Agama, Ulama, Doa dan Surga : Kajian
(Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sesungguhnya ia telah mengambil bagian yang banyak. )
Agama
Agama [Sanskerta, a = tidak;
gama = kacau] artinya tidak kacau. Kata inilah yang senantiasa digunakan untuk
menterjemahkan kata Diin ( Arab) yang selalu kita dapati dalam terjemah teks
Alquran maupun Sabda Nabi Muhammad Saw dalam kumpulan hadisnya.
Kata Din muncul dalam sebanyak 79 ayat dalam
Al-Qur'an, tetapi karena tidak ada definisi terjemahan yang tepat, istilah
tersebut menjadi subyek kesalahpahaman dan perbedaan pendapat. Misalnya,
istilah ini sering diterjemahkan dalam bagian Al-Qur'an sebagai "agama".
Namun, dalam Al Qur'an itu sendiri, tindakan penyerahan kepada Tuhan selalu
disebut sebagai Din, bukan sebagai "mazhab" ( مذهب) yang
merupakan kata dalam bahasa Arab untuk "agama".
istilah Dīn juga banyak digunakan dalam terjemahan
Al-Qur'an dalam arti yang lain. Yang paling terkenal dalam al-Fatihah. istilah
ini diterjemahkan di hampir semua terjemahan sebagai "penghakiman".[1]
Din secara bahasa
dimaksudkan kepada beberapa makna:
1.
Kerajaan dan kekuasaan. Sebagaimana dalam
firman-Nya تعالى: {Tiadalah patut Yusuf menghukum
saudaranya menurut din (undang-undang) Raja.} (QS. Yusuf: 76)
2. Ajaran. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Bagi
kalian din (ajaran) kalian dan bagiku dinku.} (QS. Al-Kafirun: 6)
3. Hukum. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Dan
perangilah mereka sampai tidak ada fitnah lagi dan din (hukum) itu seluruhnya
hanya milik Allah.}(QS. Al-Anfaal: 39)
4. Undang-undang yang
Allah ridai untuk hamba-hamba-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Dia telah
mensyari'atkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh
}(QS. Asy-Syuroo: 13)
5. Menghinakan diri dan
tunduk. Dikatakan: "din kepada
fulan" yaitu tunduk dan menghinakan diri kepadanya
Ulama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Ulama/ula·ma/ n orang
yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam: ia seorang --
besar pada zaman kebangkitan Islam
-- khalaf ulama yang hidup pada
masa sekarang;
-- salaf 1 para ahli ilmu agama mulai dari para sahabat Nabi Muhammad saw. sampai ke pengikut terdekat sesudahnya; 2 ulama yang mendasarkan pandangannya pada paham kemurnian ortodoks.[3]
-- salaf 1 para ahli ilmu agama mulai dari para sahabat Nabi Muhammad saw. sampai ke pengikut terdekat sesudahnya; 2 ulama yang mendasarkan pandangannya pada paham kemurnian ortodoks.[3]
Ulama
(Arab:العلماء
al-`Ulamā`, tunggal
عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau
pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam
baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan
baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam
bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah
ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang
yang ahli dalam ilmu agama Islam. (Wikipedia).
Menurut Alquran dalam Surat Fathir : 27-28
Apakah engkau tidak melihat, bahwa Allah menurunkan air dari awan,
dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di
gunung- gunung ada garis-garis putih dan merah, dengan beraneka macam warnanya,
dan ada yang sehitam burung gagak?
Dan demikian juga di antara manusia dan hewan berkaki empat dan
binatang ternak, bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari
hamba- hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa,
Maha Pengampun.
Ada Sabda Nabi Muhammad SAW demikian :
وَعَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رسولُ اللهِ صلّي الله عليه و سلّم:يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ
عَلَي النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَي مِنَ
الْاِسْلاَمِ اِلاَّ اسْمُهُ وَ لاَ يَبْقَي
مِنَ الْقُرْآنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَ هِيَ خَرَابٌ
مِنَ الْهُدي عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ اَدِيْمِ السَّمَاءِ مِنْ
عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ ( مشكاة المصابيح/جلد 1/ كتاب العلم / نمرة 276/دارالكتب العلمية/بيروت-لبنان/2003 م)
Artinya:Dari Ali berkata:Rasulullah Saw
bersabda: Akan datang suatu zaman kepada manusia dimana tiada tersisa dari
islam kecuali hanya namanya saja dan tiada tertinggal dari Al-qur’an kecuali
hanya tulisannya saja masjid-masjid begitu megah namun ia kosong dari
petunjuk Ulama mereka seburuk -buruk
manusia di bawah kolong langit dari
mereka keluar fitnah dan kepada mereka juga kembalinya {Misykat/Jilid I /kitab
Al-‘ilm/no.276/Dar al-kutub al-‘ilmiyah/Beirut-libanon/2003 M}.
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin
Khidaasyi Al Baghdadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Yazid Al Wasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin
Rajaa’ bin Haywaah dari Qais bin Katsiir yang berkata seorang laki-laki dari
Madinah datang kepada Abu Darda’ ketika ia berada Di Damasykus.
Abu Darda’
bertanya “apa keperluanmu datang kesini wahai saudaraku?”. Ia berkata “ada
perkataan yang sampai kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadis Rasulullah
[shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Abu Darda’ berkata “tidakkah kamu ada
keperluan lain?”. Ia berkata “tidak”. Abu Darda’ bertanya “tidakkan kamu datang
untuk berdagang?”. Ia berkata “tidak”. Ia berkata “tidaklah aku datang kecuali
untuk mencari hadis”.
Abu Darda’ berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu
‘alaihi wasallam] bersabda barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari
ilmu maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para
malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka kepada para
penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan oleh
penghuni langit dan bumi bahkan oleh ikan paus yang ada di lautan. Keutamaan
ahli ilmu di atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas bintang-bintang.
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para
Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan
ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sesungguhnya ia telah mengambil
bagian yang banyak.
Abu
Isa [At Tirmidzi] berkata “kami tidak mengenal hadis ini kecuali dari hadis
‘Aashim bin Rajaa’ bin Haywah dan tidaklah hadisnya disisi kami muttashil
[bersambung]. Seperti inilah Mahmud bin Khidasy menceritakan hadis ini kepada
kami dan sesungguhnya telah diriwayatkan hadis ini dari ‘Aashim bin Rajaa’ bin
Haywaah dari Walid bin Jamil dari Katsir bin Qais dari Abu Darda’ dari Nabi
[shallallahu ‘alaihi wasallam], hadis ini lebih shahih dari hadis Mahmud bin
Khidasy dan Muhammad bin Isma’il [Bukhari] juga berpandangan bahwa hadis ini
lebih shahih. [Sunan
Tirmidzi 5/48 no 2682]
Doa
Menurut
bahasa do’a berasal dari Bahasa
Arab الدعاء yang merupakan bentuk masdar dari
mufrad داعى yang memiliki bermacam-macam arti.
Dalam kamus Bahasa Arab di bawah judul huruf د, ع, و disebutkan
sebagai berikut:
1. داعى, يدعو, دعوة artinya menyeru, memanggil.
2. داعي, يدعو, دعاء artinya memanggil, mendoa, memohon, meminta.
3. Dalam bentuk
jama’nya ادعية artinya doa, permohonan, permintaan.
4. دعاء له artinya
mendoakan kebaikan kepadanya.
5. دعاء عليه artinya
mendoakan keburukan atau kejahatan kepadanya.
6. داع artinya
orang yang memanggil, orang yang menyeru, orang yang memohon.
7. Dan الدعاء adalah
bentuk masdarnya, yang pada umumnya diartikan sebagai suatu keinginan yang
besar kepada Allah SWT dan pujian kepadaNya.[4]
Surga
Sorga, atau juga surga (bahasa Sanskerta svarga, स्वर्ग, "kayangan") Svarga diserap dalam bahasa jawa
dengan kata Swarga. Dalam Bahasa Arab kata surga biasa untuk menterjemahkan
kata Jannah. Juga biasa di terjemahkan dengan Kebun, Kata Jannah ini. Sedangkan
Istilah Kahyangan berasal dari bahasa
sanskerta yang
jika dipilah menjadi ka-hyang-an,
atau bermakna "tempat tinggal para Hyang atau leluhur". Sebelum masuknya agama
Hindudan Buddha, masyarakat Nusantara di pulau
Jawa dan Bali, seperti masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali sudah menganut agama pribumi berupa
pemujaan terhadap arwah leluhur. Mereka menyebut leluhur mereka dengan
istilah Hyang dan tempat tinggal mereka di alam gaib
disebut kahyangan.
Dengan masuknya agama Hindu dan Buddha, maka
istilah Swarga pun
dipakai berdampingan dengan istilah Kahyangan,
karena Swarga juga bermakna
tempat tinggal para roh yang selama hidupnya berbuat kebaikan.
Dalam tradisi Jawa baru, istilah Kahyangan dipakai untuk menyebut
tempat tinggal para dewa dan bidadari.
Sementara istilah Swarga tetap
dipakai untuk menyebut tempat tinggal para roh yang semasa hidup bertindak
penuh kebajikan sesuai dengan aturan agamanya.[5]
Kata al-jannah dalam Al-Qur’an
dijumpai sebanyak 143 kali pada berbagai surah, baik dalam bentuk kata tunggal
(al-mufrad) maupun dalam bentuk kata dua (al-mutsanna) ataupun dalam bentuk
kata banyak (al-jamak).
Adapun kata jannah jika dikaitkan
dengan kata lain dibelakangnya bisa mengandung beberapa makna. Berikut adalah
contohnya:
1.
Jannatu-Adnin yang bermakna Surga Eden : QS
An-Nahl(16):31 , QS Al-Kahfi(18):31, QS Tha Ha(20):76, QS Maryam(19):61, QS
Fathir(35):33, QS Shad(38):50, QS Al-Mu’min(40):8.
2. Jannatu-Naim yang
bermakna Surga penuh Nikmat: QS Al-Hajj(22):56, QS Luqman(31):8,
QS Al-Shaffat(37):43, QS Al-Ma’rij(70):38, QS Yunus(10):9, QSAl-Qalam(68):34,
QS An-infithar(82):13, QS Al-Bayyinah(98):8.
3.
Jannatul-Khuldi yang bermakna Surga Hidup Kekal:
QS Al-Furqan(25):15
4.
Jannatul Makwa yang bermakna Surga Penuh Tenteram:
QS Al-Najm(53):15, QS Al-Sajadah(32):19, QS Al-Nazi’at(79):41.
5.
Jannatul Firdaus yang bermakna Surga Firdaus:
QSAl-Mu’minun(23):11.
Namun, Jika Jannah itu berdiri sendiri, tanpa ada kaitan
dengan kata lain dibelakangnya, maka kata al-Jannah itu bisa bermakna sebagai
berikut :
1. Kebun Tamar (Kurma): QS Al-Baqarah(2):266, QS Al-Ra’d(13):4, QS
Al-Mukminun(23):19, QS Al-Isra’(17):91
2.
Kebun Anggur:
QS Al-Kahfi(18):32, QS Al-Baqarah(2):266, QS AL-An’am(6):99, QS
Al-Mu’minun(23):19, QS Al-Isra’(17):91
3.
Kebun di Lereng Bukit: QS Al-Baqarah(2):265
4.
Kebun :
QS Al-Syu’ara(26):134, QS Al-An’am(6):141, QS Al-Kahfi(18):33,35,39,40
[2](https://www.kompasiana.com/imamfatahillah/552b30b9f17e61817ad623ee/apa-arti-din akses 15 september
2018)
[6](https://ronyastrajingga.blogspot.com/2013/12/pengertian-jannah-dalam-al-quran.html akses 15 september
2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar