PERUBAHAN
SOSIAL : PERSPEKTIF ISLAM[1]
“Air Dimana-Mana Tetapi
Tidak Setetes Pun Yang Bisa Diminum.”
“Kita
Harus Memahami Hubungan Waktu - Ruang Yang Melekat Dalam Tubuh Semua Interaksi
Sosial. Setiap Pola Interaksi Yang Ada Diletakan Dalam Waktu”
Perubahan
Sosial
Perubahan sosial di era milenial begitu menggerus
Budi, budaya dan sifat sosial dari masyarakat. Dari sisi perubahan sosial
inilah yang merupakan inti dari sosiologi menjadi tolok ukur akan perubahan yang
menggambarkan realitas sosialnya. (Haferkamp dan Smelsera:1)
Contoh interaksi sosial zaman old dan zaman now
berubah dari berkumpul, berkunjung, bercakap-cakap sambil kopi panas, melihat
mimik raut muka dengan jelas, melihat pintu rumah lalu mengetuknya dan
mengucapkan salam,
kini hanya tinggal pegang gadget "kelar". Karna kaum milenial atau masyarakat zaman now lebih
memikirkan efisiensi waktu.
Times is Money, atau alwaqtu kasy-syaif alias
waktu bagai sebilah pedang atau Waktu adalah Segalanya. Dengan alat komunikasi semakin
"canggih" dan tak terkendali,
Sebenarnya apa yang berubah?
Permulaan abad ketujuh adalah masa
kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap
dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka ;
dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada
kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan
Isa as. di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan
keenam, dunia beradap berada di tepi jurang kekacauan. [2]
Allah
Taala Berfirman dalam Ar-Rum : 41 sbb:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا
كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ
يَرۡجِعُونَ
Yakni:
Kerusakan telah meluas
di daratan dan di lautan, di sebabkan perbuatan tangan manusia, supaya
dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan,
supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.
Memahami
teks dan konteks ayat tersebut kita patut mencermati kerusakan apa saja yang
terjadi saat ini. Tafsir dari ayat tersebut adalah :
Masalah pokok dalam ayat-ayat
sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Yang menciptakan, mengatur, dan
membimbing segala kehidupan. Dalam ayat sekarang ini kita di beri tahu, bahwa
bila kegelapan menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Tuhan dan
menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan
diciptakan oleh mereka sendiri, maka Tuhan membangkitkan seorang nabi untuk
mengembalikan gemba laan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.
Demikianlah keadaan umat manusia pada
waktu Rasulullah saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia,
dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk
Alquran ; sebab, syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau
kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan,
menampakkan diri menjadi mapan.
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan :
a.
bangsa-bangsa yang
kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta
pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya
didasari oleh wahyu Ilahi
b.
orang-orang yang hidup di benua-benua
dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa
di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial
maupun akhlaki. [3]
Hadhrat
Mirza Tahir Ahmad RH. Khalifatul Masih IV Jemaah Muslim Ahmadiyah Bersabda :
“Sayang sekali bahwa pengaruh agama atas perilaku
moral sekarang ini sudah sangat menyusut. Keadaan tersebut menjadi bertambah
buruk dengan munculnya dorongan untuk membebaskan diri dari kewajiban-kewajiban
keagamaan dan hal tersebut bertambah luas di hampir seluruh penjuru dunia kontemporer
ini. Namun disamping itu juga terdapat kepanikan karena menurunnya rasa aman
dan bertambah kacaunya perilaku sosial yang berjalan paralel dengan trend
pengabaian norma-norma keagamaan dan etika. Tambah cepat memudar keimanan pada
Tuhan yang hidup, Dia yang tidak saja telah membentuk takdir manusia tetapi
yang juga mengatur pola kehidupan manusia dari hari ke hari.”[4]
Kemudian Beliau mengutip
QS. Ar-Rum : 42 tersebut sebagai konklusi Sabdanya. Beliau Melanjutkan :
Nasrani
sebagai agama yang dominan di Barat sampai dengan awal abad ini masih memiliki
kendali yang kuat dan efektif atas perilaku moral para pengikutnya di Barat.
Sayang sekali hal ini sudah tidak lagi demikian.Saat ini terjadi revolusi
kebudayaan yang didasarkan pada interaksi sosialisme ilmiah, perkembangan keilmuan yang cepat dan kemajuan
materialistis yang memaksa agama Nasrani
undur selangkah demi selangkah untuk kemudian perannya menjadi makin
mengecil dalam pembentukan perilaku sosial.
Dengan
demikian, perilaku moral di Barat saat ini sangat kecil kadar Kristianinya
seperti juga kadar ke-Islaman dalam perilaku moral di negeri-negeri Muslim. Hal
yang sama juga berlaku pada perilaku
sosial dan moral secara umumnya di
bagian lain dunia ini. Kita melihat banyak sekali penganut Budha,
Konghucu atau Hindu, tetapi sayangnya sedikit sekali bisa ditemukan
ajaran-ajaran agama Budha, Konghucu maupun Hindu.[5]
Interaksi
Sosial
Pada
abad 19 sosiologi lahir untuk memahami
perubahan atau transformasi fundamental dari masyarakat yang biasa biasa saja
(baca :tradisional) menjadi masyarakat
yang "berbudaya" (baca : milenial).
Giddens mengatkan bahwa “.. kita
harus memahami hubungan waktu - ruang yang melekat dalam tubuh semua interaksi
sosial. Setiap pola interaksi yang ada diletakan dalam waktu”. [6]
Sorokin Mengatakan “..setiap kejadian, perubahan,
proses, gerakan, keadaan dinamis, secara tersirat menyatakan waktu” .[7]
Dari pernyataan tersebut yang kita fahami adalah semua yang berubah adalah
waktu, time. Sedangkan kita hanyalah bagian dari perubahan waktu itu sendiri.
Dengan
Bijaksana 1400 tahun lalu Yang Mulia Nabi Muhammad Saw menyabdakan tentang
begitu singkatnya waktu. Sebagaimana Anas Bin Malik
Meriwayatkan bahwa Rasulullah saw
bersabda :
Tidak Akan
Terjadi Kiamat, Sehingga Waktu Terasa Pendek, Maka Setahun Dirasakan Seperti
Sebulan, Sebulan Dirasakan Seperti Semingggu, Seminggu Dirasakan Seperti
Sehari, Sehari Dirasakan Seperti Satu Jam Serta Satu Jam Dirasakan Seperti Satu
Kilatan Api.[8]
Dengan adanya perubahan waktu ini. Teknologi informasi
menjadi ladang utama untuk menggantikan "komukasi zaman old" yang
melulu seperti disebutkan tadi. Berkunjung dan ngopi. Teknologi informasi membuat suatu penemuan
menjadi sempurna untuk digunakan sebagai penunjang perubahan kehidupan sosial
dalam masyarakat. Anggap saja seperti Jaringan sosial versi modern ( Alat
Jejaring Sosial: Facebook, Twitter,
Instagram dll) menjadi sarana baru untuk silaturahmi mengefektifkan
"waktu". Belum lagi berbagai aplikasi lintas platform (Whatsapp,
Line, Wechat, Telegram dll) menjadi
semakin familiar bagi perubahan kebiasaan masyarakat.
Semua hal tersebut menjadi media sosial bagi kaum
zaman now atau milenial. Dikatakan bahwa
“jaringan
sosial ini merupakan ikatan penghubung dalam hubungan sosial yang beranggotakan
manusia”.[9]
Teringat dengan kalimat dalam sebuah film " Mendekatkan
yang jauh, menjauhkan yang dekat ".[10]
Ketika kita sebagai pelaku dengan adanya gadget, realitas sosial inilah yang terjadi. Kita
bisa bercakap-cakap dengan siapapun dalam dunia nyata tapi bisa berkomunikasi
dengan siapapun di dunia Maya.
Sesuai dengan keadaan tersebut tidaklah mengherankan
junjungan kita Nabi Muhammad SAW telah memberikan gambaran tentang bagaimana
anggota keluarga ini bisa terjadi kesalahfahaman, kegaduhan, saling hina dll
yang dilakukan oleh pengguna jaringan sosial tadi dengan menggunakan alat
komunikasi yang canggih.
Sabdanya adalah sebagai berikut :
Dari Ali Bin Abi Thalib,
ia berkata, Rasulullah saw bersabda:Apabila umatku telah melakukan 15 perkara,
maka bala` pasti akan turun kepada mereka, yakni : 1. Apabila harta Negara hanya beredar pada orang-orang tertentu, 2. Apabila
amanah dijadikan suatu sumber keuntungan, 3. Zakat dijadikan hutang, 4. Suami memperturutkan kemauan istri, 5.
Anak durhaka terhadap ibunya, 6. Sedangkan ia berbuat baik dengan temannya, 7. Dia
menjauhkan diri dari ayahnya,
8. Suara- suara ditinggikan di dalam Masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu kaum adalah orang terhina di antara mereka, 10. Seseorang
dimuliakan karena ditakuti kejahatannya 11. khamar (Minuman keras) sudah diminum di segala tempat, 12.
Kain Sutera banyak dipakai [oleh kaum laki-laki], 13. Para biduanita disanjung-
sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat atau
menyalahkan generasi pertama. Maka ketika itu hendaklah mereka menanti
angin merah atau gerhana dan gempa .[11]
Konklusi
sebagai Peringatan
Mengutip sabda dari Khalifah Muslim Ahmadiyah
yang ke-4, Mirza Tahir Ahmad RH sebagai peringatan perubahan sosial dan interaksinya, penting
untuk menjadi renungan bersama agar kita tahu bagaimana mengatasi perubahan
ini.
Beliau
Bersabda :
“Air dimana-mana tetapi tidak setetes pun yang bisa diminum.”
Bila
norma-norma, etika keagamaan dan adat tidak lagi ada di masyarakat, maka
moralitas akan kehilangan maknanya bagi suatu generasi yang tidak lagi menelan
mentah-mentah warisan budayanya sebagai suatu yang benar atau sahih.
Generasi
itu melalui suatu periode kritikal akan transisi ke kegelapan dan kekosongan.
Kondisi tersebut akan menimbulkan keinginan untuk bertanya. Proses bertanya itu
mungkin akan atau mungkin juga tidak menemukan norma perilaku yang lebih baik
atau memuaskan.
Mungkin
saja proses tadi berakhir pada keadaan kekacauan atau anarki moral secara
total. Menurut hemat saya, kondisi terakhir itulah yang jadi pilihan masyarakat
modern.
Suatu angin perubahan sedang berhembus di antara
masyarakat-masyarakat dunia, baik di barat atau pun di timur. Ini adalah angin
jahat yang mencemari iklim dunia seluruhnya. Dunia modern lebih memperhatikan peningkatan
polusi dalam atmosfir material dari peningkatan cepat polusi di tengah
lingkungan sosial kita. Al-Quran yang rupanya berbicara mengenai masa itu.
[12]
[1] Khaeruddin
Atmaja, Mubaligh Lokal di Jeneponto
[2] Tasfir
Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[3] Tasfir
Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[4] Islam dan
Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.59. Neratja Press, 2018
[5] Islam dan
Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018
[8] Tirmidzi/Juz 4/Kitab Al-fitan/Bab Maa Jaa Fi
Taqarab Al-zaman/no.2339/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M
[9]Ruddy
Agusyanto, Jaringan Sosial Dalam Organisasi, Raja Grafindo Persada, Cet. 1 2007 Jakarta,Hal.
13
[10] Coboy Junior
The Movie, Produser : Frederica
Sutradara :Anggy Umbara
Penulis : Hilman Mutasi
Pemeran : Coboy Junior
Tanggal edar Wednesday, 05 June 2013
[11] Tirmidzi/Juz 4 /Kitab Al-fitan/no.2217/Dar Al-fikr/Beirut
–Libanon/2003 M
[12] Islam dan
Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar