Bismillah
======
TASBIH, TAHMID, ISTIGHFAR SERTA SOLAWAT
(Menelaah Gerakan Doa oleh Huzur Anwar V atba. Berdasarkan Alquran, Hadis dan Sabda Hadhrat Masih Mauud as)
======
Di dalam Alquran Allah swt berfirman
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا
Maka bertasbihlah sembari Bertahmid kepada Tuhanmu dan beristigfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat. (An-Naṣr [110]:4)
Berkenaan ayat diatas Tafsir JAI ed. Malik Ghulam Farid shb menjelaskan bahwa
Di sini dikatakan kepada Rasulullah Saw, bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau yang mukhlis, maka beliau harus berdoa, supaya Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap Rasulullah Saw pada masa lampau.
Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada Rasulullah Saw supaya beristighfar kepada Tuhan. Atau, arti lainnya adalah bahwa Rasulullah Saw diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para Muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna, bahwa manakala di dalam Al-Qur’an disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Rasulullah Saw, beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau diperintahkan agar memohon maghfirah Tuhan dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu, beliau diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Tuhan menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, di sini sama sekali bukan berarti bahwa, Rasulullah Saw beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau sendiri. Menurut Al-Qur’an, beliau menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus.
Patutlah dari penjelasan diatas kita sebagai Jemaat Imam Mahdi juga sebagai ummat Nabi saw yang sudah dicap dengan Cincin Khataman Nabiyyin harus mengamalkannya.
Dalam sebuah riwayat yang berbunyi sbb
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَامِرٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَالَ خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا { إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ } فَتْحُ مَكَّةَ { وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا }
صحيح مسلم | الصفحة أو الرقم : 484
Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin al-Mutsanna] telah menceritakan kepadaku [Abdul A'la] telah menceritakan kepada kami [Dawud] dari [Amir] dari [Masruq] dari [Aisyah ra] dia berkata,
"Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam memperbanyak ucapan,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, saya memohon ampunan kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya'." Aisyah berkata, "Lalu aku berkata,
Wahai Rasulullah, saya melihatmu memperbanyak perkataan, 'Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya'.
Beliau menjawab, 'Rabbku telah mengabarkan kepadaku bahwa aku akan melihat suatu tanda pada umatku, ketika aku melihatnya maka aku memperbanyak membaca,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya',
maka sungguh aku telah melihatnya, yaitu
{ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
(ketika pertolongan Allah datang dan pembukaanNya) yaitu pembukaan (fath) Makkah, dan
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Dan kamu telah melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, lalu bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan memohon ampunlah, sesungguhnya Dia Maha Pemberi taubat'."
Nah, ayat dan hadis diatas berkaitan erat tentang Islam dan masa depan kejayaannya serta bagaimana menyikapi kemenangan Islam.
Dan kini kemenangan Islam diemban oleh Jemaat Hadhrat Masih Mauud as. Tentunya sebagai Ahmadi patut sekali melazimkan apa yang sudah dianjurkan oleh Huzur Kita Khalifah Kita tercinta Ayyadahullahu Taala Binasrihilaziz aamiin. Yakni Bertasbih, Tahmid dan Istighfar.
Lalu apa sebenarnya kandungan dalam Tasbih dan Tahmid. Dalam riwayat dijelaskan sbb :
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
: أبو هريرة | المحدث : مسلم | المصدر : صحيح مسلم | الصفحة أو الرقم : 2694 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح] | التخريج : أخرجه البخاري (6682)، ومسلم (2694)
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari ['Umarah bin Alqa'qa'] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah] radliyallahu'anhu, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada dua kalimat yang disukai Ar Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Maha Suci Allah dan Segala Pujian Baginya, Maha Suci Allah dengan keagungannya
Dalam Hadis Lain disebutkan bahwa
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
رواه البخاري (6405).
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Sumay] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.
وفي رواية مسلم(2692) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
"Barang siapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
100 kali maka tidak ada orang yang datang pada Hari Kiamat yang membawa sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia bawa kecuali orang yang mengucapkan seperti apa yang ia ucapkan atau lebih banyak lagi darinya ( Muslim 2692)
Berkenaan Tasbih dan Tahmid, ada jumlah berapa kalinya dalam membaca sehari. Huzur Anwar V atba menganjurkan agar tasbih, tahmid bagi dewasa adalah 200 kali. Artinya sesuai dengan sabda diatas Pagi 100 petang seratus jumlah 200 kali. Sesuai sekali jumlahnya. Bahkan Huzur Anwar V atba menggandengkan Tasbih dan Tahmid diatas dengan Durud Syarif atau Solawat 200 Kali juga.
Yakni
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Lalu bagaimana dengan istighfar?
Dalam sebuah hadis disabdakan bahwa
صحيح مسلم وغيره أنه صلى الله عليه وسلم قال: يا أيها الناس: توبوا إلى الله واستغفروه، فإني أتوب في اليوم مائة مرة.
Dalam shahih Muslim, Bahwasanya Nabi Saw bersabda
Hai manusia bertobatlah kepada Allah dan Beristighfarlah sungguh aku 100 kali istrighfar tiap hari
Jumlah dari Gerakan Doa Huzur Anwar V atba pun
Yakni
اَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّىْ مِنْ كُلِّ ذَنْۢبٍ واَتُوْبُ اِلَيْهِ
Jumlahnya 100 kali. Sesuai sabda Nabi saw. Jadi bukan anjuran Huzur V atba semata tapi justru itu ajakan seruan Nabi kita Muhammad Saw. Khalifah kita meneruskannya untuk sebuah gerakan doa. Allahumma Ayyid Imaamana Birruhil Qudus Fi Umrihi Wa Amrih. Aamiin
Lalu apa sebenarnya dari tujuan kita harus istighfar. Diantara tujuannya sebagaimana sabda Nabi Saw yakni
- وعنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: منْ لَزِم الاسْتِغْفَار، جَعَلَ اللَّه لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مخْرجًا، ومنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ رواه أبو داود
Rasulullah Saw bersabda :
‘Siapa saja melazimkan beristighfar, niscaya Allah jadikan baginya sebuah jalan keluar dari kesempitan dan sebuah kelonggaran di tengah kesedihan; dan Allah kucurkan rezeki kepadanya dari jalan yang ia tidak perhitungkan
Begitu luar biasanya Fungsi Istighfar menurut Nabi kita Muhammad saw. Namun apakah hanya sebatas itu? Nah, Korelasi dari istigfar diatas dengan kita sebagai Ahmadi adalah sesuai dengan Sabda Hadhrat Masih Mauud as. Berikut Sabda-Sabda Beliau A.S
Pertama
Pintu gerbang rahmat dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus dan lurus, maka Dia bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menerima pertobatan.
Adalah suatu kedurhakaan mempertanyakan berapa banyaknya pendosa yang akan diampuni Allah Swt. Khazanah rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan apa pun dan gerbang- gerbang menuju kepada-Nya tidak dihalangi.
Barangsiapa yang tiba di hadirat-Nya akan mencapai derajat tinggi. Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa akan Tuhan Yang Maha Kuasa dimana maut di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari, adalah orang yang amat sial karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri. (Malfuzat, vol. III, hal. 296-297)
Kedua
Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi juga ada orang yang tidak mengenal apakah itu. Karena itulah Allah Swt telah mengajarkan istighfar dalam segala situasi agar manusia menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal, apakah disadari atau pun tidak.
Sepatutnya setiap manusia selalu memintakan ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam as yaitu:
رَبَّنا ظَلَمنا أَنفُسَنا وَإِن لَم تَغفِر لَنا وَتَرحَمنا لَنَكونَنَّ مِنَ الخاسِرينَ
“Wahai Tuhan kami, kami telah berlaku aniaya terhadap diri kami dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi.”(QS. 7, Al-Araf: 24).
Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan dari musibah yang berada di luar kemampuan dirinya memikul. Tidak akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan.
Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:
رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ خَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنِي وَانْصُرْنِي وَارْحَمْنِي
Robbi kullu syai’in khoodimuka, robbi fahfadznii, wanshurnii, warhamnii
“Ya Tuhan-ku, segalanya adalah khadim dan tunduk kepada-Mu, karena itu ya Tuhan-ku jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah aku.” (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276).
Ketidak-acuhan sering muncul karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Terkadang tanpa disadari seseorang, hatinya tiba-tiba dipenuhi karat dan kegelapan.
Karena itulah perlu selalu beristighfar. Dengan cara itu bisa dihindari kalbunya dijangkiti noda karat dan kegelapan.
Umat Kristiani beranggapan bahwa istighfar menunjukkan si pelakunya telah melakukan suatu dosa. Padahal hakikat daripada istighfar adalah sebagai penjagaan agar manusia tidak melakukan dosa.
Bila istighfar bermakna sebagai permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, lalu istilah apa yang akan digunakan untuk menekan kecenderungan dosa di masa depan?
Semua Nabi-nabi memerlukan istighfar. Tambah rajin seseorang ber istighfar akan menjadi tambah suci kalbunya. Makna hakiki daripada istighfar adalah Tuhan telah menyelamatkan dirinya. Menyebut seseorang suci mengandung arti bahwa yang bersangkutan telah diampuni. (Malfuzat, vol. IV, hal. 255)
Ketiga
Apabila ingin memohon kekuatan kepada Allah Ta’ala bacalah istighfar sebanyak mungkin maka kelemahannya itu akan dapat dijauhkan melalui dukungan dan pertolongan Ruhul Qudus dan dia akan selamat dari perbuatan dosa seperti para Nabi dan para Rasul Allah selamat.
Jika ada orang yang sudah terlanjur berbuat dosa kemudian ia membaca istighfar maka faedahnya adalah dia diselamatkan dari azab akibat buruk perbuatan dosanya itu”. (Dalam kata lain jika manusia terlanjur sudah berbuat dosa maka ia dapat diselamatkan dari azab sebagai akibat buruk dari dosanya itu melalui istighfar. Dia akan terhindar dari azab Allah Ta’ala.) “Sebab dengan datangnya nur maka kegelapan akan sirna, tidak akan tersisa.
Orang-orang yang berbuat kejahatan atau dosa kemudian tidak membaca istighfar yakni tidak memohon ampun kepada Allah Ta’ala maka mereka akan menderita hukuman sebagai akibat perbuatan dosa mereka itu.”
(Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain jilid 19 hal. 34)
Terakhir
Dengan demikian bergegaslah kalian mencari keridhoan Ilahi dan buatlah perdamaian dengan Tuhan-mu sebelum datang hari yang mengerikan yang telah diwartakan oleh para Nabi.
Dia itu sesungguhnya Maha Pemurah. Berdasarkan satu saat saja pertobatan yang melumatkan hati, Dia bisa mengampuni dosa-dosa sepanjang rentang waktu lebih dari 70 tahun.
Jangan pernah mengatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima. Ingatlah bahwa kalian bukan diselamatkan oleh apa yang kalian lakukan. Adalah rahmat Ilahi yang menyelamatkan kalian dan bukan hasil perbuatan kalian sendiri.
“Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karuniakan kepada kami rahmat-Mu. Kami ini adalah hamba- Mu semata dan kami bersujud di hadirat-Mu. Amin.” (Pidato Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 174, London, 1984).
Semoga kita sebagai Ahmadi dapat mengamalkan Seruan Huzur dalam Gerakan doa dalam Khutbah 23 agustus lalu.
رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ خَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنِي وَانْصُرْنِي وَارْحَمْنِي
Aamiin Yaa Robbal Alamin
Diakhir adalah tentang gerakan solawat.
Allah Swt berfirman :
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat (keberkahan) untuknya dan berilah selalu salam baginya.(33:57)
Nabi Saw Bersabda :
فمن كان أكثرهم عليّ صلاةً كان أقربهم منّي منزلةً.
البيهقي في ((الكبرى)) (3/ 249)
Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia akan mendapatkan kedudukan yang paling dekat denganku
Hadhrat Masih Mauud as bersabda :
Ke-1
Doa ini hendaknya dipanjatkan dengan penuh kesungguhan seperti seseorang berdoa dengan penuh kesungguhan ketika sedang dalam musibah.” — yakni hendaknya doa shalawat ini dipanjatkan dengan sepenuhnya dari kedalaman hati, seperti kamu berdoa untuk diri kamu sendiri — beliau bersabda, “Bahkan hendaknya dengan lebih merendahkan diri dan permohonan yang sangat, dan jangan memikirkan diri sendiri sedikitpun.” Bahkan doa-doa itu hendaknya dengan cara lebih merendahkan diri daripada doa yang manusia panjatkan untuk dirinya sendiri, dan hendaknya dia tidak memikirkan dirinya sendiri sedikitpun..
“Hendaknya dia tidak memikirkan dirinya sendiri, bahwa dengan itu (yakni dengan membaca shalawat) ‘saya akan mendapat pahala atau akan mendapatkan kedudukan anu’, melainkan hendaknya semata-mata dengan maksud supaya berkat-berkat Ilahi yang sempurna turun kepada Hadhrat Rasul yang makbul s.a.w. dan jalaliyah (kegagahan) beliau bersinar di dunia dan akhirat, dan hendaknya meneguhkan tekad untuk tujuan ini. Hendaknya memberikan perhatian secara dawam siang-malam, sehingga tidak ada maksud yang lebih besar dari itu di dalam hatinya ( Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 523)
Ke-2
Kemudian dalam salah satu surat yang beliau tulis untuk Mir Abbas Ali Syah Sahib, yang di waktu kemudian berpaling [berbalik menentang], beliau a.s. bersabda: “Anda hendaknya memberikan perhatian penuh pada shalawat, dan seperti seseorang benar-benar mengharapkan berkat untuk orang yang dicintainya, dengan kesenangan dan keikhlasan seperti itu pula hendaknya mengharapkan berkat untuk Nabi Karim s.a.w. dan hendaknya mengharapkannya dengan penuh kerendahan diri.
Hendaknya dalam kerendahan diri dan doa itu tidak dibuat-buat, melainkan memohonkan berkat-berkat yang terdapat dalam shalawat itu untuk Hadhrat Nabi Karim s.a.w. dengan persahabatan dan kecintaan sejati kepada Rasulullah s.a.w. serta dengan penuh kesungguhan jiwa….. dan tanda kecintaan sejati adalah manusia tidak pernah lelah, bosan, dan tidak memasukkan maksud-maksud pribadi, dan dia membacanya hanya dengan maksud supaya berkat-berkat Allah yang Maha Pemurah zahir kepada Rasulullah s.a.w.” ( Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 534-535)
Ke-3
“Dengan perantaraan duruud syarif (shalawat)….. saya melihat bahwa karunia-karunia Allah Ta’ala dalam bentuk nur yang mengagumkan pergi ke arah Rasulullah s.a.w. kemudian meresap masuk ke dalam dada beliau.
Lalu dari sana keluar dalam cabang-cabang yang tidak terhingga dan sampai kepada yang berhak sesuai kadarnya.
Sungguh, tidak ada karunia yang bisa sampai kepada seseorang tanpa perantaraan Rasulullah s.a.w. Apakah shalawat itu? Menggoncangkan ‘arsy (singgasana) Rasulullah s.a.w. yang darinya keluar cabang-cabang cahaya ini.
Orang yang menginginkan berkat dan karunia Allah Ta’ala ini, wajib baginya untuk terus sebanyak-banyaknya membaca shalawat supaya karunia itu bergerak ( Al-Hakam jilid 7 no. 8 tanggal 28 Februari 1903, hal 7)
Ke-4
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعلى آل محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ…”
Beliau bersabda, “Inilah shalawat yang paling beberkat dari semua shalawat. Inilah wirid (hamba) yang lemah ini dan tidak perlu terikat pada jumlah tertentu.
Hendaknya membacanya dengan keikhlasan, kecintaan, perhatian, dan kerendahan hati dan hendaknya terus membacanya sampai timbul kelembutan, kehusyukan, dan pengaruh, dan didapati kelegaan serta kesenangan dalam hati. (Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 526 )
Ke-5
Meskipun Rasulullah s.a.w. tidak memerlukan doa siapapun, tetapi di dalamnya ada rahasia yang halus (rahasia yang sangat dalam) orang yang mengharapkan rahmat dan berkat untuk seseorang karena kecintaan sejati, karena hubungan kecintaan sejati itu dia menjadi bagian wujud orang tersebut..” —
Dan karena karunia-karunia Wujud Yang Esa kepada Rasulullah s.a.w. tidak terbatas, maka orang-orang yang membaca shalawat, yang mengharapkan berkat untuk Rasulullah s.a.w. karena kecintaan sejati, mendapatkan bagian dari berkat-berkat yang tidak terbatas itu sesuai dengan kadar ghairatnya. Tetapi tanpa ghairat rohaniah dan kecintaan sejati maka karunia-karunia ini sangat sedikit nampak ( Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal 535-536)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar