Kamis, 02 April 2020

Demokrasi : Hadhrat Umar bin Khathab RA.



Siapakah Hadhrat Umar bin Khathab R.A?



Kisah Umar ra. Teladan pemimpin yang bijaksana | ~{ASHABUS SAMAA'UN}~

Nabi Muhammad SAW adalah Fajar diwaktu subuh dan sinar/cahaya di siang hari dengan kenabiannya. Sinar dan cahayanya ini semakin mengena kepada siapa saja yang benar-benar Allah Taala bukakan pintu hatinya untuk menerima hidayah.

Umar bin Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza, Beliau dari Banu ‘Adi. Pegulat tangguh di Pasar Ukaz. Semua mengenalnya dengan kekuatan fisik dan Karismanya. Lalu bagimana Allah Taala memilihnya? Itu karena doa baginda suci Nabi Muhammad SAW. Beliau luluh hati dan menerima Islam yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah atas bimbingan Wahyu Ilahi. Jibril a.s senantiasa ada menemani kenabiannya.

Kelak akan dikenal sebagai AL-Faruq nya Islam. Ia menjadi pribadi yang memenuhi manusia dengan kadilan, keamanan, kasih saying dan petunjuk.
Ia akan menjadi guru yang menyampaikan petunjuk kepada manusia. Ia kan menjadi manusia dimana Allah Taala mengangkat derajatnya diantara manusia dialam semesta.
Menarik sosok pegulat ini. Sosok Amirul Mu’munin yang tatanan pemerintahan di buat semaksimal mungkin untuk mempermudah kaum muslimin.

Ada suatu kisah ketika hendak memperlebar masjid Nabawi. Beliau dating kepada Abbas bin Abdul Muthalib. Paman Nabi SAW. Hadhrat Umar Al-Faruq meminta agar rumah Hadhrat Abbas RA diganti dengan yang lebih baik karena akan kena “gusur”. Namun Hadhrat Abbas RA menolak dan Hadhrat Umar pun bersikeras hendak “mengambilnya dan diganti. Namun sang Amirul Mu’muninin tidak serta merta menggusur. Bahkan menerima usulan hadhrat Abbas RA agar ada hakim diantara mereka. Maka hadhrat Abbas RA memilih Hadhrat Hudzaifah Al-Yaman. Begitu indahnya demokrasi saat itu jika kita bayangkan saat ini. Seorang Khalifah Kaum Muslimin laksana rakyat biasa samahal dengan Hadhrat Abbas RA. Dan Hadhrat Hudzaifah AL-Yaman laksana penguasanya. Setelah keduanya bertemu Hudzaifah RA. 
Lalu Hudzaifah Al-Yaman berkata :

Saya mendengar Nabi Daud AS mau menambah Baitul Maqdis. Ia mendapati sebuah rumah didekat Baitul Maqdis. Rumah itu  ilik Anak Yatim. 
Dan Nabi Daud as hendak mengambilnya dengan paksa. 

Maka ALLah Ta’ala menurunkan wahyu :
Sesungguhnya rumah yang paling bersih dari kezaliman adalah rumah-KU.

Kemudian nabi Daud as pergi dan membiarkan rumah itu.

Mendengar itu Hadhrat Abbas RA memandang kepada Hadhrat Umar RA sang Amirul Mu’minin seraya berkata : Apakah engkau masih mau memaksa mengambil rumahku?. Hadhrat Umar RA menjawab : TIDAK. Abbas RA melanjutkan : NAMUN demikian. Aku telah rela memberikan rumah milikku kepadamu untuk memperluas Masjid Nabawi (Rasulullah)
So.. sejauh mana kita melihat dewasa ini. Adakah demikian mulianya akhlaq baik sang Khalifah, Hadhrat Abbas RA dan Hadhrat Hudzaifan bin AL-Yaman.
Akhlaq melebihi segalanya.

Sumber :
Bersama Umar Bin Khathab oleh Khalid Muhammad Khalid. 
Alih Bahasa Drs. Muhammad Zuhri. CV. Toha Putra SEMARANG.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...