Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN V



Masalah Kedua

BAGAIMANA KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?
    
D
alam menjawab pertanyaan  ini dapat diterangkan bahwa keadaan sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keadaan baru, melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas.  Apa pun akidah yang dianut dan amal-amal yang dikerjakan manusia – yang baik maupun yang buruk --  di alam dunia ini tersembunyi dalam diri manusia, dan obat penangkalnya atau pun racunnya memberi dampak terselubung pada diri manusia. Akan tetapi di alam mendatang tidaklah demikian keadaannya, melainkan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya. Contohnya dapat ditemukan di  alam mimpi. Yakni sesuatu yang mempengaruhi tubuh manusia di alam mimpi akan nampak dalam bentuk jasmani.  Apabila seseorang akan terserang demam tinggi maka acap kali di dalam mimpinya nampak api dan kobaran api. Apabila ia terserang influenza ia melihat dirinya di dalam air.
     Ringkasnya, sebagaimana tubuh telah melakukan persiapan terhadap penyakit-penyakit maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mimpi dalam bentuk tamsil. Jadi, dengan menelaah untaian mimpi-mimpi setiap manusia dapat memahami bahwa demikian jugalah sunnah Allah di alam ukhrawi. Sebab sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perubahan tersendiri dalam diri kita, lalu menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jasmani, demikian jugalah yang akan berlaku di alam jasmani. Dan pada hari itu amal perbuatan kita dan buah-buahnya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung akan kita bawa bersama  dari alam ini,  pada hari itu semuanya akan tampak nyata di hadapan kita. Dan sebagaimana manusia menyaksikan berbagai macam tamsil di alam mimpi --  dan tidak pernah menganggap itu sebagai tamsil, bahkan ia meyakininya sebagai benda-benda nyata --  demikian pula yang akan berlaku di alam ukhrawi. Bahkan Allah Ta'ala melalui tamsil-tamsil akan memperlihatkan kudrat-Nya yang baru.  Dikarenakan itu merupakan kudrat yang kamil (sempurna) maka jika pun kita tidak menyebutnya sebagai tamsil-tamsil – dan mengatakan hal itu sebagai suatu kelahiran baru kudrat Tuhan – maka ungkapan itu sangat benar, tepat, dan betul. Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
Yakni, seorang manusia yang beramal shalih tidak mengetahui nikmat-nikmat apa saja yang tersembunyi baginya (As Sajdah, 18).
    Jadi, Allah Ta'ala telah menyatakan bahwa nikmat-nikmat itu tersembunyi, yang tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat dunia. Ini suatu kenyataan bahwa nikmat-nikmat dunia tidaklah tersembunyi  dari kita. Kita mengetahui susu, delima, anggur,  dan lain-lain serta kita senantiasa memakan benda-benda itu.  Jadi, dari itu diketahui bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal shalih adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda ini. Jadi, barangsiapa yang menganggap bahwa surga seperti kumpulan benda-benda dunia berarti dia tidak memahami Quran Syarif satu huruf pun.
     Dalam penjelasan ayat ini – yang baru saja saya sebutkan --  Junjungan kita Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa surga dan nikmat-nikmatnya merupakan benda-benda yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga,  dan tidak pula pernah terlintas dalam ahti. Padahal nikmat-nikmat dunia kita saksikan dengan mata dan juga kita dengan dengan telinga serta di dalam hati pun nikmat-nikmat itu terlintas.
    Jadi,  tatkala Allah dan Rasul-Nya menyatakan benda-benda itu sebagai benda-benda asing maka kita jauh meninggalkan  Quran Syarif, jika kita beranggapan bahwa di dalam surga nanti yang akan ada ialah susu dunia ini juga,  yang diperah dari kerbau dan sapi-sapi,  seakan-akan di sana terdapat bergerombol-gerombol ternak penghasil susu. Di atas pohon-pohon bergelayutan sarang-sarang lebah, dan malaikat-malaikat mencari lalu mengambil madu, kemudian menuangkannya ke dalam sungai-sungai.
   Apakah pemikiran-pemikiran serupa itu sesuai dengan ajaran ini? Yaitu ajaran yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu mencahayai ruh serta melipat-gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makanan rohani. Walaupun seluruh gambaran makan-makan itu telah diungkapkan dalam bentuk jasmani, namun beriringan dengan itu telah dijelaskan  bahwa sumber utama benda-benda tersebut adalah ruh dan kebenaran. Janganlah ada yang beranggapan demikian dengan alasan  bahwa di dalam  ayat  Quran Syarif berikut ini didapati bahwa nikmat-nikmat yang akan dianugerahkan di surga   itu akan dikenali oleh para ahli surga setelah melihatnya,  sebab nikmat-nikmat itu telah mereka peroleh juga sebelumnya, sebagaiamana Allah Ta'ala berfirman:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا
Yakni, sampaikanlah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan yang tak mempunyai cela sedikit pun, bahwa mereka adalah pewaris surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di akhirat, ketika mereka akan mendapatkan buah-buahan yang telah mereka peroleh dari pohon dalam kehidupan di dunia ini juga,  mereka akan bekata, "Ini jugalah buah-buahan yang telah diberikan kepada kami dahulu", sebab mereka akan mendapatkan buah-buahan itu sama dengan buah-buahan sebelumnya (Al-Baqarah, 26).
     Anggapan bahwa yang dimaksud  buah-buahan yang dahulu itu merupakan nikmat-nikmat jasmani di dunia adalah keliru sekali serta sungguh bertentangan dengan arti dan logika ayat sebenarnya dari ayat terdahulu. Melainkan dalam ayat ini Allah Ta'ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka telah membangun sebuah surga dengan tangan mereka sendiri, yang pohon-pohonnya adalah iman dan sungai-sungainya adalah amal shalih. Buah-buah surga yang demikian itulah yang akan mereka makan di masa mendatang,  dan buah-buah itu akan  lebih nyata dan lebih lezat. Dan dikarenakan mereka secara rohani telah memakan buah-buah itu di dunia, karena itu mereka akan mengenali buah-buah tersebut di alam nanti serta mereka akan berkata, "Tampaknya ini adalah buah-buah yang pernah kami makan sebelumnya", dan mereka akan menemukan buah-buah tersebut  sama seperti makanan mereka dahulu.
    Jadi, ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang biasa memakan makanan kecintaan serta kasih-sayang Tuhan di dunia, makanan itu jugalah yang akan mereka dapati nanti dalam bentuk jasmani. Dan dikarenakan mereka telah mencicipi kelezatan cinta dan kasih-sayang serta mengetahui benar keadaannya, oleh sebab itu ruh mereka akan ingat kembali zaman lampau. Yaitu tatkala mereka duduk menyendiri di pojok-pojok tertentu mengenang Kekasih Hakiki mereka dengan kecintaan di dalam kegelapan malam, dan mereka menikmati kenangan itu.
     Ringkasnya, di sini makanan-makanan jasmani tidak disinggung sedikit pun. Sekiranya di dalam hati seseorang timbul pemikiran -- bahwa  sejak di dunia orang-orang arif sudah memperoleh makanan-makanan itu secara rohani, maka bagaimana mungkin dapat dinyatakan benar bila mengatakan bahwa itu adalah nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia, tidak pernah terdengar, dan  tidak pernah  terlintas di dalam hati seseorang, sehingga dalam hal demikian timbul pertentangan di antara kedua ayat tersebut? --  maka jawabannya adalah bahwa pertentangan itu baru akan timbul jika yang dimaksud didalam ayat ini adalah nikmat-nikmat dunia. Padahal pada ayat ini yang dimaksudkan  bukan nikmat-nikmat dunia. Apa pun yang diperoleh seorang arif dalam bentuk makrifat, itu pada hakikatnya merupakan nikmat alam ukhrawi yang contohnya telah diperlihatkan terlebih dahulu untuk membangkitkan seleranya.
     Hendaknya diingat, bahwa orang yang mempunyai hubungan dengan Tuhan bukanlah berasal dari dunia --  itulah sebabnya dunia membencinya – melainkan dia berasal dari langit oleh karena itu ia menerima nikmat-nikmat samawi (langit/rohani). Jadi, memang benar bahwa nikmat-nikmat tersebut tersembunyi dari telinga, hati dan mata dunia. Akan tetapi seseorang yang kehidupan duniawinya telah mengalami maut (kematian) dan mangkuk itu diminumkan kepadanya secara ruhani --  yaitu mangkuk yang di alam ukhrawi akan dinikmati secara jasmani --  maka saat itu akan teringat olehnya bahwa mangkuk itu  jugalah yang akan diberikan kepadanya dalam bentuk jasmani.
     Akan tetapi ini pun benar,  bahwa dia dari segi mata dan telinga dunia akan dianggap tidak tahu menahu perihal nikmat tersebut. Dikarenakan dia dahulu berada di dunia – namun bukan dari kalangan dunia – oleh karena itu dia pun akan memberikan kesaksian  bahwa nikmat-nikmat ukhrawi tersebut bukanlah nikmat-nikmat duniawi. Ketika di dunia matanya tidak pernah melihat nikmat semacam itu, tidak pula telinganya pernah mendengar  nikmat demikian dan tidak pernah terlintas di hati. Akan tetapi di sisi kehidupan kedua dia telah menyaksikan contoh-contoh nikmat ukhrawi yang bukan berasal dari dunia, melainkan yang merupakan suatu kabar dari alam  yang akan datang. Dia mempunyai hubungan serta kaitan dengan alam itu, sedangkan dengan dunia sedikit pun dia tidak mempunyai kaitan.


Tiga Makrifat Quran Syarif Mengenai Alam Akhirat

     Kini, sebagai kaidah umum hendaknya diingat juga bahwa kondisi-kondisi yang tampil sesudah  kematian telah dibagi oleh  Quran Syarif ke dalam tiga macam. Dan ketiga makrifat  Quran Syarif mengenai alam akhirat itu kami  uraian di sini secara terpisah-pisah.

Rahasia Makrifat Pertama

     Rahasia makrifat pertama ialah,  Quran Syarif berulang-ulang mengatakan bahwa alam akhirat bukanlah suatu barang baru, melainkan segala pemandangannya merupakan pantulan dan dampak-dampak kehidupan di dunia ini juga, sebagaimana Dia berfirman:
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا
Yakni, di dunia ini  juga Kami telah mengikat dampak amal perbuatan setiap orang  pada lehernya, dan dampak-dampak terselubung itulah yang akan Kami zahirkan (jelmakan/munculkan) pada Hari Kiamat, dan Kami akan memperlihatkan dalam bentuk sebuah daftar  amal perbuatan yang terbuka (Bani Israil,14). Di dalam ayat ini terdapat kata  thaairun, maka hendaklah jelas bahwa  sebenarnya thaairun itu berarti burung, lalu secara kiasan diartikan juga sebagai amal perbuatan. Sebab setiap amal – yang baik maupun yang buruk – setelah dilakukan akan terbang seperti burung. Jerih-payahnya ataupun kelezatan amal itu akan sirna sedangkan kekotoran atau pun kebaikannya akan membekas di hati.
     Ini merupakan kaidah  Quran Syarif bahwa setiap amal terus membekas jejak-jejaknya secara terselubung. Bagaimana pun bentuk amal perbuatan manusia sesuai dengan itu Allah Ta'ala akan memperlihatkan perbuatan-Nya. Dan perbuatan Ilahi itu tidak akan membiarkan  dosa atau kebaikan  tersebut menjadi sia-sia, melainkan jejak-jejaknya akan dituliskan pada hati, wajah, mata, tangan, kaki. Inilah yang secara terselubung merupakan daftar suatu amal perbuatan, yang akan zahir   secara terbuka pada kehidupan akhirat.
     Kemudian berkenaan dengan para penghuni surga di tempat lain Dia berfirman:
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
Yakni, pada hari itu pun cahaya keimanan yang diperoleh orang-orang mukmin secara terselubung akan tampak berlari-lari secara terbuka di depan dan di kanan mereka (Al-Hadiid, 13). Di tempat lain Dia berfirman kepada orang-orang yang berbuat buruk:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ()حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ()كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ()ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ()كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ()لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ()ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ()ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Yakni, keinginan  dan ketamakan berlebih-lebihan akan dunia telah merintangi kamu mencari akhirat hingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah lekatkan hati kamu kepada dunia. Kamu segera akan mengetahui bahwa melekatkan hati pada dunia tidaklah baik. Sekali lagi Aku mengatakan bahwa segera kamu akan mengetahui melekatkan hati  pada dunia tidaklah baik. Jikalau kamu memperoleh ilmu yang pasti  niscaya di dunia ini juga kamu akan melihat neraka, kemudian di alam barzakh kamu akan melihat  dengan penglihatan-penglihatan yang pasti, lalu kamu akan diminta pertanggungjawaban sepenuhnya pada Hari Kebangkitan, dan azab dalam bentuk  penuh akan menimpa diri kamu. Dam bukan hanya melalui ucapan saja melainkan melalui kondisi itu sendiri kamu akan memperoleh pengetahuan tentang neraka (At-Takatsuur, 2-9).
    
Tiga Macam Ilmu

    Di dalam ayat-ayat ini Allah Ta'ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di dunia ini ada kehidupan neraka terselubung. Dan  jika mereka memperhatikannya mereka akan melihat nerakanya masing-masing di dunia ini juga. Dan di sini Allah Ta'ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yakni: 'ilmul-yaqin, 'ainul yaqin dan haqqul-yaqin.
     Agar umum memahami berikut ini adalah contoh-contoh ketiga ilmu tersebut. Misalnya, jika seseorang melihat dari jauh kepulan asap tebal di suatu tempat maka pikirannya menghubungkan kenyataan tersebut kepada api dan ia yakin bahwa di sana ada api, karena antara asap dan api ada hubungan yang tidak terpisahkan. Di mana ada asap di sana pasti ada api. Ringkasnya,  pengetahuan yang demikian dinamakan 'ilmul-yaqin. Kemudian ketika dilihatnya nyala api maka pengetahuan demikian dinamakan  'ainul-yaqin, sedangkan jika ia sendiri masuk ke dalam api,  pengetahuan  demikian dinamakan haqqul-yaqin.
     Jadi, Allah Ta'ala berfirman bahwa 'ilmul-yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh di dunia ini juga, kemudian di alam barzakh akan diperoleh 'ainul-yaqin, dan pada Hari Kebangkitan pengetahuan itu juga yang akan sampai pada tingkat sempurna yaitu haqqul-yaqin.

Tiga Alam

     Di sini hendaknya jelas bahwa menurut  Quran Syarif terbukti ada tiga macam alam:
     (1) Alam pertama ialah   dunia yang dinamakan alam kasab (alam usaha) dan  nisya ula (alam kejadian pertama).
     Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di  alam kebangkitan akan ada kemajuan-kemajuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Di sini tidak ada campur-tangan upaya manusia.
      (2) Alam kedua dinamakan barzakh. Sebenarnya kata barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah-tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode ini ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian pertama (nisya ula) untuk itulah dinamakan barzakh. Akan tetapi kata itu sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan.  Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu.
     Kami telah  membuktikan didalam buku Minan-ur-Rahmaan bahwa perkataan-perkataan bahasa Arab adalah keluar dari mulut Tuhan, dan inilah satu-satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci, bahasa yang sudah ada sejak awal,  sumber segala ilmu pengetahuan,   induk segala bahasa,  dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan  Kalam Tuhan yang sejak dari awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa mereka. Dan dikatakan sebagai  singgasana terakhir bagi wahyu  Ilahi, karena Kitab terakhir Allah Ta'ala --  yaitu  Quran Syarif --  telah diturunkan dalam bahasa Arab.
     Jadi, kata barzakh berasal dari bahasa Arab dan merupakan paduan dari kata زَخَّ (zakhkha)  danبَرَّ  (barra), yang artinya "jalan upaya untuk beramal sudah berakhir dan sudah masuk ke dalam suatu kondisi yang terselubung".
     Keadaan barzakh adalah suatu keadaan ketika  wujud manusia yang fana (tidak kekal) ini menjadi terurai,  ruh terpisah dan tubuh pun terpisah. Sebagaimana yang nampak yaitu tubuh dimasukkan ke dalam suatu lubang sedangkan ruh dimasukkan ke dalam semacam lubang juga, seperti yang terungkap  dari kata zakhkhaa. Sebab ruh tidak dapat melakukan perbuatan baik mau pun buruk, seperti yang biasa dilaksanakannya ketika mempunyai pertalian dengan tubuh.
      Adalah jelas bahwa sempurnanya kesehatan ruh bergantung pada tubuh. Akibat luka pada satu bagian tertentu di otak maka daya ingat menjadi hilang, sedangkan   akibat cedera pada bagian lainnya kemampuan berpikir menjadi hilang dan segala kesadaran jadi lenyap. Dan apabila di dalam otak terjadi kekejangan, bengkak, atau penggumpalan darah, atau penggumpalan zat lain -- sehingga timbul penyempitan yang bersifat sementara atau permanent --  maka seketika itu juga dapat mengakibatkan pingsan, ayan, atau serangan lumpuh.
    Jadi, pengalaman kita sejak dulu mengajarkan secara pasti bahwa ruh kita tanpa adanya hubungan dengan tubuh sama sekali tidak akan berarti. Oleh karena itu amat keliru jika kita beranggapan bahwa pada waktu tertentu  ruh kita secara mandiri – tanpa disertai tubuh – dapat memperoleh kebahagiaan. Jika mempercayainya sebagai suatu cerita, silakan, tetapi secara akal tidak ada dalilnya. Kami sama sekali tidak dapat mengerti bahwa ruh – yang tidak berdaya akibat gangguan-gangguan kecil pada tubuh --  bagaimana mungkin pada hari itu akan berada dalam keadaan sempurna, padahal hubungannya dengan tubuh diputuskan sama sekali. Tidakkah pengalaman sehari-hari mengajarkan kepada kita bahwa untuk kesehatan ruh mutlak adanya kesehatan tubuh? Tatkala seseorang di antara kita menjadi tua-renta maka beriringan dengan itu ruhnya menjadi tua. Seluruh kekayaan ilmu pengetahuannya hilang termakan oleh usia lanjut, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Yakni,  sesudah manusia menjadi tua sampailah ia kepada keadaan ia lupa sama sekali kepada  ilmu yang pernah diperolehnya (Al Hajj,  6).
     Jadi, kesaksian kita ini cukup menjadi dalil atas kenyataan bahwa ruh tanpa tubuh tidak akan bermakna sama sekali.  Kemudian pemikiran ini pun menarik perhatian manusia kepada hakikat,  bahwa seandainya  ruh tanpa tubuh merupakan sesuatu yang bermakna maka  perbuatan Tuhan -- tanpa alasan   -- mengaitkan (menghubungkan) ruh dengan tubuh yang fana (tidak kekal) ini menjadi sia-sia. Dan patut pula direnungkan bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan manusia untuk meraih kemajuan-kemajuan tak  terbatas.  Jadi kalau dalam keadaan   hidup yang singkat ini saja kemajuan-kemajuan tidak dapat dicapai  ruh  tanpa keikut-sertaan tubuh, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa kemajuan yang tidak terbatas dan tanpa tepi itu mampu dicapai   ruh  tanpa keikut-sertaan tubuh?
    Jadi, dari semua keterangan ini terbukti bahwa  -- menurut prinsip Islam --   untuk terlaksananya pekerjaan-pekerjaan ruh secara sempurna,  keikutsertaan  tubuh pada ruh adalah kekal. Walaupun tubuh yang fana (tidak kekal) ini sesudah mati akan terpisah dari ruh, tetapi di alam barzakh tiap-tiap   ruh akan mendapat suatu tubuh sementara guna mencicipi cita-rasa buah amal perbuatannya. Tubuh tersebut bukanlah dari jenis tubuh ini melainkan ia dipersiapkan  dari suatu nur (cahaya), atau kebalikannya, dari kegelapan, sesuai dengan keadaan amal perbuatan. Seolah-olah di alam barzakh itu keadaan-keadaan amal manusia menjalankan peran sebagai tubuh. Demikianlah berkali-kali disebutkan dalam Kalam Ilahi  bahwa sebagian dinyatakan    tubuh cahaya dan sebagian lagi dinyatakan tubuh kegelapan, yang terbentuk dari cahaya amal perbuatan atau dari kegelapan amal perbuatan. Kendati pun rahasia ini amat mendalam akan tetapi bukanlah tidak masuk akal.
     Seorang insan kamil (manusia sempurna) di dalam kehidupan di dunia ini juga dapat memperolah suatu tubuh cahaya di samping tubuh kasarnya. Dan di dalam kasyaf banyak  terdapat contoh-contohnya. Meski pun sulit memberikan pemahaman kepada orang-orang yang akalnya terbatas pada pengetahuan lahiriah saja, namun orang-orang yang   pernah mengalami sebagian alam kasyaf mereka tidak akan heran melihat tubuh semacam itu yang dipersiapkan  dari amal perbuatan, bahkan mereka akan merasakan kelezatan dalam  masalah ini.
      Ringkasnya, tubuh yang diperoleh berdasarkan kondisi amal perbuatan itulah yang akan menjadi faktor ganjaran baik dan buruk  alam barzakh. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini. Acap kali secara kasyaf – dalam keadaan sadar --  saya mendapat kesempatan berjumpa dengan beberapa orang yang sudah meninggal dunia, dan saya melihat tubuh beberapa  orang fasiq (durhaka) serta orang sesat demikian hitamnya sehingga seakan-akan tubuh mereka  itu terbuat dari asap.
      Ringkasnya,  saya secdara pribadi cukup mengenal kawasan ini, dan dengan tegas saya katakan – seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta'ala --  pasti akan demikian,  bahwa sesudah mati setiap orang  akan mendapat satu tubuh, baik berupa cahaya maupun kegelapan. Adalah kekeliruan manusia jika ia ingin membuktikan makrifat yang sangat halus ini hanya dengan perantaraan akal belaka, melainkan hendaknya dimaklumi bahwa sebagaimana mata tidak dapat menyatakan cita-rasa makanan manis, dan tidak pula lidah dapat melihat sesuatu,  demikian pulalah ilmu-ilmu ukhrawi – yang dapat diperoleh melalui kasyaf-kasyaf suci – tidak akan dapat diraih hanya  dengan  melalui perantaraan akal belaka. Allah Ta'ala telah menetapkan sarana-sarana tertentu secara terpisah untuk mengetahui hal-hal yang tidak berwujud di dunia ini. Jadi, carilah tiap sesuatu melalui sarananya masing-masing maka barulah akan kalian dapatkan.
     Satu hal lagi yang patut diingat, bahwa  Tuhan telah menamakan di dalam Kalam-Nya orang-orang yang jahat dan sesat sebagai orang mati, dan menyatakan orang-orang yang  beramal shalih sebagai orang hidup. Rahasianya ialah, orang-orang yang telah melupakan Allah Ta'ala, sarana-sarana kehidupan mereka --  yang digunakan untuk memuaskan nafsu makan, minum, dan syahwat --  telah terputus dan mereka tidak memperoleh makanan rohani sedikitpun.  Jadi, pada hakikatnya mereka telah mati, dan mereka akan dibangkitkan hanya untuk memikul azab belaka. Ke arah rahasia inilah Allah Ta’ala mengisyaratkan sebagaimana Dia berfirman:
مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا
Yakni, barangsiapa yang datang kepada  Tuhan dalam keadaan berdosa baginya disediakan tempat di dalam neraka  jahannam, di dalamnya ia tidak akan mati dan tidak pula akan hidup (Thaa Haa, 75). Akan tetapi orang-orang yang mencintai Allah tidak mati oleh maut, sebab minuman dan makanan mereka ada beserta mereka.

    (3) Alam Ketiga dinamakan  Alam Kebangkitan. Sesudah  Alam Barzakh kemudian datanglah zaman yang dinamakan Alam Kebangkitan. Pada masa ini setiap ruh – yang baik maupun yang buruk, yang shalih maupun yang fasiq (durhaka) --  akan mendapat tubuh nyata, dan Hari itu telah ditetapkan untuk penampakan-penampakan Tuhan seutuhnya, ketika setiap insan akan mengenali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya, dan setiap orang akan mencapai titik akhir ganjarannya.
      Hendaknya jangan heran mengapa Tuhan akan berbuat demikian, sebab  Dia memiliki segala kekuasaan. Apa yang dikehendaki-Nya dikerjakan-Nya, sebagaimana Dia  Sendiri berfirman:
 أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ()وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ()قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ()..............أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ()إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ()فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Yakni, apakah manusia tidak melihat bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air   yang dimasukkan ke dalam rahim kemudian ia menjadi seorang pembantah. Ia mulai membuat-buat perkara mengenai Kami dan melupakan peristiwa penciptaan dirinya, dan dia akan berkata, "Bagaimana mungkin dapat terjadi, tatkala tulang-belulang pun tidak   selamat lagi maka bagaimana mungkin akan hidup kembali. Siapa pula yang mempunyai kekuasaan demikian sehingga dapat menghidupkannya?" Katakanlah kepada mereka, "Yang akan menghidupkannya adalah Dia Yang telah menciptakannya pertama kali, dan Dia mengetahui segala macam dan cara untuk menghidupkan. Bagitu hebat perintah-Nya sehingga manakala Dia menghendaki sesuatu Dia hanya mengatakan, "Jadilah! maka jadilah ia. Jadi, Maha Suci-lah Dzat Yang memiliki kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada Dia-lah kamu sekalian akan kembali (Yaa Siin, 78-80 & 82-84).
     Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala   berfirman bahwa di hadapan Tuhan tidak  ada sesuatu yang mustahil, Dia-lah Yang telah menciptakan manusia dari setetes air yang tidak berarti, apakah Dia tidak mampu menghidupkan  untuk kedua kalinya?
      Di sini dapat timbul pertanyaan dari pihak yang kurang faham. Yaitu Alam Ketiga atau Alam Kebangkitan akan datang sesudah jangka waktu yang amat lama, maka dalam keadaan yang demikian -- bagi setiap orang yang baik dan yang buruk --  Alam Barzakh merupakan suatu tempat tahanan dan tampak sia-sia.
    Jawabannya adalah, pengertian demikian sama sekali keliru, yang timbul karena kekurang-fahaman belaka. Justru di dalam Kitab Allah Ta'ala terdapat dua tempat untuk ganjaran baik  dan buruk. Yang pertama adalah alam barzakh, yang di dalamnya setiap orang akan memperoleh ganjarannya secara terselubung. Orang-orang jahat setelah mati akan langsung masuk ke dalam neraka, orang-orang baik setelah mati akan langsung mendapatkan ketentraman di dalam surga.   
      Banyak terdapat ayat-ayat semacam itu di dalam  Quran Syarif bahwa segera sesudah mati setiap insan akan melihat ganjaran atas amal perbuatannya, sebagaimana Allah Ta'ala mengabarkan tentang seorang penghuni surga dan berfirman:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
Yakni, telah dikatakan kepadanya, "Masuklah engkau ke dalam surga" (Yaa Siin, 27). Dan demikian pula Dia mengabarkan tentang seorang penghuni neraka, lalu berfirman:
فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ
Yakni, orang (ahli) surga mempunyai  teman orang (ahli) neraka. ketika keduanya meninggal maka orang (ahli) surga merasa heran ke mana kawannya pergi. Maka kepadanya diperlihatkan bahwa temannya itu berada di tengah-tengah neraka Jahannam (Ash-Shaaffaat, 56).
     Jadi, pelaksanaan ganjaran dan hukuman itu berlaku segera. Ahli neraka masuk neraka dan ahli  surga masuk surga. Akan tetapi sesudah itu akan datang hari lain penampakkan agung yang dizahirkan oleh hikmah agung Tuhan. Sebab Dia telah menciptakan manusia agar Dia dikenali melalui sifat penciptaan-Nya. Kemudian Dia akan membinasakan semuanya  supaya Dia dikenali melalui sifat keperkasaan-Nya. Dan kemudian pada suatu hari Dia akan menganugerahkan kepada semuanya suatu kehidupan sempurna, lalu akan menghimpun mereka di suatu lapangan agar Dia dikenali melalui sifat kekuasaan-Nya. Kini hendaknya diketahui bahwa itulah rahasia makrifat pertama di antara rahasia-rahasia makrifat tersebut di atas yang telah diuraikan.

Rahasia  Makrifat Kedua

     Rahasia makrifat kedua    mengenai Alam Ukhrawi  yang telah dijelaskan  Quran Syarif ialah, segala hal yang dahulu di dunia ini bersifat ruhani, di sana, di alam ukhrawi -- baik di tingkat barzakh maupun di tingkat Alam Kebangkitan --   akan ditampakkan dalam bentuk jasmani. Berkenaan dengan ini, segala sesuatu yang telah difirmankan Allah Ta'ala satu di antaranya adalah ayat berikut:
مَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى
Yakni,  barangsiapa di dunia in buta, ia di alam akhirat pun akan buta (Bani Israil, 73).
      Maksud ayat ini adalah, kebutaan ruhani di dunia ini akan disaksikan dan dirasakan secara jasmani di alam nanti. Demikian pula dalam ayat lain Dia berfirman:
خُذُوهُ فَغُلُّوهُ()ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ()ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ
Yakni, tangkaplah orang (ahli) neraka itu, Kalungkanlah belenggu di lehernya, lalu bakarlah dia di dalam api neraka, kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta (Al-Haaqqah, 31-33).
     Hendaklah diketahui, di dalam ayat ini telah dizahirkan bahwa azab rohani dunia akan tampil secara jasmani di alam ukhrawi.    Demikianlah, belenggu leher merupakan hasrat-hasrat  dunia yang telah menundukkan kepala manusia ke tanah, ia akan tampil dalam bentuk zahir (jasmani) di alam ukhrawi. Begitu pula rantai belenggu-belenggu dunia   akan nampak melilit kaki-kaki, dan api kobaran hasrat-hasrat dunia akan nampak menyala-nyala secara zahir (jasmani).
     Di alam kehidupan dunia, orang fasiq (durhaka) menyimpan suatu neraka hawa-nafsu      di dalam dirinya. Dan dalam kegagalan-kegagalan dia merasakan kobaran-kobaran neraka itu. Jadi, tatkala dia dijauhkan dari  syahwat (keinginan/hasrat)  yang fana serta akan diliputi keputus-asaan yang abadi maka  Allah Ta'ala akan menampakkan kepadanya hasrat-hasrat tersebut  dalam bentuk api jasmani, sebagaimana Dia berfirman:
وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ
Yakni, akan diletakkan suatu pemisah (penghalang)  antara mereka dengan apa-apa mereka hasratkan (As-Saba', 55), dan inilah akar azab.
       Kemudian yang difirmankan bahwa, "Ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta", hal ini mengisyaratkan bahwa kadang-kadang seorang fasiq (durhaka) mencapai usia  70  tahun. Bahkan seringkali di dunia ini  ia mencapai usia begitu panjang, sehingga apabila dipotong masa kanak-kanak  dan masa tua-renda  tetap saja ia memperoleh bagian umur bersih dan murni yang layak untuk digunakan berfikir secara bijak dan bekerja keras. Akan tetapi orang malang itu menjalani 70 tahun kehidupannya tersebut dalam cengkraman-cengkraman dunia, dan dia tidak  berkeinginan untuk lepas dari rantai itu.
     Jadi, di dalam ayat ini Allah Ta'ala berfirman bahwa masa 70 tahun yang telah dia lalui di dalam cengkraman-cengkraman dunia itulah yang akan dinampakkan di Alam Kebangkitan sebagai  rantai yang panjangnya  70 hasta. Tiap hasta merupakan satu tahun. Di sini hendaknya diingat, bahwa Allah Ta'ala dari diri-Nya sendiri tidak menimpakan suatu musibah kepada manusia, melainkan Dia memaparkan  di hadapan manusia pekerjaan buruk manusia sendiri. Kemudian untuk menzahirkan sunnah-Nya ini Allah Ta'ala di tempat lain berfirman:
انْطَلِقُوا إِلَى ظِلٍّ ذِي ثَلَاثِ شُعَبٍ()لَا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِ
Yakni, hai orang-orang yang berbuat jahat dan sesat!  Pergilah kamu ke tempat bernaung bercabang tiga yang tidak dapat memberi teduh dan tidak pula dapat menyelamatkan dari panas  (Al-Mursalaat,  31-32).
     Di dalam ayat ini yang dimaksud  dengan tiga cabang adalah sifat kebinatangan, kebuasan, dan kejalangan. Orang-orang yang tidak mengubah  ketiga sifat ini ke dalam bentuk akhlak serta tidak menerapkannya pada tempat yang semestinya, maka sifat-sifat itu pada Hari Kiamat akan diwujudkan dalam bentuk tiga cabang  yang berdiri tanpa daun-daun serta tidak dapat melindungi dari terik, dan mereka akan hangus karena panasnya.
     Demikian pula Allah Ta'ala untuk menzahirkan sunnah-Nya ini telah berfirman mengenai orang-orang (penghuni) surga:
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
Yakni,  pada hari ini engkau melihat bahwa cahaya orang-orang mukmin – yang selama di dunia terselubung – akan berlari-lari secara nyata di hadapan dan di sisi kanan mereka (Al-Hadiid, 13). Dan pada sebuah ayat lain Dia berfirman:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
Yakni, pada hari itu beberapa wajah akan menjadi hitam dan beberapa akan menjadi putih serta bersinar-sinar (Aali 'Imran, 107).  Kemudian dalam ayat lainnya lagi Dia berfirman:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى
Yakni, surga yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang bertakwa adalah seibarat sebuah kebun, di dalamnya terdapat sungai-sungai yang tidak pernah busuk, kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah, lalu di dalamnya terdapat sungai-sungai arak yang menimbulkan perasaan sangat riang tapi tidak memabukkan. Kemudian di dalamnya terdapat sungai-sungai madu yang sangat murni dan tidak mengandung bahan campuran (Muhammad, 16).
     Di sini dengan jelas telah difirmankan bahwa surga itu hendaknya dipahami demikian secara kiasan, bahwa di dalamnya terdapat sungai-sungai yang tak bertepi terbuat dari seluruh benda tersebut. Air kehidupan yang diminum secara ruhaniah di dunia oleh orang arif, di dalam kebun (surga) itu akan terwujud secara  zahir (jasmani). Dan sungai ruhani – yang secara ruhaniah di dunia ini dia dibesarkan sebagai bayi yang menyusu – itu akan nampak nyata di surga. Dan arak kecintaan Ilahi – yang dengan itu ia secara ruhaniah di dunia selalu mabuk --  kini di dalam surga sungai-sungai arak itu akan kelihatan secara nyata. Dan madu manisnya iman – yang selama di dunia secara ruhaniah  masuk ke dalam mulut orang arif --  di surga akan terasa dan nampak bagai sungai-sungai yang nyata. Dan masing-masing penghuni surga – dengan sungai-sungai dan kebun-kebun miliknya – akan memperlihatkan secara terbuka taraf keadaan ruhaninya. dan Tuhan pun pada hari itu akan tampil keluar bagi para penghuni surga  dari balik tirai. Ringkasnya, keadaan-keadaan ruhani tidak akan tersembunyi lagi, melainkan akan nampak secara jasmani.

Rahasia Makrifat Ketiga

    Rahasia makrifat ketiga ialah, kemajuan-kemajuan di Alam Ukhrawi tidak akan ada batasnya. Mengenai itu Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Yakni, barangsiapa memiliki cahaya iman di dunia, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan dan di sisi kanan mereka pada Hari Kiamat. Mereka akan senantiasa berkata, "Ya Tuhan,  sampaikanlah cahaya kami pada kesempurnaan, dan tariklah kami ke dalam maghfirat (ampunan) engkau, Engkau berkuasa atas segala sesuatu" (At-Tahriim, 9).           
      Di dalam ayat ini telah difirmankan bahwa mereka senantiasa akan mengatakan, "Sampaikanlah cahaya kami kepada kesempurnaan", ini mengisyaratkan kepada kemajuan-kemajuan yang tidak ada batasnya. Yakni mereka akan memperoleh suatu kesempurnaan cahaya, kemudian akan nampak kesempurnaan kedua. Setelah menyaksikan hal itu, mereka mendapatkan bahwa kesempurnaan yang pertama tadi memiliki kekurangan. Jadi mereka akan memohon kesempurnaan yang kedua. Dan apabila itu diperoleh maka akan zahir pula atas mereka derajat kesempurnaan yang ketiga. Kemudian setelah menyaksikan hal itu mereka akan menganggap  kesempurnaan-kesempurnaan yang terdahulu tidak berarti dan mereka berhasrat mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Inilah hasrat terhadap kemajuan-kemajuan yang dipahami dari kata atmim (sempurnakanlah).
     Ringkasnya,  seperti itulah  rangkaian kemajuan tak terbatas yang akan berkesinambungan. Kemunduran tidak akan pernah terjadi, dan tidak pula mereka akan pernah dikeluarkan dari dalam surga. Bahkan setiap hari mereka akan maju ke depan dan tidak akan mundur ke belakang. Dan yang telah difirmankan bahwa mereka akan senantiasa memohon pengampunan bagi diri mereka di situ timbul pertanyaan: Kalau sudah masuk ke dalam surga mengapa pula masih ada masalah maghfirat (pengampunan)? Tatkala dosa-dosa telah diampuni apa pula perlunya istighfar?
     Jawabannya adalah, arti maghfirat yang sebenarnya  ialah menekan dan menutupi keadaan cacat dan kekurangan. Jadi para penghuni surga akan berkeinginan untuk meraih kesempurnaan yang paling lengkap  serta tenggelam di dalam lautan cahaya. Setelah melihat keadaan yang kedua, mereka akan menemukan keadaan yang pertama tidak sempurna maka mereka akan berkeinginan agar keadaan pertama itu ditekan ke bawah. Kemudian setelah melihat kesempurnaan yang ketiga  mereka berkeinginan untuk memperoleh maghfirat bagi kesempurnaan yang kedua. yakni supaya keadaan yang tak sempurna itu ditekan ke bawah dan diselubungi. Seperti itulah mereka akan terus  menginginkan maghfirat yang tak terbatas.
     Kata maghfirat dan istighfar ini  jugalah yang selalu dipaparkan oleh berapa orang bodoh sebagai celaan terhadap Nabi kita saw.. Jadi, para pemerhati di sini tentu telah memahami bahwa hasrat akan istighfar ini merupakan kebanggaan manusia. Barangsiapa yang  telah lahir dari rahim wanita dan kemudian untuk selamanya tidak  menjadikan istighfar sebagai adat kebiasaannya maka dia merupakan seekor cacing, bukan manusia. Buta, tidak melihat. Kotor, tidak suci.
     Kini kesimpulannya adalah, berdasarkan  Quran Syarif,  pada hakikatnya neraka dan surga  keduanya merupakan bayangan-bayangan dan dampak-dampak kehidupan manusia. Bukanlah benda jasmani baru yang datang dari suatu tempat lain. Memang benar bahwa keduanya itu akan diperagakan secara jasmani,  akan tetapi merupakan bayangan dan dampak keadaan-keadaan ruhani yang sebenarnya. Kami tidak mengakui suatu surga yang hanya secara jasmani akan ditanami pohon-pohon di atas sebidang tanah. Dan tidak pula kami mengakui adanya suatu neraka yang di dalamnya terdapat batu-batu belerang, melainkan sesuai dengan akidah Islam, surga dan neraka merupakan cerminan-cerminan amal perbuatan yang dilakukan manusia di dunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...