ALLAH AR-RAZZAQ
(Maka Ber-infaqlah, Belanjakanlah dijalan Allah, Ayo Candah)
Allah Taala berfirman
Albaqarah : 4
الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ
Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan
shalat dan menginfakkan sebagian dari yang Kami rezekikan kepadanya
Berkenaan dengan Rizqun, Dalam Tafsir JAI EDT. Malik Ghulam Farid Shb menjelaskan :
Rizq berarti sesuatu yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia, baik anugerah itu, bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradāt).
Selanjutnya dijelaskan makna keseluruhan ayat diatas sebagai berikut :
Ayat ini menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan rohani manusia:
(1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
(2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya, dan bila sebagai hasil dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat yang menciptakan maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai hubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat tersebut terpenuhi dengan mendirikan shalat.
(3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan hubungan yang hidup dengan Pencipta-nya, ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti kepada sesama manusia.
Dari penjelasannya nampak ada Hubungannya dengan Pemenuhan Hak kepada Allah ( Huququllah) dan Pemenuhan Hak sebagai Hamba (Huququl Ibad) serta masih sinkron bahkan dengan istilah Hablun Minallah dan Hamblun Minannas.
Tak ayal sebagai Hamba-Nya seyogyanya pemenuhan hak kepada Allah dan Menjalin hubungan khas kepada Allah adalah jalan paling utama agar dekat kepada sang khalik. Dengan demikian sebagai wujud pengejewantahan, Manifestasi ke ubudiyatan kita maka hak kita pun sebagai Hamba akan dipenuhi oleh-Nya. Sehingga dengan panampakan ke ubudiyatan tersebut akan terpancar kepada hubungan sesama makhluk-Nya dengan serasi.
Namun ujian bagi orang beriman tidaklah mudah. Karena Allah Taala langsung yang memberikan ujiannya. Bukan manusia.
Begini firman Allah tentang Ujian bagi orang beriman.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.
(Al-Baqarah [2]:215)
Lalu dalam Qs Al-Ankabut difirmankan :
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ
Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.
(Al-‘Ankabūt [29]:3-4)
Artinya Orang beriman pasti diuji oleh Allah Taala.
Hadhrat Masih Mauud as bersabda :
“Cobaan itu muncul adalah supaya orang yang benar terpisah dari pendusta. Allah itu Maha Pengasih, tetapi Dia Maha Kaya dan juga Maha Berkecukupan. Apabila manusia tidak memberikan pertolongan kepada imannya dengan teguh, maka pertolongan Allah Ta’ala pun jadi putus.
Sebagian orang langsung menjadi atheis (tak bertuhan) karena perkara kecil, yakni putranya meninggal dunia, atau istrinya wafat, atau rezekinya menjadi payah (sempit), padahal itu merupakan cobaan. Jika mereka lulus maka akan diberikan kepada mereka lebih banyak dari itu. Dan terus-menerus berhati murung karena sempitnya rezeki bukanlah sikap dan kebiasaan orang mukmin maupun muttaqi.” (Malfuzat, jld. X, hlm. 124).
Dalam sabda diatas, jelas sekali bahwa ujian dalam memperoleh rezeki itu pasti ada sehingga ujian berinfaq di jalan Allah Taalapun menjadi kendala baginya karena rezekinya (sempit). Ia akan belanja di Jalan-Nya atau belanja di Jalanan untuk makan. Atau iya merasa kaya maka iya berkata : ini milik saya, karena saya yang cari dan saya yang diberi oleh sesama manusia bukan Tuhan. Misal terbesit demikan.
Padahal Allah Taala itu akan mengganti jika belanja di Jalan-Nya walaupun dalam keadaan sempit rezeki. Allah Taala berjanji dalam Firmannya :
قُلۡ اِنَّ رَبِّیۡ یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ وَ یَقۡدِرُ لَہٗ ؕ وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَہُوَ یُخۡلِفُہٗ ۚ وَ ہُوَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ
Katakanlah, “Sesungguh-nya Tuhan-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan-nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan apa pun yang kamu infakkan( belanjakan dijalan Allah), pasti Dia akan menggantinya, dan Dia adalah Sebaik-baik Pemberi rezeki (Saba’:40)
Ayat diatas jelas sekali dengan bahasa ' kamu ngasih kami ganti lagi'. Bahkan bisa 700 kali lipat gantinya dari yang kita kasih kepada Allah Taala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah [2]:262)
Dengan adanya Cobaan dalam rezeki ( sempit atau lapang) bukan berarti harus berhenti Berkurban harta di jalan allah taala. Candah itu adalah bagian dari Belanja kita di jalan Allah Taala. Sesempit apapun kita dalam rezeki jika ada tukang parkir nongkrong pasti keluar uang 2000 minimal. Sekaya apapun kita tetap Allah Taala yang maha Kaya ( Al-Ghani).
Nah, ini Yang " Nongkrongin" kita tiap detik adalah Allah yang nyiptain kita, masa iya hanya sekecil rupiah saja tidak ada belanja di Jalan Allah? Ingat Allah Taala itu sang Khalik bukan tukang Parkir. Ia Sang Ghani.
Berkorban itu Bukan banyaknya Rupiah tapi Dawwamnya. Bukan Besarnya rupiah tapi Keujujuran candahnya. Keikhlasannya bukan gerutunya.
Ummat Islam, kini sedang "tidak baik-baik" saja. Itulah kenapa Hadhrat Masih Mauud as diutus sebagai Almasih Almauud. Al-Mauud oleh Nabi Saw dalam Hadisnya.
Dengan tugas Yuhyiddiina Wa Yuqimusy-Syariah, Liyuzh-hirohu Ala diini Kullih.
Semua Hal tersebut butuh pasti dana besar dan fantastis.
Olehnya maka Islam bisa tegak syariatnya, bisa hidup kembali dari mati suringa bahkan bisa menang atas agama lainnya.
Siapa yang mengemban tugas itu? Kita ini tentunya sebagai Ahmadi.
Siapa lagi yang belanja di jalan-Nya dengan fantastis? Yaa pasti kita Jamaah Ahmadiyah.
Dengan Jamaah ini jutaan dolar sudah dibelanjakan dijalan-Nya agar cita-cita Tuhan Yang Esa dan Nabi Saw terwujud yakni
لِيُظۡهِرَهٗ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهٖ
Segera Terwujud.
Ayolah.. Marilah.. handai Taulan.
Kalau bukan kini kapan lagi. Kalau bukan sekarang kenapa candah kadang-kadang.
Ayo, Tuhan sedang memanggil Jihad dalam Maal (Harta Benda Uang) melalui terompet sangkakala (Pendakwaan)Hadhrat Masih Mauud as sebagai Imam Zaman. Jangan lagi ada halangan dan hambatan dalam Jihad Maal.
Jamaah ini adalah Jamaah Tuhan, bukan ormas yang biasa bikin onar sembarangan dan serampangan.
Jamaah ini murni hanya untuk Ridha Ilahi Rabbi. Bukan ridho Slank yang musisi, Bukan Ridho Roma yang penyanyi dan bukan pula ridho jebolan dangdut academi.
(Baca : bukan mencari ridho dari manusia tapi dari Allah Taala)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar