Sang Khaliq Bercerita Makhluqnya.
1400 Tahun Lalu Allah Taala melalui Jibril As. Menyampaikan Wahyu kepada Rasulullah Saw.. Yakni kisah Makhluq oleh Sang Khaliq.
Makhluq itu adalah Manusia. Diantara Sifat Manusia yang Makhluq ini, dibawah ini adalah sifat buruknya. Agar manusia itu sadar sedari awal bahwa dia pasti akan seperti ayat ayat ini.
Coba Perhatikan Ayat demi ayat ini.. Allah Taala Berfirman :
وَ اِذَاۤ اَذَقۡنَا النَّاسَ رَحۡمَۃً مِّنۡۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ
Dan apabila Kami membuat manusia merasakan suatu rahmat setelah kesusahan menimpa mereka
مَسَّتۡہُمۡ اِذَا لَہُمۡ مَّکۡرٌ فِیۡۤ اٰیَاتِنَا ؕ
tiba-tiba mereka mulai membuat rencana terhadap ayat-ayat Kami.
قُلِ اللّٰہُ اَسۡرَعُ مَکۡرًا ؕ
Katakanlah kepada mereka, “Allah lebih cepat dalam membuat rencana;
اِنَّ رُسُلَنَا یَکۡتُبُوۡنَ مَا تَمۡکُرُوۡنَ
sesungguhnya malaikat utusan-utusan Kami menuliskan apa yang kamu rencanakan.” (Yunus:21)
Nah Kan betul apa Firman Allah Taala Yang MAHA MENGETAHUI.?
Manusia itu dasarnya ya begitu.. Banyak Inkar kepada Nikmat Allah..
Mulai kan berbuat Buruk. Setelah dapat nikmat.
Rahmat turun dari Tuhan, tetapi kemalangan itu datang sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan buruk manusia sendiri.
Tafsir Jalalaiyn
(Dan apabila Kami merasakan kepada manusia) kepada orang-orang kafir Mekah (suatu rahmat) berupa hujan dan kesuburan (sesudah datangnya bahaya) kesengsaraan dan kekeringan (menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam menentang tanda-tanda kekuasaan Kami) dengan memperolok-olokkannya dan mendustakannya. (Katakanlah,) kepada mereka ("Allah lebih cepat dalam membuat tipu daya") sebagai pembalasan dari-Nya. (Sesungguhnya utusan-utusan Kami) yaitu para malaikat (menuliskan tipu daya kalian) lafal tamkuruuna dapat dibaca dengan memakai huruf ta sehingga menjadi tamkuruuna, dapat pula dibaca dengan huruf ya sehingga bacaannya menjadi yamkuruuna.
Tafsir Quraish Shihab
Di antara tabiat manusia adalah bahwa apabila Kami memberikan nikmat kepada mereka--setelah diri, keluarga dan harta mereka tertimpa kesusahan--mereka tidak mensyukuri Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka setelah kesusahan itu dihilangkan. Bahkan sebaliknya, mereka membalasnya dengan terus mendustakan dan menentang bukti-bukti kekuasaan Allah. Katakanlah, wahai Rasulullah, "Kalau bukan karena ketetapan Allah yang terdahulu untuk menangguhkan kalian sampai waktu yang Dia ketahui, sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk membinasakan dan mempercepat siksa kalian. Sesungguhnya Rasul- rasul Kami dari jenis malaikat yang Kami sertakan bersama kalaian mencatat tipu daya kalian dan Dia akan menghisab dan mengganjar kalian."
Tapi Tenang Allah Taala itu
اَسۡرَعُ مَکۡرًا
cepat dalam membuat rencana. Beranikah Manusia melawan kecepatannya.
Nah,, Lalu Allah Yang Maha عليم menyebutkan lagi di ayat 22.
ہُوَ الَّذِیۡ یُسَیِّرُکُمۡ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ
Dialah Yang memperjalankan kamu di daratan dan lautan
ؕ حَتّٰۤی اِذَا کُنۡتُمۡ فِی الۡفُلۡکِ ۚ
sehingga apabila kamu telah berada di kapal
وَ جَرَیۡنَ بِہِمۡ بِرِیۡحٍ طَیِّبَۃٍ وَّ فَرِحُوۡا بِہَا
Dan berlayar kapal-kapal itu membawa mereka dengan angin yang baik dan mereka pun bergembira karenanya
جَآءَتۡہَا رِیۡحٌ عَاصِفٌ وَّ جَآءَہُمُ الۡمَوۡجُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ
tiba-tiba datanglah angin badai melanda mereka dan datang pula pada mereka ombak dari segala penjuru
وَّ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ اُحِیۡطَ بِہِمۡ ۙ
dan mereka menduga bahwa mereka telah terkepung oleh itu
دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ
mereka berseru kepada Allah dengan setulus ketaatan kepada-Nya seraya berkata :
لَئِنۡ اَنۡجَیۡتَنَا مِنۡ ہٰذِہٖ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰکِرِیۡنَ
“Jika Engkau selamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”(Yunus:22)
Seperti angin sepoi-sepoi basah kadang-kadang berubah menjadi taufan yang dahsyat dan membawa kehancuran yang sangat luas jangkauannya.
Tafsir Jalalayn
(Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan) menurut suatu qiraat yansyurukum bukannya yusayyirukum (di daratan, berlayar di laut. Sehingga apabila kalian berada di dalam bahtera) di dalam perahu-perahu (dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang di dalamnya) di dalam lafal ini terkandung pengertian iltifat dari mukhathab menjadi ghaib (dengan tiupan angin yang baik) angin yang lembut (dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai) angin yang kencang tiupannya dan dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilandanya (dan gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah dikepung bahaya) mereka pasti binasa (maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata) yakni berseru ("Sesungguhnya jika) huruf lam di sini bermakna qasam atau sumpah (Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini) dari malapetaka ini (pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.") yaitu akan menjadi orang-orang yang mentauhidkan Allah.
Quraish Shihab
Allah, yang kalian ingkari nikmat-Nya dan kalian dustakan ayat-ayat-Nya, adalah yang menjadikan kalian mampu berjalan di daratan--baik dengan berjalan kaki maupun berkendaraan--dan di lautan dengan bahtera yang berlayar di atas air, dengan kekuatan angin yang disediakan bagi mereka dan mendorongnya dengan selamat sampai ke tujuan. Hingga apabila kalian merasa tenang dan gembira dengannya, datanglah badai yang membawa gelombang dari segenap penjuru. Kalian merasa yakin bahwa kebinasaan akan segera datang dengan pasti. Dalam kesulitan ini, kalian tidak mendapatkan pelindung kecuali Allah, sehingga kalian berdoa kepada-Nya dengan ikhlas dan penuh keyakinan bahwa tidak ada seorang penolong pun selain Allah. Kalian berjanji akan beriman kepada Allah dan menjadi golongan orang yang bersyukur apabila Dia menolong kalian dari bencana ini.
Nah,Allah Taala maha Tawwab. Namun Tetap itu bagi hamba yang benar benar Ruju' Ilal Haq. Bukan Yang Macam Seperti ayat ini..
فَلَمَّاۤ اَنۡجٰہُمۡ
Tetapi setelah Dia selamatkan mereka
اِذَا ہُمۡ یَبۡغُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ
tiba-tiba mereka berbuat durhaka di muka bumi tanpa hak.
ؕ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّمَا بَغۡیُکُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ ۙ
Hai manusia! Sesungguhnya kedurhakaanmu itu akan menimpa dirimu
مَّتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫
(akibat) kesenangan hidup di dunia
ثُمَّ اِلَیۡنَا مَرۡجِعُکُمۡ
kemudian kepada Kami tempat kembalimu,
فَنُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
lalu Kami beritahukan kepadamu apa yang senantiasa kamu kerjakan.(Yunus:23)
Haai..Manusia Ingatlah yah. Kita kembali hanya kepada Allah Taala tidak perlu banyak "gaya" demi dunia. Karena Bisa jadi kau kaya hari ini, esok kau kan lihat musnahnya semua harta. Tidak percaya?
Tafsir Jalalayn
(Maha setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa alasan yang benar) mereka melakukan kemusyrikan. (Hai manusia, sesungguhnya perbuatan kelewat batas kalian) perbuatan kelaliman kalian (akan menimpa diri kalian sendiri) karena sesungguhnya yang menanggung dosanya adalah diri kalian sendiri (hal itu hanyalah kenikmatan duniawi) kalian bersenang-senang dengannya dalam waktu yang sedikit. (Kemudian kepada Kamilah kembali kalian) sesudah mati (lalu Kami kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan) maka Kami membalas kalian berdasarkannya. Menurut suatu qiraat lafal mataa'un dibaca nashab sehingga menjadi mataa'an, artinya kalian bersenang-senang.
Quraish Shihab
Lalu, ketika Dia menolong mereka dari kebinasaan yang hampir menimpa, mereka mengingkari janji dan kembali dengan cepat kepada kejahatan sebagaimana keadaan mereka semula. Wahai manusia yang mengingkari janji, sesungguhnya dampak buruk dari kejahatan dan kezaliman kalian akan kembali kepada kalian sendiri. Dan sesungguhnya kenikmatan yang kalian rasakan di dunia adalah kenikmatan duniawi yang fana. Kemudian kepada Allahlah, pada akhirnya, tempat kembali kalian. Dia akan memberikan balasan dari segala perbuatan yang telah kalian lakukan di dunia.
Ayat ini jelas adanya. Simak..
اِنَّمَا مَثَلُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari awan
فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ مِمَّا یَاۡکُلُ النَّاسُ وَ الۡاَنۡعَامُ ؕ
lalu bercampurlah tumbuh-tumbuhan bumi dengannya, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak,
حَتّٰۤی اِذَاۤ اَخَذَتِ الۡاَرۡضُ زُخۡرُفَہَا وَ ازَّیَّنَتۡ
sehingga apabila bumi telah memakai perhiasannya serta tampak indah
وَ ظَنَّ اَہۡلُہَاۤ اَنَّہُمۡ قٰدِرُوۡنَ عَلَیۡہَاۤ ۙ
dan pemilik-pemiliknya menduga bahwa mereka berkuasa penuh atasnya
اَتٰہَاۤ اَمۡرُنَا لَیۡلًا اَوۡ نَہَارًا
maka datanglah kepadanya keputusan Kami di waktu malam atau siang
فَجَعَلۡنٰہَا حَصِیۡدًا
dan Kami menjadikannya seperti ladang yang telah disabit.
کَاَنۡ لَّمۡ تَغۡنَ بِالۡاَمۡسِ ؕ
seolah-olah tidak pernah ada sampai kemarin.
کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda Kami bagi kaum yang berpikir.(Yunus:24)
Nah.. Benar bukan Firmannya seperti Keadaannya? Pastilah.. Karena Allah Taala kan sang KHALIQUL KULL. Sehingga Allah Taala memperingatkan agar tidak seperti diatas.
Tafsir Jalalaiyn
(Sesungguhnya perumpamaan) gambaran (kehidupan duniawi itu adalah seperti air) hujan (yang Kami turunkan dari langit lalu tumbuhlah berkat air itu dengan suburnya) oleh sebab air itu (tanaman-tanaman bumi) sehingga sebagian di antaranya tampak bersatu dengan sebagian yang lain karena rimbunnya (di antaranya ada yang dimakan manusia) berupa biji jawawut, biji gandum dan lain sebagainya (dan binatang ternak) yaitu berupa rerumputan dan dedaunan. (Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya) menampakkan keindahannya berkat tumbuh-tumbuhannya (dan memakai pula perhiasannya) karena bunga-bungaannya. Asal kata wazzayyanat adalah tazayyanat, kemudian huruf ta diganti dengan huruf za, yang selanjutnya huruf za yang pengganti ini diidghamkan atau dimasukkan ke dalam huruf za asal, sehingga jadilah izzayyanat (dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya) mereka merasa pasti akan dapat memetik hasilnya (tiba-tiba datanglah kepadanya perkara Kami) kepastian atau azab Kami (di waktu malam hari atau siang, lalu Kami jadikan ia) yakni tanam-tanamannya (laksana tanam-tanaman yang sudah disabit) sudah dipanen dengan memakai sabit (seakan-akan) lafal ka-an adalah mukhaffafah dari lafal ka-anna, artinya seakan-akan ia (belum pernah tumbuh) belum pernah berujud (kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan) Kami terangkan (tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir).
Quraish Shihab
Kehidupan dunia dengan kesenangan dan keelokannya yang berakhir dengan kefanaan, bagaikan air yang turun dari langit, bercampur dengan tumbuhan bumi yang menjadi makanan manusia dan hewan. Tumbuh-tumbuhan itu lalu berbunga dan berbuah sehingga menambah keelokan bumi. Kemudian, ketika hiasan ini telah sampai pada kesempurnaannya dan penduduknya telah menguasai serta mengambil manfaat dari buah dan kebaikannya, tiba-tiba datang keputusan Kami untuk mematikannya. Sehingga Kami jadikan itu semua laksana sesuatu yang telah dipanen, seakan-akan tidak pernah berpenghuni dan tidak pernah menjadi bagus sebelumnya. Maka pada kedua keadaan itu--yaitu keelokan yang menggembirakan manusia kemudian disusul dengan kehilangan dan kemusnahan sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dengan tamsil yang jelas ini--Allah menjelaskan ayat-ayat dan merinci segala hukum dan bukti-bukti yang ada di dalamnya kepada kaum yang berpikir dan berakal(1). (1) Ayat ini menunjuk pada suatu hakikat yang mulai memperlihatkan tanda-tandanya, yaitu bahwa manusia mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingannya dan dengannya manusia mampu mewujudkan tujuannya. Sehingga apabila hakikat ini telah mendekati kesempurnaannya, dan manusia mengira bahwa dia merasa telah sampai pada puncak pengetahuan, maka ketentuan Allah akan datang.
Jadi..Ayat Pamungkas nyaa bisa jadi dengan ayat ini.. Allah Taala berfirman..
وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلٰی دَارِ السَّلٰمِ ؕ
Dan Allah menyeru ke tempat keselamatan
وَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ
dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
kepada jalan yang lurus.(Yunus:25)
Yakni, Salām berarti keselamatan, keamanan, kekekalan atau kebebasan dari kesalahan-kesalahan kekurangan-kekurangan cacat-cacat noda-noda keburukankeburukan; atau berarti pula kedamaian, kepatuhan; surga. Salām adalah salah satu nama sifat Tuhan juga.
Daar adalah Rumah, tempat tinggal , tempat menetap berteduh ..
Darussalaam makaa.. (Jawaban ada di fikiran yang baca)
Antara Hudan dan Mustaqim. Lihat saja Ayat..
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ
Yaa Allah Tunjukan Bimbinglah Kepada Petunjukmu yakni kepada Jalan engkau yang LURUS.
Setiap Shalat Kita senantiasa memintanya.
Tafsir Jalalaiyn
(Allah menyeru ke darussalam) kepada jalan keselamatan, yaitu surga; Dia menyeru manusia pada keimanan (dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya) untuk mendapat petunjuk (kepada jalan yang lurus) yakni agama Islam.
Quraish Shihab
Allah memanggil hamba-hamba-Nya dengan keimanan dan amal saleh ke surga, tempat yang aman dan damai. Dialah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang benar, yaitu keselamatan, disebabkan kesiapan dan kecondongannya kepada kebaikan.
Jazakumullah Ahsnal Jaza.
Rujukan Bacaan
1. Alquran dan Tafsir Singkat Jemaat Ahmadiyah. Editor Malik Ghulam Farid.
2.https://tafsirq.com/10-yunus/ayat20-25#tafsir-quraish-shihab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar