Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN I (pengantar)




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KATA PENGANTAR PENERBIT

      Setelah Jemaat Ahmadiyah merayakan Tasyakur Seabad Ahmadiyah pada 27 Mei 1989 M., selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rta. pada bulan Desember 1996/Fatah 1375 HS  menyelenggarakan Tasyakur seabad (100 tahun) karya tulis  agung Hadhrat Masih Mau'ud & Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang berjudul Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam).
      Pada 27 Juli 2008/Wafa 13 HS, Jemaat Ahmadiyah kembali akan merayakan Tasyakur seabad, yakni Tasyakur Seabad Khilafat Ahmadiyah. Sehubungan dengan itu Khalifatul-Masih V Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Atba., telah mencanangkan program Perayaan Tasyakur Seabad Khilafat Jemaat Ahmadiyah, yang akan dilaksanakan oleh warga Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
      Dalam rangka menyongsong Perayaan Tasyakur Seabad Khilafat Jemaat Ahmadiyah tersebut, di antara berbagai buku yang akan diterbitkan oleh bidang Isyaat PB – baik penerbitan ulang maupun penerbitan baru – penerbitan  buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Pokok-pokok Hukum Islam) ini mendapat prioritas utama, setelah beberapa lama terhambat melakukan cetak ulang, karena  adanya  2 versi terjemahan baru buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam)  yaitu:
  1. yang diterjemahkan oleh Alm. Bapak Mln. Sayyid Shah Muhammad dan Alm. Bapak Mln. R. Ahmad Anwar, yang telah diterbitkan dalam beberapa edisi.
  2. yang diterjemahkan dan disunting oleh Bapak Mln. Mukhlis Ilyas dan Alm. Bapak H. Gunawan Jayaprawira, dalam rangka Tasyakur 100 Tahun (1896-1996).  
      Tanpa bermaksud mengurangi penghargaan kepada  para penterjemah lainnya,   Dewan Naskah  menetapkan terjemahan  buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) yang dilaksanakan oleh   Bapak Mln. Mukhlis Ilyas Mbsy. sebagai acuan,  dengan merujuk kepada buku  Islam Ushul Ki Filasafi dalam bahasa Urdu.  Salah satu contoh perbaikan adalah judul Islam Ushul Ki Filasafi yang sebelumnya diterjemahkan Filsafat Ajaran Islam -- (The Philosophy of The Teachings of Islam) -- menjadi Falsafah Ajaran Islam.
      Mengingat keterbatasan perbendaharaan kosa kata  bahasa Indonesia,  tidak tertutup kemungkinan upaya penyempurnaan  terjemahan buku  Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) yang dilakukan oleh Dewan Naskah periode 2007-2009 ini pun  masih terdapat beberapa kekurangan, untuk itu dalam   upaya penyempurnaan pada penerbitan selanjutnya diharapkan adanya  masukan-masukan berupa koreksi, kritik mau pun saran positif lainnya dari para pembaca,  sehingga pada penerbitan berikutnya, Insya Allah, terjemahan buku Islam Ushul Ki Filasafi    (Falsafah Ajaran Islam) akan  semakin mendekati kepada kesempurnaan,  sesuai dengan makna-makna yang dimaksudkan oleh Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dalam buku aslinya.

Wassalam,
Sekretaris Isyaat PB.
Jemaat  Ahmadiyah Indonesia

Drs. Anwar Said Msi.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


SAMBUTAN AMIR NASIONAL 
JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

     Sebagaimana kita ketahui, bahwa keunggulan buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam),    yang  dibacakan oleh Maulana Abdul Karim Sahib Sialkoti r.a    pada Konferensi Agama-agama Besar di Lahore pada bulan Desember 1896,  bukan saja merupakan  kebenaran gelar Shultanul-Qalam (Raja pena) yang dianugerahkan Allah   Ta'ala kepada  Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Al-Masih Mau'ud a.s. & Imam Mahdi a.s. – yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat beragama,  tetapi juga membuktikan benarnya firman Allah Ta'ala dalam Alquran Suci bahwa tujuan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut adalah  untuk mengunggulkan agama Islam atas semua agama (Qs.61:10).
     Edisi terbaru penerbitan terjemahan  buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) ini merupakan penyempurnaan yang dilakukan oleh Dewan Naskah Jemaat Ahmadiyah Indonesia,  yang telah ditetapkan melalui SK Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia: No. 9229/SK/2007, tgl. 12 Juli 2007. 
     Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Perayaan Tasyakur Seabad Khilafat Ahmadiyah pada 27 Juli 2008, penerbitan edisi terbaru buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) ini memiliki makna tersendiri, karena sebelumnya Jemaat Ahmadiyah telah merayakan 2 Tasyakuran, yaitu:
  1. Tasyakur Seabad Jemaat Ahmadiyah pada  27 Mei  1989,  
  2. Tasyakur Seabad buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Pokok-poko Hukum Islam) pada bulan Desember 1996.
      Kepada  semua pihak yang telah bekerja keras melakukan pengkhidmatan,  sehingga terjemahan buku   Islam Ushul Ki Filasafi  dalam versi bahasa Indonesia  dapat diterbitkan secara berkesinambungan – terutama sekali   para penerjemahnya:  Alm.  Bapak A.S. Shreef, Alm. Bapak Mln. Malik Aziz Ahmad Khan, Alm. Bapak Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani, Alm. Bapak Mln. R. Ahmad Anwar, dan Bapak Mln Mukhlis Ilyas Mbsy. –  dan juga kepada seluruh jajaran Dewan Naskah, kami menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya, semoga Allah Ta'ala menjadikan pengkhidmatan tersebut sebagai amal jariyah. Amin.

                                                                                                     Wassalam,


Kemang – Bogor  Oktober 2007                                             H. Abdul Basit Shd.
                                                                                                    Amir Nasional






بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


AMANAT
HADHRAT MIRZA TAHIR AHMAD
IMAM JEMAAT AHMADIYAH SELURUH DUNIA

      Jemaat Ahmadiyah seluruh dunia sedang merayakan seratus tahun penerbitan karya terkenal ini, yang aslinya disampaikan pada Konferensi Agama-agama di Lahore. tgl 26-29 Desember 1896. Isinya ditulis dalam naungan berkah Ilahi dan kesuksesan tunggalnya dijamin dengan wahyu nubuatan dari Tuhan, yang diterbitkan sebelum pelaksanaan Konferensi tersebut. Demikian pula edaran serta poster telah disebarkan di tempat-tempat umum di Lahore.
     Sebagaimana kebiasaan suatu Jemaat orang-orang   beriman,  Perayaan Tasyakur kita memiliki makna dan arti serta bebas dari jenis hura-hura dan pertunjukan yang tidak berguna serta sia-sia. Untuk itu kita merayakan  100 tahun buku ini  dengan menerjemahkannya ke dalam  bahasa-bahasa yang paling utama. Kita berharap  dengan demikian berkah-berkahnya akan diperoleh secara luas oleh banyak bangsa di dunia.
      Dengan karunia Allah semata, sejauh ini kita telah menyelesaikan terjemahan dan penerbitan buku ini ke dalam 52 bahasa utama di dunia. Sebagai tambahan,  terjemahan ke dalam bahasa-bahasa lainnya masih terus berlangsung. Kita berharap,  dengan karunia Allah, ini akan selesai sebelum akhir tahun 1996.
    Semoga Allah memberi ganjaran kepada  mereka yang telah mengerahkan kemampuan, waktu serta upaya mereka untuk mewujudkan tugas mulia ini. Amin.

Mirza Tahir Ahmad
Januari 1996

CERAMAH

ISLAMI USHUL KI FILASAFI
(Falsafah Ajaran Islam)

LATAR BELAKANG & KOMENTAR

Oleh: Maulana Jalaludin Shams

     Seorang bernama Swami Sadhu Shugan Chandra sampai 3 atau 4 tahun terus menerus berupaya mengadakan perbaikan di golongan Kaaisth Hindu.  Pada tahun 1892 terpikir olehnya, selama semua orang belum dikumpulkan bersama maka upayanya tidak akan bermanfaat. Akhirnya timbul gagasannya untuk menyelenggarakan Koferensi Agama. Pertemuan semacam itu berlangsung di Ajmir. Setelah itu dengan mempertimbangkan bahwa suasana Lahore cukup baik untuk penyelenggaraan Konferensi kedua maka pada tahun 1896 ia mulai mengadakan persiapan untuk itu.
     Swami Sahib telah membentuk sebuah komite untuk penyelenggaraan Konferensi Agama ini. Ketuanya adalah Master Dargah Parshad, sedangkan Lala Dhanpat Roy, BA, LLB, seorang pengacara  Hindu dari Pengadilan Tinggi Lahore, merupakan Sekretaris Jenderalnya. Tanggal yang ditetapkan untuk Konferensi tersebut adalah 26, 27, 28 Desember 1896. Dan berikut ini 6 orang moderator yang telah ditunjuk:
  1. Roy Bahadur Babu Partol Chand Sahib, hakim Pengadilan Tinggi, Punjab.
  2. Khan Bahadur Sheikh Khuda Bakhs Sahib, hakim Pengadilan Rendah, Lahore.
  3. Roy Bahadur Pandit Radhma Kishan Sahib Kole, pengacara Pengadilan Tinggi, Lahore, mantan Gubernur Jammu.
  4. Hadhrat Maulwi Nuruddin Sahib, tabib kerajaan.
  5. Roy Bhawani Das Sahib, MA, penjabat Extra Settlement, Jhelum.
  6. Sardar Jawahar Singh Sahib, Sekretaris Khalsa Committee, Lahore
     Swami Sadhu Shugan Chandra Sahib, atas nama Komite, dalam selebaran konferensi tersebut mengundang para ulama kenamaan dari kalangan Islam, Kristen, dan Hindu Arya agar memaparkan keindahan-keindahan agama mereka masing-masing didalam Konferensi tersebut. Dan dituliskan bahwa tujuan Konferensi Agama-agama Besar yang diselenggarakan di Balai Kota Lahore ini adalah agar kelebihan-kelebihan serta keindahan-keindahan agama yang benar dapat tampil di hadapan sekumpulan orang yang berperadaban, sehingga kecintaan terhadapnya dapat tertanam di dalam kalbu, serta dalil-dalil dan argumentasi-argumentasinya dapat dipahami oleh orang-orang secara mendalam, dan dengan demikian para tokoh suci setiap agama  akan dapat memperoleh kesempatan menanamkan kebenaran agamanya di dalam kalbu orang-orang, dan para pendengar pun memperoleh peluang untuk membandingkan setiap pidato dengan pidato lainnya di dalam pertemuan seluruh tokoh tersebut, sehingga di mana saja mereka menemukan cahaya kebenaran, mereka menerimanya.
     Pada masa sekarang ini,  karena perselisihan-perselisihan antara agama di dalam hati manusia timbul pula keinginan untuk mengetahui agama yang benar. Dan cara yang terbaik  untuk itu adalah: segenap tokoh suci agama yang memiliki kemampuan berceramah dan memberikan nasihat, berkumpul di satu tempat, dan mereka dapat menguraikan keindahan-keindahan agama masing-masing berdasarkan  topik-topik permasalahan yang telah diedarkan. Jadi,  dalam Konferensi Agama-agama Besar ini, agama yang berasal dari Tuhan sejati akan menampakkan cahayanya yang menonjol.  Untuk tujuan itulah Konferensi ini diselenggarakan. Dan para tokoh agama mengetahui benar bahwa menzahirkan kebenaran agama mereka adalah kewajiban mereka.
     Jadi,  sesuai dengan tujuan diselenggarakannya konferensi ini --  agar kebenaran-kebenaran dapat zahir -- maka Tuhan telah memberikan kesempatan penuh bagi mereka untuk memenuhi maksud tersebut, yang selamanya tidak ada  di dalam ikhtiar manusia. Kemudian lebih lanjut dalam menarik kesan mereka, Swami Sahib menuliskan:
"Apakah saya dapat menerima, apabila seseorang menyaksikan orang-orang terkena penyakit fatal dan dia yakin bahwa keselamatan mereka berada di dalam obat yang dia miliki dan dia pun menyatakan solidaritasnya terhadap umat manusia, namun tatkala orang-orang sakit itu memanggilnya agar mengobati mereka ternyata dia dengan sengaja mengelak? hati saya senantiasa bergejolak untuk mengetahui agama mana yang pada hakikatnya dipenuhi oleh kebenaran-kebenaran. Dan saya tidak memiliki kata-kata yang dapat mengungkapkan gejolak hati saya ini."
      Para wakil dari berbagai agama telah  menerima undangan Shami Sahib untuk turut serta di dalam Konferensi Agama atau Pertemuan Agama-agama Besar di Lahore itu. Dan Konferensi Agama-agama Besar ini berlangsung di Lahore pada hari-hari libur umum bulan Desember 1896. Para wakil dari berbagai agama menyampaikan  pidato mereka di dalam acara tersebut berkenaan 5 topik permasalahan yang telah diumumkan oleh Komite Konferensi.  
      Kelima topik permasalahan itu telah disebar-luaskan terlebih dulu oleh Komite untuk mendapatkan jawaban-jawabannya. Dan untuk jawaban tersebut Komite mempersyaratkan agar para penceramah sedapat mungkin membatasi hanya pada kitab yang telah diakuinya sebagai kitab suci dari sudut pandang agamanya.       Permasalahan-permasalahan itu adalah:
  1. Keadaan Jasmani (thabi'i/alami), akhlaki, dan rohani manusia.
  2. Keadaan manusia sesudah mati.
  3. Tujuan sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
  4. Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di Hari Kemudian.
  5. Apa saja sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.
      Konferensi ini berlangsung dari tanggal 26 sampai 29 Desember 1896.  Wakil-wakil dari Sanatan Darm, Hindu, Arya Samaj, Free Thinker, Brahmu Samaj, Theosophical Society, Religion of Harmony, Kristen, Islam, dan Sikh menyampaikan pidato-pidato mereka. Akan tetapi hanya satu pidato saja yang berisikan jawaban sejati  serta lengkap terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.
     Tidak dapat digambarkan bagaimana suasana tatkala Hadhrat Maulwi  Abdul Karim Sialkoti r.a.  membacakan artikel Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dengan suara yang menarik. Tidak seorang pun dari agama tertentu yang tidak memujinya secara spontan.  Tiada seorang pun yang tidak terpukau serta  tertegun. Cara penyampaiannya sangat menarik dan memikat hati. Tidak ada lagi bukti yang lebih besar tentang kehebatan artikel ini dari sikap  para penentang yang memuji-mujinya. Sebuah suratkabar berbahasa Inggris yang terkenal dan terkemuka, Civil and Militery Gazette Lahore,  -- walaupun merupakan harian Kristen -- telah memuat pujian yang tinggi terhadap artikel tersebut, dan menyatakannya sebagai suatu yang patut diperbincangkan.
     Artikel ini merupakan tulisan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Jatah waktu yang ditetapkan untuk artikel itu adalah 2 jam, namun karena belum tuntas maka Konferensi tetap diteruskan sampai tanggal 29 Desember. Harian Punjab Observer memenuhi kolom deni  kolomnya dengan pujian terhadap artikel tersebut. Suratkabar Paisa Akhbaar, Chodahwi Shadi, Sadiqul Akhbaar, Makhbir-e-Dakkan, dan General-o-Gohari Ashifi dari Kalkuta,  dan sebagainya memuat sanjungan dan pujian atas artikel tersebut. Orang-orang non-India dan non-Muslim menyatakan bahwa artikel itu adalah yang paling unggul atas artikel lainnya dalam Konferensi tersebut.
     Sekretaris Konferensi Agama-agama ini,  Lala Dhanpat Roy, BA, LLB., pengacara pada Pengadilan Tinggi Lahore, menuliskan tentang pidato ini dalam laporan Konferensi Agama-agama Besar (Dharam Mohutsu):
"Saat itu merupakan waktu rehat setengah jam setelah pidato Pandit Gudhan Das Sahib. Akan tetapi dikarenakan sesudah rehat tersebut akan ditampilkan pidato seorang utusan ternama dari Islam, maka kebanyakan hadirin yang tertarik tidak meninggalkan tempat mereka. Belum lagi pukul 1.30, gedung besar Islamia College dengan cepat mulai terisi dan dalam beberapa menit saja telah penuh. Pengunjung waktu itu antara 7 sampai 8.000 orang. Para intelek  dan orang-orang terdidik  dari berbagai agama dan suku bangsa hadir. Dan walaupun kursi-kursi, meja serta lantai yang disediakan sangat banyak dan luas, namun bagi ratusan orang tidak ada pilihan lain kecuali berdiri.
Di antara mereka  yang berdiri  itu adalah para tokoh dan pimpinan Punjab, para ulama,  barristers, pengacara, dosen, extra assisten dan dokter. Ringkasnya berbagai tokoh dari berbagai golongan hadir saat itu. Berkumpulnya orang-orang  itu demikian dan tetap berdiri dengan penuh hikmat serta kesabaran, jelas menunjukkan sejauh  mana mereka peduli terhadap gerakan suci ini. Penulis ceramah itu sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi. Akan tetapi beliau telah mengutus sendiri murid istimewa beliau, Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti, untuk membacakan artikel tersebut. Walaupun artikel itu dari panitia telah ditetapkan waktu hanya 2 jam, namun para pengunjung konferensi secara umum telah tertarik sedemikian rupa sehingga para moderator dengan senang dan penuh semangat memberikan  izin, bahwa selama artikel ini belum habis maka   acara konferensi tidak akan ditutup.
Keputusan mereka itu betul-betul sesuai dengan keinginan para hadirin dalam Konferensi tersebut. Sebab ketika waktu yang telah ditetapkan telah habis dan Maulwi Abu Yusuf Mubarak Ali pun telah memberikan jatah waktunya agar pembacaan artikel ini diselesaikan maka hadirin serta para moderator dengan luapan penuh  kegembiraan mengucapkan terima-kasih kepada maulwi tersebut. Acara Konferensi ini semua akan selesai pukul  16.30 akan tetapi  dengan memperhatikan keinginan hadirin maka acara Konferensi terpaksa harus diteruskan sampai  pukul 17.30. Sebab artikel ini selesai dalam tempo sekitar 4 jam. Dan dari awal hingga akhir orang-orang tetap tertarik serta mengikutinya."
       Perkara yang menarik adalah, sebelum pelaksanaan Konferensi itu, Pendiri Jemaat Ahmadiyah – setelah mendapat kabar dari Allah Ta'ala tentang keunggulan artikel beliau itu – pada  tanggal 21 Desember 1896 telah menyebarkan sebuah selebaran yang berjudul Kabar Suka Agung Bagi Para Pencari Kebenaran.
      Tampaknya tepat apabila dipaparkan di bawah ini pandangan-pandangan dari media massa sebagai contoh:
Civil and  Military Gazette, Lahore, menuliskan:
"Di dalam Konferensi ini perhatian mendalam serta istimewa dari hadirin, semuanya tertuju pada ceramah Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, yang sangat cakap dalam membela dan melindungi agama Islam. Dari tempat-tempat jauh orang-orang dari berbagai aliran agama berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ceramah itu. Dikarenakan Mirza Sahib sendiri tidak dapat hadir dalam Konferensi ini, untuk itulah ceramah beliau tersebut dibacakan oleh murid pilihan beliau, Munshi Abdul Karim Sahib Sialkoti. Pada tanggal 27, ceramah ini terus berlangsung selama 3 jam, dan khalayak umum mendengarkan ceramah ini dengan antusias dan penuh perhatian. Akan tetapi saat itu baru satu masalah saja yang telah selesai. Maulwi Abdul Karim berjanji, jika diberi waktu maka beliau akan membacakan bagian lainnya. Oleh karena itulah Ketua dan Panitia penyelenggara menyetujui usul itu agar dilanjutkan pada tanggal 29 Desember."
 
    Suratkabar Chodahwi Shadi, Rawalpindi, memberikan ulasan berikut terhadap ceramah Hadhrat  Masih Mau'ud a.s. itu sebagai berikut:
"Di antara ceramah-ceramah ini, ceramah paling baik dan merupakan ruh dari Konferensi ini adalah ceramah Mirza Ghulam Ahmad  dari Qadian, yang telah dibacakan dengan sangat indah dan dengan suara yang menarik oleh orator terbaik dan terkenal, Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti.  Ceramah ini selesai dalam 2 hari. Pada tanggal 27 Desember sekitar 4 jam, dan pada tanggal 29 Desember berlanjut sampai 2 jam.  Ceramah ini habis dalam total waktu 6 jam, dan terdiri dari sekitar 100 halaman.
Ringkasnya,  Maulwi Abdul Karim memulai ceramah tersebut, dan begitu mulai maka para hadirin langsung terpesona. Tiap-tiap kalimat mengundang sambutan dan pujian. Kadang-kadang ada kalimat yang diminta oleh hadirin agar diperdengarkan ulang. Sepanjang hidup, telinga kita belum pernah mendengar ceramah  seindah itu.  Para pembicara dari agama lain dalam ceramah masing-masing sebenarnya tidak memberi jawaban terhadap permasalahan yang telah ditetapkan. Kebanyakan pembicara banyak mengulas  permasalahan nomor 4 saja, sedangkan permasalahan-permasalahan lainnya sedikit sekali mereka singgung. Namun di situ tidak ada hal-hal yang memiliki ruh, kecuali ceramah Mirza Sahib yang menjawab tiap-tiap permasalahan secara rinci lagi lengkap. Para hadirin dalam Konferensi itu menyimak dengan penuh perhatian dan penuh minat serta memberikan penilaian yang tinggi.
Kami bukan murid Mirza Sahib, dan tidak pula kami memiliki hubungan apa pun dengan beliau.  Akan tetapi kami tidak dapat memadamkan rasa adil, karena memang hal itu tidak dapat diterima oleh siapa pun yang berfitrat bersih dan berhati jujur. Mirza Sahib telah membahas seluruh permasalahan berdasarkan Alquran suci dan menghiasi dasar furu' agama Islam dengan dalil-dalil akal serta argumentasi-argumentasi filsafat. Pertama-tama membuktikan masalah Ketuhanan dengan dalil-dalil secara akal, kemudian mengutip firman-firman Ilahi,  memang memperlihatkan suatu kehebatan yang menakjubkan. Mirza Sahib tidak hanya mengupas falsafah perkara-perkara Alquran, melainkan juga secara beriringan menjelaskan falsafah serta filologi kata-kata dalam Alquran.
Ringkasnya, ceramah Mirza Sahib secara keseluruhan merupakan suatu ceramah lengkap dan luas jangkauannya, di dalamnya terdapat mutiara-mutiara makrifat, hakikat, hukum, hikmah, dan rahasia yang berkilau-kilauan. Dan falsafah Ketuhanan diterangkan dengan cara demikian rupa sehingga menyebabkan semua ahli agama menjadi terpukau. Tidak ada sebanyak itu orang berkumpul pada waktu peneceramah  lain berpidato – yakni sebanyak yang memenuhi seluruh ruangan pada waktu ceramah Mirza Sahib – dan  para hadirin semuanya memperhatikan dengan seksama.
Untuk membandingkan bagaimana ceramah Mirza Sahib dan ceramah yang diberikan pembicara-pembicara lainnya, memadailah jika digambarkan bahwa pada waktu ceramah Mirza Sahib berlangsung khalayak ramai  berbondong-bondong datang bagaikan lebah mengerubuti madu. Tetapi pada waktu ceramah pembicara lainnya diperdengarkan maka banyak orang yang meninggalkan tempat karena tidak merasa tertarik.
Ceramah Maulwi Muhammad Hussein Batalwi hanya biasa-biasa saja, yaitu pemikiran-pemikiran mullah (kyai) yang setiap hari sering kita dengar. Di dalamnya tidak ada perkara yang menarik. Dan pada waktu ceramah dari kedua maulwi tersebut  banyak  orang yang pergi meninggalkan tempat. Kepada maulwi tersebut waktu sedikit pun tidak diizinkan  untuk menyelesaikan ceramahnya." (Suratkabar Chaudwi Shadi, Rawalpindi, 1 Februari 1897).
      Suratkabar General-o-Gohar Aashfi,  Kalkuta, pada edisinya tanggal 24 Januari 1897, dengan judul "Konferensi Agama-agama Besar" dan subjudul "Kemenangan Islam" menuliskan:
"Sebelum kita membicarakan acara Konferensi adalah penting untuk menyampaikan – sebagaimana diketahui oleh para pembaca --  bahwa di kalangan kolumnis suratkabar ini telah diperbincangkan siapa yang paling layak mewakili Islam dalam Konferensi Agama-agama Besar  itu.  Seorang koresponden ternama kami, dengan pikiran lurus dan dengan mempertimbangkan kebenaran (kejujuran), di dalam pendapatnya beliau telah memilih Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian. Dan seorang tokoh senior kami melalui suratnya persis sekali mendukung hal itu. Maulwi Sayyid Fakhruddin Sahib Fakhar dengan gamblang telah memaparkan pemilihan ini di hadapan publik dengan dasar-dasar pertimbangan beliau yang bebas, penuh dasar, dan berharga itu. Di situ terpilih Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian, Sir Sayyid Ahmad Khan dari Aligrh, dan urutan berikutnya dalam mewakili Islam adalah: Maulwi Abu Sa'id Muhammad Hussein Batalwi, Maulwi haji Sayyid Muhammad Ali Kanpuri, dan Maulwi Ahmad Hussein Azimabadi. Adalah sangat tepat jika dipaparkan di sini bahwa seorang koresponden sebuah suratkabar lokal kita telah menunjuk Maulwi Abdul Haq Dhelwi, penulis Tafsir Haqqani,  untuk tugas tersebut."
     Kemudian setelah menyadur selebaran dari Swami Sughan Chandra – yang mengundang para tokoh ulama dari berbagai agama untuk menampilkan keindahan agama mereka masing-masing – maka suratkabar ini menuliskan:
"Setelah menelaah selebaran-selebaran Konferensi ini dan  setelah menerima undangan-undangan, maka  ulama-ulama  Islam India mana saja yang telah memperlihatkan gejolak semangat untuk mewakili agama Islam yang suci ini? Dan sejauh mana mereka telah berusaha untuk membela  Islam dan menanamkan kehebatan furqani ini  ke dalam kalbu agama-agama lain melalui dalil dan argument?
Melalui sumber-sumber yang terpercaya kami mengetahui bahwa para penyelenggara Konferensi ini telah menulis surat  secara khusus kepada Mirza Ghulam Ahmad Sahib dan Sir  Sayyid Ahmad Khan Sahib  untuk ambil bagian dalam Konferensi tersebut. Hadhrat Mirza Sahib,  karena kondisi kesehatan yang tidak baik,  beliau tidak dapat hadir dalam Konferensi itu.   Akan tetapi beliau mengirimkan artikel beliau dan telah menetapkan murid pilihan beliau, Maulwi Abdul Karib Sahib Sialkoti,  untuk membacakannya.  Namun Sir Sayyid tidak mau ikut ambil bagian dalam Konferensi itu dan tidak mau mengirimkan artikel. Itu bukan disebabkan oleh usia beliau yang telah lanjut – sehingga tidak bisa ikut ambil bagian dalam Konferensi seperti itu – dan tidak pula karena pada hari itu telah ditetapkan Konferensi Pendidikan di Merith, melainkan karena beliau tidak tertarik pada Konferensi Agama. Sebab beliau di dalam suratnya – insya Allah pada waktu lain akan kami muat di dalam suratkabar ini --  dengan jelas menuliskan bahwa  beliau bukanlah seorang wa'idz  (pemberi peringatan)   dan nashih (pemberi nasihat).
Dengan memperhatikan dan menelaah acara Konferensi itu diketahui bahwa Maulwi Sayyid Muhammad  Ali  Sahib Kanpuri, Maulwi Abdul Haqq Sahib Dhelwi dan Maulwi Muhammad Hussein Sahib Azimabadi tidak memberikan tanggapan yang penuh semangat terhadap Konferensi tersebut. Dan tidak pula ada dari kalangan ulama umat suci kita serta dari kalangan bawahan yang cukup cakap, yang telah mengemukakan tekad mereka  untuk membacakan atau pun mengirimkan artikelnya. Ya, hanya satu dua orang ulama saja yang dengan semangat memenuhi tantangan itu, namun terbalik. Sebabnya adalah mereka tidak menyinggung pokok-pokok bahasan yang telah ditetapkan, atau mereka hanya ribut berceloteh tentang hal-hal yang tidak relevan. Hal itu akan tampak dari laporan kami mendatang.
Ringkasnya,  dari pelaksanaan konferensi itu terbukti bahwa hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian, sajalah yang telah tampil sebagai pembela Islam yang sempurna di arena pertandingan ini. Dan beliau telah memberikan kehormatan terhadap pemilihan --  yang secara khusus telah menunjuk beliau sebagai wakil Islam --  yang dilakukan berdasarkan kesepakatan  bersama oleh berbagai golongan Islam India dari Peshawar, Rawalpindi, Jhelum, Shahpur Bhera, Khushab,  Sialkot, Jammu, Wazirabad, Lahore, Amritsar, Gurdaspur Ludhiana,  Shimla, Dhelhi, Ambala, Riasat Patiala, Dera Duun, Ilahabad, Madras, Bombay, Hyderabad Dakkah, dan Bangalore.
Memang benar terbukti bahwa jika seandainya di dalam konferensi itu tidak ada artikel Mirza Sahib, niscaya umat Islam  akan mengalami kehinan dan kenistaan di hadapan umat-umat agama lainnya. Akan tetapi dengan tangan-Nya Yang perkasa, Tuhan telah menyelamatkan Islam dari keruntuhan. Bahkan melalui artikel tersebut Islam telah memperoleh kemenangan sedemikian rupa sehingga bukan saja pihak-pihak yang sehaluan, para penentang pun secara spontan  bangkit menyatakan bahwa artikel itu paling unggul dari lainnya! Paling unggul! Bahkan pada saat berakhirnya pembacaan   artikel tersebut, pernyataan jujur yang muncul dari mulut para penentang adalah,  “Kini hakikat Islam telah terbuka..... dan betul-betul terbukti benar. Kini tidak ada alasan lagi untuk menentangnya. Justru hal itu merupakan kebanggaan bagi kita. Sebabnya adalah di situ terbukti kehebatan Islam, dan di situ jugalah terbukti keagungan  Islam. Memang demikianlah yang benar.”
Walaupun itu merupakan pertemuan kedua dari kedua Konferensi Agama-agama Besar di India, artikel tersebut  melalui kehebatan dan keagungannya telah mengalahkan segenap konferensi dan kongres di India.  Tokoh-tokoh dari berbagai daerah di India hadir dalam kesempatan itu, dan dengan bangga kami menyatakan bahwa Perguruan-perguruan Tinggi kita pun turut ambil bagian di dalamnya. Acara demikian itu demikian menariknya sehingga 3 hari yang diumumkan dalam selebaran-selebaran terpaksa ditambah 1 hari lagi. Untuk pelaksanaan Konferensi itu Komite penyelenggaran telah memilih tempat  yang paling luas di Lahore, yaitu Islamiah College. Akan tetapi begitu banyaknya orang yang hadir sehingga tempat yang luas itu pun tidak mencukupi lagi. Kehebatan Konferensi itu terbukti dari hadirnya bukan saja tokoh-tokoh penting Punjab, tetapi juga dengan hadirnya hakim-hakim dari Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Ilahabad, yaitu yang mulia Babu Partol Chand Sahib dan Mr. Bannerji."
    Artikel ini pertama-tama diterbitkan dalam Laporan Konferensi Agama-agama Besar, Lahore. Dan dari Jemaat Ahmadiyah dengan judul Islami Ushul Ki Filasafi, telah diterbitkan dalam bentuk buku berbagai edisi bahasa Urdu dan Inggris. Selain itu terjemahannya telah pula  diterbitkan  dalam bahasa Perancis, Belanda, Spanyol, Arab, Jerman, dan bahasa-bahasa lainnya.
    Dan para tokoh filsafat serta para editor surat-suratkabar luar negeri pun telah menuliskan ulasan yang sangat hebat tentang hal itu. Dan banyak  para intelek Barat yang sangat memujinya, misalnya:
  1. The Bristol Times and Mirror:
"Jelas bukan orang biasa dia yang berdialog dengan orang-orang Eropa dan Amerika dengan corak demikian."
  1. The Spiritual Journal, Boston:
"Buku ini merupakan kabar suka yang murni bagi umat manusia."
  1. Theosopical Book Notes:
"Buku ini merupakan gambaran yang terbaik dan paling menarik mengenai agama Muhammad."
  1. The Indian Review:
"Pemikiran-pemikiran dalam buku ini sangat cemerlang, lengkap, dan penuh hikmah. Pembaca akan spontan mengungkapkan kata-kata pujian."
  1. The Moslem Review:
 Penelaah buku ini akan menjumpai banyak pandangan-pandangan yang benar, mendalam, orisinil, dan mengilhami."
      Keindahan artikel ini di dalamnya tidak ada serangan terhadap agama lainnya, melainkan hal keindahan-keindahan Islam saja  yang telah dipaparkan dan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan itu hanya diberikan dari Alquran  Majid semata, sedangkan jawaban-jawaban itu diberikan dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga dari itu terbukti kesempurnaan, keindahan, dan kelengkapan agama Islam dibandingkan dengan  segenap agama lainnya.

ooo0ooo

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KABAR SUKA AGUNG
BAGI PARA PENCARI KEBENARAN

(Selebaran yang diterbitkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebelum Konferensi Agama-agama di Lahore)

     Di dalam Konferensi Agama-agama Besar yang akan diselenggarakan pada tanggal 26, 27, dan 28 Desember 1896 bertempat  di Balaikota Lahore, artikel saya ini yang berkenaan dengan keunggulan serta mukjizat  Quran Syarif  akan dibacakan. Artikel ini akan merupakan artikel yang di luar kemampuan manusia dan merupakan salah satu di antara Tanda-tanda Ilahi dan telah ditulis berdasarkan dukungan khusus dari-Nya. Di dalamnya terkandung rahasia serta makrifat-makrifat Quran Syarif,  yang dengan perantaraan itu akan bersinar bagaikan  matahari bahwa pada hakikatnya Quran Syarif  benar-benar Kalam Ilahi dan Kitab Tuhan seluruh alam.
     Bbarangsiapa akan mendengarkan artikel ini dari awal sampai akhir – yang meliputi jawaban atas 5 permasalahan – saya yakin di dalam dirinya akan timbul suatu keimanan baru dan di dalam dirinya akan bangkit memancar suatu nur (cahaya) baru. Ia akan mendapatkan tafsir yang padat lagi lengkap tentang  Kitab Suci Allah Ta'ala.  Ceramah saya ini bersih dari unsur-unsur kesia-siaan manusia dan dari noda bualan.  Yang mendorong saya menulis surat selebaran ini  ialah semata-mata karena solidaritas kepada sesama manusia, supaya mereka dapat  menyaksikan kebagusan serta keindahan Quran Syarif  serta dapat melihat betapa aniayanya lawan-lawan kami dalam mencintai kegelapan dan membenci cahaya.
     Allah Yang Maha Mengetahui telah memberi kabar kepada saya dengan perantaraan ilham bahwa artikel (inilah yang akan unggul atas semua artikel lainnya. Di dalamnya terdapat cahaya kebenaran, hikmah dan makrifat. Golongan-golongan lain bila hadir dalam konferensi ini, mendengarkannya dari awal hingga akhir akan menjadi malu. Dan mereka sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan kelebihan-kelebihan semacam ini dari kitab-kitab mereka, baik yang beragama Kristen atau  Sanathan Dharm maupun yang lainnya. Sebab Allah Ta'ala telah berkehendakagar pada hari  itu zahir  penampakkan keagungan Kitab Suci-Nya.
    Berkenaan dengan  itu  saya melihat di dalam sebuah kasyaf suatu tangan dari alam  gaib menepuk tempat kediaman saya. Akibat sentuhan tangan tersebut dari tempat kediaman itu muncul nur (cahaya) yang berbinar-binar dan menyebar ke sekeliling dan cahaya itu juga menerpa tangan saya. Lalu, seseorang yang berdiri di samping saya berseru dengan suara yang membahana:
اَللهُ اَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ
[Allah Maha Besar,   Khaibar sudah ditaklukan!]
      Ada pun ta'birnya ialah, yang dimaksud dengan tempat kediaman adalah hati saya, yang menjadi tempat turun dan hinggapnya nur (cahaya), dan nur (cahaya) itu adalah makrifat-makrifat Quraniah. Sedangkan yang dimaksud dengan Khaybar adalah semua agama rusak yang telah dicampuri syirik dan bid’ah-bid’ah,  yang menempatkan seorang manusia pada kedudukan Tuhan atau menjatuhkan Sifat-sifat Tuhan dari kedudukannya yang sempurna.
     Jadi, kepada saya telah diperlihatkan, setelah artikel saya tersiar luas, akan terbukalah kedustaan agama-agama palsu, lalu hari demi hari kebenaran Quran Syarif  akan terus tersebar luas ke seluruh permukaan bumi, sehingga memenuhi batas-batas wilayahnya.
     Kemudian dari kondisi  kasyaf itu saya dialihkan pada ilham lalu turunlah ilham kepada saya:
اِنَّّ اللهَ مَعَكَ اِنَّ اللهَ يَقُوْمُ اَيْنَمَاقُمْتَ
Yakni, "Sesungguhnya Allah beserta engkau, sesungguhnya Allah berdiri di mana engkau berdiri."  Ini merupakan ungkapan dukungan Ilahi.
    Sekarang saya tidak bermaksud menulis lebih banyak. Saya beritahukan kepada tiap-tiap orang supaya meluangkan waktu untuk berkunjung ke Lahore pada waktu Konferensi tersebut diselenggarakan, untuk  mendengarkan makrifat-makrifat yang akan memberikan faedah kepada akal serta keimanan mereka di luar dugaan mereka sendiri.
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk.

Yang lemah,
Mirza Ghulam Ahmad dari  Qadian,
21 Desember 1896


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...