Selasa, 01 Juli 2014

SEJARAH PERTABLIGHAN ISLAM DI EROPA ; INGGRIS RAYA DAN JERMAN

PUSAT PERTABLIGAN AHMADIYAH
DI KOTA LONDON (INGGRIS)

Hadhrat Choudry Fatah Muhammad Sayyal mendirikan misi pertabligan pertama di luar negeri pada Juli 1913. Namun pendirian sebenarnya dilakukan pada April 1914 ketika beliau meninggalkan Woking dan pindah ke London. Segera setiba disana, beliau mendirikan sebuah markaz (pusat pertabligan) dan mulai melaksanakan dakwah Islam. Orang pertama yang masuk Islam melalui usaha pertabligan beliau adalah seorang jurnalis bernama Korio. Sampai kembalinya beliau ke India pada Maret 1914 beberapa orang Inggris telah memeluk Islam. Pada masa-masa awal misi pertabligan Islam di Inggris, beliau banyak memberikan ceramah kepada berbagai kelompok dan komunitas disana.
Pada 6 September 1915, Hadhrat Qadhi Muhammad Abdullah, B.A., B.T., bertolak ke Inggris dan selama empat tahun beliau sibuk melakukan dakwah. Akibat Perang Dunia (PD) Pertama, beliau mengalami banyak hambatan dan kesulitan-kesulitan dalam berdakwah. Namun, melalui sarana literatur dan korespondensi, beliau masih tetap dapat melakukan dakwah. Beliau masih berada di Inggris ketika Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq pada 10 Maret 1917 berlayar menumpang kapal dari India ke Inggris dan tiba disana pada April 1917. Selama beberapa waktu, Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq membantu pertabligan di Inggris. Namun atas perintah Hadhrat Khalifatul Masih II ra, beliau kemudian bertolak ke Amerika untuk membuka pertabligan disana. Sedangkan sebagai gantinya, dikirimlah kembali Choudry Fatah Muhammad Sayyal beserta Maulana Abdurrahim Nayyar pada 10 Juli 1919 ke Inggris dan sampai di London pada 6 Agustus 1919.
Berbekal pengalaman sebelumnya, Choudry Sayyal berusaha meningkatkan dan meluaskan pertabligan melalui pembelian sebidang tanah seharga £ 2030 dari seorang yahudi di Tiffny Southfield untuk didirikan mesjid. Peristiwa ini terjadi pada 1920, yaitu pada bulan ketika Maulana Mubarak Ali Banggali, B.A., bertolak dari Qadian ke Inggris. Pada 18 September 1920, beliau tiba di London. Beberapa bulan kemudian, Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar ditugaskan ke Nigeria, tepatnya pada Februari 1921. Sedangkan Maulana Mubarak Ali setelah tugas beberapa bulan, kemudian ditarik kembali ke Qadian pada September 1921.
Segera setelah itu Maulana Mubarak Ali dikirim ke Berlin dan Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar setelah berhasil mendirikan pusat pertabligan di Sierra Leone, Gold Coast (Ghana) dan Nigeria ditarik kembali ke London. Pada 11 Mei 1924, Janab Malik Ghulam Farid, M.A., yang pada Desember 1923 ditugaskan ke Berlin, dipindahkan ke London untuk berdakwah bersama Hadhrat Nayyar.
Pada masa Hadhrat Abdurrahim Nayyar tersebut, Amirul Mukminin Hadhrat Khalifatul Masih II atba berangkat ke Inggris untuk menghadiri Konferensi Agama-agama di Wembley. Melalui tangan beberkat beliau, peletakan batu pertama mesjid Al-Fadhl dilakukan pada 19 Oktober 1924. Melalui perantaraan beliau juga, misi pertabligan di London mulai terkenal ke seluruh dunia. Sehingga dalam sejarah agama-agama, suatu era baru dimulai. Pada Nopember 1924 serombongan pemuda dibawah koordinasi Maulana Abdurrahman Nayyar diberangkatkan ke London dan sebagai kepala misi ditetapkanlah Maulana Abdurrahimm Dard (dulu bernama Rahim Bakhsy), sedangkan sebagai wakilnya adalah Maulana Malik Ghulam Farid, M.A.
Bersamaan dengan ditetapkannya Maulana Abdurrahim Dard sebagai kepala misi pertabligan di London, majalah Review of Religions juga akhirnya diterbitkan dari London. Selain mengurusi masalah pertabligan, beliau juga bertanggung jawab atas kelangsungan penerbitan majalah tersebut. Fondasi pembangunan mesjid Al-Fadhl juga mulai dilanjutkan pembangunannya. Bersama beberapa rekan sekerja beliau berdoa untuk kelancaran pertabligan dan pembangunan mesjid tersebut. Untuk itu ditunjuklah sebuah engineering company guna melaksanakan pembangunan.  Pada 1926, mesjid selesai dibangun. Pembukaannya dilakukan pada 3 Oktober 1926 oleh Khan Bahadur Syeikh Abdul Qadir, B.A., Barrister at Law. Pada kesempatan itu dikumandangkan azan untuk pertama kali di menara mesjid oleh Malik Ghulam Farid, M.A., sedangkan sebagai kehormatan ditetapkanlah muazin pertama dari orang Inggris yang telah masuk Islam bernama Bilal Daniel Hawker Nuttal. Pembukaan mesjid pertama di London ini disiarkan secara luas oleh surat kabar-surat kabar ke seluruh penjuru dunia, khususnya oleh London Press.  Sehingga upaya dakwah Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah menjadi terkenal kemana-mana.
Pada 22 April 1928, Khan Shahib Maulana Farzand Ali bertolak ke Inggris untuk menggantikan Maulana Malik Ghulan Farid yang akan kembali ke India pada Juli 1928. Sebagai pengganti dikirim juga Shufi Abdul Qadir Niyyaz dua bulan setelah Maulana Abdurrahim Dard ditarik ke Qadian tepatnya 3 Agustus 1928. Setelah itu dikirimlah Maulana Muhammad Yaar Arif ke London untuk menggantikan Shufi Abdul Qadir yang ditarik kembali ke Qadian pada 16 Agustus 1931. Setelah itu, pada 2 Februari 1933 untuk kedua kalinya Maulana Abdurrahim Dard dikirim ke London. Sedangkan Maulana Farzand Ali ditarik kembali ke Qadian pada 10 April 1934.
Di antara beberapa kemajuan yang dicapai oleh Khan Shahib Farzand Ali dan Maulana Abdurrahim Dard adalah bahwa selain pada masanya mereka meluaskan daerah pertabligan, juga merasa pentingnya menjalin silaturahmi baik dengan orang-0rang awam dari Hindustan maupun dengan anggota-anggota parlemen. Sehingga tidak mengherankan apabila pada masa itu mesjid Al-Fadhl sering menjadi tempat berkumpul bukan saja para pejabat India tetapi juga para pemimpin Islam India yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Pakistan. Di antaranya penyair Dr. Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah (yang kemudian menjadi pendiri Pakistan), yang menjadi putus asa atas perjuangan kemerdekaan (negara yang kemudian diberi nama, Pakistan) setelah diadakannya Konferensi Gol Mez, dan akhirnya memutuskan menjadi pengacara di London dan melupakan perjuangannya di India.
Mengetahui hal ini, Hadhrat Amirul Mukminin Khalifatul Masih Al-Tsani memerintahkan Maulana Abdurrahim Dard agar mengundang Muhammad Ali Jinnah ke mesjid Al-Fadhl dan memberikan ceramah bertema “The Future of India”. Maulana Abdurrahim Dard diminta juga agar membujuk Muhammad Ali Jinnah supaya meneruskan perjuangannya untuk kemerdekaan (negara yang kemudian diberi nama, Pakistan) dengan bersedia kembali lagi ke India. Kemudian setelah kembali ke Hindustan, Muhammad Ali Jinnah mulai membentuk organisasi Islam yang solid.
Mengenai bagaimana cara Maulana Abdurrahim Dard membujuk Muhammad Ali Jinnah, diterangkan sendiri oleh Maulana Dard sebagai berikut: “Ini merupakan hasil dari upaya Khalifatul Masih II sehingga Quaid-e-Azham bersedia kembali ke Hindustan dari London dan mulai mengumpulkan para politikus Islam, sehingga pada akhinya negara Pakistan bisa terwujud pada 1947. Ketika pada 1933 saya ditugaskan sebagai Imam Mesjid London, pada waktu itu Quaid-e-Azham sudah tinggal di Inggris. Disana, setelah bertemu dengan beliau, akhirnya beliau bersedia kembali ke Hindustan dan membentuk organisasi Islam yang solid.
Saya berbicara dengan Jinnah selama tiga sampai empat jam. Saya memohon agar beliau bersedia menjadi pembimbing bagi kaum Muslim Hindustan yang sedang kehilangan arah laksana kapal yang tak bernahkoda. Kemudian beliau diundang ke mesjid Al-Fadhl, London untuk memberikan ceramah tentang masa depan (orang-orang Islam) Hindustan. Setelah menimbang masak-masak, Jinnah akhirnya kembali ke Hindustan. Kemudian membentuk Muslim League, yang beberapa tahun kemudian berhasil mewujudkan berdirinya negara Pakistan.
Berkenaan dengan bujukan Imam Jemaat Ahmadiyah, sebagaimana disampaikan oleh Sir Stewart Sandiman, Muhammad Ali Jinnah mengatakan, “The eloquent persuation of the Imam left me no escape.” (Imam Sahib ki fashih-o-baligh targhib ne mere lie koi rah bichne ki nehi chorry).” (Lihat, Inqilaabi ‘Azhim ke Mutha’alliq Indzaar-o-Bisyaarat, Jld. II, hlm. 19 oleh Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Shahib).
Pada masa Maulana Dard, beberapa keluarga Pendiri Jemaat Ahmadiyah yaitu Sahibzada Mirza Nasir Ahmad, Sahibzada Mirza Muzhaffar Ahmad, Sahibzada Mirza Zhafar Ahmad dan Sahibzada Mirza Saeed Ahmad sedang menuntut ilmu di London.  Pada masa itu mereka juga menerbitkan majalah “Al-Islam” dibawah tanggung jawab Sahibzada Mirza Nasir Ahmad (yang kemudian menjadi Khalifah Ahmadiyah III). Pada 1 February 1936, Maulana Jalaluddin Syams bertolak ke London dalam rangka menterjemahkan Al-Qur’an, diikuti oleh Maulana Syer Ali pada 26 Februari 1936. Berkat keduanya, misi pertabligan Islam kembali memperlihatkan kehidupan baru. Pada 9 Nopember 1938, Hadhrat Maulana Abdurrahim Dard, Maulana Syer Ali dan semua mubalig Islam Ahmadiyah di Inggris kembali ke Qadian. Sehingga Maulana Jalaluddin Syams akhirnya ditugaskan sebagai Missionary in-Charge (Kepala Misi Pertabligan di suatu negara).
Pada masa Maulana Jalaluddin Syams, Perang Dunia Kedua meletus. Inggris dibombardir dari segala arah, sehingga ribuan anak-anak dan wanita mengungsi dari London ke desa-desa sekitarnya. Akibat bombardir tersebut juga ceramah-ceramah di luar menjadi terhenti. Namun, hal yang menguntungkan adalah beliau masih tetap berdakwah dengan cara memberikan ceramah-ceramah di Pusat Misi Pertabligan (Daar al-Tablig) mengenai berbagai masalah agama. Komunitas-komunitas dan klub-klub terkenal ikut hadir. Dari luar negeri berdatangan orang-orang penting untuk berjumpa dengan beliau sehingga beliau tetap masih dapat berdakwah kepada mereka. Ribuan selebaran tentang kuburan Nabi Isa as di Kasymir, India dibagi-bagikan. Sebuah buku yang penting, Where did Jesus Die? juga diterbitkan. Bishop Glaster diundang untuk berdiskusi, begitu juga raja-raja. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Italia, Perancis, Polandia, Jerman dan Spanyol.
Pada 19 Nopember 1946, Maulana Jalaluddin Syams ditarik ke Qadian, dan sebagai gantinya ditunjuklah Choudry Musytaq Ahmad Bajwa sebagai Imam Mesjid London. Di masa beliau, cukup banyak literatur yang diterbitkan. Setelah itu beliau diganti oleh Choudry Zhahur Ahmad Bajwa sampai 14 Agustus 1950. Pada masa beliau, ditunjuklah Quraisyi Maqbul Ahmad sebagai Sekretaris Misi (24 Januari 1948 – 9 Desember 1951), yang dilanjutkan oleh Sayyid Mahmud Ahmad Nasir (11 Nopember 1954 – 4 Juli 1957) merangkap sebagai Naib Imam Mesjid.
Choudry Zhahur Ahmad Bajwa kembali ke Qadian pada 14 April 1955. Pada masa Choudry Zhahur, dikirimlah Maulana Ahmad Khan Dehlawy ke London pada 11 September 1953. Pada April 1955, Hadhrat Khalifatul Masih II atba berangkat ke Eropa untuk berobat yang kedua kalinya. Atas petunjuk Hudhur, dari 22-24 Juli 1955 diadakanlah konferensi mubaligin yang ada di luar negeri berkenaan dengan pengaturan pertabligan sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang penting.
Pada 18 Januari 1959, Khan Basyir Ahmad Khan Shahib Rafiq bertolak ke Inggris. Pada masa itu, beliau  ditugaskan sebagai mubalig. Tahun 1960 beliau menerbitkan surat kabar “The Muslim Herald”. Oleh karena itu Mukarram Choudry Rahmat Khan Shahib ditetapkan sebagai Imam Mesjid London dari Oktober 1960 sampai Maret 1962. Selain itu, para mubalig yang pernah bertugas di London adalah Mir Abdussalam Siyalkoti, Aziz Din Shahib dan Quraisy Shilahuddin Shahib. Selain itu orang Inggris yang telah masuk Islam dan aktif bertablig adalah Nasir Ahmad, Alimah Bilal, Daniel Bilal Hawker Nuttal. Pada masa itu cabang-cabang Jemaat telah didirikan di beberapa kota, di antaranya Bradford, Blackburn, Glasgow, Huddersfields, Oxford, Birmingham, Sheffield, Southall, Manchester, dan lain-lain.




MENGHIDUPKAN MISI PERTABLIGAN DI JERMAN

( Diterjemahkan dari Jilid 13, Pasal 4, hlm. 137 – 152 )

Tahun Ke-35 Khilafah Tsaniyah
Misi pertabligan pertama di Jerman didirikan oleh Maulana Mubarak Ali dan Maulana Malik Ghulam Farid, M.A., pada Desember 1923. Pada Mei 1924 kemudian ditutup lagi. Pada 20 Januari 1949, Choudry Abdul Latif, B.A., mewakafkan diri menjadi mubalig.


Permulaan Tablig
Beliau mendirikan pusat pertabligan di Hamburg. Pada tahap awal, beliau sedikit demi sedikit belajar bahasa Jerman, sedangkan untuk melaksanakan tugas sehari-hari beliau berbicara menggunakan bahasa Inggris. Pada 24 Mei 1949, beliau pertama kali mengadakan pertemuan tablig di tengah kota, yaitu di sebuah gedung yang sangat luas bernama gedung “Debnicke”. Perkumpulan-perkumpulan dunia yang ada di Hamburg dan Hamburg Study Club diundang hadir. Buku karangan Khalifah II, “The Life and Teachings of Prophet Mohammad” diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Ini merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh misi pertabligan Islam Ahmadiyah di negeri Jerman.


 Asal Mula Gerakan Ahmadiyah di Jerman
Melalui upaya pertabligan yang gigih dari misi Ahmadiyah di Switzerland, beberapa orang Jerman akhirnya memeluk Islam. Di antara mereka adalah Abdul Karim Dungker yang begitu tulus. Pada 18 Oktober dan 25 Nopember 1949, Hans Dunger dan E. Nowak juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Hamid dan Abdurrahim.


