DAFTAR ISI
Halaman
- Pengantar Penerbit ……………………………………………………
- Sambutan Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia ………………
- Amanat Hadhrat Khalifatul Masih IV rta. ……………………………..
- Kabar Suka bagi para Pencari Kebenaran, Selebaran
- Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. ……………………………………
- Kata Pengantar oleh Maulana Jalaluddin Shams ………………………
ISLAM
· Pendahuluan: Setiap Pengakuan dan Dalil
Hendaknya Berdasar
Pada Kitab yang Diwahyukan ……………………………………………..
Jawaban
Masalah Pertama ………………………………………
KEADAAN
JASMANI (THABI’I), AKHLAKI DAN RUHANI MANUSIA
·
Tiga
Macam Keadaan Manusia: ………………………………………..
- Sumber Pertama: Nafs Ammarah
- Sumber Kedua: Nafs Lawwaamah
- Sumber Ketiga: Nafs Muthmainnah
- Ruh Sebagai Makhluk ……………………………………………………
- Kelahiran Kedua bagi Ruh ……………………………………………….
- Kemajuan Manusia Secara Bertahap …………………………………….
- Perbedaan Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki
serta Penolakan
atas Konsep Kekekalan Hidup …………………………………………
- Tiga Cara Perbaikan dan Diutusnya Rasulullah saw. Ketika
Perbaikan Sangat Diperlukan …………………………………………..
- Tujuan Pokok Ajaran Quran Syarif Adalah Ketiga
Perbaikan &
Keadaan Thabi’i Dapat Menjadi Akhlak Melalui
Penyelarasan ……….
- Akhlak Sejati ……………………………………………………………
Khalq dan Khuq
·
Perbaikan
Pertama: Perbaikan
Thabi’i (Alami) ………………………
Haramnya Babi
·
Perbaikan
Kedua: Keadaan-keadaan Akhlaki Manusia ………………..
(i) Akhlak
Berkenaan
Meninggalkan Kejahatan …………………………..
1. Ihshaan
(Kesucian Farji)
Lima Obat
Untuk Memelihara Kesucian Farji
2. Amanah
(Dapat Dipercaya) dan Diyaanah (Jujur)
3. Hudnah
(Tidak Jail) dan Hawn (Bersikap Rukun)
4. Rifqun
(Ucapan yang Sopan) dan Qaulu Hasan
(Tutur-kata yang Baik)
(ii) Jenis-jenis Akhlak Untuk Berbuat Kebaikan …………………………..
1. Sikap Memaafkan
2. Bersikap Adil
3. Berbuat Ihsaan (Kebajikan)
4. Memberi Tanpa Perhitungan Seperti
Kepada Kaum Kerabat
- Beberapa Contoh Ihsaan (Kebajikan) …………………………………
1.
Keberanian
Sejati
2.
Lurus
Hati
3.
Sabar
4.
Hamdardi (Al-Muwaasah): Solidaritas terhadap Sesama Makhluk
5.
Mencari
Wujud Yang Maha Agung
- Wahyu Suatu Bukti Yang Perkasa Tentang Adanya Tuhan
…………
- Hikmah Kedatangan Rasulullah saw. di Negeri Arab ………………
- Jasa-jasa Quran Syarif Kepada Dunia ………………………………
- Dalil-dalil Adanya Tuhan ……………………………………………
- Sifat-sifat Allah Ta’ala ………………………………………………
· Perbaikan Ketiga:
Keadaan-keadaan Ruhani Manusia ………………
- Sebuah Doa yang Indah ………………………………………………
- Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil …………………………………
- Khasiat Zanjabil ………………………………………………………
- Sarana untuk Menciptakan Hubungan Ruhani yang Sempurna
dengan Allah Ta’ala
…………………………………………………
Masalah
Kedua ……………………………………………….
BAGAIMANA
KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?
·
Tiga
Makrifat Quran Syarif Mengenai Alam
Akhirat ………………..
- Rahasia Makrifat Pertama ……………………………………………
Tiga Macam Ilmu
Tiga Alam
- Rahasia Makrifat Kedua …………………………………………….
- Rahasia Makrifat Ketiga …………………………………………….
Masalah
Ketiga ………………………………………………..
APA
TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA
DAN
BAGAIMANA DAPAT MENCAPAINYA?
·
Sarana-sarana
untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia ……………….
Masalah
Keempat ……………………………………………..
APA
DAMPAK PENGAMALAN SYARIAT DI KEHIDUPAN INI
DAN
DI KEHIDUPAN YANG AKAN DATANG?
·
Hikmah
Sumpah Allah dengan Berbagai Benda ……………………….
Masalah
Kelima …………………………………………………
SARANA-SARANA
DAN JALAN APA SAJA UNTUK
MENDAPATKAN
ILMU, YAKNI MAKRIFAT
- Hakikat Fitrat Manusia ……………………………………………….
- Apakah yang Dimaksud dengan Ilham? ………………………………
- Keistimewaan Islam ………………………………………………….
- Penceramah Memperoleh Anugerah Mukalamah dan
Mukhatabah
Ilahiyah ………………………………………………………
- Sarana untuk Memperoleh Ilmu Sempurna
adalah Ilham
Allah Ta’ala ……………………………………………
- Dua Periode Kehidupan Rasulullah Saw. ……………………………
- Tujuan Peperangan Rasulullah saw. ………………………………….
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّيْ عَلَى رَسُوْلِهِ
الْكَرِيْمِ
ISLAM
SETIAP PENGAKUAN DAN DALIL
HARUS BERDASARKAN PADA KITAB
YANG DIWAHYUKAN
|
P
|
ada pertemuan yang berbahagia
hari ini – yang diselenggarakan dengan tujuan agar setiap pembicara yang telah sengaja
diundang untuk menguraikan keindahan-keindahan
agamanya masing-masing, dengan membatasi diri masing-masing pada masalah-masalah
yang sebelumnya telah diumumkan dalam selebaran-selebaran – saya hendak
menguraikan keindahan-keindahan ajaran Islam.
Sebelum saya mengawali uraian saya, sayogianya
saya permaklumkan bahwa saya anggap sebagai suatu keharusan bahwa segala sesuatu yang hendak saya ketengahkan nanti, akan saya dasarkan
pada Quran Syarif, Kalam Suci Allah Ta'ala. Saya berpendapat, sungguh penting
sekali bahwa penganut salah satu suatu Kitab, yang olehnya dianggap sebagai kitab
dari Tuhan, hendaknya menerangkan tiap-tiap masalah dengan mengambil
keterangan-keterangan dari kitab itu juga, dan dalam memelihara ruang
lingkup hak pembelaannya hendaknya tidak memperluas jangkaunya demikian
jauh sehingga ia seakan-akan mengarang suatu kitab baru.
Oleh karena pada hari ini kami hendak
menampilkan keindahan-keindahan Quran Syarif serta hendak
mempertunjukkan kesempurnaan-kesempurnaannya, seyogianya dalam
menerangkan suatu masalah kami tidak akan menyimpang dari keterangannya
(Quran Syarif), pula seyogianya kami menulis segala uraian kami sesuai dengan
acuan atau penjelasan atau kutipan dari ayat-ayatnya, dengan demikian hadirin yang
terhormat akan mudah menimbang serta membuat perbandingan. Dan oleh karena tiap
pembicara yang menganut salah satu Kitab
diharapkan akan tetap mematuhi keterangan
kitab wahyunya masing-masing dan
akan mengemukakan kutipan-kutipan dari kitab itu sendiri, maka pada
kesempatan ini kami akan meninggalkan keterangan keterangan hadits-hadits
sebab semua hadits shahih itu bersumber dari Quran Syarif. Dan
sesungguhnya Quran Syarif merupakan kitab yang paripurna dan merupakan titik
penghabisan semua kitab.
Pendek kata, hari ini adalah hari
penampakan kebesaran Quran Syarif. Kami panjatkan doa ke
hadirat Ilahi Ta’ala, semoga Dia berkenan membantu kami dalam usaha ini. Amin.
Jawaban Masalah Pertama
KEADAAN JASMANI (THABI'I), AKHLAKI
DAN RUHANI MANUSIA
|
P
|
ara hadirin yang terhormat diharap
maklum, bahwa pada halaman-halaman pertama risalah (tulisan) ini terdapat beberapa
kata pendahuluan yang mungkin
nampak seolah-olah tidak ada sangkut-pautnya dengan uraian berikut. Namun agar jawabannya
yang tepat dapat diresapi hal itu perlu dipahami, dan agar hadirin jangan
menemui kesukaran dalam memahami pokok masalah, kami lebih dahulu
menyertakan beberapa patah kata
pendahuluan untuk penjelasan.
Tiga Macam Keadaan Manusia
Baiklah dimaklumi bahwa masalah pertama
ialah bertalian dengan keadaan-keadaan thabi'i (alami), akhlaki,
dan ruhani manusia. Maka ketahuilah bahwa Quran Syarif, Kalam suci
Allah Ta'ala mengadakan pembagian tiga
keadaan itu demikian: bagi ketiga keadaan itu ditetapkan tiga
sumber yang berlainan. Dengan perkataan lain oleh Quran Syarif
disebutkan tiga mata air yang darinya memancar keadaan-keadaan
itu secara terpisah.
Sumber
Pertama: Nafs Ammarah
Sumber pertama yang merupakan pangkal dan
darinya timbul semua keadaan thabi'i (alami) manusia, Quran
Syarif menamakannya nafs Ammarah,
sebagaimana Dia berfirman:
إِنَّ
النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
Yakni,
adalah ciri khas nafs Ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan
yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak-belakang (bertentangan)
dengan keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya
berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk (Yusuf, 54).*
Ringkasnya, melangkahnya manusia ke
pelanggaran dan keburukan adalah suatu keadaan yang secara thabi'i
(alami) menguasai dirinya, sebelum manusia mencapai keadaan akhlaki.
Sebelum manusia melangkah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat
(pengetahuan), keadaan ini dinamai keadaan thabi'i
(pembawaan alami). Bahkan seperti halnya
hewan-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan-minum, tidur-bangun,
menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu pula kebiasaan-kebiasaan lainnya
manusia ikut kepada dorongan-dorongan thabi'inya (alaminya). Dan
manakala manusia dibimbing oleh akal dan makrifat serta
memperlihatkan tuntutan timbang rasa maka saat itu keadaan tersebut tidak
lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi'i (alami); melainkan
saat itu keadaan-keadaan ini disebut keadaan-keadaan akhlaki, yang
mengenainya akan kami terangkan lebih lanjut.
Sumber
Kedua: Nafs Lawwamah
Di dalam Quran
Syarif sumber keadaan akhlaki
itu dinamai nafs lawwaamah, sebagaimana firman Allah Ta’ala di
dalam Quran Syarif:
وَلَا
أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Yakni, Aku bersumpah dengan nafs
(jiwa) yang mengecam (mencela) dirinya sendiri atas
perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya (Al-Qiyaamah, 3). Nafs
lawwaamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan-keadaan
manusia yang darinya timbul keadaan
akhlaki, dan sesampainya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan
yang menyerupai keadaan hewan-hewan
lainnya. Bersumpah dengan perkataan nafs lawwaamah di sini
adalah untuk memberikan penghormatan kepadanya.
Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs
ammarah kepada keadaan nafs lawwaamah, yang
merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah.
Dinamai lawwaamah karena dia mengecam (mencela) manusia
atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah laku
sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi'inya
(alaminya) dan menjalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia
menghendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik serta
memiliki akhlak yang luhur, dan dalam usaha memenuhi
segala keperluan hidupnya manusia jangan
sekali pun melakukan pelanggaran, dan ia menghendaki agar perasaan-perasaan
serta hasrat-hasrat thabi’inya (alaminya) diberi penyaluran yang sesuai
dengan pertimbangan akal. Jadi, karena jiwa itu mengecam tindakan-tindakannya
yang buruk maka ia dinamai nafs lawwaamah, yaitu nafs (jiwa)
yang sangat mengecam.
Walau pun nafs lawwaamah
tidak menyukai dorongan-dorongan thabi'i (alami), bahkan selalu mengecam dirinya sendiri, akan
tetapi dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan ia belum dapat menguasai
diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi’i (alami)
mengalahkannya kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil
yang lemah, walau pun tidak mau jatuh namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu
ia mengecam diri sendiri atas kelemahannya.
Ringkasnya, ini merupakan keadaan akhlaki
bagi jiwa tatkala di
dalam dirinya telah terhimpun akhlak
fadhilah (akhlak tinggi/mulia) dan dia sudah jera dari kedurhakaan,
akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.
Sumber
Ketiga: Nafs Muthmainnah
Kemudian ada sumber ketiga yang
boleh dikatakan merupakan sumber keadaan keadaan rohani. Quran Syarif
menyebut sumber ini nafs mutmainnah, sebagaimana firman-Nya:
يَاأَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ()ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَرْضِيَّةً()فَادْخُلِي فِي عِبَادِي()وَادْخُلِي جَنَّتِي
Yakni, hai jiwa yang
tentram dan mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb
engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia ridha kepada engkau maka
bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku
(Al Fajr, 28-31). Inilah martabat di mana jiwa manusia
memperoleh najat (keselamatan) dari segala kelemahan, lalu
dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohaniah, dan sedemikian rupa melekat
menjadi satu dengan Allah Ta'ala, sehingga ia tidak dapat hidup tanpa
Dia. Laksana air mengalir dari atas ke bawah yang -- karena banyaknya dan
tiada sesuatu yang menghambatnya -- maka air itu terjun dengan deras, begitu pula
jiwa manusia tidak henti-hentinya mengalir terus dan menjurus
ke arah Tuhan. Ke arah inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan: "Hai jiwa yang tentram, yang
mendapat ketentraman dari Tuhan,
kembalilah kepada Rabb engkau."
Ringkasnya,
di dalam hidup ini jugalah dan bukan sesudah mati, manusia menciptakan perubahan
yang gilang-gemilang. Dan di dalam dunia inilah dan bukan di tempat lain, ia menemui suatu surga.
Dan sebagaimana tercantum dalam ayat
itu yakni, "Kembalilah kepada Rabb (Pemelihara) engkau", seperti
itu pulalah pada waktu itu ia mendapat pemeliharaan
dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya.
Dari mata air pemberi kehidupan inilah ia mereguk air itu,
oleh karena itu ia terlepas dari maut (kematian), sebagaimana firman
Allah Ta'ala pada tempat lain dalam Quran Syarif:
قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا()وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Yakni, barangsiapa yang
membersihkan diri dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan
tidak akan binasa. Akan
tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat-hasrat duniawi -- yang
merupakan dorongan-dorongan thabi’i (alami) – sungguh telah putus-asalah
ia dari hidup ini (Asy-Syams, 10-11).
Jadi, inilah tiga keadaan yang
dengan kata lain dapat disebut keadaan-keadaan thabi'i
(alami), akhlaki, dan rohani. Dan dikarenakan pada
saat kuatnya dorongan-dorongan thabi'i
(alami) menjadi sangat berbahaya dan
kadang-kadang membinasakan akhlak dan kerohanian maka di dalam Kitab Suci Allah Ta’ala dia dinamakan keadaan-keadaan
nafs ammarah.
Jika ada pertanyaan; Apakah pengaruh
Quran Syarif terhadap keadaan-keadaan thabi'i (alami)
manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu, serta
secara amal sampai batas manakah yang diperkenankannya?
Hendaklah diketahui bahwa menurut Quran
Syarif keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia mempunyai
hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki
dan rohaninya. Bahkan cara
manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlak
dan rohani manusia.
Apabila keadaan-keadaan thabi'i
(alami) dipergunakan sesuai dengan bimbingan syariat maka
sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah
menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah
menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam
sekali pada kerohanian. Oleh karena itu Quran Syarif
sangat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani dan keseimbangan jasmani
dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin,
kekusyukan, dan kerendahan hati.
Apabila kita renungkan dengan dalam maka
benar sekali kandungan falsafah yang mengatakan bahwa tingkah-laku jasmani
amat besar pengaruhnya pada ruh.
Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan thabi’i (alami)
walaupun pada lahirnya bersifat jasmani namun tidak ayal berpengaruh
pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis -- kendati pun hanya pura-pura serta dibuat-buat
– air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati pun ikut merasa sedih.
Demikian pula, apabila kita mulai tertawa
secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa
gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun
menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh
(jiwa). Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan
kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa
takabbur dan tinggi hati.
Dari
contoh-contoh di atas, nampaklah sejelas-jelasnya bahwa gerak-gerik jasmani
tidak diragukan lagi mempengaruhi keadaan ruhani. Begitu pula
pengalaman menyatakan kepada kita bahwa makanan yang beraneka-ragam juga
mempengaruhi kemampuan otak
dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang-orang
yang tidak pernah makan daging. Potensi keberanian mereka
lambat-laun semakin berkurang, sehingga akhirnya hati mereka menjadi lemah
dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.
Kesaksian hukum kudrat berkenaan dengan itu pun membuktikan bahwa di
antara binatang-binatang berkaki empat pemakan rumput tak seekor
pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian yang
dimiliki inatang pemakan daging. Hal ini dapat kita saksikan pula
pada burung-burung.
Ringkasnya, tidak dapat diragukan lagi
bahwa makanan berpengaruh pada akhlak. Benar, orang-orang yang
siang-malam mengutamakan makan daging dan sangat kurang sekali makan sayur-mayur kurang memiliki sifat santun
dan rendah hati. Sedangkan orang-orang yang mengambil jalan
tengah mewarisi kedua sifat tersebut. Mengingat akan hikmah itu Allah
Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
كُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
Yakni, makan jugalah daging
dan makanlah jugalah makanan yang lain, akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui
batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keadaan akhlak, dan agar
cara berlebihan itu tidak pula merugikan kesehatan (Al-A'raaf,
32).
Sebagaimana perbuatan dan tingkah-laku
jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula ruh pun berpengaruh
pada tubuh. Orang yang sedang mengalami kesedihan matanya tentu
tergenang air mata, orang yang sedang bergembira tentu akan tertawa. Makan,
minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi, dan lain-lain merupakan perbuatan
jasmani (thabi'i/alami), segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan
rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan
perangai kemanusiaan kita.
Luka yang terjadi pada satu tempat di otak
segera menghilangkan daya-ingat, dan luka pada tempat lainnya
menyebabkan hilangnya kesadaran.
Udara wabah yang beracun menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh, kemudian
memberi bekas pada hati, dan dalam segera mengacaukan jaringan
batiniah yang dengannya terkait segenap sistem akhlak. Akhirnya
dalam beberapa menit kemudian orang itu pun mati setelah mengalami keadaan seperti
orang gila.
Ringkasnya, penderitaan jasmani juga
memperlihatkan pemandangan menakjubkan, yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh
dan tubuh terdapat suatu pertalian (hubungan) demikian rupa, di
luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan rahasianya.
Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian
(hubungan) itu ialah apabila kita
renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk ruh justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh
tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan perempuan hamil, melainkan ruh
adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/mani)
secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio).
Kalam Suci Allah Ta'ala menjelaskan kepada
kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari
nutfah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman dalam Quran Syarif:
ثُمَّ
أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, kemudian Kami jadikan tubuh
yang berwujud dalam rahim ibu dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi
satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Maha Beberkat-lah Tuhan
dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya (Al-Mukminuun,
15). Di dalam firman-Nya bahwa: "Kami
menzahirkan lagi satu ciptaan lain di
dalam tubuh itu juga", di situ terkandung rahasia yang sangat
dalam tentang hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian
(hubungan) yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
Isyarat itu mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan-perbuatan jasmani
manusia, ucapan-ucapan, dan segala perbuatan thabi'i (alami)
manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di jalan-Nya maka hal itu berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal
perbuatan yang ikhlas pun sejak
semula sudah tersembunyi suatu ruh, sebagaimana tersembunyinya ruh
dalam nutfah.
Semakin berkembang amal-amal tersebut
maka ruh pun semakin cemerlang. Dan
tatkala amal-amal tersebut sudah sempurna maka serta-merta ruh itu
memancar dengan penampakannya yang sempurna serta memperlihatkan wujudnya sendiri dari
sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan yang jelas.
Manakala struktur amal-amal
itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat ia mulai menampakkan
sinarnya yang nyata. Itulah tahap
yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam Quran Syarif:
فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, tatkala Aku telah siap
membuat struktur dan telah
menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh-Ku
ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya (Al-Hijr,
30).
Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur
amal-amal itu telah sempurna maka di
dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh
Allah Ta'ala sebagai datang dari Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur
tersebut baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami
kemusnahan maka cahaya Ilahi yang tadinya redup serta-merta menyala
berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini wajib bagi
segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya, maka segala
sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak
ke arah itu, kecuali iblis yang
bersahabat dengan kegelapan.
Ruh Sebagai Makhluk
Saya kembali lagi kepada pembicaraan semua,
saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya
yang lathif (halus), tumbuh dari tubuh itu serta dibesarkan di dalam rahim. Yang
dimaksud dengan terciptanya itu ialah bahwa pada taraf permulaan ia tersembunyi
dan tidak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata. Pada taraf permulaan
intinya sudah terkandung dalam nutfah (sperma/mani). Tidak ragu
lagi -- sesuai dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi
-- ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh
merupakan sebuah permata cahaya ruhani yang dimiliki nutfah.
Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan
bagian dari nutfah, seperti halnya bagian-bagian badan yang
dimiliki tubuh. Akan tetapi tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang
dari luar atau jatuh ke bumi lalu
bercampur dengan bahan nutfah, melainkan ia (ruh) tersembunyi di
dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api.
Dan yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh
tidak turun dari langit secara
terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu
dengan nutfah lalu masuk ke
dalam rahim.
Betapa pun pendapat demikian tidak dapat dibenarkan.
Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan kita. Sebab
setiap hari kita menyaksikan bahwa di dalam
makanan yang kotor dan basi serta
di dalam borok yang kotor terdapat ribuan kuman. Pada pakaian
yang kotor melekat ratusan bakteri. Di
dalam perut manusia pun berkembang-biak cacing-cacing kermi dan sebagainya.
Sekarang, dapatkah kita mengatakan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang
datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah ruh muncul
dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil ini terbukti juga bahwa
ruh adalah suatu makhluk (yang diciptakan).
Kelahiran
Kedua bagi Ruh
Maksud kami melalui uraian
ini adalah, bahwa Yang Maha Kuasa -- yang dengan kekuasaan sempurna
telah memunculkan ruh dari tubuh
juga -- Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak-gerik
ruh bergantung kepada gerak-gerik tubuh kita. Kejurusan mana kita
membawa tubuh pastilah ruh pun akan ikut serta. Oleh karena itu
menjadi kewajiban bagi Kitab Suci Allah Ta’ala untuk
memperhatikan keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia.
Itulah sebabnya maka Quran Syarif sangat
menaruh perhatian terhadap perbaikan keadaan-keadaan thabi'i
(alami) manusia dan mencantumkan petunjuk-petunjuk
berkenaan dengan: tertawa, menangis, makan-minum, berpakaian, tidur, berbicara,
diam, kawin, membujang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi dan
sebagainya untuk kebersihan lahiriah. Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus
dalam keadaan sakit dan dalam keadaan
sehat. Dan Quran Syarif menegaskan bahwa keadaan-keadaan jasmani manusia
berpengaruh pada keadaan-keadaan ruhani. Seandainya semua petunjuk
itu ditulis secara terinci, tidak dapat saya bayangkan apakah waktu
mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.
Kemajuan
Manusia Secara Bertahap
Ketika saya merenungkan Firman
suci Allah dan memperhatikan -- bahwa mengapa di dalam ajaran-ajaran-Nya Dia
menganugerahkan kepada manusia kaidah-kaidah perbaikan-perbaikan terhadap
keadaan-keadaan thabi'i (alami), lalu secara perlahan-lahan mengangkatnya
ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan
ruhani -- maka nampak kepada saya bahwa kaidah-kaidah yang mengandung
nilai-nilai kebijakan itu adalah sebagai berikut:
(i) Pertama, Allah berkehendak melepaskan
manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun,
makan-minum, bercakap-cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan
dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan Dia
mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dapat
dinamakan adab dan tata-krama.
(ii) Lalu Dia memberikan keseimbangan
pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia, yang dengan kata lain dapat
disebut akhlaq razilah (akhlak rendah), sehingga dengan mencapai keseimbangan
itu ia dapat masuk ke dalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi/mulia).
Akan tetapi, kedua langkah ini pada hakikatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan
dalam keadaan-keadaan thabi'i (alami), hanya perbedaan tinggi-rendah
sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan
tatanan akhlak dengan cara demikian sehingga melaluinya manusia dapat
maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi/mulia.
(iii) Dan selanjutnya Dia telah menerapkan
tingkat kemajuan ketiga, yakni manusia tenggelam dalam kecintaan
dan keridhaan Sang Maha
Pencipta-nya Yang Hakiki serta segenap wujudnya menjadi milik Allah.
Inilah suatu tingkat (martabat) yang untuk mengingatkannya maka agama
orang-orang Muslim telah diberi nama Islam. Sebab yang disebut Islam
ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisihkan sesuatu bagi
dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
·
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ
وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْ فٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
·
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()لَا شَرِيكَ لَهُ
وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
·
وَأَنَّ هَذَا
صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
·
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Yakni, orang yang mendapat keselamatan ialah
orang yang untuk Allah menyerahkan diri bagaikan hewan kurban di jalan-Nya, dan
dia menunjukkan keikhlasannya tidak hanya dengan niat saja melainkan dengan
perbuatan-perbuatan baik. Barangsiapa berbuat demikian ganjarannya sudah
ditetapkan di sisi Allah. Dan bagi
orang-orang yang demikian sedikit pun tidak akan takut dan tidak pula akan
berduka-cita (Al-Baqarah 113). Katakanlah, "Shalatku,
pengorbananku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, yang sifat rabbubiyyat-Nya
melingkupi segala sesuatu. Tiada sesuatu dan tiada seorang pun yang merupakan sekutu bagi-Nya, dan tidak ada makhluk yang
menyekutui-Nya. Kepadaku diperintahkan agar aku berbuat demikian dan aku adalah
yang paling pertama berdiri tegak di atas makna Islam, yakni yang
mengorbankan diri di jalan Allah” (Al-An'aam, 163-164). Inilah
jalan-Ku maka ikutilah jalan-Ku, dan sebaliknya jangan ikuti jalan lain, karena
engkau nanti akan menyimpang jauh dari Allah (Al-An'aam, 154). Katakanlah
kepada mereka, "Jika kamu cinta kepada Allah maka ikutilah aku, dan
berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kepada kamu dan mengampun
dosa-dosa kamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (Aali
'Imran, 32).
Perbedaan
Antara Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki serta
Penolakan
Atas Konsep Kekekalan Hidup
Sekarang kami akan menerangkan ketiga
tingkat keadaan manusia satu demi
satu. Akan tetapi pertama-tama perlu diingat bahwa menurut isyarah-isyarah Kalam
Suci Allah Ta’ala keadaan thabi'i (alami) manusia yang bersumber dan
berpangkal dari nafs ammarah itu bukanlah sesuatu yang terpisah
dari keadaan-keadaan akhlaki. Sebab Kalam Suci Allah telah
menempatkan semua potensi (kekuatan) alami, keinginan-keinginan, serta dorongan-dorongan
jasmani sebagai keadaan-keadaan thabi'i (alami) -- yang secara
sadar dilakukan dengan teratur, seimbang dan sesuai dengan kesempatan
serta keadaan -- akan mengambil warna
akhlak.
Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki
bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan rohani,
justru keadaan-keadaan akhlaki itulah yang akan mengambil warna
kerohanian dengan cara meleburkan diri sepenuhnya pada Allah,
mensucikan diri, memutuskan segala hubungan hanya untuk melekatkan
diri kepada Allah serta dengan penuh kecintaan, penuh keasyikan (‘isyq),
penuh ketenangan, penuh ketentraman menyerahkan diri sepenuhnya kepada
Allah.
Selama keadaan-keadaan thabi'i (alami) tidak beralih ke
dalam warna akhlak, selama itu manusia tidak layak
mendapat pujian, sebab keadaan itu terdapat di kalangan hewan lain, bahkan pada
tumbuh-tumbuhan. Begitu pula dengan hanya memiliki warna akhlak saja tidak dapat menganugerahi
manusia kehidupan rohani. Bahkan seseorang yang mengingkari adanya Wujud Allah Ta'ala sekali pun dapat
memperlihatkan akhlak yang baik. Kerendahan hati, atau kehalusan
budi, atau suka damai, meninggalkan kejahatan dan tidak mempedulikan orang-orang bejad, semua
itu adalah keadaan-keadaan thabi'i
(alami). Dan semua sifat itu dapat juga dimiliki oleh seorang
yang rendah, yang tidak mengenal Sumber najat (keselamatan)
yang sebenarnya.
Banyak juga binatang berkaki empat yang
rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka cenderung menampakkan sikap
damai. Jika mereka tidur, dipukuli dengan tongkat mereka tidak melawan. Namun walau demikian
mereka tidak dapat disebut manusia. Apalagi dengan sifat-sifat
itu bagaimana mungkin mereka akan dapat menjadi manusia yang tinggi
martabatnya. Begitu pula seorang penganut akidah (kepercayaan) paling
buruk sekali pun, bahkan juga pelaku berbagai kejahatan dapat memiliki sifat-sifat
semacam itu.
Mungkin saja seorang manusia dalam hal kasih-sayang
mencapai batas sedemikian rupa sehingga ia tidak tega membunuh kuman-kuman yang
ada pada lukanya. Ia begitu tolerannya terhadap makhluk-makhluk hidup,
sehingga ia tidak ingin mencelakakan kutu-kutu yang ada di kepala atau kuman-kuman
yang terdapat dalam perut,
dalam usus atau dalam otak. Bahkan dapat saya akui, bahwa ada orang yang demikian jauhnya mempunyai rasa kasih-sayang sehingga
ia berpantang minum madu. Sebab untuk memperoleh madu itu banyak nyawa
harus dibinasakan dan lebah-lebah malang
itu harus diusir dari sarangnya.
Saya percaya ada orang
yang berpantang menggunakan minyak kesturi sebab terbuat dari darah kijang[1] yang
diperoleh dengan membunuh binatang malang itu terlebih dulu
dan memisahkan dari anak-anaknya. Begitu pula saya tidak menyangkal, ada orang
yang tidak mau menggunakan mutiara dan tidak mau memakai sutera,
sebab keduanya diperoleh dengan cara membinasakan hewan-hewan malang itu. Bahkan saya percaya ada orang
yang ketika sakit berpantang menggunakan lintah[2]
dan membiarkan dirinya sendiri menderita asal tidak membuat lintah itu mati.
Pada akhirnya -- baik ada orang yang percaya atau tidak, namun saya percaya -- bahwa ada orang yang memperlihatkan kasih-sayang
demikian besar, sehingga untuk menyelamatkan kutu-kutu air
ia rela membinasakan dirinya (dengan
pantang minum air, Peny).
Saya mengakui semua hal itu, akan tetapi saya
sekali-kali tidak dapat menerima bahwa semua keadaan thabi'i (alami) itu dapat disebut akhlak. Atau,
bahwa hanya dengan itu dapat dibersihkan kekotoran batin yang merintangi
jalan untuk berjumpa dengan Wujud Allah Ta'ala. Saya sekali-kali tidak akan
percaya bahwa kerendahan hati dan sikap toleran seperti itu –
yang mengenainya hewan berkaki empat dan unggas pun lebih baik dalam
perkara tersebut -- dapat menjadi faktor untuk meraih derajat kemanusiaan yang
tinggi. Bahkan, menurut saya itu adalah menentang hukum kudrat,
berlawanan dengan akhlak mulia guna mendapatkan keridhaan Allah, dan mengingkari
nikmat yang telah dilimpahkan kudrat kepada kita. Justru tingkat
keruhanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan yang
tepat setiap akhlak
menurut keadaan serta kesempatan,
dan dengan melangkah secara setia pada jalan Allah serta menyerahkan
diri kepada kehendak-Nya. Ada
pun tanda orang yang menjadi milik-Nya, ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Seorang-arif
adalah ibarat seekor ikan yang telah
disembelih oleh tangan Tuhan sedangkan airnya adalah kecintaan Ilahi.
Tiga
Cara Perbaikan Dan Diutusnya Rasulullah saw.
Ketika
Perbaikan Sangat Diperlukan
Sekarang
saya akan kembali kepada pembahasan yang semula. Saya baru saja menyebutkan
bahwa ada tiga buah sumber
keadaan-keadaan manusia, yaitu: nafs ammarah, nafs lawwaamah,
dan nafs muthmainnah, dan cara ishlah (perbaikan) pun ada
tiga macam:
Cara pertama ialah, menegakkan orang-orang
yang biadab yang tidak mengenal sopan-santun pada martabat akhlak rendah
(akhlak dasar). Yaitu supaya mereka mengikuti tata-cara manusiawi dalam
hal makan-minum, kawin, dan lainnya yang berhubungan dengan peradaban.
Tidak telanjang ke sana
ke mari, tidak memakan bangkai seperti anjing, dan tidak memperlihatkan suatu
perbuatan yang tidak sopan. Ini merupakan perbaikan dasar di antara
perbaikan keadaan-keadaan thabi'i (alami). Ini adalah
semacam perbaikan yang umpamanya jika ingin mengajarkan tata-cara manusiawi kepada salah seorang di antara orang-orang
biadab di Port Blair[3], maka
pertama-tama kepada mereka ajarkan adab (sopan-santun) dan akhlak-akhlak
dasar manusiawi.
Cara kedua untuk perbaikan itu
ialah, apabila orang itu sudah menguasai sopan-santun manusiawi secara zahir, lalu kepadanya hendaknya diajarkan akhlak-akhlak
manusiawi yang tinggi, serta mengajarkannya supaya menggunakan segala potensi
insaniah yang ada agar diterapkan pada keadaan dan kesempatan
yang tepat.
Cara ketiga untuk perbaikan itu
ialah, orang-orang yang telah memiliki akhlak tinggi, kepada orang-orang
zahid [4]
seperti itu dicicipkan kelezatan serbat kecintaan dan perjumpaan
[dengan Tuhan].
Demikian ketiga macam corak perbaikan yang telah diterangkan oleh
Quran Syarif. Dan Junjungan kita Sayyidina Muhammad
Musthafa saw., telah diutus pada zaman
ketika dunia mengalami kerusakan dan kebinasaan dalam segala
segi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Yakni, daratan telah rusak
dan lautan pun rusak (Ar-Ruum, 42). Ayat ini mengisyaratkan bahwa
orang-orang yang disebut ahlulkitab telah
rusak, begitu pula orang-orang
lain yang tidak pernah menerima siraman air wahyu juga telah rusak. Jadi,
tugas yang diemban Quran Syarif pada hakikatnya ialah menghidupkan orang-orang,
sebagaimana Dia berfirman:
اعْلَمُوا
أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
Yakni, ketahuilah bahwasanya
sekarang Allah Ta'ala menghidupkan bumi kembali
sesudah matinya (Al-Hadiid, 18). Pada zaman itu keadaan di Arab telah
mencapai batas puncak kebiadaban, dan
di kalangan mereka sudah tidak ersisa lagi suatu tatanan manusiawi
(kemanusiaan). Dan segala bentuk kemaksiatan pada pandangan mereka
merupakan suatu kebanggaan. Masing-masing orang memiliki ratusan
perempuan sebagai istri. Makan yang haram merupakan satu kecanduan menurut mereka. Menikahi
ibu kandung sendiri mereka anggap halal. Untuk itulah terpaksa Allah Ta’ala
berfirman:
حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ
Yakni, semenjak sekarang
ibu-ibu kamu diharamkan bagi kamu (An-Nisaa, 24). Begitu pula
mereka biasa makan bangkai juga makan daging manusia. Tiada perbuatan dosa di
dunia ini yang tidak mereka lakukan. Kebanyakan mereka mengingkari Hari Kemudian. Banyak di antara mereka
yang juga tidak mengakui adanya Wujud Tuhan. Mereka biasa membunuh
anak-anak perempuan mereka dengan tangan sendiri. Mereka membunuh anak-anak
yatim lalu memakan harta kekayaannya. Secara lahiriah mereka manusia akan
tetapi akal mereka mati. Tidak punya sifat hayya (malu), rendah hati, dan
tidak pula harga diri. Mereka biasa minum minuman keras seperti minum air. Siapa
yang unggul berbuat zina dialah yang disebut pemimpin kaum. Demikian kosongnya mereka dari ilmu, sehingga kaum
segenap kaum di sekitarnya menjuluki
mereka ummi (buta huruf). Pada zaman demikian serta untuk memperbaiki
kaum-kaum serupa itulah Junjungan kita Muhammad saw. telah diutus di kota Mekkah.
Demikianlah, tiga macam perbaikan
seperti telah saya terangkan. Pada hakikatnya memang itulah zamannya. Jadi, dibandingkan
dengan semua ajaran lain di dunia, Quran Syarif mendakwakan diri yang paling
sempurna dan paling lengkap. Sebab Kitab-kitab lainnya di dunia ini
tidak mendapat kesempatan melaksanakan tiga macam perbaikan itu, sedang
Quran Syarif telah memperolehnya. Dan
tujuan Quran Syarif ialah membuat hewan
menjadi manusia, dan dari manusia itu membuat manusia-manusia berakhlak,
lalu dari manusia-manusia berakhlak membuat manusia-manusia ber-Tuhan. Untuk
itulah Quran Syarif mengandung ketiga masalah tersebut.
Tujuan Pokok Ajaran Quran
Syarif Adalah Ketiga Perbaikan &
Keadaan
Thabi’i (Alami) Dapat Menjadi Akhlak Melalui Penyelarasan
Sebelum saya menerangkan ketiga perbaikan itu secara rinci, kami merasa perlu menjelaskan bahwa dalam Quran Syarif tidak terdapat suatu ajaran yang harus
dipercayai secara paksa. Justru tujuan seluruh Quran Syarif hanyalah ketiga
perbaikan itu. Dan intisari semua ajarannya adalah ketiga perbaikan
tersebut, sedangkan segenap peraturan lainnya merupakan sarana-sarana untuk perbaikan
itu. Seperti halnya seorang dokter yang dalam usahanya memulihkan kembali
kesehatan pasiennya, sewaktu-waktu perlu melakukan pembedahan dan kadang-kadang
hanya mengoleskan salep, demikian pula ajaran Quran Syarif, solidaritasnya
terhadap umat manusia telah melakukan tindakan-tindakan seperti itu, sesuai dengan
kondisi masing-masing. Maksud sebenarnya semua ajaran makrifat -- yakni
ilmu-ilmu, nasihat dan sarana-sarana
lainnya -- ialah mengantarkan umat
manusia dari keadaan-keadaan thabi'i (alami) yang memiliki
corak biadab kepada keadaan-keadaan akhlaki hingga ke
samudera kerohanian yang tiada bertepi.
Sebelumnya telah saya terangkan bahwa keadaan-keadaan
thabi'i (alami) bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan
akhlaki, melainkan keadaan-keadaan itu jugalah yang jika diterapkan
sesuai dengan pertimbangan akal dan tempat serta kesempatan
yang tepat, dengan cara yang semestinya akan mengambil corak keadaan-keadaan
akhlak.
Selama hal itu tidak dilakukan
berdasarkan perbaikan dan pertimbangan akal serta makrifat
– tidak peduli betapa pun hal itu sangat menyerupai akhlak – pada
hakikatnya itu bukan akhlak, melainkan hanya dorongan naluri yang
mengalir tanpa kendali. Seperti
halnya jika seekor anjing atau seekor
kambing yang menampakkan kecintaan atau kepatuhan kepada majikannya maka kita
tidak akan mengatakan anjing itu berakhlak, dan tidak pula akan menyebut
kambing itu beradab. Demikian pula kita tidak dapat berkata serigala
atau singa berakhlak buruk karena faktor kebuasannya. Melainkan
sebagaimana telah disebutkan keadaan akhlaki
itu mulai berlaku setelah bertindak
sesuai dengan pertimbangan akal dan ketepatan waktu.
Orang yang tidak menggunakan akal serta pikirannya adalah seperti
bayi-bayi yang hati dan akalnya belum dinaungi daya
pikir, atau seperti orang gila yang kehilangan akal dan kebijakan.
Jelaslah bahwa seorang bayi atau orang gila kadang-kadang memperlihatkan
tingkah-laku yang nampaknya seperti akhlak, akan tetapi tiada orang arif
yang dapat menamakannya akhlak, sebab tingkah-laku tersebut tidak terbit
dari sumber penalaran dan pertimbangan, melainkan timbul secara thabi'i
(alami) oleh rangsangan-rangsangan. Misalnya bayi manusia begitu lahir serta-merta
mencari buah dada ibunya. Dan anak ayam begitu menetas langsung lari untuk mematuk biji-bijian. Anak lintah mewarisi kebiasaan induknya, anak ular menampakkan kebiasaan-kebiasaan
ular, dan anak singa memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan singa.
Hendaklah diperhatikan, khususnya keadaan
anak manusia bagaimana dia begitu lahir langsung memperlihatkan kebiasaan
insani. Dan tatkala ia telah mencapai usia satu sampai satu setengah tahun,
maka kebiasaan-kebiasaan thabi’inya (alaminya) nampak semakin
nyata. Misalnya, sebagaimana ia menangis pada masa-masa awal. Kini ia menangis
lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Begitu pula senyumnya
berubah menjadi tertawa terbahak-bahak. Matanya pun memperlihatkan tanda
bahwa ia mulai melihat dengan sengaja. Pada usia ini
timbul pula suatu gejala lainnya yang bersifat thabi'i (alami),
yaitu memperlihatkan suka atau tidak-sukanya
melalui gerak-gerik, dan ia ingin memukul atau ingin memberi
sesuatu kepada orang lain. Akan tetapi
semua gerak-gerik ini sesungguhnya hal thabi'i (alami).
Jadi,
seperti halnya bayi tadi ada juga manusia biadab yang sedikit
sekali memiliki nalar manusiawi.
Dia pun hanya sekedar memperlihatkan gerakan-gerakan alami dalam setiap ucapan, perbuatan, gerak
dan diamnya, dan dia mengikuti gejolak-gejolak alaminya. Tiada suatu
perkara timbul darinya yang merupakan hasil pikiran dan pertimbangan
kekuatan batin, melainkan segala sesuatu yang timbul dari dalam dirinya
secara thabi'i (alami) terus mengalir berdasarkan rangsangan-rangsangan
dari luar.
Mungkin saja gejolak-gejolak thabi’i (alami) yang keluar dari
dalam dirinya -- akibat dari suatu rangsangan -- tidak semuanya buruk, bahkan
di antaranya ada beberapa yang menyerupai akhlak baik, akan tetapi di
dalamnya tidak terdapat campur-tangan pemikiran dan pertimbangan akal.
Kalau pun ada campur-tangan akal dan pikiran dalam kadar
tertentu, tetapi dikarenakan gejolak alami lebih dominan maka hal itu
tidak layak dipercaya. Justru sesuatu yang lebih dominanlah yang dianggap dapat
dipercaya.
Akhlak
Sejati
Ringkasnya, kita tidak dapat menyebutkan
bahwa orang yang dikuasai oleh keadaan thabi'i (alami) seperti
hewan, kanak-kanak dan orang-orang gila -- yang cara
hidupnya hampir-hampir menyerupai orang-orang biadab -- semacam itu ia memiliki
akhlak sejati. Melainkan pada hakikatnya berlakunya masa akhlak baik
atau akhlak buruk ialah semenjak akal manusia -- yang
merupakan anugerah Tuhan -- telah matang, dan dengan perantaraan akal
itu ia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, atau dua
kebaikan dari dua keburukan dalam derajatnya. Kemudian, dengan meninggalkan
jalan kebaikan timbullah di dalam hatinya suatu penyesalan
(pengecaman) dan malu atas perbuatan buruknya, itulah masa
kedua kehidupan manusia yang di dalam Kalam Suci Allah, Quran Syarif,
dinamakan dengan istilah nafs lawwaamah.
Akan tetapi hendaklah diperhatikan, bahwa
untuk mengantarkan seorang biadab sampai kepada keadaan nafs
lawwaamah tidaklah cukup dengan sekedar memberi nasihat
saja, melainkan adalah mutlak baginya untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan,
dengan itu ia tidak beranggapan bahwa kelahirannya sia-sia dan tidak
mempunyai suatu tujuan, sehingga dengan makrifat Ilahi itu timbul
pada dirinya sendiri akhlak sejati.
Oleh sebab itu Allah Ta'ala bersamaan dengan itu menekankan masalah makrifat (pengetahuan tentang) Tuhan yang
sejati, dan Dia memberi keyakinan bahwa di dalam setiap amal serta akhlak
terkandung suatu konsekuensi yang dapat mengakibatkan kelezatan
ruhani atau pun siksaan ruhani di dalam hidupnya, yang akan
menampakkan dampak-dampaknya secara nyata di dalam kehidupan kedua
(akhirat).
Pendeknya, pada derajat nafs
Lawwaamah, manusia sudah sedemikian rupa memiliki akal, makrifat,
dan hati nurani yang suci, sehingga ia mengecam (mencela)
dirinya sendiri apabila melakukan perbuatan buruk, lalu mendambakan dan menghasratkan
perbuatan yang baik. Pada derajat itulah manusia memperoleh akhlak
fadhilah (akhlak yang tinggi/mulia).
Khalq
dan Khulq
Pada tempat ini ada baiknya jika saya juga
menjelaskan definisi kata khulq dalam kadar tertentu. Hendaklah
dimaklumi bahwa khalq (خَلق) dengan tanda fatah di atas huruf kha خ)) merupakan nama dari penciptaan (kelahiran) lahiriah,
sedangkan khulq (خُلق) dengan tanda dhammah di atas huruf kha (خ) merupakan nama dari penciptaan (kelahiran) batinah.
Dikarenakan penciptaan (kelahiran) batiniah baru akan mencapai
kesempurnaan melalui akhlak – bukan melalui gejolak-gejolak thabi’i
(alami) -- oleh karena itu maka kata khulq dipakai untuk akhlak dan tidak dipergunakan untuk gejolak-gejolak
thabi'i (alami).
Lalu patut diterangkan juga, bahwa sudah
merupakan anggapan umum bahwa khulq itu hanya merupakan kelemah-lembutan
kehalusan, dan rendah hati saja. Padahal sebanding dengan dengan anggota tubuh
lahiriah, segala bentuk kelebihan manusiawi yang telah ditanamkan di
dalam batin kesemuanya itu
dinamakan khulq. Misalnya orang
menangis melalui mata, dan seiring dengan itu di dalam hatinya
terdapat rasa haru. Apabila itu digunakan pada tempatnya melalui akal
anugerah Tuhan maka ia merupakan suatu khulq (akhlak).
Begitu pula manusia melawan musuh
melalui tangan, dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hati timbul suatu kekuatan
yang disebut keberanian. Jadi, apabila manusia menggunakan kekuatan
tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan maka itu pun dinamakan khulq
(akhlak). Demikian pula kadang-kadang manusia dengan tangannya ingin menyelamatkan
orang-orang teraniaya dari orang-orang aniaya, atau ia ingin memberikan
sesuatu kepada orang miskin dan orang-orang lapar, atau dengan cara lain ingin mengkhidmati
umat manusia, dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul
suatu kekuatan yang disebut kasih-sayang. Dan kadang-kadang
manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang aniaya, dan
bersesuaian dengan itu di dalam hatinya
terdapat suatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang-kadang
manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan dan membiarkan
saja perbuatan aniaya itu, seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya
terdapat suatu kekuatan yang disebut maaf dan sabar. Dan
kadang-kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan
dan kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta-bendanya untuk
kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya
suatu kekuatan yang disebut kedermawanan.
Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan tersebut sesuai
dengan tempat dan keadaan maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan
tersebut dinamakan khulq (akhlak).
Allah Ta’ala. berfirman kepada Nabi
Muhammad saw.”
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã
Yakni, "engkau menempati
(memiliki) khulq (akhlak) yang agung" (Al-Qalam, 5). Jadi,
sesuai penjelasan itu artinya adalah bahwa “segala macam akhlak: kedermawanan, keberanian,
keadilan, kasih-sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya
terhimpun di dalam diri engkau".
Ringkasnya, sekian banyak kekuatan yang terdapat di dalam hati manusia
seperti: sopan, malu, jujur, sayang, ghairat (harga-diri), teguh, suci, bersih
hati, keseimbangan. Setia kawan, demikian juga keberanian, kedermawanan, maaf,
sabar, baik hati, lurus hati, setia, dan sebagainya, apabila semua keadaan
thabi'i (alami) ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan
serta mengikutkan pertimbangan akal dan pikiran maka semua akan dinamakan akhlak.
Semua sifat – yang pada hakikatnya
merupakan keadaan-keadaan thabi’i (alami) serta gejolak-gejolak thabi'i
(alami) manusia, dan kesemuanya itu baru dapat disebut akhlak apabila digunakan dengan sengaja sesuai
tempat dan keadaan. Oleh karena di antara potensi-potensi
thabi'i (alami) manusia terdapat suatu potensi
sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang
benar, dengan berkumpul bersama orang-orang baik dan dengan ajaran
yang suci, maka gejolak-gejolak thabi'i (alami)
semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak. Dan hal ini tidak dimiliki
oleh makhluk lainnya.
* Terjemahan ayat ini dan ayat-ayat
selanjutnya merupakan terjemahan tafsiriyah, dan penomoran ayat dimulai dengan
ayat Bismillahirrahmanirrahim sebagai ayat pertama setiap surah, kecuali
surah At-Taubah.
[1] Kijang ini dari jenis tertentu, karena tidak
semua kijang mengandung bahan kesturi, dan dari jenis tertentu ini hanya kijang
betina baru beranak yang mengandung kesturi (Pent.).
[2] Pengobatan tradisional di benua alit India menggunakan seekor lintah
untuk menghisap darah pasien. Lintah itu sendiri mati apabila kenyang (Pent.).
[3] Port Blair adalah sebuah tempat di kepulauan Andaman di masa
penjajahan Inggris dipakai tempat pengasingan orang-orang jahat dari India
(Pent.).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar