Masalah Kedua
BAGAIMANA KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?
|
D
|
alam menjawab pertanyaan ini dapat diterangkan bahwa keadaan
sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keadaan baru, melainkan
keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas. Apa pun akidah yang dianut dan amal-amal
yang dikerjakan manusia – yang baik maupun yang buruk -- di alam dunia ini tersembunyi dalam
diri manusia, dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak
terselubung pada diri manusia. Akan tetapi di alam mendatang
tidaklah demikian keadaannya, melainkan segala keadaan itu secara terbuka
akan menampakkan wajahnya. Contohnya dapat ditemukan di alam mimpi. Yakni sesuatu yang
mempengaruhi tubuh manusia di alam mimpi akan nampak dalam bentuk
jasmani. Apabila seseorang akan
terserang demam tinggi maka acap kali di dalam mimpinya nampak api dan kobaran
api. Apabila ia terserang influenza ia melihat dirinya di dalam air.
Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah
melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit maka keadaan-keadaan itu akan
nampak di alam mimpi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah
untaian mimpi-mimpi setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah
Allah di alam ukhrawi. Sebab sebagaimana mimpi menimbulkan
suatu perubahan tersendiri dalam diri kita, lalu menampakkan unsur-unsur
rohani dalam bentuk jasmani, demikian jugalah yang akan berlaku di
alam jasmani. Dan pada hari itu amal
perbuatan kita dan buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita
bawa bersama dari alam ini, pada hari itu semuanya akan tampak nyata
di hadapan kita. Dan sebagaimana
manusia menyaksikan berbagai macam tamsil di alam mimpi -- dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil,
bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata -- demikian pula yang akan berlaku di alam
ukhrawi. Bahkan Allah Ta'ala melalui tamsil-tamsil akan
memperlihatkan kudrat-Nya yang baru. Dikarenakan itu merupakan kudrat
yang kamil (sempurna) maka jika pun kita tidak menyebutnya sebagai tamsil-tamsil
– dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kudrat Tuhan
– maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul. Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا
تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
Yakni, seorang manusia yang
beramal shalih tidak mengetahui nikmat-nikmat apa saja yang tersembunyi baginya
(As Sajdah, 18).
Jadi, Allah Ta'ala telah menyatakan bahwa nikmat-nikmat
itu tersembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat dunia.
Ini suatu kenyataan bahwa nikmat-nikmat dunia tidaklah tersembunyi dari kita. Kita mengetahui susu, delima,
anggur, dan lain-lain serta kita
senantiasa memakan benda-benda itu.
Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal
shalih adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan
benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga seperti
kumpulan benda-benda dunia berarti dia tidak memahami Quran Syarif satu
huruf pun.
Dalam penjelasan ayat ini – yang baru saja
saya sebutkan -- Junjungan kita Nabi Muhammad
saw. bersabda bahwa surga dan nikmat-nikmatnya merupakan
benda-benda yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh
telinga, dan tidak pula pernah terlintas
dalam ahti. Padahal nikmat-nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita
dengan dengan telinga serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas.
Jadi,
tatkala Allah dan Rasul-Nya menyatakan benda-benda itu sebagai benda-benda
asing maka kita jauh meninggalkan Quran
Syarif, jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada
ialah susu dunia ini juga, yang
diperah dari kerbau dan sapi-sapi,
seakan-akan di sana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu.
Di atas pohon-pohon bergelayutan
sarang-sarang lebah, dan malaikat-malaikat mencari lalu mengambil madu,
kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai.
Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai
dengan ajaran ini? Yaitu ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang
menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat
Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gambaran
makan-makan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan
dengan itu telah dijelaskan bahwa sumber
utama benda-benda tersebut adalah ruh dan kebenaran.
Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan bahwa di dalam ayat Quran
Syarif berikut ini didapati bahwa nikmat-nikmat yang akan dianugerahkan
di surga itu akan dikenali oleh
para ahli surga setelah melihatnya,
sebab nikmat-nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelumnya,
sebagaiamana Allah Ta'ala berfirman:
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا
هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا
Yakni, sampaikanlah kabar
suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan yang tak mempunyai
cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai. Di akhirat, ketika
mereka akan mendapatkan buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon dalam
kehidupan di dunia ini juga, mereka akan
bekata, "Ini jugalah buah-buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu",
sebab mereka akan mendapatkan buah-buahan itu sama dengan buah-buahan
sebelumnya (Al-Baqarah, 26).
Anggapan bahwa yang dimaksud buah-buahan yang dahulu itu merupakan nikmat-nikmat
jasmani di dunia adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan
arti dan logika ayat sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini
Allah Ta'ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih
mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri, yang pohon-pohonnya
adalah iman dan sungai-sungainya adalah amal shalih.
Buah-buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa
mendatang, dan buah-buah itu akan lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah
memakan buah-buah itu di dunia, karena itu mereka akan mengenali
buah-buah tersebut di alam nanti serta mereka akan berkata, "Tampaknya
ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya", dan mereka akan
menemukan buah-buah tersebut sama
seperti makanan mereka dahulu.
Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas
bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih-sayang
Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti
dalam bentuk jasmani. Dan
dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih-sayang
serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat
kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok
tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di
dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.
Ringkasnya, di sini makanan-makanan
jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul
pemikiran -- bahwa sejak di dunia orang-orang
arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka
bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat-nikmat
yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar,
dan tidak pernah terlintas di dalam hati seseorang,
sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut? -- maka jawabannya adalah bahwa pertentangan
itu baru akan timbul jika yang dimaksud didalam ayat ini adalah nikmat-nikmat
dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan bukan nikmat-nikmat dunia. Apa pun
yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu
pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah
diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.
Hendaknya diingat, bahwa orang yang
mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia
-- itulah sebabnya dunia membencinya
– melainkan dia berasal dari langit oleh karena itu ia menerima nikmat-nikmat
samawi (langit/rohani). Jadi, memang benar bahwa nikmat-nikmat tersebut
tersembunyi dari telinga, hati dan mata dunia. Akan tetapi
seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut
(kematian) dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara ruhani
-- yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi
akan dinikmati secara jasmani -- maka
saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk
jasmani.
Akan tetapi ini pun benar, bahwa dia dari segi mata dan telinga
dunia akan dianggap tidak tahu menahu perihal nikmat tersebut.
Dikarenakan dia dahulu berada di dunia – namun bukan dari kalangan dunia
– oleh karena itu dia pun akan memberikan kesaksian bahwa nikmat-nikmat ukhrawi tersebut
bukanlah nikmat-nikmat duniawi. Ketika di dunia matanya tidak
pernah melihat nikmat semacam itu, tidak pula telinganya pernah
mendengar nikmat demikian dan
tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi di sisi kehidupan kedua
dia telah menyaksikan contoh-contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal
dari dunia, melainkan yang merupakan suatu kabar dari alam yang akan datang. Dia mempunyai hubungan
serta kaitan dengan alam itu, sedangkan dengan dunia sedikit pun
dia tidak mempunyai kaitan.
Tiga Makrifat Quran Syarif Mengenai Alam Akhirat
Kini, sebagai kaidah umum hendaknya
diingat juga bahwa kondisi-kondisi yang tampil sesudah kematian telah dibagi oleh Quran Syarif ke dalam tiga macam. Dan ketiga makrifat Quran Syarif mengenai alam akhirat itu
kami uraian di sini secara
terpisah-pisah.
Rahasia Makrifat Pertama
Rahasia makrifat pertama ialah, Quran Syarif berulang-ulang mengatakan bahwa alam
akhirat bukanlah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya
merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga,
sebagaimana Dia berfirman:
وَكُلَّ
إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا
Yakni, di dunia ini juga Kami telah mengikat dampak amal
perbuatan setiap orang pada lehernya,
dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan
(jelmakan/munculkan) pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam
bentuk sebuah daftar amal perbuatan yang
terbuka (Bani Israil,14). Di
dalam ayat ini terdapat kata thaairun,
maka hendaklah jelas bahwa sebenarnya thaairun
itu berarti burung, lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal
perbuatan. Sebab setiap amal – yang baik maupun yang buruk – setelah
dilakukan akan terbang seperti burung. Jerih-payahnya
ataupun kelezatan amal itu akan sirna sedangkan kekotoran
atau pun kebaikannya akan membekas di hati.
Ini merupakan kaidah Quran Syarif bahwa setiap amal terus membekas
jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimana pun bentuk amal
perbuatan manusia sesuai dengan itu Allah Ta'ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya.
Dan perbuatan Ilahi itu tidak
akan membiarkan dosa atau kebaikan tersebut menjadi sia-sia, melainkan jejak-jejaknya
akan dituliskan pada hati, wajah, mata, tangan, kaki. Inilah yang secara
terselubung merupakan daftar suatu amal perbuatan, yang akan
zahir secara terbuka pada kehidupan akhirat.
Kemudian berkenaan dengan para penghuni
surga di tempat lain Dia berfirman:
يَوْمَ
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَبِأَيْمَانِهِمْ
Yakni, pada hari itu pun
cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung akan
tampak berlari-lari secara terbuka di depan dan di kanan mereka (Al-Hadiid,
13). Di tempat lain Dia berfirman
kepada orang-orang yang berbuat buruk:
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ()حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ()كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ()ثُمَّ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ()كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ
الْيَقِينِ()لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ()ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ
الْيَقِينِ()ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Yakni, keinginan dan ketamakan berlebih-lebihan akan dunia
telah merintangi kamu mencari akhirat hingga kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah lekatkan hati kamu kepada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa
melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa
segera kamu akan mengetahui melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh
ilmu yang pasti niscaya di
dunia ini juga kamu akan melihat neraka, kemudian di alam barzakh
kamu akan melihat dengan
penglihatan-penglihatan yang pasti, lalu kamu akan diminta pertanggungjawaban
sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk penuh akan menimpa diri kamu. Dam bukan hanya
melalui ucapan saja melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh
pengetahuan tentang neraka (At-Takatsuur, 2-9).
Tiga Macam Ilmu
Di
dalam ayat-ayat ini Allah Ta'ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi
orang-orang jahat di dunia ini ada kehidupan neraka terselubung.
Dan jika mereka memperhatikannya mereka
akan melihat nerakanya masing-masing di dunia ini juga. Dan di sini Allah Ta'ala membagi ilmu dalam
tiga tingkat, yakni: 'ilmul-yaqin, 'ainul yaqin dan
haqqul-yaqin.
Agar umum memahami berikut ini adalah
contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat
dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat maka pikirannya
menghubungkan kenyataan tersebut kepada api dan ia yakin bahwa di
sana ada api,
karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Di mana ada asap di sana pasti ada api. Ringkasnya, pengetahuan yang demikian dinamakan 'ilmul-yaqin.
Kemudian ketika dilihatnya nyala api maka pengetahuan demikian
dinamakan 'ainul-yaqin, sedangkan
jika ia sendiri masuk ke dalam api, pengetahuan
demikian dinamakan haqqul-yaqin.
Jadi, Allah Ta'ala berfirman bahwa 'ilmul-yaqin
tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga, kemudian di alam
barzakh akan diperoleh 'ainul-yaqin, dan pada Hari Kebangkitan
pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna yaitu haqqul-yaqin.
Tiga Alam
Di
sini hendaknya jelas bahwa menurut Quran
Syarif terbukti ada tiga macam alam:
(1) Alam pertama ialah dunia yang dinamakan alam
kasab (alam usaha) dan nisya ula
(alam kejadian pertama).
Di
dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di alam kebangkitan akan ada
kemajuan-kemajuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah
merupakan karunia Tuhan. Di sini tidak
ada campur-tangan upaya manusia.
(2) Alam kedua dinamakan barzakh.
Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu
yang ada di tengah-tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode ini ada di
antara alam kebangkitan dan alam kejadian pertama (nisya ula)
untuk itulah dinamakan barzakh. Akan tetapi kata itu sejak awal dan
sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan. Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut
terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.
Kami telah membuktikan didalam buku Minan-ur-Rahmaan
bahwa perkataan-perkataan bahasa Arab adalah keluar dari mulut Tuhan, dan
inilah satu-satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci,
bahasa yang sudah ada sejak awal, sumber
segala ilmu pengetahuan, induk segala bahasa, dan merupakan singgasana awal dan terakhir
bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu
Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan
Kalam Tuhan yang sejak dari awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia
telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan
dikatakan sebagai singgasana terakhir
bagi wahyu Ilahi, karena Kitab
terakhir Allah Ta'ala -- yaitu Quran Syarif -- telah diturunkan dalam bahasa Arab.
Jadi, kata barzakh berasal dari
bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata زَخَّ (zakhkha) danبَرَّ (barra), yang
artinya "jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam
suatu kondisi yang terselubung".
Keadaan barzakh adalah suatu
keadaan ketika wujud manusia yang fana
(tidak kekal) ini menjadi terurai, ruh
terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang nampak yaitu tubuh
dimasukkan ke dalam suatu lubang sedangkan ruh dimasukkan ke
dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap dari kata zakhkhaa. Sebab ruh
tidak dapat melakukan perbuatan baik mau pun buruk,
seperti yang biasa dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh.
Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh
bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak
maka daya ingat menjadi hilang, sedangkan
akibat cedera pada bagian lainnya kemampuan berpikir menjadi hilang dan
segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila
di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau
penggumpalan zat lain -- sehingga timbul penyempitan yang bersifat sementara
atau permanent -- maka seketika itu juga
dapat mengakibatkan pingsan, ayan, atau serangan lumpuh.
Jadi, pengalaman kita sejak dulu
mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita tanpa adanya hubungan dengan tubuh
sama sekali tidak akan berarti. Oleh karena itu amat keliru jika kita
beranggapan bahwa pada waktu tertentu ruh
kita secara mandiri – tanpa disertai tubuh – dapat memperoleh kebahagiaan.
Jika mempercayainya sebagai suatu cerita, silakan, tetapi secara akal tidak ada
dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh – yang tidak
berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh -- bagaimana mungkin pada hari itu akan
berada dalam keadaan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh
diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari-hari mengajarkan kepada kita
bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala
seseorang di antara kita menjadi tua-renta maka beriringan dengan itu ruhnya
menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan
oleh usia lanjut, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لِكَيْلَا
يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Yakni, sesudah manusia menjadi tua sampailah ia
kepada keadaan ia lupa sama sekali kepada
ilmu yang pernah diperolehnya (Al Hajj, 6).
Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi
dalil atas kenyataan bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna
sama sekali. Kemudian pemikiran ini pun
menarik perhatian manusia kepada hakikat, bahwa seandainya ruh tanpa tubuh merupakan
sesuatu yang bermakna maka perbuatan
Tuhan -- tanpa alasan -- mengaitkan
(menghubungkan) ruh dengan tubuh yang fana (tidak kekal) ini
menjadi sia-sia. Dan patut pula
direnungkan bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan-kemajuan
tak terbatas. Jadi kalau dalam keadaan hidup yang singkat ini saja kemajuan-kemajuan
tidak dapat dicapai ruh tanpa keikut-sertaan tubuh, maka
bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas
dan tanpa tepi itu mampu dicapai ruh tanpa keikut-sertaan tubuh?
Jadi, dari semua keterangan ini terbukti
bahwa -- menurut prinsip Islam -- untuk terlaksananya pekerjaan-pekerjaan ruh
secara sempurna, keikutsertaan tubuh pada ruh adalah kekal.
Walaupun tubuh yang fana (tidak kekal) ini sesudah mati akan terpisah
dari ruh, tetapi di alam barzakh tiap-tiap ruh akan mendapat suatu tubuh
sementara guna mencicipi cita-rasa buah amal perbuatannya. Tubuh
tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini melainkan ia dipersiapkan dari suatu nur (cahaya), atau
kebalikannya, dari kegelapan, sesuai dengan keadaan amal perbuatan.
Seolah-olah di alam barzakh itu keadaan-keadaan amal manusia
menjalankan peran sebagai tubuh. Demikianlah berkali-kali
disebutkan dalam Kalam Ilahi bahwa sebagian dinyatakan tubuh cahaya dan sebagian lagi
dinyatakan tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan
atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendati pun rahasia ini amat mendalam
akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.
Seorang insan kamil (manusia
sempurna) di dalam kehidupan di dunia ini juga dapat memperolah suatu tubuh
cahaya di samping tubuh kasarnya. Dan
di dalam kasyaf banyak terdapat
contoh-contohnya. Meski pun sulit memberikan pemahaman kepada orang-orang yang akalnya
terbatas pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang pernah mengalami sebagian alam kasyaf
mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan dari amal perbuatan, bahkan mereka akan
merasakan kelezatan dalam masalah
ini.
Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan
kondisi amal perbuatan itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik
dan buruk alam barzakh.
Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acap kali secara kasyaf – dalam
keadaan sadar -- saya mendapat
kesempatan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia, dan saya
melihat tubuh beberapa orang
fasiq (durhaka) serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan-akan
tubuh mereka itu terbuat dari asap.
