PUSAT
PERTABLIGAN AHMADIYAH
DI
KOTA LONDON (INGGRIS)
Hadhrat Choudry Fatah Muhammad Sayyal mendirikan
misi pertabligan pertama di luar negeri pada Juli 1913. Namun pendirian
sebenarnya dilakukan pada April 1914 ketika beliau meninggalkan Woking dan
pindah ke London. Segera setiba disana, beliau mendirikan sebuah markaz (pusat
pertabligan) dan mulai melaksanakan dakwah Islam. Orang pertama yang masuk
Islam melalui usaha pertabligan beliau adalah seorang jurnalis bernama Korio.
Sampai kembalinya beliau ke India pada Maret 1914 beberapa orang Inggris telah
memeluk Islam. Pada masa-masa awal misi pertabligan Islam di Inggris, beliau
banyak memberikan ceramah kepada berbagai kelompok dan komunitas disana.
Pada 6 September 1915, Hadhrat Qadhi Muhammad
Abdullah, B.A., B.T., bertolak ke Inggris dan selama empat tahun beliau sibuk
melakukan dakwah. Akibat Perang Dunia (PD) Pertama, beliau mengalami banyak
hambatan dan kesulitan-kesulitan dalam berdakwah. Namun, melalui sarana
literatur dan korespondensi, beliau masih tetap dapat melakukan dakwah. Beliau
masih berada di Inggris ketika Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq pada 10 Maret 1917
berlayar menumpang kapal dari India ke Inggris dan tiba disana pada April 1917.
Selama beberapa waktu, Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq membantu pertabligan di
Inggris. Namun atas perintah Hadhrat Khalifatul Masih II ra, beliau kemudian
bertolak ke Amerika untuk membuka pertabligan disana. Sedangkan sebagai
gantinya, dikirimlah kembali Choudry Fatah Muhammad Sayyal beserta Maulana
Abdurrahim Nayyar pada 10 Juli 1919 ke Inggris dan sampai di London pada 6
Agustus 1919.
Berbekal pengalaman sebelumnya, Choudry Sayyal
berusaha meningkatkan dan meluaskan pertabligan melalui pembelian sebidang
tanah seharga £ 2030
dari seorang yahudi di Tiffny Southfield untuk didirikan mesjid. Peristiwa ini
terjadi pada 1920, yaitu pada bulan ketika Maulana Mubarak Ali Banggali, B.A.,
bertolak dari Qadian ke Inggris. Pada 18 September 1920, beliau tiba di London.
Beberapa bulan kemudian, Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar ditugaskan ke
Nigeria, tepatnya pada Februari 1921. Sedangkan Maulana Mubarak Ali setelah
tugas beberapa bulan, kemudian ditarik kembali ke Qadian pada September 1921.
Segera setelah itu Maulana Mubarak Ali dikirim ke
Berlin dan Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar setelah berhasil mendirikan pusat
pertabligan di Sierra Leone, Gold Coast (Ghana) dan Nigeria ditarik kembali ke
London. Pada 11 Mei 1924, Janab Malik Ghulam Farid, M.A., yang pada Desember
1923 ditugaskan ke Berlin, dipindahkan ke London untuk berdakwah bersama
Hadhrat Nayyar.
Pada masa Hadhrat Abdurrahim Nayyar tersebut, Amirul
Mukminin Hadhrat Khalifatul Masih II atba berangkat ke Inggris untuk menghadiri
Konferensi Agama-agama di Wembley. Melalui tangan beberkat beliau, peletakan
batu pertama mesjid Al-Fadhl dilakukan pada 19 Oktober 1924. Melalui
perantaraan beliau juga, misi pertabligan di London mulai terkenal ke seluruh
dunia. Sehingga dalam sejarah agama-agama, suatu era baru dimulai. Pada
Nopember 1924 serombongan pemuda dibawah koordinasi Maulana Abdurrahman Nayyar
diberangkatkan ke London dan sebagai kepala misi ditetapkanlah Maulana
Abdurrahimm Dard (dulu bernama Rahim Bakhsy), sedangkan sebagai wakilnya adalah
Maulana Malik Ghulam Farid, M.A.
Bersamaan dengan ditetapkannya Maulana Abdurrahim Dard
sebagai kepala misi pertabligan di London, majalah Review of Religions
juga akhirnya diterbitkan dari London. Selain mengurusi masalah pertabligan,
beliau juga bertanggung jawab atas kelangsungan penerbitan majalah tersebut.
Fondasi pembangunan mesjid Al-Fadhl juga mulai dilanjutkan pembangunannya.
Bersama beberapa rekan sekerja beliau berdoa untuk kelancaran pertabligan dan
pembangunan mesjid tersebut. Untuk itu ditunjuklah sebuah engineering
company guna melaksanakan pembangunan.
Pada 1926, mesjid selesai dibangun. Pembukaannya dilakukan pada 3
Oktober 1926 oleh Khan Bahadur Syeikh Abdul Qadir, B.A., Barrister at Law.
Pada kesempatan itu dikumandangkan azan untuk pertama kali di menara mesjid
oleh Malik Ghulam Farid, M.A., sedangkan sebagai kehormatan ditetapkanlah
muazin pertama dari orang Inggris yang telah masuk Islam bernama Bilal
Daniel Hawker Nuttal. Pembukaan mesjid pertama di London ini disiarkan
secara luas oleh surat kabar-surat kabar ke seluruh penjuru dunia, khususnya
oleh London Press. Sehingga upaya dakwah
Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah menjadi terkenal kemana-mana.
Pada 22 April 1928, Khan Shahib Maulana Farzand Ali
bertolak ke Inggris untuk menggantikan Maulana Malik Ghulan Farid yang akan
kembali ke India pada Juli 1928. Sebagai pengganti dikirim juga Shufi Abdul
Qadir Niyyaz dua bulan setelah Maulana Abdurrahim Dard ditarik ke Qadian
tepatnya 3 Agustus 1928. Setelah itu dikirimlah Maulana Muhammad Yaar Arif ke
London untuk menggantikan Shufi Abdul Qadir yang ditarik kembali ke Qadian pada
16 Agustus 1931. Setelah itu, pada 2 Februari 1933 untuk kedua kalinya Maulana
Abdurrahim Dard dikirim ke London. Sedangkan Maulana Farzand Ali ditarik
kembali ke Qadian pada 10 April 1934.
Di antara beberapa kemajuan yang dicapai oleh Khan
Shahib Farzand Ali dan Maulana Abdurrahim Dard adalah bahwa selain pada masanya
mereka meluaskan daerah pertabligan, juga merasa pentingnya menjalin
silaturahmi baik dengan orang-0rang awam dari Hindustan maupun dengan
anggota-anggota parlemen. Sehingga tidak mengherankan apabila pada masa itu
mesjid Al-Fadhl sering menjadi tempat berkumpul bukan saja para pejabat India
tetapi juga para pemimpin Islam India yang sedang memperjuangkan kemerdekaan
Pakistan. Di antaranya penyair Dr. Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah (yang
kemudian menjadi pendiri Pakistan), yang menjadi putus asa atas perjuangan
kemerdekaan (negara yang kemudian diberi nama, Pakistan) setelah diadakannya
Konferensi Gol Mez, dan akhirnya memutuskan menjadi pengacara di London dan
melupakan perjuangannya di India.
Mengetahui hal ini, Hadhrat Amirul Mukminin
Khalifatul Masih Al-Tsani memerintahkan Maulana Abdurrahim Dard agar mengundang
Muhammad Ali Jinnah ke mesjid Al-Fadhl dan memberikan ceramah bertema “The
Future of India”. Maulana Abdurrahim Dard diminta juga agar membujuk Muhammad
Ali Jinnah supaya meneruskan perjuangannya untuk kemerdekaan (negara yang
kemudian diberi nama, Pakistan) dengan bersedia kembali lagi ke India. Kemudian
setelah kembali ke Hindustan, Muhammad Ali Jinnah mulai membentuk organisasi
Islam yang solid.
Mengenai bagaimana cara Maulana Abdurrahim Dard
membujuk Muhammad Ali Jinnah, diterangkan sendiri oleh Maulana Dard sebagai
berikut: “Ini merupakan hasil dari upaya Khalifatul Masih II sehingga
Quaid-e-Azham bersedia kembali ke Hindustan dari London dan mulai mengumpulkan
para politikus Islam, sehingga pada akhinya negara Pakistan bisa terwujud pada
1947. Ketika pada 1933 saya ditugaskan sebagai Imam Mesjid London, pada waktu
itu Quaid-e-Azham sudah tinggal di Inggris. Disana, setelah bertemu dengan
beliau, akhirnya beliau bersedia kembali ke Hindustan dan membentuk organisasi
Islam yang solid.
Saya berbicara dengan Jinnah selama tiga sampai
empat jam. Saya memohon agar beliau bersedia menjadi pembimbing bagi kaum
Muslim Hindustan yang sedang kehilangan arah laksana kapal yang tak bernahkoda.
Kemudian beliau diundang ke mesjid Al-Fadhl, London untuk memberikan ceramah
tentang masa depan (orang-orang Islam) Hindustan. Setelah menimbang
masak-masak, Jinnah akhirnya kembali ke Hindustan. Kemudian membentuk Muslim
League, yang beberapa tahun kemudian berhasil mewujudkan berdirinya negara
Pakistan.
Berkenaan dengan bujukan Imam Jemaat Ahmadiyah,
sebagaimana disampaikan oleh Sir Stewart Sandiman, Muhammad Ali Jinnah
mengatakan, “The eloquent persuation of the Imam left me no escape.” (Imam
Sahib ki fashih-o-baligh targhib ne mere lie koi rah bichne ki nehi chorry).”
(Lihat, Inqilaabi ‘Azhim ke Mutha’alliq Indzaar-o-Bisyaarat, Jld.
II, hlm. 19 oleh Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Shahib).
Pada masa Maulana Dard, beberapa keluarga Pendiri
Jemaat Ahmadiyah yaitu Sahibzada Mirza Nasir Ahmad, Sahibzada Mirza Muzhaffar
Ahmad, Sahibzada Mirza Zhafar Ahmad dan Sahibzada Mirza Saeed Ahmad sedang
menuntut ilmu di London. Pada masa itu
mereka juga menerbitkan majalah “Al-Islam” dibawah tanggung jawab Sahibzada
Mirza Nasir Ahmad (yang kemudian menjadi Khalifah Ahmadiyah III). Pada 1
February 1936, Maulana Jalaluddin Syams bertolak ke London dalam rangka
menterjemahkan Al-Qur’an, diikuti oleh Maulana Syer Ali pada 26 Februari 1936.
Berkat keduanya, misi pertabligan Islam kembali memperlihatkan kehidupan baru.
Pada 9 Nopember 1938, Hadhrat Maulana Abdurrahim Dard, Maulana Syer Ali dan
semua mubalig Islam Ahmadiyah di Inggris kembali ke Qadian. Sehingga Maulana
Jalaluddin Syams akhirnya ditugaskan sebagai Missionary in-Charge
(Kepala Misi Pertabligan di suatu negara).
Pada masa Maulana Jalaluddin Syams, Perang Dunia
Kedua meletus. Inggris dibombardir dari segala arah, sehingga ribuan anak-anak
dan wanita mengungsi dari London ke desa-desa sekitarnya. Akibat bombardir
tersebut juga ceramah-ceramah di luar menjadi terhenti. Namun, hal yang
menguntungkan adalah beliau masih tetap berdakwah dengan cara memberikan
ceramah-ceramah di Pusat Misi Pertabligan (Daar al-Tablig) mengenai berbagai
masalah agama. Komunitas-komunitas dan klub-klub terkenal ikut hadir. Dari luar
negeri berdatangan orang-orang penting untuk berjumpa dengan beliau sehingga
beliau tetap masih dapat berdakwah kepada mereka. Ribuan selebaran tentang
kuburan Nabi Isa as di Kasymir, India dibagi-bagikan. Sebuah buku yang penting,
Where did Jesus Die? juga diterbitkan. Bishop Glaster diundang untuk
berdiskusi, begitu juga raja-raja. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam
bahasa Rusia, Italia, Perancis, Polandia, Jerman dan Spanyol.
Pada 19 Nopember 1946, Maulana Jalaluddin Syams
ditarik ke Qadian, dan sebagai gantinya ditunjuklah Choudry Musytaq Ahmad Bajwa
sebagai Imam Mesjid London. Di masa beliau, cukup banyak literatur yang
diterbitkan. Setelah itu beliau diganti oleh Choudry Zhahur Ahmad Bajwa sampai
14 Agustus 1950. Pada masa beliau, ditunjuklah Quraisyi Maqbul Ahmad sebagai
Sekretaris Misi (24 Januari 1948 – 9 Desember 1951), yang dilanjutkan oleh
Sayyid Mahmud Ahmad Nasir (11 Nopember 1954 – 4 Juli 1957) merangkap sebagai
Naib Imam Mesjid.
Choudry Zhahur Ahmad Bajwa kembali ke Qadian pada 14
April 1955. Pada masa Choudry Zhahur, dikirimlah Maulana Ahmad Khan Dehlawy ke
London pada 11 September 1953. Pada April 1955, Hadhrat Khalifatul Masih II
atba berangkat ke Eropa untuk berobat yang kedua kalinya. Atas petunjuk Hudhur,
dari 22-24 Juli 1955 diadakanlah konferensi mubaligin yang ada di luar negeri
berkenaan dengan pengaturan pertabligan sehingga menghasilkan
keputusan-keputusan yang penting.
Pada 18 Januari 1959, Khan Basyir Ahmad Khan Shahib
Rafiq bertolak ke Inggris. Pada masa itu, beliau ditugaskan sebagai mubalig. Tahun 1960 beliau
menerbitkan surat kabar “The Muslim Herald”. Oleh karena itu Mukarram Choudry
Rahmat Khan Shahib ditetapkan sebagai Imam Mesjid London dari Oktober 1960
sampai Maret 1962. Selain itu, para mubalig yang pernah bertugas di London
adalah Mir Abdussalam Siyalkoti, Aziz Din Shahib dan Quraisy Shilahuddin
Shahib. Selain itu orang Inggris yang telah masuk Islam dan aktif bertablig
adalah Nasir Ahmad, Alimah Bilal, Daniel Bilal Hawker Nuttal. Pada masa itu
cabang-cabang Jemaat telah didirikan di beberapa kota, di antaranya Bradford,
Blackburn, Glasgow, Huddersfields, Oxford, Birmingham, Sheffield, Southall,
Manchester, dan lain-lain.
MENGHIDUPKAN
MISI PERTABLIGAN DI JERMAN
( Diterjemahkan dari Jilid 13, Pasal 4, hlm. 137 – 152 )
Tahun Ke-35 Khilafah
Tsaniyah
Misi pertabligan pertama di Jerman didirikan oleh
Maulana Mubarak Ali dan Maulana Malik Ghulam Farid, M.A., pada Desember 1923.
Pada Mei 1924 kemudian ditutup lagi. Pada 20 Januari 1949, Choudry Abdul Latif,
B.A., mewakafkan diri menjadi mubalig.
Permulaan Tablig
Beliau mendirikan pusat pertabligan di Hamburg. Pada
tahap awal, beliau sedikit demi sedikit belajar bahasa Jerman, sedangkan untuk
melaksanakan tugas sehari-hari beliau berbicara menggunakan bahasa Inggris. Pada
24 Mei 1949, beliau pertama kali mengadakan pertemuan tablig di tengah kota,
yaitu di sebuah gedung yang sangat luas bernama gedung “Debnicke”.
Perkumpulan-perkumpulan dunia yang ada di Hamburg dan Hamburg Study Club
diundang hadir. Buku karangan Khalifah II, “The Life and Teachings of Prophet
Mohammad” diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Ini merupakan buku pertama yang
diterbitkan oleh misi pertabligan Islam Ahmadiyah di negeri Jerman.
Asal Mula Gerakan Ahmadiyah di Jerman
Melalui upaya pertabligan yang gigih dari misi
Ahmadiyah di Switzerland, beberapa orang Jerman akhirnya memeluk Islam. Di
antara mereka adalah Abdul Karim Dungker yang begitu tulus. Pada 18 Oktober dan
25 Nopember 1949, Hans Dunger dan E. Nowak juga masuk Islam dan berganti nama
menjadi Abdul Hamid dan Abdurrahim.
Kesulitan-kesulitan
Mubalig Islam
Pada awalnya, ada seorang Jerman yang baru memeluk
Islam (Ahmadiyah) bernama Kuhne. Dia mengupayakan agar mubalig Ahmadiyah bisa
menetap di Jerman. Namun karena adanya Perang Dunia (PD) Kedua, kondisinya
tidak memungkinkan. Tetapi dengan karunia Allah Ta’ala, akhirnya pemerintah
Jerman sendiri bisa menerima kehadiran mubalig Islam Ahmadiyah dan menetap di
Hamburg.
Pendirian Jemaat
Nurenberg
Pada saat itu, misi pertabligan Islam Ahmadiyah
hanya terdapat di kota Hamburg. Tetapi pada bulan September 1952, dibuka misi
pertabligan di Nurenberg, setelah ada tiga orang Jerman di kota tersebut yang
masuk Islam. Yaitu setelah Umar Hoffer, seorang asli Jerman masuk Islam dan
bertablig kepada teman-temannya.
Konferensi Kecil Misi
Ahmadiyah di Hamburg
Gairat pertabligan Islam di Jerman mulai meningkat.
Di Hamburg, misi pertabligan Ahmadiyah di Eropa mengadakan Jalsah (konferensi)
kecil, yang berlangsung dari 18-20 Nopember 1954. Pada acara tersebut turut
hadir anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah dari berbagai negara: Inggris,
Switzerland, Belanda, Spanyol.
Pemberitaan pers mengenai Jalsah (konferensi)
tersebut sangat gempita. Surat-surat kabar menampilkan foto dan menulis jalan
acaranya. Satu surat kabar Kristen menulis dengan tajuk headline sebagai
berikut:
Masalah Penting
Untuk Misi Kristen dan Gereja
Masalah ini hendaknya
diperhatikan oleh dunia Kristen, yaitu bahwa Islam yang pada penyebarannya yang
pertama kali mengusung kebangunan ruhani, kini melalui misi-misi pertabligannya
sedang mengupayakan agar Eropa menjadi Islam. Pada hari-hari ini sedang
dilangsungkan pertemuan misi Islam di Hamburg yang menunjukkan bahwa Islam
sedang tersebar menuju ke arah kemajuannya.
Jerman, Inggris, Belanda,
Switzerland dan Spanyol sedang mengalami pertabligan Islam, utamanya lewat
literatur. Di Jerman, medan keberhasilan dakwah Islam begitu luasnya. Hanya
dalam beberapa tahun, sudah didirikan mesjid di Hamburg. Melalui peristiwa ini,
mata kita hendaknya tidak boleh tidur. Atau, kita akan mengalami kerugian
setelah Islam menjadi kekuatan yang kokoh di dunia. Dalam keadaan yang
demikian, sangat sulit bagi dunia Kristen untuk menahannya.
Kegiatan Khalifah
Ahmadiyah II di Jerman
Sejarah misi pertabligan Islam Ahmadiyah pada
pertengahan tahun 1955 harus dicatat dengan tinta emas, karena pada waktu itu
Khalifah Ahmadiyah II, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad mengadakan
lawatan ke Jerman mulai 25–29 Juni 1955. Pada 26 Juni 1955, Dr. Taltak, seorang
orientalis Jerman bai’at masuk Islam di tangan beberkat Hadhrat Khalifatul
Masih II setelah dilakukan dialog. Hudhur kemudian memberinya nama Islam,
Zubair.
Lawatan Hudhur II di Jerman diliput secara luas oleh
surat kabar-surat kabar Jerman.
Pidato-pidato beliau yang sangat cemerlang, sangat menarik perhatian
orang-orang Jerman. Salah satu surat kabar, Hamburger Anzeiger dalam
terbitan 28 Juni 1955 menuliskan kecemerlangan pidato Khalifah Ahmadiyah II itu
dilengkapi dengan foto-foto, sebagai berikut:
Amirul Mukminin
di Balaikota Hamburg
Imam Jemaat Ahmadiyah,
Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad kemarin disambut oleh Menteri Von
Flesenne di Balaikota Hamburg. Dijelaskan, bahwa Khalifah Ahmadiyah yang
berusia 66 tahun tersebut telah berhasil membangun Rabwah, yang tadinya daerah
tak berharga menjadi sebuah kota yang terkenal (di Pakistan). Lembaga-lembaga
pendidikan dan sekolah misi sudah terdapat disana.
Islam adalah agama yang
damai dan toleran, dan ketaatan merupakan salah satu pokok yang diajarkan Islam
di seluruh dunia. Oleh sebab itu, Jemaat Ahmadiyah di Jerman, berupaya
mempersembahkan wajah Islam yang demikian. Ruh Islam sedang menghidupkan
Jerman. Jemaat Ahmadiyah Jerman telah memiliki markaz (pusat pertabligan Islam)
di Hamburg. Misi pertabligannya kini sudah terdapat di berbagai negara.
Selain surat kabar yang ada di Hamburg, sekitar 20
surat kabar di kota lain juga menuliskan kedatangan Khalifah Ahmadiyah II
tersebut dilengkapi foto-foto.
Pembangunan dan Peresmian
Mesjid Hamburg
Selama berada di Hamburg, Khalifah Ahmadiyah II
segera memberikan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan pembangunan mesjid-mesjid
lainnya. Tak sampai dua tahun sejak itu, tepatnya pada 22 Februari 1957 di
Hamburg telah dilaksanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan mesjid dan
peresmiannya dilakukan oleh Sir Muhammad Zafrullah Khan pada 22 Juni 1957.
Peresmian didahului oleh tilawat Al-Qur’an yang
dibacakan oleh Hafidz Qudratullah, mubalig Ahmadiyah di Belanda. Kemudian
Choudry Abdul Latif sebagai kepala misi pertabligan di Jerman menyampaikan
sekelumit maksud dan tujuan didirikannya mesjid. Selanjutkanya, Mirza Mubarak
Ahmad dalam kapasitasnya sebagai wakil dari Hadhrat Khalifatul Masih II,
membacakan amanat Khalifah dalam bahasa Inggris, yang terjemahannya sebagai
berikut:
Saudara-saudara anggota
Jemaat Ahmadiyah Jerman!
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi
wabarakaatuh,
Untuk berpartisipasi dalam
pembukaan mesjid di Hamburg, saya telah mengutus putra saya, Mirza Mubarak
Ahmad. Untuk peresmiaannya, insya Allah, akan dilakukan oleh saudara kita, Sir
Muhammad Zafrullah Khan. Sedangkan Mirza Mubarak Ahmad hanyalah sebagai tanda
ikatan atas ketidakhadiran saya.
Keinginan saya adalah,
semoga Allah Ta’ala menolong saudara-saudara sehingga pembukaan mesjid lainnya
pun dapat dilakukan di kota-kota Jerman lainnya. Harapan saya, setelah
dipertemukan dengan Maulana Abdul Latif, Mirza Mubarak Ahmad dapat membuat
skema untuk pembangunan mesjid-mesjid tersebut sehingga sesegera mungkin
pembangunannya dapat dimulai.
Tuhan berkehendak agar
orang-orang Jerman segera menerima Islam dan melalui kekuatan sendiri mereka dapat
menjadi pemimpin jasmani dan rohani bagi Eropa. Pada akhirnya, akan ada seorang
Jerman yang setelah memeluk Islam kemudian ia mewakafkan diri untuk pertabligan
Islam di Amerika.
Namun, kita tidak cukup
hanya dengan seorang saja, ribuan bahkan jutaan mubalig Islam akan dilahirkan
dari orang-orang Jerman. Sehingga, jutaan orang-orang Jerman lainnya akan
menerima Islam dan melaksanakan syiar Islam serta di tangan bangsa Jerman-lah
kepemimpinan Eropa akan terletak. Allahumma amin!
Yang amat lemah,
Mirza Mahmud Ahmad
Khalifatul Masih II
Mesjid Hamburg dan Pers
Kristen
Sejak didirikannya mesjid pertama oleh Jemaat
Ahmadiyah di Hamburg, misi pertabligan Islam mulai terprogram dengan rapi.
Sehingga pers Kristen Jerman menyiratkan ketakutan terhadap perkembangan ini.
Beberapa surat kabar menuliskan pandangannya tersebut:
1.
Surat kabar Lan des
Zeitung dalam edisi terbitannya tanggal 11 Juni 1958 menuliskan suatu headline
berjudul “Alarm Berbahaya dari Mesjid Hamburg”. Isinya, bahwa sekarang Islam
sedang mengalami kehidupan baru dan salah satu sektenya telah membangun sebuah
mesjid pertama di kota Hamburg;
2.
Surat kabar Wurzburg
menulis: “Pembangunan mesjid di Hamburg menandakan bahwa dunia Kristen telah
mengalami kemalasan bertablig dan terhadap agamanya sendiri sudah tidak peduli
dan acuh, apalagi memiliki tanggung jawab akan penyebarannya.”
3.
Surat kabar keagamaan The
Church mengungkapkan pemikirannya: “Perang Suci antara Islam dan Kristen
terjadi di Hamburg. Yaitu, betapa sekarang kita menyadari bahwa seiring dengan
pendirian mesjid di Hamburg, pertempuran berbahaya sedang terjadi. Abdul Latif,
Mubalig Jemaat Ahmadiyah telah datang ke Jerman pada 1949 dan hanya delapan
tahun kemudian, tepatnya pada 1957, telah berhasil mendirikan mesjid yang
menunjukkan keberhasilan misi pertabligannya.”
4.
Surat kabar Bilefeld
menuliskan headline berjudul: “Mesjid-mesjid di Negara Kita” sebagai
berikut: “Rasa heran saya tidak berkesudahan manakala di kota saya sendiri,
yaitu Hamburg, dikabarkan telah didirikan sebuah mesjid. Penelitian lebih
lanjut mengungkapkan, bahwa ternyata Jemaat Ahmadiyah bukan saja telah
mendirikan mesjid di kota Hamburg melainkan juga akan mendirikan mesjid di
kota-kota lainnya di Jerman.”
Penerbitan Terjemah
Al-Qur’an ke Dalam Bahasa Jerman
Mulai tahun 1954 selain berupaya menterjemahkan
Al-Qur’an ke dalam bahasa Swiss, misi Ahmadiyah Switzerland juga
menterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman. Terjemahan tersebut telah memberikan
dampak yang mendalam dalam dunia akademis di negeri Jerman. Pers Jerman juga
telah mengulasnya secara panjang lebar dalam surat-surat kabar dan majalah
mereka. Kedua terjemahan tersebut telah diterbitkan dan disebarluaskan (secara
gratis).”
Para Mubalig Ahmadiyah
yang Pernah Berdakwah di Jerman
Berikut ini adalah daftar nama para mubalig
Ahmadiyah yang pernah berdakwah di pusat misi pertabligan di Jerman:
1.
Mukarram Choudry Abdul
Latif (20 Januari 1949 – 24 Agustus 1951, 12 Oktober 1951 – 14 Desember 1952;
25 Januari 1963 – akhir 1969);
2.
Haji Mirza Lutfurrahman (4
April 1959 – 2 Desember 1960, setelah itu beliau ditugaskan ke Togo, Afrika
Barat);
3.
Mukarram Mas’ud Ahmad
Jehlumy (2 Maret 1961 – 23 Mei 1964; 27 Januari 1968 – 1972);
4.
Mukarram Haji Maulana
Mahmud Ahmad Cheema, H.A., Syahid (21 Juli 1962 – 1966, tambahan penterjemah:
setelah itu dikirim ke Afrika, lalu ke Indonesia 1969 – 2001);
5.
Mukarram Fazal Ilahi
Anwary, B.Sc. (7 Juni 1964 – 28 Desember 1967; 19 Oktober 1972);
6.
Mukarram Maulana Basyir
Ahmad Syams (12 September 1966 – 4 Desember 1969);
7.
Mukarram Qadhi Mu’inuddin
Ahmad (19 Juli 1969 – sampai buku ini ditulis).
Pembangunan dan Peresmian
Mesjid Frankfurt
Belum genap dua tahun sejak peresmian mesjid
Hamburg, dengan karunia Allah Ta’ala misi pertabligan Islam melelaui Ahmadiyah
di Jerman telah mendirikan mesjid lain yang peresmiannya dilakukan oleh Sir
Muhammad Zafrullah Khan, yaitu seorang anggota Ahmadiyah yang saat itu menjadi
Hakim pada Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Selain itu korps
mubalig Ahmadiyah di Eropa juga hadir, di antaranya Mukarram Hafidz Qudratullah,
Mukarram Syeikh Nasir Ahmad, Mukarram Abdul Hakim Akmal, Haji Mirza
Lutfurrahman, Mukarram Abdusy Syukur Kanre, Mukarram Khan Basyir Ahmad Rafiq
dan Mukarram Kamal Yusuf.
Peresmian mesjid Frankfurt dilaksanakan pada pukul
03:00 dipimpin langsung oleh Sir Choudry Muhammad Zafrullah Khan. Pembacaan
Al-Qur’an dilakukan oleh Hafidz Qudratullah. Melalui pidatonya, mubalig Jerman
menyampaikan ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah ikut
berpartisipasi dalam kegiatan yang beberkat tersebut. Kepala Wilayah Frankfurt, Mayor Albrecht
berharap agar mesjid itu bisa menjadi tempat sumber perdamaian dan toleransi.
Terakhir, dengan menggunakan bahasa Inggris, Sir Muhammad Zafrullah Khan
menyampaikan pidato mengenai pesan universal Islam dengan sangat menarik.
Pidato tersebut diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Jerman oleh Abdusy
Syukur Kanze, orang Jerman asli yang telah masuk Islam dan kemudian menjadi
mubalig Ahmadiyah.
Setelah itu Muhammad Zafrullah Khan memimpin doa dan
membuka tulisan di pintu mesjid sebagai tanda peresmian. Acara dilanjutkan
dengan shalat Dhuhur jamak Ashar. Pada saat peresmian itu, mubalig Jerman
diwawancara oleh media selama dua jam lamanya. Sebelum diwawancara, Hafidz
Qudratullah juga direkam suaranya ketika mengumandangkan adzan. Itulah adzan
pertama yang dikumandangkan di kota Frankfurt. Dalam wawancara tersebut mubalig
Jerman menerangkan tentang pentingnya mesjid dan menghilangkan kesalahfahaman
mengenai Islam. Begitu juga mengenai tujuan dari tablig yang dilakukan oleh Ahmadiyah.
Televisi Swiss kemudian menayangkan peresmian mesjid ini.
Sekitar 40 surat kabar juga kemudian menampilkan
peresmian mesjid Frankfurt dengan foto pemandangan mesjid yang berbeda-beda.
Kemudian dijelaskan juga upaya pertabligan yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah
dalam penjelasan yang sangat indah. Contohnya, surat kabar Mannheim Morgen
menulis pada 15 September 1959 dengan tajuk “Islam Sedang Berkembang di Eropa”
sebagai berikut:
“Dahulu penyebaran agama Muhammad dilakukan melalui
pedang dan tombak hingga ke Perancis Utara. Namun kini, penyebarannya dilakukan
melalui kekuatan senjata rohani. Banyak sekali orang Islam yang datang ke Eropa
sambil berupaya menyebarkan agamanya. Di antara berbagai kelompok Islam yang
melakukan tablig paling aktif adalah kelompok yang didirikan oleh Mirza Ghulam
Ahmad Qadiani pada 1890 di Punjab. Di berbagai tempat di Eropa, mereka telah
berhasil mendirikan mesjid-mesjid.”
---------ooo000ooo---------
Diterjemahkan dari buku:
TAARIKH AHMADIYYAH Jilid Panjam, Sayyidina Hadhrat Khalifatul Masih Al-Tsani Al-Mushlih Al-Mau’ud atba ke Sawanih Hayaat Qabal az Khilaafat aor Khilafat-e-Tsaaniyyah ke ‘Azhim al-Syaan Tablighy, Tarbiyyati aor ‘Ilmy Kaarhaa-e-Numaayaa aor Zarrei Islamy Khidmaat (1914-1927 M), hlm. 161 – 167
Bahasa:
Urdu (Pakistan)
Penyusun:
Mln. Dost Muhammad, Syahid, H.A.
Diterbitkan oleh:
Idaarat al-Mushannifiyn
Rabwah, Zhila’ Jhang, Punjab
PAKISTAN
Tanggal Diterbitkan:
5 Desember 1964
Diterjemahkan oleh:
Rakeeman R.A.M. Jumaan
Dosen Ilmu Perbandingan Agama, Bahasa Ibrani & Sejarah
Jamiah Ahmadiyah Indonesia (JAMAI)
Bogor, Jawa Barat
<<Terjemahan sementara, belum diedit!!!>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar