Jumat, 19 Januari 2024

JAMAAH MUSLIM AHMADIYAH DALAM MODERASI BERAGAMA

             Moderasi Beragama, yang belakangan menjadi tren positif yang digawangi Kemenag RI tentunya merupakan sejarah, dalam kemajemukan NKRI. Ditengah seolah-olah rasa ke- Bhinneka Tunggal Ika-an kian “pudar” dari sanubari anak-anak bangsa yang berbeda agama suku dan ras. Peristiwa-peristiwa yang mengatasnamakan agama sebagai landasan tindakan kekerasan ( verbal dan tindakan) menjadi momok mengerikan yang menjadi ledakan dahsyat ( baca : bom rumah ibadah)

Pemerintah  dengan berbagai cara dan dengan dana yang tidak sendikit dibawah naungan Kemenag tentunya mencari solusi untuk permasalahan Radikalisme yang berpuncak pada Terorisme sepihak ( dari Islam). Untuk menemukan solusi bagi citra Islam yang kian dianggap “teroris” ini, Kemenag banyak melakukan FGD dll dengan berbagai kalangan, mulai  dari akademisi tokoh agama dan tokoh masyarakat dan sesepuh bangsa. Dari berbagai kajiannya, nampaknya kalimat Moderasi Beragama jadi pilihan tepat untuk memurnikan kembali cara bagaimana tiap orang mengekspresikan Tekstualitas dan Kontekstualitas keagamaannya. Sehingga dengan cara itu Islam sendiri akan termurnikan  kepada keadaan yang Rahmat Lil Alaminnya.

Selain tindakan anarkisme akibat meluasnya faham takfiri dan tadhlili dll, yang kemudian  menjadi tren dikalangan fundamentalisme Islam, bukan lagi dalam verbal tapi tindakan. Misalnya, segel masjid atau  tempat ibadah lainnya yang seolah dibiarkan oleh pemerintah menjadi bola salju  yang sulit dibendung dan dihentikan. Dalam kasus ini kita akan  mencoba mengambil misal Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

2011, Februari tanggal 6, 3 Ahmadi dibantai oleh ekstrimis mengaku bagian dari FPI. Saat itu belum ada kampanye Moderasi Beragama atau adapun dalam bentuk yang lain yakni membumikan toleransi antar umat beragama dan antara umat beragama. Ini adalah landasan pemikiran kepada judul moderasi beragama perspektif ahmadiyah perlu rasanya diulas dan disajikan. Batasannya adalah apakah ada moderasi beragama dalam Ahmadiyah ? bukan tentang persekusi kepada Ahmadiyah.

Untuk memulai bahasan perlu kiranya mengutip lengkap dari eks-Menag RI tentang Moderasi Beragama, LUKMAN SAIFUDDIN, (𝙼oderasi 𝙱eragama, 𝚔𝚎𝚖𝚎𝚗𝚊𝚐 𝚁𝙸 2019, 𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚝𝚊𝚗 M𝚎𝚗𝚊𝚐 𝚍𝚊𝚗 P𝚛𝚘𝚕𝚘𝚐). Beliau pada Jalsah 2023 UK hadir dan bertemu Khalifah Ahmadiyah di London beserta tamu undangan lainnya. Diantaranya :  Prof. Ahmad Najib Burhani, Alissa Wahid dan juga ketua FKUB Jateng K.H Taslim Syahlan.

Saya menyadari bahwa secara substantif moderasi beragama sebenarnya bukan hal baru bagi bangsa kita. Masyarakat Indonesia memiliki modal sosial dan kultural yang cukup mengakar. Kita biasa bertenggang rasa, toleran, menghormati persaudaraan, dan menghargai keragaman.

Boleh dikata, nilai-nilai fundamental seperti itulah yang menjadi fondasi dan filosofi masyarakat di Nusantara dalam menjalani moderasi beragama.

Nilai itu ada di semua agama karena semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana setiap warga masyarakat, apa pun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara mereka.

Jadi jelas bahwa moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda dengan kita.

Moderasi telah lama menjadi aspek yang menonjol dalam sejarah peradaban dan tradisi semua agama di dunia. Masing.masing agama niscaya memiliki kecenderungan ajaran yang mengacu pada satu titik makna yang sama, yakni bahwa memilih jalan tengah di antara dua kutub ekstrem, dan tidak berlebih.lebihan, merupakan sikap beragama yang paling ideal.

Kesamaan nilai moderasi ini pula yang kiranya menjadi energi yang mendorong terjadinya pertemuan bersejarah dua tokoh agama besar dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar, Syekh Ahmad el.Tayyeb, pada 4 Februari 2019 lalu

Pertemuan tersebut telah menghasilkan dokumen persaudaraan kemanusiaan (human fraternity document), yang di antara pesan utamanya menegaskan bahwa musuh bersama kita saat ini sesungguhnya adalah


ekstremisme akut (fanatic extremism),

hasrat saling memusnahkan (destruction),

perang (war),

intoleransi (intolerance),

serta rasa benci (hateful attitudes) di antara sesama umat manusia, yang semuanya  mengatasnamakan agama.

Moderasi beragama juga bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara serius. Sebaliknya, moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama.

Dari kutipan diatas, nampak bahwa masalah tafsir agama bisa dishare sejauh itu maslahat bagi kemajemukan bangsa, sejauh itu berupa kebenaran berlandaskan asas  adil dan berimbang.                              

Ahmadiyah  memiliki kriteria diatas dan perlu nampaknya diulas untuk menjadi bahan kajian dan penelaahan serta bahan pengenalan atau ta’aruf. Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu. Semakin mengenal dan mengenali maka akan sampai kepada pemikiran, kebenaran itu bukan milik seseorang tapi milik Tuhan, mutlak. Terserah tuhan hendak menitipkan percikan nur ilahiah hidayah dan  kebenarannya kepada siapa yang DIA kehendaki sesuai sunnahnya.   Bukan kita (manusia) yang menentukan BENAR dan SESAT.

Hal ini Sesuai dengan Q.S. An-Nahl : 125.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


Yakni, Sungguh Tuhanmu Dialah yang lebih TAHU (‘alamu) kepada siapa yang Sesat (Dhallun) dari jalan-Nya, dan Dia Jualah yang lebih TAHU (‘alamu) kepada yang Muhtadin ( mendapat hidayah).


PENGERTIAN

𝙼oderasi berasal dari Bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke.sedang.an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni:

1. n pengurangan kekerasan, dan

2. n penghindaran keekstreman.

Jika dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa.biasa saja, dan tidak ekstrem.

Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata), core (inti), standard (baku), atau non.aligned (tidak berpihak).

Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara.

Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah.tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang).

Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula, kata wasathiyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. Apa pun kata yang dipakai, semuanya menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem.

Kata wasith bahkan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata 'wasit' yang memiliki tiga pengertian,

yaitu:

1) penengah, perantara (misalnya dalam perdagangan, bisnis);

2) pelerai (pemisah, pendamai) antara yang berselisih; dan

3) pemimpin di pertandingan.

Menurut para pakar bahasa Arab, kata wasath itu juga memiliki arti “segala yang baik sesuai dengan objeknya”.

Misalnya, kata “dermawan”, yang berarti sikap di antara kikir dan boros, atau kata “pemberani”, yang berarti sikap di antara penakut (al.jubn) dan nekad (tahawur), dan masih banyak lagi contoh lainnya dalam bahasa Arab.

Adapun lawan kata moderasi adalah berlebihan, atau tatharruf dalam bahasa Arab, yang mengandung makna extreme, radical, dan excessive dalam bahasa Inggris. Kata extreme juga bisa berarti “berbuat keterlaluan, pergi dari ujung ke ujung, berbalik memutar, mengambil tindakan/jalan yang sebaliknya”. Dalam KBBI, kata ekstrem didefinisikan sebagai “paling ujung, paling tinggi, dan paling keras”.

Dalam bahasa Arab, setidaknya ada dua kata yang maknanya sama dengan kata extreme, yaitu al.guluw, dan tasyaddud. Meski kata tasyaddud secara harfiyah tidak di­sebut dalam Alquran, namun turunannya dapat ditemukan dalam bentuk kata lain, misalnya kata syadid, syidad, dan asyadd.

Ketiga kata ini memang sebatas menunjuk kepada kata dasarnya saja, yang berarti keras dan tegas, tidak ada satu pun dari ketiganya yang dapat dipersepsikan sebagai terjemahan dari extreme atau tasyaddud. Dalam konteks beragama, pengertian “berlebihan” ini dapat diterapkan untuk merujuk pada orang yang bersikap ekstrem, serta melebihi batas dan ketentuan syariat agama.

Karenanya, moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah.tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

Salah satu prinsip dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan.

Begitulah, inti dari moderasi beragama adalah adil dan berimbang dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep yang berpasangan di atas.

Dalam KBBI, kata “adil” diartikan:

1) tidak berat sebelah/tidak memihak;

2) berpihak kepada kebenaran; dan

3) sepatutnya/tidak sewenang.wenang.

Kata “wasit” yang merujuk pada seseorang yang memimpin sebuah pertandingan, dapat dimaknai dalam pengertian ini, yakni seseorang yang tidak berat sebelah, melainkan lebih berpihak pada kebenaran. Prinsip yang kedua, keseimbangan, adalah istilah untuk menggambarkan cara pandang, sikap, dan komitmen untuk selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan.

Kecenderungan untuk bersikap seimbang bukan berarti tidak punya pendapat. Mereka yang punya sikap seimbang berarti tegas, tetapi tidak keras karena selalu berpihak kepada keadilan, hanya saja keberpihakannya itu tidak sampai merampas hak orang lain sehingga merugikan. Keseimbangan dapat dianggap sebagai satu bentuk cara pandang untuk mengerjakan sesuatu secukupnya, tidak berlebihan dan juga tidak kurang, tidak konservatif dan juga tidak liberal.

Ajaran wasathiyah, seperti telah dijelaskan pengertiannya, adalah salah satu ciri dan esensi ajaran agama. Kata itu memiliki, setidaknya, tiga makna, yakni: pertama bermakna tengah-tengah; kedua bermakna adil; dan ketiga bermakna yang terbaik. Ketiga makna ini tidak berarti berdiri sendiri atau tidak saling berkaitan satu sama lain, karena sikap berada di tengah.tengah itu seringkali mencerminkan sikap adil dan pilihan terbaik.

Contoh yang mudah dicerna dalam kehidupan seharihari adalah kata “wasit”. Ia merupakan profesi seseorang yang menengahi sebuah permainan, yang dituntut untuk selalu berbuat adil dan memutuskan yang terbaik bagi para pihak. Contoh lain, kedermawanan itu baik, karena ia berada di tengah-tengah di antara keborosan dan kekikiran. Keberanian juga baik karena ia berada di tengah-tengah di antara rasa takut dan sikap nekad. Demikian seterusnya.

Dari sejumlah tafsiran, istilah “wasatha” berarti yang dipilih, yang terbaik, bersikap adil, rendah hati, moderat, istiqamah, mengikuti ajaran, tidak ekstrem, baik dalam halhal yang berkaitan dengan duniawi atau akhirat, juga tidak ekstrem dalam urusan spiritual atau jasmani, melainkan tetap seimbang di antara keduanya. Secara lebih terperinci, wasathiyah berarti sesuatu yang baik dan berada dalam posisi di antara dua kutub ekstrem. Oleh karena itu, ketika konsep wasathiyah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak akan memiliki sikap ekstrem.

Dalam berbagai kajian, ‘wasathiyat Islam’, sering diterjemahkan sebagai ‘justly . balanced Islam’, ‘the middle path’ atau ‘the middle way’ Islam, di mana Islam berfungsi memediasi dan sebagai penyeimbang. Istilah-istilah ini menunjukkan pentingnya keadilan dan keseimbangan serta jalan tengah untuk tidak terjebak pada ekstremitas dalam beragama

Selama ini konsep wasathiyat juga dipahami dengan merefleksikan prinsip moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan adil (i`tidal). Dengan demikian, istilah ummatan wasathan sering juga disebut sebagai ‘a just people’ atau ‘a just community’, yaitu masyarakat atau komunitas yang adil.

Kata wasath juga biasa digunakan oleh orang.orang Arab untuk menunjukkan arti khiyar (pilihan atau terpilih). Jika dikatakan, “ia adalah orang yang wasath”, berarti ia adalah orang yang terpilih di antara kaumnya. Jadi, sebutan umat Islam sebagai ummatan wasathan itu adalah sebuah harapan agar mereka bisa tampil menjadi umat pilihan yang selalu bersikap menengahi atau adil. Baik dalam beribadah sebagai individu maupun dalam berinteraksi sosial sebagai anggota masyarakat, Islam mengajarkan untuk selalu bersikap moderat. (𝙼oderasi 𝙱eragama, 𝙺𝚎𝚖𝚎𝚗𝚊𝚐 𝚁𝙸 𝙷𝙰𝙻.15.19, 𝙱𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝙿𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊)

Sedangkan Pemerintah, Menerjemahkan  Moderasi Beragama dalam Perpres No. 58 tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Dikatakan bahwa :

Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai kesepakatan berbangsa.

Penjelasan diatas sudah membuat kita sadar bahwa menjadi wasit itu harus, dalam interaksi sosial sebagai warga Negara yang baik tentunya. Apalagi dikuatkan oleh Perpres tersebut. Nah, Apakah Ahmadiyah memenuhi syarat menjadi bagian Ummatan Wasathan?

ADAKAH MODERASI BERAGAMA di  DALAM JAMAAH AHMADIYAH?

Pencantuman tulisan diatas ( dari buku Kemenag, Moderasi Beragama) sebagai dasar acuan untuk mengantarkan kepada pertanyaan bahwa adakah moderasi beragama di dalam Ahmadiyah atau jika bisa ubah menjadi bagaimana sikap dan amaliyah  Ahmadiyah dalam memandang perbedaan yang memang niscaya. Dari agama, suku bangsa, firqah seagama dll. Berikut tentunya ada sedikit gambaran umum bagaimana moderasi  yang dijalankan Ahmadiyah dalam memahami dan mengaktualisasikan teks maupun konteks dasar agama Islam. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nizam.  Perlu dipahami bahwa Ahmadiyah didirikan di Hindustan, etnik agama dll begitu kompleksnya sehingga ditempat asalnya perbedaan sudah dalam kesehariannya bagi pendiri Ahmadiyah dan Penerusnya.


Mengutip  kalimat pada laman buku Moderasi Beragama diatas. Yakni :

Moderasi beragama juga bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara serius.

Sebaliknya, moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama.

Kemudian,

Salah satu prinsip dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan.

Menjadi bahan dasar untuk menguji pertanyaan diatas. Yakni apakah ada kesesuaian dengan Ahmadiyah, yang telah dirikan  oleh pendirinya 1889 lalu atas petunjuk wahyu ilahi, dengan moderasi beragama masa kini di Indonesia yang digawangi oleh Kemenag RI bahkan kini Peraturan Presiden No.58 2023 telah terbit dengan isi penguatan Moderasi Beragama ini.

 Ahmadiyah dalam menjalankan Moderasi Beragama dalam berjamaahnya, tiada lain adalah dengan taat kepada Suara Khalifah. Sehingga kemoderatan Ahmadiyah dalam beragama berada pada satu titik taat kepada sabda Khalifah. Inilah yang Ahmadiyah jalankan antara  kesesuaian antara akal dan wahyu, bahkan jasmani rohani karena Ahmadiyah dimasa awal adalah berlandaskan wahyu Allah Taala dan dilanjutkan oleh Ijtihad Khalifah sebagai penerus murni, pembimbing rohani dengan petunjuk dari  Allah Taala.

Dengan adanya konsep ini  Ahmadiyah dinilai telah mengamalkan moderasi  beragama secara terstruktur dan terorganisir. Sehingga Ahmadiyah telah serius dan percaya diri dalam menjalankan ajaran agama Islam yang ditafsirkan oleh pendiri Ahmadiyah berdasarkan wahyu-wahyu yang Beliau a.s. terima sehingga  senantiasa adil dan berimbang dalam hal Hablun Minallah dan Hablun Minannasnya,  serta hal itu senantiasa akan sama karena diteruskan oleh penerus pendiri Ahmadiyah (yang mengaku sebagai al-Masih Muhammadi akhir zaman berdasarkan wahyu ilahi), Yakni Khalifah sebagai tokoh sentral spiritual, mengontrol amal dan akal budi melalui sabda, doa dan surat menyurat (anggota menulis surat kepada khalifah)

Konsep kontrol amal dan akal budi ini mirip dengan  ayat  Tawashou bis-Shobr wa Tawashou bil-Marhamah dan Tawashou bil-Haq Tawashou bis-shobr, (Al-Balad dan Al-‘Ashr). Perpaduan antara konsep kesabaran dan kasih saying, serta perpaduan konsep kebenaran dan kesabaran, jika jadi rumus maka : kesabaran + kasih sayang + kebenaran + kesabaran = sabar. Mulailah dengan sabar dilandasi kasih sayang untuk menyampaikan kebenaran dengan penuh kesabaran maka hasilnya adalah

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

 Innallaha ma’as-shobirin (2:153), yakni kita bersama Allah Taala. Ini ciri khas Ahmadiyah sesuai dengan Sabda pendirinya yakni Hadhrat Masih Mauud as dalam buku Bahtera Nuh, https://neratjapress.online/ source : Bahtera Nuh.  Dan sesuai dengan sabda Nabi SAW :

عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 5318)

Selain hal tersebut diatas bahwa para Ahmadi (sebutan pengikut Ahmadiyah) benar-benar taat sepenuhnya kepada keputusan ilahiah melalui Khilafah, karena Khalifah adalah pilihan yang diridhai oleh Allah Taala. Menurut Prof. DR. Ahmad Najib Burhani,PHD menyebut Sistem Khilafah Ahmadiyah itu dengan kalimat The Divine System, laman kalimahsawa.id mengatakan :

Dalam keyakinan Ahmadiyah, khilafah adalah the divine system (sistem ilahi). Kedudukannya tepat dibawah konsep kenabian mengingat khalifah merupakan pelanjut nabi sebagai pembimbing umat. Kekhalifahan menjadi doktrin yang sedemikian kuat karena ia merupakan sumber kekuatan dan alat pemersatu umat. Tanpa khilafah, Ahmadiyah akan mengalami kehancuran dan disintegrasi.

Doktrin ini juga diyakini oleh sementara kalangan sunni yang masih berusaha mendirikan khilafah sendiri. Para Ahmadi meyakini bahwa kekhalifahan akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Khalifah juga akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan ilahi secara langsung, karena ia dipilih oleh Allah. https://kalimahsawa.id/konsep-khilafah-model-ahmadiyah/

Selain Tokoh sentral dalam spriritual sebagai penguat dalam menjalankan moderasi beragama penganut Ahmadiyah. Ahmadi memiliki varian dalam hal moderasi beragamanya (baca: moderasi beragama perspektif Ahmadiyah) , misal : teologi islam dan metode dakwahnya guna terciptanya tazkiyah nafs yang hakiki, yang diajarkan oleh Allah Taala kepada Pendiri Ahmadiyah. (Baca: Hadhrat Mirza Ghulam ahmad, Imam Mahdi dan Almasih). Sehingga The Divine Systemnya berlangsung hingga kiamat.

Diantara Moderasi Beragama yang telah dan terus dilakukan oleh Ahmadiyah, yang ditawarkan komplit dari berbagai segi sesuai dengan kriteria yang dijadikan misal diatas, yakni keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan, adalah sebagai berikut :


Teologi

1.      Kewafatan Isa israeli as secara wajar. https://ahmadiyah.id/pustaka/brosur/nabi-isa-ibnu-maryam-sudah-wafat

2.      Pintu Wahyu Masih dan terus berlangsung hingga kiamat https://www.alhakam.org/how-the-promised-messiahs-revelations-visions-and-dreams-were-recorded/

3.      Nabi Isa Muhammadi Telah hadir dalam konsep ruhani https://ahmadiyah.id/pendakwahan-mirza-ghulam-ahmad-sebagai-isa-almasih-dan-imam-mahdi-yang-dijanjikan.html

4.      Khilafah Ala Manhaj Nubuwwah bukan Manhaj Politik https://ahmadiyah.id/ahmadiyah/khilafat

5.      Jihad Tanpa pedang https://ahmadiyah.id/penangguhan-jihad-benarkah-ahmadiyah-menghapuskan-jihad.html

6.      Baiat (ikrar setia) https://ahmadiyah.id/10-syarat-baiat-dalam-ahmadiyah.html

Media
7. Jihad dengan Pena ( website medsos dll)

https://www.alislam.org/

https://www.reviewofreligions.org/

https://ahmadiyah.id/

https://www.alhakam.org/

https://wartaahmadiyah.org/

Pendidikan
8. Jamiah Ahmadiyah (sekolah khusus mubalig )

https://ahmadiyah.id/siaran-pers/pemimpin-ahmadiyah-menggelar-pertemuan-bersejarah-dengan-jamiah-ahmadiyah-indonesia

https://jamiaahmadiyya.uk/

https://www.jamiaghana.org/


Satelite TV
9. Muslim Television Ahmadiyya (MTA)

https://new.mta.info/

https://www.mta.tv/

https://www.youtube.com/channel/UCzwStZimmt6kg1ph4GuS7D A

MTA indonesia

https://ahmadiyah.id/muslim-television-ahmadiyya-mta-perwujudan-nubuatan-agung.html


Dakwah
10. Mengirim Mubalig ke seluruh dunia.

https://id.wikipedia.org/wiki/Maulana_Rahmat_Ali

https://en.wikipedia.org/wiki/Ahmadiyya_in_the_United_States

https://www.reviewofreligions.org/38121/islam-ahmadiyyat-in-africa-fulfillment-of-a-grand-prophecy/

Khalifah ke-5 Jamaah Muslim Ahmadiyah dalam khutbahnya bersabda :

Kita amati bahwa Allah Ta’ala memperlakukan beliau as demikian di dunia nyata dan juga masih terus memperlakukan demikian terhadap Jemaat beliau as. Hendaknya diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala sebelumnya telah dahulu mengabarkan kepada beliau as tentang berbagai macam bentuk penentangan terhadap beliau as dan akhir yang sangat menyedihkan dari para penentang;

Dia pun mengabarkan kepada beliau tentang kemajuan dan perkembagan Jemaat beliau meski menghadapi penentangan tersebut. Allah Ta’ala mengungkapkan banyak sekali wahyu perihal ini, salah satunya berikut ini:

‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga.’ – “Aku akan memperbanyak Jamaah pecinta engkau yang jujur dan tulus ikhlas.”

Lalu ada wahyu lainnya, ’Me tere sath aur tere tamam piyarong ke sath hu.’ (“I am with you and with all your dear ones.”) “Aku bersama engkau dan bersama dengan semua orang yang mengasihi engkau.” (1907)

Kemudian Allah berfirman: ‘Yanshuruka rijaalun nuuhii ilaihim minas samaa-i.’ – “Orang-orang yang Kami ilhamkan dari langit akan menolong engkau.” (1900)

Juga Dia berfirman‘Me tujhe ‘izzat dungga aur barhaungga..’ – “Aku yang akan menetapkan kemuliaan bagi engkau dan memelihara perkembangan engkau.” (1891)

Dan lagi wahyu lain berbunyi sebagai berikut: ‘YanshurukaLlahu min ‘indi-Hi’  “Allah akan menolong engkau dari diri-Nya sendiri.” (tahun 1900)

Ada juga janji Allah Ta’ala terkait secara istimewa dengan Tabligh dan penyampaian pesan beliau, Me teri tabligh ko zamin ke kinarung tak pahuncaungga.’ “Aku akan sampaikan tabligh engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia.”

Lalu firman-Nya, Kataballahu Laaghlibanna anawa rusuli “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku akan menang.’” Banyak sekali ilham dari segi dukungan dan pertolongan ini.

Hal-hal ini bukanlah hanya pendakwaan-pendakwaan belaka dari Hadhrat Masih Mau’ud aswal ‘iyaadz biLlaah. Tidak demikian! Melainkan kita melihat Allah selalu menyelesaikan janji-janji ini di setiap era, kadang-kadang Allah menunjukkan pemandangan dukungan praktis untuk merobohkan rancangan licik penentang atas mereka, dan kadang-kadang Dia memandu orang-orang dan mengungkapkan pada mereka kebenaran Ahmadiyah, dan kadang-kadang memberi ilham kedalam hati orang-orang non Ahmadi [yang berfitrat baik] untuk mendukung para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi serangan dari para penentang terhadap mereka. Jadi kita melihat bahwa janji-janji Allah terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as secara praktis terpenuhi dari waktu ke waktu. (https://ahmadiyah.id/khotbah/bukti-bukti-kebenaran )


Motto
11. Love for all Hatred For none

https://trueislam.co.uk/articles/what.does.love.for.all.hatred.for.none.mean/

While laying the foundation stone for the mosque in Pedro Abad, Spain, on 9th October 1980, he stated:

“Erecting a mosque is a matter of great importance, and it is always built with the aim that Allah alone be worshipped there. The lesson that it imparts is that all human beings, in the eyes of Allah are One, whether they may be rich or poor; whether they may be learned or illiterate; whether they may be residents of Pedro Abad or come from a distance of 1,000 miles or more and may be residing in Pakistan; as human beings they are all equal. Islam teaches us to live with mutual love and affection and with humility. It teaches us no distinction between a Muslim or a non.Muslim. My message to everyone is that you must have ‘Love for all, Hatred for none!”

In his Friday Sermon delivered on 9th May 2014, Hazrat Mirza Masroor Ahmad(aba), the Fifth Caliph of the Promised Messiah(as), stated:

“We also use this slogan (Love for All, Hatred for None) to make it clear to the world that Islam teaches love, peace and kindness and it is not correct to associate cruelty and viciousness with the faith of Islam. We employ this slogan to signify that we wish to live together by breaking down walls of hatred. When we serve humanity in any way at all or when we disseminate the message of Islam we do so because we have love for every person in the world and we wish to remove hatred from each heart and instead sow the seeds of love. We do so because this is what our master, the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) taught us.” 

Friday Sermon, 9th May 2014, Mirza Masroor Ahmad(aba)


Kemanusiaan
12. Humanity First

https://humanityfirst.org/ HF Indonesia

https://humanityfirst.id/  HF Internasional

https://hfuk.org/  HF inggris raya

https://www.humanityfirstcanada.ca/ Kanada



Dialog
13. Peace Symposium
https://loveforallhatredfornone.org/peace-symposium/

This Symposium is a key event of the Community held at the largest mosque in Western Europe and marks the 17th to date. The event promotes a deeper understanding of Islam and other faiths and seeks to inspire a concerted effort for lasting peace. The theme for this year's peace symposium is 'The Foundations for True Peace'.

More than 800 guests attend the unique event including Secretaries of State, parliamentarians, diplomats, faith and civic leaders as well as representatives from numerous charities and faith communities. Guests will also get an opportunity to be given a guided tour of the mosque complex. The keynote address will be delivered by His Holiness, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, the worldwide Head of the Ahmadiyya Muslim community.

Selain hal diatas, ada sebuah konferensi agama-agama yang pernah dan pertama kali dilakukan oleh agama-agama dan aliran keagamaan di Hindustan yakni, tahun 1896. Saat itu Ahmadiyah diberikan tempat untuk menyampaikan keindahan Islam dan Murni hanya Islam. Naskah dalam pertemuan ini berjudul Filsafat Ajaran Islam. Islami Ushul Ki Philoshopy.


Keuangan
14. Alwasiyat
https://ahmadiyah.id/buku-al-wasiat
15. Tahrik Jadid
https://ahmadiyah.id/khotbah/84-tahun-tahrik-jadid
16. Waqfi Jadid
https://ahmadiyah.id/khotbah/perjanjian-waqfi-jadid-periode-baru
17. Candah  
https://www.neliti.com/id/publications/300490/konstruksi-pemikiran-candah-dalam-jemaat-ahmadiyah-tinjauan-filsafat-hukum-islam  dan https://kabardamai.id/sistem-infaq-candah-dalam-ahmadiyah/

Tarbiyat Ruhani

18. Jalsah Salanah

https://jalsasalana.org.uk/

https://witness.tempo.co/article/detail/5760/jalsah-salanah-ahmadiyah-indonesia-2023.html

https://ahmadiyah.id/khotbah/tujuan-tujuan-jalsah-salanah

19. Ijtima Khuddam Anshar LI https://wartaahmadiyah.org/tag/ansharullah
20. Tahajjud  
https://ahmadiyah.id/cara-bangun-shalat-tahajud.html 

21. Surat Menyurat

Literasi  

https://neratjapress.online/

https://witness.tempo.co/article/detail/6828/amir-nasional-jai-resmikan-8-perpustakaan-ahmadiyah.html

Selain ke-21 hal diatas terkhusus kepada Khalifah Ahmadiyah ke.2 dan 4 telah membuat sebuah ulasan tentang Moderasi beragama perspektif Ahmadiyah, dalam buku.buku beliau. Yang tentunya menambah dan mengawal anggota Ahmadiyah agar senantiasa sesuai dengan khiththahnya dengan adanya goresan pena dari pendiri Ahmadiyah dan para Khalifahnya.

Berikut gambaran beberapa buku.buku yang mengandung tentunya konsep moderasi beragama perspektif Ahmadiyah.

Khalifatul Masih II, Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud  Ahmad r.a :

The New World Order Of Islam

https://www.alislam.org/book/new.world.order.islam/

In the backdrop of the then prevailing ideologies of communism and capitalist democracy, the second successor of the Ahmadiyya Movement, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, addressed this lecture to the Ahmadiyya Annual Gathering on December 28, 1942.The address answers the question, ‘How does Ahmadiyyat, the True Islam, propose to deal with the grave problem of socio.economic inequality in the world?’ The Ahmadiyya solution is the solution of Islam shaped under divine guidance for present needs by the Holy Founder(as) of the Ahmadiyya movement.

The speaker examines and analyses the role played by different movements to alleviate poverty and sufferings, such as, Socialism, International Socialism, Marxism, Bolshevism, Nazism and Fascism and so on. The speaker also, explores the major religions of the world regarding the basic question “social inequality a serious problem.”

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, the Promised Messiah and Mahdi, the founder of the Ahmadiyya Muslim Jama’at, laid down the foundations of the New World Order, by initiating the scheme of Wasiyyat based on Islamic teachings and under the Divine guidance in his book ‘Al.Wassiyat’ written in 1905. Later in 1934 Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad(ra) inaugurated Tahrik.e.Jadid to prepare the ground for the full implementation of the New World Order of the institution of Wasiyyat. In the present lecture he elaborates the aims and objectives of Tahrik.e.Jadid and claims that the New World Order in all its aspects, economic, social and religious, as introduced by Nizam.e.Wassiyat, will at the end prevail and a new and genuine revolution will take place.

The Economic System Of Islam

https://www.alislam.org/library/books/Economic.System.of.Islam.pdf

English translation of “Islam Ka Iqtisadi Nizam

The Economic System of Islam, is an English version of a lecture delivered in Urdu by Hazrat Mirza Bashir.ud.Din Mahmud Ahmad, the Second Khalifah Head of the Ahmadiyya Muslim Community to a gathering of academia in Lahore, Pakistan, in 1945.

The book presents a detailed account of the teachings of Islam regarding the system of economics. It demonstrates that economic system of Islam is placed within the broader teachings of Islam, with the objective of attaining the pleasure of Allah and everlasting bliss in the Hereafter. It provides for a healthy and progressive society in which the basic needs of all are met, and incentives for achieving excellence are provided, with due regard to justice and fair play.

The lecture then makes a critical evaluation of the economic aspects of Communism. It provides ample evidence that Communism has failed in its pretensions of promoting justice and equality both within its own borders and in international affairs. It brings out serious objections against Communism from a religious point of view, and cites three prophecies about the decline of Communism.

Introduction To The Study Of The Holy Quran

https://www.alislam.org/book/introduction.study.holy.quran/

Daftar Isi terjemahan :


Bab I: Pengantar Umum

1. Perlunya Terjemahan dan Tafsir Baru

2. Terjemahan Ini Memenuhi Kebutuhan Tersebut  

3. Ciri Khas Tafsir Ini  

4. Kitab-Kitab Wahyu Yang Lain  

5. Perlunya Al-Quran  Diturunkan  

6. Tuhan Dalam Bibel adalah Tuhan Kebangsaan  

7. Weda Juga Kitab Kebangsaan  

8. Tuhan Itu Esa

9. Agama Bukan Hasil Karya Cipta Manusia  

10. Ajaran Yang Diwahyukan Selamanya Menentang JalanPikiran Yang Ada  

11. Mengapa Ajaran-Ajaran Berbagai Agama Berbeda  

12. Islam Mengajarkan Tauhid Ilahi dan Martabat Kemanusiaan  

13. Isa Bukan Guru Jagat  

14. Arti Peradaban dan Kebudayaan  

15. Berbagai Masa Peradaban dan Kebudayaan

16. Kebudayaan-kebudayaan Yahudi dan Kristetn  

17. Satu Pertanyaan Yang Mendesak

18. Pertententangan-Pertentangan dalam Perjanjian Lama

19. Ajaran Keras dalam Perjanjian Lama

20. Ajaran Perjanjian Lama Yang Tak Masuk Akal

21. Nabi-nabi Dicemarkan oleh Bible

22. Perjanjian Baru Ditelaah Ulang

23. Pengakuan Isa Sendiri

24. Kesaksian Ulama-ulama Kristen  

25. Pertentangan-Pertentangan dalam Perjanjian Baru

26. Takhayyul dalam Injil .

27. Tata Susila Perjanjian Baru Yang Meragukan

28. Campurtangan Manusia dalam Weda  

29. Ajaran-ajaran Kejam Weda  

30. Takhayul dalam Kitab.kitab Weda  

31. Pertentangan-Pertentangan dalam Kitab.kitab Weda  

32. Jumlah Dewa-dewa Menurut Kitab Weda  

33. Perjanjian Tuhan kepada Ibrahim

34. Nubuatan dalam Kitab Ulangan  

35. Paran Merupakan Bagian Arabia  

36. Kaum Quraisy adalah Keturunan Bani Ismail .

37. Kedatangan Rasulullah Saw telah Dinubuatkan oleh Habakuk .

38. Kedatangan Rasulullah Saw telah Dinubuatkan oleh Nabi  Sulaiman

39. Nubuatan-nubuatan Yesaya .

40. Nubuatan-nubuatan Daniel .

41. Nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Baru .

Bab II: Riwayat Rasulullah Saw.  

1. Riwayat Singkat  

2. Kehidupan Rasulullah Saw Bagaikan Kitab Terbuka

3. Arabia Saat Rasulullah Saw Lahir  

4. Pernikahan Rasulullah Saw dengan Siti Khadijah

5. Rasulullah Saw Menerima Wahyu Pertama  

6. Pengikut-pengikut Pertama  

7. Kaum Mukmin Dianiaya  

8. Tabligh Islam  

9. Hijrah ke Abessinia  

10. Umar Masuk Islam  

11. Aniaya Bertambah Berat  

12. Rasulullah Saw ke Ta’if

13. Islam Meluas ke Madinah

14. Sumpah Pertama di Aqaba

15. Hijrah ke Madinah  

16. Suraqa Mengejar Rasulullah Saw  

17. Rasulullah Saw Tiba di Madinah  

18. Abu Ayub Ansari Sebagai Tuan Rumah Bagi Rasulullah Saw .

19. Kehidupan di Madinah Tidak Aman .

20. Perjanjian Antara Berbagai Suku Madinah .

21. Kaum Mekkah Siap Menyerang Madinah .

22. Pertempuran Badar .

23. Kabar Gaib Agung Menjadi Sempurna .

24. Pertempuran Uhud .

25. Kemenangan Berubah Menjadi Kekalahan .

26. Isyu Rasulullah Saw Wafat Sampai ke Madinah .

27. Pertempuran Dengan Banu Mustaliq .

28. Pertempuran Khandak .

29. Pertempuran Melawan Kekuatan Yang Jauh Lebih Besar .

30. Pengkhianatan Banu Quraiza .

31. Laskar Persekutuan Melarikan Diri .

32. Banu Quraiza Dihukum .

33. Keputusan Sa’d Sejalan dengan Bibel .

34. Adakah Rasulullah Saw Berusaha Meneruskan Perang?

35. Ajaran Yudaisme dan Kristen Mengenai Perang .

36. Al-Quran  Tentang Perang dan Damai .

37. Peraturan Rasulullah Saw tentang Peperangan .

38. Serangan Sporadis dari Kaum Kufar .

39. Rasulullah Saw Menuju Mekkah dengan 1.500 Sahabat .

40. Perjanjian Hudaibiya .

41. Surat Rasulullah Saw Kepada Raja.raja .

42. Surat Kepada Raja Persia .

43. Surat Kepada Raja Negus .

44. Surat Kepada Penguasa Mesir .

45. Surat Kepada Pemimpin Bahrain .

46. Khaibar Jatuh .

47. Kasyaf Rasulullah Saw Menjadi Sempurna .

48. Pertempura Mu’tah .

49. Derap Langkah Rasulullah Saw bersama 10.000 Sahabat

Menuju Mekkah .

50. Mekkah Jatuh .

51. Rasulullah Saw Memasuki Mekkah .

52. Ka’bah Dibersihkan dari Berhala.berhala .

53. Rasulullah Saw Mengampuni Para Musuh .

54. Ikrima Menjadi Muslim .

55. Pertempuran Hunain .

56. Rasulullah Saw Memanggilmu .

57. Musuh Kental Menjadi Pengikut yang Mukhlis .

58. Rasulullah Saw Membagi Rampasan Perang .

59. Tipu Muslihat Abu Amir .

60. Gerakan Militer ke Tabuk .

61. Haji Terakhir .

62. Rasulullah Saw Memberi Isyarat Kewafatannya .

63. Hari.hari Terakhir Kehidupan Rasulullah Saw .

64. Rasulullah Saw Wafat .

Bab III: Karakter & Kepribadian Rasulullah Saw .

1. Kepribadian dan Watak Rasulullah Saw .

2. Kesucian Pikiran dan Kebersihan Badan Rasulullah Saw .

3. Hidup Sederhana Rasulullah Saw .

4. Hubungan dengan Tuhan .

5. Tidak Setuju Menghukum Diri Sendiri untuk Menebus Dosa .

6. Sikap Terhadap Istri.istri .

7. Ketinggian Akhlak .

8. Penguasaan Diri .

9. Keadilan dan Perlakuan Adil .

10. Perhatian terhadap Kaum Miskin .

11. Menjaga Kepentingan Kaum Miskin .

12. Perlakuan terhadap Para Budak .

13. Perlakuan terhadap Wanita .

14. Sikap terhadap Orang Yang Meninggal .

15. Perlakuan terhadap Tetangga .

16. Perlakuan terhadap Sanak Saudara .

17. Pergaulan Baik .

18. Menjaga Kepercayaan .

19. Menutupi Kesalahan Orang Lain .

20. Kesabaran dalam Kesusahan .

21. Bekerjasama .

22. Kejujuran .

23. Ingin Tahu Tidak Pada Tempatnya .

24. Jual Beli Secara Terus Terang .

25. Pesimis .

26. Kekejaman terhadap Hewan.hewan .

27. Toleransi Agama .

28. Keberanian .

29. Tenggang Rasa terhadap Orang Yang Kurang Sopan .

30. Menyempurnakan Perjanjian .

31. Penghargaan terhadap Abdi.abdi Kemanusiaan .

Bab IV: Penyusunan Al-Quran  .

1. Ikhtiar-ikhtiar yang Ditempuh Guna Menjaga Keutuhan Teks Al-Quran  .

2. Para Pengajar Al-Quran  .

3. Orang-orang Yang Hafal Al-Quran  .

4. Al-Quran  Dihafal di Luar Kepala .

5. Al-Quran  Dikumpulkan dalam Satu Jilid .

6. Naskah.naskah Al-Quran  Yang Dibakukan (Distandarkan) .

7. Kebiasaan Menghafal Al-Quran  Bersinambung .

8. Penataan Surah-surah dan Ayat-ayat .

9. Beberapa Khabar Gaib dalam Al-Quran  .

Bab V: Ciri.ciri Khas Ajaran Al-Quran  .

1. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Hidup .

2. Konsepsi Al-Quran  tentang Keselamatan (Najat) .

3. Mukjizat .

4. Ibadah Kepada Tuhan .

5. Masjid Islam .

6. Puasa Dalam Islam .

7. Ibadah Haji .

8. Zakat .

9. Bidang-bidang Sosial Lainnya .

10. Bentuk Pemerintahan Islam .

11. Al-Quran  tentang Perbudakan .

12. Roh Manusia .

13. Rencana Al-Quran  tentang Alam Rohani .

14. Tuhan Semua Bangsa .

15. Tuhan, Penyebab Terakhir Segala Kejadian .

16. Sifat-sifat Ilahi Yang Utama .

17. Sifat-sifat Tuhan Lainnya .

18. Tiga Golongan Sifat Ilahi .

19. Sifat-sifat Allah tidak Bertentangan .

20. Manusia Pusat Alam Semesta .

21. Puncak Proses Evolusi .

22. Tujuan Manusia Diciptakan .

23. Hukum Alam dan Hukum Syari’at .

24. Evolusi Alam Semesta Rohani Genap di Dalam Wujud Rasulullah Saw .

25. Al-Quran  Kitab Suci Yang Paripurna .

26. Prinsip-prinsip Guna Menegakkan Ketertiban dalam Masyarakat .

27. Kehidupan Sesudah Mati .

28. Ahmad  Masih Yang Dijanjikan .

29. Putra Almasih Yang Dijanjikan .

30. Terjemah ke Dalam Bahasa Lain .

31. Himbauan Kepada Para Pemeluk Agama-agama Lain .

32. Ungkapan Terimakasih .


Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad r.h :

Murder In The Name Of Allah

https://www.alislam.org/book/murder.name.allah/

Murder in the Name of Allah is the first translation into English of Mazhab Ke Nam Per Khoon, a re.affirmation of the basic tenets of Islam.

Hardly a day passes on which an Islamic event does not make headlines. The president of a Muslim country is assassinated by the supporters of Muslim brotherhood; a European journalist is taken hostage by Islamic Jihad; a Pan-American aircraft is hijacked by another Muslim group; American university professors are taken into custody by Hezbullah; Two passenger carrying airplanes were slammed in to world trade center. The glare of ‘Islamic’ revolution in Iran is reflected through the flares of every gulf oil refinery.

This book is a reminder that the purpose of any religion is the spread of peace, tolerance and understanding. It argues that the meaning of Islam—submission to the will of God—has been steadily corrupted by minority elements in the community. Instead of spreading peace, the religion has been abused by fanatics and made an excuse for violence and the spread of terror, both inside and outside the faith.

In confirming the true spirit of Islam, it makes the point to followers of all religions that the future of mankind depends on the intrinsic values of love, tolerance, and freedom of conscience and of belief.

Terjemahan Bahasa Indonesia ( 1984)

Pendahuluan  9

Penumpahan Darah Atas Nama Agama 11

Dua pandangan Mengenai Penyebaran Islam 33

Pandangan-pandangan Maulana Maududi dan beberapa orang yang bukan islam mengenai penyebaran islam 35

Tuduhan Bahwa Islam Tersiar Melalui tindak kekerasan disorot Dari Segi Fakta-fakta Sejarah .47

Penasehat Zaman Bahari dan Askar-askar Ilahi daur ini 75

Para Penasehat Masa Lampau dan Jemaat Lasykar ilahi ini 77

Kehausan Akan Kekuasaan .89

Pembunuhan Terhadap Orang Murtad Menurut faham maududi 97

Beberapa Pandangan Keliru lainnya mengenai tindak kekerasan 122

Satu Gambaran Mengenai Masa Pemerintahan ala Maududi andainya Mereka Berkuasa . 138

Para Ulama Ahrar di Medan Amal Sekilas Per'istiiwa151

Tujuan Dari kerusuhan-kerusuhan dan cara pelaksanaanya 153

Beberapa Kilasan Penorama Darma Bakti kepada islam  166

Perpaduan Dua Hal Saling Berlawanan  176

Beberapa Bahaya Yang Nyata .. 191

Apakah Yang Kita Telah Kehilangan Dan  apakah yang kita peroleh dalam keasyikan ini 208

Ada beberapa kutipan penting dari buku diatas. Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h Bersabda :

“Perbedaan akidah dan kepercayaan agama di dunia iui memang selalu mewarnai keadaan sepanjang masa. Dan dalam hal itu manusia bebas serta berhak penuh memilih akidah dan kepercayaan yang sesuai dengan keyakinannya, dan dapat mendasarkan keselamatannya pada pandangan-pandangan yang disukainya.

Akan tetapi kepada siapa pun tidak dapat diberi hak untuk berusaha  memaksa orang lain mengakui akidahnya atau mengatur amal perbuatannya berdasarkan kepercayaan-kepercayaan yang mengajarkan kezaliman. Sebab manakala cara itu ditempuh, pasti akan lambat laun menimbulkan rangkaian kernsuhan-kerusuhan yang tiada berakhir.

Satu-satunya jalan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan sampai batas kemungkinan atau untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran ialah bahwa pandangan-pandangan masing-masmg disampaikan kepada satu sama lain dalam suasana aman dan damai dengan membersihkan diri dari segala macam kefanatikan dan harus ada usaha untuk memahami pandangan orang-orang lain dengan sejujur-jujurnya dengan sikap yang tidak berat sebelah.

Semakin dalam perbedaan pendapat semakin dalam pula diperlukan tenggang rasa, pengendalian diri, dan ketabahan dalam mencapai saling pengertian. Dan dalam pertentangan yang bagaimana pun memuncaknya, senantiasa harus sadar akan kejujuran dan tidak melepaskan hubungan kesetiakawanan, toleransi dan rasa persaudaraan yang mendalam lalu berusaha mengendalikan diri dari gejolak emosi serta dari slogan-slogan anti pati dan permusuhan.” ( Pendahuluan : 9 )

Revelation, Rationality, Knowledge and Truth  

https://www.alislam.org/book/revelation.rationality.knowledge.truth/

Any divide between revelation and rationality, religion and logic has to be irrational. If religion and rationality cannot proceed hand in hand, there has to be something deeply wrong with either of the two.

Does revelation play any vital role in human affairs? Is not rationality sufficient to guide man in all the problems which confront him? Numerous questions such as these are examined with minute attention.

All major issues which intrigue the modern mind are attempted to be incorporated in this fascinatingly comprehensive statute.

Whatever the intellectual or educational background of the reader, this book is bound to offer him something of his interest.

It examines a very diverse and wide range of subjects including the concept of revelation in different religions, history of philosophy, cosmology, extraterrestrial life, the future of life on earth, natural selection and its role in evolution. It also elaborately discusses the advent of the Messiah, or other universal reformers, awaited by different religions. Likewise, many other topical issues which have been agitating the human mind since time immemorial are also incorporated.

The main emphasis is on the ability of the Quran to correctly discuss all important events of the past, present and future from the beginning of the universe to its ultimate end.

Aided by strong incontrovertible logic and scientific evidence, the Quran does not shy away from presenting itself to the merciless scrutiny of rationality.

It will be hard to find a reader whose queries are not satisfactorily answered. We hope that most readers will testify that this will always stand out as a book among books – perhaps the greatest literary achievement of this century.

Daftar Isi terjemahan bahasa Indonesia (2014)


Bagian I

1. Pengenalan dengan Perspektif Sejarah . 13

2. Individu dan Masyarakat . 22

3. Aliran Pemikiran Islam . 29

4. Filsafat Eropa . 51

5. Filsafat Yunani . 87

Bagian II

1. Agama Hindu . 119

2. Agama Buddha . 145

3. Agama Konghucu . 170

4. Agama Tao . 183

5. Agama Zoroaster . 188

6. Masalah Penderitaan . 196

Bagian III

1. Sudut Pandang Sekulerisme . 215

2. Konsep Ketuhanan Suku.Suku Bangsa Aborigin di Australia . 239   

Bagian IV

1. Fitrat Suatu Wahyu . 261

2. Wahyu Ilahi dan Rasionalitas . 277

3. Iman Kepada “Yang Ghaib” . 293

4. Al-Bayyinah: Prinsip Kebenaran Yang Nyata,

Al-Qayyimah: Ajaran Yang Berkesinambungan . 319

5. Al-Quran  dan Kosmologi . 328

6. Entropi dan Keterbatasan Alam Semesta . 345

7. Al-Quran  dan Kehidupan di Luar Bumi . 357

Bagian V

1. Kehidupan Menurut Perspektif Wahyu Al-Quran : Pengantar Singkat . 367

2. Asal Mula Kehidupan: Berbagai Teori dan Pendapat . 380

3. Hakikat Jinn . 389

4. Peran Tanah Lempung dan Fotosintesis dalam Evolusi . 395

5. Kelangsungan Hidup: Faktor Kebetulan atau Takdir? . 420

6. Khiralitas (Keberpihakan) di Alam . 439

7. Seleksi Alam dan Kelangsungan Hidup

bagi yang Tercakap . 451

8. Permainan Catur atau Permainan Judi . 508

9. Masa Depan Kehidupan di Bumi . 517

10. Sistem Organik dan Evolusi . 533

11. "Pembuat Jam yang Buta", Tuli dan Bisu . 562

Bagian VI

1. Al-Quran  Membuka Tabir “Yang Ghaib”:

Perspektif Sejarah . 621

2. Bencana Nuklir . 667

3. Rekayasa Genetik . 681

4. Wabah Pes . 685

5. Virus AIDS . 699

Bagian VII

1. Masa Depan Wahyu . 707

2. Upaya Pembenaran Secara Filosofis: Masalah Kekhataman Kenabian Tanpa Syariat . 729

3. Nabi Isa dan Masalah Khaataman Nabiyyin . 742


Islam’s response to contemporary issues

https://www.alislam.org/book/islam.response.contemporary.issues/

islam’s Response to Contemporary Issues is a lecture delivered at the Queen Elizabeth II Conference Centre (London) by Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV(rh), the Head of the worldwide Ahmadiyya Muslim Community. Based on Quranic teachings, the Speaker argues that:

·                  Swords can win territories but not hearts, force can bend heads but not minds;

·                  The role of women is not of concubines in harems nor a society imprisoned in the four walls of their homes;

·                  Richer nations provide aid with strings attached and yet the flow of wealth continues to be in the direction of the rich while the poorer sink deeper in the red;

·                  Religion does not need to be the predominant legislative authority in the political affairs of a state;

·                  Irrespective of the thawing of the Cold War, the issue of war and peace does not only hang by the thread of superpower relationship;

·                  Without God there can be no peace.

It also contains comprehensive discussion on interest; financial aid; international relations; and the role of Israel, America and the United Kingdom in a new world order.

Its message is timeless and relates to the future prospects for peace. It is a compulsory read for non-Muslims as well as for those Muslims who have forgotten the true message of Islam.

Daftar Isi terjemahan bahasa Indonesia (2018)


Bab I. Perdamaian dan Kerukunan Antar Agama

1. Nilai-Nilai Keagamaan Telah Luntur .

2. Pemahaman Universal Mengenai Kenabian ..

3. Semua Nabi Sama Derajatnya ..

4. Mungkinkah Tingkatan Akan Berbeda Jika

Autentisitas Sama? . .

5. Keselamatan (Syafaat) Bukan Monopoli Salah Satu Agama ..

6. Pengembangan Kerukunan dan Saling

Menghargai Di Antara Agama.Agama .

7. Konsep Universalitas ..

8. Islam Adalah Agama Universal .

9. Sarana Perjuangan Bukan Paksaan .

10. Survival Of The Fittest (Yang Terbaik Yang

Berhasil) .

11. Kemerdekaan Berbicara . .

12. Kemerdekaan Dan Emansipasi Di Dunia

Kontemporer ..

13. Hujatan / Cemoohan ..

14. Kerjasama Antar Agama . .

15. Kesimpulan

Bab II. Kedamaian Sosial ..

1. Tatanan Sosial Kontemporer ..

2. Dua Iklim Tatanan Sosial ..

3. Kesombongan Masyarakat Materialistis dan

Tujuan Akhirnya ..

4. Pengingkaran Terhadap Akhirat ..

5. Empat Karakteristik Masyarakat Materialistik .

6. Akuntabilitas ..

7. Iklim Sosial Islam ..

8. Dasar-dasar Masyarakat Islam .

9. Menjaga Kehormatan .. .

10. Segregasi Jenis Kelamin .

11. Fajar Baru Bagi Hak.hak Wanita ..

12. Hak Yang Sama Bagi Wanita .. .

13. Poligami . .

14. Pemeliharaan Orang Lanjut Usia ..

15. Generasi Masa Depan .. .

16. Menghentikan Pencarian Tujuan Yang TidakBermanfaat ..

17. Pengendalian Nafsu . .

18. Menciptakan Kepercayaan Serta Memelihara Amanat Dan Perjanjian . .

19. Memusnahkan Kejahatan Tanggungjawab

Kolektif .

20. Yang Patut Dilakukan dan Tidak Dilakukan .

21. Penolakan Terhadap Rasialisme

Bab III. Kedamaian Sosio Ekonomi ..

1. Pengenalan ..

2. Keadilan Ekonomi Menurut Sistem Kapitalisme,

Sosialisme Dan Islam . .

3. Membelanjakan Harta Untuk Tujuan Yang Baik Meskipun Dalam Masa Sulit ..

4. Membelanjakan Harta Untuk Kaum Miskin .

5. Bersyukur .. .

6. Berterima Kasih Kepada Manusia ..

7. Mengemis .

8. Apa Yang Akan Diberikan Jika Ada Yang Mengemis? .. .

9. Memberi Secara Terbuka Dan Secara Rahasia ..

10. Tanggungjawab Sosial ..

11. Contoh Dari Masa Awal Islam . .

12. Perluasan Pembelanjaan Harta . .

13. Pengkhidmatan Sesama . .

14. Larangan Minum Minuman Keras Dan Berjudi .

Bab IV. Kedamaian Ekonomi .

1. Filsafat Ekonomi Sistem Kapitalisme, Komunisme Dan Islam .

2. Kapitalisme . .

3. Sosialisme Ilmiah ..

4. Konsep Islam ..

5. Empat Karakteristik Masyarakat Kapitalis . .

6. Kapitalisme Membawa Ke Arah Kehancuran .. .

7. Perubahan Dalam Tatanan Ekonomi . .

8. Sistem Ekonomi Islam .. .

9. Zakat .. .

10. Larangan Tentang Bunga Uang .

11. Tingkat Suku Bunga Uang Di Inggris .

12. Bentuk Lain Kemudharatan Bunga Uang ..

13. Bunga Uang Merupakan Ancaman Bagi

Perdamaian . .

14. Larangan Menumpuk Harta ..

15. Gaya Hidup Sederhana . .

16. Biaya Perkawinan .

17. Menerima Undangan Orang Miskin . .

18. Bersahaja Dalam Kebiasaan Makan . .

19. Meminjam Uang . .

20. Perbedaan Kelas Sosial Ekonomi ..

21. Hukum Islam Mengenai Waris .

22. Larangan Memberi Suap .. .

23. Etika Komersial ..

24. Kebutuhan Dasar ..

25. Peribadatan Sebagai Sarana Persatuan Ekonomi .

26. Tanggungjawab Internasional

Bab V. Kedamaian Politis ..

1. Kedamaian Politis ..

2. Jangan Langsung Mencerca Sistem Politik ManaPun . .

3. Kerajaan .

4. Definisi Demokrasi . .

5. Definisi Demokrasi Menurut Islam . .

6. Dua Pilar Dalam Konsep Demokrasi MenurutIslam ..

7. Perlunya Bermusyawarah . .

8. Kerancuan Tentang Sifat Dasar Dari

Pemerintahan Islam . .

9. Mullahisme ..

10. Perpecahan Kesetiaan Antara Negara Dan

Agama .. .

11. Apakah Agama Harus Memiliki Otoritas

Legislatif? ..

12. Pemerintahan Islam .

13. Hubungan Internasional: Penerapan Prinsip Keadilan Mutlak ..

14. Peran Perserikatan Bangsa.Bangsa ..

Bab VI. Kedamaian Individual .

1. Berdamai Dengan Diri Sendiri . .

2. Berlomba Dalam Perbuatan Baik ..

3. Kasih Sayang Di Antara Keluarga ..

4. Mengkhidmati Orang Lain ..

5. Mencari Keridhoan Allah . .

6. Kesadaran Akan Keberadaan Manusia Lain .

7. Ruang Lingkup Kecintaan Yang Lebih Luas . .

8. Tujuan Diciptakannya Manusia ..

9. Tanpa Tuhan, Tidak Akan Ada Kedamaian . .


PENUTUP

Dari keseluruhan hal diatas dan juga gambaran isi serta kutipan sumber buku Ahmadiyah tersebut, Jika sebagai bahan kajian nampaknya pemikiran Ahmadiyah sudah menjadi bagian dari Moderasi beragama. Wahyu, Akal, Pengetahuan dan Kebenaran menjadi sinkron didalam amalan Ahmadiyah sehingga tidak menimbulkan tindakan yang Ekstrim atau melakukan pembalasan biadab menuntut si pembunuh 3 Ahmadi yang Syahid di 6 Februari 2011 yang viral, atau pensyahidan sebelumnya ketika pasca kemerdekaan..

Hanya doa dan doa yang biasa para Ahmadi lakukan untuk membalas kedegilan yang membencinya bahkan sedang mengincar nyawanya. Sebagai akhir perlu kiranya mencantumkan isi dalam dari relung palung hati  Ahmadiyah.

Selain bebrapa hal dari isi dan kutipan ada hal Berikut yang menjadi  pedoman amaliyah keseharian para Ahmadi :

Disusun oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani  Masih Mau’ud dan Imam Mahdi (alaihi-salam)

Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

1.            Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.

2.            Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.

3.            Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a. w. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tuIus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.

4.            Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.

5.            Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah atau pun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.

6.            Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Alquran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.

7.            Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.

8.            Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.

9.            Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.

10.        Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal ma’ruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja. (Diterjemahkan dari Isytihar Takmil Tabligh, January 12, 1889)

Kemudian, selain 10 Syarat Janji Setia ( baca : baiat) ada hal atau step berikutnya untuk menjaga akal dan amal BAHKAN rohani para Ahmadi yakni :

1.            Barangsiapa Tidak Meninggalkan Perbuatan Dusta Dan Tipu Menipu, Ia Bukan Dari Jemaatku.

2.            Barangsiapa Yang Terjepit Oleh Ketamakan Duniawi Dan Sama sekali Tidak Mengarahkan Pandangannya Ke Arah Hari Kemudian, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

3.            Barangsiapa Yang Sesungguh-Sungguhnya Tidak Mengutamakan Agama Dari Pada Keduniaan, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

4.            Barangsiapa Tidak Benar-Benar Bertobat Dari Tiap-tiap Kejahatan Dan Dari perbuatan Buruk Seperti meminum Minuman Keras, Berjudi, Memandang Dengan Nafsu BIrahi, Khianat, Dan Suap-Menyuap, Dan Dari Setiap Perbuatan Hendak Menguasai Sesuatu Tanpa Sah, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

5.            Barangsiapa Tidak Mewajibkan Atas Dirinya Untuk Mendirikan Shalat Lima Waktu, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

6.            Barangsiapa Tidak Dawam Dalam Memanjatkan Doa Dan Mengingat Allah Dengan Rendah Hati, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

7.            Barangsiapa Yang Tidak Melepaskan Kawan Yang Tidak Baik  Sehingga Memberi Pengaruh buruk Kepadanya Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

8.            Barangsiapa Tidak Menghormati Ayah Ibunya, Dan Tidak Menaati Mereka Dalam Perkara Kebaikan Dan Yang Tidak Bertentangan Dengan Alquran Dan Ia Tidak Peduli Terhadap Kewajiban Bakti Terhadap Mereka, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

9.            Barangsiapa Tidak Berlaku Halus Dan Kasih-Sayang Terhadap Isterinya, Dan Sanak-Saudara Dari Pihak  Isterinya, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

10.        Barangsiapa Mengasingkan Tetangganya Dari Menerima Kebaikan Yang Sekecil-Kecilnya Sekalipun, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

11.        Barangsiapa Tidak Mau Memaafkan Kesalahan Orang Bersalah Terhadapnya, lantas ia jadi Seorang Pendendam, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

12.        Setiap Suami Yang Berlaku Khianat Terhadap Isterinya, Dan Setiap Isteri Yang Berlaku Khianat Terhadap Suaminya  Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

13.        Barangsiapa Menyalahi Janji Yang Dibuatnya Tatkala Ia Baiat Bagaimanapun Caranya, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

14.        Barangsiapa Yang Tidak Benar-Benar Yakin Bahwa Aku Adalah Masih Mau'ud Dan Mahdi Yang Dijanjikan, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

15.        Barangsiapa Yang Tidak Bersedia Menaatiku Dalam Segala Perkara Baik, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

16.        Barangsiapa Duduk Bercengkerama Di Tengah Kumpulan Orang-Orang Yang Menentangku Serta Mengiakan Apa Yang Dikatakan Mereka, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

17.        Tiap-Tiap Tukang Zina, Orang Fasik, Peminum, Pembunuh, Pencuri, Penjudi, Pengkhianat, Tukang Suap-Menyuap, Perampas, Orang Aniaya, Pembohong, Pemalsu Dan Orang Sepergaulan Dengan Mereka, Begitu Pula Tiap Orang Yang Suka Melemparkan Tuduhan Terhadap Saudara-Saudaranya, Baik Yang Laki-Laki Maupun Yang Perempuan, Dan Tidak Bertobat Dari Perbuatan Buruknya Serta Tidak Meninggalkan Pergaulan Buruk, Ia Bukanlah Dari Jemaatku.

Sumber :  Terjemahan Buku Bahtera Nuh hal.28-29 cetakan 1996

JIKA semua mengaplikasikan apa yang dilakukan atau amalkan oleh para Ahmadi dan setiap Ahmadi berprilaku sesuai dengan anjuran dan arahan pendiri Jamaah Ahmadiyah dan Khalifahnya, dunia akan aman dan damai (baca: meminimalisir keburukan dunia dan   solusi suluk kepada Allah ).

Ini akan jadi wasitnya dalam arti tidak kearah ekstrimis, radikalis apalagi teroris. Sependek jangkauan memahami Moderasi Beragama tak lain adalah membentengi tiap umat agama apapun, Ormas manapun yang ada   di   NKRI ini  untuk menjadi lebih bijak dan adil serta memahami betul bahwa NKRI ini warisan yang harus dijaga agar langgeng tidak tercabik atau terdisintegrasi laksana beberapa negara di Timur Tengah. Yang menjadi kiblat khususnya agama-agama besar dunia, Yahudi, Kristen dan Islam. Ahmadiyah lahir menawarkan ini semua, Love For All, Hatred For None. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...