Kesulitan-kesulitan Mubalig Islam
Pada awalnya, ada seorang Jerman yang baru memeluk Islam (Ahmadiyah) bernama Kuhne. Dia mengupayakan agar mubalig Ahmadiyah bisa menetap di Jerman. Namun karena adanya Perang Dunia (PD) Kedua, kondisinya tidak memungkinkan. Tetapi dengan karunia Allah Ta’ala, akhirnya pemerintah Jerman sendiri bisa menerima kehadiran mubalig Islam Ahmadiyah dan menetap di Hamburg.


Pendirian Jemaat Nurenberg
Pada saat itu, misi pertabligan Islam Ahmadiyah hanya terdapat di kota Hamburg. Tetapi pada bulan September 1952, dibuka misi pertabligan di Nurenberg, setelah ada tiga orang Jerman di kota tersebut yang masuk Islam. Yaitu setelah Umar Hoffer, seorang asli Jerman masuk Islam dan bertablig kepada teman-temannya.



Konferensi Kecil Misi Ahmadiyah di Hamburg
Gairat pertabligan Islam di Jerman mulai meningkat. Di Hamburg, misi pertabligan Ahmadiyah di Eropa mengadakan Jalsah (konferensi) kecil, yang berlangsung dari 18-20 Nopember 1954. Pada acara tersebut turut hadir anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah dari berbagai negara: Inggris, Switzerland, Belanda, Spanyol.
Pemberitaan pers mengenai Jalsah (konferensi) tersebut sangat gempita. Surat-surat kabar menampilkan foto dan menulis jalan acaranya. Satu surat kabar Kristen menulis dengan tajuk headline sebagai berikut:

Masalah Penting Untuk Misi Kristen dan Gereja

Masalah ini hendaknya diperhatikan oleh dunia Kristen, yaitu bahwa Islam yang pada penyebarannya yang pertama kali mengusung kebangunan ruhani, kini melalui misi-misi pertabligannya sedang mengupayakan agar Eropa menjadi Islam. Pada hari-hari ini sedang dilangsungkan pertemuan misi Islam di Hamburg yang menunjukkan bahwa Islam sedang tersebar menuju ke arah kemajuannya.
Jerman, Inggris, Belanda, Switzerland dan Spanyol sedang mengalami pertabligan Islam, utamanya lewat literatur. Di Jerman, medan keberhasilan dakwah Islam begitu luasnya. Hanya dalam beberapa tahun, sudah didirikan mesjid di Hamburg. Melalui peristiwa ini, mata kita hendaknya tidak boleh tidur. Atau, kita akan mengalami kerugian setelah Islam menjadi kekuatan yang kokoh di dunia. Dalam keadaan yang demikian, sangat sulit bagi dunia Kristen untuk menahannya.


Kegiatan Khalifah Ahmadiyah II di Jerman
Sejarah misi pertabligan Islam Ahmadiyah pada pertengahan tahun 1955 harus dicatat dengan tinta emas, karena pada waktu itu Khalifah Ahmadiyah II, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad mengadakan lawatan ke Jerman mulai 25–29 Juni 1955. Pada 26 Juni 1955, Dr. Taltak, seorang orientalis Jerman bai’at masuk Islam di tangan beberkat Hadhrat Khalifatul Masih II setelah dilakukan dialog. Hudhur kemudian memberinya nama Islam, Zubair.
Lawatan Hudhur II di Jerman diliput secara luas oleh surat kabar-surat kabar Jerman.  Pidato-pidato beliau yang sangat cemerlang, sangat menarik perhatian orang-orang Jerman. Salah satu surat kabar, Hamburger Anzeiger dalam terbitan 28 Juni 1955 menuliskan kecemerlangan pidato Khalifah Ahmadiyah II itu dilengkapi dengan foto-foto, sebagai berikut:

Amirul Mukminin di Balaikota Hamburg

Imam Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad kemarin disambut oleh Menteri Von Flesenne di Balaikota Hamburg. Dijelaskan, bahwa Khalifah Ahmadiyah yang berusia 66 tahun tersebut telah berhasil membangun Rabwah, yang tadinya daerah tak berharga menjadi sebuah kota yang terkenal (di Pakistan). Lembaga-lembaga pendidikan dan sekolah misi sudah terdapat disana.
Islam adalah agama yang damai dan toleran, dan ketaatan merupakan salah satu pokok yang diajarkan Islam di seluruh dunia. Oleh sebab itu, Jemaat Ahmadiyah di Jerman, berupaya mempersembahkan wajah Islam yang demikian. Ruh Islam sedang menghidupkan Jerman. Jemaat Ahmadiyah Jerman telah memiliki markaz (pusat pertabligan Islam) di Hamburg. Misi pertabligannya kini sudah terdapat di berbagai negara.

Selain surat kabar yang ada di Hamburg, sekitar 20 surat kabar di kota lain juga menuliskan kedatangan Khalifah Ahmadiyah II tersebut dilengkapi foto-foto.


Pembangunan dan Peresmian Mesjid Hamburg
Selama berada di Hamburg, Khalifah Ahmadiyah II segera memberikan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan pembangunan mesjid-mesjid lainnya. Tak sampai dua tahun sejak itu, tepatnya pada 22 Februari 1957 di Hamburg telah dilaksanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan mesjid dan peresmiannya dilakukan oleh Sir Muhammad Zafrullah Khan pada 22 Juni 1957.
Peresmian didahului oleh tilawat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Hafidz Qudratullah, mubalig Ahmadiyah di Belanda. Kemudian Choudry Abdul Latif sebagai kepala misi pertabligan di Jerman menyampaikan sekelumit maksud dan tujuan didirikannya mesjid. Selanjutkanya, Mirza Mubarak Ahmad dalam kapasitasnya sebagai wakil dari Hadhrat Khalifatul Masih II, membacakan amanat Khalifah dalam bahasa Inggris, yang terjemahannya sebagai berikut:

Saudara-saudara anggota Jemaat Ahmadiyah Jerman!

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Untuk berpartisipasi dalam pembukaan mesjid di Hamburg, saya telah mengutus putra saya, Mirza Mubarak Ahmad. Untuk peresmiaannya, insya Allah, akan dilakukan oleh saudara kita, Sir Muhammad Zafrullah Khan. Sedangkan Mirza Mubarak Ahmad hanyalah sebagai tanda ikatan atas ketidakhadiran saya.
Keinginan saya adalah, semoga Allah Ta’ala menolong saudara-saudara sehingga pembukaan mesjid lainnya pun dapat dilakukan di kota-kota Jerman lainnya. Harapan saya, setelah dipertemukan dengan Maulana Abdul Latif, Mirza Mubarak Ahmad dapat membuat skema untuk pembangunan mesjid-mesjid tersebut sehingga sesegera mungkin pembangunannya dapat dimulai.
Tuhan berkehendak agar orang-orang Jerman segera menerima Islam dan melalui kekuatan sendiri mereka dapat menjadi pemimpin jasmani dan rohani bagi Eropa. Pada akhirnya, akan ada seorang Jerman yang setelah memeluk Islam kemudian ia mewakafkan diri untuk pertabligan Islam di Amerika.
Namun, kita tidak cukup hanya dengan seorang saja, ribuan bahkan jutaan mubalig Islam akan dilahirkan dari orang-orang Jerman. Sehingga, jutaan orang-orang Jerman lainnya akan menerima Islam dan melaksanakan syiar Islam serta di tangan bangsa Jerman-lah kepemimpinan Eropa akan terletak. Allahumma amin!

Yang amat lemah,
Mirza Mahmud Ahmad
Khalifatul Masih II
 

Mesjid Hamburg dan Pers Kristen
Sejak didirikannya mesjid pertama oleh Jemaat Ahmadiyah di Hamburg, misi pertabligan Islam mulai terprogram dengan rapi. Sehingga pers Kristen Jerman menyiratkan ketakutan terhadap perkembangan ini. Beberapa surat kabar menuliskan pandangannya tersebut:
1.         Surat kabar Lan des Zeitung dalam edisi terbitannya tanggal 11 Juni 1958 menuliskan suatu headline berjudul “Alarm Berbahaya dari Mesjid Hamburg”. Isinya, bahwa sekarang Islam sedang mengalami kehidupan baru dan salah satu sektenya telah membangun sebuah mesjid pertama di kota Hamburg;
2.        Surat kabar Wurzburg menulis: “Pembangunan mesjid di Hamburg menandakan bahwa dunia Kristen telah mengalami kemalasan bertablig dan terhadap agamanya sendiri sudah tidak peduli dan acuh, apalagi memiliki tanggung jawab akan penyebarannya.”
3.        Surat kabar keagamaan The Church mengungkapkan pemikirannya: “Perang Suci antara Islam dan Kristen terjadi di Hamburg. Yaitu, betapa sekarang kita menyadari bahwa seiring dengan pendirian mesjid di Hamburg, pertempuran berbahaya sedang terjadi. Abdul Latif, Mubalig Jemaat Ahmadiyah telah datang ke Jerman pada 1949 dan hanya delapan tahun kemudian, tepatnya pada 1957, telah berhasil mendirikan mesjid yang menunjukkan keberhasilan misi pertabligannya.”
4.        Surat kabar Bilefeld menuliskan headline berjudul: “Mesjid-mesjid di Negara Kita” sebagai berikut: “Rasa heran saya tidak berkesudahan manakala di kota saya sendiri, yaitu Hamburg, dikabarkan telah didirikan sebuah mesjid. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan, bahwa ternyata Jemaat Ahmadiyah bukan saja telah mendirikan mesjid di kota Hamburg melainkan juga akan mendirikan mesjid di kota-kota lainnya di Jerman.”


Penerbitan Terjemah Al-Qur’an ke Dalam Bahasa Jerman
Mulai tahun 1954 selain berupaya menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Swiss, misi Ahmadiyah Switzerland juga menterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman. Terjemahan tersebut telah memberikan dampak yang mendalam dalam dunia akademis di negeri Jerman. Pers Jerman juga telah mengulasnya secara panjang lebar dalam surat-surat kabar dan majalah mereka. Kedua terjemahan tersebut telah diterbitkan dan disebarluaskan (secara gratis).”


Para Mubalig Ahmadiyah yang Pernah Berdakwah di Jerman
Berikut ini adalah daftar nama para mubalig Ahmadiyah yang pernah berdakwah di pusat misi pertabligan di Jerman:
1.       Mukarram Choudry Abdul Latif (20 Januari 1949 – 24 Agustus 1951, 12 Oktober 1951 – 14 Desember 1952; 25 Januari 1963 – akhir 1969);
2.      Haji Mirza Lutfurrahman (4 April 1959 – 2 Desember 1960, setelah itu beliau ditugaskan ke Togo, Afrika Barat);
3.      Mukarram Mas’ud Ahmad Jehlumy (2 Maret 1961 – 23 Mei 1964; 27 Januari 1968 – 1972);
4.      Mukarram Haji Maulana Mahmud Ahmad Cheema, H.A., Syahid (21 Juli 1962 – 1966, tambahan penterjemah: setelah itu dikirim ke Afrika, lalu ke Indonesia 1969 – 2001);
5.      Mukarram Fazal Ilahi Anwary, B.Sc. (7 Juni 1964 – 28 Desember 1967; 19 Oktober 1972);
6.      Mukarram Maulana Basyir Ahmad Syams (12 September 1966 – 4 Desember 1969);
7.      Mukarram Qadhi Mu’inuddin Ahmad (19 Juli 1969 – sampai buku ini ditulis).


Pembangunan dan Peresmian Mesjid Frankfurt
Belum genap dua tahun sejak peresmian mesjid Hamburg, dengan karunia Allah Ta’ala misi pertabligan Islam melelaui Ahmadiyah di Jerman telah mendirikan mesjid lain yang peresmiannya dilakukan oleh Sir Muhammad Zafrullah Khan, yaitu seorang anggota Ahmadiyah yang saat itu menjadi Hakim pada Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Selain itu korps mubalig Ahmadiyah di Eropa juga hadir, di antaranya Mukarram Hafidz Qudratullah, Mukarram Syeikh Nasir Ahmad, Mukarram Abdul Hakim Akmal, Haji Mirza Lutfurrahman, Mukarram Abdusy Syukur Kanre, Mukarram Khan Basyir Ahmad Rafiq dan Mukarram Kamal Yusuf.
Peresmian mesjid Frankfurt dilaksanakan pada pukul 03:00 dipimpin langsung oleh Sir Choudry Muhammad Zafrullah Khan. Pembacaan Al-Qur’an dilakukan oleh Hafidz Qudratullah. Melalui pidatonya, mubalig Jerman menyampaikan ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang beberkat tersebut.  Kepala Wilayah Frankfurt, Mayor Albrecht berharap agar mesjid itu bisa menjadi tempat sumber perdamaian dan toleransi. Terakhir, dengan menggunakan bahasa Inggris, Sir Muhammad Zafrullah Khan menyampaikan pidato mengenai pesan universal Islam dengan sangat menarik. Pidato tersebut diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Jerman oleh Abdusy Syukur Kanze, orang Jerman asli yang telah masuk Islam dan kemudian menjadi mubalig Ahmadiyah.
Setelah itu Muhammad Zafrullah Khan memimpin doa dan membuka tulisan di pintu mesjid sebagai tanda peresmian. Acara dilanjutkan dengan shalat Dhuhur jamak Ashar. Pada saat peresmian itu, mubalig Jerman diwawancara oleh media selama dua jam lamanya. Sebelum diwawancara, Hafidz Qudratullah juga direkam suaranya ketika mengumandangkan adzan. Itulah adzan pertama yang dikumandangkan di kota Frankfurt. Dalam wawancara tersebut mubalig Jerman menerangkan tentang pentingnya mesjid dan menghilangkan kesalahfahaman mengenai Islam. Begitu juga mengenai tujuan dari tablig yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Televisi Swiss kemudian menayangkan peresmian mesjid ini.
Sekitar 40 surat kabar juga kemudian menampilkan peresmian mesjid Frankfurt dengan foto pemandangan mesjid yang berbeda-beda. Kemudian dijelaskan juga upaya pertabligan yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah dalam penjelasan yang sangat indah. Contohnya, surat kabar Mannheim Morgen menulis pada 15 September 1959 dengan tajuk “Islam Sedang Berkembang di Eropa” sebagai berikut:
“Dahulu penyebaran agama Muhammad dilakukan melalui pedang dan tombak hingga ke Perancis Utara. Namun kini, penyebarannya dilakukan melalui kekuatan senjata rohani. Banyak sekali orang Islam yang datang ke Eropa sambil berupaya menyebarkan agamanya. Di antara berbagai kelompok Islam yang melakukan tablig paling aktif adalah kelompok yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada 1890 di Punjab. Di berbagai tempat di Eropa, mereka telah berhasil mendirikan mesjid-mesjid.”
    



---------ooo000ooo---------



Diterjemahkan dari buku:
TAARIKH AHMADIYYAH Jilid Panjam, Sayyidina Hadhrat Khalifatul Masih Al-Tsani Al-Mushlih Al-Mau’ud atba ke Sawanih Hayaat Qabal az Khilaafat aor Khilafat-e-Tsaaniyyah ke ‘Azhim al-Syaan Tablighy, Tarbiyyati aor ‘Ilmy Kaarhaa-e-Numaayaa aor Zarrei Islamy Khidmaat (1914-1927 M), hlm. 161 – 167

Bahasa:
Urdu (Pakistan)

Penyusun:
Mln. Dost Muhammad, Syahid, H.A.

Diterbitkan oleh:
Idaarat al-Mushannifiyn
Rabwah, Zhila’ Jhang, Punjab
PAKISTAN

Tanggal Diterbitkan:

5 Desember 1964


Diterjemahkan oleh:
Rakeeman R.A.M. Jumaan
Dosen Ilmu Perbandingan Agama, Bahasa Ibrani & Sejarah
Jamiah Ahmadiyah Indonesia (JAMAI)
Bogor, Jawa Barat


<<Terjemahan sementara, belum diedit!!!>>













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...