Selasa, 24 Januari 2023

Kisah Kelahiran Yesus as menurut Alquran

Kesucian Siti Maryam dan Lahirnya Nabi Isa as
Dalam QS Maryam

Ayat 19

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَتْ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ اِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Dia (Maryam) berkata (kepadanya), “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih darimu (untuk berbuat jahat kepadaku) jika kamu seorang yang bertakwa.”

Tafsir 1750

Seperti jelas dari ayat yang mendahuluinya, apa yang dilihat Siti Maryam hanyalah sebuah kasyaf; dan pada umumnya bila seseorang melihat dalam kasyaf sesuatu yang tidak disukainya dalam keadaan bangun, maka tidak disukainya pula bila hal itu dilihatnya dalam kasyaf. Ketika Siti Maryam melihat malaikat itu sedang berdiri di hadapannya berupa seorang laki-laki, maka sebagai seorang wanita saleh, wajarlah beliau terperanjat dan menjadi bingung seperti pula beliau akan terperanjat dan menjadi bingung seandainya dalam keadaan bangun beliau melihat seorang laki-laki di dekat beliau; maka oleh sebab itu sudah sewajarnya kalau beliau mohon perlindungan Ilahi terhadap orang itu.

Ayat 20

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَ اِنَّمَآ اَنَا۠ رَسُوْلُ رَبِّكِۖ لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا

Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci kepadamu.”

Tafsir 1751

Kata “utusan” menunjukkan, bahwa malaikat itu hanya pengemban amanat Tuhan, dan bahwa beliau tidak datang untuk memberi Siti Maryam seorang putra, tetapi hanya membawa khabar suka mengenai kelahiran seorang putra. Siapa yang tidak mengetahui, bahwa Tuhan-lah yang mengaruniakan putra dan bukan malaikat? Tugas seorang malaikat hanya terbatas pada penyampaian kehendak dan keputusan Tuhan saja.

Ayat 21

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَتْ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana (mungkin) aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada seorang (laki-laki) pun yang menyentuhku dan aku tidak pernah berbuat tak senonoh

Tafsir 1752

Peristiwa yang disinggung dalam ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya terjadi dalam suatu kasyaf; dan dalam kasyaf atau mimpi orang dapat mengalami aneka-ragam perasaan pada saat-saat yang berlainan. Kadangkala perasaan bicaranya dalam mimpi itu dikuasai dan berada di bawah pengaruh mimpi; sedang pada waktu lain tidak demikian keadaannya, dan ia mempunyai perasaan berbicara seperti ia akan merasa dan berbicara dalam keadaan bangun. Sebagai misal, jika dalam mimpi seseorang bergirang hati atas wafat putranya, maka perasaannya akan dianggap sebagai berada di bawah pengaruh suasana mimpi; sebab dalam keadaan bangun tidak seorang manusia pun yang waras akan bergirang hati atas kematian putranya. Jadi, jika kata-kata yang diucapkan oleh Siti Maryam ketika beliau melihat malaikat dalam kasyaf itu ada di bawah pengaruh kasyaf, maka kata-kata itu akan mengandung arti, bahwa manakala khabar suka itu disampaikan kepada beliau, seketika itu beliau menjadi heran bercampur gembira, apakah benar Tuhan akan memperlihatkan mukjizat semacam itu dengan menganugerahi beliau seorang putra padahal beliau seorang dara. Tetapi jika kata-kata yang diucapkan ketika kepada beliau disampaikan khabar suka mengenai lahirnya seorang putra itu dianggap pernyataan wajar dari beliau, maka kata-kata itu akan menunjukkan, bahwa beliau benar-benar kebingungan dan dicekam rasa takut demi terpikir, bahwa beliau akan melahirkan seorang putra, padahal beliau seorang dara. Dalam keadaan pertama, keheranan beliau itu timbul dari rasa sangat senang atas karunia besar yang Tuhan akan anugerahkan kepada beliau. Dan dalam keadaan kedua, keheranan itu menunjukkan cetusan rasa kebingungan beliau, dan menggambarkan ketakutan yang menguasai jiwa beliau pada saat itu. Sedang kata-kata “belum pernah seorang laki-laki pun menyentuhku,” menunjukkan, bahwa beliau akan memperoleh seorang putra tanpa menaiki jenjang perkawinan yang resmi jika tidak demikian, sangkaan bahwa beliau tidak pernah mengenal seorang laki-laki dalam keadaan sebagai suami beliau, tidak ada artinya; dan katakata “aku tidak pernah berbuat tak senonoh,” mengisyaratkan kepada sangkalan adanya beliau mengenal seorang laki-laki di luar perkawinan. Dalam jawabannya kepada malaika rupa-rupanya beliau memikirkan sumpah beliau untuk tetap tidak menikah, yang meniadakan segala kemungkinan memperoleh keturunan. Seandainya beliau mengira, bahwa janji yang diberikan dalam ayat terdahulu menunjuk kepada kelahiran seorang putra sebagai hasil hubungan suami-istri pada suatu waktu yang akan datang kemudian tidak ada alasan bagi beliau untuk menyatakan keheranan apapun.

Ayat 22

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَ كَذٰلِكِۚ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌۚ وَلِنَجْعَلَهٗٓ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّاۚ وَكَانَ اَمْرًا مَّقْضِيًّا

Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu sangat mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran-Ku) bagi manusia dan rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”

Tafsir 1753

Ungkapan, “supaya Kami jadikan ia suatu tanda bagi manusia,” berarti, kelahiran Nabi Isa As tanpa bapak, yang sungguh merupakan suatu tanda besar bagi Bani Israil. Hal itu mengisyaratkan bakal terjadi perpindahan kenabian dari keturunan Israil kepada keturunan Ismail, dan merupakan peringatan kepada Bani Israil, bahwa rohani mereka telah begitu rusak dan akhlak mereka telah begitu mundur, sehingga tidak ada seorang laki-laki pun di antara mereka yang layak menjadi ayah seorang nabi Allah. Dalam artian ini pulalah Nabi Isa As telah disebut sebagai “suatu tanda bagi saat” dalam Al-Qur’an (QS.43: 62), ialah tanda mengenai saat, ketika kenabian harus dipindahkan dari Bani lsrail kepada Bani Ismail.

Tafsir 1754

Ungkapan, “sesuatu yang telah ditakdirkan,” berarti, bahwa Tuhan telah menakdirkan seorang putra tanpa bapak akan dilahirkan Siti Maryam, dan keputusan ini tidak dapat dicabut kembali. Al-Qur’an telah mempergunakan dua buah perkataan, Qadar dan Qadā, untuk menyatakan pengertian keputusan Tuhan itu. Kata yang pertama berarti, merencanakan atau menentukan, sedang kata yang disebut terakhir berarti memutuskan. Bila suatu pola atau rencana hanya dipikirkan untuk dilaksanakan maka rencana itu disebut Qadar, dan bila telah diputuskan oleh Tuhan bahwa rencana itu harus dilaksanakan, rencana itu disebut Qadā. Kelahiran Isa As tanpa bapak merupakan Qadā (keputusan) Tuhan.
Ayat 23
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهٖ مَكَانًا قَصِيًّا

Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya ke tempat yang jauh.

Tafsir 1755

Betapa Siti Maryam bisa mengandung Isa As tanpa adanya hubungan dengan suami, merupakan salah satu dari rahasia-rahasia Ilahi yang pada masa ini dapat dianggap ada di luar jangkauan kemampuan akal manusia untuk menyelaminya. Hal ini dapat dipandang sebagai di atas hukum alam yang lazim kita kenal. Tetapi ilmu manusia, bagaimana pun tingginya, tetap terbatas. Ia tidak mampu memahami semua rahasia Ilahi. Di alam raya terdapat rahasia-rahasia yang manusia sampai kini belum berhasil memecahkannya; boleh jadi ia selamalamanya tidak akan dapat memecahkannya. Di antaranya dapat pula termasuk kelahiran Nabi Isa As tanpa bapak. Cara bekerja Tuhan tak dapat diteliti, dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. Dia yang dapat menciptakan seluruh alam dengan kata Kun (jadilah), pasti dapat mendatangkan perubahan-perubahan demikian dalam suatu benda, sehingga rahasia yang nampaknya tak terpecahkan itu akhirnya dapat dipecahkan juga. Lagi pula ilmu kedokteran tidak mutlak menolak kemungkinan–dilihat selalu dari segi biologis dan dalam keadaan-keadaan tertentu–adanya gejala alami parthenogenesis (pembuahan sepihak), atau kelahiran seorang anak dari seorang wanita tanpa adanya hubungan dengan seorang pria. Ahli-ahli kedokteran menarik perhatian kepada kemungkinan ini sebagai akibat dari jenis tumor-tumor tertentu yang kadangkala terdapat pada pinggul atau bagian bawah wanita. Tumor-tumor yang dikenal dengan nama Arrhenoblastoma ini mempunyai kemampuan memproduksi sel-sel sperma jantan. Bila sel-sel sperma-jantan yang hidup diproduksi dalam badan wanita oleh Arrhenoblastoma, maka kemungkinan pembuahan pada diri seorang wanita tanpa perantaraan laki-laki tidak dapat dihindari, yaitu tubuhnya sendiri akan mendapat akibat yang sama seperti seolah-olah sel-sel sperma dari tubuh seorang laki-laki dipindahkan ke tubuhnya dengan jalan biasa, atau dengan pertolongan seorang dokter. Baru-baru ini sekelompok ahli penyakit kandungan di Eropa telah menerbitkan data untuk membuktikan peristiwa-peristiwa kelahiran bayi oleh wanita-wanita dengan tanpa melalui hubungan dengan pria (Lancet). Barangkali kelahiran Nabi lsa As bukan merupakan kejadian yang sama sekali aneh dalam hal dilahirkan tanpa perantaraan seorang bapak ini. Telah tercatat adanya peristiwaperistiwa tentang anak-anak yang lahir tanpa adanya bapak (Enc. Brit. pada kata “Virgin Birth” dan “Anomalies and Curiousities of Medicine,” diterbitkan oleh W. Sanders & Co., London). Jika kita menolak semua kemungkinan ini, maka kelahiran Nabi Isa As harus dianggap, na’udzubillah, tidak sah. Orang-orang Kristen maupun orangorang Yahudi sama-sama sepakat, bahwa kelahiran Nabi Isa As adalah sesuatu di luar kebiasaan – orang-orang Kristen menganggapnya supernatural (keramat atau suci), sedang orang-orang Yahudi menganggapnya kelahiran haram (Jew. Enc.). Bahkan di dalam buku catatan keluarga pun kelahiran Isa As dicatat sebagai kelahiran anak haram (Talmud). Kenyataan ini saja merupakan bukti yang kuat mengenai kelahiran luar biasa Nabi lsa As itu. Menurut Injil, Yusuf, suami Siti Maryam, tidak pernah hidup sebagai suami-istri dengan beliau sebelum Isa As Iahir (Matius 1: 25). Maka kata “ia mengandungnya” mengisyaratkan kehamilan Siti Maryam dengan cara yang luar biasa tanpa adanya hubungan dengan seorang laki-laki.

Tafsir 1756

“Suatu tempat jauh” menunjuk kepada Bethlehem yang letaknya kurang lebih 70 mil sebelah selatan Nazaret. Kesanalah Yusuf membawa Siti Maryam beberapa waktu sebelum Isa As lahir di kota itu.

Ayat 24

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) ke sebatang pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan sama sekali.”

Tafsir 1757

Sebagaimana nampak dari Injil, di rumah penginapan tempat Nabi Isa As dilahirkan di kota Bethlehem itu tidak terdapat kamar. Yusuf dan Siti Maryam rupanya terpaksa tinggal di padang terbuka dan Siti Maryam berlindung di bawah sebatang pohon kurma, untuk beristirahat di bawah naungannya, dan boleh jadi juga untuk mendapat tempat bersandar di saat mengalami penderitaan waktu melahirkan bayi.

Ayat 25

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

Dia (Jibril) berseru kepadanya dari arah bawah, “Janganlah engkau bersedih hati. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

Tafsir 1758
Oleh karena kata taht berarti pula lereng gunung (Lane), maka ayat ini menunjukkan, bahwa suara itu datang kepada Siti Maryam dari sisi lereng gunung. Sebenarnya Bethlehem terletak di atas sebuah bukit padas yang tingginya 2350 kaki dari permukaan laut dan dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat subur. Pada bukit padas itu terdapat mata air, yang salah satu di antaranya dikenal dengan nama “Mata air Sulaiman.” Mata air lainnya terletak pada jarak kira-kira 800 yard (1 yard = 91,44 cm) di sebelah tenggara kota itu. Kebutuhan akan air bagi kota Bethlehem dilayani oleh beberapa sumber (mata air) itu.

Ayat 26

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۖ

Dan Goyanglah pelepah pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang matang lagi segar kepadamu.

Tafsir 1759

Menurut ayat ini, kelahiran Isa As telah terjadi pada musim, ketika pohon-pohon kurma di Yudaea sedang melebat dengan buah-buahnya yang segar. Musim itu jelas jatuh pada bulan-bulan Agustus dan September, tetapi menurut anggapan kalangan umat Kristen pada umumnya Isa As dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Hari itu seluruh dunia Kristen dirayakan setiap tahun dengan sangat meriah. Anggapan umat Kristen ini bukan saja ditentang oleh Al-Qur’an tetapi juga oleh sejarah, bahkan oleh Perjanjian Baru sendiri. Ketika menulis mengenai waktu kelahiran Nabi Isa As, Lukas berkata, “maka di jajahan itu pun ada beberapa orang gembala, yang tinggal di padang menjaga kawanan binatangnya pada waktu malam” (Lukas 2: 8). Menafsirkan pernyataan Lukas ini, Uskup Barns dalam bukunya yang tersohor, “The Rise of Christianity” pada halaman 79 berkata, “Lagi pula tidak ada dalil untuk mempercayai, bahwa 25 Desember itu hari kelahiran Isa yang sebenarnya. Jika kita dapat menaruh kepercayaan sedikit saja pada ceritera kelahiran (Isa), dengan para gembala yang berjaga-jaga pada malam hari di padang rumput dekat Bethlehem, seperti dikisahkan oleh Lukas, maka kelahiran Isa tidak terjadi di musim dingin, ketika suhu di daerah pegunungan Yudaea waktu malam begitu rendah, sehingga adanya salju bukan merupakan sesuatu hal yang luar biasa. Sesudah diadakan banyak perdebatan, rupanya Hari Natal kita itu telah ditetapkan kira-kira pada tahun 300 Masehi. Pandangan Uskup Barns itu telah didukung oleh “Encyclopaedia Britannica” dan “Chambers Encyclopaedia” (pada kata “Christmas”): Hari dan tahun yang tepat mengenai kelahiran Isa tidak pernah mendapat ketetapan yang memuaskan; tetapi ketika bapak-bapak gerejawan pada tahun 340 Masehi memutuskan tanggal untuk merayakan peristiwa itu, mereka dengan bijaksana memilih hari-balik matahari (solstice) di musim dingin yang telah tertanam dengan kuat dalam hati rakyat dan yang merupakan pesta mereka yang terpenting. Oleh sebab adanya perubahan- perubahan dalam kalender-kalender buatan manusia, hari-balik matahari dan Hari Natal berselisih hanya beberapa hari saja (Enc. Brit. 15th, edition, vol. 15, hal. 642 & 642A) Kedua, hari-balik matahari di musim dingin itu dianggap sebagai hari kelahiran matahari, dan di Roma 25 Desember dianggap sebagai suatu pesta orang-orang musyrik dalam memperingati solstice. Gereja, yang tidak dapat menghapuskan pesta rakyat ini. memberi rona rohani sebagai hari lahir Matahari Kesalehan (Ch. Enc.). Pernyataan-pernyataan kedua Encyclopaedia ini selanjutnya didukung oleh Commentary on The Bible karangan Peake. Dalam buku ini, pada halaman 727 Peake berkata, “Musim (kelahiran Isa) itu jatuh bukan pada bulan Desember; Hari Natal kita merupakan tradisi di masa agak kemudian, yang mula pertama terdapat di barat.” Dengan demikian penyelidikan terbaru berdasarkan ilmu sejarah mengenai asal-usul agama Kristen telah membuktikan kenyataan tanpa ada keraguan sekelumit pun, bahwa Yesus dilahirkan bukan dalam bulan Desember. Dr. John D. Davis dalam karyanya, “Dictionary of the Bible” di bawah kata “Year” menulis, bahwa kurma menjadi matang dalam bulan Elul; dan dalam “Commentary on The Bible” karangan Peake (halaman 117) kita dapati, bahwa bulan Elul itu bertepatan dengan bulan-bulan Agustus dan September. Lebih jauh Dr. Peake mengatakan. “Y. Stewart dalam bukunya ‘When Did Our Lord Actually Live?’ dengan membuktikan dari prasasti (tulisan) di sebuah gereja di Angora yang menyebutkan ceritera Injil yang sampai ke Tiongkok pada tahun 25 – 28 Masehi, menetapkan kelahiran Yesus pada tahun 8 S.M. (bulan September atau Oktober), dan menetapkan peristiwa penyaliban pada hari Rabu tahun 24 Masehi.” Dari pernyataan-pernyataan kedua buku Encyclopaedia di atas dan didukung oleh kutipan-kutipan dari “Commentary on the Bible” karangan Dr. Arthur S. Peake, M.A., D.D., kenyataan itu nampak dengan jelas, bahwa Isa As dilahirkan dalam penanggalan Yahudi bulan Elul, bertepatan dengan bulan-bulan Agustus-September, ketika buah kurma mematang di Yudea, dan bukan pada tanggal 25 Desember, seperti Gereja ingin kita agar mempercayainya. Dan ini pulalah pandangan yang dikemukakan oleh Al-Qur’an. Pada hakikatnya, segala kesukaran untuk menentukan hari lahir Nabi Isa As nampaknya telah timbul oleh karena kebingungan mengenai tanggal kehamilan Siti Maryam. Nampaknya Siti Maryam telah menjadi hamil di bulan Nopember atau Desember dan bukan di bulan Maret atau April seperti dipercayai oleh ahli sejarah kaum gereja. Apabila kandungan Siti Maryam menjadi terlalu nyata sehingga tidak dapat disembunyikan lagi sesudah beliau hamil empat atau lima bulan, Yusuf terpaksa membawa Siti Maryam ke rumahnya pada bulan Maret atau April pada tahun berikutnya. Dengan demikian sejarah mengacaukan saat Siti Maryam dibawa oleh Yusuf ke rumahnya di bulan Maret atau April dengan saat beliau menjadi hamil, yang sebenarnya telah terjadi empat atau lima bulan sebelumnya. Dari ayat ini nampak pula, bahwa ketika Siti Maryam melahirkan, beliau berbaring di suatu tempat terlindung yang terletak di bagian atas gunung, sedang pohon kurma berada di tempat yang landai, dan oleh karena itu Siti Maryam dengan mudah dapat mencapai batangnya dan mengguncangkannya. Bahwasanya daerah Bethlehem berlimpah-limpah dengan pohon kurma ternyata dari Bibel (Hakim-hakim 1: 16) dan juga dari “A Dictionary of the Bible” oleh Dr. John D. Davis D.D.. Lagi pula, kenyataan bahwa Siti Maryam telah dibimbing ke suatu mata air seperti disebutkan dalam ayat terdahulu untuk minum air dan membasuh dirinya, mengisyaratkan bahwa kelahiran Nabi Isa As telah terjadi dalam bulan Agustus–September, sebab Siti Maryam tidak mungkin membasuh dirinya di tempat terbuka, dalam cuaca Yudaea yang sedingin es di bulan Desember. Lihat pula Edisi Besar Tafsir dalam bahasa Inggris hlm 1575–1576.

Sumber : Tafsir Singkat Ahmadiyah,  Editor Malik Ghulam Farid, Neratja Press 2017, Terjemah Indonesia

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...