Perubahan Sosial : Budaya Nasional Indonesia
Sosial
Masyarakat : Perubahan
Indonesia
adalah negara begitu kaya akan alam dan manusianya, yang berbudi luhur, berbudaya dan penuh
dengan ciri sosial kemasyarakatan.
Perubahan
sosial di era milenial begitu menggerus Budi, budaya dan sifat sosial dari
masyarakat. Dari sisi perubahan sosial inilah yang merupakan inti dari
sosiologi menjadi tolok ukur
akan perubahan yang menggambarkan realitas sosialnya. (Haferkamp dan
Smelsera:1)
Pada abad 19 sosiologi lahir untuk memahami perubahan atau
transformasi fundamental dari masyarakat yang biasa biasa saja (baca
:tradisional) menjadi masyarakat yang
"berbudaya" (baca : milenial).
Arus transformasi yang begitu cepat sehingga Indonesia khususnya dengan puluhan ribu pulau,
berbagai etnis, budaya dan ras dengan dipengaruhi oleh luasnya laut dan kayanya
hutan. Menjadi negara yang "kuat" dimata negara lainnya. Sehingga negara-negara yang menjadi pemegang
modal besar ingin menjadi bagian dari Indonesia (baca : investasi) dengan kapitalisasinya.
Dimensi
Waktu : Penunjang Perubahan Sosial.
Giddens mengatkan bahwa “.. kita
harus memahami hubungan waktu - ruang yang melekat dalam tubuh semua interaksi
sosial. Setiap pola interaksi yang ada diletakan dalam waktu”. [1]
Contoh
interaksi sosial zaman old dan zaman now berubah dari berkumpul, berkunjung,
bercakap-cakap sambil kopi panas, melihat mimik raut muka dengan jelas, melihat
pintu rumah lalu mengetuknya dan mengucapkan salam, kini hanya tinggal pegang gadget
"kelar". Karna kaum milenial atau masyarakat zaman now lebih
memikirkan efisiensi waktu.
Times is Money, atau alwaqtu kasy-syaif
atau Waktu adalah Segalanya. Dengan
alat komunikasi semakin "canggih" dan tak terkendali, Sebenarnya apa yang berubah?
Sorokin
Mengatakan “..setiap
kejadian, perubahan, proses, gerakan, keadaan dinamis, secara tersirat
menyatakan waktu” .[2]
Dari pernyataan tersebut yang kita fahami adalah semua yang berubah adalah
waktu, time. Sedangkan kita hanyalah bagian dari perubahan waktu itu sendiri.
Dengan Bijaksana 1400 tahun lalu Yang Mulia Nabi Muhammad Saw
menyabdakan tentang begitu singkatnya waktu. Sebagaimana Anas Bin Malik Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
Tidak Akan
Terjadi Kiamat, Sehingga Waktu Terasa Pendek, Maka Setahun Dirasakan Seperti
Sebulan, Sebulan Dirasakan Seperti Semingggu, Seminggu Dirasakan Seperti
Sehari, Sehari Dirasakan Seperti Satu Jam Serta Satu Jam Dirasakan Seperti Satu
Kilatan Api. {Tirmidzi/Juz 4/Kitab Al-fitan/Bab Maa
Jaa Fi Taqarab Al-zaman/no.2339/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M}.
Jaringan
Sosial : Jejaring Sosial
Dengan
adanya perubahan waktu ini. Teknologi informasi menjadi ladang utama untuk
menggantikan "komukasi zaman old" yang melulu seperti disebutkan
tadi. Berkunjung dan ngopi. Dengan teknologi
informasi membuat suatu penemuan menjadi sempurna untuk digunakan sebagai
penunjang perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat. Anggap saja seperti
Jaringan sosial versi modern ( Alat Jejaring Sosial: Facebook, Twitter, Instagram dll) menjadi sarana baru untuk
silaturahmi mengefektifkan "waktu". Belum lagi berbagai aplikasi
lintas platform (Whatsapp, Line, Wechat, Telegram dll) menjadi semakin familiar bagi perubahan
kebiasaan masyarakat.
Semua
hal tersebut menjadi media sosial bagi kaum zaman now atau milenial. Dikatakan bahwa “jaringan sosial ini
merupakan ikatan penghubung dalam hubungan sosial yang beranggotakan manusia”.[3]
Teringat dengan kalimat dalam sebuah film "
menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang
jauh". Ketika kita sebagai pelaku dengan adanya gadget, realitas sosial inilah yang terjadi. Kita
bisa bercakap-cakap dengan siapapun dalam dunia nyata tapi bisa berkomunikasi
dengan siapapun di dunia Maya.
Sesuai dengan keadaan
tersebut tidaklah mengherankan junjungan kita Nabi Muhammad SAW telah
memberikan gambaran tentang bagaimana anggota keluarga ini bia terjadi
kesalahfahaman, kegaduhan, saling hina dll yang dilakukan oleh pengguna
jaringan social tadi dengan menggunakan alat komunikasi yang canggih. Sabdanya
adalah sebagai berikut :
Dari Ali Bin Abi
Thalib, ia berkata, Rasulullah saw
bersabda:Apabila umatku telah
melakukan 15 perkara, maka bala` pasti akan turun kepada
mereka, yakni : 1. Apabila
harta Negara hanya beredar pada
orang-orang tertentu, 2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan, 3.
Zakat dijadikan hutang, 4. Suami
memperturutkan kemauan istri, 5. Anak durhaka terhadap ibunya, 6.
Sedangkan ia berbuat baik dengan
temannya, 7. Dia menjauhkan diri dari ayahnya,
8. Suara- suara ditinggikan di dalam Masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu kaum adalah orang terhina di antara mereka, 10. Seseorang
dimuliakan karena ditakuti kejahatannya 11. khamar (Minuman keras) sudah diminum di segala tempat,
12. Kain Sutera banyak dipakai [oleh kaum laki-laki], 13. Para biduanita disanjung-
sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat atau
menyalahkan generasi pertama. Maka ketika itu hendaklah mereka menanti
angin merah atau gerhana dan gempa {Tirmidzi/Juz 4 /Kitab Al-fitan/Bab Maa
Jaa…/no.2217/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M}.
Budaya
Masyarakat Indonesia : Transformasi
Pertanyaan
kita adalah apakah kebudayaan nasional Indonesia? Indonesia yang kini menjadi
250juta jiwa penduduk adalah salah satu negara kuat dalam hal penduduk ( baca :
ribuan pulau, ratusan etnis, ratusan budaya adalah kekuatan bangsa) terkumpul dalam wadah BHINNEKA TUNGGAL IKA.
Berdasar Pancasila dan UUD 45. Menjadi slogan yang penuh daya magis bagi rakyat
Indonesia. Menjadi landasan untuk
membangun bahu membahu demi jayanya Indonesia.
Namun tentunya transformasi Sosial Budaya pun menjadi hal yang
dikhawatirkan dengan modern nya dunia saat ini.
Fathoni Mengatakan : “..Masalah kebudayaan nasional menyangkut
masalah kepribadian nasional, tidak hanya mengenai identitas kita sebagai bangsa, tetapi juga menyangkut soal tujuan kita
dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun dan menyangkut
soal motivasi kita untuk membangun”.[4]
Untuk pengembangan kebudayaan Indonesia sebenarnya bisa dengan cara mengkampanyekan untuk cintai dan beli
kemudian menghargai barang hasil industri dalam negeri[5]
apalagi dengan menurunnya nilai rupiah saat ini.
Selain
dari itu nilai luhur bangsa kita yang berbudaya ini ada dalam kebiasaan
masyarakat yang dahulu Jaya kini mulai tergerus oleh zaman adalah sifat gotong
royong yang diaplikasikan dalam kehidupan warga negara dengan tolong menolong
dan kerja bakti. Kedua hal tersebut kita merasakan bahwa kedua sifat itu
"punah" seolah kita hidup sendiri tanpa tetangga dan kerabat. Miris
jika jika masih hendak mengatakan kita bangsa besar namun saling tikam untuk
kekuasaan. Benar adanya adanya tolong menolong, gotong royong bahkan kerja
bakti namun lebih dikenal dikalangan elit politis untuk mengeruk sebanyak
banyaknya uang rakyat untuk pemuas syahwat semata. Ini salah satu
"budaya" baru dalam kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin
memprihatinkan. Kita modern tapi
"nomaden", kita milenial namun lebih mirip zaman kolonial. Patutkah
kita bangga dengan hanya kata merdeka?
[2] Ibid, Hal 46
[3]Ruddy
Agusyanto, Jaringan Sosial Dalam
Organisasi, Raja Grafindo Persada, Cet.
1 2007 Jakarta,Hal. 13
[4]Prof.
Dr. H. Abdurrahman Fathoni, Msi, Antropologi Sosial Budaya :Suatu Pengantar,
Cet12006, Rineka Cipta. Jakarta Hal.63.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar