Selasa, 18 Maret 2014

FONDASI AHMADIYAH : BAIAT LUDHIANA

BAIAT DI LUDHIANA[1]
A.R.DARD M.A
Adalah dalam bulan maret 1882 Hadhrat Ahmad menerima perintah pertama dari Allah swt. Yang telah menjadikan beliau  mujaddid. Orang-orang saleh telah memohon untuk menerima baiat mereka sejak permulaan tahun 1883, namun beliau menolak keinginan mereka, dan oleh karena beliau tidak mendapat wewenang semacam itu dari Tuhan, beliau selalu menekankan ketidaksanggupannya melakukan hal itu. Dalam bulan pebruari atau maret 1888 beliau mendapatkan perintah dari Tuhan untuk meletakan dasar bagi jemaat dengan menyerukan orang-orang supaya baiat. Namun beliau tidak menghendaki semuanya baiat. Namun beliau menantikan suatu kesempatan yang tepat dan itu telah muncul dengan sendirinya ketika pada saat meninggalnya Bashir I, orang-orang lemah dan dangkal pikiran telah memisahkan diri dari beliau.
Patut dicatat disini bahwa apabila Hadhrat Ahmad adalah seorang pemimpin duniawi yang mengangkat diri sendiri, maka ini merupakan saat yang sangat tidak tepat bagi tindakan yang penuh resiko itu. Orang-orang telah mencemoohkan beliau secara terang-terangan, karena mereka menyatakan bahwa kematian Bashir I (4 November 1888) menunjukan kepalsuan dakwa-dakwanya. Akan tetapi oleh karena Hadhrat Ahmad telah diutus Tuhan, ia tidak memperdulikan ejekan dan tidak pula mencari kepopuleran, sebaliknya ia telah memilih saat yang menurut perhitungan manusia dan dunia, sangat tidak menguntungkan bagi suatu usaha semacam itu. Pada 1 desember 1888 beliau mengeluarkan sebuah selebaran yang memanggil orang-orang baiat di tangan beliau.
SYARAT BAIAT
Pada tanggaal 12 Januari 1889 (9 Jumadil Awal 1306 H), hari yang diberkati ketika putera mulia Mahmud Ahmad yang dijanjikan lahir, Hadhrat Ahmad mengumumkan syarat-syarat masuk ke dalam gerakan. Beliau mengatakan : “orang yang menerima baiat harus meneguhkan hatinya. Pertama, bahwa sampai mati ia akan menjauhkan syirik yakni menyekutukan Tuhan. Kedua, menjauhkan diri dari dusta, zina, melihat wanita lain yang bukan muhrim, kekejian, kucurangan, kerusuhan dan pemberontakan dan singkatnya setiap jenis kejahatan. Dan tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh nafsunya bagaimanapun kuatnya. Ketiga, bahwa ia akan menunaikan shalat lima waktu sehari tanpa lalai, sesuai perintah Allah dan RasulNya, dan dengan sekuat kemampuannya berusaha melakukan sembahyang tahajud, shalawat atas Nabi, memohon ampunan atas dosa-dosanya dan memohon pertolongan Tuhan, dan sambil mengingat karunia-karunia Tuhan ia akan selalu mensyukurinya. Keempat, bahwa dengan jalan bagaimanapun tidak akan melukai makhluk Tuhan pada umumnya dan kaum muslimin khususnya disebabkan pengaruh nafsunya baik dengan tangan atau lidahnya atau dengan cara lain apapun. Kelima, bahwa dalam keadaan duka atau senang dalam keberuntungan atau kemalangan dalam kebahagiaan atau nasib buruk, ia akan memperlihatkan dirinya sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dan bahwa dalam setiap keadaan apapun ia akan menerima segala ketentuan dari Tuhan, dan bahwa dengan demikian ia akan siap memikul segala hinaan dan kesakitan. Pada setiap saat kemalangan apapun ia  tidak akan memalingkan diri dari Tuhan bahkan akan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Keenam, bahwa ia tidak akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan kasar dan akan menjauhkan diri dari kecenderungan jahat dan bahwa ia sepenuhnya akan tunduk pada Alquran dan bahwa ia kan menjadikan firman Tuhan dan sabda-sabda  Rasulnya sebagai dasar tuntunan hidupnya. Ketujuh, bahwa ia sama sekali akan membuang jauh rasa kebanggaan dan keangkuhan dan akan melewati hari-harinya dengana kerendahan hati, rendah diri, ramah tamah dan lemah lembut. Kedelapan, bahwa ia akan menganggap agama, kehormatan agama dan kepentingan Islam lebih utama dari pada hidupnya sendiri, kekayaan dan anak-anaknya – singkatnya lebih penting dari segala-galanya. Kesembilan, bahwa karena Allah ia akan memperlihatkan simpati terhadap makhluk Tuhan dan dengan sekuat tenaga ia akan menggunakan bakat alaminya untuk kesejahteraan makhluk Tuhan. Kesepuluh, bahwa ia akan mengadakan persaudaraan dengan aku (Ahmad) atas syarat menaatiku dalam segala kebaikan, dan memeliharanya sampai akhir hayatnyadan hubungan ini akan mempunyai tingkatan yang demikian tinggi sehingga contohnya tidak akan ditemui pada pertalian dunia apapun, baik mengenai hubungan darah atapun mengenai hubungan budak dan tuannya.
MAKSUD BAIAT
Dalam bulan maret 1889 hadhrat Ahmad mengunjungi Ludhiana dan disana beliau mengeluarkan sebuah edaran tertanggal 4 bulan itu. Di dalamnya beliau mengatakan bahwa beliau akan tinggal di kota itu hingga 25 maret pada sebuah rumah berdekatn dengan Munshi Ahmad Jan, Mohalla Jadid. Mereka yang ingin menjadi pengikutnya harus dating di Ludhiana untuk maksud itu, setelah 20 maret. Setelah tanggal 25 orang-orang itu harus datang ke Qadian. Beliau juga menerangkan maksud, keperluan dan kepentingan baiat. Beliau juga bermaksud untuk membuat catatan teratur mengenai nama dan alamat para pengikut. Lebih jauh beliau mengatakan : “ Allah bermaksud mendirikan sebuah Jemaat kaum beriman untuk menzahirkan kebesaran dan kekuatannya. Dia akan membuat Jemaat itu tumbuh dan subur untuk menegakan kasih Allah, keadilan, kesucian, kesalehan, kedamaian dan itikad baik diantara umat manusia. Ini akan menjadi kelompok manusia yang menyerahkan diri kepada Tuhan. Dia akan menguatkan mereka dengan RohNya sendiri, memberkati dan mensucikan mereka. Dia akan melipatgandakan mereka secara luar biasa seperti yang dijanjikanNya. Ribuan manusia yang tulus akan masuk dalam barisanNya. Dia sendiri yang akan memelihara mereka dan menumbuhkan jemaat demikian rupa sehingga jumlah dan kemajuannya akan mencengangkan dunia. Jemaat itu akan menjadi mercusuar  yang demikian tinggi sehingga menerangi keempat penjuru dunia. Anggota-anggotanya akan merupakan pola bagi berkat-berkat Islam. Pengikut-pengikut yang sejati akan mengungguli setiap kaum lainnya diantara mereka hingga hari kiamat selalu akan bangkit orang-orang yang akan menjadi pilihan Tuhan dalam segala hal. Begitulah ketentuan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dia berbuat apa yang dipilihNya”.
Setelah mengumumkan edaran ini, Hadhrat Ahmad harus pergi ke Hoshiarpur untuk beberapa hari atas undangan Sh. Mehr Ali berkenaan dengan perkawinan putranya, ia ditemani oleh M. Abdullah Tsanauri, Sh. Hamid Ali dan Mir Abbas Ali. Agaknya ia tela berdiam di hoshiarpur pada 16,17 dan 18 Maret 1889. Upacara baiat resmi mulai 23 maret 1889 (20 rajab 1306 h). gedung dimana dasar Jemaat diletakan adalah kecil dan sederhana. Di sebelah utara dan selatan terdapat dua jalan kecil, terdapat sebuah ruang terbuka diantara kamar-kamar sebelah utara dan selatan. Tidak ada kamar pada bagian timur dan barat. Baiat diterima di kamar bagian timur dan dari sisi utara. Tempat itu belakangan telah dimiliki oleh jemaat dan kamar sebelah utara diperbaiki, tetapi bentuk aslinya tetap dipertahankan. Kini tidak terdapat kamar di bagian selatan dan sebuah masjid telah dibangun baru-baru ini diruang terbuka.
BAIAT
            Hadhrat Ahmad duduk di sudut timur laut dari kamar, Sh.Hamid Ali ditempatkan di pintu dan ia memanggil para murid yang dikehendaki Hadhrat Ahmad. Mlv. Nuruddin dipanggil mula-mula sekali, lalu Mir Abbas Ali, Mian Muhammad Husein Morodabadi dan M. Abdullah Sanauri. Satu atau dua orang lain lagi dipanggil masuk setelah namanya disebutkan oleh Hadhrat Ahmad. Setelah itu Sh. Hamid Ali disuruh membiarkan mereka masuk seorang demi seorang, tetapi setelah itu orang-orang melakukan baiat secara kelompok.
Upacara itu sederhana sekali. Hadhrat Ahmad duduk dilantai yang beralas dan merentangkan tangan kanannya kemuka, menangkap tangan kanan dari pengikut, yang mengulangi kata-kata yang diucapkan Hadhrat Ahmad, sedangkan tangannya dalam jaba erat. Kaataa-kata itu adalah seperti berikut : “ hari ini di tangan ahmad, saya tobat dari segal dosaa dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah memperbudak diriku, dan dengan sesungguhnya dan penuh khidmat saya berjanji bahwa hingga terakhir dari hidupku, saya akan menjauhi segala macam dosa dengan segala kemampuan yang ada pada diri saya. Saya akan menempatkan keimanan saya diatas segala kepentingan keduniaan. Saya akan berusaha sejauh kemampuan saya untuk melaksanakan kesepuluh syarat baiat yang tercantum di dalam edaran tanggal 12 Januari 1889. Saya mohon ampunan Allah untuk dosa-dosa saya di masa lampau”. Kata – kata ini diulangi dalam bahasa Urdu, dan setelah itu kata-kata bahasa Arab di bawah ini diulang:
اَسْتَغْفِرُاللهَ رَبِّي3x مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ أتُوْبُ اِلَيْهِ
اشهد ان لا إله الا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمدا عبده و رسوله. رَبِّيْ اِنِّيْ ظَلَمَتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ  فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ فَاِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ
saya  mohon ampun kepada Allah swt. 3x untuk semua dosa-dosa ku dan saya kembali (tobat) kepadaNya. Saya menyaksikan bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah yang adalah tidak ada mempunyai sekutu, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya. Oh Tuhan, saya telah merusak jiwaku dan saya mengakui dosa-dosaku. Apunilah dosaku karena tidak ada lainnya yang dapat memaafkan selain engkau”.
Setelah itu Hadhrat Ahmad menarik tangannya ke atas untuk berdoa. Pengikutnya melakukan hal yang sama setelah doa selesai diucapkan, maka sempurnalah upacara itu. Tidak terdapat pemandian, pembaptisan atau hal-hal lainnya yang merupakan cirri-ciri pentahbisan pada kepercayaan-kepercayaan lain dimana terdapat bahaya bahwa huruf menggantikan jiwa hukum. Baiat bukan hanya sekedar upacara pentahbisan, tetapi juga merupakan suatu perjanjian paling khidmat dengan Tuhan lewat pemimpin, yang memegang erat tangan orang yang ditahbis untuk menanamkan kesan padanya tentang khidmat tindakan yang ia lakukan. Kontak ini juga untuk membantu memperdalam kesadaran akan pertanggungjawaban dan untuk meningkatkan kekuatan pelaksanaannya.
Pendiri suci agama Islam melakukan baiat khusus pada tiga kesempatan yang dinyatakan dalam QS.48:18 pada peristiwa hudaibiyah dan dikenal sebagai Baiatur Ridwan. Baiat kedua dilakukan di Mekkah sebelum Hijrah. Pada peristiwa pertama hanya terdapat 12 orang dan janji yang diucapkan adalah : “kami tidak akan berbakti kepada siapapun kecuali Allah, kami tidak akan mencuri, kami tidak akan melakukan zina, kami tidak akan membunuh anak-anak kami, kami tidak akan memfitnah dan kami tidak akan membangkang terhadap Rasul dalam segala hal yang benar”. Yang kedua terjadi di Aqabah dimana 73 orang telah berjanji akan mempertahankan Rasulullah. Juga kaum wanita melakukan baiat terhadap Rasulullah saw. Hal ini diterangkan di dalam QS.40:12. Dapat diterangkan disini bahwa pada baiat kaum wanita tidak dilakukan jabat tangan. Rasulullah saw tidak pernah menyentuh tangan kaum wanita yang tidak bertalian keluarga dengan beliau dalam tingkatan-tingkatan terlarang.
LUDHIANA
            Dipilihnya Ludhiana untuk baiat agaknya lebih dari pada suatu kebetulan saja. Hadhrat Ahmad rupanya meninggalkan Qadian menuju Ludhiana dengan maksud mengantarkan isterinya kepada orangtuanya. Tetapi orang-orang cenderung berfikir bahwa tangan Tuhan sedang bekerja. Karena itu baiklah diketahui lebih banyak lagi tentang kota ini yang sudah dikunjungi Hadhrat Ahmad lebih dari satu kali sebelum baiat.
            Kota ini terletak di Punjab,190 mil barat laut Delhi. Ia adalah jalur pertemuan kereta api yang penting. Dalam tahun 1901 jumlah penduduknya 48.640 orang. Pada tahun 1921 jumlahnya 58.880 orang. Kota ini adalah pusat gandum terbesar dan hasil industrinya adalah syal Kasymiri,selendang, sorban, kulit, mebel dan Kendaraan.
            Ludhiana Gazettee Menulis : “ tidak banyak distrik yang memiliki daya tarik sejarah lebih kecuali Ludhiana,karena situasinya dalam setiap masa menjadi arena peristiwa paling penting. Karena berada di jalur Asia Tengah, yang senantiasa dilalui oleh para kaum penyerbu dan imigran. Dan bila kita lihat sejarah, kita dapati bahwa beberapa peperangan yang paling menentukan bagi kerajaan-kerajaan masa itu terjadi di dekat kota ini”.
            “Ludhiana di didirikan pada tahun 1840 oleh dua orang keturunan LODI (ketika itu memerintah Delhi) asal nama itu diambil. Kota ini dibangun dari batu-batu pra sejarah Sunet. Orang-orang LODI menguasai kota ini hingga tahun 1620  karena telah jatuh ke tangan kaum Rais dari Raikot. Ketika masa kejayaan Kerajaan Moghul, keluarga Raikot masih memrintah namun orang-orang Sikh telah mengambil keuntungan dari masa keruntuhan Kerajaan Moghul. Untuk menegakan supremasi mereka di Selatan Sultej. Beberapa kepala suku dari Sikh mengambil daerah kaum Rais.  Kaum Rais hanya mampu mempertahankan beberapa daerah berkat bantuan George Thomas petualang ulung terkenal dari Hariana. Pada tahun 1806 Ranjit Singh melintasi Sultej dan menaklukan daerah kaum muslimin yang keras kepala dan membagi-bagikan daerah mereka diantara yang seagama”.
            Terdapat dua hal yang menarik dari kota ini dimasa Hadhrat Ahmad yakni kota ini  adalah pusat missi Kristen yang sangat aktif. Noor Afshan suatu harian Kristen terbit di kota ini, yang pertama di terbirkan pada 6 maret 1873. Sekolah Menengah Missi di kota ini adalah salah satu sekolah tertua di India dan sangat maju. Sekolah menengah lainnya di kenal dengan sekolah asrama Kristen dan dikelola menurut kependudukan dimana baru-baru ini berubah menjadi pasar dan sekolahnya sudah tidak ada lagi yang merupakan tanda kemunduran missi Kristen. Akan tetapi rumah sakit Dr. C. Brown yang didirikan pada tahun 1894 oleh missi Prebyster Amerika ( North India School of Medicine for Christian Women) memperlihatkan bahwa kegiatan missi Kristen masih berjalan di kota ini walau sudah kehilangan geliatnya saat ini.
            Lembaga missi asing Barat di Amerika telah mengirimkan dua orang Missi Muda dari gereja Presbyter Amerika ke India. Mereka berlayar dari Philadelphia 30 Mei 1833 beserta istri mereka. Mereka dari New Castle dan Huntingdon. Para siswa dari Pricenton theological Semmynari melepas mereka dengan gemuruh. Mereka tiba di kalkuta pada 15 Oktober. Ny.Lowrie meninggal disana pada 21 November. William Reed dan istrinya kembali ke Amerika pada 23 Juli 1834 karena alasan kesehatan dan meninggal di Laut. Sedang yang lainnya Rev.J.C. Lowrie D.D., anak dari seorang Hakim Mahkamah Agung Pennsylvania di Ludhiana sampai 5 November 1834. Dan meletakan dasar missi Kristen pertama di Punjab. Kemudian John Newton dan James Wilson tiba di bulan Desember 1835, sehingga Lowrie harus pergi karena kesehatannya terus merosot. Ketika ia meniggalkan India ia mengemukakan harapannya bahwa : “missi yang didirikan di Ludhiana akan menjadi bintang pagi yang mendahului siang penuh dari pada cahaya dan pengaruh Injil diantara rakyat india yang mengesankan”.
            Rev.M.A. Sherring menulis dalam bukunya sejarah Missi Protestan di India hal.218 London 1875: “missi pertama yang dimasukan ke dalam Negeri Lima sungai ini di dirikan di Ludhiana oleh orang-orang Prebyster Amerika tahun 1834. Pada waktu itu sebuah sekolah berdiri di kota ini, yang dibuka oleh Sir Claude Wadw, agen politik dari Pemerintah Inggris dan dimana belajar anak-anak dan keluarga lainnya dari pada Sardar-Sardar atau kepala Sikh, orang-orang Afghanistan dan warga Negara terhormat dari Negara itu. Sekolah itu diserahkan kepada Missi namun pendirinya yang budiman terus membantu selama ia masih tinggal di negeri itu dan saya kira sekolah itu masih dibawah pengawasan Missi. Awal tahun 1837 sebuah gereja Kristen di dirikan di Ludhiana”.




[1] Dimuat dalam Sinar Islam Maret 1980 M/Aman 1359 HS, Penerjamah : Rivai Ahmad Rahman, diketik ulang oleh : H3Rd1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...