Kamis, 02 April 2020

Perubahan Sosial : Budaya Nasional Indonesia


Perubahan Sosial : Budaya Nasional Indonesia

Sosial Masyarakat : Perubahan

Perubahan Sosial Menurut Para Ahli -Pengertian, Ciri, Contoh & Bentuk

Indonesia adalah negara begitu kaya akan alam dan manusianya,  yang berbudi luhur, berbudaya dan penuh dengan ciri sosial kemasyarakatan. 

Perubahan sosial di era milenial begitu menggerus Budi, budaya dan sifat sosial dari masyarakat. Dari sisi perubahan sosial inilah yang merupakan inti dari sosiologi menjadi tolok ukur akan perubahan yang menggambarkan realitas sosialnya. (Haferkamp dan Smelsera:1) 
Pada abad 19 sosiologi  lahir untuk memahami perubahan atau transformasi fundamental dari masyarakat yang biasa biasa saja (baca :tradisional)  menjadi masyarakat yang "berbudaya" (baca : milenial).  Arus transformasi yang begitu cepat sehingga Indonesia khususnya dengan puluhan ribu pulau, berbagai etnis, budaya dan ras dengan dipengaruhi oleh luasnya laut dan kayanya hutan. Menjadi negara yang "kuat" dimata negara lainnya.  Sehingga negara-negara yang menjadi pemegang modal besar ingin menjadi bagian dari Indonesia (baca : investasi)  dengan kapitalisasinya.
Dimensi Waktu : Penunjang Perubahan Sosial.

Giddens mengatkan bahwa  “.. kita harus memahami hubungan waktu - ruang yang melekat dalam tubuh semua interaksi sosial. Setiap pola interaksi yang ada diletakan dalam waktu”. [1]
Contoh interaksi sosial zaman old dan zaman now berubah dari berkumpul, berkunjung, bercakap-cakap sambil kopi panas, melihat mimik raut muka dengan jelas, melihat pintu rumah lalu mengetuknya dan mengucapkan salam, kini hanya tinggal pegang gadget "kelar".  Karna kaum milenial atau masyarakat zaman now lebih memikirkan efisiensi waktu. Times is Money,  atau alwaqtu kasy-syaif atau Waktu adalah Segalanya. Dengan alat komunikasi semakin "canggih" dan tak terkendali, Sebenarnya apa yang berubah? 
Sorokin Mengatakan “..setiap kejadian, perubahan, proses, gerakan, keadaan dinamis, secara tersirat menyatakan waktu .[2] Dari pernyataan tersebut yang kita fahami adalah semua yang berubah adalah waktu, time. Sedangkan kita hanyalah bagian dari perubahan waktu itu sendiri.
Dengan Bijaksana 1400 tahun lalu Yang Mulia Nabi Muhammad Saw menyabdakan tentang begitu singkatnya waktu. Sebagaimana Anas Bin Malik Meriwayatkan bahwa  Rasulullah saw bersabda :

Tidak Akan Terjadi Kiamat, Sehingga Waktu Terasa Pendek, Maka Setahun Dirasakan Seperti Sebulan, Sebulan Dirasakan Seperti Semingggu, Seminggu Dirasakan Seperti Sehari, Sehari Dirasakan Seperti Satu Jam Serta Satu Jam Dirasakan Seperti Satu Kilatan Api. {Tirmidzi/Juz 4/Kitab Al-fitan/Bab Maa Jaa Fi Taqarab Al-zaman/no.2339/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M}.

Jaringan Sosial : Jejaring Sosial

Dengan adanya perubahan waktu ini. Teknologi informasi menjadi ladang utama untuk menggantikan "komukasi zaman old" yang melulu seperti disebutkan tadi. Berkunjung dan ngopi.  Dengan teknologi informasi membuat suatu penemuan menjadi sempurna untuk digunakan sebagai penunjang perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat. Anggap saja seperti Jaringan sosial versi modern ( Alat Jejaring Sosial: Facebook, Twitter,  Instagram dll) menjadi sarana baru untuk silaturahmi mengefektifkan "waktu". Belum lagi berbagai aplikasi lintas platform (Whatsapp, Line, Wechat, Telegram dll)  menjadi semakin familiar bagi perubahan kebiasaan masyarakat.

Semua hal tersebut menjadi media sosial bagi kaum zaman now atau milenial.  Dikatakan bahwa jaringan sosial ini merupakan ikatan penghubung dalam hubungan sosial yang beranggotakan manusia”.[3] Teringat dengan kalimat dalam sebuah film  " menjauhkan yang dekat,  mendekatkan yang jauh". Ketika kita sebagai pelaku dengan adanya gadget,  realitas sosial inilah yang terjadi. Kita bisa bercakap-cakap dengan siapapun dalam dunia nyata tapi bisa berkomunikasi dengan siapapun di dunia Maya.

Sesuai dengan keadaan tersebut tidaklah mengherankan junjungan kita Nabi Muhammad SAW telah memberikan gambaran tentang bagaimana anggota keluarga ini bia terjadi kesalahfahaman, kegaduhan, saling hina dll yang dilakukan oleh pengguna jaringan social tadi dengan menggunakan alat komunikasi yang canggih. Sabdanya adalah sebagai berikut :
Dari Ali Bin Abi Thalib,  ia berkata, Rasulullah saw bersabda:Apabila umatku telah melakukan 15 perkara, maka bala` pasti akan turun kepada mereka, yakni : 1. Apabila harta Negara hanya  beredar pada orang-orang tertentu, 2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan, 3. Zakat dijadikan hutang, 4. Suami memperturutkan kemauan istri, 5. Anak durhaka terhadap  ibunya, 6. Sedangkan  ia berbuat baik dengan temannya, 7. Dia menjauhkan diri dari ayahnya, 8. Suara- suara ditinggikan di dalam Masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu  kaum adalah orang  terhina di antara mereka, 10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya 11. khamar (Minuman keras) sudah diminum di segala tempat, 12. Kain Sutera banyak dipakai [oleh kaum laki-laki], 13. Para biduanita disanjung- sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat atau menyalahkan generasi pertama. Maka ketika itu hendaklah mereka menanti angin  merah atau gerhana dan gempa {Tirmidzi/Juz 4 /Kitab Al-fitan/Bab Maa Jaa…/no.2217/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M}.

Budaya Masyarakat Indonesia : Transformasi

Pertanyaan kita adalah apakah kebudayaan nasional Indonesia? Indonesia yang kini menjadi 250juta jiwa penduduk adalah salah satu negara kuat dalam hal penduduk ( baca : ribuan pulau, ratusan etnis, ratusan budaya adalah kekuatan bangsa)  terkumpul dalam wadah BHINNEKA TUNGGAL IKA. Berdasar Pancasila dan UUD 45. Menjadi slogan yang penuh daya magis bagi rakyat Indonesia.  Menjadi landasan untuk membangun bahu membahu demi jayanya Indonesia.  Namun tentunya transformasi Sosial Budaya pun menjadi hal yang dikhawatirkan dengan modern nya dunia saat ini.
 Fathoni Mengatakan : “..Masalah kebudayaan nasional menyangkut masalah kepribadian nasional, tidak hanya mengenai identitas kita sebagai bangsa,  tetapi juga menyangkut soal tujuan kita dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun dan menyangkut soal motivasi kita untuk membangun”.[4] Untuk pengembangan kebudayaan Indonesia sebenarnya bisa dengan cara mengkampanyekan untuk cintai dan beli kemudian menghargai barang hasil industri dalam negeri[5] apalagi dengan menurunnya nilai rupiah saat ini.

Selain dari itu nilai luhur bangsa kita yang berbudaya ini ada dalam kebiasaan masyarakat yang dahulu Jaya kini mulai tergerus oleh zaman adalah sifat gotong royong yang diaplikasikan dalam kehidupan warga negara dengan tolong menolong dan kerja bakti. Kedua hal tersebut kita merasakan bahwa kedua sifat itu "punah" seolah kita hidup sendiri tanpa tetangga dan kerabat. Miris jika jika masih hendak mengatakan kita bangsa besar namun saling tikam untuk kekuasaan. Benar adanya adanya tolong menolong, gotong royong bahkan kerja bakti namun lebih dikenal dikalangan elit politis untuk mengeruk sebanyak banyaknya uang rakyat untuk pemuas syahwat semata. Ini salah satu "budaya" baru dalam kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin memprihatinkan.  Kita modern tapi "nomaden", kita milenial namun lebih mirip zaman kolonial. Patutkah kita bangga dengan hanya kata merdeka? 


[1]Sosiologi Perubahan Sosial Piotr Sztompka,  Prenada, Cet6 Agsts 2011 Jakarta,Hal. 45
[2] Ibid, Hal 46
[3]Ruddy Agusyanto,  Jaringan Sosial Dalam Organisasi,  Raja Grafindo Persada, Cet. 1 2007 Jakarta,Hal. 13
[4]Prof. Dr. H. Abdurrahman Fathoni, Msi, Antropologi Sosial Budaya :Suatu Pengantar, Cet12006, Rineka Cipta. Jakarta  Hal.63.
[5][5] Ibid, Hal.64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...