Ringkasnya, saya secdara pribadi cukup mengenal kawasan
ini, dan dengan tegas saya katakan – seperti yang telah difirmankan oleh Allah
Ta'ala -- pasti akan demikian, bahwa sesudah mati setiap orang akan mendapat satu tubuh, baik berupa cahaya
maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat
yang sangat halus ini hanya dengan perantaraan akal belaka,
melainkan hendaknya dimaklumi bahwa sebagaimana mata tidak dapat menyatakan
cita-rasa makanan manis, dan tidak pula lidah
dapat melihat sesuatu, demikian pulalah ilmu-ilmu
ukhrawi – yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci – tidak
akan dapat diraih hanya dengan melalui perantaraan akal belaka. Allah
Ta'ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk
mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap
sesuatu melalui sarananya masing-masing maka barulah akan kalian
dapatkan.
Satu hal lagi yang patut diingat,
bahwa Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya
orang-orang yang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan
menyatakan orang-orang yang beramal
shalih sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah
melupakan Allah Ta'ala, sarana-sarana kehidupan mereka -- yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan,
minum, dan syahwat -- telah terputus
dan mereka tidak memperoleh makanan rohani sedikitpun. Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati,
dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab belaka. Ke arah rahasia
inilah Allah Ta’ala mengisyaratkan sebagaimana Dia berfirman:
مَنْ
يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا
يَحْيَا
Yakni, barangsiapa yang
datang kepada Tuhan dalam keadaan
berdosa baginya disediakan tempat di dalam neraka jahannam, di dalamnya ia tidak akan mati dan
tidak pula akan hidup (Thaa Haa, 75). Akan tetapi orang-orang
yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada
beserta mereka.
(3) Alam Ketiga
dinamakan Alam Kebangkitan.
Sesudah Alam Barzakh kemudian
datanglah zaman yang dinamakan Alam Kebangkitan. Pada masa ini
setiap ruh – yang baik maupun yang buruk, yang shalih maupun yang fasiq
(durhaka) -- akan mendapat tubuh
nyata, dan Hari itu telah ditetapkan untuk penampakan-penampakan Tuhan
seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan
dengan sejelas-jelasnya, dan setiap orang akan mencapai titik akhir
ganjarannya.
Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan
berbuat demikian, sebab Dia memiliki
segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki-Nya dikerjakan-Nya, sebagaimana Dia Sendiri
berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا
خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ()وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا
وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ()قُلْ يُحْيِيهَا
الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ()..............أَوَلَيْسَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ
مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ()إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ
شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ()فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ
كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Yakni, apakah manusia tidak
melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air yang
dimasukkan ke dalam rahim kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai
membuat-buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya,
dan dia akan berkata, "Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala
tulang-belulang pun tidak selamat lagi
maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasaan
demikian sehingga dapat menghidupkannya?" Katakanlah kepada mereka, "Yang
akan menghidupkannya adalah Dia Yang telah menciptakannya pertama kali, dan Dia
mengetahui segala macam dan cara untuk
menghidupkan. Bagitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki
sesuatu Dia hanya mengatakan, "Jadilah! maka jadilah ia. Jadi, Maha Suci-lah
Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada Dia-lah kamu
sekalian akan kembali (Yaa Siin, 78-80 & 82-84).
Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil, Dia-lah Yang
telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti, apakah
Dia tidak mampu menghidupkan untuk kedua kalinya?
Di
sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang faham. Yaitu Alam Ketiga atau Alam Kebangkitan
akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama, maka dalam keadaan yang
demikian -- bagi setiap orang yang baik dan yang buruk -- Alam Barzakh merupakan suatu tempat
tahanan dan tampak sia-sia.
Jawabannya adalah, pengertian demikian sama
sekali keliru, yang timbul karena kekurang-fahaman belaka. Justru di dalam
Kitab Allah Ta'ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik dan buruk. Yang pertama adalah alam
barzakh, yang di dalamnya setiap orang akan memperoleh ganjarannya
secara terselubung. Orang-orang jahat setelah mati akan langsung masuk
ke dalam neraka, orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan
ketentraman di dalam surga.
Banyak terdapat ayat-ayat semacam itu di
dalam Quran Syarif bahwa segera
sesudah mati setiap insan akan melihat ganjaran atas amal perbuatannya,
sebagaimana Allah Ta'ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga dan
berfirman:
قِيلَ
ادْخُلِ الْجَنَّةَ
Yakni, telah dikatakan
kepadanya, "Masuklah engkau ke dalam surga" (Yaa Siin,
27). Dan demikian pula Dia mengabarkan
tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:
فَرَآهُ
فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ
Yakni, orang (ahli) surga
mempunyai teman orang (ahli) neraka.
ketika keduanya meninggal maka orang (ahli) surga merasa heran ke mana kawannya
pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah-tengah
neraka Jahannam (Ash-Shaaffaat, 56).
Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman
itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli surga masuk surga. Akan tetapi sesudah
itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh
hikmah agung Tuhan. Sebab
Dia telah menciptakan manusia agar
Dia dikenali melalui sifat penciptaan-Nya. Kemudian Dia
akan membinasakan semuanya supaya Dia dikenali
melalui sifat keperkasaan-Nya. Dan
kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan
sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia
dikenali melalui sifat kekuasaan-Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa
itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia-rahasia makrifat
tersebut di atas yang telah diuraikan.
Rahasia Makrifat
Kedua
Rahasia makrifat kedua mengenai Alam Ukhrawi yang telah dijelaskan Quran Syarif ialah, segala hal yang dahulu di
dunia ini bersifat ruhani, di sana, di alam ukhrawi -- baik di tingkat barzakh
maupun di tingkat Alam Kebangkitan --
akan ditampakkan dalam bentuk
jasmani. Berkenaan dengan ini, segala sesuatu yang telah difirmankan Allah
Ta'ala satu di antaranya adalah ayat berikut:
مَنْ كَانَ
فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى
Yakni, barangsiapa di dunia in buta, ia di alam
akhirat pun akan buta (Bani Israil, 73).
Maksud ayat ini adalah, kebutaan ruhani
di dunia ini akan disaksikan dan dirasakan secara jasmani di alam nanti.
Demikian pula dalam ayat lain Dia berfirman:
خُذُوهُ
فَغُلُّوهُ()ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ()ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ
ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ
Yakni, tangkaplah orang
(ahli) neraka itu, Kalungkanlah belenggu di lehernya, lalu bakarlah dia di
dalam api neraka, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh
puluh hasta (Al-Haaqqah, 31-33).
Hendaklah diketahui, di dalam ayat ini
telah dizahirkan bahwa azab rohani dunia akan tampil secara jasmani
di alam ukhrawi. Demikianlah, belenggu
leher merupakan hasrat-hasrat dunia
yang telah menundukkan kepala manusia ke tanah, ia akan tampil dalam bentuk zahir
(jasmani) di alam ukhrawi. Begitu pula rantai belenggu-belenggu
dunia akan nampak melilit kaki-kaki, dan api kobaran
hasrat-hasrat dunia akan nampak menyala-nyala secara zahir
(jasmani).
Di
alam kehidupan dunia, orang fasiq (durhaka) menyimpan suatu neraka
hawa-nafsu di dalam dirinya. Dan
dalam kegagalan-kegagalan dia merasakan kobaran-kobaran neraka itu. Jadi,
tatkala dia dijauhkan dari syahwat
(keinginan/hasrat) yang fana serta akan
diliputi keputus-asaan yang abadi maka
Allah Ta'ala akan menampakkan kepadanya hasrat-hasrat tersebut dalam bentuk api jasmani, sebagaimana
Dia berfirman:
وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ
Yakni, akan diletakkan suatu
pemisah (penghalang) antara mereka
dengan apa-apa mereka hasratkan (As-Saba', 55), dan inilah
akar azab.
Kemudian yang difirmankan bahwa,
"Ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta", hal
ini mengisyaratkan bahwa kadang-kadang seorang fasiq (durhaka) mencapai usia
70
tahun. Bahkan seringkali di dunia ini
ia mencapai usia begitu panjang, sehingga apabila dipotong masa
kanak-kanak dan masa tua-renda tetap saja ia memperoleh bagian umur
bersih dan murni yang layak untuk digunakan berfikir secara bijak dan bekerja
keras. Akan tetapi orang malang
itu menjalani 70 tahun kehidupannya tersebut dalam cengkraman-cengkraman
dunia, dan dia tidak berkeinginan
untuk lepas dari rantai itu.
Jadi, di dalam ayat ini Allah Ta'ala
berfirman bahwa masa 70 tahun yang telah dia lalui di dalam cengkraman-cengkraman
dunia itulah yang akan dinampakkan di Alam Kebangkitan sebagai rantai yang panjangnya 70 hasta. Tiap hasta merupakan satu
tahun. Di sini hendaknya diingat,
bahwa Allah Ta'ala dari diri-Nya sendiri tidak menimpakan suatu musibah
kepada manusia, melainkan Dia memaparkan di hadapan manusia pekerjaan buruk
manusia sendiri. Kemudian untuk menzahirkan sunnah-Nya ini Allah Ta'ala
di tempat lain berfirman:
انْطَلِقُوا
إِلَى ظِلٍّ ذِي ثَلَاثِ شُعَبٍ()لَا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِ
Yakni, hai orang-orang yang
berbuat jahat dan sesat! Pergilah kamu
ke tempat bernaung bercabang tiga yang tidak dapat memberi teduh dan tidak pula
dapat menyelamatkan dari panas (Al-Mursalaat, 31-32).
Di
dalam ayat ini yang dimaksud dengan tiga
cabang adalah sifat kebinatangan, kebuasan, dan kejalangan.
Orang-orang yang tidak mengubah ketiga
sifat ini ke dalam bentuk akhlak serta tidak menerapkannya pada
tempat yang semestinya, maka sifat-sifat itu pada Hari Kiamat
akan diwujudkan dalam bentuk tiga cabang yang berdiri tanpa daun-daun serta tidak dapat
melindungi dari terik, dan mereka akan hangus karena panasnya.
Demikian pula Allah Ta'ala untuk
menzahirkan sunnah-Nya ini telah berfirman mengenai orang-orang
(penghuni) surga:
يَوْمَ
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَبِأَيْمَانِهِمْ
Yakni, pada hari ini engkau melihat bahwa cahaya
orang-orang mukmin – yang selama di dunia terselubung – akan berlari-lari
secara nyata di hadapan dan di sisi kanan mereka (Al-Hadiid, 13).
Dan pada sebuah ayat lain Dia
berfirman:
يَوْمَ
تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
Yakni, pada hari itu beberapa
wajah akan menjadi hitam dan beberapa akan menjadi putih serta bersinar-sinar (Aali
'Imran, 107). Kemudian dalam
ayat lainnya lagi Dia berfirman:
مَثَلُ
الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ
ءَاسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ
خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى
Yakni, surga yang akan
dianugerahkan kepada orang-orang yang bertakwa adalah seibarat sebuah kebun, di
dalamnya terdapat sungai-sungai yang tidak pernah busuk, kemudian di dalamnya
terdapat sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah, lalu di dalamnya
terdapat sungai-sungai arak yang menimbulkan perasaan sangat riang tapi tidak
memabukkan. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai madu yang sangat murni
dan tidak mengandung bahan campuran (Muhammad, 16).
Di
sini dengan jelas telah difirmankan bahwa surga itu hendaknya dipahami
demikian secara kiasan, bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai
yang tak bertepi terbuat dari seluruh benda tersebut. Air kehidupan yang
diminum secara ruhaniah di dunia oleh orang arif, di dalam kebun (surga)
itu akan terwujud secara zahir (jasmani).
Dan sungai ruhani – yang secara
ruhaniah di dunia ini dia dibesarkan sebagai bayi yang menyusu –
itu akan nampak nyata di surga. Dan
arak kecintaan Ilahi – yang dengan itu ia secara ruhaniah di
dunia selalu mabuk -- kini di
dalam surga sungai-sungai arak itu akan kelihatan secara nyata. Dan madu manisnya iman – yang selama di dunia
secara ruhaniah masuk ke dalam
mulut orang arif -- di surga akan terasa
dan nampak bagai sungai-sungai yang nyata. Dan
masing-masing penghuni surga – dengan sungai-sungai dan kebun-kebun miliknya –
akan memperlihatkan secara terbuka taraf keadaan ruhaninya. dan Tuhan
pun pada hari itu akan tampil keluar bagi para penghuni
surga dari balik tirai.
Ringkasnya, keadaan-keadaan ruhani tidak akan tersembunyi lagi,
melainkan akan nampak secara jasmani.
Rahasia Makrifat Ketiga
Rahasia makrifat ketiga ialah,
kemajuan-kemajuan di Alam Ukhrawi tidak akan ada batasnya. Mengenai itu
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ
ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
Yakni, barangsiapa memiliki
cahaya iman di dunia, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan dan di sisi
kanan mereka pada Hari Kiamat. Mereka
akan senantiasa berkata, "Ya Tuhan,
sampaikanlah cahaya kami pada kesempurnaan, dan tariklah kami ke dalam maghfirat
(ampunan) engkau, Engkau berkuasa atas segala sesuatu" (At-Tahriim,
9).
Di
dalam ayat ini telah difirmankan bahwa mereka senantiasa akan mengatakan,
"Sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan", ini
mengisyaratkan kepada kemajuan-kemajuan yang tidak ada batasnya. Yakni mereka
akan memperoleh suatu kesempurnaan cahaya, kemudian akan nampak kesempurnaan
kedua. Setelah menyaksikan hal itu, mereka mendapatkan bahwa kesempurnaan
yang pertama tadi memiliki kekurangan. Jadi mereka akan memohon kesempurnaan
yang kedua. Dan apabila itu diperoleh
maka akan zahir pula atas mereka derajat kesempurnaan yang ketiga.
Kemudian setelah menyaksikan hal itu mereka akan menganggap kesempurnaan-kesempurnaan yang terdahulu
tidak berarti dan mereka berhasrat mencapai kesempurnaan yang lebih
tinggi. Inilah hasrat terhadap kemajuan-kemajuan yang dipahami dari kata
atmim (sempurnakanlah).
Ringkasnya, seperti itulah rangkaian kemajuan tak terbatas yang
akan berkesinambungan. Kemunduran tidak akan pernah terjadi, dan tidak pula
mereka akan pernah dikeluarkan dari dalam surga. Bahkan setiap hari mereka akan
maju ke depan dan tidak akan mundur ke belakang. Dan
yang telah difirmankan bahwa mereka akan senantiasa memohon pengampunan
bagi diri mereka di situ timbul pertanyaan: Kalau sudah masuk ke dalam surga
mengapa pula masih ada masalah maghfirat (pengampunan)? Tatkala
dosa-dosa telah diampuni apa pula perlunya istighfar?
Jawabannya adalah, arti maghfirat
yang sebenarnya ialah menekan dan
menutupi keadaan cacat dan kekurangan. Jadi para penghuni
surga akan berkeinginan untuk meraih kesempurnaan yang paling lengkap serta tenggelam di dalam lautan cahaya.
Setelah melihat keadaan yang kedua, mereka akan menemukan keadaan yang pertama
tidak sempurna maka mereka akan berkeinginan agar keadaan pertama itu ditekan
ke bawah. Kemudian setelah melihat kesempurnaan yang ketiga mereka berkeinginan untuk memperoleh maghfirat
bagi kesempurnaan yang kedua. yakni supaya keadaan yang tak sempurna itu
ditekan ke bawah dan diselubungi. Seperti itulah mereka akan
terus menginginkan maghfirat yang
tak terbatas.
Kata maghfirat dan istighfar
ini jugalah yang selalu dipaparkan oleh
berapa orang bodoh sebagai celaan terhadap Nabi kita saw.. Jadi, para pemerhati
di sini tentu telah memahami bahwa hasrat akan istighfar ini merupakan kebanggaan
manusia. Barangsiapa yang telah lahir
dari rahim wanita dan kemudian untuk selamanya tidak menjadikan istighfar sebagai adat
kebiasaannya maka dia merupakan seekor cacing, bukan manusia.
Buta, tidak melihat. Kotor, tidak suci.
Kini kesimpulannya adalah, berdasarkan Quran Syarif, pada hakikatnya neraka dan surga keduanya merupakan bayangan-bayangan
dan dampak-dampak kehidupan manusia. Bukanlah benda jasmani baru
yang datang dari suatu tempat lain. Memang benar bahwa keduanya itu akan
diperagakan secara jasmani, akan
tetapi merupakan bayangan dan dampak keadaan-keadaan ruhani
yang sebenarnya. Kami tidak mengakui suatu surga yang hanya secara jasmani
akan ditanami pohon-pohon di atas sebidang tanah. Dan
tidak pula kami mengakui adanya suatu neraka yang di dalamnya terdapat
batu-batu belerang, melainkan sesuai dengan akidah Islam, surga
dan neraka merupakan cerminan-cerminan amal perbuatan
yang dilakukan manusia di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar