Kamis, 02 April 2020

Makassar Menuju Kota Toleran : Refleksi Hari Toleransi Internasional



Makassar, (16/11)

Makassar Menjadi Pintu gerbang di Timur Indonesia. Dengan 1.5 Juta Penduduk menjadi destinasi Pendidikan Dunia timur, perpaduan Kultur dan salah satu pusat Bisnis Nasional yang vital. Selaras dengan kemajuan nya Toleransi menjadi penting untuk menjaga norma sosial budaya dan agama. Begitu jua Sosial Politik menjadi bumbu wangi dalam pertarungan Para calon Tokoh Politik di Makassar. Dengan jargon perbaikan ekonomi birokrasi hingga ranah agama sebagai landasan pijak masing-masing pihak yang punya kepentingan.

Menyinggung tentang kinerja pemkot khususnya dalam hal bagaimana penanggulangan Radikalisme belum terlihat "maksimal". Perlu duduk berasama dalam pencegahan faham keagamaan yang mungkin ekstrim (baca: intoleran, radikal plus teror). Melihat ini Jalin Harmoni Sulawesi Selatan Bekerjasama dengan Oase Intim, Lapar Komunitas Dan JAI Makassar Sulsel 1 mengadakan Dialog Publik memperingati Hari Toleransi Internasional.

Refleksi Hari Toleransi pada 16/11 di Red corner Di kemas dalam dialog Publik menjadi sarana bincang yang bisa membangun minat publik demi terwujudnya Makassar yang lebih Toleran bagi siapapun. Namun bukan toleran terhadap Radikalis Dan Teroris. Sikap Acuh adalah jalan terbaik bagi penyebar faham kebencian kemanusiaan. Kamu sesat kamu kafir hukumnya wajib halal di bunuh. Dengan membunuh kami jihad masuk surga mendapat bidadari cantik nan jelita. Ketika kita terlena terlelap tidur mereka sibuk dalam kajian dan doktrin bahkan hingga aplikasi dari "brain washing" para pencari pengantin untuk dikawinkan dengan pasangan surganya (baca:bom bunur diri)

Red Corner menjadi saksi diundangnya Pihak Pemkot walaupun tidak bisa hadir dari Pjs. Walikota karena ada tugas diluar kota sehingga Kabag Kesra yang diutuspun beberapa menit sebelum acara membatalkan hadir berdasarkan info dari ketua panitia acara dialog publik ini. Sedangkan Narasumber lainnya telah hadir dengan semangat kecintaan dan pesan damai.

Sekutip Kalimat penting dari para narasumber mengalir dalam dialog publik dua jam lebih ini.

Prof Qasim Sebagai Guru besar UINAM menitik beratkan bahwa, Pijakan kita adalah Konstitusi bukan turunannya yag tidak sesuai dengan konstitusi seperti SKB. Juga beliau sangat berharap dengan nada cemas "semoga yang menjalankan birokrasi tidak terpapar intoleransi.

Hal itu Senada dengan Pdt. Zakaria Ngelow dari Direktur oase Intim dengan kalimat padat "Yes To Tolerance, Not to Intolerance"

Narasumber berikutnya adalah dari LBH Makassar Azis Dumpa berkata,

"undang-undang Kebebasan beragama bukan prodak agama itu sendiri, namun itu adalah prodak politik. Yang menarik perhatian juga pernyataan inti dari Bapak I made sukarta Sebagai Orang Dalam lembaga FKUB Sulsel mengucapkan kalimat lugas Bahwa Toleransi harus diperjuangkan.

Acara Berakhir ditandai pemberian Cenderamata kepada Narasumber yang hadir, berupa Karikatur dari wajah narasumber dan dua buah buku . Yakni, Krisis Dunia dan jalan menuju Perdamaian Karya Mirza Masroor Ahmad, Hadhrat Khalifatul Masih V ABA dan Muhammad Menurut Mirza Ghulam Ahmad.

Diberi kehormatan dari panitia Presidium Jalin Harmoni Iqbal menyerahkan cenderamata kepada Prof Qasim, Syawal dari IJABI kepada Bpk. I Made Sukarta, Ka Christin dari oase Intim kepada Azis Dumpa dan Mln.Khaeruddin Atmaja kepada Pdt.Zakaria Ngelow.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...