Jumat, 12 Januari 2018

Mujahid Cece Tahir Ahmad (Ingatanku kepada sosoknya)

Mln. Cece Tahir Ahmad alm.
(Depan Missi Al-Hikmah Manislor)
Cirebon, 12 Januari 2018.

Raut Wajah Ceria, Pandangan Mata Polos Menerawang, Alis Mengernyit Lentik, Jenggot Tipis Mengayun Di Sela Dagu Dan Leher. Badan Tinggi Sedikit Tak Berisi Ber"Modal" Darah Tinggi Yang Setiap Hari Menemani Ibadahnya Kepada Ilahi. 

Jaket Hitam Baju Koko Putih  Seolah Saksi Atas Segala Upayanya Mempertahankan Eksistensi Sebagai Murabi Dalam Keadaan Terhimpit Rasa Nyeri.  Perkataan Yang Senantiasa Terngiang Adalah ..."..Pa Herdi Ajak Saya Ke Tarbiyatan.., Saya Isi 5-7 Menit Saja Biar Ingatan Saya Tetap Terjaga.. selebihnya Pa Herdi yang Lanjutkan"..

Curahan Hati Seorang Murabbi Yang Terus Berkelahi Dengan Rasa Nyeri Karena Darah Meninggi Hingga Pembuluhpun Tak Sanggup Lagi Menahan Dorongan Denyutan Nadi. Sekali Lagi Beliau Hidup Dalam Keadaan Ceria Dengan Tak Merasakan Apa Yang Sudah Terjadi (Koma).

Kisahnya Begitu Mulia Dalam Pandangan Si Pemuda ini, Yang Baru Tiba Sebagai Murabi Di Tanah Manislor Kaki Gunung Ciremai. Nada Pasrah Dan Ikhlas Tanpa Kata Bahwa Aku Lagi Sekarat Melawan Denyutan Tiap Detik  Menuju Hembusan Akhir Diujung Cinta Ilahi. Cece Tahir Ahmad. Begitu Kece Dalam Khidmat. Begitu Mahir Dalam Sabar. Begitulah Pecinta Sejati Sang Ahmad. 

Melihatnya Seolah Iba. Tapi Beliau Tak Mau Terlihat Lemah Dan Tak Butuh Rasa Iba. Hanya Sapaan Belaka Yang Akan Menggugah Semangatnya Untuk Melupakan Nyerinya.
Begitu Hati Ini Kadang Kesal Melihat Tingkahnya Yang “Arogan” (Baca : Sabar) Dengan Penyakitnya. Tiada Kata Lupa Ketika Pertiga Malam. Aku Yang Muda Sehatpun Kalah Dengannya. Astaghfirullah.. Hamba Yang “Kufur” Akan Nikmat-Sehat-Nya.

Selalu Saja Beliau Yang Gasik Bangun Untuk Menghadapnya Dengan “Rembai” Memohon Kepada Sang Pencipta Disaat Yang “Bertingkah” Kepadanya Lelap Tidur Dalam Buaian Peluk Dunia. Beliau Bangkit Mendoakan Siapa Saja Tanpa Kecuali Agar Senantiasa Menjadi Murid Imam Mahdi Yang Sejati Dan Abadi, Bukan Karena “Aku Keturunan” Bapak Ibu Aki Nini.

Kini Beliau Bersemayam Sepi Di Tanah Kawalu Komplek Musi. Hanya Semilir Angin Diatas Nisannya Dan Gemercik Air Di Sekelilingnya. Tiada Kawan Tiada Candaan Tiada Segalanya. Namun Dia, Tuhan Kita, Senantiasa Berada Denganya Saat Ini.
Kenanganku Dengan Mln. Cece Tahir Ahmad.Alm. Selamat Jalan..
                                                     
Allahummaghfirlahu...

Peristirahatan Terakhir



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...