Kamis, 29 Agustus 2024

JIKA AHMADI SEORANG DIRI, BAGAIMANA?


Bagaimana jika Seorang Ahmadi sendirian ?


Shalatlah Sendiri

Berdoa agar ada jemaat lainnya

Tabligh

Tutur Kata yang Lembut

dan Sikap yang Tepat dalam Tabligh (lembut dan Keras)



Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda :


(Sekarang) ini adalah zaman yang mengenainya Rasulullah saw. telah bersabda supaya kalian mendaki puncak- puncak gunung dan memanjat batang- batang pohon serta dengan cara apa pun berusaha untuk menyelamatkan keimanan kalian dari fitnah (cobaan-cobaan) zaman.  


       Jadi, jika dalam keadaan terpaksa seorang Ahmadi hidup sendirian  maka dia hendaknya shalat seorang diri, dan dia hendaknya berusaha serta berdoa semoga Allah menjadikan suatu jemaat baginya.


        Sebenarnya orang Mukmin juga hendaknya mempertimbangkan ketepatan yang sesuai dengan kondisi dalam menyampaikan tabligh agama. 


Jika kondisinya harus bersikap lembut maka janganlah di situ bersikap keras dan kasar. 


Dan di mana tidak ada cara tepat lain kecuali bersikap keras, maka bersikap lembut di situ adalah dosa juga.” 



      Lihat, Firaun walau pun secara zahir merupakan seorang yang sangat keras, tetapi petunjuk yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Hadhrat Musa a.s. adalah,


فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا


 "Fa quulaa lahuu qaulan- layyinan – (katakanlah kepadanya dengan perkataan yang lembut --  (Thaa Haa,  45).

       Bagi Rasulullah saw. juga terdapat perintah semacam itu di dalam Quran Syarif.


وَاِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَهَا


 "Wa in janahuu lis- salmi fajnah lahaa –


 (dan jika mereka condong kepada perdamaian maka hendaklah engkau pun condong pula kepadanya -- Al-Anfaal, 62).


       Bagi orang-orang Mukmin (beriman) dan orang-orang Islam terdapat perintah untuk bersikap lembut dan penuh kasih-sayang. Keadaan Rasulullah saw. dan para sahabah ridhwanullaahi 'alaihim ajma'iin juga diterangkan demikian, yakni difirmankan: 


مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ



"Muhammadun- rasuulullaahi wal- ladziina ma’ahu asyiddaa-u 'alal- kuffaari ruhamaa-u  bainahum – 


(Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang ada besertanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan sayang menyayangi di antara sesamanya - Al-Fath, 30). 


Dan di tempat lain kepada Rasulullah saw. difirmankan,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱغْلُظْ عَلَيْهِمْ



 "Yaa ayyuhan nabiy jaahidil kuffaara wal- munaafiqiina waghluzh 'alaihim – 


(hai Nabi, berjuanglah kamu dengan sungguh-sungguh menghadapi orangorang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka -- At-Tahrim, 10).

      

     Ringkasnya, dari ayat-ayat ini dengan jelas diketahui bahwa Allah Ta’ala juga memperhatikan sikap-sikap yang tepat untuk kondisi-kondisi tertentu. Untuk orang-orang mukmin terdapat perintah untuk berlaku lembut, sedangkan di dalam diri orang-orang kafir terdapat sikap-sikap yang membutuhkan perlakuan keras. 


Sebagaimana dalam menangani beberapa penyakit atau luka maka dokter yang mahir  terpaksa akan melakukan amputasi dan operasi.


      Hadhrat Ibnu ‘Arabi menuliskan, mengapa Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk kepada Hadhrat  Musa a.s. agar berlaku lembut terhadap Firaun. Hikmah yang terdapat di dalamnya adalah Allah Ta’ala mengetahui bahwa pada akhirnya Firaun memang akan beriman juga. 


Demikianlah, dari mulutnya keluar kata "aamantu – [aku beriman].  (Keterangan ayat di bawah)


Bahkan Ibnu ‘Arabi menuliskan bahwa dari Quran Syarif juga terbukti najat (keselamatan) yang diraih oleh Firaun. Di dalam Quran Syarif tidak tertulis bahwa Firaun akan masuk ke dalam neraka, yang tertulis hanyalah: 


يَقْدُمُ قَوْمَهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فَأَوْرَدَهُمُ ٱلنَّارَ



"Yaqdumu qaumahuu yaumal- qijyaamati fa-auradahumun naara 


(dia akan mendatangi kaumnya di hari kiamat, lalu memasukkan mereka ke  dalam neraka - Huud, 99). 


(Malfuzat, jld. X, hlm. 230-232 Terj.MI). 

_____

Keterangan

-----



وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kami jadikan Bani Israil bisa melintasi laut itu (Laut Merah). Lalu, Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas hingga ketika Fir'aun hampir (mati) tenggelam, dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya).' (Yunus :91)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...