بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
KATA PENGANTAR PENERBIT
Setelah
Jemaat Ahmadiyah merayakan Tasyakur Seabad Ahmadiyah pada 27 Mei 1989
M., selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rta.
pada bulan Desember 1996/Fatah 1375 HS
menyelenggarakan Tasyakur seabad (100 tahun) karya tulis agung Hadhrat Masih Mau'ud & Imam
Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang berjudul Islami Ushul Ki
Filasafi (Falsafah Ajaran Islam).
Pada 27 Juli 2008/Wafa 13 HS, Jemaat
Ahmadiyah kembali akan merayakan Tasyakur seabad, yakni Tasyakur
Seabad Khilafat Ahmadiyah. Sehubungan dengan itu Khalifatul-Masih V
Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Atba., telah mencanangkan program
Perayaan Tasyakur Seabad Khilafat Jemaat Ahmadiyah, yang akan
dilaksanakan oleh warga Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia.
Dalam rangka menyongsong Perayaan
Tasyakur Seabad Khilafat Jemaat Ahmadiyah tersebut, di antara berbagai buku
yang akan diterbitkan oleh bidang Isyaat PB – baik penerbitan ulang
maupun penerbitan baru – penerbitan buku Islami Ushul Ki Filasafi
(Falsafah Pokok-pokok Hukum Islam) ini mendapat prioritas utama, setelah
beberapa lama terhambat melakukan cetak ulang, karena adanya 2
versi terjemahan baru buku Islami Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran
Islam) yaitu:
- yang diterjemahkan oleh Alm. Bapak Mln. Sayyid Shah Muhammad dan Alm. Bapak Mln. R. Ahmad Anwar, yang telah diterbitkan dalam beberapa edisi.
- yang diterjemahkan dan disunting oleh Bapak Mln. Mukhlis Ilyas dan Alm. Bapak H. Gunawan Jayaprawira, dalam rangka Tasyakur 100 Tahun (1896-1996).
Tanpa bermaksud mengurangi penghargaan
kepada para penterjemah lainnya, Dewan
Naskah menetapkan terjemahan buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah
Ajaran Islam) yang dilaksanakan oleh
Bapak Mln. Mukhlis Ilyas Mbsy. sebagai acuan, dengan merujuk kepada buku Islam Ushul Ki Filasafi dalam
bahasa Urdu. Salah satu contoh perbaikan
adalah judul Islam Ushul Ki Filasafi yang sebelumnya
diterjemahkan Filsafat Ajaran Islam -- (The Philosophy of The
Teachings of Islam) -- menjadi Falsafah Ajaran Islam.
Mengingat keterbatasan perbendaharaan
kosa kata bahasa Indonesia, tidak tertutup kemungkinan upaya
penyempurnaan terjemahan buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah
Ajaran Islam) yang dilakukan oleh Dewan Naskah periode 2007-2009 ini pun
masih terdapat beberapa kekurangan,
untuk itu dalam upaya penyempurnaan pada penerbitan
selanjutnya diharapkan adanya
masukan-masukan berupa koreksi, kritik mau pun saran positif lainnya
dari para pembaca, sehingga pada
penerbitan berikutnya, Insya Allah, terjemahan buku Islam Ushul Ki
Filasafi (Falsafah
Ajaran Islam) akan semakin
mendekati kepada kesempurnaan, sesuai
dengan makna-makna yang dimaksudkan oleh Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dalam
buku aslinya.
Wassalam,
Sekretaris Isyaat PB.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Drs. Anwar Said Msi.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
SAMBUTAN AMIR NASIONAL
JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
Sebagaimana kita ketahui, bahwa keunggulan
buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam), yang dibacakan oleh Maulana Abdul Karim Sahib
Sialkoti r.a pada Konferensi Agama-agama Besar di
Lahore pada bulan Desember 1896, bukan
saja merupakan kebenaran gelar Shultanul-Qalam
(Raja pena) yang dianugerahkan Allah
Ta'ala kepada Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – Al-Masih Mau'ud a.s. & Imam Mahdi
a.s. – yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat beragama, tetapi juga membuktikan benarnya firman
Allah Ta'ala dalam Alquran Suci bahwa tujuan kedatangan Rasul Akhir Zaman
tersebut adalah untuk mengunggulkan
agama Islam atas semua agama (Qs.61:10).
Edisi terbaru penerbitan terjemahan buku Islam Ushul Ki Filasafi
(Falsafah Ajaran Islam) ini merupakan penyempurnaan yang dilakukan oleh Dewan
Naskah Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang telah ditetapkan melalui SK Pimpinan
Jemaat Ahmadiyah Indonesia: No. 9229/SK/2007, tgl. 12 Juli 2007.
Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Perayaan
Tasyakur Seabad Khilafat Ahmadiyah pada 27 Juli 2008, penerbitan edisi
terbaru buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) ini
memiliki makna tersendiri, karena sebelumnya Jemaat Ahmadiyah telah merayakan 2
Tasyakuran, yaitu:
- Tasyakur Seabad Jemaat Ahmadiyah pada 27 Mei 1989,
- Tasyakur Seabad buku Islam Ushul Ki Filasafi (Falsafah Pokok-poko Hukum Islam) pada bulan Desember 1996.
Kepada
semua pihak yang telah bekerja keras melakukan pengkhidmatan, sehingga terjemahan buku Islam Ushul Ki Filasafi dalam versi bahasa Indonesia dapat diterbitkan secara berkesinambungan –
terutama sekali para
penerjemahnya: Alm. Bapak A.S. Shreef, Alm. Bapak Mln. Malik Aziz
Ahmad Khan, Alm. Bapak Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani, Alm. Bapak Mln. R.
Ahmad Anwar, dan Bapak Mln Mukhlis Ilyas Mbsy. – dan juga kepada seluruh jajaran Dewan
Naskah, kami menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya, semoga Allah
Ta'ala menjadikan pengkhidmatan tersebut sebagai amal jariyah. Amin.
Wassalam,
Kemang – Bogor
Oktober 2007 H.
Abdul Basit Shd.
Amir
Nasional
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
AMANAT
HADHRAT MIRZA TAHIR AHMAD
IMAM JEMAAT AHMADIYAH SELURUH DUNIA
Jemaat Ahmadiyah
seluruh dunia sedang merayakan seratus tahun
penerbitan karya terkenal ini, yang aslinya disampaikan pada Konferensi
Agama-agama di Lahore. tgl 26-29 Desember 1896.
Isinya ditulis dalam naungan berkah Ilahi dan kesuksesan tunggalnya
dijamin dengan wahyu nubuatan dari Tuhan, yang diterbitkan sebelum
pelaksanaan Konferensi tersebut. Demikian pula edaran serta poster telah
disebarkan di tempat-tempat umum di Lahore.
Sebagaimana kebiasaan suatu Jemaat
orang-orang beriman, Perayaan Tasyakur kita memiliki makna
dan arti serta bebas dari jenis hura-hura dan pertunjukan yang tidak berguna
serta sia-sia. Untuk itu kita merayakan 100
tahun buku ini dengan
menerjemahkannya ke dalam bahasa-bahasa
yang paling utama. Kita berharap dengan
demikian berkah-berkahnya akan diperoleh secara luas oleh banyak bangsa
di dunia.
Dengan karunia Allah semata, sejauh ini
kita telah menyelesaikan terjemahan dan penerbitan buku ini ke dalam 52 bahasa
utama di dunia. Sebagai tambahan,
terjemahan ke dalam bahasa-bahasa lainnya masih terus berlangsung. Kita
berharap, dengan karunia Allah, ini akan
selesai sebelum akhir tahun 1996.
Semoga Allah memberi ganjaran kepada mereka yang telah mengerahkan kemampuan,
waktu serta upaya mereka untuk mewujudkan tugas mulia ini. Amin.
Mirza Tahir Ahmad
Januari 1996
CERAMAH
ISLAMI USHUL KI FILASAFI
(Falsafah Ajaran Islam)
LATAR BELAKANG & KOMENTAR
Oleh: Maulana Jalaludin
Shams
Seorang bernama Swami Sadhu Shugan Chandra sampai 3 atau 4 tahun terus menerus berupaya
mengadakan perbaikan di golongan Kaaisth Hindu.
Pada tahun 1892 terpikir olehnya, selama semua orang belum dikumpulkan
bersama maka upayanya tidak akan bermanfaat. Akhirnya timbul gagasannya untuk
menyelenggarakan Koferensi Agama. Pertemuan semacam itu berlangsung di Ajmir. Setelah itu dengan mempertimbangkan bahwa suasana Lahore cukup baik untuk
penyelenggaraan Konferensi kedua maka pada tahun 1896 ia mulai mengadakan
persiapan untuk itu.
Swami Sahib telah membentuk sebuah komite untuk
penyelenggaraan Konferensi Agama ini. Ketuanya adalah Master Dargah
Parshad, sedangkan Lala Dhanpat Roy, BA, LLB,
seorang pengacara Hindu dari Pengadilan
Tinggi Lahore, merupakan Sekretaris Jenderalnya. Tanggal yang ditetapkan untuk Konferensi
tersebut adalah 26, 27, 28 Desember 1896. Dan
berikut ini 6 orang moderator yang telah ditunjuk:
- Roy Bahadur Babu Partol Chand Sahib, hakim Pengadilan Tinggi, Punjab.
- Khan Bahadur Sheikh Khuda Bakhs Sahib, hakim Pengadilan Rendah, Lahore.
- Roy Bahadur Pandit Radhma Kishan Sahib Kole, pengacara Pengadilan Tinggi, Lahore, mantan Gubernur Jammu.
- Hadhrat Maulwi Nuruddin Sahib, tabib kerajaan.
- Roy Bhawani Das Sahib, MA, penjabat Extra Settlement, Jhelum.
- Sardar Jawahar Singh Sahib, Sekretaris Khalsa Committee, Lahore
Swami Sadhu Shugan Chandra Sahib, atas
nama Komite, dalam selebaran konferensi tersebut mengundang para ulama kenamaan
dari kalangan Islam, Kristen, dan Hindu Arya agar memaparkan
keindahan-keindahan agama mereka masing-masing didalam Konferensi
tersebut. Dan dituliskan bahwa tujuan Konferensi Agama-agama Besar
yang diselenggarakan di Balai Kota Lahore ini adalah agar kelebihan-kelebihan
serta keindahan-keindahan agama yang benar dapat tampil di
hadapan sekumpulan orang yang berperadaban, sehingga kecintaan terhadapnya
dapat tertanam di dalam kalbu, serta dalil-dalil dan argumentasi-argumentasinya
dapat dipahami oleh orang-orang secara mendalam, dan dengan demikian para tokoh
suci setiap agama akan dapat memperoleh
kesempatan menanamkan kebenaran agamanya di dalam kalbu orang-orang, dan
para pendengar pun memperoleh peluang untuk membandingkan setiap pidato dengan pidato
lainnya di dalam pertemuan seluruh tokoh tersebut, sehingga di mana saja mereka
menemukan cahaya kebenaran, mereka menerimanya.
Pada masa sekarang ini, karena perselisihan-perselisihan antara
agama di dalam hati manusia timbul pula keinginan untuk mengetahui agama
yang benar. Dan cara yang
terbaik untuk itu adalah: segenap tokoh
suci agama yang memiliki kemampuan berceramah dan memberikan nasihat, berkumpul
di satu tempat, dan mereka dapat menguraikan keindahan-keindahan agama
masing-masing berdasarkan topik-topik
permasalahan yang telah diedarkan. Jadi,
dalam Konferensi Agama-agama Besar ini, agama yang berasal
dari Tuhan sejati akan menampakkan cahayanya yang menonjol. Untuk tujuan itulah Konferensi ini
diselenggarakan. Dan para tokoh agama mengetahui benar bahwa menzahirkan kebenaran
agama mereka adalah kewajiban mereka.
Jadi,
sesuai dengan tujuan diselenggarakannya konferensi ini -- agar kebenaran-kebenaran dapat zahir -- maka
Tuhan telah memberikan kesempatan penuh bagi mereka untuk memenuhi maksud
tersebut, yang selamanya tidak ada di
dalam ikhtiar manusia. Kemudian lebih lanjut dalam menarik kesan mereka, Swami Sahib menuliskan:
"Apakah
saya dapat menerima, apabila seseorang menyaksikan orang-orang terkena penyakit
fatal dan dia yakin bahwa keselamatan mereka berada di dalam obat yang dia
miliki dan dia pun menyatakan solidaritasnya terhadap umat manusia, namun
tatkala orang-orang sakit itu memanggilnya agar mengobati mereka ternyata dia
dengan sengaja mengelak? hati saya senantiasa bergejolak untuk mengetahui agama
mana yang pada hakikatnya dipenuhi oleh kebenaran-kebenaran. Dan saya tidak
memiliki kata-kata yang dapat mengungkapkan gejolak hati saya ini."
Para
wakil dari berbagai agama telah menerima
undangan Shami Sahib untuk
turut serta di dalam Konferensi Agama atau Pertemuan Agama-agama
Besar di Lahore itu. Dan Konferensi
Agama-agama Besar ini berlangsung di Lahore
pada hari-hari libur umum bulan Desember 1896. Para
wakil dari berbagai agama menyampaikan
pidato mereka di dalam acara tersebut berkenaan 5 topik permasalahan
yang telah diumumkan oleh Komite
Konferensi.
Kelima topik permasalahan itu telah
disebar-luaskan terlebih dulu oleh Komite untuk mendapatkan jawaban-jawabannya.
Dan untuk jawaban tersebut Komite
mempersyaratkan agar para penceramah sedapat mungkin membatasi hanya pada kitab
yang telah diakuinya sebagai kitab suci dari sudut pandang
agamanya. Permasalahan-permasalahan
itu adalah:
- Keadaan Jasmani (thabi'i/alami), akhlaki, dan rohani manusia.
- Keadaan manusia sesudah mati.
- Tujuan sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
- Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di Hari Kemudian.
- Apa saja sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.
Konferensi ini berlangsung dari
tanggal 26 sampai 29 Desember 1896.
Wakil-wakil dari Sanatan Darm, Hindu, Arya Samaj, Free Thinker, Brahmu
Samaj, Theosophical Society, Religion of Harmony, Kristen, Islam, dan Sikh
menyampaikan pidato-pidato mereka. Akan tetapi hanya satu pidato saja yang
berisikan jawaban sejati serta lengkap
terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.
Tidak dapat digambarkan bagaimana suasana
tatkala Hadhrat
Maulwi Abdul
Karim Sialkoti
r.a. membacakan artikel Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad a.s. dengan suara yang menarik. Tidak seorang pun dari agama
tertentu yang tidak memujinya secara spontan. Tiada seorang pun yang tidak terpukau
serta tertegun. Cara
penyampaiannya sangat menarik dan memikat hati. Tidak ada lagi bukti yang lebih
besar tentang kehebatan artikel ini dari sikap para penentang yang memuji-mujinya.
Sebuah suratkabar berbahasa Inggris yang terkenal dan terkemuka, Civil
and Militery Gazette Lahore, -- walaupun
merupakan harian Kristen -- telah memuat pujian yang tinggi
terhadap artikel tersebut, dan menyatakannya sebagai suatu yang patut
diperbincangkan.
Artikel ini merupakan tulisan Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Jatah
waktu yang ditetapkan untuk artikel itu adalah 2 jam, namun karena belum tuntas
maka Konferensi tetap diteruskan sampai tanggal 29 Desember. Harian Punjab
Observer memenuhi kolom deni
kolomnya dengan pujian terhadap artikel tersebut. Suratkabar Paisa
Akhbaar, Chodahwi Shadi, Sadiqul Akhbaar, Makhbir-e-Dakkan,
dan General-o-Gohari Ashifi dari Kalkuta, dan sebagainya memuat sanjungan dan pujian
atas artikel tersebut. Orang-orang non-India dan non-Muslim
menyatakan bahwa artikel itu adalah yang paling unggul atas artikel
lainnya dalam Konferensi tersebut.
Sekretaris Konferensi Agama-agama
ini, Lala Dhanpat
Roy, BA, LLB.,
pengacara pada Pengadilan Tinggi Lahore, menuliskan tentang pidato ini dalam
laporan Konferensi Agama-agama Besar (Dharam Mohutsu):
"Saat
itu merupakan waktu rehat setengah jam setelah pidato Pandit Gudhan Das Sahib.
Akan tetapi dikarenakan sesudah rehat tersebut akan ditampilkan pidato seorang
utusan ternama dari Islam, maka kebanyakan hadirin yang tertarik tidak
meninggalkan tempat mereka. Belum lagi pukul 1.30, gedung besar Islamia College dengan cepat mulai terisi dan
dalam beberapa menit saja telah penuh. Pengunjung waktu itu antara 7 sampai
8.000 orang. Para intelek dan orang-orang terdidik dari berbagai agama dan suku bangsa hadir. Dan walaupun kursi-kursi, meja serta lantai yang
disediakan sangat banyak dan luas, namun bagi ratusan orang tidak ada pilihan
lain kecuali berdiri.
Di
antara mereka yang berdiri itu adalah para tokoh dan pimpinan Punjab, para ulama,
barristers, pengacara, dosen, extra assisten dan dokter.
Ringkasnya berbagai tokoh dari berbagai golongan hadir saat itu. Berkumpulnya
orang-orang itu demikian dan tetap
berdiri dengan penuh hikmat serta kesabaran, jelas menunjukkan sejauh mana mereka peduli terhadap gerakan suci
ini. Penulis ceramah itu sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi. Akan
tetapi beliau telah mengutus sendiri murid istimewa beliau, Maulwi
Abdul Karim Sahib Sialkoti, untuk membacakan artikel tersebut. Walaupun
artikel itu dari panitia telah ditetapkan waktu hanya 2 jam, namun para
pengunjung konferensi secara umum telah tertarik sedemikian rupa sehingga para
moderator dengan senang dan penuh semangat memberikan izin, bahwa selama artikel ini belum habis
maka acara konferensi tidak akan
ditutup.
Keputusan
mereka itu betul-betul sesuai dengan keinginan para hadirin dalam Konferensi
tersebut. Sebab ketika waktu yang telah ditetapkan telah habis dan Maulwi Abu Yusuf
Mubarak Ali
pun telah memberikan jatah waktunya agar pembacaan artikel ini diselesaikan
maka hadirin serta para moderator dengan luapan penuh kegembiraan mengucapkan terima-kasih kepada
maulwi tersebut. Acara Konferensi ini semua akan selesai pukul 16.30 akan tetapi dengan memperhatikan keinginan hadirin maka
acara Konferensi terpaksa harus diteruskan sampai pukul 17.30. Sebab artikel ini selesai dalam
tempo sekitar 4 jam. Dan dari awal hingga akhir orang-orang tetap tertarik
serta mengikutinya."
Perkara
yang menarik adalah, sebelum pelaksanaan Konferensi itu, Pendiri Jemaat
Ahmadiyah – setelah mendapat kabar dari Allah Ta'ala
tentang keunggulan artikel beliau itu – pada tanggal 21 Desember 1896 telah menyebarkan
sebuah selebaran yang berjudul Kabar Suka Agung Bagi Para Pencari Kebenaran.
Tampaknya tepat apabila
dipaparkan di bawah ini pandangan-pandangan dari media massa sebagai contoh:
Civil and Military Gazette, Lahore, menuliskan:
"Di dalam Konferensi ini perhatian mendalam
serta istimewa dari hadirin, semuanya tertuju pada ceramah Mirza Ghulam
Ahmad, dari Qadian, yang sangat cakap dalam membela dan melindungi agama
Islam. Dari tempat-tempat jauh orang-orang dari berbagai aliran agama
berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ceramah itu. Dikarenakan Mirza Sahib sendiri
tidak dapat hadir dalam Konferensi ini, untuk itulah ceramah beliau tersebut
dibacakan oleh murid pilihan beliau, Munshi Abdul
Karim Sahib Sialkoti. Pada tanggal
27, ceramah ini terus berlangsung selama 3 jam, dan khalayak umum mendengarkan
ceramah ini dengan antusias dan penuh perhatian. Akan tetapi saat itu baru satu
masalah saja yang telah selesai. Maulwi Abdul Karim
berjanji, jika diberi waktu maka beliau akan membacakan bagian lainnya. Oleh
karena itulah Ketua dan Panitia penyelenggara menyetujui usul itu agar
dilanjutkan pada tanggal 29 Desember."
Suratkabar
Chodahwi Shadi, Rawalpindi, memberikan ulasan berikut
terhadap ceramah Hadhrat Masih
Mau'ud a.s. itu sebagai berikut:
"Di
antara ceramah-ceramah ini, ceramah paling baik dan merupakan ruh
dari Konferensi ini adalah ceramah Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, yang telah dibacakan dengan
sangat indah dan dengan suara yang menarik oleh orator terbaik dan terkenal,
Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti.
Ceramah ini selesai dalam 2 hari. Pada tanggal 27 Desember sekitar 4
jam, dan pada tanggal 29 Desember berlanjut sampai 2 jam. Ceramah ini habis dalam total waktu 6 jam,
dan terdiri dari sekitar 100 halaman.
Ringkasnya, Maulwi Abdul
Karim memulai ceramah tersebut,
dan begitu mulai maka para hadirin langsung terpesona. Tiap-tiap kalimat
mengundang sambutan dan pujian. Kadang-kadang ada kalimat yang
diminta oleh hadirin agar diperdengarkan ulang. Sepanjang hidup, telinga kita
belum pernah mendengar ceramah seindah
itu. Para
pembicara dari agama lain dalam ceramah masing-masing sebenarnya tidak
memberi jawaban terhadap permasalahan yang telah ditetapkan.
Kebanyakan pembicara banyak mengulas permasalahan
nomor 4 saja, sedangkan permasalahan-permasalahan lainnya sedikit
sekali mereka singgung. Namun di situ tidak ada hal-hal yang memiliki ruh,
kecuali ceramah Mirza Sahib yang menjawab tiap-tiap permasalahan
secara rinci lagi lengkap. Para hadirin dalam Konferensi
itu menyimak dengan penuh perhatian dan penuh minat serta memberikan penilaian
yang tinggi.
Kami
bukan murid Mirza Sahib, dan tidak pula kami memiliki hubungan apa pun dengan
beliau. Akan tetapi kami tidak dapat
memadamkan rasa adil, karena memang hal itu tidak dapat diterima oleh siapa pun
yang berfitrat bersih dan berhati jujur. Mirza
Sahib telah membahas seluruh
permasalahan berdasarkan Alquran suci dan menghiasi dasar furu' agama Islam
dengan dalil-dalil akal serta argumentasi-argumentasi filsafat. Pertama-tama
membuktikan masalah Ketuhanan dengan dalil-dalil secara akal, kemudian
mengutip firman-firman Ilahi, memang
memperlihatkan suatu kehebatan yang menakjubkan. Mirza
Sahib tidak hanya mengupas falsafah
perkara-perkara Alquran, melainkan juga secara beriringan menjelaskan falsafah
serta filologi kata-kata dalam Alquran.
Ringkasnya,
ceramah Mirza Sahib secara
keseluruhan merupakan suatu ceramah lengkap dan luas jangkauannya, di dalamnya
terdapat mutiara-mutiara makrifat, hakikat, hukum, hikmah, dan rahasia yang
berkilau-kilauan. Dan falsafah
Ketuhanan diterangkan dengan cara
demikian rupa sehingga menyebabkan semua ahli agama menjadi terpukau. Tidak ada
sebanyak itu orang berkumpul pada waktu peneceramah lain berpidato – yakni sebanyak yang memenuhi
seluruh ruangan pada waktu ceramah Mirza Sahib – dan para hadirin semuanya memperhatikan dengan seksama.
Untuk
membandingkan bagaimana ceramah Mirza Sahib dan ceramah yang diberikan
pembicara-pembicara lainnya, memadailah jika digambarkan bahwa pada waktu
ceramah Mirza Sahib berlangsung
khalayak ramai berbondong-bondong datang
bagaikan lebah mengerubuti madu. Tetapi pada waktu ceramah pembicara lainnya
diperdengarkan maka banyak orang yang meninggalkan tempat karena tidak merasa
tertarik.
Ceramah Maulwi Muhammad Hussein
Batalwi
hanya biasa-biasa saja, yaitu pemikiran-pemikiran mullah (kyai) yang
setiap hari sering kita dengar. Di
dalamnya tidak ada perkara yang menarik. Dan
pada waktu ceramah dari kedua maulwi tersebut banyak orang yang pergi meninggalkan tempat. Kepada
maulwi tersebut waktu sedikit pun tidak diizinkan untuk menyelesaikan ceramahnya."
(Suratkabar Chaudwi Shadi, Rawalpindi, 1 Februari 1897).
Suratkabar General-o-Gohar Aashfi, Kalkuta, pada edisinya tanggal 24 Januari
1897, dengan judul "Konferensi Agama-agama Besar" dan subjudul
"Kemenangan Islam" menuliskan:
"Sebelum
kita membicarakan acara Konferensi adalah penting untuk menyampaikan –
sebagaimana diketahui oleh para pembaca --
bahwa di kalangan kolumnis suratkabar ini telah diperbincangkan siapa
yang paling layak mewakili Islam dalam Konferensi Agama-agama Besar itu.
Seorang koresponden ternama kami, dengan pikiran lurus dan dengan
mempertimbangkan kebenaran (kejujuran), di dalam pendapatnya beliau telah
memilih Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian. Dan seorang tokoh senior kami melalui suratnya persis
sekali mendukung hal itu. Maulwi Sayyid Fakhruddin
Sahib Fakhar dengan gamblang telah
memaparkan pemilihan ini di hadapan publik dengan dasar-dasar pertimbangan
beliau yang bebas, penuh dasar, dan berharga itu. Di situ terpilih Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian, Sir Sayyid Ahmad Khan dari Aligrh,
dan urutan berikutnya dalam mewakili Islam adalah: Maulwi Abu Sa'id Muhammad
Hussein Batalwi, Maulwi haji Sayyid Muhammad Ali Kanpuri, dan Maulwi Ahmad
Hussein Azimabadi. Adalah sangat tepat jika dipaparkan di sini bahwa seorang
koresponden sebuah suratkabar lokal kita telah menunjuk Maulwi Abdul Haq
Dhelwi, penulis Tafsir Haqqani,
untuk tugas tersebut."
Kemudian setelah menyadur selebaran dari
Swami Sughan Chandra – yang mengundang para tokoh ulama dari berbagai agama
untuk menampilkan keindahan agama mereka masing-masing – maka suratkabar ini
menuliskan:
"Setelah
menelaah selebaran-selebaran Konferensi ini dan setelah menerima undangan-undangan, maka ulama-ulama
Islam India
mana saja yang telah memperlihatkan gejolak semangat untuk mewakili agama Islam
yang suci ini? Dan sejauh mana mereka telah berusaha untuk membela Islam dan menanamkan kehebatan furqani
ini ke dalam kalbu agama-agama lain
melalui dalil dan argument?
Melalui
sumber-sumber yang terpercaya kami mengetahui bahwa para penyelenggara Konferensi
ini telah menulis surat secara khusus
kepada Mirza Ghulam Ahmad Sahib dan Sir
Sayyid Ahmad Khan Sahib untuk
ambil bagian dalam Konferensi tersebut. Hadhrat Mirza Sahib, karena kondisi kesehatan yang tidak baik, beliau tidak dapat hadir dalam Konferensi
itu. Akan tetapi beliau mengirimkan
artikel beliau dan telah menetapkan murid pilihan beliau, Maulwi Abdul Karib
Sahib Sialkoti, untuk
membacakannya. Namun Sir Sayyid tidak
mau ikut ambil bagian dalam Konferensi itu dan tidak mau mengirimkan
artikel. Itu bukan disebabkan oleh usia beliau yang telah lanjut – sehingga
tidak bisa ikut ambil bagian dalam Konferensi seperti itu – dan tidak
pula karena pada hari itu telah ditetapkan Konferensi Pendidikan di Merith,
melainkan karena beliau tidak tertarik pada Konferensi Agama. Sebab
beliau di dalam suratnya – insya Allah pada waktu lain akan kami muat di dalam
suratkabar ini -- dengan jelas
menuliskan bahwa beliau bukanlah seorang
wa'idz (pemberi peringatan) dan nashih
(pemberi nasihat).
Dengan
memperhatikan dan menelaah acara Konferensi itu diketahui bahwa Maulwi
Sayyid Muhammad Ali Sahib Kanpuri, Maulwi Abdul Haqq Sahib Dhelwi
dan Maulwi Muhammad Hussein Sahib Azimabadi tidak memberikan tanggapan yang
penuh semangat terhadap Konferensi tersebut. Dan tidak pula ada dari
kalangan ulama umat suci kita serta dari kalangan bawahan yang cukup cakap,
yang telah mengemukakan tekad mereka
untuk membacakan atau pun mengirimkan artikelnya. Ya, hanya satu dua
orang ulama saja yang dengan semangat memenuhi tantangan itu, namun terbalik.
Sebabnya adalah mereka tidak menyinggung pokok-pokok bahasan yang telah
ditetapkan, atau mereka hanya ribut berceloteh tentang hal-hal yang tidak
relevan. Hal itu akan tampak dari laporan kami mendatang.
Ringkasnya,
dari pelaksanaan konferensi itu terbukti
bahwa hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Rais Qadian, sajalah yang
telah tampil sebagai pembela Islam yang sempurna di arena pertandingan ini. Dan
beliau telah memberikan kehormatan terhadap pemilihan -- yang secara khusus telah menunjuk beliau
sebagai wakil Islam -- yang dilakukan
berdasarkan kesepakatan bersama oleh
berbagai golongan Islam India dari Peshawar, Rawalpindi, Jhelum, Shahpur
Bhera, Khushab, Sialkot, Jammu,
Wazirabad, Lahore, Amritsar, Gurdaspur Ludhiana, Shimla, Dhelhi, Ambala, Riasat Patiala, Dera
Duun, Ilahabad, Madras, Bombay, Hyderabad Dakkah, dan Bangalore.
Memang
benar terbukti bahwa jika seandainya di dalam konferensi itu tidak ada
artikel Mirza Sahib, niscaya umat Islam akan mengalami kehinan dan kenistaan
di hadapan umat-umat agama lainnya. Akan tetapi dengan tangan-Nya Yang
perkasa, Tuhan telah menyelamatkan Islam dari keruntuhan. Bahkan melalui
artikel tersebut Islam telah memperoleh kemenangan sedemikian rupa sehingga
bukan saja pihak-pihak yang sehaluan, para penentang pun secara spontan bangkit menyatakan bahwa artikel itu paling
unggul dari lainnya! Paling unggul! Bahkan pada saat berakhirnya pembacaan artikel
tersebut, pernyataan jujur yang muncul dari mulut para penentang
adalah, “Kini hakikat Islam telah
terbuka..... dan betul-betul terbukti benar. Kini tidak ada alasan lagi untuk
menentangnya. Justru hal itu merupakan kebanggaan bagi kita. Sebabnya adalah di
situ terbukti kehebatan Islam, dan di situ jugalah terbukti keagungan Islam. Memang demikianlah yang benar.”
Walaupun
itu merupakan pertemuan kedua dari kedua Konferensi Agama-agama Besar di
India, artikel tersebut melalui
kehebatan dan keagungannya telah mengalahkan segenap konferensi dan kongres
di India. Tokoh-tokoh dari berbagai daerah di India
hadir dalam kesempatan itu, dan dengan bangga kami menyatakan bahwa Perguruan-perguruan
Tinggi kita pun turut ambil bagian di dalamnya. Acara demikian itu demikian
menariknya sehingga 3 hari yang diumumkan dalam selebaran-selebaran terpaksa
ditambah 1 hari lagi. Untuk pelaksanaan Konferensi itu Komite penyelenggaran
telah memilih tempat yang paling luas di
Lahore, yaitu Islamiah College.
Akan tetapi begitu banyaknya orang yang hadir sehingga tempat yang luas itu pun
tidak mencukupi lagi. Kehebatan Konferensi itu terbukti dari hadirnya
bukan saja tokoh-tokoh penting Punjab, tetapi juga dengan hadirnya hakim-hakim
dari Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Ilahabad, yaitu yang mulia Babu
Partol Chand Sahib dan Mr. Bannerji."
Artikel ini pertama-tama diterbitkan dalam
Laporan Konferensi Agama-agama Besar, Lahore. Dan dari Jemaat Ahmadiyah dengan
judul Islami Ushul Ki Filasafi, telah diterbitkan dalam bentuk
buku berbagai edisi bahasa Urdu dan Inggris. Selain itu terjemahannya telah
pula diterbitkan dalam bahasa Perancis, Belanda, Spanyol, Arab,
Jerman, dan bahasa-bahasa lainnya.
Dan para tokoh filsafat serta para editor
surat-suratkabar luar negeri pun telah menuliskan ulasan yang sangat hebat
tentang hal itu. Dan banyak para intelek
Barat yang sangat memujinya, misalnya:
- The Bristol Times and Mirror:
"Jelas
bukan orang biasa dia yang berdialog dengan orang-orang Eropa dan Amerika
dengan corak demikian."
- The Spiritual Journal, Boston:
"Buku
ini merupakan kabar suka yang murni bagi umat manusia."
- Theosopical Book Notes:
"Buku
ini merupakan gambaran yang terbaik dan paling menarik mengenai agama
Muhammad."
- The Indian Review:
"Pemikiran-pemikiran
dalam buku ini sangat cemerlang, lengkap, dan penuh hikmah. Pembaca akan
spontan mengungkapkan kata-kata pujian."
- The Moslem Review:
Penelaah buku ini akan menjumpai banyak
pandangan-pandangan yang benar, mendalam, orisinil, dan mengilhami."
Keindahan artikel ini di dalamnya tidak
ada serangan terhadap agama lainnya, melainkan hal keindahan-keindahan Islam
saja yang telah dipaparkan dan jawaban-jawaban
terhadap permasalahan-permasalahan itu hanya diberikan dari Alquran Majid semata, sedangkan jawaban-jawaban
itu diberikan dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga dari itu terbukti
kesempurnaan, keindahan, dan kelengkapan agama Islam dibandingkan dengan segenap agama lainnya.
ooo0ooo
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
KABAR SUKA AGUNG
BAGI PARA PENCARI
KEBENARAN
(Selebaran yang diterbitkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad a.s. sebelum Konferensi Agama-agama di Lahore)
Di dalam Konferensi Agama-agama
Besar yang akan diselenggarakan pada tanggal 26, 27, dan 28 Desember 1896
bertempat di Balaikota Lahore, artikel saya
ini yang berkenaan dengan keunggulan serta mukjizat Quran Syarif akan dibacakan. Artikel ini akan merupakan
artikel yang di luar kemampuan manusia dan merupakan salah satu di antara Tanda-tanda
Ilahi dan telah ditulis berdasarkan dukungan khusus dari-Nya. Di
dalamnya terkandung rahasia serta makrifat-makrifat Quran Syarif, yang dengan perantaraan itu akan bersinar
bagaikan matahari bahwa pada hakikatnya Quran
Syarif benar-benar Kalam Ilahi
dan Kitab Tuhan seluruh alam.
Bbarangsiapa akan mendengarkan artikel ini
dari awal sampai akhir – yang meliputi jawaban atas 5 permasalahan –
saya yakin di dalam dirinya akan timbul suatu keimanan baru dan di dalam
dirinya akan bangkit memancar suatu nur (cahaya) baru. Ia akan
mendapatkan tafsir yang padat lagi lengkap tentang Kitab Suci Allah Ta'ala. Ceramah saya ini bersih dari unsur-unsur kesia-siaan
manusia dan dari noda bualan.
Yang mendorong saya menulis surat
selebaran ini ialah semata-mata
karena solidaritas kepada sesama manusia, supaya mereka dapat menyaksikan kebagusan serta keindahan
Quran Syarif serta dapat melihat
betapa aniayanya lawan-lawan kami dalam mencintai kegelapan dan membenci
cahaya.
Allah Yang Maha Mengetahui telah memberi kabar
kepada saya dengan perantaraan ilham bahwa artikel (inilah yang akan
unggul atas semua artikel lainnya. Di dalamnya terdapat cahaya kebenaran,
hikmah dan makrifat. Golongan-golongan lain bila hadir dalam konferensi
ini, mendengarkannya dari awal hingga akhir akan menjadi malu. Dan
mereka sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan kelebihan-kelebihan
semacam ini dari kitab-kitab mereka, baik yang beragama Kristen atau Sanathan Dharm maupun yang lainnya. Sebab
Allah Ta'ala telah berkehendakagar pada hari
itu zahir penampakkan keagungan
Kitab Suci-Nya.
Berkenaan dengan itu saya melihat di dalam sebuah kasyaf suatu tangan
dari alam gaib menepuk tempat
kediaman saya. Akibat sentuhan tangan tersebut dari tempat
kediaman itu muncul nur (cahaya) yang berbinar-binar
dan menyebar ke sekeliling dan cahaya itu juga menerpa tangan saya.
Lalu, seseorang yang berdiri di samping saya berseru dengan suara yang
membahana:
اَللهُ اَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ
[Allah Maha Besar, Khaibar
sudah ditaklukan!]
Ada
pun ta'birnya ialah, yang dimaksud dengan tempat kediaman adalah hati
saya, yang menjadi tempat turun dan hinggapnya nur (cahaya), dan nur
(cahaya) itu adalah makrifat-makrifat Quraniah. Sedangkan yang dimaksud
dengan Khaybar adalah semua agama rusak yang telah dicampuri syirik
dan bid’ah-bid’ah, yang
menempatkan seorang manusia pada kedudukan Tuhan atau menjatuhkan
Sifat-sifat Tuhan dari kedudukannya yang sempurna.
Jadi, kepada saya telah diperlihatkan,
setelah artikel saya tersiar luas, akan terbukalah kedustaan agama-agama
palsu, lalu hari demi hari kebenaran Quran Syarif akan terus tersebar luas ke seluruh permukaan
bumi, sehingga memenuhi batas-batas wilayahnya.
Kemudian dari kondisi kasyaf itu saya dialihkan pada ilham
lalu turunlah ilham kepada saya:
اِنَّّ اللهَ مَعَكَ اِنَّ اللهَ يَقُوْمُ
اَيْنَمَاقُمْتَ
Yakni, "Sesungguhnya Allah
beserta engkau, sesungguhnya Allah berdiri di mana engkau berdiri." Ini merupakan ungkapan dukungan Ilahi.
Sekarang saya tidak bermaksud menulis lebih
banyak. Saya beritahukan kepada tiap-tiap orang supaya meluangkan waktu untuk
berkunjung ke Lahore
pada waktu Konferensi tersebut diselenggarakan, untuk mendengarkan makrifat-makrifat yang
akan memberikan faedah kepada akal serta keimanan mereka di luar
dugaan mereka sendiri.
Keselamatan bagi mereka yang
mengikuti petunjuk.
Yang lemah,
Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian,
21 Desember 1896
Tidak ada komentar:
Posting Komentar