Kamis, 02 April 2020

Agama, Ulama, Doa dan Surga : Kajian

Agama, Ulama, Doa dan Surga : Kajian

(Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sesungguhnya ia telah mengambil bagian yang banyak. )


 Agama

Agama [Sanskerta, a = tidak; gama = kacau] artinya tidak kacau. Kata inilah yang senantiasa digunakan untuk menterjemahkan kata Diin ( Arab) yang selalu kita dapati dalam terjemah teks Alquran maupun Sabda Nabi Muhammad Saw dalam kumpulan hadisnya. 
Kata Din muncul dalam sebanyak 79 ayat dalam Al-Qur'an, tetapi karena tidak ada definisi terjemahan yang tepat, istilah tersebut menjadi subyek kesalahpahaman dan perbedaan pendapat. Misalnya, istilah ini sering diterjemahkan dalam bagian Al-Qur'an sebagai "agama". Namun, dalam Al Qur'an itu sendiri, tindakan penyerahan kepada Tuhan selalu disebut sebagai Din, bukan sebagai "mazhab" ( مذهب) yang merupakan kata dalam bahasa Arab untuk "agama".
istilah Dīn juga banyak digunakan dalam terjemahan Al-Qur'an dalam arti yang lain. Yang paling terkenal dalam al-Fatihah. istilah ini diterjemahkan di hampir semua terjemahan sebagai "penghakiman".[1]
Din secara bahasa dimaksudkan kepada beberapa makna:
1.      Kerajaan dan kekuasaan. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut din (undang-undang) Raja.} (QS. Yusuf: 76)
2.       Ajaran. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Bagi kalian din (ajaran) kalian dan bagiku dinku.} (QS. Al-Kafirun: 6)
3.       Hukum. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah lagi dan din (hukum) itu seluruhnya hanya milik Allah.}(QS. Al-Anfaal: 39)
4.      Undang-undang yang Allah ridai untuk hamba-hamba-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh }(QS. Asy-Syuroo: 13)
5.      Menghinakan diri dan tunduk.  Dikatakan: "din kepada fulan" yaitu tunduk dan menghinakan diri kepadanya
6.      Balasan. Sebagaimana dalam firman-Nya تعالى: {Yang menguasai hari din} yaitu hari pembalasan.[2]

Ulama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Ulama/ula·ma/ n orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam: ia seorang -- besar pada zaman kebangkitan Islam
-- khalaf ulama yang hidup pada masa sekarang;
-- salaf 1 para ahli ilmu agama mulai dari para sahabat Nabi Muhammad saw. sampai ke pengikut terdekat sesudahnya; 2 ulama yang mendasarkan pandangannya pada paham kemurnian ortodoks.[3]
Ulama (Arab:العلماء al-`Ulamā`, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam. (Wikipedia).

Menurut Alquran dalam Surat Fathir : 27-28
Apakah engkau tidak melihat, bahwa Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung- gunung ada garis-garis putih dan merah, dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?

Dan demikian juga di antara manusia dan hewan berkaki empat dan binatang ternak, bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba- hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.

Ada Sabda Nabi Muhammad SAW demikian : 

وَعَنْ  عَلِيٍّ  قَالَ:   قَالَ رسولُ اللهِ صلّي الله عليه و سلّم:يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَي النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَي  مِنَ الْاِسْلاَمِ اِلاَّ اسْمُهُ وَ لاَ يَبْقَي  مِنَ الْقُرْآنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَ هِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدي عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ اَدِيْمِ السَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ (  مشكاة المصابيح/جلد 1/ كتاب العلم / نمرة  276/دارالكتب العلمية/بيروت-لبنان/2003 م)
Artinya:Dari Ali  berkata:Rasulullah Saw bersabda: Akan datang suatu zaman kepada manusia dimana tiada tersisa dari islam kecuali hanya namanya saja dan tiada tertinggal dari Al-qur’an kecuali hanya tulisannya saja masjid-masjid begitu megah namun ia kosong dari petunjuk  Ulama mereka seburuk -buruk manusia di bawah kolong langit  dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka juga kembalinya {Misykat/Jilid I /kitab Al-‘ilm/no.276/Dar al-kutub al-‘ilmiyah/Beirut-libanon/2003 M}.


Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khidaasyi Al Baghdadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid Al Wasithiy  yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin Rajaa’ bin Haywaah dari Qais bin Katsiir yang berkata seorang laki-laki dari Madinah datang kepada Abu Darda’ ketika ia berada Di Damasykus. 

Abu Darda’ bertanya “apa keperluanmu datang kesini wahai saudaraku?”. Ia berkata “ada perkataan yang sampai kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Abu Darda’ berkata “tidakkah kamu ada keperluan lain?”. Ia berkata “tidak”. Abu Darda’ bertanya “tidakkan kamu datang untuk berdagang?”. Ia berkata “tidak”. Ia berkata “tidaklah aku datang kecuali untuk mencari hadis”. 

Abu Darda’ berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka Allah akan membuka jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya karena keridhaan mereka kepada para penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi bahkan oleh ikan paus yang ada di lautan. Keutamaan ahli ilmu di atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di atas bintang-bintang

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sesungguhnya ia telah mengambil bagian yang banyak. 

Abu Isa [At Tirmidzi] berkata “kami tidak mengenal hadis ini kecuali dari hadis ‘Aashim bin Rajaa’ bin Haywah dan tidaklah hadisnya disisi kami muttashil [bersambung]. Seperti inilah Mahmud bin Khidasy menceritakan hadis ini kepada kami dan sesungguhnya telah diriwayatkan hadis ini dari ‘Aashim bin Rajaa’ bin Haywaah dari Walid bin Jamil dari Katsir bin Qais dari Abu Darda’ dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], hadis ini lebih shahih dari hadis Mahmud bin Khidasy dan Muhammad bin Isma’il [Bukhari] juga berpandangan bahwa hadis ini lebih shahih. [Sunan Tirmidzi 5/48 no 2682]

Doa
Menurut bahasa do’a berasal dari Bahasa Arab الدعاء yang merupakan bentuk masdar dari mufrad داعى yang memiliki bermacam-macam arti. Dalam kamus Bahasa Arab di bawah judul huruf د, ع, و disebutkan sebagai berikut:
1. داعى, يدعو, دعوة artinya menyeru, memanggil.
2. داعي, يدعو, دعاء artinya memanggil, mendoa, memohon, meminta.
3. Dalam bentuk jama’nya ادعية artinya doa, permohonan, permintaan.
4. دعاء له artinya mendoakan kebaikan kepadanya.
5. دعاء عليه artinya mendoakan keburukan atau kejahatan kepadanya.
6. داع artinya orang yang memanggil, orang yang menyeru, orang yang memohon.
7. Dan الدعاء adalah bentuk masdarnya, yang pada umumnya diartikan sebagai suatu keinginan yang besar kepada Allah SWT dan pujian kepadaNya.[4]

Surga
Sorga, atau juga surga (bahasa Sanskerta svarga, स्वर्ग, "kayangan") Svarga diserap dalam bahasa jawa dengan kata Swarga. Dalam Bahasa Arab kata surga biasa untuk menterjemahkan kata Jannah. Juga biasa di terjemahkan dengan Kebun, Kata Jannah ini. Sedangkan Istilah Kahyangan berasal dari bahasa sanskerta yang jika dipilah menjadi ka-hyang-an, atau bermakna "tempat tinggal para Hyang atau leluhur". Sebelum masuknya agama Hindudan Buddha, masyarakat Nusantara di pulau Jawa dan Bali, seperti masyarakat SundaJawa, dan Bali sudah menganut agama pribumi berupa pemujaan terhadap arwah leluhur. Mereka menyebut leluhur mereka dengan istilah Hyang dan tempat tinggal mereka di alam gaib disebut kahyangan.
Dengan masuknya agama Hindu dan Buddha, maka istilah Swarga pun dipakai berdampingan dengan istilah Kahyangan, karena Swarga juga bermakna tempat tinggal para roh yang selama hidupnya berbuat kebaikan.
Dalam tradisi Jawa baru, istilah Kahyangan dipakai untuk menyebut tempat tinggal para dewa dan bidadari. Sementara istilah Swarga tetap dipakai untuk menyebut tempat tinggal para roh yang semasa hidup bertindak penuh kebajikan sesuai dengan aturan agamanya.[5]
Kata al-jannah dalam Al-Qur’an dijumpai sebanyak 143 kali pada berbagai surah, baik dalam bentuk kata tunggal (al-mufrad) maupun dalam bentuk kata dua (al-mutsanna) ataupun dalam bentuk kata banyak (al-jamak).
Adapun kata jannah jika dikaitkan dengan kata lain dibelakangnya bisa mengandung beberapa makna. Berikut adalah contohnya:
1.      Jannatu-Adnin yang bermakna Surga Eden : QS An-Nahl(16):31 , QS Al-Kahfi(18):31, QS Tha Ha(20):76, QS Maryam(19):61, QS Fathir(35):33, QS Shad(38):50, QS Al-Mu’min(40):8.
2. Jannatu-Naim yang bermakna Surga penuh Nikmat: QS Al-Hajj(22):56, QS Luqman(31):8, QS Al-Shaffat(37):43, QS Al-Ma’rij(70):38, QS Yunus(10):9, QSAl-Qalam(68):34, QS An-infithar(82):13, QS Al-Bayyinah(98):8.
3.      Jannatul-Khuldi yang bermakna Surga Hidup Kekal: QS Al-Furqan(25):15
4.      Jannatul Makwa yang bermakna Surga Penuh Tenteram: QS Al-Najm(53):15, QS Al-Sajadah(32):19, QS Al-Nazi’at(79):41.
5.      Jannatul Firdaus yang bermakna Surga Firdaus: QSAl-Mu’minun(23):11.

Namun, Jika  Jannah itu berdiri sendiri, tanpa ada kaitan dengan kata lain dibelakangnya, maka kata al-Jannah itu bisa bermakna sebagai berikut :
1.  Kebun Tamar (Kurma): QS Al-Baqarah(2):266, QS Al-Ra’d(13):4, QS Al-Mukminun(23):19, QS Al-Isra’(17):91  
2.      Kebun Anggur: QS Al-Kahfi(18):32, QS Al-Baqarah(2):266, QS AL-An’am(6):99, QS Al-Mu’minun(23):19, QS Al-Isra’(17):91
3.      Kebun di Lereng Bukit: QS Al-Baqarah(2):265
4.      Kebun : QS Al-Syu’ara(26):134, QS Al-An’am(6):141, QS Al-Kahfi(18):33,35,39,40
5.       Taman: QS Al-Dukhan(44):26, QS Saba’(34):15-16.[6]

Jadi, Apakah dengan Beragama dituntun Oleh Ulama akan mengantarkan kita ke Surga? Atau masuk surga dengan menjalankan Agama dengan khusunya Doa? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...