BAIAT DI LUDHIANA[1]
A.R.DARD M.A
Adalah dalam bulan maret 1882 Hadhrat Ahmad menerima perintah
pertama dari Allah swt. Yang telah menjadikan beliau mujaddid. Orang-orang saleh telah memohon
untuk menerima baiat mereka sejak permulaan tahun 1883, namun beliau menolak
keinginan mereka, dan oleh karena beliau tidak mendapat wewenang semacam itu
dari Tuhan, beliau selalu menekankan ketidaksanggupannya melakukan hal itu.
Dalam bulan pebruari atau maret 1888 beliau mendapatkan perintah dari Tuhan
untuk meletakan dasar bagi jemaat dengan menyerukan orang-orang supaya baiat. Namun
beliau tidak menghendaki semuanya baiat. Namun beliau menantikan suatu
kesempatan yang tepat dan itu telah muncul dengan sendirinya ketika pada saat
meninggalnya Bashir I, orang-orang lemah dan dangkal pikiran telah memisahkan
diri dari beliau.
Patut dicatat disini bahwa apabila Hadhrat Ahmad adalah
seorang pemimpin duniawi yang mengangkat diri sendiri, maka ini merupakan saat
yang sangat tidak tepat bagi tindakan yang penuh resiko itu. Orang-orang telah
mencemoohkan beliau secara terang-terangan, karena mereka menyatakan bahwa
kematian Bashir I (4 November 1888) menunjukan kepalsuan dakwa-dakwanya. Akan
tetapi oleh karena Hadhrat Ahmad telah diutus Tuhan, ia tidak memperdulikan
ejekan dan tidak pula mencari kepopuleran, sebaliknya ia telah memilih saat
yang menurut perhitungan manusia dan dunia, sangat tidak menguntungkan bagi
suatu usaha semacam itu. Pada 1 desember 1888 beliau mengeluarkan sebuah
selebaran yang memanggil orang-orang baiat di tangan beliau.
SYARAT BAIAT
Pada tanggaal 12 Januari 1889 (9 Jumadil Awal 1306 H), hari
yang diberkati ketika putera mulia Mahmud Ahmad yang dijanjikan lahir, Hadhrat Ahmad
mengumumkan syarat-syarat masuk ke dalam gerakan. Beliau mengatakan : “orang
yang menerima baiat harus meneguhkan hatinya. Pertama, bahwa sampai mati ia
akan menjauhkan syirik yakni menyekutukan Tuhan. Kedua, menjauhkan diri dari
dusta, zina, melihat wanita lain yang bukan muhrim, kekejian, kucurangan,
kerusuhan dan pemberontakan dan singkatnya setiap jenis kejahatan. Dan tidak
akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh nafsunya bagaimanapun kuatnya.
Ketiga, bahwa ia akan menunaikan shalat lima waktu sehari tanpa lalai, sesuai
perintah Allah dan RasulNya, dan dengan sekuat kemampuannya berusaha melakukan
sembahyang tahajud, shalawat atas Nabi, memohon ampunan atas dosa-dosanya dan
memohon pertolongan Tuhan, dan sambil mengingat karunia-karunia Tuhan ia akan
selalu mensyukurinya. Keempat, bahwa dengan jalan bagaimanapun tidak akan
melukai makhluk Tuhan pada umumnya dan kaum muslimin khususnya disebabkan
pengaruh nafsunya baik dengan tangan atau lidahnya atau dengan cara lain
apapun. Kelima, bahwa dalam keadaan duka atau senang dalam keberuntungan atau
kemalangan dalam kebahagiaan atau nasib buruk, ia akan memperlihatkan dirinya
sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dan bahwa dalam setiap keadaan apapun
ia akan menerima segala ketentuan dari Tuhan, dan bahwa dengan demikian ia akan
siap memikul segala hinaan dan kesakitan. Pada setiap saat kemalangan apapun
ia tidak akan memalingkan diri dari Tuhan
bahkan akan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Keenam, bahwa ia tidak akan
mengikuti kebiasaan-kebiasaan kasar dan akan menjauhkan diri dari kecenderungan
jahat dan bahwa ia sepenuhnya akan tunduk pada Alquran dan bahwa ia kan
menjadikan firman Tuhan dan sabda-sabda
Rasulnya sebagai dasar tuntunan hidupnya. Ketujuh, bahwa ia sama sekali
akan membuang jauh rasa kebanggaan dan keangkuhan dan akan melewati
hari-harinya dengana kerendahan hati, rendah diri, ramah tamah dan lemah
lembut. Kedelapan, bahwa ia akan menganggap agama, kehormatan agama dan
kepentingan Islam lebih utama dari pada hidupnya sendiri, kekayaan dan
anak-anaknya – singkatnya lebih penting dari segala-galanya. Kesembilan, bahwa
karena Allah ia akan memperlihatkan simpati terhadap makhluk Tuhan dan dengan
sekuat tenaga ia akan menggunakan bakat alaminya untuk kesejahteraan makhluk Tuhan.
Kesepuluh, bahwa ia akan mengadakan persaudaraan dengan aku (Ahmad) atas syarat
menaatiku dalam segala kebaikan, dan memeliharanya sampai akhir hayatnyadan
hubungan ini akan mempunyai tingkatan yang demikian tinggi sehingga contohnya
tidak akan ditemui pada pertalian dunia apapun, baik mengenai hubungan darah
atapun mengenai hubungan budak dan tuannya.
MAKSUD BAIAT
Dalam bulan maret 1889 hadhrat Ahmad mengunjungi Ludhiana dan
disana beliau mengeluarkan sebuah edaran tertanggal 4 bulan itu. Di dalamnya
beliau mengatakan bahwa beliau akan tinggal di kota itu hingga 25 maret pada
sebuah rumah berdekatn dengan Munshi Ahmad Jan, Mohalla Jadid. Mereka yang
ingin menjadi pengikutnya harus dating di Ludhiana untuk maksud itu, setelah 20
maret. Setelah tanggal 25 orang-orang itu harus datang ke Qadian. Beliau juga
menerangkan maksud, keperluan dan kepentingan baiat. Beliau juga bermaksud
untuk membuat catatan teratur mengenai nama dan alamat para pengikut. Lebih
jauh beliau mengatakan : “ Allah bermaksud mendirikan sebuah Jemaat kaum
beriman untuk menzahirkan kebesaran dan kekuatannya. Dia akan membuat Jemaat
itu tumbuh dan subur untuk menegakan kasih Allah, keadilan, kesucian,
kesalehan, kedamaian dan itikad baik diantara umat manusia. Ini akan menjadi
kelompok manusia yang menyerahkan diri kepada Tuhan. Dia akan menguatkan mereka
dengan RohNya sendiri, memberkati dan mensucikan mereka. Dia akan
melipatgandakan mereka secara luar biasa seperti yang dijanjikanNya. Ribuan
manusia yang tulus akan masuk dalam barisanNya. Dia sendiri yang akan
memelihara mereka dan menumbuhkan jemaat demikian rupa sehingga jumlah dan kemajuannya
akan mencengangkan dunia. Jemaat itu akan menjadi mercusuar yang demikian tinggi sehingga menerangi
keempat penjuru dunia. Anggota-anggotanya akan merupakan pola bagi
berkat-berkat Islam. Pengikut-pengikut yang sejati akan mengungguli setiap kaum
lainnya diantara mereka hingga hari kiamat selalu akan bangkit orang-orang yang
akan menjadi pilihan Tuhan dalam segala hal. Begitulah ketentuan dari Tuhan
yang Maha Kuasa. Dia berbuat apa yang dipilihNya”.
Setelah mengumumkan edaran ini,
Hadhrat Ahmad harus pergi ke Hoshiarpur untuk beberapa hari atas undangan Sh. Mehr
Ali berkenaan dengan perkawinan putranya, ia ditemani oleh M. Abdullah
Tsanauri, Sh. Hamid Ali dan Mir Abbas Ali. Agaknya ia tela berdiam di
hoshiarpur pada 16,17 dan 18 Maret 1889. Upacara baiat resmi mulai 23 maret
1889 (20 rajab 1306 h). gedung dimana dasar Jemaat diletakan adalah kecil dan
sederhana. Di sebelah utara dan selatan terdapat dua jalan kecil, terdapat
sebuah ruang terbuka diantara kamar-kamar sebelah utara dan selatan. Tidak ada
kamar pada bagian timur dan barat. Baiat diterima di kamar bagian timur dan
dari sisi utara. Tempat itu belakangan telah dimiliki oleh jemaat dan kamar
sebelah utara diperbaiki, tetapi bentuk aslinya tetap dipertahankan. Kini tidak
terdapat kamar di bagian selatan dan sebuah masjid telah dibangun baru-baru ini
diruang terbuka.
BAIAT
Hadhrat
Ahmad duduk di sudut timur laut dari kamar, Sh.Hamid Ali ditempatkan di pintu
dan ia memanggil para murid yang dikehendaki Hadhrat Ahmad. Mlv. Nuruddin
dipanggil mula-mula sekali, lalu Mir Abbas Ali, Mian Muhammad Husein Morodabadi
dan M. Abdullah Sanauri. Satu atau dua orang lain lagi dipanggil masuk setelah
namanya disebutkan oleh Hadhrat Ahmad. Setelah itu Sh. Hamid Ali disuruh
membiarkan mereka masuk seorang demi seorang, tetapi setelah itu orang-orang
melakukan baiat secara kelompok.
Upacara itu sederhana sekali. Hadhrat
Ahmad duduk dilantai yang beralas dan merentangkan tangan kanannya kemuka,
menangkap tangan kanan dari pengikut, yang mengulangi kata-kata yang diucapkan
Hadhrat Ahmad, sedangkan tangannya dalam jaba erat. Kaataa-kata itu adalah
seperti berikut : “ hari ini di tangan ahmad, saya tobat dari segal dosaa
dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah memperbudak diriku, dan dengan
sesungguhnya dan penuh khidmat saya berjanji bahwa hingga terakhir dari
hidupku, saya akan menjauhi segala macam dosa dengan segala kemampuan yang ada
pada diri saya. Saya akan menempatkan keimanan saya diatas segala kepentingan
keduniaan. Saya akan berusaha sejauh kemampuan saya untuk melaksanakan
kesepuluh syarat baiat yang tercantum di dalam edaran tanggal 12 Januari 1889.
Saya mohon ampunan Allah untuk dosa-dosa saya di masa lampau”. Kata – kata
ini diulangi dalam bahasa Urdu, dan setelah itu kata-kata bahasa Arab di bawah
ini diulang:
اَسْتَغْفِرُاللهَ رَبِّي3x
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ أتُوْبُ اِلَيْهِ
اشهد ان لا إله الا الله وحده
لا شريك له و اشهد ان محمدا عبده و رسوله. رَبِّيْ اِنِّيْ ظَلَمَتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ
بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ
فَاِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ
“saya mohon ampun
kepada Allah swt. 3x untuk semua dosa-dosa ku dan saya kembali (tobat)
kepadaNya. Saya menyaksikan bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah
yang adalah tidak ada mempunyai sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah
hambaNya dan RasulNya. Oh Tuhan, saya telah merusak jiwaku dan saya mengakui
dosa-dosaku. Apunilah dosaku karena tidak ada lainnya yang dapat memaafkan
selain engkau”.
Setelah itu Hadhrat Ahmad menarik
tangannya ke atas untuk berdoa. Pengikutnya melakukan hal yang sama setelah doa
selesai diucapkan, maka sempurnalah upacara itu. Tidak terdapat pemandian,
pembaptisan atau hal-hal lainnya yang merupakan cirri-ciri pentahbisan pada
kepercayaan-kepercayaan lain dimana terdapat bahaya bahwa huruf menggantikan
jiwa hukum. Baiat bukan hanya sekedar upacara pentahbisan, tetapi juga
merupakan suatu perjanjian paling khidmat dengan Tuhan lewat pemimpin, yang
memegang erat tangan orang yang ditahbis untuk menanamkan kesan padanya tentang
khidmat tindakan yang ia lakukan. Kontak ini juga untuk membantu memperdalam
kesadaran akan pertanggungjawaban dan untuk meningkatkan kekuatan
pelaksanaannya.
Pendiri suci agama Islam melakukan
baiat khusus pada tiga kesempatan yang dinyatakan dalam QS.48:18 pada peristiwa
hudaibiyah dan dikenal sebagai Baiatur Ridwan. Baiat kedua dilakukan di Mekkah
sebelum Hijrah. Pada peristiwa pertama hanya terdapat 12 orang dan janji yang
diucapkan adalah : “kami tidak akan berbakti kepada siapapun kecuali Allah,
kami tidak akan mencuri, kami tidak akan melakukan zina, kami tidak akan
membunuh anak-anak kami, kami tidak akan memfitnah dan kami tidak akan
membangkang terhadap Rasul dalam segala hal yang benar”. Yang kedua terjadi
di Aqabah dimana 73 orang telah berjanji akan mempertahankan Rasulullah. Juga
kaum wanita melakukan baiat terhadap Rasulullah saw. Hal ini diterangkan di
dalam QS.40:12. Dapat diterangkan disini bahwa pada baiat kaum wanita tidak
dilakukan jabat tangan. Rasulullah saw tidak pernah menyentuh tangan kaum
wanita yang tidak bertalian keluarga dengan beliau dalam tingkatan-tingkatan
terlarang.
LUDHIANA
Dipilihnya
Ludhiana untuk baiat agaknya lebih dari pada suatu kebetulan saja. Hadhrat
Ahmad rupanya meninggalkan Qadian menuju Ludhiana dengan maksud mengantarkan
isterinya kepada orangtuanya. Tetapi orang-orang cenderung berfikir bahwa
tangan Tuhan sedang bekerja. Karena itu baiklah diketahui lebih banyak lagi
tentang kota ini yang sudah dikunjungi Hadhrat Ahmad lebih dari satu kali
sebelum baiat.
Kota ini
terletak di Punjab,190 mil barat laut Delhi. Ia adalah jalur pertemuan kereta
api yang penting. Dalam tahun 1901 jumlah penduduknya 48.640 orang. Pada tahun
1921 jumlahnya 58.880 orang. Kota ini adalah pusat gandum terbesar dan hasil
industrinya adalah syal Kasymiri,selendang, sorban, kulit, mebel dan Kendaraan.
Ludhiana
Gazettee Menulis : “ tidak banyak distrik yang memiliki daya tarik sejarah
lebih kecuali Ludhiana,karena situasinya dalam setiap masa menjadi arena
peristiwa paling penting. Karena berada di jalur Asia Tengah, yang senantiasa
dilalui oleh para kaum penyerbu dan imigran. Dan bila kita lihat sejarah, kita
dapati bahwa beberapa peperangan yang paling menentukan bagi kerajaan-kerajaan
masa itu terjadi di dekat kota ini”.
“Ludhiana di
didirikan pada tahun 1840 oleh dua orang keturunan LODI (ketika itu memerintah
Delhi) asal nama itu diambil. Kota ini dibangun dari batu-batu pra sejarah
Sunet. Orang-orang LODI menguasai kota ini hingga tahun 1620 karena telah jatuh ke tangan kaum Rais dari
Raikot. Ketika masa kejayaan Kerajaan Moghul, keluarga Raikot masih memrintah
namun orang-orang Sikh telah mengambil keuntungan dari masa keruntuhan Kerajaan
Moghul. Untuk menegakan supremasi mereka di Selatan Sultej. Beberapa kepala
suku dari Sikh mengambil daerah kaum Rais.
Kaum Rais hanya mampu mempertahankan beberapa daerah berkat bantuan George
Thomas petualang ulung terkenal dari Hariana. Pada tahun 1806 Ranjit Singh
melintasi Sultej dan menaklukan daerah kaum muslimin yang keras kepala dan
membagi-bagikan daerah mereka diantara yang seagama”.
Terdapat dua
hal yang menarik dari kota ini dimasa Hadhrat Ahmad yakni kota ini adalah pusat missi Kristen yang sangat aktif.
Noor Afshan suatu harian Kristen terbit di kota ini, yang pertama di terbirkan
pada 6 maret 1873. Sekolah Menengah Missi di kota ini adalah salah satu sekolah
tertua di India dan sangat maju. Sekolah menengah lainnya di kenal dengan
sekolah asrama Kristen dan dikelola menurut kependudukan dimana baru-baru ini
berubah menjadi pasar dan sekolahnya sudah tidak ada lagi yang merupakan tanda
kemunduran missi Kristen. Akan tetapi rumah sakit Dr. C. Brown yang didirikan
pada tahun 1894 oleh missi Prebyster Amerika ( North India School of Medicine
for Christian Women) memperlihatkan bahwa kegiatan missi Kristen masih berjalan
di kota ini walau sudah kehilangan geliatnya saat ini.
Lembaga
missi asing Barat di Amerika telah mengirimkan dua orang Missi Muda dari gereja
Presbyter Amerika ke India. Mereka berlayar dari Philadelphia 30 Mei 1833
beserta istri mereka. Mereka dari New Castle dan Huntingdon. Para siswa dari
Pricenton theological Semmynari melepas mereka dengan gemuruh. Mereka tiba di
kalkuta pada 15 Oktober. Ny.Lowrie meninggal disana pada 21 November. William
Reed dan istrinya kembali ke Amerika pada 23 Juli 1834 karena alasan kesehatan
dan meninggal di Laut. Sedang yang lainnya Rev.J.C. Lowrie D.D., anak dari
seorang Hakim Mahkamah Agung Pennsylvania di Ludhiana sampai 5 November 1834.
Dan meletakan dasar missi Kristen pertama di Punjab. Kemudian John Newton dan James
Wilson tiba di bulan Desember 1835, sehingga Lowrie harus pergi karena
kesehatannya terus merosot. Ketika ia meniggalkan India ia mengemukakan
harapannya bahwa : “missi yang didirikan di Ludhiana akan menjadi bintang
pagi yang mendahului siang penuh dari pada cahaya dan pengaruh Injil diantara
rakyat india yang mengesankan”.
Rev.M.A.
Sherring menulis dalam bukunya sejarah Missi Protestan di India hal.218 London
1875: “missi pertama yang dimasukan ke dalam Negeri Lima sungai ini di
dirikan di Ludhiana oleh orang-orang Prebyster Amerika tahun 1834. Pada waktu
itu sebuah sekolah berdiri di kota ini, yang dibuka oleh Sir Claude Wadw, agen
politik dari Pemerintah Inggris dan dimana belajar anak-anak dan keluarga
lainnya dari pada Sardar-Sardar atau kepala Sikh, orang-orang Afghanistan dan
warga Negara terhormat dari Negara itu. Sekolah itu diserahkan kepada Missi
namun pendirinya yang budiman terus membantu selama ia masih tinggal di negeri
itu dan saya kira sekolah itu masih dibawah pengawasan Missi. Awal tahun 1837
sebuah gereja Kristen di dirikan di Ludhiana”.
[1]
Dimuat dalam Sinar Islam Maret 1980 M/Aman 1359 HS, Penerjamah : Rivai Ahmad
Rahman, diketik ulang oleh : H3Rd1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar