Sabtu, 02 Mei 2020

PERUBAHAN SOSIAL : PERSPEKTIF ISLAM


PERUBAHAN SOSIAL : PERSPEKTIF  ISLAM[1]
“Air Dimana-Mana Tetapi Tidak Setetes Pun Yang Bisa Diminum.”

“Kita Harus Memahami Hubungan Waktu - Ruang Yang Melekat Dalam Tubuh Semua Interaksi Sosial. Setiap Pola Interaksi Yang Ada Diletakan Dalam Waktu”

Perubahan Sosial
Perubahan sosial di era milenial begitu menggerus Budi, budaya dan sifat sosial dari masyarakat. Dari sisi perubahan sosial inilah yang merupakan inti dari sosiologi menjadi tolok ukur akan perubahan yang menggambarkan realitas sosialnya. (Haferkamp dan Smelsera:1) 
Contoh interaksi sosial zaman old dan zaman now berubah dari berkumpul, berkunjung, bercakap-cakap sambil kopi panas, melihat mimik raut muka dengan jelas, melihat pintu rumah lalu mengetuknya dan mengucapkan salam, kini hanya tinggal pegang gadget "kelar".  Karna kaum milenial atau masyarakat zaman now lebih memikirkan efisiensi waktu. Times is Money,  atau alwaqtu kasy-syaif alias waktu bagai sebilah pedang atau Waktu adalah Segalanya. Dengan alat komunikasi semakin "canggih" dan tak terkendali, Sebenarnya apa yang berubah? 
Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka ; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa as. di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradap berada di tepi jurang kekacauan. [2]

Allah Taala Berfirman dalam Ar-Rum : 41 sbb:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 

Yakni:
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan, di sebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat  sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.

Memahami teks dan konteks ayat tersebut kita patut mencermati kerusakan apa saja yang terjadi saat ini. Tafsir dari ayat tersebut adalah :
Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan. Dalam ayat sekarang ini kita di beri tahu, bahwa bila kegelapan menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Tuhan dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Tuhan membangkitkan seorang nabi untuk mengembalikan gemba laan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.

Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Rasulullah saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Alquran ; sebab, syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri menjadi mapan.

Kata-kata “daratan dan lautan”  dapat diartikan :
a.                    bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi
b.                   orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki. [3]

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH. Khalifatul Masih IV Jemaah Muslim Ahmadiyah Bersabda :

Sayang sekali bahwa pengaruh agama atas perilaku moral sekarang ini sudah sangat menyusut. Keadaan tersebut menjadi bertambah buruk dengan munculnya dorongan untuk membebaskan diri dari kewajiban-kewajiban keagamaan dan hal tersebut bertambah luas di hampir seluruh penjuru dunia kontemporer ini. Namun disamping itu juga terdapat kepanikan karena menurunnya rasa aman dan bertambah kacaunya perilaku sosial yang berjalan paralel dengan trend pengabaian norma-norma keagamaan dan etika. Tambah cepat memudar keimanan pada Tuhan yang hidup, Dia yang tidak saja telah membentuk takdir manusia tetapi yang juga mengatur pola kehidupan manusia dari hari ke hari.”[4]
 Kemudian Beliau mengutip QS. Ar-Rum : 42 tersebut sebagai konklusi Sabdanya. Beliau Melanjutkan :
 Nasrani sebagai agama yang dominan di Barat sampai dengan awal abad ini masih memiliki kendali yang kuat dan efektif atas perilaku moral para pengikutnya di Barat. Sayang sekali hal ini sudah tidak lagi demikian.Saat ini terjadi revolusi kebudayaan yang didasarkan pada interaksi sosialisme ilmiah, perkembangan keilmuan yang  cepat dan kemajuan materialistis yang memaksa agama Nasrani  undur selangkah demi selangkah untuk kemudian perannya menjadi makin mengecil dalam pembentukan perilaku sosial.

Dengan demikian, perilaku moral di Barat saat ini sangat kecil kadar Kristianinya seperti juga kadar ke-Islaman dalam perilaku moral di negeri-negeri Muslim. Hal yang sama juga  berlaku pada perilaku sosial dan moral secara umumnya di  bagian lain dunia ini. Kita melihat banyak sekali penganut Budha, Konghucu atau Hindu, tetapi sayangnya sedikit sekali bisa ditemukan ajaran-ajaran agama Budha, Konghucu maupun Hindu.[5]

Interaksi Sosial
Pada abad 19 sosiologi  lahir untuk memahami perubahan atau transformasi fundamental dari masyarakat yang biasa biasa saja (baca :tradisional)  menjadi masyarakat yang "berbudaya" (baca : milenial).   
Giddens mengatkan bahwa  “.. kita harus memahami hubungan waktu - ruang yang melekat dalam tubuh semua interaksi sosial. Setiap pola interaksi yang ada diletakan dalam waktu”. [6]
Sorokin Mengatakan “..setiap kejadian, perubahan, proses, gerakan, keadaan dinamis, secara tersirat menyatakan waktu .[7] Dari pernyataan tersebut yang kita fahami adalah semua yang berubah adalah waktu, time. Sedangkan kita hanyalah bagian dari perubahan waktu itu sendiri.
Dengan Bijaksana 1400 tahun lalu Yang Mulia Nabi Muhammad Saw menyabdakan tentang begitu singkatnya waktu. Sebagaimana Anas Bin Malik Meriwayatkan bahwa  Rasulullah saw bersabda :

Tidak Akan Terjadi Kiamat, Sehingga Waktu Terasa Pendek, Maka Setahun Dirasakan Seperti Sebulan, Sebulan Dirasakan Seperti Semingggu, Seminggu Dirasakan Seperti Sehari, Sehari Dirasakan Seperti Satu Jam Serta Satu Jam Dirasakan Seperti Satu Kilatan Api.[8]

Dengan adanya perubahan waktu ini. Teknologi informasi menjadi ladang utama untuk menggantikan "komukasi zaman old" yang melulu seperti disebutkan tadi. Berkunjung dan ngopi.  Teknologi informasi membuat suatu penemuan menjadi sempurna untuk digunakan sebagai penunjang perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat. Anggap saja seperti Jaringan sosial versi modern ( Alat Jejaring Sosial: Facebook, Twitter,  Instagram dll) menjadi sarana baru untuk silaturahmi mengefektifkan "waktu". Belum lagi berbagai aplikasi lintas platform (Whatsapp, Line, Wechat, Telegram dll)  menjadi semakin familiar bagi perubahan kebiasaan masyarakat.
Semua hal tersebut menjadi media sosial bagi kaum zaman now atau milenial.  Dikatakan bahwa jaringan sosial ini merupakan ikatan penghubung dalam hubungan sosial yang beranggotakan manusia”.[9] Teringat dengan kalimat dalam sebuah film  " Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat ".[10] Ketika kita sebagai pelaku dengan adanya gadget,  realitas sosial inilah yang terjadi. Kita bisa bercakap-cakap dengan siapapun dalam dunia nyata tapi bisa berkomunikasi dengan siapapun di dunia Maya.
Sesuai dengan keadaan tersebut tidaklah mengherankan junjungan kita Nabi Muhammad SAW telah memberikan gambaran tentang bagaimana anggota keluarga ini bisa terjadi kesalahfahaman, kegaduhan, saling hina dll yang dilakukan oleh pengguna jaringan sosial tadi dengan menggunakan alat komunikasi yang canggih.

 Sabdanya adalah sebagai berikut :

Dari Ali Bin Abi Thalib,  ia berkata, Rasulullah saw bersabda:Apabila umatku telah melakukan 15 perkara, maka bala` pasti akan turun kepada mereka, yakni : 1. Apabila harta Negara hanya  beredar pada orang-orang tertentu, 2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan, 3. Zakat dijadikan hutang, 4. Suami memperturutkan kemauan istri, 5. Anak durhaka terhadap  ibunya, 6. Sedangkan  ia berbuat baik dengan temannya, 7. Dia menjauhkan diri dari ayahnya, 8. Suara- suara ditinggikan di dalam Masjid, 9. Yang menjadi ketua suatu  kaum adalah orang  terhina di antara mereka, 10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya 11. khamar (Minuman keras) sudah diminum di segala tempat, 12. Kain Sutera banyak dipakai [oleh kaum laki-laki], 13. Para biduanita disanjung- sanjung, 14. Musik banyak dimainkan, 15. Generasi akhir umat ini melaknat atau menyalahkan generasi pertama. Maka ketika itu hendaklah mereka menanti angin  merah atau gerhana dan gempa .[11]

Konklusi sebagai Peringatan
Mengutip sabda dari Khalifah Muslim Ahmadiyah yang ke-4, Mirza Tahir Ahmad RH sebagai peringatan  perubahan sosial dan interaksinya, penting untuk menjadi renungan bersama agar kita tahu bagaimana mengatasi perubahan ini.
Beliau Bersabda :
“Air dimana-mana tetapi tidak setetes pun yang bisa diminum.”
Bila norma-norma, etika keagamaan dan adat tidak lagi ada di masyarakat, maka moralitas akan kehilangan maknanya bagi suatu generasi yang tidak lagi menelan mentah-mentah warisan budayanya sebagai suatu yang benar atau sahih.

Generasi itu melalui suatu periode kritikal akan transisi ke kegelapan dan kekosongan. Kondisi tersebut akan menimbulkan keinginan untuk bertanya. Proses bertanya itu mungkin akan atau mungkin juga tidak menemukan norma perilaku yang lebih baik atau memuaskan.

Mungkin saja proses tadi berakhir pada keadaan kekacauan atau anarki moral secara total. Menurut hemat saya, kondisi terakhir itulah yang jadi pilihan masyarakat modern.

Suatu angin perubahan sedang berhembus di antara masyarakat-masyarakat dunia, baik di barat atau pun di timur. Ini adalah angin jahat yang mencemari iklim dunia seluruhnya. Dunia modern lebih memperhatikan peningkatan polusi dalam atmosfir material dari peningkatan cepat polusi di tengah lingkungan sosial kita. Al-Quran yang rupanya berbicara mengenai masa itu. [12]



[1] Khaeruddin Atmaja, Mubaligh Lokal di  Jeneponto
[2] Tasfir Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[3] Tasfir Singkat JAI, Editor Malik Ghulam Farid, Surah Ar-Rum :42.
[4] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.59. Neratja Press, 2018
[5] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018
[6]Sosiologi Perubahan Sosial Piotr Sztompka,  Prenada, Cet.6 Agsts 2011 Jakarta,Hal. 45
[7] Ibid, Hal 46
[8] Tirmidzi/Juz 4/Kitab Al-fitan/Bab Maa Jaa Fi Taqarab Al-zaman/no.2339/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M
[9]Ruddy Agusyanto,  Jaringan Sosial Dalam Organisasi,  Raja Grafindo Persada, Cet. 1 2007 Jakarta,Hal. 13
[10] Coboy Junior The Movie, Produser : Frederica Sutradara :Anggy Umbara Penulis : Hilman Mutasi Pemeran : Coboy Junior Tanggal edar Wednesday, 05 June 2013

[11] Tirmidzi/Juz 4 /Kitab Al-fitan/no.2217/Dar Al-fikr/Beirut –Libanon/2003 M
[12] Islam dan Isyu Kontemporer, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad RH., hal.60. Neratja Press, 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...