Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN II



DAFTAR ISI

                                                                                                                           Halaman
  • Pengantar Penerbit  ……………………………………………………                                                                     
  • Sambutan Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia ………………
  • Amanat Hadhrat Khalifatul Masih IV rta. ……………………………..
  • Kabar Suka  bagi para Pencari Kebenaran, Selebaran
  • Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. ……………………………………
  • Kata Pengantar oleh Maulana Jalaluddin Shams ………………………

ISLAM
·       Pendahuluan: Setiap Pengakuan dan Dalil Hendaknya Berdasar
Pada Kitab yang Diwahyukan ……………………………………………..

Jawaban Masalah Pertama ………………………………………
KEADAAN JASMANI (THABI’I), AKHLAKI DAN RUHANI MANUSIA  
·       Tiga Macam Keadaan Manusia: ………………………………………..
- Sumber Pertama: Nafs Ammarah
- Sumber Kedua: Nafs Lawwaamah
- Sumber Ketiga: Nafs Muthmainnah
- Ruh Sebagai Makhluk ……………………………………………………
- Kelahiran Kedua bagi Ruh ……………………………………………….
- Kemajuan Manusia Secara Bertahap …………………………………….
- Perbedaan Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki serta  Penolakan 
         atas   Konsep Kekekalan Hidup …………………………………………
- Tiga Cara Perbaikan dan Diutusnya Rasulullah saw. Ketika
         Perbaikan Sangat  Diperlukan …………………………………………..
- Tujuan Pokok Ajaran Quran Syarif Adalah Ketiga Perbaikan &
         Keadaan  Thabi’i Dapat Menjadi Akhlak Melalui Penyelarasan ……….
- Akhlak Sejati ……………………………………………………………
     Khalq dan Khuq

·       Perbaikan Pertama:  Perbaikan Thabi’i (Alami) ………………………
Haramnya Babi

·       Perbaikan Kedua: Keadaan-keadaan Akhlaki Manusia ………………..
     (i) Akhlak   Berkenaan Meninggalkan Kejahatan …………………………..
1.  Ihshaan (Kesucian Farji)
        Lima Obat Untuk Memelihara Kesucian Farji
2.  Amanah (Dapat Dipercaya) dan Diyaanah (Jujur)
3.  Hudnah (Tidak Jail)  dan  Hawn (Bersikap Rukun)
4.  Rifqun (Ucapan yang Sopan)  dan Qaulu Hasan (Tutur-kata yang Baik)
     (ii) Jenis-jenis Akhlak  Untuk Berbuat Kebaikan …………………………..
1. Sikap Memaafkan
2. Bersikap Adil
3. Berbuat Ihsaan (Kebajikan)
4. Memberi Tanpa Perhitungan Seperti Kepada Kaum Kerabat
      - Beberapa Contoh Ihsaan (Kebajikan) …………………………………
1.      Keberanian Sejati
2.      Lurus Hati
3.      Sabar
4.      Hamdardi (Al-Muwaasah): Solidaritas terhadap Sesama Makhluk
5.      Mencari Wujud Yang Maha Agung
- Wahyu Suatu Bukti Yang Perkasa Tentang Adanya Tuhan …………
- Hikmah Kedatangan Rasulullah saw. di Negeri Arab ………………
- Jasa-jasa Quran Syarif Kepada Dunia ………………………………
- Dalil-dalil Adanya Tuhan ……………………………………………
- Sifat-sifat Allah Ta’ala ………………………………………………

·       Perbaikan Ketiga: Keadaan-keadaan Ruhani Manusia ………………
- Sebuah Doa yang Indah ………………………………………………
- Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil …………………………………
- Khasiat Zanjabil ………………………………………………………
- Sarana untuk Menciptakan Hubungan Ruhani yang  Sempurna
  dengan Allah Ta’ala …………………………………………………

Masalah Kedua ……………………………………………….
BAGAIMANA  KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI?  
·       Tiga Makrifat  Quran Syarif Mengenai Alam Akhirat ………………..
- Rahasia Makrifat Pertama ……………………………………………
Tiga Macam Ilmu
Tiga Alam
- Rahasia Makrifat Kedua …………………………………………….
- Rahasia Makrifat Ketiga …………………………………………….

Masalah Ketiga ………………………………………………..
APA TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA  HIDUP DI DUNIA
DAN BAGAIMANA DAPAT MENCAPAINYA?  
·       Sarana-sarana untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia ……………….

Masalah Keempat ……………………………………………..
APA DAMPAK PENGAMALAN SYARIAT DI KEHIDUPAN INI
DAN DI KEHIDUPAN YANG AKAN DATANG?
·       Hikmah Sumpah Allah dengan Berbagai Benda ……………………….

Masalah Kelima …………………………………………………
SARANA-SARANA DAN JALAN APA SAJA UNTUK
MENDAPATKAN ILMU, YAKNI MAKRIFAT    
- Hakikat Fitrat Manusia ……………………………………………….
- Apakah yang Dimaksud dengan Ilham? ………………………………
- Keistimewaan Islam ………………………………………………….
- Penceramah Memperoleh Anugerah Mukalamah dan
   Mukhatabah Ilahiyah ………………………………………………………
- Sarana untuk Memperoleh Ilmu Sempurna
   adalah Ilham Allah Ta’ala ……………………………………………
- Dua Periode Kehidupan  Rasulullah Saw. ……………………………
- Tujuan Peperangan Rasulullah saw. ………………………………….


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّيْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ


  ISLAM

SETIAP PENGAKUAN DAN DALIL
HARUS BERDASARKAN PADA KITAB
YANG DIWAHYUKAN

P
ada pertemuan yang berbahagia hari ini – yang diselenggarakan dengan tujuan agar setiap pembicara yang telah sengaja diundang  untuk menguraikan keindahan-keindahan agamanya masing-masing, dengan membatasi diri masing-masing pada masalah-masalah yang sebelumnya telah diumumkan dalam selebaran-selebaran – saya hendak menguraikan keindahan-keindahan ajaran Islam.
     Sebelum saya mengawali uraian saya, sayogianya saya permaklumkan bahwa saya anggap sebagai suatu keharusan  bahwa segala sesuatu yang hendak  saya ketengahkan nanti, akan saya dasarkan pada Quran Syarif, Kalam Suci Allah Ta'ala. Saya berpendapat, sungguh penting sekali bahwa penganut salah satu suatu Kitab, yang olehnya dianggap sebagai kitab dari Tuhan, hendaknya menerangkan tiap-tiap masalah dengan mengambil keterangan-keterangan dari kitab itu juga, dan dalam memelihara ruang lingkup hak pembelaannya hendaknya tidak memperluas jangkaunya demikian jauh sehingga ia seakan-akan mengarang  suatu kitab baru.
    Oleh karena pada hari ini kami hendak menampilkan keindahan-keindahan Quran Syarif serta hendak mempertunjukkan kesempurnaan-kesempurnaannya, seyogianya dalam menerangkan suatu masalah kami tidak akan menyimpang dari keterangannya (Quran Syarif), pula seyogianya kami menulis segala uraian kami sesuai dengan acuan atau penjelasan atau kutipan dari ayat-ayatnya, dengan demikian hadirin yang terhormat akan mudah menimbang serta membuat perbandingan. Dan oleh karena tiap pembicara  yang menganut salah satu Kitab diharapkan  akan tetap mematuhi keterangan kitab wahyunya masing-masing  dan akan mengemukakan kutipan-kutipan dari kitab itu sendiri, maka pada kesempatan ini kami akan meninggalkan keterangan keterangan hadits-hadits sebab semua hadits shahih itu  bersumber dari Quran Syarif. Dan sesungguhnya Quran Syarif merupakan kitab yang paripurna dan merupakan titik penghabisan semua kitab.
     Pendek kata, hari ini adalah hari penampakan kebesaran   Quran Syarif. Kami panjatkan doa ke hadirat Ilahi Ta’ala, semoga Dia berkenan membantu kami dalam usaha ini. Amin.

Jawaban Masalah Pertama

KEADAAN JASMANI (THABI'I), AKHLAKI
DAN RUHANI MANUSIA

P
ara hadirin yang terhormat diharap maklum, bahwa pada halaman-halaman pertama risalah (tulisan) ini terdapat beberapa kata pendahuluan  yang mungkin nampak seolah-olah tidak ada sangkut-pautnya dengan uraian berikut. Namun agar jawabannya yang tepat dapat diresapi hal itu perlu dipahami, dan agar hadirin jangan menemui kesukaran dalam memahami pokok masalah, kami lebih dahulu menyertakan  beberapa patah kata pendahuluan untuk penjelasan.

Tiga Macam Keadaan Manusia

    Baiklah dimaklumi bahwa masalah pertama ialah bertalian dengan keadaan-keadaan thabi'i (alami), akhlaki, dan ruhani manusia. Maka ketahuilah bahwa Quran Syarif, Kalam suci Allah Ta'ala mengadakan pembagian  tiga keadaan itu demikian: bagi ketiga keadaan itu ditetapkan tiga sumber yang berlainan. Dengan perkataan lain oleh Quran Syarif disebutkan tiga mata air yang darinya memancar keadaan-keadaan itu secara terpisah.

Sumber Pertama: Nafs Ammarah

     Sumber pertama yang merupakan pangkal dan darinya timbul semua keadaan thabi'i (alami) manusia, Quran Syarif  menamakannya nafs Ammarah, sebagaimana Dia berfirman:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ    
Yakni, adalah ciri khas nafs Ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak-belakang (bertentangan) dengan keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk (Yusuf, 54).*
     Ringkasnya, melangkahnya manusia ke pelanggaran dan keburukan adalah suatu keadaan yang secara thabi'i (alami) menguasai dirinya, sebelum manusia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melangkah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat (pengetahuan), keadaan ini dinamai keadaan thabi'i (pembawaan alami). Bahkan  seperti halnya hewan-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan-minum, tidur-bangun, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu pula kebiasaan-kebiasaan lainnya manusia ikut kepada dorongan-dorongan thabi'inya  (alaminya). Dan manakala manusia dibimbing oleh akal dan makrifat serta memperlihatkan tuntutan timbang rasa maka saat itu keadaan tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi'i (alami); melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keadaan-keadaan akhlaki, yang mengenainya akan kami terangkan lebih lanjut.

Sumber Kedua:  Nafs Lawwamah

     Di dalam Quran Syarif sumber keadaan akhlaki itu dinamai nafs lawwaamah, sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Quran Syarif:
  
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Yakni, Aku bersumpah dengan nafs (jiwa) yang mengecam (mencela) dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya (Al-Qiyaamah, 3). Nafs lawwaamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan-keadaan manusia yang darinya timbul  keadaan akhlaki, dan sesampainya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan  hewan-hewan lainnya. Bersumpah dengan perkataan nafs lawwaamah di sini adalah untuk memberikan penghormatan kepadanya.
     Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs ammarah kepada keadaan nafs lawwaamah, yang merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah. Dinamai lawwaamah  karena dia mengecam (mencela) manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi'inya (alaminya) dan menjalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia menghendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik serta memiliki akhlak yang luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia  jangan sekali pun melakukan pelanggaran, dan ia menghendaki agar perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat thabi’inya (alaminya) diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena jiwa itu mengecam tindakan-tindakannya yang buruk maka ia dinamai nafs lawwaamah, yaitu nafs (jiwa) yang sangat mengecam.
      Walau pun nafs lawwaamah tidak menyukai dorongan-dorongan  thabi'i (alami), bahkan selalu  mengecam dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi’i (alami) mengalahkannya kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang lemah, walau pun tidak mau jatuh namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia mengecam diri sendiri atas kelemahannya.
    Ringkasnya, ini merupakan keadaan akhlaki bagi  jiwa tatkala di dalam dirinya telah terhimpun  akhlak fadhilah (akhlak tinggi/mulia) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.

Sumber Ketiga: Nafs Muthmainnah

     Kemudian ada sumber ketiga yang boleh dikatakan merupakan sumber keadaan keadaan rohani. Quran Syarif menyebut sumber ini nafs mutmainnah, sebagaimana firman-Nya:
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ()ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً()فَادْخُلِي فِي عِبَادِي()وَادْخُلِي جَنَّتِي
Yakni, hai jiwa yang tentram dan mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia ridha kepada engkau maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al Fajr, 28-31). Inilah martabat di mana jiwa manusia memperoleh najat (keselamatan) dari segala kelemahan, lalu dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohaniah, dan sedemikian rupa melekat menjadi satu dengan Allah Ta'ala, sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Laksana air mengalir dari atas ke bawah yang -- karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambatnya -- maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tidak henti-hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan:  "Hai jiwa yang tentram, yang mendapat ketentraman dari  Tuhan, kembalilah kepada Rabb engkau."
      Ringkasnya, di dalam hidup ini jugalah dan bukan sesudah mati, manusia menciptakan perubahan yang gilang-gemilang. Dan di dalam dunia inilah dan  bukan di tempat lain, ia menemui suatu surga. Dan sebagaimana tercantum dalam ayat itu yakni, "Kembalilah kepada Rabb (Pemelihara) engkau", seperti itu  pulalah pada waktu itu ia mendapat pemeliharaan dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya. Dari mata air pemberi kehidupan inilah ia mereguk air itu, oleh karena itu ia terlepas dari maut (kematian), sebagaimana firman Allah Ta'ala pada tempat lain dalam Quran Syarif:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا()وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Yakni, barangsiapa yang membersihkan diri dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan tidak akan binasa. Akan tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat-hasrat duniawi -- yang merupakan dorongan-dorongan thabi’i (alami) – sungguh telah putus-asalah ia dari hidup ini (Asy-Syams, 10-11).
    Jadi, inilah tiga keadaan yang dengan kata lain dapat disebut keadaan-keadaan thabi'i (alami), akhlaki, dan rohani. Dan dikarenakan pada saat kuatnya  dorongan-dorongan thabi'i (alami)  menjadi sangat berbahaya dan kadang-kadang membinasakan akhlak dan kerohanian maka di dalam Kitab Suci Allah Ta’ala dia dinamakan keadaan-keadaan nafs ammarah.
     Jika ada pertanyaan; Apakah pengaruh Quran Syarif terhadap keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu, serta secara amal sampai batas manakah yang diperkenankannya?
    Hendaklah diketahui bahwa menurut Quran Syarif keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki dan rohaninya. Bahkan cara manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlak dan rohani manusia.
      Apabila keadaan-keadaan thabi'i (alami) dipergunakan sesuai dengan bimbingan syariat maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu Quran Syarif sangat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, kekusyukan, dan kerendahan hati.
     Apabila kita renungkan dengan dalam maka benar sekali kandungan falsafah yang mengatakan bahwa tingkah-laku jasmani amat besar pengaruhnya  pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan thabi’i (alami) walaupun pada lahirnya bersifat jasmani namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis --  kendati pun hanya pura-pura serta dibuat-buat – air mata menggugah suatu perasaan dalam hati  dan hati pun ikut merasa sedih.
      Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh (jiwa). Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabbur  dan tinggi hati.
      Dari contoh-contoh di atas, nampaklah sejelas-jelasnya bahwa gerak-gerik jasmani tidak diragukan lagi mempengaruhi keadaan ruhani. Begitu pula pengalaman menyatakan kepada kita bahwa makanan yang beraneka-ragam juga mempengaruhi kemampuan  otak dan hati. Misalnya, silakan mengamati dengan seksama keadaan orang-orang yang tidak pernah makan daging. Potensi keberanian mereka lambat-laun semakin berkurang, sehingga akhirnya hati mereka menjadi lemah dan mereka kehilangan satu kekuatan yang terpuji anugerah Tuhan.
     Kesaksian hukum kudrat  berkenaan dengan itu pun membuktikan bahwa di antara binatang-binatang berkaki empat pemakan rumput tak seekor pun memiliki keberanian yang sebanding dengan keberanian yang dimiliki inatang pemakan daging. Hal ini dapat kita saksikan pula pada burung-burung.
    Ringkasnya, tidak dapat diragukan lagi bahwa makanan berpengaruh pada akhlak. Benar, orang-orang yang siang-malam mengutamakan makan daging dan sangat kurang sekali makan  sayur-mayur kurang memiliki sifat santun dan rendah hati. Sedangkan orang-orang yang mengambil jalan tengah mewarisi kedua sifat  tersebut. Mengingat akan hikmah itu Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
 كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا
Yakni, makan jugalah daging dan makanlah jugalah makanan yang lain, akan tetapi tiap sesuatu jangan melampaui batas agar jangan timbul pengaruh buruk pada keadaan akhlak, dan agar cara berlebihan itu tidak pula merugikan kesehatan (Al-A'raaf, 32).
     Sebagaimana perbuatan dan tingkah-laku jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula ruh pun berpengaruh pada tubuh. Orang yang sedang mengalami kesedihan matanya tentu tergenang air mata, orang yang sedang bergembira tentu akan tertawa. Makan, minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi, dan lain-lain merupakan perbuatan jasmani (thabi'i/alami), segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan perangai kemanusiaan kita.
     Luka yang terjadi pada satu tempat di otak segera menghilangkan daya-ingat, dan luka pada tempat lainnya menyebabkan  hilangnya kesadaran. Udara wabah yang beracun menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh, kemudian memberi bekas pada hati, dan dalam segera mengacaukan jaringan batiniah yang dengannya terkait segenap sistem akhlak. Akhirnya dalam beberapa menit kemudian orang itu pun mati setelah mengalami keadaan seperti orang gila.
     Ringkasnya, penderitaan jasmani juga memperlihatkan pemandangan menakjubkan, yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh terdapat suatu pertalian (hubungan) demikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkapkan rahasianya.
    Selanjutnya dalil mengenai adanya pertalian (hubungan) itu  ialah apabila kita renungkan dengan seksama, kita akan mengetahui bahwa induk  ruh  justru tubuh itu juga. Sesungguhnya ruh tidak jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan perempuan hamil, melainkan ruh adalah suatu nur (cahaya) yang justru terkandung dalam nutfah (sperma/mani) secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio).
     Kalam Suci Allah Ta'ala menjelaskan kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nutfah di dalam rahim. Sebagaimana Dia berfirman   dalam  Quran Syarif:
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Yakni, kemudian Kami jadikan tubuh yang berwujud dalam rahim ibu dalam bentuk lain serta menzahirkan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Dan Maha Beberkat-lah Tuhan dan tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya (Al-Mukminuun, 15). Di dalam firman-Nya bahwa: "Kami menzahirkan  lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga", di situ terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh, dan juga mengisyaratkan adanya pertalian (hubungan) yang sangat erat antara ruh dan tubuh manusia.
    Isyarat itu mengajarkan  kepada kita  bahwa perbuatan-perbuatan jasmani manusia, ucapan-ucapan, dan segala perbuatan thabi'i (alami) manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah dan mulai nampak di  jalan-Nya  maka hal itu berkaitan dengan falsafah  Ilahi ini juga. Yakni di dalam amal perbuatan yang ikhlas pun  sejak semula sudah tersembunyi suatu ruh, sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nutfah.
     Semakin berkembang amal-amal tersebut maka ruh pun semakin cemerlang. Dan tatkala amal-amal tersebut sudah sempurna maka serta-merta ruh itu memancar dengan penampakannya yang sempurna serta  memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi ke-ruh-annya, dan mulailah gerak kehidupan  yang jelas.
     Manakala struktur amal-amal itu sudah sempurna perkembangannya, segeralah bagaikan cahaya kilat ia  mulai  menampakkan sinarnya yang nyata.  Itulah tahap yang mengenainya Allah Ta'ala secara kiasan berfirman dalam Quran Syarif:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Yakni, tatkala Aku telah siap membuat struktur  dan telah menyelaraskan segala penzahiran manifestasinya dan Aku telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya (Al-Hijr, 30).
      Jadi, di dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur  amal-amal itu telah sempurna maka di dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Ta'ala sebagai datang dari Zat-Nya Sendiri. Dan karena struktur  tersebut baru siap  sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan maka cahaya Ilahi yang tadinya redup serta-merta menyala berkilauan. Dan dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya, maka segala sesuatu bersujud ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke  arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.

Ruh Sebagai Makhluk

     Saya kembali lagi kepada pembicaraan semua, saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya yang lathif (halus), tumbuh dari tubuh itu  serta dibesarkan di dalam rahim. Yang dimaksud dengan terciptanya itu ialah bahwa pada taraf permulaan ia tersembunyi dan tidak diketahui, kemudian menjadi nampak nyata. Pada taraf permulaan intinya sudah terkandung dalam nutfah (sperma/mani). Tidak ragu lagi -- sesuai dengan kehendak, izin serta keinginan Tuhan Samawi -- ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah. Dan ruh merupakan sebuah permata cahaya ruhani yang dimiliki nutfah.
     Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan bagian dari nutfah, seperti halnya bagian-bagian badan yang dimiliki tubuh. Akan tetapi tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang dari  luar atau jatuh ke bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah, melainkan ia (ruh) tersembunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api. Dan yang dimaksud oleh Kitab Allah, ruh tidak turun  dari langit secara terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa, kemudian secara kebetulan berpadu dengan nutfah  lalu masuk ke dalam rahim.
     Betapa pun pendapat demikian tidak dapat dibenarkan. Jika kita berpendapat seperti itu maka hukum alam menyalahkan kita. Sebab setiap hari kita menyaksikan  bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi  serta di dalam borok yang kotor terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang-biak cacing-cacing kermi dan sebagainya. Sekarang, dapatkah kita mengatakan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah ruh muncul dari dalam tubuh juga. Dan berdasarkan dalil ini terbukti juga bahwa ruh adalah suatu makhluk (yang diciptakan).

Kelahiran Kedua bagi Ruh

     Maksud kami melalui uraian ini adalah, bahwa Yang Maha Kuasa -- yang dengan kekuasaan sempurna telah memunculkan  ruh dari tubuh juga -- Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh  pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak-gerik ruh bergantung kepada gerak-gerik tubuh kita. Kejurusan mana kita membawa tubuh pastilah ruh pun akan ikut serta. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi Kitab Suci Allah Ta’ala untuk memperhatikan keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia.
     Itulah sebabnya maka Quran Syarif sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keadaan-keadaan thabi'i (alami) manusia dan  mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan: tertawa, menangis, makan-minum, berpakaian, tidur, berbicara, diam, kawin, membujang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi dan sebagainya untuk kebersihan lahiriah. Begitu pula ketentuan-ketentuan khusus dalam keadaan  sakit dan dalam keadaan sehat. Dan Quran Syarif menegaskan bahwa keadaan-keadaan jasmani manusia berpengaruh pada keadaan-keadaan ruhani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara terinci, tidak dapat saya bayangkan apakah waktu mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.

Kemajuan Manusia Secara Bertahap

     Ketika saya merenungkan Firman suci Allah dan memperhatikan -- bahwa mengapa di dalam ajaran-ajaran-Nya Dia menganugerahkan kepada manusia kaidah-kaidah perbaikan-perbaikan terhadap keadaan-keadaan thabi'i (alami), lalu secara perlahan-lahan mengangkatnya ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan ruhani -- maka nampak kepada saya bahwa kaidah-kaidah yang mengandung nilai-nilai kebijakan itu adalah sebagai berikut:
      (i) Pertama, Allah berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap-cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dapat dinamakan  adab dan tata-krama.
       (ii) Lalu Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia, yang dengan kata lain dapat disebut akhlaq razilah (akhlak rendah), sehingga dengan mencapai keseimbangan itu ia dapat masuk ke dalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi/mulia). Akan tetapi, kedua langkah ini pada hakikatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan dalam keadaan-keadaan thabi'i (alami), hanya perbedaan tinggi-rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian sehingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi/mulia.
       (iii) Dan selanjutnya Dia telah menerapkan tingkat kemajuan ketiga, yakni manusia tenggelam dalam kecintaan dan keridhaan  Sang Maha Pencipta-nya Yang Hakiki serta segenap wujudnya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat (martabat) yang untuk mengingatkannya maka agama orang-orang Muslim telah diberi nama Islam. Sebab yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan  dan tidak menyisihkan sesuatu bagi dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
·       بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْ فٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
·       قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
·       وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
·       قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Yakni, orang yang mendapat keselamatan ialah orang yang untuk Allah menyerahkan diri bagaikan hewan kurban di jalan-Nya, dan dia menunjukkan keikhlasannya tidak hanya dengan niat saja melainkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Barangsiapa berbuat demikian ganjarannya sudah ditetapkan di sisi Allah. Dan bagi orang-orang yang demikian sedikit pun tidak akan takut dan tidak pula akan berduka-cita (Al-Baqarah 113). Katakanlah, "Shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, yang sifat rabbubiyyat-Nya melingkupi segala sesuatu. Tiada sesuatu dan tiada seorang pun yang merupakan  sekutu bagi-Nya, dan tidak ada makhluk yang menyekutui-Nya. Kepadaku diperintahkan agar aku berbuat demikian dan aku adalah yang paling pertama berdiri tegak di atas makna Islam, yakni yang mengorbankan diri di jalan Allah” (Al-An'aam, 163-164). Inilah jalan-Ku maka ikutilah jalan-Ku, dan sebaliknya jangan ikuti jalan lain, karena engkau nanti akan menyimpang jauh dari Allah (Al-An'aam, 154). Katakanlah kepada mereka, "Jika kamu cinta kepada Allah maka ikutilah aku, dan berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kepada kamu dan mengampun dosa-dosa kamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (Aali 'Imran, 32).

Perbedaan Antara Keadaan Thabi’i dan Keadaan Akhlaki serta
Penolakan Atas Konsep Kekekalan Hidup
     
    Sekarang kami akan menerangkan ketiga tingkat keadaan manusia satu  demi satu. Akan tetapi pertama-tama perlu diingat bahwa menurut isyarah-isyarah Kalam Suci Allah Ta’ala keadaan thabi'i (alami) manusia yang bersumber dan berpangkal dari nafs ammarah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan akhlaki. Sebab Kalam Suci Allah telah menempatkan semua potensi (kekuatan) alami, keinginan-keinginan, serta dorongan-dorongan jasmani sebagai keadaan-keadaan thabi'i (alami) -- yang secara sadar dilakukan dengan teratur, seimbang dan sesuai dengan kesempatan serta keadaan -- akan mengambil  warna  akhlak.
     Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan rohani, justru keadaan-keadaan akhlaki itulah yang akan mengambil warna kerohanian dengan cara meleburkan diri sepenuhnya pada Allah, mensucikan diri, memutuskan segala hubungan hanya untuk melekatkan diri kepada Allah serta dengan penuh kecintaan, penuh keasyikan (‘isyq), penuh ketenangan, penuh ketentraman menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
     Selama keadaan-keadaan  thabi'i (alami) tidak beralih ke dalam warna akhlak, selama itu manusia tidak layak mendapat pujian, sebab keadaan itu  terdapat di kalangan hewan lain, bahkan pada tumbuh-tumbuhan. Begitu pula dengan hanya memiliki warna  akhlak saja tidak dapat menganugerahi manusia kehidupan rohani. Bahkan seseorang yang mengingkari  adanya Wujud Allah Ta'ala sekali pun dapat memperlihatkan akhlak yang baik. Kerendahan hati, atau kehalusan budi, atau suka damai, meninggalkan kejahatan dan tidak mempedulikan orang-orang bejad, semua itu adalah  keadaan-keadaan thabi'i (alami). Dan semua sifat itu dapat juga dimiliki oleh seorang yang rendah, yang tidak mengenal Sumber najat (keselamatan) yang sebenarnya.
     Banyak juga binatang berkaki empat yang rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka cenderung menampakkan sikap damai. Jika mereka tidur, dipukuli dengan tongkat  mereka tidak melawan. Namun walau demikian mereka tidak dapat disebut manusia. Apalagi dengan sifat-sifat itu bagaimana mungkin mereka akan dapat menjadi manusia yang tinggi martabatnya. Begitu pula seorang penganut akidah (kepercayaan) paling buruk sekali pun, bahkan juga pelaku berbagai kejahatan dapat memiliki sifat-sifat semacam itu.
     Mungkin saja seorang manusia dalam hal kasih-sayang mencapai batas sedemikian rupa sehingga ia tidak tega membunuh kuman-kuman yang ada pada lukanya. Ia begitu tolerannya terhadap makhluk-makhluk hidup, sehingga ia tidak ingin mencelakakan kutu-kutu yang ada di kepala atau kuman-kuman yang terdapat dalam perut, dalam usus atau dalam otak. Bahkan dapat saya akui, bahwa ada orang yang demikian jauhnya  mempunyai rasa kasih-sayang sehingga ia berpantang minum madu. Sebab untuk memperoleh madu itu banyak nyawa harus dibinasakan dan lebah-lebah malang itu harus diusir  dari sarangnya.
     Saya percaya ada orang yang berpantang menggunakan minyak kesturi sebab terbuat dari darah kijang[1] yang diperoleh dengan  membunuh binatang malang itu terlebih dulu dan memisahkan dari anak-anaknya. Begitu pula saya tidak menyangkal, ada orang yang tidak mau menggunakan mutiara dan tidak mau memakai sutera, sebab keduanya diperoleh dengan cara membinasakan hewan-hewan malang itu. Bahkan saya percaya ada orang yang ketika sakit berpantang menggunakan lintah[2] dan membiarkan dirinya sendiri menderita asal tidak membuat lintah itu mati. Pada akhirnya -- baik ada orang yang percaya  atau tidak, namun saya percaya  -- bahwa ada orang yang memperlihatkan kasih-sayang  demikian besar,  sehingga untuk menyelamatkan kutu-kutu air ia rela membinasakan dirinya  (dengan pantang minum air, Peny).
     Saya mengakui semua hal itu, akan tetapi saya sekali-kali tidak dapat menerima bahwa semua keadaan thabi'i  (alami) itu dapat disebut akhlak. Atau, bahwa hanya dengan itu dapat dibersihkan kekotoran batin yang merintangi jalan untuk berjumpa dengan Wujud Allah Ta'ala. Saya sekali-kali tidak akan percaya bahwa kerendahan hati dan sikap toleran seperti itu – yang mengenainya hewan berkaki empat dan unggas pun lebih baik dalam perkara tersebut -- dapat menjadi faktor untuk meraih derajat kemanusiaan yang tinggi. Bahkan, menurut saya itu adalah menentang hukum kudrat, berlawanan dengan akhlak mulia  guna mendapatkan keridhaan Allah, dan mengingkari nikmat yang telah dilimpahkan kudrat kepada kita. Justru tingkat keruhanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan yang tepat setiap  akhlak  menurut keadaan serta kesempatan, dan dengan melangkah secara setia pada jalan Allah serta menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Ada pun tanda orang yang menjadi milik-Nya, ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Seorang-arif adalah ibarat  seekor ikan yang telah disembelih oleh tangan Tuhan sedangkan airnya adalah kecintaan Ilahi.  

Tiga Cara Perbaikan Dan Diutusnya Rasulullah saw.
Ketika Perbaikan Sangat Diperlukan

      Sekarang saya akan kembali kepada pembahasan yang semula. Saya baru saja menyebutkan bahwa ada tiga  buah sumber keadaan-keadaan manusia, yaitu: nafs ammarah, nafs lawwaamah, dan nafs muthmainnah, dan cara ishlah (perbaikan) pun ada tiga macam:
      Cara pertama ialah, menegakkan orang-orang yang biadab yang tidak mengenal sopan-santun pada martabat akhlak rendah (akhlak dasar). Yaitu supaya mereka mengikuti tata-cara manusiawi dalam hal makan-minum, kawin, dan lainnya yang berhubungan dengan peradaban. Tidak telanjang ke sana ke mari, tidak memakan bangkai seperti anjing, dan tidak memperlihatkan suatu perbuatan yang tidak sopan. Ini merupakan perbaikan dasar di antara perbaikan keadaan-keadaan thabi'i (alami). Ini adalah semacam perbaikan yang umpamanya jika ingin mengajarkan tata-cara manusiawi  kepada salah seorang di antara orang-orang biadab di Port Blair[3], maka pertama-tama kepada mereka ajarkan adab (sopan-santun) dan akhlak-akhlak dasar manusiawi.
    Cara kedua untuk perbaikan itu ialah, apabila orang itu sudah menguasai sopan-santun  manusiawi secara zahir, lalu  kepadanya hendaknya diajarkan akhlak-akhlak manusiawi yang tinggi, serta mengajarkannya supaya menggunakan segala potensi insaniah yang ada agar diterapkan pada keadaan dan kesempatan yang tepat.
    Cara ketiga untuk perbaikan itu ialah, orang-orang yang telah memiliki akhlak tinggi, kepada orang-orang zahid [4] seperti itu dicicipkan kelezatan serbat kecintaan dan perjumpaan [dengan Tuhan].
    Demikian ketiga macam  corak perbaikan yang telah diterangkan oleh Quran Syarif. Dan Junjungan kita Sayyidina Muhammad Musthafa saw., telah diutus pada zaman ketika dunia mengalami kerusakan dan kebinasaan dalam segala segi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Yakni, daratan telah rusak dan lautan pun rusak (Ar-Ruum, 42). Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang disebut ahlulkitab telah rusak, begitu pula orang-orang lain yang tidak pernah menerima siraman air wahyu juga telah rusak. Jadi, tugas yang diemban Quran Syarif pada hakikatnya ialah menghidupkan orang-orang, sebagaimana Dia berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
Yakni, ketahuilah bahwasanya sekarang Allah Ta'ala  menghidupkan bumi kembali sesudah matinya (Al-Hadiid, 18). Pada zaman itu keadaan di Arab telah mencapai batas puncak kebiadaban, dan  di kalangan mereka sudah tidak ersisa lagi suatu tatanan manusiawi (kemanusiaan). Dan segala bentuk kemaksiatan pada pandangan mereka merupakan suatu kebanggaan. Masing-masing orang memiliki ratusan perempuan sebagai istri. Makan yang haram  merupakan satu kecanduan menurut mereka. Menikahi ibu kandung sendiri mereka anggap halal. Untuk itulah terpaksa Allah Ta’ala berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ
Yakni, semenjak sekarang ibu-ibu kamu diharamkan bagi kamu (An-Nisaa, 24). Begitu pula mereka biasa makan bangkai juga makan daging manusia. Tiada perbuatan dosa di dunia ini yang tidak mereka lakukan. Kebanyakan  mereka mengingkari Hari Kemudian. Banyak di antara mereka yang juga tidak mengakui adanya Wujud Tuhan. Mereka biasa membunuh anak-anak perempuan mereka dengan tangan sendiri. Mereka membunuh anak-anak yatim lalu memakan harta kekayaannya. Secara lahiriah mereka manusia akan tetapi akal mereka mati. Tidak punya sifat hayya (malu), rendah hati, dan tidak pula harga diri. Mereka biasa minum minuman keras seperti minum air. Siapa yang unggul berbuat zina dialah yang disebut pemimpin kaum. Demikian kosongnya  mereka dari ilmu, sehingga kaum segenap kaum  di sekitarnya menjuluki mereka ummi (buta huruf). Pada zaman demikian serta untuk memperbaiki kaum-kaum  serupa itulah Junjungan kita Muhammad saw. telah diutus di kota Mekkah.
      Demikianlah, tiga macam perbaikan seperti telah saya terangkan. Pada hakikatnya memang itulah zamannya. Jadi, dibandingkan dengan semua ajaran lain di dunia, Quran Syarif mendakwakan diri yang paling sempurna dan paling lengkap. Sebab Kitab-kitab lainnya di dunia ini tidak mendapat kesempatan melaksanakan tiga macam perbaikan itu, sedang Quran Syarif telah  memperolehnya. Dan tujuan Quran Syarif ialah membuat  hewan menjadi manusia, dan dari manusia itu membuat manusia-manusia berakhlak, lalu  dari  manusia-manusia berakhlak  membuat manusia-manusia ber-Tuhan. Untuk itulah Quran Syarif mengandung ketiga masalah tersebut.

Tujuan Pokok Ajaran Quran Syarif Adalah Ketiga Perbaikan &
Keadaan Thabi’i (Alami) Dapat Menjadi Akhlak Melalui Penyelarasan

     Sebelum saya menerangkan ketiga  perbaikan itu  secara rinci, kami  merasa perlu menjelaskan bahwa dalam  Quran Syarif tidak terdapat suatu ajaran yang harus dipercayai secara paksa. Justru tujuan seluruh Quran Syarif hanyalah ketiga perbaikan itu. Dan intisari semua ajarannya adalah ketiga perbaikan tersebut, sedangkan segenap peraturan lainnya merupakan sarana-sarana untuk perbaikan itu. Seperti halnya seorang dokter yang dalam usahanya memulihkan kembali kesehatan pasiennya, sewaktu-waktu perlu melakukan pembedahan dan kadang-kadang hanya mengoleskan salep, demikian pula ajaran Quran Syarif, solidaritasnya terhadap umat manusia telah melakukan tindakan-tindakan seperti itu, sesuai dengan kondisi masing-masing. Maksud sebenarnya semua ajaran makrifat -- yakni ilmu-ilmu, nasihat  dan sarana-sarana lainnya -- ialah  mengantarkan umat manusia dari keadaan-keadaan thabi'i (alami) yang memiliki corak biadab kepada keadaan-keadaan akhlaki hingga ke samudera kerohanian yang tiada bertepi.
     Sebelumnya telah saya terangkan bahwa keadaan-keadaan thabi'i (alami) bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan akhlaki, melainkan keadaan-keadaan itu jugalah yang jika  diterapkan  sesuai dengan pertimbangan akal dan tempat serta kesempatan yang tepat, dengan cara yang semestinya akan mengambil corak keadaan-keadaan akhlak.
      Selama hal itu tidak dilakukan berdasarkan perbaikan dan pertimbangan akal serta makrifat – tidak peduli betapa pun hal itu sangat menyerupai akhlak – pada hakikatnya itu bukan akhlak, melainkan hanya dorongan naluri yang mengalir tanpa kendali.  Seperti halnya jika  seekor anjing atau seekor kambing yang menampakkan kecintaan  atau kepatuhan kepada majikannya maka kita tidak akan mengatakan anjing itu berakhlak, dan tidak pula akan menyebut kambing itu beradab. Demikian pula kita tidak dapat berkata serigala atau singa berakhlak buruk karena faktor kebuasannya. Melainkan sebagaimana telah  disebutkan keadaan akhlaki itu mulai berlaku  setelah bertindak sesuai dengan pertimbangan akal dan ketepatan waktu.
     Orang yang tidak menggunakan  akal serta pikirannya adalah seperti bayi-bayi yang hati dan akalnya belum dinaungi daya pikir, atau seperti orang gila  yang kehilangan akal dan kebijakan. Jelaslah bahwa seorang bayi atau orang gila kadang-kadang memperlihatkan tingkah-laku yang nampaknya seperti akhlak, akan tetapi tiada orang arif yang dapat menamakannya akhlak, sebab tingkah-laku tersebut tidak terbit  dari sumber penalaran dan  pertimbangan, melainkan timbul secara thabi'i (alami) oleh rangsangan-rangsangan. Misalnya bayi manusia begitu lahir serta-merta mencari buah dada ibunya. Dan anak ayam begitu menetas langsung lari untuk  mematuk biji-bijian. Anak lintah  mewarisi kebiasaan induknya,  anak ular menampakkan kebiasaan-kebiasaan ular, dan anak singa memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan  singa.
    Hendaklah diperhatikan, khususnya keadaan anak manusia bagaimana dia begitu lahir langsung memperlihatkan kebiasaan insani. Dan tatkala ia telah mencapai usia satu sampai satu setengah tahun, maka kebiasaan-kebiasaan thabi’inya (alaminya) nampak semakin nyata. Misalnya, sebagaimana ia menangis pada masa-masa awal. Kini ia menangis lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Begitu pula senyumnya berubah menjadi tertawa terbahak-bahak. Matanya pun memperlihatkan tanda  bahwa ia mulai  melihat dengan sengaja. Pada usia ini timbul pula suatu gejala lainnya yang bersifat thabi'i (alami), yaitu memperlihatkan suka  atau tidak-sukanya melalui gerak-gerik, dan ia ingin memukul atau ingin memberi sesuatu kepada orang lain.  Akan tetapi semua gerak-gerik ini sesungguhnya hal thabi'i (alami).
      Jadi,  seperti halnya bayi tadi ada juga manusia biadab yang sedikit sekali memiliki nalar  manusiawi. Dia pun hanya sekedar memperlihatkan gerakan-gerakan  alami dalam setiap ucapan, perbuatan, gerak dan diamnya, dan dia mengikuti gejolak-gejolak alaminya. Tiada suatu perkara timbul darinya yang merupakan hasil pikiran dan pertimbangan kekuatan batin, melainkan segala sesuatu yang timbul dari dalam dirinya secara thabi'i (alami) terus mengalir berdasarkan rangsangan-rangsangan dari luar.
     Mungkin saja gejolak-gejolak  thabi’i (alami) yang keluar dari dalam dirinya -- akibat dari suatu rangsangan -- tidak semuanya buruk, bahkan di antaranya ada beberapa yang menyerupai akhlak baik, akan tetapi di dalamnya tidak terdapat campur-tangan pemikiran dan pertimbangan akal. Kalau pun ada campur-tangan akal dan pikiran dalam kadar tertentu, tetapi dikarenakan gejolak alami lebih dominan maka hal itu tidak layak dipercaya. Justru sesuatu yang lebih dominanlah yang dianggap dapat dipercaya.

Akhlak Sejati

      Ringkasnya, kita tidak dapat menyebutkan bahwa orang yang dikuasai oleh keadaan thabi'i (alami) seperti hewan, kanak-kanak dan orang-orang gila -- yang cara hidupnya hampir-hampir menyerupai orang-orang biadab -- semacam itu ia memiliki akhlak sejati. Melainkan pada hakikatnya berlakunya masa akhlak baik atau akhlak buruk ialah semenjak akal manusia -- yang merupakan anugerah Tuhan -- telah matang, dan dengan perantaraan akal itu ia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, atau dua kebaikan dari dua keburukan dalam derajatnya. Kemudian, dengan meninggalkan jalan kebaikan timbullah di dalam hatinya suatu penyesalan (pengecaman) dan malu atas perbuatan buruknya, itulah masa kedua kehidupan manusia yang di dalam Kalam Suci Allah, Quran Syarif, dinamakan dengan istilah nafs lawwaamah.
      Akan tetapi hendaklah diperhatikan, bahwa untuk mengantarkan seorang biadab sampai kepada keadaan nafs lawwaamah tidaklah cukup dengan sekedar memberi nasihat saja, melainkan adalah mutlak baginya untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan, dengan itu ia tidak beranggapan bahwa kelahirannya sia-sia dan tidak mempunyai suatu tujuan, sehingga dengan makrifat Ilahi itu timbul pada dirinya sendiri akhlak  sejati. Oleh sebab itu Allah Ta'ala bersamaan dengan itu menekankan masalah makrifat  (pengetahuan tentang) Tuhan yang sejati, dan Dia memberi keyakinan  bahwa di dalam setiap amal serta akhlak  terkandung suatu konsekuensi  yang dapat mengakibatkan kelezatan ruhani atau pun siksaan ruhani di dalam hidupnya, yang akan menampakkan dampak-dampaknya secara nyata di dalam kehidupan kedua (akhirat).
     Pendeknya, pada derajat nafs Lawwaamah, manusia sudah sedemikian rupa memiliki akal, makrifat, dan hati nurani yang suci, sehingga ia mengecam (mencela) dirinya sendiri apabila melakukan perbuatan  buruk, lalu mendambakan dan menghasratkan perbuatan yang baik. Pada derajat itulah manusia memperoleh akhlak fadhilah (akhlak yang tinggi/mulia).
    
Khalq dan Khulq

     Pada tempat ini ada baiknya jika saya juga menjelaskan definisi kata khulq dalam kadar tertentu. Hendaklah dimaklumi bahwa khalq (خَلق) dengan tanda fatah di atas huruf kha خ)) merupakan nama dari penciptaan (kelahiran) lahiriah, sedangkan khulq (خُلق) dengan tanda dhammah  di atas huruf kha (خ) merupakan nama dari penciptaan (kelahiran) batinah. Dikarenakan penciptaan (kelahiran) batiniah baru akan mencapai kesempurnaan melalui akhlak – bukan melalui gejolak-gejolak thabi’i (alami) -- oleh karena itu maka kata khulq dipakai untuk akhlak  dan tidak dipergunakan untuk gejolak-gejolak  thabi'i (alami).
      Lalu patut diterangkan juga, bahwa sudah merupakan anggapan umum bahwa khulq itu hanya merupakan kelemah-lembutan kehalusan, dan rendah hati saja. Padahal sebanding dengan dengan anggota tubuh lahiriah, segala bentuk kelebihan manusiawi yang telah ditanamkan di dalam batin  kesemuanya itu dinamakan khulq. Misalnya orang menangis melalui mata, dan seiring dengan itu di dalam hatinya terdapat rasa haru. Apabila itu digunakan pada tempatnya melalui akal anugerah Tuhan maka ia merupakan suatu khulq (akhlak).
    Begitu pula manusia melawan musuh melalui tangan, dan sejalan dengan gerakan itu  di dalam hati timbul suatu kekuatan yang disebut keberanian. Jadi, apabila manusia menggunakan kekuatan tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan maka itu pun dinamakan khulq (akhlak). Demikian pula kadang-kadang manusia dengan tangannya ingin menyelamatkan orang-orang teraniaya dari orang-orang aniaya, atau ia ingin memberikan sesuatu kepada orang miskin dan orang-orang lapar, atau dengan cara lain ingin mengkhidmati umat manusia, dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul suatu kekuatan yang disebut kasih-sayang. Dan kadang-kadang manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang aniaya, dan bersesuaian dengan itu di dalam  hatinya terdapat suatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang-kadang manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan dan membiarkan saja perbuatan aniaya itu, seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya terdapat suatu kekuatan yang disebut maaf dan sabar. Dan kadang-kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan dan kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta-bendanya untuk kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya  suatu kekuatan yang disebut kedermawanan. Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan tersebut dinamakan khulq (akhlak).
    Allah Ta’ala. berfirman kepada Nabi Muhammad saw.”
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã
Yakni, "engkau menempati (memiliki) khulq (akhlak) yang agung" (Al-Qalam, 5). Jadi, sesuai penjelasan itu artinya adalah bahwa “segala macam  akhlak: kedermawanan, keberanian, keadilan, kasih-sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya terhimpun di dalam diri  engkau".
     Ringkasnya,  sekian banyak kekuatan  yang terdapat di dalam hati manusia seperti: sopan, malu, jujur, sayang, ghairat (harga-diri), teguh, suci, bersih hati, keseimbangan. Setia kawan, demikian juga keberanian, kedermawanan, maaf, sabar, baik hati, lurus hati, setia, dan sebagainya, apabila semua keadaan thabi'i (alami) ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan serta mengikutkan  pertimbangan  akal dan pikiran maka semua akan dinamakan  akhlak.
      Semua sifat – yang pada hakikatnya merupakan keadaan-keadaan thabi’i (alami) serta gejolak-gejolak thabi'i (alami) manusia, dan kesemuanya itu baru dapat disebut  akhlak  apabila digunakan dengan sengaja sesuai tempat dan keadaan. Oleh karena di antara potensi-potensi thabi'i (alami) manusia terdapat suatu potensi sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang benar, dengan berkumpul bersama orang-orang baik dan dengan ajaran yang suci, maka gejolak-gejolak thabi'i (alami) semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak. Dan hal ini tidak dimiliki oleh makhluk  lainnya.



* Terjemahan ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya merupakan terjemahan tafsiriyah, dan penomoran ayat dimulai dengan ayat Bismillahirrahmanirrahim sebagai ayat pertama setiap surah, kecuali surah At-Taubah.
[1]  Kijang ini dari jenis tertentu, karena tidak semua kijang mengandung bahan kesturi, dan dari jenis tertentu ini hanya kijang betina baru beranak yang mengandung kesturi (Pent.).
[2] Pengobatan tradisional di benua alit India menggunakan seekor lintah untuk menghisap darah pasien. Lintah itu sendiri mati apabila kenyang (Pent.).
[3]  Port Blair adalah sebuah  tempat di kepulauan Andaman di masa penjajahan Inggris dipakai tempat pengasingan orang-orang jahat dari India (Pent.).
[4]  Zahid adalah orang yang meninggalkan kehidupan (kesenangan)  duniawi dan memilih akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...