CINCHONA OFFICINALIS
(Peruvian Bark --- China)
Profil obat
Nama latin : China
officinalis/ cinchona succirubra
Nama suku : Rubiaceae
Nama lain : Peruvian
bark, yellow cinchona, calisava bark
Bagian yang digunakan :
kulit batang yang kering.
Sejarah dan
kerja obat
Berasal dari Peruvian Bark yang dibawa dari Amerika
Selatan ke Eropa oleh Jesuits pada abad ke 17. Batang pohon ini sangat
bersejarah untuk perkembangan Homeopati, mengingat ekstrak quinine ini
merupakan subjek penelitian dan proving Hahnemann yang pertama pada
tahun 1790. Ia mencoba obat tersebut
pada dirinya sendiri dan menemukan penyebab timbulnya gejala seperti malaria,
yang kemudian digunakan untuk mengobatinya. Ia mengembangkan China
sebagai obat pilihan untuk gejala malaria dan kelelahan akibat kehilangan
cairan berlebihan terutama pada penyakit-penyakit lama dan menahun.
Gejala utama (kunci)
Gejala kelelahan akibat kehilangan cairan yang
berlebihan. Imajinasi berlebihan, sangat menginginkan alkohol dan makanan yang
manis dan pedas.
Gejala dan Penggunaan
Remedi ini berguna untuk orang
yang menderita neuralgia
(nyeri saraf) dan anemia akibat penyakit malaria, yang
sering menimbulkan perdarahan. Penderita tersebut semakin lama semakin kurus
dan lemah (kaheksia).
Kelemahan akibat pengeluaran
cairan yang melelahkan, kehilangan cairan vital, disertai dengan nyeri saraf adalah
keadaan-keadaan yang membutuhkan obat
ini. Timbul nyeri seperti tersayat, terkoyak. Pasien menjadi sangat sensitif
terhadap sentuhan, gerakan dan udara dingin, hingga sering menggigil.
Pasien China mudah berdarah, perdarahan dari berbagai
lubang di tubuh, dari hidung, tenggorok, rahim. Disusul dengan keluhan-keluhan
akibat perdarahan tersebut, yaitu cenderung terjadi peradangan dan kongesti. Peradangan yang terjadi
ini umumnya cepat berkembang dan cukup hebat, dapat segera menjadi gangren (jaringan mati yang
membusuk). Edema, (pembengkakan karena penumpukan cairan di jaringan)
merupakan gejala yang khas pada pasien China. Edema ini timbul setelah
perdarahan. Pada keadaan anemi setelah kehilangan darah, timbul gejala edema anasarka (bengkak akibat cairan terkumpul di jaringan bawah kulit dan rongga badan
yang terjadi di seluruh tubuh)
Periodisitas adalah yang jelas terlihat. Yaitu nyeri berulang pada waktu yang sama
setiap hari. Demam kambuh secara teratur setiap beberapa hari sekali seperti
pada malaria. Nyeri kolik (nyeri melilit yang hilang timbul) yang selalu kambuh
setiap malam sekitar jam 12. Perdarahan hidung yang kambuh secara teratur pada
saat tertentu. Diare setiap malam. Perburukan gejala yang timbul diwaktu malam dan setiap usai makan,
merupakan bagian sifat periodik ini.
Sensitif terhadap
aliran angin, udara dingin. Jarang
diindikasikan pada tahap-tahap awal penyakit akut. Gout (peradangan sendi akibat endapan
asam urat) kronis. Nyeri pasca operasi,
yang perbaikannya lama.
Pikiran.--- Apatis, indiferen (tidak pedulian), tidak penurut, pendiam, sangat
sedih. Ide-ide berdesakan dalam pikiran;
menghalangi tidur. Watak cenderung
melukai perasaan orang lain. Menangis
mendadak dan mengguling ke kiri dan ke kanan.
Kepala.--- Rasa seperti tengkorak mau meledak.
Sensasi seperti otak bergoyang kian kemari, dan membentur tengkorak,
hingga terasa sangat sakit. [Sulph.; Sulph. ac.] Denyut kuat di kepala dan karotis
(pembuluh arteri besar di leher). Nyeri
kepala spasmodik (hilang timbul) di vertex (puncak kepala), dengan nyeri ikutan, terasa seperti memar di kedua sisi
kepala. Wajah kemerah-merahan sesudah
perdarahan, atau kegiatan seksual yang berlebihan, atau kehilangan cairan
vital. Terbebas dari tekanan dan ruangan
hangat. Kulit kepala sensitif; memburuk
bila menyisir rambut. Nyeri-nyeri terasa
memburuk di udara terbuka, dari pelipis ke pelipis. Memburuk terkena kontak, aliran udara, atau bila melangkah. Pusing saat berjalan.
Mata.--- Warna biru di seputar mata.
Mata kosong. Sclera (sklera = bagian putih bola mata) kekuning-kuningan. Bintik-bintik hitam, ilusi terang menyilaukan
mata; rabun senja pada retina yang
anemis. Bintik-bintik di depan mata. Photophobia (Fotofobia = takut cahaya). Distorsi
(penyimpangan dari bentuk normal) bola mata.
Nyeri saraf cilliar yang intermiten (hilang-timbul tidak
menentu). Tekanan pada mata. Amaurosis (kebutaan sebagian atau
menyeluruh); lacrimatio (lakrimasi = keluar air mata) seperti
mendidih.
Telinga.--- Suara berdenging di telinga.
Telinga luar sensitif terhadap sentuhan.
Pendengaran sensitif terhadap bising.
Daun telinga merah dan bengkak.
Hidung.--- Berlendir, mudah berdarah, terutama saat bangkit. Coryza (pilek), bersin-bersin, keluar
ingus cair. Bersin yang kering
dan keras. Keringat dingin seputar
hidung.
Wajah.--- Air muka pucat. Wajah bengkak;
merah.
Mulut.--- Sakit gigi; membaik dengan gigi-gigi saling menekan rapat satu sama
lain, dan dengan suhu hangat. Lidah
berlapis tebal, kotor; ujung seperti
terbakar, diikuti banyak keluar air liur.
Pengecapan pahit. Makanan terasa
terlalu asin.
Lambung.--- Teraba lunak, dingin.
Memuntahkan makanan yang tidak tercerna.
Pencernaan lambat. Rasa terhimpit
setelah makan. Rasa tidak enak sesudah
minum teh. Lapar tanpa selera
makan. Cita rasa datar. Nyeri tusuk yang bersilangan di daerah
hipogastrik (bagian perut antara pusar dengan kemaluan). Tidak cocok dengan susu. Lapar yang ingin makanan, namun tidak
tercerna. Flatulen (banyak gas
dalam perut); bersendawa mengeluarkan cairan pahit atau pun memuntahkan
makanan tidak membuatnya membaik; lebih parah bila makan buah. Cegukan. Kembung membaik dengan gerakan.
Perut.--- Banyak kolik flatulen (kolik saat buang angin); membaik dengan
meringkuk (‘bending double’). Abdomen timpani (perut berbunyi
nyaring saat diketuk-ketuk dengan ujung jari).
Rasa sakit di bagian perut di bawah iga kanan. Nyeri kolik batu empedu. [Triumfetta
semitriloba.] Hati dan limpa bengkak
dan membesar. Jaundice (jaundis =
kuning di kulit dan mata). Dingin di
dalam perut dan abdomen.
Buang air besar.--- Tidak tercerna, berbusa,
kuning; tidak nyeri; memburuk di
malam hari, sesudah makan, selama cuaca panas, akibat buah, susu,
bir. Sangat melemahkan, dengan banyak
gas dalam perut. Sulit bahkan saat tinja
lunak. [Alum.; Plat.]
Pria.--- Angan-angan yang menerbitkan gairah dan menyenangkan. Pengeluaran sperma (emisi) sering, diikuti
lemas yang sangat. Orchitis
(radang testis).
Wanita.--- Haid terlalu awal. Terdapat
bekuan darah warna gelap dan distensi
abdomen (abdomen menggembung).
Haid terlalu banyak disertai nyeri.
Birahi terlalu kuat. Leukorhea (lekore = keputihan) berdarah.
Seperti menggantikan cairan haid yang biasanya. Rasa penuh yang menyakitkan di pelvis.
Kehamilan--- Aborsi; perut menggembung, sering
bersendawa. Nyeri melahirkan akibat perdarahan, sensitif terhadap
sentuhan tangan. Perdarahan dari rahim, suara mendenging di telinga, mudah pingsan, dingin,
penglihatan hilang; pengeluaran
bekuan darah; spasme rahim (
kejang/ melilit), badan terasa kesemutan; ingin dikipasi. Lochia (lokia = cairan vagina selama
masa nifas) terlalu lama; nyeri ditarik pada ovarium (indung telur); keluar kotoran
berbau busuk dan bernanah.
Pernapasan.--- Influenza, dengan lemas. Tidak
dapat bernapas bila kepala tertunduk.
Napas lambat dan butuh tenaga; terus-menerus tercekik. Keluar banyak lendir yang mencekik; suara
berderak-derik di dalam dada; batuk pendek dan keras setiap habis makan. Perdarahan dari paru-paru. Dispnu, nyeri tajam di paru kiri. Asma; memburuk pada cuaca lembab.
Jantung.--- Denyut lemah dan cepat yang tidak teratur, diikuti dengan denyut yang
kuat dan keras. Serangan seperti tercekik,
sinkop (jatuh pingsan); anemi dan dropsy.
Punggung.--- Nyeri tajam dari ginjal ke ginjal, memburuk saat bergerak dan saat
malam hari. Nyeri setajam pisau di sekitar
punggung.
Anggota badan --- Nyeri di lengan dan tungkai dan di sendi-sendi, rasanya seperti
terkilir; memburuk, pada sentuhan
halus; tekanan yang keras meredakan.
Sensasi seperti ada seutas benang di seputar lengan atau tungkai. Persendian membengkak; sangat peka, dengan
rasa takut pada udara terbuka. Amat
lemah, gemetar, dengan perabaan tumpul.
Tidak suka gerak badan; peka terhadap sentuhan. Lemas pada sendi-sendi, memburuk, pada pagi
hari dan waktu duduk.
Kulit.--- Amat sangat peka pada sentuhan, namun tekanan yang keras justru
meredakan. Rasa dingin,
banyak keringat. Sebelah tangan sedingin
es, sebelah lagi hangat. Anasarka
(bengkak akibat cairan terkumpul di jaringan bawah kulit dan rongga badan yang
terjadi di seluruh tubuh). [Ars.;Apis.] Dermatitis (radang kulit), erysipelas
(infeksi kulit berupa kemerahan berbatas tegas yang menjalar dengan cepat,
disertai demam). Kelenjar-kelenjar mengeras; timbul ulkus-ulkus seperti ulkus
akibat infeksi TB di bawah kulit (‘scrofulous’) serta karies (rusaknya
lapisan enamel pada gigi atau tulang).
Tidur.--- Rasa mengantuk. Stupor (keadaan
mental yang tumpul, tidak aktif) yang terus-menerus dan tidak menyegarkan. Bangun awal.
Kesulitan tidur yang berlarut-larut.
Mimpi-mimpi yang buruk sekali, mencemaskan, disertai kesadaran yang
masih bingung saat bangun, sehingga mimpi itu tidak bisa dilupakan dan rasa
takut tetap ada. Mendengkur, terutama
pada anak-anak.
Demam.--- Intermiten, serangan demam kuat mendahuluinya; kambuh setiap
minggu. Setiap tahap demamnya terlihat
jelas. Rasa dingin umumnya sebelum
tengah hari, bermula dari dada; rasa haus sebelum rasa dingin itu,
sedikit-sedikit dan sering. Berkeringat
malam yang membuat lemah. Mudah
berkeringat oleh karena sedikit saja mengeluarkan tenaga, terutama pada satu
bagian-satu bagian. Hay fever
(reaksi alergi terhadap serbuk sari rumput-rumputan, berupa rasa gatal di
hidung,bersin, pilek dan keluar air mata), coryza yang berair, sakit di
pelipis.
Modalitas.--- Memburuk, pada sentuhan yang halus. Aliran udara; setiap dua hari sekali;
kehilangan cairan vital; di malam hari; sehabis makan; membungkuk. Membaik, meringkuk (‘bending double’);
ditekan keras; udara terbuka; rasa hangat.
Hubungan.--- Antidot: Arn.; Ars.; Nux.; Ipec.
Komplementer: Ferrum; Calc. phos.
Dosis.--- Tinktur, hingga potensi tiga puluh.
----------####----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar