Siapakah Hadhrat Umar bin Khathab R.A?

Nabi Muhammad SAW adalah Fajar diwaktu subuh dan
sinar/cahaya di siang hari dengan kenabiannya. Sinar dan cahayanya ini semakin
mengena kepada siapa saja yang benar-benar Allah Taala bukakan pintu hatinya
untuk menerima hidayah.
Umar bin Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza, Beliau dari Banu
‘Adi. Pegulat tangguh di Pasar Ukaz. Semua mengenalnya dengan kekuatan fisik
dan Karismanya. Lalu bagimana Allah Taala memilihnya? Itu karena doa baginda
suci Nabi Muhammad SAW. Beliau luluh hati dan menerima Islam yang dibawa oleh
Muhammad bin Abdullah atas bimbingan Wahyu Ilahi. Jibril a.s senantiasa ada
menemani kenabiannya.
Kelak akan dikenal sebagai AL-Faruq nya Islam. Ia menjadi
pribadi yang memenuhi manusia dengan kadilan, keamanan, kasih saying dan
petunjuk.
Ia akan menjadi guru yang menyampaikan petunjuk kepada
manusia. Ia kan menjadi manusia dimana Allah Taala mengangkat derajatnya
diantara manusia dialam semesta.
Menarik sosok pegulat ini. Sosok Amirul Mu’munin yang
tatanan pemerintahan di buat semaksimal mungkin untuk mempermudah kaum
muslimin.
Ada suatu kisah ketika hendak memperlebar masjid Nabawi. Beliau
dating kepada Abbas bin Abdul Muthalib. Paman Nabi SAW. Hadhrat Umar Al-Faruq
meminta agar rumah Hadhrat Abbas RA diganti dengan yang lebih baik karena akan
kena “gusur”. Namun Hadhrat Abbas RA menolak dan Hadhrat Umar pun bersikeras
hendak “mengambilnya dan diganti. Namun sang Amirul Mu’muninin tidak serta
merta menggusur. Bahkan menerima usulan hadhrat Abbas RA agar ada hakim
diantara mereka. Maka hadhrat Abbas RA memilih Hadhrat Hudzaifah Al-Yaman. Begitu
indahnya demokrasi saat itu jika kita bayangkan saat ini. Seorang Khalifah Kaum
Muslimin laksana rakyat biasa samahal dengan Hadhrat Abbas RA. Dan Hadhrat
Hudzaifah AL-Yaman laksana penguasanya. Setelah keduanya bertemu Hudzaifah RA.
Lalu
Hudzaifah Al-Yaman berkata :
Saya mendengar Nabi Daud AS mau menambah Baitul Maqdis. Ia
mendapati sebuah rumah didekat Baitul Maqdis. Rumah itu ilik Anak Yatim.
Dan Nabi Daud as hendak
mengambilnya dengan paksa.
Maka ALLah Ta’ala menurunkan wahyu :
Sesungguhnya rumah yang paling bersih dari kezaliman adalah
rumah-KU.
Kemudian nabi Daud as pergi dan membiarkan rumah itu.
Mendengar itu Hadhrat Abbas RA memandang kepada Hadhrat Umar
RA sang Amirul Mu’minin seraya berkata : Apakah engkau masih mau memaksa
mengambil rumahku?. Hadhrat Umar RA menjawab : TIDAK. Abbas RA melanjutkan :
NAMUN demikian. Aku telah rela memberikan rumah milikku kepadamu untuk memperluas
Masjid Nabawi (Rasulullah)
So.. sejauh mana kita melihat dewasa ini. Adakah demikian
mulianya akhlaq baik sang Khalifah, Hadhrat Abbas RA dan Hadhrat Hudzaifan bin
AL-Yaman.
Akhlaq melebihi segalanya.
Sumber :
Bersama Umar Bin Khathab oleh Khalid
Muhammad Khalid.
Alih Bahasa Drs. Muhammad Zuhri. CV. Toha Putra SEMARANG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar