ALMASIH SUDAH
DATANG
"Wahai
para pemerhati, dengarkanlah, kalian pasti mengerti. Dan peliharalah
kabar-kabar ghaib ini dalam peti-peti kalian, karena ini adalah Firman Allah
yang pasti akan menjadi sempurna pada suatu hari dari hari-hari kemenangan itu.”
(Tajliyyatu'l-Ilahiyyah, halaman 409-410)
NUBUWATAN-NUBUWATAN
yang terdapat dalam Alquranul- Karim dan Hadits-hadits
yang mulia diberitakan dengan suara lantang dari seseorang yang dibangkitkan
dalam umat Islam di zaman akhir ini dengan sifatnya sebagai Masih dan Mahdi
Yang Dijanjikan, agar ia mengembalikan iman dari bintang Tsurayya dengan
bimbingan Allah Taala, dan ia akan menjadi Hakim yang adil yang akan menghakimi
di antara kaum Muslimin tentang apa yang sedang mereka perselisihkan, dan ia
membersihkan aqidah-aqidah mereka dan amal-amal perbuatan mereka dari
kesalahan-kesalahan yang masuk ke dalamnya. Dan, beberapa nubuwatan menguatkan
juga bahwa orang yang dijanjikan ini menjadi pelayan yang mukhlis dan taat yang
membenarkan Pemimpin kita Muhammad, Shallallaahu
‘alaihi wa sallam, khaatam para
Nabi, dan beliau diberi tugas untuk menghidupkan pembaruan pelajaran Islam di kalangan kaum Muslimin, dan beliau
menetapkan keutamaan Islam serta memenangkannya di atas semua agama.
Kedatangan Orang Yang Dijanjikan
Bukti kebenaran nubuwatan ini, adalah: Allah ‘Azza wa Jalla telah membangkitkan Pemimpin kita Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad Al-Qadiyani ‘Alaihis-salaam (1835-1908)
di India. Beliau mengumumkan berdasarkan perintah Allah bahwa beliau adalah
Al-Masih dan Al-Mahdi untuk umat ini, dan orang Yang Dijanjikan, yang ditunggu kedatangannya
dalam agama-agama lain. Beliau ‘Alaihis-
salaam telah mendirikan Jamaahnya pada tahun 1889
agar mereka memikul
di atas pundak mereka kepentingan untuk meninggikan kalimah Islam.
Dakwah dan Tujuan Kebangkitannya
Beliau ‘Alaihis-salaam berkata
dengan menjelaskan bahwa tujuan yang diinginkan dari kebangkitannya yaitu, ”Sesungguhnya, akulah sosok manusia
yang dahulu telah dinubuwatkan akan dibangkitkan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla pada awal abad [empat belas
Hijriyah] ini untuk memperbaharui Agama, menegakkan sebagian pembaruan iman di
atas bumi ini, yang dahulu benar- benar pernah mencapai kemuliaan di atas
sebagian bumi ini, dan memukau dunia
dengan pertolongan Allah dan bimbingan Tangan-Nya; Dia Subchaana-Hu wa Ta’aalaa, membawa kepada perbaikan, ketaqwaan dan
kebenaran, serta meluruskan aqidah dan amaliyah mereka yang salah.” (Tadzkiratu'sy-Syahaadatain, halaman 3)
Selanjutnya, beliau menyajikan, “Dengarkanlah oleh kalian semua, wahai
para pemimpin, semoga Allah membimbing kalian ke jalan-jalan kebahagiaan… Allah
telah membangkitkan aku di awal seratus tahun ini, untuk memperbaharui agama (din)
dan menerangi wajah agama (millah)
ini, dan aku pecahkan salib serta aku padamkan api Nashrani, dan aku tegakkan
Sunnah Muhammad, Sebaik-baik Manusia,
dan aku memperbaiki apa yang telah rusak, dan aku percepat apa yang tidak laku.
Dan aku adalah Al-Masih Yang Dijanjikan dan Al-Mahdi Yang Dijanjikan. Allah
telah memberikan kenikmatan kepadaku dengan wahyu dan ilham, dan Dia telah
berwawan-sabda kepadaku sebagaimana Dia telah berwawan-sabda kepada para
Utusan-Nya yang mulia, dan Dia telah menyaksikan kebenaranku dengan tanda-tanda
bukti yang dapat kalian saksikan, dan Dia telah memperlihatkan wajahku dengan
cahaya-cahaya yang dapat kalian mengerti.” (Al-Istiftaa',
halaman 641)
Dan beliau
berkata, “Aku datang dari Allah untuk memecahkan salib yang kondisinya telah
dijunjung tinggi, dan aku membunuh babi, sehingga sesudah itu ia tidak akan
dihidupkan selamanya… dan sungguh janji-Nya adalah mengutus Al-Masih ituketika
Fitnah Salib berada dalam kesombongan dan kemenangan kesesatan kaum Kristen,
dan jika kalian dalam keadaan ragu terhadap apa yang telah kami katakan, maka
renungkanlah Sabda Nabi- Nya—yakni, aku maksudkan Sabda beliau—“Dia akan
memecahkan salib”, wahai orang-orang berakal?” (Mir'aatu
Kamaalaati'l-Islaam, halaman 437)
Kematian Al-Masih Isa ibnu Maryam
‘Alaihis-salaam
Beliau, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam
mengumumkan bahwa kepercayaan/aqidah hidupnya Isa ibnu Maryam ‘Alaihimaas-salaam dan turunnya dari langit
adalah aqidah yang salah dan kepercayaan itu menyangkal Alquran,
As-Sunnah, Akal dan Fakta Sejarah. Dan sebenarnya, Al-Masih itu sungguh-sungguh
telah
mati sebagaimana para Nabi yang lain ‘Alahimus-salaam. Dan beliau menambahkan perkara itu agar jelas,
beliau berkata:
“Sesungguhnya, kesimpulan hidupnya Isa di kalangan orang-orang
terdahulu adalah berada dalam kesalahan. Maka, pikirkanlah: Adapun pada zaman
ini kepercayaan yang salah ini benar-benar telah berubah menjadi ular yang akan
mencaplok Islam… Maka, sejak keluarnya kaum Kristen mencapai kesempurnaannya
dan kaum Kristen menganggap hidupnya Al-Masih itu sebagai dalil yang besar dan
kuat atas hidupnya Isa, kepercayaan yang salah ini sungguh menjadi ‘bahaya yang
dapat merobohkan’. Sebab, mereka ini
mengatakan dengan ‘segala kekuatan dan mengulang-ulang’ bahwa sekiranya
Al-Masih itu bukan sebagai Tuhan, maka bagaimana beliau bisa naik dan duduk di
atas Arasy; dan apabila ada
kemungkinan manusia bisa naik ke langit dalam keadaan hidup, maka
mengapa tidak ada seorangpun manusia yang bisa naik ke sana semenjak Adam
hingga hari ini… Sesungguhnya, Islam di zaman ini dalam keadaan lemah dan
menurun; dan kesimpulan hidupnya Al-Masih itu adalah senjata yang digunakan
kaum Kristen untuk menyerang Islam; dan dengan sarana itulah, anak keturunan kaum Muslimin dijadikan buronan bagi Kristenisasi.” (Malfuuzhaat, Juz
VIII, halaman 337-345)
Kemudian, beliau mengatakan tentang turunnya Al-Masih
yang disebutkan dalam beberapa Hadits bahwa
sebenarnya maksud dari turunnya adalah lahirnya
seseorang dari umat Islam ini yang menyerupai Al-Masih dalam sifat-sifatnya,
akhlaknya, ruhaninya dan amal- perbuatannya, karena berita turunnya Isa di
kalangan kaum Muslimin itu serupa benar dengan berita turunnya Elia dahulu, ia
tidak turun dari langit sebagaimana apa yang mereka lihat, bahkan ia lahir di
atas bumi dengan kelahiran secara tamsil (perserupaan) dan itu ada pada sosok
Nabi Yuhana, yaitu Yahya ‘Alaihis-salaam.
Dan beliau, Sayyidina Ahmad ‘Alaihis-salaam menyajikan satu
argumentasi seraya mengatakan:
“Ketahuilah oleh kalian baik-baik bahwa sesungguhnya tidak akan ada
seorangpun yang turun dari langit. Sesungguhnya, semua penentang kami yang ada
pada zaman ini akan menemui kematian, namun tidak akan ada seorangpun dari
mereka yang melihat Isa ibnu Maryam turun dari langit selama-lamanya, kemudian
anak-anak mereka yang menggantikan mereka akan mati juga. Namun selamanya,
tidak akan ada seorangpun dari mereka melihat Isa ibnu Maryam turun dari
langit, kemudian anak-anak mereka yang akan menggantikan mereka akan mati,
namun tidak seorangpun juga dari mereka yang melihat Isa ibnu Maryam turun dari
langit, kemudian anak-anak dari anak-anak mereka akan mati, namun mereka juga
tidak akan melihat Ibnu Maryam turun dari langit dan ketika itu Allah
menaruh kekacauan dalam hati mereka, lalu mereka merenungkan bahwa hari-hari
kemenangan Salib telah sempurna, dan sesungguhnya dunia ini benar-benar telah
berubah dengan sempurna, namun sesudah itu Isa ibnu Maryam tidak turun; maka,
pada saat itulah orang-orang yang berakal lari dari aqidah ini sebagai satu
penolakan, dan sebelum habis masa tiga abad dari zaman sekarang, kecuali datang
rasa bosan dan keputusasaan yang sangat menguasai setiap orang yang menunggu-nunggu
kedatangan Al-Masih Isa, baik ia seorang Muslim maupun seorang Kristen, lalu
mereka menolak aqidah yang palsu ini; lalu satu agama dan satu pimpinan akan
ada di dunia ini. Dan sesungguhnya, aku tidak datang kecuali untuk menanam
benih ini, dan sungguh benih ini ditanam dengan tanganku, dan sekarang akan
tumbuh lebih besar dan berkembang, dan tidak akan ada seorangpun berkuasa
membelokkan jalannya”. (Tadzkiratu'sy-Syahaadatain,
halaman 67)
Aqidah-aqidahnya
Beliau ‘Alaihis-salaam menyatakan tentang aqidah- aqidahnya dengan jelas:
“Adapun aqidah-aqidah kami yang telah ditetapkan oleh Allah, maka
ketahuilah, wahai saudaraku bahwa: Kami beriman kepada Allah sebagai Tuhan, dan
kepada Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa
sallam sebagai Nabi, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi, dan kami beriman
kepada Al-Furqan (nama lain Alquran),
sesungguhnya itu berasal dari Tuhan Yang Maha Pemurah, dan kami tidak menerima
setiap yang menentang Al-Furqan dan
setiap yang menyangkal penjelasannya, hukum-hukumnya dan kisah-kisahnya,
meskipun itu termasuk perkara akal atau Atsar
yang oleh Ahli Hadits dinamakan Hadits,
atau Pendapat Sahabat, atau Pendapat Tabi’in; karena Al-Furqaanul-Kariim adalah
Kitab yang urut-urutannya telah ditetapkan lafazh demi lafazh, dan itu
adalah wahyu yang dibacakan dengan pasti dan meyakinkan, maka siapa saja yang
ragu terhadap kepastiannya, maka menurut kami ia adalah orang yang ingkar (kafir), tertolak (mardud) dan tergolong orang-orang fasiq. Dan Alquran itu adalah
ketentuan dengan kepastian yang sempurna, dan itu memiliki martabat di atas
martabat semua Kitab dan semua Wahyu. Tangan-tangan
manusia tidak dapat menyentuhnya. Adapun Kitab-kitab lainnya dan Hadits,
tidak bisa mencapai kedudukan ini.” (Tuhfatu Baghdad, halaman 31)
Dan beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang
Islam, kami beriman kepada Kitab Allah Al-
Furqan, dan kami beriman bahwa sesungguhnya Pemimpin kami, Muhammad adalah
Nabi-Nya dan Rasul- Nya, dan sesungguhnya beliau datang dengan membawa
sebaik-baik agama, dan kami beriman bahwa beliau adalah Khaatam para Nabi yang
sesudahnya tidak akan ada Nabi … dan selamanya, tidak akan ada seorangpun yang
termasuk golongan Muhammad yang mulia itu, kecuali orang yang bersamanya ada
hiasan Khaatam-nya, dan ia memiliki
bekas-bekas akibat pengaruh Sunnahnya, dan suatu amalan, dan ibadah tidak akan
diterima, kecuali sesudah mengakui Kerasulannya, dan ketetapan agama dan
syariatnya. Dan sungguh binasa, orang yang meninggalkannya dan ia tidak
mengikuti semua Sunnahnya sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya… Kami tidak
mempunyai Nabi di bawah langit ini selain Nabi kita yang terpilih (Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam), dan
kami tidak mempunyai Kitab selain Alquran, dan setiap orang yang menentangnya,
maka sebenarnya ia menarik dirinya sendiri kedalam Api Neraka. Dan siapa saja
yang mengingkari Hadits-Hadits Nabi kita yang telah diteliti dan tidak
menentang Alquran, maka ia adalah saudara Iblis dan ia benar-benar telah
membeli kutukan untuk dirinya dan ia membuang iman… dan kami meyakini bahwa Shalat, Puasa, Zakat dan
Haji adalah suatu Kewajiban dari Allah Yang Maha Mulia, maka siapa saja yang
meninggalkannya dengan sengaja, tanpa ada alasan yang dibenarkan Allah, berarti
ia sunguh-sungguh tersesat dari jalan yang benar.” (Mawahibur-Rahmaan,
halaman 285-289) Dan beliau menyajikan dengan
mengatakan, “Dan kami berkeyakinan bahwa sesungguhnya Surga itu benar, dan
Neraka itu benar, dan Penghimpunan jasad-jasad itu benar, dan mukjizat para
Nabi itu benar.
Dan kami berkeyakinan bahwa sesungguhnya keselamatan itu adalah
dalam Islam dan mengikuti Nabi kita Pemimpin makhluk. Dan setiap sesuatu yang
menentang Islam, maka kami
membebaskan dari itu, dan kami beriman kepada setiap yang dibawa Rasul kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meskipun
kami tidak mengetahui hakikatnya yang luhur.” (Mir'aatu
Kamaalati'l-Islaam, halaman 387-388)
Pemikirannya
yang Tinggi Berasal dari Allah
Subchaana-Hu wa Ta’aalaa
Beliau ‘Alaihis-salaam berkata,
“Sesungguhnya Surga Firdaus kami adalah Tuhan kami, dan sesungguhnya kesenangan
kami ada pada Tuhan kami, karena sesungguhnya kami telah melihatnya dan kami
telah menemukan semua keindahan itu ada pada-Nya. Inilah perbendaharaan yang
pantas dihimpun meskipun dengan mempertaruhkan jiwa, dan permata ini patut
dibeli meskipun manusia harus mengorbankan segala yang ada untuk
mendapatkannya. Wahai orang-orang yang mahrum (terluput dari kenikmatan itu)!
Kemarilah kalian dengan segera menuju sumber mata air ini agar Dia
menceriterakan kepada kalian bahwa sesungguhnya Dia itu Sumber air kehidupan
Yang akan menyelamatkan kalian. Apa yang aku perbuat, dan bagaimana aku
menetapkan kabar suka ini ke dalam beberapa hati? Dengan rebana apa, aku
mengundang agar manusia di pasar-pasar mendengar bahwa sesungguhnya Dia itu adalah Tuhan kalian? Dan dengan obat apa aku mengobati,
hingga telinga-telinga manusia itu menjadi berguna untuk mendengar?” (Safiinatu Nuuh, halaman
21-22) Dan beliau berkata, “Sesungguhnya Tuhan kami adalah Dia, Tuhan Yang Maha Hidup sekarang ini, sebagaimana Dia
Maha Hidup sebelum itu; dan Dia Tuhan Yang berbicara sekarang, sebagaimana Dia
berbicara sebelum itu; dan Dia Tuhan yang sekarang mendengar, sebagaimana Dia mendengar
sebelum itu. Suatu dugaan yang salah bahwa sekarang ini,
Dia Subchaana-Hu wa Ta’aalaa mendengar,
namun Dia tidak berbicara lagi. Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya Dia itu mendengar dan berbicara juga.
