NABI MUSA AS, MUKJIZAT TONGKATNYA, ULAR dan Sebuah JEMAAT
فَاَلۡقٰی عَصَاہُ فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۱۰۸﴾ۚۖ
Al-Araf : 108
Lalu Musa melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba
tongkat itu menjadi seekor ular
yang terlihat nyata. 1023
Tafsir 1023 :
Al-Qur’an telah mempergunakan tiga bentuk kata yang berlainan untuk menggambarkan perubahan tongkat Musa As menjadi ular, yaitu,
Hayyah (seperti dalam QS.20:21)
Yakni :
فَاَلۡقٰہَا فَاِذَا ہِیَ حَیَّۃٌ تَسۡعٰی ﴿۲۱﴾
Maka ia melemparkannya,
lalu tiba-tiba ia menjadi seekor
ular yang merayap dengan
cepat. 1816A
Tafsir 1816A
( Tongkat itu tidak benar-benar menjadi ular, tetapi hanya dibuat nampak seperti ular. Oleh sebab itu kejadian itu tidak bertentangan atau menyalahi sesuatu hukum alam. Mukjizat tersebut dimaksudkan, selain untuk memberikan suatu bukti yang kuat untuk menyokong kebenaran Musa As, juga untuk menghibur beliau, bahwa kaumnya tidak akan selamanya lekat pada kemusyrikan dari kebiasaan jahat lainnya, tetapi segera setelah mendapat bimbingan dan asuhan beliau, mereka akan kembali menjadi sahabat beliau yang baik dari takut kepada Tuhan. ‘Asā berarti kaum (Lane). Lihat pula catatan no. [1023]. )
Kemudian, Jānn seperti dalam QS.27:11 dan QS.28:32
Yakni :
وَ اَلۡقِ عَصَاکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہَا تَہۡتَزُّ کَاَنَّہَا جَآنٌّ وَّلّٰی مُدۡبِرًا وَّ لَمۡ یُعَقِّبۡ ؕ یٰمُوۡسٰی لَا تَخَفۡ ۟ اِنِّیۡ لَا یَخَافُ لَدَیَّ الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿٭ۖ۱۱﴾
Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ketika ia melihatnya, tongkat itu bergerak bagaikan seekor ular berbaliklah ia
ke belakang dan tidak menoleh
lagi; atas itu Kami berkata, “Hai
Musa! Jangan takut. Sesungguhnya Aku ini Dzat, Yang dihadapan-Ku rasul-rasul tak perlu
merasa takut. [An-Naml :11]
Juga dalam :
وَ اَنۡ اَلۡقِ عَصَاکَ ؕ فَلَمَّا رَاٰہَا تَہۡتَزُّ کَاَنَّہَا جَآنٌّ وَّلّٰی مُدۡبِرًا وَّ لَمۡ یُعَقِّبۡ ؕ یٰمُوۡسٰۤی اَقۡبِلۡ وَ لَا تَخَفۡ ۟ اِنَّکَ مِنَ الۡاٰمِنِیۡنَ ﴿۳۲﴾
Dan lemparkanlah tongkat engkau.” Maka ketika ia
melihatnya bergerak seolah-olah
ular kecil, berbaliklah ia lari
ke belakang dan tidak menoleh
lagi. Kata suara itu, “Hai Musa!
Majulah dan jangan takut; sesungguhnya engkau termasuk
orang-orang yang aman, [Qasas :32]
Sedangkan Tsu’bān(seperti dalam QS.26:33 dan dalam ayat ini).
فَاَلۡقٰی عَصَاہُ فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۚۖ۳۳﴾
Bunyi ayat dalam Asy-Syuara :33 sama dengan Al-Araf :108
Dari beberapa padanan ayat diatas jelas bahwa :
Kata yang pertama (Hayyah) mempunyai makna umum dan dipergunakan untuk segala macam ular.
Kata kedua (Jānn) dipakai untuk ular kecil.
Kata yang ketiga (Tsu’bān) berarti ular gemuk lagi panjang.
Dengan demikian penggunaan ketiga kata yang berlainan pada tiga tempat yang berbeda-beda dalam Al-Qur’an mempunyai arti tersendiri dan jelas dimaksudkan untuk tujuan tertentu.
Kata Jānn dipergunakan karena menilik kecepatan gerak ular itu dan Tsu’ban menilik besarnya.
Apabila yang dimaksudkan hanya berubahnya tongkat menjadi ular saja, maka yang dipergunakannya ialah kata Hayyah, tetapi manakala disebut bahwa tongkat itu telah berubah menjadi ular di hadapan Musa As saja maka dipergunakanlah kata Jann (ular kecil).
Tetapi bila mukjizat berubahnya tongkat itu menjadi ular diperlihatkan kepada Fir‘aun, tukang-tukang sihir, dan khalayak umum maka kata Tsu’ban yang dipergunakan. Kata-kata yang berlainan pada peristiwa-peristiwa yang berbeda mengandung mafhum yang berlainan pula.
Kata Hayyah berarti, bahwa suatu kaum yang sudah mati (‘Asā berarti masyarakat), begitulah keadaan orang-orang Bani Israil pada masa itu, akan menerima kehidupan baru lagi penuh semangat dengan perantaraan Musa As (inilah mafhum akar kata Hayyah), dan kata Jānn (seekor ular kecil yang gesit) berarti bahwa dari satu masyarakat kecil lagi terbelakang mereka akan mencapai kemajuan pesat dan akan menjadi Tsu’bān (ular panjang lagi gemuk) bagi Fira’un dan rakyatnya, yakni kaum Bani Israil akan menjadi sarana dan alat untuk kehancuran mereka.
Patut diperhatikan bahwa mukjizat ini, seperti juga mukjizat-mukjizat lainnya yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak bertentangan dengan hukum alam.
Jika sesuatu hal terbukti benar-benar terjadi, maka hal itu harus dianggap benar, sekalipun hal itu tak dapat diterangkan atau dipahami menurut hukum alam yang kita pahami.
Pengetahuan kita tentang hukum alam bagaimana pun luasnya masih sangat terbatas, karena itu kita tidak boleh menyangkal suatu kenyataan yang sebenarnya atas dasar pengetahuan kita yang serba terbatas dan tak sempurna itu.
Lebih-lebih, mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi Musa As tidak terjadi dengan cara seperti yang dipahami oleh orang pada umumnya. Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak seperti “sim salabim” (kelihaian tangan) tukang-tukang sulap.
Mukjizat-mukjizat itu dimaksudkan untuk memenuhi suatu tujuan besar yang erat bertalian dengan akhlak dan keruhanian, yaitu untuk menimbulkan keyakinan dan perasaan tawadhu’ serta takut kepada Tuhan dalam hati mereka yang menyaksikannya. Jika tongkat itu benar-benar telah berubah menjadi ular, seluruh pertunjukan itu tentu nampaknya seperti kelihaian tukang sulap belaka, dan bukan mukjizat dari seorang nabi.
Kendatipun apa saja yang mungkin dikatakan Bibel tentang mukjizat ini, Al-Qur’an tidak menunjang pendapat bahwa tongkat itu benar-benar telah berubah menjadi ular asli dan hidup. Sedikit pun tidak nampak terjadinya hal semacam itu.
Tongkat itu hanya nampak seperti ular yang bergerak-gerak amat lincahnya. Mukjizat itu semacam kasyaf (pandangan gaib) saat Allah Swt menguasai secara istimewa penglihatan penonton-penonton supaya membuat mereka melihat tongkat itu dalam bentuk ular, ataupun tongkat itu sendiri ditampakkan seperti ular; begitu pula pemandangan gaib ini disaksikan oleh Fira’un serta pemuka-pemukanya dan oleh tukang-tukang sihir bersama Musa As. Tongkat itu tetap tongkat jua adanya, tetapi hanya nampak kepada Musa As dan lain-lainnya seperti ular.
Hal itu merupakan gejala keruhanian yang umum bahwa dalam kasyaf itu bila manusia menembus hijab-hijab (tirai-tirai) raga wadagnya (badan kasarnya) dan untuk sementara waktu berpindah ke alam rohani, ia dapat melihat hal-hal yang terjadi di luar batas pengetahuannya dan sama sekali tidak nampak oleh mata jasmaninya. Mukjizat-mukjizat berubahnya tongkat menjadi ular merupakan suatu pengalaman rohani semacam itu.
Suatu gejala keruhanian semacam itu terjadi di masa Rasulullah Saw ketika bulan – tidak hanya kelihatan oleh Rasulullah Saw melainkan juga oleh beberapa pengikut beliau dan musuh-musuh beliau – seakan-akan telah terbelah (Bukhārī, bab Tafsir).
Hadis mengatakan kepada kita bahwa Jibrail yang acap terlihat oleh Rasulullah Saw dalam kasyafkasyaf beliau, pada suatu ketika juga terlihat oleh sahabat-sahabat beliau yang tengah duduk-duduk bersama beliau (Bukhārī, bab Iman).
Demikian pula, beberapa malaikat terlihat bahkan pula oleh beberapa orang kafir pada Perang Badar (Jarir, VI hlm. 47).
Contoh lain semacam ini terjadi ketika sebuah pasukan Islam di bawah pimpinan Sariya, penglima Islam termasyhur, sedang bertempur melawan musuh di Irak. Umar r.a. Khalifah yang kedua, tatkala ia sedang berkhutbah Jum’at di kota Medinah melihat dalam kasyaf bahwa pasukan Muslim sedang dikepung oleh musuh yang bilangannya besar dan bahwa pasukan Muslim terancam kekalahan yang hebat. Melihat hal itu ia tiba-tiba menghentikan khutbahnya, lalu berseru dari mimbar dengan mengatakan: “Hai Sariyah, naik ke bukit, naik ke bukit!” Sariyah yang berada pada jarak ratusan mil jauhnya serentak mendengar suara Sayyidina Umar r.a. di tengah gegap gempita medan pertempuran yang memekakkan telinga, segera menaati perintah Khalifah dan dengan demikian pasukan Islam itu telah selamat dari kehancuran (Khamis, ii, hlm. 370).
Mukjizat Nabi Musa As mengandung makna yang istimewa. Mukjizat itu dapat ditafsirkan kurang lebih demikian:
Allah Swt berfirman kepada Musa As agar melemparkan tongkatnya yang ketika itu nampak kepadanya seperti ular, dan bila atas perintah Tuhan beliau mengangkatnya maka ular itu hanya berupa sepotong kayu belaka. Dalam kasyaf dan mimpi makna ular melambangkan musuh, sedangkan tongkat mengiaskan jemaat (Ta’thir-ul- Anām).
Dengan demikian lewat kasyaf itu Allah Swt memberitahukan kepada Musa As bahwa jika ia melemparkan umatnya jauh darinya, mereka benarbenar akan bersifat ular.
Tetapi jika ia mengambil mereka di bawah asuhan sendiri, mereka akan menjadi jemaat yang kuat lagi baik, terdiri atas orangorang mukhlis lagi bertakwa kepada Tuhan.
Sumber : Tafsir JAI, Ed. Malik Ghulam Farid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar