangan itu datang sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk manusia sendiri.

Tafsir Jalalaiyn

(Dan apabila Kami merasakan kepada manusia) kepada orang-orang kafir Mekah (suatu rahmat) berupa hujan dan kesuburan (sesudah datangnya bahaya) kesengsaraan dan kekeringan (menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam menentang tanda-tanda kekuasaan Kami) dengan memperolok-olokkannya dan mendustakannya. (Katakanlah,) kepada mereka ("Allah lebih cepat dalam membuat tipu daya") sebagai pembalasan dari-Nya. (Sesungguhnya utusan-utusan Kami) yaitu para malaikat (menuliskan tipu daya kalian) lafal tamkuruuna dapat dibaca dengan memakai huruf ta sehingga menjadi tamkuruuna, dapat pula dibaca dengan huruf ya sehingga bacaannya menjadi yamkuruuna.

Tafsir Quraish Shihab

Di antara tabiat manusia adalah bahwa apabila Kami memberikan nikmat kepada mereka--setelah diri, keluarga dan harta mereka tertimpa kesusahan--mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka setelah kesusahan itu dihilangkan. Bahkan sebaliknya, mereka membalasnya dengan terus mendustakan dan menentang bukti-bukti kekuasaan Allah. Katakanlah, wahai Rasulullah, "Kalau bukan karena ketetapan Allah yang terdahulu untuk menangguhkan kalian sampai waktu yang Dia ketahui, sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk membinasakan dan mempercepat siksa kalian. Sesungguhnya Rasul- rasul Kami dari jenis malaikat yang Kami sertakan bersama kalaian mencatat tipu daya kalian dan Dia akan menghisab dan mengganjar kalian."

Tapi Tenang Allah Taala itu
اَسۡرَعُ مَکۡرًا
cepat dalam membuat rencana. Beranikah Manusia melawan kecepatannya.
Nah,, Lalu Allah Yang Maha عليم   menyebutkan lagi  di ayat 22.

ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ
Dialah Yang memperjalankan kamu di daratan dan lautan

ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ
sehingga apabila kamu telah berada di kapal

وَ  جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا

Dan berlayar kapal-kapal itu membawa mereka dengan angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya

جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ

tiba-tiba datanglah angin badai melanda mereka dan datang pula pada mereka ombak dari segala penjuru

وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ
dan mereka menduga bahwa mereka telah terkepung oleh itu

دَعَوُا اللّٰہَ  مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ
mereka berseru kepada Allah dengan setulus ketaatan kepada-Nya seraya berkata :

لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ  مِنَ  الشّٰکِرِیۡنَ

“Jika Engkau selamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus:22)

Seperti angin sepoi-sepoi basah kadang-kadang berubah menjadi taufan yang dahsyat dan membawa kehancuran yang sangat luas jangkauannya.

Tafsir Jalalayn

(Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan) menurut suatu qiraat yansyurukum bukannya yusayyirukum (di daratan, berlayar di laut. Sehingga apabila kalian berada di dalam bahtera) di dalam perahu-perahu (dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang di dalamnya) di dalam lafal ini terkandung pengertian iltifat dari mukhathab menjadi ghaib (dengan tiupan angin yang baik) angin yang lembut (dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai) angin yang kencang tiupannya dan dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilandanya (dan gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah dikepung bahaya) mereka pasti binasa (maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata) yakni berseru ("Sesungguhnya jika) huruf lam di sini bermakna qasam atau sumpah (Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini) dari malapetaka ini (pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.") yaitu akan menjadi orang-orang yang mentauhidkan Allah.

Quraish Shihab
Allah, yang kalian ingkari nikmat-Nya dan kalian dustakan ayat-ayat-Nya, adalah yang menjadikan kalian mampu berjalan di daratan--baik dengan berjalan kaki maupun berkendaraan--dan di lautan dengan bahtera yang berlayar di atas air, dengan kekuatan angin yang disediakan bagi mereka dan mendorongnya dengan selamat sampai ke tujuan. Hingga apabila kalian merasa tenang dan gembira dengannya, datanglah badai yang membawa gelombang dari segenap penjuru. Kalian merasa yakin bahwa kebinasaan akan segera datang dengan pasti. Dalam kesulitan ini, kalian tidak mendapatkan pelindung kecuali Allah, sehingga kalian berdoa kepada-Nya dengan ikhlas dan penuh keyakinan bahwa tidak ada seorang penolong pun selain Allah. Kalian berjanji akan beriman kepada Allah dan menjadi golongan orang yang bersyukur apabila Dia menolong kalian dari bencana ini.

Nah,Allah Taala maha Tawwab. Namun Tetap itu bagi hamba yang benar benar Ruju' Ilal Haq. Bukan Yang Macam Seperti ayat ini..

فَلَمَّاۤ  اَنۡجٰہُمۡ
Tetapi setelah Dia selamatkan mereka

اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ
tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa hak.

ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ
  Hai manusia! Sesungguhnya kedurhakaanmu itu akan menimpa dirimu

مَّتَاعَ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫
(akibat) kesenangan hidup di dunia

ثُمَّ  اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ
kemudian kepada Kami tempat kembalimu,

فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ

lalu Kami beritahukan kepadamu apa yang senantiasa kamu kerjakan.(Yunus:23)

Haai..Manusia Ingatlah yah. Kita kembali hanya kepada Allah Taala tidak perlu banyak "gaya" demi dunia. Karena Bisa jadi kau kaya hari ini, esok kau kan lihat musnahnya semua harta. Tidak percaya?

Tafsir Jalalayn

(Maha setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa alasan yang benar) mereka melakukan kemusyrikan. (Hai manusia, sesungguhnya perbuatan kelewat batas kalian) perbuatan kelaliman kalian (akan menimpa diri kalian sendiri) karena sesungguhnya yang menanggung dosanya adalah diri kalian sendiri (hal itu hanyalah kenikmatan duniawi) kalian bersenang-senang dengannya dalam waktu yang sedikit. (Kemudian kepada Kamilah kembali kalian) sesudah mati (lalu Kami kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) maka Kami membalas kalian berdasarkannya. Menurut suatu qiraat lafal mataa'un dibaca nashab sehingga menjadi mataa'an, artinya kalian bersenang-senang.

Quraish Shihab

Lalu, ketika Dia menolong mereka dari kebinasaan yang hampir menimpa, mereka mengingkari janji dan kembali dengan cepat kepada kejahatan sebagaimana keadaan mereka semula. Wahai manusia yang mengingkari janji, sesungguhnya dampak buruk dari kejahatan dan kezaliman kalian akan kembali kepada kalian sendiri. Dan sesungguhnya kenikmatan yang kalian rasakan di dunia adalah kenikmatan duniawi yang fana. Kemudian kepada Allahlah, pada akhirnya, tempat kembali kalian. Dia akan memberikan balasan dari segala perbuatan yang telah kalian lakukan di dunia.
Ayat ini jelas adanya. Simak..

اِنَّمَا مَثَلُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari awan

فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ مِمَّا یَاۡکُلُ النَّاسُ وَ الۡاَنۡعَامُ ؕ

lalu bercampurlah tumbuh-tumbuhan bumi dengannya, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak,

حَتّٰۤی اِذَاۤ اَخَذَتِ الۡاَرۡضُ زُخۡرُفَہَا وَ ازَّیَّنَتۡ
sehingga apabila bumi telah memakai perhiasannya serta tampak indah

وَ ظَنَّ  اَہۡلُہَاۤ   اَنَّہُمۡ قٰدِرُوۡنَ عَلَیۡہَاۤ ۙ
dan pemilik-pemiliknya menduga bahwa mereka berkuasa penuh atasnya

اَتٰہَاۤ  اَمۡرُنَا لَیۡلًا اَوۡ نَہَارًا
maka datanglah kepadanya keputusan Kami di waktu malam atau siang

فَجَعَلۡنٰہَا حَصِیۡدًا 
dan Kami menjadikannya seperti ladang yang telah disabit.

کَاَنۡ لَّمۡ تَغۡنَ بِالۡاَمۡسِ ؕ
seolah-olah tidak pernah ada sampai kemarin.

کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda Kami bagi kaum yang berpikir.(Yunus:24)

Nah.. Benar bukan Firmannya seperti Keadaannya? Pastilah.. Karena Allah Taala kan sang KHALIQUL KULL. Sehingga Allah Taala memperingatkan agar tidak seperti diatas.

Tafsir Jalalaiyn

(Sesungguhnya perumpamaan) gambaran (kehidupan duniawi itu adalah seperti air) hujan (yang Kami turunkan dari langit lalu tumbuhlah berkat air itu dengan suburnya) oleh sebab air itu (tanaman-tanaman bumi) sehingga sebagian di antaranya tampak bersatu dengan sebagian yang lain karena rimbunnya (di antaranya ada yang dimakan manusia) berupa biji jawawut, biji gandum dan lain sebagainya (dan binatang ternak) yaitu berupa rerumputan dan dedaunan. (Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya) menampakkan keindahannya berkat tumbuh-tumbuhannya (dan memakai pula perhiasannya) karena bunga-bungaannya. Asal kata wazzayyanat adalah tazayyanat, kemudian huruf ta diganti dengan huruf za, yang selanjutnya huruf za yang pengganti ini diidghamkan atau dimasukkan ke dalam huruf za asal, sehingga jadilah izzayyanat (dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya) mereka merasa pasti akan dapat memetik hasilnya (tiba-tiba datanglah kepadanya perkara Kami) kepastian atau azab Kami (di waktu malam hari atau siang, lalu Kami jadikan ia) yakni tanam-tanamannya (laksana tanam-tanaman yang sudah disabit) sudah dipanen dengan memakai sabit (seakan-akan) lafal ka-an adalah mukhaffafah dari lafal ka-anna, artinya seakan-akan ia (belum pernah tumbuh) belum pernah berujud (kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan) Kami terangkan (tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir).

Quraish Shihab
Kehidupan dunia dengan kesenangan dan keelokannya yang berakhir dengan kefanaan, bagaikan air yang turun dari langit, bercampur dengan tumbuhan bumi yang menjadi makanan manusia dan hewan. Tumbuh-tumbuhan itu lalu berbunga dan berbuah sehingga menambah keelokan bumi. Kemudian, ketika hiasan ini telah sampai pada kesempurnaannya dan penduduknya telah menguasai serta mengambil manfaat dari buah dan kebaikannya, tiba-tiba datang keputusan Kami untuk mematikannya. Sehingga Kami jadikan itu semua laksana sesuatu yang telah dipanen, seakan-akan tidak pernah berpenghuni dan tidak pernah menjadi bagus sebelumnya. Maka pada kedua keadaan itu--yaitu keelokan yang menggembirakan manusia kemudian disusul dengan kehilangan dan kemusnahan sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dengan tamsil yang jelas ini--Allah menjelaskan ayat-ayat dan merinci segala hukum dan bukti-bukti yang ada di dalamnya kepada kaum yang berpikir dan berakal(1). (1) Ayat ini menunjuk pada suatu hakikat yang mulai memperlihatkan tanda-tandanya, yaitu bahwa manusia mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingannya dan dengannya manusia mampu mewujudkan tujuannya. Sehingga apabila hakikat ini telah mendekati kesempurnaannya, dan manusia mengira bahwa dia merasa telah sampai pada puncak pengetahuan, maka ketentuan Allah akan datang.

Jadi..Ayat Pamungkas nyaa bisa jadi dengan ayat ini.. Allah Taala berfirman..

وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلٰی دَارِ السَّلٰمِ ؕ

Dan Allah menyeru ke tempat keselamatan

وَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ

dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ

kepada jalan yang lurus.(Yunus:25)

Yakni, Salām berarti keselamatan, keamanan, kekekalan atau kebebasan dari kesalahan-kesalahan kekurangan-kekurangan cacat-cacat noda-noda keburukankeburukan; atau berarti pula kedamaian, kepatuhan; surga. Salām adalah salah satu nama sifat Tuhan juga.

Daar adalah Rumah, tempat tinggal , tempat menetap berteduh ..

Darussalaam makaa.. (Jawaban ada di fikiran yang baca)

Antara Hudan dan Mustaqim. Lihat saja Ayat..

اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ
Yaa Allah Tunjukan Bimbinglah Kepada Petunjukmu yakni kepada Jalan engkau yang LURUS.

Setiap Shalat Kita senantiasa memintanya.

Tafsir Jalalaiyn
(Allah menyeru ke darussalam) kepada jalan keselamatan, yaitu surga; Dia menyeru manusia pada keimanan (dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya) untuk mendapat petunjuk (kepada jalan yang lurus) yakni agama Islam.

Quraish Shihab
Allah memanggil hamba-hamba-Nya dengan keimanan dan amal saleh ke surga, tempat yang aman dan damai. Dialah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang benar, yaitu keselamatan, disebabkan kesiapan dan kecondongannya kepada kebaikan.

Jazakumullah Ahsnal Jaza.

Rujukan Bacaan
1. Alquran dan  Tafsir Singkat Jemaat Ahmadiyah. Editor Malik Ghulam Farid.
2.https://tafsirq.com/10-yunus/ayat20-25#tafsir-quraish-shihab



Sabtu, 02 Mei 2020

PERUBAHAN SOSIAL : PERSPEKTIF ISLAM


PERUBAHAN SOSIAL : PERSPEKTIF  ISLAM[1]
“Air Dimana-Mana Tetapi Tidak Setetes Pun Yang Bisa Diminum.”

“Kita Harus Memahami Hubungan Waktu - Ruang Yang Melekat Dalam Tubuh Semua Interaksi Sosial. Setiap Pola Interaksi Yang Ada Diletakan Dalam Waktu”

Perubahan Sosial
Perubahan sosial di era milenial begitu menggerus Budi, budaya dan sifat sosial dari masyarakat. Dari sisi perubahan sosial inilah yang merupakan inti dari sosiologi menjadi tolok ukur akan perubahan yang menggambarkan realitas sosialnya. (Haferkamp dan Smelsera:1) 
Contoh interaksi sosial zaman old dan zaman now berubah dari berkumpul, berkunjung, bercakap-cakap sambil kopi panas, melihat mimik raut muka dengan jelas, melihat pintu rumah lalu mengetuknya dan mengucapkan salam, kini hanya tinggal pegang gadget "kelar".  Karna kaum milenial atau masyarakat zaman now lebih memikirkan efisiensi waktu. Times is Money,  atau alwaqtu kasy-syaif alias waktu bagai sebilah pedang atau Waktu adalah Segalanya. Dengan alat komunikasi semakin "canggih" dan tak terkendali, Sebenarnya apa yang berubah? 
Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka ; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa as. di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradap berada di tepi jurang kekacauan. [2]

Allah Taala Berfirman dalam Ar-Rum : 41 sbb:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 

Yakni:
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan, di sebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat  sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.

Memahami teks dan konteks ayat tersebut kita patut mencermati kerusakan apa saja yang terjadi saat ini. Tafsir dari ayat tersebut adalah :
Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan. Dalam ayat sekarang ini kita di beri tahu, bahwa bila kegelapan menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Tuhan dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Tuhan membangkitkan seorang nabi untuk mengembalikan gemba laan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.

Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Rasulullah saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Alquran ; sebab, syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri menjadi mapan.

Kata-kata “daratan dan lautan”  dapat diartikan :
a.                    bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi
b.                   orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki. [3]

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH. Khalifatul Masih IV Jemaah Muslim Ahmadiyah Bersabda :

Sayang sekali bahwa pengaruh agama atas perilaku moral sekarang ini sudah sangat menyusut. Keadaan tersebut menjadi bertambah buruk dengan munculnya dorongan untuk membebaskan diri dari kewajiban-kewajiban keagamaan dan hal tersebut bertambah luas di hampir seluruh penjuru dunia kontemporer ini. Namun disamping itu juga terdapat kepanikan karena menurunnya rasa aman dan bertambah kacaunya perilaku sosial yang berjalan paralel dengan trend pengabaian norma-norma keagamaan dan etika. Tambah cepat memudar keimanan pada Tuhan yang hidup, Dia yang tidak saja telah membentuk takdir manusia tetapi yang juga mengatur pola kehidupan manusia dari hari ke hari.”[4]
 Kemudian Beliau mengutip QS. Ar-Rum : 42 tersebut sebagai konklusi Sabdanya. Beliau Melanjutkan :
 Nasrani sebagai agama yang dominan di Barat sampai dengan awal abad ini masih memiliki kendali yang kuat dan efektif atas perilaku moral para pengikutnya di Barat. Sayang sekali hal ini sudah tidak lagi demikian.Saat ini terjadi revolusi kebudayaan yang didasarkan pada interaksi sosialisme ilmiah, perkembangan keilmuan yang  cepat dan kemajuan materialistis yang memaksa agama Nasrani  undur selangkah demi selangkah untuk kemudian perannya menjadi makin mengecil dalam pembentukan perilaku sosial.

Dengan demikian, perilaku moral di Barat saat ini sangat kecil kadar Kristianinya seperti juga kadar ke-Islaman dalam perilaku moral di negeri-negeri Muslim. Hal yang sama juga  berlaku pada perilaku sosial dan moral secara umumnya di  bagian lain dunia ini. Kita melihat banyak sekali penganut Budha, Konghucu atau Hindu, tetapi sayangnya sedikit sekali bisa ditemukan ajaran-ajaran agama Budha, Konghucu maupun Hindu.[5]

Interaksi Sosial
Pada abad 19 sosiologi  lahir untuk memahami perubahan atau transformasi fundamental dari masyarakat yang biasa biasa saja (baca :tradisional)  menjadi masyarakat yang "berbudaya" (baca : milenial).   
Giddens mengatkan bahwa  “.. kita harus memahami hubungan waktu - ruang yang melekat dalam tubuh semua interaksi sosial. Setiap pola interaksi yang ada diletakan dalam waktu”. [6]
Sorokin Mengatakan “..setiap kejadian, perubahan, proses, gerakan, keadaan dinamis, secara tersirat menyatakan waktu .[7] Dari pernyataan tersebut yang kita fahami adalah semua yang berubah adalah waktu, time. Sedangkan kita hanyalah bagian dari perubahan waktu itu sendiri.
Dengan Bijaksana 1400 tahun lalu Yang Mulia Nabi Muhammad Saw menyabdakan tentang begitu singkatnya waktu. Sebagaimana Anas Bin Malik Meriwayatkan bahwa  Rasulullah saw bersabda :

Tidak Akan Terjadi Kiamat, Sehingga Waktu Terasa Pendek, Maka Setahun Dirasakan Seperti Sebulan, Sebulan Dirasakan Seperti Semingggu, Seminggu Dirasakan Seperti Sehari, Sehari Dirasakan Seperti Satu Jam Serta Satu Jam Dirasakan Seperti Satu Kilatan Api.[8]

Dengan adanya perubahan waktu ini. Teknologi informasi menjadi ladang utama untuk menggantikan "komukasi zaman old" yang melulu seperti disebutkan tadi. Berkunjung dan ngopi.  Teknologi informasi membuat suatu penemuan menjadi sempurna untuk digunakan sebagai penunjang perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat. Anggap saja seperti Jaringan sosial versi modern ( Alat Jejaring Sosial: Facebook, Twitter,  Instagram dll) menjadi sarana baru untuk silaturahmi mengefektifkan "waktu". Belum lagi berbagai aplikasi lintas platform (Whatsapp, Line, Wechat, Telegram dll)  menjadi semakin familiar bagi perubahan kebiasaan masyarakat.
Semua hal tersebut menjadi media sosial bagi kaum zaman now atau milenial.  Dikatakan bahwa jaringan sosial ini merupakan ikatan penghubung dalam hubungan sosial yang beranggotakan manusia”.[9] Teringat dengan kalimat dalam sebuah film  " Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat ".[10] Ketika kita sebagai pelaku dengan adanya gadget,  realitas sosial inilah yang terjadi. Kita bisa bercakap-cakap dengan siapapun dalam dunia nyata tapi bisa berkomunikasi dengan siapapun di dunia Maya.
Sesuai dengan keadaan tersebut tidaklah mengherankan junjungan kita Nabi Muhammad SAW telah memberikan gambaran tentang bagaimana anggota keluarga ini bisa terjadi kesalahfahaman, kegaduhan, saling hina dll yang dilakukan oleh pengguna jaringan sosial tadi dengan menggunakan alat komunikasi yang canggih.

 Sabdanya adalah sebagai berikut :

Dari Ali Bin Abi Thalib,  ia berkata, Rasulullah saw bersabda:Apabila umatku telah melakukan 15 perkara, maka bala` pasti akan turun kepada mereka, yakni : 1. Apabila harta Negara hanya  beredar pada orang-orang tertentu, 2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan, 3. Zakat dijadikan hutang, 4. Suami memperturutkan kemauan istri, 5. Anak durhaka terhadap  ibunya, 6. Sedangkan  ia berbuat baik dengan temannya, 7. Dia menjauhkan diri dari ayahnya, 8. Suara- suara ditinggikan di dalam Masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu  kaum adalah orang  terhina di antara mereka, 10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya 11. khamar (Minuman keras) sudah diminum di segala tempat, 12. Kain Sutera banyak dipakai [oleh kaum laki-laki], 13. Para biduanita disanjung- sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat atau menyalahkan generasi pertama. Maka ketika itu hendaklah mereka menanti angin  merah atau gerhana dan gempa .[11]

Konklusi sebagai Peringatan
Mengutip sabda dari Khalifah Muslim Ahmadiyah yang ke-4, Mirza Tahir Ahmad RH sebagai peringatan  perubahan sosial dan interaksinya, penting untuk menjadi renungan bersama agar kita tahu bagaimana mengatasi perubahan ini.
Beliau Bersabda :
“Air dimana-mana tetapi tidak setetes pun yang bisa diminum.”
Bila norma-norma, etika keagamaan dan adat tidak lagi ada di masyarakat, maka moralitas akan kehilangan maknanya bagi suatu generasi yang tidak lagi menelan mentah-mentah warisan budayanya sebagai suatu yang benar atau sahih.

Generasi itu melalui suatu periode kritikal akan transisi ke kegelapan dan kekosongan. Kondisi tersebut akan menimbulkan keinginan untuk bertanya. Proses bertanya itu mungkin akan atau mungkin juga tidak menemukan norma perilaku yang lebih baik atau memuaskan.

Mungkin saja proses tadi berakhir pada keadaan kekacauan atau anarki moral secara total. Menurut hemat saya, kondisi terakhir itulah yang jadi pilihan masyarakat modern.

Suatu angin perubahan sedang berhembus di antara masyarakat-masyarakat dunia, baik di barat atau pun di timur. Ini adalah angin jahat yang mencemari iklim dunia seluruhnya. Dunia modern lebih memperhatikan peningkatan polusi dalam atmosfir material dari peningkatan cepat polusi di tengah lingkungan sosial kita. Al-Quran yang rupanya berbicara mengenai masa itu. [12]



[1] Khaeruddin Atmaja, Mubaligh Lokal di  Jeneponto
[2] Tasfir Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[3] Tasfir Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[4] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.59. Neratja Press, 2018
[5] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018
[6]Sosiologi Perubahan Sosial Piotr Sztompka,  Prenada, Cet.6 Agsts 2011 Jakarta,Hal. 45
[7] Ibid, Hal 46
[8] Tirmidzi/Juz 4/Kitab Al-fitan/Bab Maa Jaa Fi Taqarab Al-zaman/no.2339/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M
[9]Ruddy Agusyanto,  Jaringan Sosial Dalam Organisasi,  Raja Grafindo Persada, Cet. 1 2007 Jakarta,Hal. 13
[10] Coboy Junior The Movie, Produser : Frederica Sutradara :Anggy Umbara Penulis : Hilman Mutasi Pemeran : Coboy Junior Tanggal edar Wednesday, 05 June 2013

[11] Tirmidzi/Juz 4 /Kitab Al-fitan/no.2217/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M
[12] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018

Jumat, 03 April 2020

AL-MASIH SUDAH DATANG { جاء المسيح}



ALMASIH SUDAH DATANG


"Wahai para pemerhati, dengarkanlah, kalian pasti mengerti. Dan peliharalah kabar-kabar ghaib ini dalam peti-peti kalian, karena ini adalah Firman Allah yang pasti akan menjadi sempurna pada suatu hari dari hari-hari kemenangan itu.” (Tajliyyatu'l-Ilahiyyah, halaman 409-410)


NUBUWATAN-NUBUWATAN yang terdapat dalam Alquranul- Karim dan Hadits-hadits yang mulia diberitakan dengan suara lantang dari seseorang yang dibangkitkan dalam umat Islam di zaman akhir ini dengan sifatnya sebagai Masih dan Mahdi Yang Dijanjikan, agar ia mengembalikan iman dari bintang Tsurayya dengan bimbingan Allah Taala, dan ia akan menjadi Hakim yang adil yang akan menghakimi di antara kaum Muslimin tentang apa yang sedang mereka perselisihkan, dan ia membersihkan aqidah-aqidah mereka dan amal-amal perbuatan mereka dari kesalahan-kesalahan yang masuk ke dalamnya. Dan, beberapa nubuwatan menguatkan juga bahwa orang yang dijanjikan ini menjadi pelayan yang mukhlis dan taat yang membenarkan Pemimpin kita Muhammad, Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, khaatam para Nabi, dan beliau diberi tugas untuk menghidupkan pembaruan pelajaran Islam di kalangan kaum Muslimin, dan beliau menetapkan keutamaan Islam serta memenangkannya di atas semua agama.

Kedatangan Orang Yang Dijanjikan

Bukti kebenaran nubuwatan ini, adalah: Allah ‘Azza wa Jalla telah membangkitkan Pemimpin kita Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani ‘Alaihis-salaam (1835-1908) di India. Beliau mengumumkan berdasarkan perintah Allah bahwa beliau adalah Al-Masih dan Al-Mahdi untuk umat ini, dan orang Yang Dijanjikan, yang ditunggu kedatangannya dalam agama-agama lain. Beliau ‘Alaihis- salaam telah mendirikan Jamaahnya pada tahun 1889
agar mereka memikul di atas pundak mereka kepentingan untuk meninggikan kalimah Islam.

Dakwah dan Tujuan Kebangkitannya

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata dengan menjelaskan bahwa tujuan yang diinginkan dari kebangkitannya yaitu, ”Sesungguhnya, akulah sosok manusia yang dahulu telah dinubuwatkan akan dibangkitkan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla pada awal abad [empat belas Hijriyah] ini untuk memperbaharui Agama, menegakkan sebagian pembaruan iman di atas bumi ini, yang dahulu benar- benar pernah mencapai kemuliaan di atas sebagian bumi ini, dan memukau dunia dengan pertolongan Allah dan bimbingan Tangan-Nya; Dia Subchaana-Hu wa Ta’aalaa, membawa kepada perbaikan, ketaqwaan dan kebenaran, serta meluruskan aqidah dan amaliyah mereka yang salah.” (Tadzkiratu'sy-Syahaadatain, halaman 3)

 Selanjutnya, beliau menyajikan, “Dengarkanlah oleh kalian semua, wahai para pemimpin, semoga Allah membimbing kalian ke jalan-jalan kebahagiaan… Allah telah membangkitkan aku di awal seratus tahun ini, untuk memperbaharui agama (din) dan menerangi wajah agama (millah) ini, dan aku pecahkan salib serta aku padamkan api Nashrani, dan aku tegakkan Sunnah Muhammad, Sebaik-baik Manusia, dan aku memperbaiki apa yang telah rusak, dan aku percepat apa yang tidak laku. Dan aku adalah Al-Masih Yang Dijanjikan dan Al-Mahdi Yang Dijanjikan. Allah telah memberikan kenikmatan kepadaku dengan wahyu dan ilham, dan Dia telah berwawan-sabda kepadaku sebagaimana Dia telah berwawan-sabda kepada para Utusan-Nya yang mulia, dan Dia telah menyaksikan kebenaranku dengan tanda-tanda bukti yang dapat kalian saksikan, dan Dia telah memperlihatkan wajahku dengan cahaya-cahaya yang dapat kalian mengerti.” (Al-Istiftaa', halaman 641)


Dan beliau berkata, “Aku datang dari Allah untuk memecahkan salib yang kondisinya telah dijunjung tinggi, dan aku membunuh babi, sehingga sesudah itu ia tidak akan dihidupkan selamanya… dan sungguh janji-Nya adalah mengutus Al-Masih ituketika Fitnah Salib berada dalam kesombongan dan kemenangan kesesatan kaum Kristen, dan jika kalian dalam keadaan ragu terhadap apa yang telah kami katakan, maka renungkanlah Sabda Nabi- Nya—yakni, aku maksudkan Sabda beliau—“Dia akan memecahkan salib”, wahai orang-orang berakal?” (Mir'aatu Kamaalaati'l-Islaam, halaman 437)

Kematian Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘Alaihis-salaam

Beliau, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam mengumumkan bahwa kepercayaan/aqidah hidupnya Isa ibnu Maryam ‘Alaihimaas-salaam dan turunnya dari langit adalah aqidah yang salah dan kepercayaan itu menyangkal Alquran, As-Sunnah, Akal dan Fakta Sejarah. Dan sebenarnya, Al-Masih itu sungguh-sungguh telah  mati sebagaimana para Nabi yang lain ‘Alahimus-salaam. Dan beliau menambahkan perkara itu agar jelas, beliau berkata:

“Sesungguhnya, kesimpulan hidupnya Isa di kalangan orang-orang terdahulu adalah berada dalam kesalahan. Maka, pikirkanlah: Adapun pada zaman ini kepercayaan yang salah ini benar-benar telah berubah menjadi ular yang akan mencaplok Islam… Maka, sejak keluarnya kaum Kristen mencapai kesempurnaannya dan kaum Kristen menganggap hidupnya Al-Masih itu sebagai dalil yang besar dan kuat atas hidupnya Isa, kepercayaan yang salah ini sungguh menjadi ‘bahaya yang dapat merobohkan’. Sebab, mereka ini mengatakan dengan ‘segala kekuatan dan mengulang-ulang’ bahwa sekiranya Al-Masih itu bukan sebagai Tuhan, maka bagaimana beliau bisa naik dan duduk di atas Arasy; dan apabila ada


kemungkinan manusia bisa naik ke langit dalam keadaan hidup, maka mengapa tidak ada seorangpun manusia yang bisa naik ke sana semenjak Adam hingga hari ini… Sesungguhnya, Islam di zaman ini dalam keadaan lemah dan menurun; dan kesimpulan hidupnya Al-Masih itu adalah senjata yang digunakan kaum Kristen untuk menyerang                      Islam;     dan   dengan   sarana   itulah,    anak keturunan      kaum  Muslimin                      dijadikan                buronan        bagi Kristenisasi.” (Malfuuzhaat, Juz VIII, halaman 337-345) 

Kemudian, beliau mengatakan tentang turunnya Al-Masih yang              disebutkan    dalam     beberapa     Hadits     bahwa sebenarnya               maksud         dari     turunnya adalah   lahirnya seseorang dari umat Islam ini yang menyerupai Al-Masih dalam sifat-sifatnya, akhlaknya, ruhaninya dan amal- perbuatannya, karena berita turunnya Isa di kalangan kaum Muslimin itu serupa benar dengan berita turunnya Elia dahulu, ia tidak turun dari langit sebagaimana apa yang mereka lihat, bahkan ia lahir di atas bumi dengan kelahiran secara tamsil (perserupaan) dan itu ada pada sosok Nabi Yuhana, yaitu Yahya ‘Alaihis-salaam.

Dan beliau, Sayyidina Ahmad ‘Alaihis-salaam menyajikan satu argumentasi seraya mengatakan:
“Ketahuilah oleh kalian baik-baik bahwa sesungguhnya tidak akan ada seorangpun yang turun dari langit. Sesungguhnya, semua penentang kami yang ada pada zaman ini akan menemui kematian, namun tidak akan ada seorangpun dari mereka yang melihat Isa ibnu Maryam turun dari langit selama-lamanya, kemudian anak-anak mereka yang menggantikan mereka akan mati juga. Namun selamanya, tidak akan ada seorangpun dari mereka melihat Isa ibnu Maryam turun dari langit, kemudian anak-anak mereka yang akan menggantikan mereka akan mati, namun tidak seorangpun juga dari mereka yang melihat Isa ibnu Maryam turun dari langit, kemudian anak-anak dari anak-anak mereka akan mati, namun mereka juga tidak akan melihat Ibnu Maryam turun dari langit dan ketika itu Allah menaruh kekacauan dalam hati mereka, lalu mereka merenungkan bahwa hari-hari kemenangan Salib telah sempurna, dan sesungguhnya dunia ini benar-benar telah berubah dengan sempurna, namun sesudah itu Isa ibnu Maryam tidak turun; maka, pada saat itulah orang-orang yang berakal lari dari aqidah ini sebagai satu penolakan, dan sebelum habis masa tiga abad dari zaman sekarang, kecuali datang rasa bosan dan keputusasaan yang sangat menguasai setiap orang yang menunggu-nunggu kedatangan Al-Masih Isa, baik ia seorang Muslim maupun seorang Kristen, lalu mereka menolak aqidah yang palsu ini; lalu satu agama dan satu pimpinan akan ada di dunia ini. Dan sesungguhnya, aku tidak datang kecuali untuk menanam benih ini, dan sungguh benih ini ditanam dengan tanganku, dan sekarang akan tumbuh lebih besar dan berkembang, dan tidak akan ada seorangpun berkuasa membelokkan jalannya”. (Tadzkiratu'sy-Syahaadatain, halaman 67)

Aqidah-aqidahnya

Beliau    ‘Alaihis-salaam    menyatakan    tentang    aqidah- aqidahnya dengan jelas:
“Adapun aqidah-aqidah kami yang telah ditetapkan oleh Allah, maka ketahuilah, wahai saudaraku bahwa: Kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan, dan kepada Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi, dan kami beriman kepada Al-Furqan (nama lain Alquran), sesungguhnya itu berasal dari Tuhan Yang Maha Pemurah, dan kami tidak menerima setiap yang menentang Al-Furqan dan setiap yang menyangkal penjelasannya, hukum-hukumnya dan kisah-kisahnya, meskipun itu termasuk perkara akal atau Atsar yang oleh Ahli Hadits dinamakan Hadits, atau Pendapat Sahabat, atau Pendapat Tabi’in; karena Al-Furqaanul-Kariim adalah


Kitab yang urut-urutannya telah ditetapkan lafazh demi lafazh, dan itu adalah wahyu yang dibacakan dengan pasti dan meyakinkan, maka siapa saja yang ragu terhadap kepastiannya, maka menurut kami ia adalah orang yang ingkar (kafir), tertolak (mardud) dan tergolong orang-orang fasiq. Dan Alquran itu adalah ketentuan dengan kepastian yang sempurna, dan itu memiliki martabat di atas martabat semua Kitab dan semua Wahyu. Tangan-tangan manusia tidak dapat menyentuhnya. Adapun Kitab-kitab lainnya dan Hadits, tidak bisa mencapai kedudukan ini.” (Tuhfatu Baghdad, halaman 31)

Dan beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam, kami beriman kepada Kitab Allah Al- Furqan, dan kami beriman bahwa sesungguhnya Pemimpin kami, Muhammad adalah Nabi-Nya dan Rasul- Nya, dan sesungguhnya beliau datang dengan membawa sebaik-baik agama, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi yang sesudahnya tidak akan ada Nabi … dan selamanya, tidak akan ada seorangpun yang termasuk golongan Muhammad yang mulia itu, kecuali orang yang bersamanya ada hiasan Khaatam-nya, dan ia memiliki bekas-bekas akibat pengaruh Sunnahnya, dan suatu amalan, dan ibadah tidak akan diterima, kecuali sesudah mengakui Kerasulannya, dan ketetapan agama dan syariatnya. Dan sungguh binasa, orang yang meninggalkannya dan ia tidak mengikuti semua Sunnahnya sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya… Kami tidak mempunyai Nabi di bawah langit ini selain Nabi kita yang terpilih (Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam), dan kami tidak mempunyai Kitab selain Alquran, dan setiap orang yang menentangnya, maka sebenarnya ia menarik dirinya sendiri kedalam Api Neraka. Dan siapa saja yang mengingkari Hadits-Hadits Nabi kita yang telah diteliti dan tidak menentang Alquran, maka ia adalah saudara Iblis dan ia benar-benar telah membeli kutukan untuk dirinya dan ia membuang iman… dan kami meyakini bahwa Shalat, Puasa, Zakat dan Haji adalah suatu Kewajiban dari Allah Yang Maha Mulia, maka siapa saja yang meninggalkannya dengan sengaja, tanpa ada alasan yang dibenarkan Allah, berarti ia sunguh-sungguh tersesat dari jalan yang benar.” (Mawahibur-Rahmaan, halaman 285-289) Dan beliau menyajikan dengan mengatakan, “Dan kami berkeyakinan bahwa sesungguhnya Surga itu benar, dan Neraka itu benar, dan Penghimpunan jasad-jasad itu benar, dan mukjizat para Nabi itu benar. 

Dan kami berkeyakinan    bahwa                            sesungguhnya                  keselamatan    itu adalah dalam Islam dan mengikuti Nabi kita Pemimpin makhluk. Dan setiap sesuatu yang menentang Islam, maka kami membebaskan dari itu, dan kami beriman kepada setiap yang dibawa Rasul kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meskipun kami tidak mengetahui hakikatnya yang luhur.” (Mir'aatu Kamaalati'l-Islaam, halaman 387-388)

Pemikirannya yang Tinggi Berasal dari Allah

Subchaana-Hu wa Ta’aalaa

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata, “Sesungguhnya Surga Firdaus kami adalah Tuhan kami, dan sesungguhnya kesenangan kami ada pada Tuhan kami, karena sesungguhnya kami telah melihatnya dan kami telah menemukan semua keindahan itu ada pada-Nya. Inilah perbendaharaan yang pantas dihimpun meskipun dengan mempertaruhkan jiwa, dan permata ini patut dibeli meskipun manusia harus mengorbankan segala yang ada untuk mendapatkannya. Wahai orang-orang yang mahrum (terluput dari kenikmatan itu)! Kemarilah kalian dengan segera menuju sumber mata air ini agar Dia menceriterakan kepada kalian bahwa sesungguhnya Dia itu Sumber air kehidupan Yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang aku perbuat, dan bagaimana aku menetapkan kabar suka ini ke dalam beberapa hati? Dengan rebana apa, aku mengundang agar manusia di pasar-pasar mendengar bahwa sesungguhnya Dia itu adalah                    Tuhan          kalian? Dan       dengan   obat           apa    aku mengobati, hingga telinga-telinga manusia itu menjadi berguna untuk mendengar?” (Safiinatu Nuuh, halaman 21-22) Dan beliau berkata, “Sesungguhnya Tuhan kami adalah Dia, Tuhan Yang Maha Hidup sekarang ini, sebagaimana Dia Maha Hidup sebelum itu; dan Dia Tuhan Yang berbicara sekarang, sebagaimana Dia berbicara sebelum itu;    dan     Dia                  Tuhan                      yang     sekarang mendengar, sebagaimana Dia mendengar sebelum itu. Suatu dugaan yang salah bahwa sekarang ini, 

Dia Subchaana-Hu wa Ta’aalaa mendengar, namun Dia tidak berbicara lagi. Sekali-kali          tidak,   bahkan                              sesungguhnya          Dia     itu mendengar dan berbicara juga. Sesungguhnya semua Sifat-Nya adalah azali dan abadi, tidak ada satu tanda bukti dari Sifat-Sifat-Nya yang menganggur, dan itu tidak akan menganggur selamanya. Sesungguhnya Dia itu Esa Yang      tidak          ada     sekutu bagi-Nya,  dan     Dia   tidak mempunyai anak, dan Dia juga tidak mempunyai istri. Sesungguhnya Dia itu Tunggal Yang tidak ada saingan bagi-Nya…    Sesungguhnya   Dia             itu    dekat        bersama kejauhan-Nya, dan sesungguhnya Dia itu jauh bersama kedekatan-Nya,   dan               sesungguhnya Dia itu mungkin menampakkan Diri-Nya kepada Ahli Kasyaf secara bayangan, karena Dia itu tidak berjisim dan tidak berbentuk. Dan Dia itu ada di atas segalanya, namun tidak mungkin Dia berbicara sedang seseorang berada di bawah-Nya, karena sesungguhnya, Dia itu ada di Arasy, namun tidak mungkin Dia berbicara sedang Dia tidak ada di bumi.” (Al-Washiyyah, halaman 309-310)

Kedudukan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Beliau berkata tentang pujian kepada Rasul yang mulia Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:


“Sesungguhnya cahaya yang lebih terang yang telah diberikan untuk manusia, aku maksudkan untuk manusia sempurna, bukanlah cahaya yang ada pada Malaikat, dan bukan cahaya pada bintang-bintang, dan bukan cahaya pada bulan, dan bukan cahaya pada matahari, dan bukan cahaya pada lautan di bumi dan bukan cahaya pada siang harinya, dan bukan cahaya yang ada pada batu permata, dan bukan cahaya yang ada pada batu mulia (yaqut), dan bukan cahaya yang ada pada permata (zamrud), dan bukan cahaya yang ada pada intan, dan bukan cahaya yang ada pada mutiara. Ringkasnya, cahaya itu tidak ada pada sesuatupun di bumi atau di langit, tetapi cahaya itu hanya ada pada manusia yang sempurna, itulah manusia yang paling lengkap, paling sempurna, paling tinggi, paling luhur dibandingkan pribadi manusia manapun, dan beliau itu adalah: Pemimpin kita dan Kekasih kita, Pemimpin para Nabi, yaitu Pemimpin orang-orang yang hidup, Muhammad Al-Mushthafa Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Mir'aatu Kamaalati'l Islaam, halaman 160-161)

Dan beliau berkata juga, “Sesungguhnya aku senantiasa melihat dengan mata kekaguman kepada Nabi berkebangsaan Arab ini yang namanya Muhammad ‘alaihi alfu alfi shalaatin wa salaamin (semoga atasnya sejuta rahmat dan salam). Alangkah luhur keadaan beliau! Tidak akan didapatkan setinggi kedudukannya yang luhur itu, dan bukan kekuatan manusia menguasai pengaruhnya yang suci. Maaf saja, sesungguhnya dunia tidak dapat menempatkannya pada kedudukan yang sebenarnya. Sesungguhnya beliau itu Pahlawan Tunggal yang mengembalikan tauhid ke dunia ini setelah hilang dari dunia ini. Sesungguhnya Allah sangat mencintai, dan Diri- Nya telah mencair dengan pujian yang sempurna kepada Makhluk Allah itu, oleh karena itu, maka sesungguhnya Allah Yang mengetahui di Singgasana-Nya memberikan kelebihan keutamaan di atas para Nabi semuanya, dan beliau paling utama dibandingkan dengan orang-orang yang dahulu dan orang-orang akhir semuanya, dan Dia telah membuktikan keutamaan itu dalam kehidupannya setiap saat yang Dia kehendaki.” (Haqiiqatu'l-Wahyi, halaman 118-119)

Dan beliau berkata sebagai penolakan atas sebagian pendeta yang mencaci-maki Nabi kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Mereka memfitnah Rasul yang mulia dengan kebohongan-kebohongan, dan mereka menyesatkan banyak makhluk dengan kebohongan yang dibuatnya. Dan tidaklah sesuatu menyakiti hatiku seperti olok-olok mereka mengenai keadaan Al-Mushthafa, dan cacian mereka mengenai kehormatan Makhluk yang terbaik. Demi Allah, seandainya semua bayiku, anak-anakku dan cucuku dibunuh di hadapan mataku, lalu tangan dan kakiku dipotong-potong, lalu biji mataku dikeluarkan, lalu aku dijauhkan dari tujuanku, lalu menjaminku dan memperlihatkan kepadaku… semua itu tidak lebih berat atasku daripada caci-makian itu.” (Mir'aatu Kamaalati'l-Islaam, halaman 15)

Kedudukan Alquranul-Karim

Dan beliau berkata tentang sifat Alquranul-Karim: “Demi Allah, sesungguhnya itu adalah mutiara yang sangat berharga. Luarnya cahaya, dan di dalamnya cahaya, dan di atasnya cahaya, dan di bawahnya cahaya, dan pada setiap lafazhnya dan kata-katanya adalah cahaya. Surga ruhani yang jejaknya dihinakan, dan sungai-sungai mengalir di bawahnya, setiap buah kebahagiaan terdapat di sana, dan setiap ilmu dikutip darinya, sedang selainnya adalah bubutan yang dipotong. Sumber-sumber kelimpahannya adalah makanan yang lezat, maka berbahagialah bagi orang-orang yang meminumnya. Dan cahaya-cahaya darinya benar-benar telah dialirkan ke dalam hatiku, maka tiada bagiku untuk mendapatkan itu


dengan cara lain. Demi Allah, seandainya tidak ada Alquran, maka tidak ada makanan bagi hidupku. Aku telah melihat keindahannya melebihi seratus ribu Yusuf, maka aku cenderung kepadanya dengan kecenderunganku yang sangat kuat, lalu Alquran itu dituangkan ke dalam hatiku. Alquran itulah yang mengasuhku, sebagaimana janin itu diasuh. Baginya ada goresan yang menakjubkan dalam hatiku, dan keindahannya membujuk diriku.” (Mir'aatu Kamaalati'l-Islaam, halaman 545)

Pendidikannya untuk Jamaahnya

Beliau ‘Alaihis-salaam berkata, “Tidak termasuk ke dalam Jamaahku, kecuali orang yang masuk agama Islam, dan mengikuti Kitab Allah, dan Sunnah-Sunnah Pemimpin kita, yaitu Muhammad sebaik-baik manusia, dan ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang mulia dan penyayang, dan ia beriman kepada Hari Penghimpunan dan Kehidupan sesudah mati, dan Surga serta Neraka Jahim. Dan ia berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam, dan ia akan mati di atas agama ini, yaitu agama fithrah … dan ia berpegang teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Mengetahui, dan ia beramal berdasarkan setiap ketetapan Sunnah, Alquran dan Ijma’ Sahabat yang mulia. Dan siapa saja yang telah meninggalkan tiga hal ini, berarti ia sungguh-sungguh telah meninggalkan dirinya dalam Api Neraka, sedang harapannya adalah kerusakan dan kebinasaan.

Maka ketahuilah oleh kalian wahai saudara-saudaraku bahwa sesungguhnya, iman itu tidak menjadi nyata, kecuali disertai amal shalih dan ketaqwaan, maka siapa saja yang telah meninggalkan amal itu dengan sengaja dan kesombongan, maka tidak ada iman baginya di sisi Tuhan Yang Maha Agung. Bertaqwalah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, dan segeralah menuju kebaikan-kebaikan, dan jauhilah keburukan-keburukan sebelum datang kematian.” (Mawaahibu'r-Rahmaan, halaman 315)

Selanjutnya beliau berkata, “Sekarang tidak ada seorang Rasul dan tidak ada seorang Penolong bagi semua anak Adam, kecuali Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib atas kalian cepat-cepat berupaya dengan segala daya untuk menumbuhkan ikatan kecintaan yang setia kepada Nabi Muhammad ini, yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, dan janganlah kalian mengutamakan selainnya dalam bentuk apapun melebihi keutamaan beliau, agar kalian dicatat di langit termasuk orang-orang yang selamat. Ingatlah kalian semua, bahwa sesungguhnya keselamatan itu bukan sesuatu yang akan tampak nyata sesudah mati, namun sesungguhnya keselamatan yang sebenarnya adalah keselamatan mendapatkan cahayanya di dunia ini juga.” (Safiinatu Nuh, halaman 13-14)

Masa Depan Jamaahnya

Beliau berkata tentang maksud perkembangan Jamaahnya:
“Dunia ini tidak mengenal aku, namun Tuhan Yang telah membangkitkan aku mengenalku. Sesungguhnya mereka ingin berbuat aniaya kepadaku disebabkan kesalahan dan kemalangan mereka sendiri yang sangat kuat. Sesungguhnya aku adalah Pohon yang telah ditanam oleh Tuhan Pemilik sejati dengan Tangan-Nya sendiri… wahai manusia, percayalah kalian bahwa bersamaku ada Tangan yang senantiasa memenuhi janji bersamaku hingga akhir urusan ini. Lalu, jika para lelaki dan para wanita kalian, para pemuda dan tetua kalian, orang-orang kecil dan para pembesar kalian semuanya berkumpul mengutuk dan berdoa kepada Allah Ta’aalaa untuk kehancuranku dalam ke-khusyu’-an dan kutukan, hingga hidung-hidung mereka menjadi pesek dimakan karat dan tangan-tangan mereka lumpuh, maka Allah tidak akan mengabulkan doa mereka, dan Dia tidak akan meninggalkan sehingga apa Yang Dia inginkan menjadi sempurna… Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri. Sesunggunya orang-orang yang dusta itu mempunyai wajah yang bukan wajah orang-orang yang tulus benar. Dan Allah Ta’aalaa tidak meninggalkan satu perkara tanpa Dia menetapkan keputusannya… sebagaimana Allah telah menghakimi di antara para Nabi- Nya dan orang-orang yang mendustakannya di masa lampau, maka sesungguhnya Dia Ta’aalaa akan menghakimi di masa sekarang juga. Sesungguhnya, kedatangan para Nabi Allah itu mempunyai tanda-bukti seperti itu. Maka percayalah kalian, sesungguhnya aku tidak datang tanpa tanda-bukti, dan aku tidak akan pergi tanpa tanda-bukti. Maka, janganlah kalian bermusuhan dengan Allah sebab kalian tidak akan bisa membencanaiku.” (Dhamiimatu't-Tuhfati'l-Jularwiyyah, halaman 49-50)

Dan beliau berkata, “Sungguh Allah Ta’aalaa memberikan kepadaku berita berulang-ulang dan berkali-kali bahwa sesungguhnya Dia akan memberikan kepadaku rizki kebesaran yang luar biasa, dan akan menguatkan kecintaanku kedalam semua hati; Dia akan mengembangkan Jamaahku di seluruh dunia, dan Dia akan menjadikan Jamaahku ini mengalahkan semua Firqah-firqah; dan Dia akan menjaga anak-anak Jamaahku dengan sempurna dalam ilmu dan makrifat di mana semua firqah dibuat bungkam dengan kekuatan cahaya kebenaran mereka, bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran mereka. Dan semua bangsa akan meminum dari sumber air ini. Dan Jamaah ini akan tumbuh dan berkembang dengan kekuatan luar biasa hingga Jamaah ini meliputi seluruh dunia. Di sana akan terjadi banyak bencana dan ujian-ujian, namun Allah akan menghilangkan semuanya dengan satu sistem dan dia akan menyempurnakan janji-Nya.

Dan sungguh, Allah telah berfirman kepadaku, 'Aku akan memberikan berkah demi berkah kepadamu sehingga Raja-raja akan mengambil berkah dengan pakaianmu.'” Kemudian    beliau    berkata,    “Wahai    para    pemerhati, dengarkanlah, kalian pasti mengerti. Dan peliharalah kabar-kabar ghaib ini dalam peti-peti kalian, karena itu adalah Firman Allah yang akan menjadi sempurna dengan pasti     dalam                         suatu              hari   dari            hari-hari   penampakan kemenangan itu.” (Tajliyyatu'l-Ilahiyyah, halaman 409-410) 

Kemudian beliau menyajikan lagi, “Dengarkanlah baik- baik, wahai             manusia         semuanya!  Sesungguhnya,            itu adalah sebagian yang telah dinubuwatkan oleh Pencipta semua langit dan bumi, bahwa sesungguhnya, Dia akan membentangkan Jamaah-nya ini di semua negara, dan Dia akan menjadikan mereka menang di atas semuanya dengan argumentasi dan bukti. 

Dan sungguh, hari-hari kemenangan             akan          datang,        bahkan                 sesungguhnya, kemenangan itu adalah dekat, ketika dakwa yang satu ini diperingatkan di jagat raya ini dengan keperkasaan dan kemuliaan.       

Sesungguhnya,                   Allah               akan               memberikan banyak berkat yang besar ke dalam Jamaah dan Dakwah ini, secara luar biasa yang menyalahi kebiasaan, dan Dia akan menggagalkan setiap keputusan orang yang akan membencanainya, dan kemenangan ini akan berlangsung hingga Allah mewarisi bumi dan semua orang yang berada di sana.” 
(Tadzkiratu'sy-Syahaadataini, halaman 66)

Jamaahnya di Masa Kini

Meskipun ada permusuhan dan pembencanaan, dengan pertolongan Allah Ta’aalaa, Jamaahnya ini senantiasa terpelihara dalam penerimaan, dan perkembangan dan penyebaran, sehingga di dunia ini, Jamaah ini berdiri kokoh di 170 negara lebih dalam tempo sekitar satu abad lebih, dan sejumlah pengikutnya yang ramah hidup berdampingan, dan Jamaah ini membuktikan pemenuhan yang besar dengan membangun ribuan masjid dan pusat- pusat dakwah dalam berbagai penjuru dunia untuk menyiarkan Islam dan mengukuhkannya di bawah penggembalaan dan kemuliaan para Khalifahnya yang mulia. Sebagaimana Jemaah ini telah diberi taufik untuk menyebarkan Alquranul-Karim dan terjemahan makna- maknanya lebih 50 bahasa dunia (kini 100 bahasa)-peny. Dan meskipun hanya sedikit sumber-sumbernya, Jamaah ini telah berusaha keras berjuang mengkhidmati kemanusiaan yang tertimpa BENCANA dan bangkit membantu penderitaan orang-orang FAKIR tanpa  memandan kepad asal-usu golonga dan agama, dalam berbagai tempat di dunia ini, khususnya di Afrika di mana Jamaah ini telah mendirikan banyak klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi. Demikian juga, dengan pertolongan Allah Ta’aalaa, Jemaat ini telah membuka saluran televisi Islam Internasional yang pertama (MTA Internasional), dan tujuannya satu, yaitu menyampaikan tabligh Islam ke semua penjuru dunia, dan Jamaah ini, telah menyiarkan programnya sepanjang waktu dengan berbagai macam bahasa dunia ke lima benua. Dan dengan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla, kami menceritakan bahwa sesungguhnya pemenuhan yang mulia ini telah melebihi keadaan dan kemampuan serta cara-cara dari semua negara Islam. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah itu adalah Pemilik karunia Yang Maha Agung.v


sumber : 

Almasih Sudah Datang 
          
          Penyusun: 

Arabic Desk Islamabad, Sheephatch Lane, Tilford, Farnhan, Surrey, GU10-2AQ, United Kingdom                 Penerjemah : Drs. Abdul Rozaq  Penerbit : Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2003

             


        

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...