Sesungguhnya semua Sifat-Nya adalah azali dan abadi, tidak ada satu tanda bukti
dari Sifat-Sifat-Nya yang menganggur, dan itu tidak akan menganggur selamanya.
Sesungguhnya Dia itu Esa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia tidak mempunyai anak, dan Dia juga tidak
mempunyai istri. Sesungguhnya Dia itu Tunggal Yang tidak ada saingan bagi-Nya… Sesungguhnya Dia itu dekat bersama kejauhan-Nya, dan sesungguhnya
Dia itu jauh bersama kedekatan-Nya, dan sesungguhnya Dia itu mungkin
menampakkan Diri-Nya kepada Ahli Kasyaf secara bayangan, karena Dia itu tidak
berjisim dan tidak berbentuk. Dan Dia itu ada di atas segalanya, namun tidak
mungkin Dia berbicara sedang seseorang berada di bawah-Nya, karena
sesungguhnya, Dia itu ada di Arasy, namun tidak mungkin Dia berbicara sedang
Dia tidak ada di bumi.” (Al-Washiyyah, halaman 309-310)
Kedudukan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
Beliau berkata
tentang pujian kepada Rasul yang mulia Shallallaahu
‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya cahaya yang lebih terang yang telah diberikan untuk
manusia, aku maksudkan untuk manusia sempurna, bukanlah cahaya yang ada pada
Malaikat, dan bukan cahaya pada
bintang-bintang, dan bukan cahaya pada bulan, dan bukan cahaya pada matahari,
dan bukan cahaya pada lautan di bumi dan bukan cahaya pada siang harinya, dan
bukan cahaya yang ada pada batu permata, dan bukan cahaya yang ada pada batu
mulia (yaqut), dan bukan cahaya yang ada pada permata (zamrud), dan bukan
cahaya yang ada pada intan, dan bukan cahaya yang ada pada mutiara. Ringkasnya,
cahaya itu tidak ada pada sesuatupun di bumi atau di langit, tetapi cahaya itu
hanya ada pada manusia yang sempurna, itulah manusia yang paling lengkap,
paling sempurna, paling tinggi, paling luhur dibandingkan pribadi manusia
manapun, dan beliau itu adalah: Pemimpin kita dan Kekasih kita, Pemimpin para
Nabi, yaitu Pemimpin orang-orang yang hidup, Muhammad Al-Mushthafa Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Mir'aatu Kamaalati'l Islaam, halaman 160-161)
Dan beliau berkata juga, “Sesungguhnya aku senantiasa melihat dengan
mata kekaguman kepada Nabi berkebangsaan Arab ini yang namanya Muhammad ‘alaihi alfu alfi shalaatin wa salaamin (semoga
atasnya sejuta rahmat dan salam).
Alangkah luhur keadaan beliau! Tidak akan didapatkan setinggi kedudukannya yang
luhur itu, dan bukan kekuatan manusia menguasai pengaruhnya yang suci. Maaf
saja, sesungguhnya dunia tidak dapat
menempatkannya pada kedudukan yang sebenarnya. Sesungguhnya beliau itu Pahlawan
Tunggal yang mengembalikan tauhid ke dunia ini setelah hilang dari dunia ini.
Sesungguhnya Allah sangat mencintai, dan Diri- Nya telah mencair dengan pujian
yang sempurna kepada Makhluk Allah itu, oleh karena itu, maka sesungguhnya
Allah Yang mengetahui di Singgasana-Nya memberikan kelebihan keutamaan di atas
para Nabi semuanya, dan beliau paling utama dibandingkan dengan orang-orang yang dahulu dan orang-orang
akhir semuanya, dan Dia telah membuktikan keutamaan itu dalam kehidupannya
setiap saat yang Dia kehendaki.” (Haqiiqatu'l-Wahyi, halaman 118-119)
Dan beliau berkata
sebagai penolakan atas sebagian pendeta yang mencaci-maki Nabi kita Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Mereka memfitnah Rasul yang mulia dengan kebohongan-kebohongan, dan
mereka menyesatkan banyak makhluk dengan kebohongan yang dibuatnya. Dan
tidaklah sesuatu menyakiti hatiku seperti olok-olok mereka mengenai keadaan Al-Mushthafa, dan cacian mereka mengenai
kehormatan Makhluk yang terbaik. Demi Allah, seandainya semua bayiku,
anak-anakku dan cucuku dibunuh di hadapan mataku, lalu tangan dan kakiku
dipotong-potong, lalu biji mataku dikeluarkan, lalu aku dijauhkan dari
tujuanku, lalu menjaminku dan memperlihatkan kepadaku… semua itu tidak lebih
berat atasku daripada caci-makian itu.” (Mir'aatu
Kamaalati'l-Islaam, halaman 15)
Kedudukan Alquranul-Karim
Dan beliau berkata tentang sifat Alquranul-Karim: “Demi Allah,
sesungguhnya itu adalah mutiara yang sangat berharga. Luarnya cahaya, dan di
dalamnya cahaya, dan di atasnya cahaya, dan di bawahnya cahaya, dan pada setiap
lafazhnya dan kata-katanya adalah cahaya. Surga ruhani yang jejaknya dihinakan,
dan sungai-sungai mengalir di bawahnya, setiap buah kebahagiaan terdapat di
sana, dan setiap ilmu dikutip darinya, sedang selainnya adalah bubutan yang dipotong.
Sumber-sumber kelimpahannya adalah makanan yang lezat, maka berbahagialah bagi
orang-orang yang meminumnya. Dan cahaya-cahaya darinya benar-benar telah
dialirkan ke dalam hatiku, maka tiada bagiku untuk mendapatkan itu
dengan cara lain. Demi
Allah, seandainya tidak ada Alquran, maka tidak ada makanan bagi hidupku. Aku
telah melihat keindahannya melebihi seratus ribu Yusuf, maka aku cenderung
kepadanya dengan kecenderunganku yang sangat kuat, lalu Alquran itu dituangkan
ke dalam hatiku. Alquran itulah yang mengasuhku, sebagaimana janin itu diasuh.
Baginya ada goresan yang menakjubkan dalam hatiku, dan keindahannya membujuk
diriku.” (Mir'aatu Kamaalati'l-Islaam, halaman 545)
Pendidikannya untuk Jamaahnya
Beliau ‘Alaihis-salaam berkata,
“Tidak termasuk ke dalam Jamaahku, kecuali orang yang masuk agama Islam, dan
mengikuti Kitab Allah, dan Sunnah-Sunnah Pemimpin kita, yaitu Muhammad
sebaik-baik manusia, dan ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang mulia dan
penyayang, dan ia beriman kepada Hari Penghimpunan dan Kehidupan sesudah mati,
dan Surga serta Neraka Jahim. Dan ia berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan
memilih agama selain agama Islam, dan ia akan mati di atas agama ini, yaitu
agama fithrah … dan ia berpegang
teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Mengetahui, dan ia beramal berdasarkan
setiap ketetapan Sunnah, Alquran dan Ijma’
Sahabat yang mulia. Dan siapa saja yang telah meninggalkan tiga hal ini,
berarti ia sungguh-sungguh telah meninggalkan dirinya dalam Api Neraka, sedang
harapannya adalah kerusakan dan kebinasaan.
Maka ketahuilah oleh kalian wahai saudara-saudaraku bahwa sesungguhnya,
iman itu tidak menjadi nyata, kecuali disertai amal shalih dan ketaqwaan, maka
siapa saja yang telah meninggalkan amal itu dengan sengaja dan kesombongan,
maka tidak ada iman baginya di sisi Tuhan Yang Maha Agung. Bertaqwalah kepada
Allah, wahai saudara-saudaraku, dan segeralah menuju kebaikan-kebaikan, dan
jauhilah keburukan-keburukan sebelum datang
kematian.” (Mawaahibu'r-Rahmaan, halaman 315)
Selanjutnya beliau berkata, “Sekarang tidak ada seorang Rasul dan tidak
ada seorang Penolong bagi semua anak Adam, kecuali Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka
wajib atas kalian cepat-cepat berupaya dengan segala daya untuk menumbuhkan
ikatan kecintaan yang setia kepada Nabi Muhammad ini, yang memiliki kebesaran
dan kemuliaan, dan janganlah kalian mengutamakan selainnya dalam bentuk apapun
melebihi keutamaan beliau, agar kalian dicatat di langit termasuk orang-orang
yang selamat. Ingatlah kalian semua, bahwa sesungguhnya keselamatan itu bukan
sesuatu yang akan tampak nyata sesudah mati, namun sesungguhnya keselamatan
yang sebenarnya adalah keselamatan mendapatkan cahayanya di dunia ini juga.” (Safiinatu Nuh, halaman
13-14)
Masa Depan Jamaahnya
Beliau berkata tentang maksud perkembangan Jamaahnya:
“Dunia ini tidak mengenal aku, namun Tuhan Yang telah membangkitkan aku
mengenalku. Sesungguhnya mereka ingin berbuat aniaya kepadaku disebabkan
kesalahan dan kemalangan mereka sendiri yang sangat kuat. Sesungguhnya aku
adalah Pohon yang telah ditanam oleh Tuhan Pemilik sejati dengan Tangan-Nya
sendiri… wahai manusia, percayalah kalian bahwa bersamaku ada Tangan yang
senantiasa memenuhi janji bersamaku hingga akhir urusan ini. Lalu, jika para
lelaki dan para wanita kalian, para pemuda dan tetua kalian, orang-orang kecil
dan para pembesar kalian semuanya berkumpul mengutuk dan berdoa kepada Allah Ta’aalaa untuk kehancuranku dalam ke-khusyu’-an dan kutukan, hingga
hidung-hidung mereka menjadi
pesek dimakan karat dan tangan-tangan mereka lumpuh, maka Allah tidak akan mengabulkan doa
mereka, dan Dia tidak akan meninggalkan sehingga apa Yang Dia inginkan menjadi
sempurna… Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri. Sesunggunya
orang-orang yang dusta itu mempunyai wajah yang bukan wajah orang-orang yang
tulus benar. Dan Allah Ta’aalaa tidak
meninggalkan satu perkara tanpa Dia menetapkan keputusannya… sebagaimana Allah
telah menghakimi di antara para Nabi- Nya dan orang-orang yang mendustakannya
di masa lampau, maka sesungguhnya Dia Ta’aalaa
akan menghakimi di masa sekarang juga. Sesungguhnya, kedatangan para Nabi
Allah itu mempunyai tanda-bukti seperti itu. Maka percayalah kalian,
sesungguhnya aku tidak datang tanpa tanda-bukti, dan aku tidak akan pergi tanpa
tanda-bukti. Maka, janganlah kalian bermusuhan dengan Allah sebab kalian tidak
akan bisa membencanaiku.” (Dhamiimatu't-Tuhfati'l-Jularwiyyah, halaman 49-50)
Dan beliau berkata, “Sungguh Allah Ta’aalaa
memberikan kepadaku berita berulang-ulang dan berkali-kali bahwa
sesungguhnya Dia akan memberikan kepadaku rizki kebesaran yang luar biasa, dan
akan menguatkan kecintaanku kedalam semua hati; Dia akan mengembangkan Jamaahku
di seluruh dunia, dan Dia akan menjadikan Jamaahku ini mengalahkan semua
Firqah-firqah; dan Dia akan menjaga anak-anak Jamaahku dengan sempurna dalam
ilmu dan makrifat di mana semua firqah dibuat bungkam dengan kekuatan cahaya
kebenaran mereka, bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran mereka. Dan semua
bangsa akan meminum dari sumber air ini. Dan Jamaah ini akan tumbuh dan
berkembang dengan kekuatan luar biasa hingga Jamaah ini meliputi seluruh dunia.
Di sana akan terjadi banyak bencana dan ujian-ujian, namun Allah akan menghilangkan semuanya dengan satu sistem dan dia akan menyempurnakan
janji-Nya.
Dan sungguh, Allah telah berfirman kepadaku, 'Aku akan memberikan
berkah demi berkah kepadamu sehingga Raja-raja akan mengambil berkah dengan pakaianmu.'” Kemudian beliau berkata, “Wahai para pemerhati,
dengarkanlah, kalian pasti mengerti. Dan peliharalah kabar-kabar ghaib ini
dalam peti-peti kalian, karena itu adalah Firman Allah yang akan menjadi
sempurna dengan pasti dalam suatu hari dari hari-hari penampakan
kemenangan itu.” (Tajliyyatu'l-Ilahiyyah, halaman 409-410)
Kemudian beliau menyajikan lagi, “Dengarkanlah baik-
baik, wahai manusia semuanya! Sesungguhnya, itu adalah sebagian yang telah dinubuwatkan
oleh Pencipta semua langit dan bumi, bahwa sesungguhnya, Dia akan membentangkan
Jamaah-nya ini di semua negara, dan Dia akan menjadikan mereka menang di atas
semuanya dengan argumentasi dan bukti.
Dan sungguh, hari-hari kemenangan akan datang, bahkan sesungguhnya, kemenangan itu adalah dekat,
ketika dakwa yang satu ini diperingatkan di jagat raya ini dengan keperkasaan
dan kemuliaan.
Sesungguhnya, Allah akan memberikan banyak berkat yang besar ke
dalam Jamaah dan Dakwah ini, secara luar biasa yang menyalahi kebiasaan, dan
Dia akan menggagalkan setiap keputusan orang yang akan membencanainya, dan
kemenangan ini akan berlangsung hingga Allah mewarisi bumi dan semua orang yang
berada di sana.”
(Tadzkiratu'sy-Syahaadataini, halaman 66)
Jamaahnya
di Masa Kini
Meskipun ada permusuhan dan pembencanaan, dengan pertolongan Allah Ta’aalaa, Jamaahnya ini senantiasa
terpelihara dalam penerimaan, dan perkembangan dan penyebaran, sehingga di
dunia ini, Jamaah ini berdiri kokoh di 170 negara lebih dalam tempo sekitar
satu abad lebih, dan sejumlah
pengikutnya yang ramah hidup berdampingan, dan Jamaah ini membuktikan pemenuhan
yang besar dengan membangun ribuan masjid dan pusat- pusat dakwah dalam
berbagai penjuru dunia untuk menyiarkan
Islam dan mengukuhkannya di bawah penggembalaan dan kemuliaan para Khalifahnya
yang mulia. Sebagaimana Jemaah ini telah diberi taufik untuk menyebarkan Alquranul-Karim dan terjemahan makna-
maknanya lebih 50 bahasa dunia (kini 100 bahasa)-peny. Dan meskipun hanya sedikit sumber-sumbernya,
Jamaah ini telah berusaha keras berjuang mengkhidmati kemanusiaan yang tertimpa BENCANA dan bangkit membantu penderitaan orang-orang FAKIR tanpa memandang kepada asal-usul golongan dan agama, dalam berbagai tempat di dunia ini, khususnya di Afrika di mana
Jamaah ini telah mendirikan banyak klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan
tinggi. Demikian juga, dengan pertolongan Allah Ta’aalaa, Jemaat ini telah membuka saluran televisi Islam Internasional
yang pertama (MTA Internasional), dan tujuannya satu, yaitu menyampaikan
tabligh Islam ke semua penjuru dunia, dan Jamaah ini, telah menyiarkan
programnya sepanjang waktu dengan berbagai macam bahasa dunia ke lima benua.
Dan dengan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla, kami menceritakan bahwa sesungguhnya
pemenuhan yang mulia ini telah melebihi keadaan dan kemampuan serta cara-cara
dari semua negara Islam. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja
yang Dia kehendaki, dan Allah itu adalah Pemilik karunia Yang Maha Agung.v
sumber :
Almasih Sudah Datang
Penyusun:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar