Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN IV



Perbaikan Ketiga:
Keadaan-keadaan Ruhani Manusia

     Persoalan ketiga ialah: Apakah keadaan keadaan ruhani itu? Hendaknya jelas bahwa sebelum ini kami sudah menerangkan bahwa menurut petunjuk Quran Syarif    sumber dan mata-air keadaan-keadaan rohani adalah nafs muthmainnah, yang mengantarkan manusia dari  derajat akhlak sampai  pada derajat kedekatan dengan Tuhan. Sebagaimana  Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ()ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً()فَادْخُلِي فِي عِبَادِي()وَادْخُلِي جَنَّتِي
Yakni, wahai jiwa yang mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb engkau! Dia ridha (senang) kepada engkau dan engkau pun ridha (senang) kepada-Nya. Maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr, 28-31)..
     Pada tempat ini ada baiknya kalau kami menafsirkan ayat suci ini agak lebih luas untuk menjelaskan keadaan-keadaan ruhani.  Jadi hendaklah diingat bahwa di dalam kehidupan manusia di dunia ini keadaan ruhani tertinggi adalah memperoleh ketentraman bersama Allah Ta'ala, dan segala ketenangan, kebahagiaan, dan kelezatan baginya terpusat pada Tuhan. Inilah keadaan yang dengan  kata lain  disebut  kehidupan surgawi.
      Dalam keadaan itu manusia langsung mendapat surga sebagai ganjaran atas kejujuran hati, ketulusan,  dan kesetiaannya yang sempurna. Orang-orang lain masih mengharapkan surga yang dijanjikan, sedangkan orang yang  memiliki derajat ruhani tertinggi itu telah masuk ke dalam surga yang sudah menjadi kenyataan.
     Setelah mencapai derajat ini barulah manusia mengerti bahwa ibadah yang telah dibebankan atasnya justru merupakan makanan yang dengan itu  ruhnya akan  tumbuh berkembang, dan merupakan landasan yang kuat sekali  bagi kehidupan ruhaninya. Untuk meraih hasilnya tidak bergantung pada suatu alam lain, justru di tempat ini (di dunia) jugalah hasil itu  diperoleh.
     Segala  pengecaman  yang dilakukan oleh nafs lawwaamah manusia atas kehidupannya yang kotor – dan nafs lawwaamah itu tetap tidak mampu membangkitkan secara benar keinginan-keinginan baik, dan tidak dapat membangkitkan kebencian sejati terhadap keinginan-keinginan buruk, serta tidak dapat pula memberikan kekuatan  sempurna  untuk bertahan di atas kebaikan --  melalui gerakan suci inilah hal-hal tersebut berubah.
     Itulah yang merupakan awal pertumbuhan nafs muthmainnah. Dan setelah mencapai derajat tersebut tibalah saatnya manusia meraih kejayaan (kesuksesan) yang sempurna. Sejak itu dorongan-dorongan nafsu mulai padam dengan   sendirinya, dan  angin pemberi kekuatan mulai  bertiup di atas ruh, yang dengan itu manusia memandang kelemahan-kelemahannya yang sudah-sudah dengan perasaan malu. Pada saat itu di dalam diri manusia timbul suatu revolusi besar,  dan timbullah perubahan luar-biasa di dalam tingkah lakunya. Kemudian ia sangat jauh meninggalkan keadaan-keadaannya semula,  dibasuh dan dibersihkan. Dan Tuhan  dengan Tangan-Nya Sendiri  menuliskan di dalam hati (kalbu)  orang itu kecintaan akan kebaikan, serta dengan Tangan-Nya  Sendiri Dia mencampakkan keluar kotoran keburukan dari dalam hatinya. Segenap lasykar kebenaran memasuki lubuk hatinya dan kebenaran menguasai seluruh kubu fitratnya, dan kebenaran pun meraih kemenangan, sedangkan kebatilan (kepalsuan) melarikan diri  dan membuang senjatanya. Pada kalbu orang itu terdapat Tangan Tuhan, dan setiap langkah bergerak di bawah naungan Tuhan. Di dalam ayat-ayat berikut ini Allah Ta'ala mengisyaratkan kepada hal-hal tersebut:
·       أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
·       وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ()فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
·       جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Yakni, Allah Ta'ala telah menuliskan dengan Tangan-Nya Sendiri keimanan dalam hati (kalbu) orang-orang mukmin dan menolong mereka dengan Ruhulqudus (Al-Mujaadilah, 23). Hai orang-orang yang beriman, Dia telah menjadikan keimanan sebagai sesuatu yang kamu cintai, dan telah menanamkan di dalam hati kamu keindahan serta kecantikannya. Dan Dia telah menanamkan di dalam hati kamu kebencian  terhadap kekufuran, perbuatan buruk, dan perbuatan dosa. Dan Dia telah menanamkan di dalam hati kamu rasa jijik terhadap segala  jalan yang buruk. Kesemuanya itu adalah berkat karunia dan rahmat Allah (Al-Hujuraat, 8-9). Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, dan kebatilan tidak mungkin bertahan terhadap kebenaran (Bani Israil, 82).
      Ringkasnya, semua isyarat ini mengarah kepada keadaan rohani yang diraih manusia pada derajat ketiga. Dan manusia kapan pun tidak akan  dapat memperoleh penglihatan sejati selama keadaan ini belum diraihnya.  Dan yang difirmankan Allah Ta'ala bahwa, "Aku telah menuliskan dengan Tangan-Ku sendiri keimanan di dalam kalbu mereka serta menolong mereka melalui  Ruhulqudus",  hal itu mengisyaratkan bahwa manusia sekali-kali  tidak akan dapat meraih kebersihan dan kesucian sejati selama pertolongan samawi belum menyertainya.
    Keadaan manusia pada derajat nafs lawwaamah adalah ia berulang kali bertaubat dan berulang kali tergelincir. Bahkan acapkali ia berputus asa  terhadap kemampuan dirinya dan menganggap penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi. Hingga  satu jangka waktu tertentu keadaannya demikian. Kemudian ketika waktu yang ditetapkan telah sempurna, maka pada malam hari atau pada siang hari turunlah suatu nur (cahaya) kepadanya,  dan di dalam nur (cahaya) itu terkandung kekuatan Ilahi. Bersamaan dengan turunnya nur (cahaya) itu timbul suatu perubahan menakjubkan di dalam dirinya dan terasa adanya suatu kekuatan Tangan Gaib, lalu nampaklah di hadapannya suatu alam yang menakjubkan. Pada saat itu manusia menyadari bahwa Tuhan benar-benar ada, dan pada matanya muncul cahaya yang tidak ada sebelumnya.
      Akan tetapi, bagaimanakah kita dapat menemui jalan itu, dan bagaimana kita dapat memperoleh  nur (cahaya) itu?  Jadi, hendaknya diketahui bahwa di dunia ini -- yang merupakan tempat berlakunya faktor-faktor sebab --  bagi setiap akibat ada satu penyebabnya, dan bagi setiap gerak ada satu penggeraknya. Dan untuk meraih setiap ilmu ada satu jalan yang dinamakan shiraathal mustaqim. Tiada suatu pun di dunia ini yang dapat diperoleh tanpa mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh kudrat (kekuasaan Tuhan) baginya sejak awal.
     Hukum kudrat menunjukkan, bahwa untuk memperoleh sesuatu ada shiraathal mustaqim, yang secara kudrati dengan bertumpu kepadanyalah  hal itu  baru dapat diperoleh. Umpamanya, jika kita duduk di dalam sebuah kamar yang gelap dan memerlukan cahaya matahari maka shiraatal mustaqim bagi kita  ialah kita harus membuka jendela yang menghadap ke arah matahari. Dengan demikian barulah cahaya matahari akan masuk ke dalam lalu menyinari kita.
     Jadi,   jelaslah untuk memperoleh karunia Tuhan yang sejati dan hakiki pasti ada suatu jendela tertentu, dan untuk mencapai keruhanian yang suci  pasti ada suatu cara tersendiri. Dan caranya, carilah shirathal mustaqim bagi hal-hal ruhaniah sebagaimana kita mencari shraathal mustaqim bagi keberhasilan-keberhasilan dalam segala urusan kehidupan kita.
     Akan tetapi apakah memang demikian caranya, yaitu kita mencari perjumpaan dengan Tuhan hanya bertumpu pada kemampuan akal kita dan melalui hal-hal yang kita rancang sendiri saja? Apakah hanya melalui logika dan falsafah kita saja maka pintu-pintu itu akan terbuka bagi kita – padahal terbukanya pintu-pintu tersebut  sangat tergantung pada Tangan-Nya yang perkasa?
    Fahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa hal demikian sama sekali tidak benar. Kita sama sekali tidak dapat  meraih Sang Hayyul Qayyum dengan hanya melalui upaya-upaya kita sendiri. Justru pada jalan ini satu-satunya shiraathal mustaqim ialah, pertama-tama kita harus mewakafkan kehidupan kita beserta kemampuan kita pada jalan Allah, kemudian tetap tekun memanjatkan doa untuk meraih perjumpaan dengan Allah, supaya kita bisa mendapatkan Tuhan dengan perantaraan Tuhan sendiri.

Sebuah Doa Yang Indah

      Doa paling indah yang diajarkan kepada kita selaras dengan waktu dan keadaan yang tepat,  dan yang menampilkan di hadapan kita gambaran gejolak ruhaniah yang dimiliki oleh fitrat ialah doa yang telah diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam Kitab suci-Nya,  Quran Syarif, yakni surah Al Fatihah, dan doa itu ialah:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala pujian suci yang ada ialah bagi Allah Yang menciptakan dan memelihara seluruh alam (Al Fatihah, 1-2).
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dia-lah Tuhan Yang menyediakan bagi kita sarana-sarana rahmat sebelum kita melakukan amal perbuatan, dan Dia-lah Yang dengan rahmat-Nya memberikan ganjaran sesudah kita melakukan amal perbuatan (Al-Fatihah, 3).
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Dia-lah satu-satunya  Tuhan Pemilik Hari Pembalasan (Al Fatihah, 4). Dan tidak Dia serahkan Hari itu kepada siapa pun.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Wahai Dia Yang merupakan himpunan segala pujian itu, hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya dari Engkau-lah kami memohon taufik (kemampuan) dalam segala pekerjaan (Al-Fatihah, 5).   Di sini ungkapan penyembahan dengan  kata "kami" mengisyaratkan bahwa, "seluruh  penyembahan kami telah terpaut pada penyembahan terhadap Engkau dan tunduk di hadapan singgasana Engkau". Sebab manusia  dari segi kekuatan batiniahnya merupakan satu jamaah dan satu ummat. Dan dalam keadaan demikian bersujudnya seluruh kekuatan kepada Tuhan  itulah keadaan yang disebut Islam.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Tunjukilah kami jalan Engkau yang lurus dan teguhkanlah kami di atas jalan itu, lalu tunjukkanlah jalan orang-orang yang kepada  mereka  Engkau turunkan nikmat serta kemurahan Engkau, dan yang telah menjadi penerima anugerah serta karunia Engkau (Al-Fatihah, 6).
 غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Dan  hindarkanlah kami dari jalan orang-orang yang Engkau murkai dan yang tidak dapat mencapai Engkau serta yang telah sesat (Al-Fatihah, 7). Amin! Wahai Tuhan, lakukanlah demikian.
      Ayat-ayat ini menerangkan bahwa nikmat-nikmat Allah Ta'ala – yang dalam perkataan lain disebut karunia-karunia --  turun hanya kepada orang-orang yang telah mengorbankan hidup mereka di jalan Tuhan dan mewakafkan seluruh wujud mereka di jalan-Nya serta tenggelam dalam keridhaan-Nya, lalu senantiasa berdoa agar segala sesuatu yang dapat diperoleh manusia berupa nikmat-nikmat keruhanian, kedekatan dan perjumpaan dengan Tuhan serta percakapan dan dialog dengan-Nya,  semuanya itu dapat mereka peroleh. Dan bersama doa itu mereka melaksanakan ibadah dengan segenap kemampuan mereka, serta menjauhi dosa dan senantiasa merebahkan diri di singgasana Ilahi. Dan sejauh yang mungkin bagi mereka, mereka menghindarkan diri dari keburukan serta menjauhi jalan-jalan kemurkaan Ilahi. Jadi, karena mereka mencari Tuhan dengan semangat  serta ketulusan yang tinggi maka mereka menemukan-Nya dan mereka diberi minum dari mangkuk makrifat suci Allah Ta'ala.
     Istiqamah (kegigihan) yang telah disebut dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa karunia sejati lagi sempurna yang menyampaikan kita ke alam keruhanian ialah  berkaitan erat dengan istiqamah (kegigihan) yang sempurna. Dan yang dimaksud dengan istiqamah yang sempurna, ialah suatu kondisi tulus dan setia sedemikian rupa, yang tidak dapat dirusak oleh suatu ujian apa pun. Yakni suatu jalinan (hubungan) yang tidak dapat dipotong dengan pedang, tidak dapat dibakar oleh api,  dan tidak dapat dicelakakan oleh bencana apa pun. Kematian sanak saudara tidak dapat memutuskan jalinan (hubungan) itu. Perpisahan dari segala yang dicintai  tidak dapat mengganggunya. Kekhawatiran akan runtuhnya kehormatan sedikit pun tidak dapat membuatnya takut. Penderitaan karena dera siksaan yang dahsyat sedikit pun tidak membuat hatinya gentar.  Jadi, jalan ini memang sangat sempit dan jalan ini sangat sulit ditempuh. Ah, betapa sulitnya! Ke arah inilah Allah Ta’ala memberikan isyarat di dalam ayat-ayat berikut:
قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Yakni, katakanlah kepada mereka, "Sekiranya bapak-bapak kamu dan anak laki-laki kamu atau  saudara-saudara laki-laki kamu dan istri-istri kamu dan kaum keluarga kamu dan kekayaan yang kamu usahakan dengan susah-payah dan perniagaan yang kamu khawatirkan akan  terhenti dan gedung-gedung kamu yang  disukai hati kamu adalah lebih berharga daripada Allah dan Rasul-Nya, dan lebih berharga daripada berjihad pada  jalan Allah, maka tunggulah saat ketika Allah menurunkan perintah-Nya, dan Allah sekali-kali tidak akan menunjuki jalan-Nya kepada orang-orang yang berbuat jahat" (At-Taubah, 24).
    Dari ayat-ayat ini jelaslah, bahwa orang-orang yang meninggalkan kehendak Allah kemudian mencintai sanak-saudara dan harta-kekayaannya, mereka pada pandangan Allah merupakan orang-orang jahat, mereka niscaya akan binasa, sebab mereka telah mengutamakan sesuatu selain Allah.
     Itulah derajat ketiga, yang di dalamnya orang itu menjadi dekat dengan Tuhan, yang untuk mencapainya ia telah  menanggung ribuan penderitaan dan telah menundukkan kepala di hadapan Tuhan  dengan ketulusan dan keikhlasan sedemikian rupa, sehingga tiada lagi yang ia miliki selain Tuhan, seakan-akan semuanya telah mati.
     Jadi, hakikat sebenarnya ialah, selama kita sendiri belum mati,  Tuhan Yang Hidup tidak akan dapat kelihatan. Hari bagi penzahiran Tuhan adalah ketika kehidupan jasmani kita mengalami maut (kematian). Kita buta selama kita belum menutup mata terhadap benda lain selain Tuhan. Kita mati selama kita belum  seperti orang mati di tangan Tuhan. Tatkala wajah kita  betul-betul tertuju ke hadapan-Nya maka barulah istiqamah sejati --  yang mengalahkan seluruh hawa-nafsu – akan kita peroleh.  Sebelumnya tidak.  Istiqamah inilah yang mendatangkan maut (kematian) kepada kehidupan nafsu. Istiqamah kita adalah sebagaimana Dia berfirman:
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
Yakni, letakkanlah leher di hadapan-Ku bagai hewan kurban (Al-Baqarah, 113).  
      Demikian pula kita baru akan mencapai derajat istiqamah tatkala segala bagian wujud kita dan segala kemampuan diri   kita hanya tercurahkan kepada pekerjaan ini, dan maut (kematian) kita serta hidup kita menjadi untuk-Nya semata, sebagaimana Dia berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Yakni, katakanlah: Shalatku dan pengorbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Tuhan (Al-An'aam, 163). Dan tatkala kecintaan manusia terhadap Tuhan mencapai derajat demikian – yakni matinya dan hidupnya tidak untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan semata --  maka barulah Tuhan yang senantiasa mencurahkan kasih-sayang-Nya kepada orang-orang yang cinta kepada-Nya menurunkan kecintaan-Nya kepada manusia itu.
     Dengan  bertemunya dua kecintaan itu di dalam diri manusia timbul sebuah nur (cahaya) yang tidak dikenali dan tidak dipahami oleh dunia. Dan ribuan orang shiddiq serta yang berkepribadian suci telah dibunuh disebabkan dunia tidak mengenali mereka. Mereka dikatakan  pembuat makar dan mementingkan diri sendiri dikarenakan dunia tidak mampu melihat  wajah nurani mereka, sebagaimana Dia berfirman:
يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
Yakni,  orang-orang yang ingkar memang mereka melihat ke arah engkau namun engkau tidak kelihatan oleh mereka (Al-A'raaf, 199).
      Ringkasnya,  ketika nur (cahaya) itu mulai muncul  maka sejak hari itu kemunculan nur (cahaya) tersebut seorang duniawi berubah menjadi seorang wujud samawi. Dia  (Allah) Yang memiliki segala Wujud berbicara  di dalam diri orang itu, dan Dia memperlihatkan kilauan Ketuhanan-Nya. Dan kalbu orang  itu – yang dipenuhi dengan kecintaan suci --  dijadikan-Nya sebagai singgasana-Nya. Dan semenjak orang itu meraih suatu perubahan ruhaniah, lalu dia menjadi seorang pribadi baru,  maka Dia menjadi Tuhan yang baru baginya dan menampakkan  kebiasaan dan sunnah-sunnah yang baru. Bukan berarti bahwa  Dia merupakan  Tuhan yang baru atau kebiasaan-kebiasaan yang baru, melainkan kebiasaan-kebiasaan tersebut  berlainan dengan kebiasaan-kebiasaan umum Tuhan yang tidak dikenal oleh falsafah dunia. Berkenaan dengan orang semacam itu Allah Ta’ala telah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Yakni, yang tinggi derajatnya di antara manusia ialah mereka yang telah sirna di dalam keridhaan Tuhan. Mereka menjual  jiwa mereka dan membeli keridhaan Tuhan. Inilah orang-orang yang mendapat rahmat Tuhan. Demikian orang-orang yang telah mencapai derajat keadaan rohani mereka menjadi rela berkorban di jalan Tuhan (Al-Baqarah, 208).
      Dalam ayat ini Allah Ta'ala berfirman, bahwa orang yang mendapat keselamatan dari segala penderitaan, ialah dia yang menjual jiwanya di jalan Tuhan dan di jalan keridhaan-Nya, dan  dia dengan sepenuh hati membuktikan keadaan  dirinya bahwa  dia merupakan kepunyaan Tuhan, dan menganggap seluruh wujudnya sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk mentaati Sang Khaliq (Pencipta)  serta untuk mengkhidmati makhluk. Kemudian dia  begitu minatnya dan dengan sepenuh hati mengerjakan kebaikan-kebaikan  hakiki yang berkaitan dengan setiap  potensi, seakan-akan dia sedang menyaksikan Sang Kekasih Hakiki di dalam cermin kesetiaannya. Dan kehendaknya menjadi sewarna dengan kehendak Allah Ta'ala, dan segala kelezatan tampil di dalam kesetiaan terhadap-Nya. Dan segenap amal shalih mulai tampil bukan dalam bentuk upaya gigih melainkan dalam bentuk ketertarikan terhadap kelezatan dan kenikmatan. Itulah surga yang diperoleh insan   rohani sebagai panjar, sedangkan surga yang akan diperoleh kelak pada hakikatnya merupakan cerminan dan bayangan surga tersebut, yang akan diperlihatkan oleh kudrat Ilahi dalam bentuk jasmani di alam ukhrawi. Mengisyaratkan kepada hal inilah Allah Ta’ala berfirman:
·       وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ  
·       وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا   
·       إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا()عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا  
·       يُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا()عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا 
·        !$¯RÎ) $tRôtFôãr& šúï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 6xÅ¡»n=y Wx»n=øîr&ur #·ŽÏèyur    
·       وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Yakni, barangsiapa yang takut kepada Allah Ta'ala dan gentar terhadap martabat kebesaran serta keagungan-Nya baginya tersedia dua surga, yang satu di dunia ini dan yang lainnya di akhirat (Ar Rahmaan 47). Dan orang-orang yang tenggelam di dalam Tuhan, Tuhan telah memberi minum kepada mereka serbat yang mensucikan kalbu, pikiran-pikiran dan kehendak-kehendak mereka (Ad-Dahr, 22). Orang-orang baik meminum serbat yang campurannya kafur, mereka minum dari mata air yang mereka alirkan sendiri (Ad-Dahr, 6-7).

Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil

   Sebelumnya pun sudah saya uraikan bahwa kata kafur telah digunakan dalam ayat ini dengan maksud tertentu. Sebab, di dalam bahasa Arab kafara artinya adalah menekan serta menutupi Jadi,  ini mengisyaratkan bahwa mereka telah meneguk mangkuk inqitha' dan ruju' ilallah (pemutusan dan kembali kepada Allah) dengan ketulusan sedemikian rupa, sehingga kecintaan kepada dunia menjadi dingin sama sekali.  Ini merupakan hal prinsip, bahwa segala dorongan nafsu timbul dari keinginan di dalam hati. Dan ketika hati betul-betul jauh dari keinginan-keinginan yang tidak layak serta  sedikit pun tidak lagi memiliki kaitan dengannya, maka dorongan-dorongan nafsu itu pun lambat-laun menjadi berkurang hingga akhirnya lenyap.
    Jadi, di sini demikian jugalah maksud Allah Ta'ala, dan itu jugalah yang Dia jelaskan di dalam ayat tersebut, bahwa orang-orang yang telah tunduk secara sempurna kepada-Nya, mereka telah keluar sangat jauh dari dorongan-dorongan nafsu, dan mereka telah tunduk ke hadapan Tuhan sedemikian rupa, sehingga kalbu mereka menjadi dingin terhadap kesibukan duniawi, dan dorongan-dorongan nafsu mereka telah tertekan  tak ubahnya seperti kafur yang menekan unsur-unsur beracun.
     Kemudian difirmankan, bahwa setelah meneguk mangkuk kafur itu orang-orang tersebut meneguk mangkuk yang campurannya zanjabil (Ad-Dahr, 18-19). Kini, hendaknya diketahui bahwa zanjabil terdiri dari dua kata, yakni zana dan jabal. Dalam bahasa Arab zana berarti mendaki dan jabal berarti gunung, arti paduannya adalah mendaki gunung.
     Sekarang hendaknya diketahui, bahwa pada manusia  dari saat setelah mengalami suatu penyakit beracun hingga mencapai derajat kesehatan yang tinggi terdapat dua kondisi. Kondisi pertama, ialah ketika gejolak unsur-unsur beracun menjadi lenyap sama sekali dan gejolak unsur-unsur berbahaya mulai membaik dan serangan infeksi telah pulih, dan taufan fatal yang tadinya bergejolak telah mereda. Akan tetapi hingga saat itu tubuh masih lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan berat dan jalannya pun masih terhuyung-huyung.  Sedangkan kondisi kedua ialah tatkala kesehatan semula telah kembali muncul dan kekuatan terkumpul penuh di dalam tubuh,  dan karena kembalinya kekuatan maka timbullah semangat sehingga dengan serta-merta ia mendaki ke atas gunung, dan untuk meluapkan kegembiraan dia berlari-lari di dataran tinggi.
      Jadi, kekuatan ini diraih pada derajat suluk (jalan ke arah kesempurnaan rohani) yang ketiga. Mengenai kondisi ini Allah Ta'ala mengisyaratkan dalam ayat tersebut, bahwa orang-orang yang sangat dekat dengan Tuhan meneguk mangkuk yang mengandung campuran zanjabil (jahe). Yakni mereka meraih kekuatan penuh kondisi rohani, lalu memanjat puncak-puncak tinggi, dan pekerjaan-pekerjaan sulit dapat diselesaikan oleh tangan mereka, dan mereka memperlihatkan pengorbanan-pengorbanan yang sangat menakjubkan di jalan Allah.

Khasiat Zanjabil

      Di sini hendaklah jelas pula bahwa menurut ilmu ketabiban zanjabil merupakan obat yang dalam bahasa Hindi disebut sunth. Zanjabil banyak memberi kekuatan pada daya panas tubuh dan menghentikan disentri. Dan dinamakan zanjabil karena memberikan kekuatan  serta menimbulkan panas sedemikian rupa kepada orang yang lemah, sehingga ia mampu memanjat gunung-gunung.
     Maksud Allah Ta'ala memaparkan ayat-ayat yang berlawanan arah ini -- di satu tempat memaparkan masalah kafur dan di tempat lainnya masalah zanjabil --  adalah untuk menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa tatkala manusia bergerak dari dorongan-dorongan nafsu menuju ke arah kebaikan,  maka pertama-tama kondisi yang timbul setelah gerakan itu adalah lumpuhnya unsur-unsur beracun  yang ia miliki, dan dorongan-dorongan nafsu mulai berkurang, seperti halnya unsur-unsur beracun yang dilumpuhkan oleh kafur. Oleh karena itu kafur bermanfaat untuk penyembuhan penyakit kolera dan typhus. Dan kemudian ketika gejolak-gejolak unsur-unsur berbahaya telah lenyap sama sekali serta kesehatan rapuh yang bercampur kelemahan telah dicapai, maka tahapan yang kedua adalah  orang sakit yang lemah itu akan mendapatkan kekuatan dari serbat zanjabil.  Dan serbat zanjabil merupakan perwujudan keindahan serta kecantikan Allah Ta'ala, yang merupakan makanan bagi ruh.
     Apabila manusia memperoleh kekuatan dari perwujudan itu maka dia akan mampu memanjat puncak-puncak yang tinggi serta memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan besar yang begitu menakjubkan di jalan Allah Ta'ala. Sebab seseorang sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan pekerjaan demikian selama di dalam hatinya belum terdapat api kecintaan. Jadi, di sini untuk menjelaskan kedua keadaan itulah  Allah Ta'ala telah menggunakan kedua kata bahasa Arab tersebut. Pertama kafur, yang berarti sesuatu yang  menekan, dan yang kedua zanjabil yang berarti sesuatu yang mendaki. Dan di jalan  ini pun bagi para pencari Tuhan terdapat kedua keadaan itu.
      Ayat selanjutnya adalah:
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا
Yakni, Kami telah menyediakan bagi orang-orang ingkar – yang tidak mau menerima kebenaran – rantai-rantai, belenggu leher, dan nyala api yang membakar (Ad-Dahr, 5). Maksud ayat ini ialah barangsiapa yang tidak mencari Tuhan dengan tulus hati mereka akan mendapat siksaan dari Tuhan. Mereka terperangkap dalam jeratan-jeratan dunia sehingga seakan-akan kaki mereka terikat rantai. Dan mereka begitu tunduk kepada urusan-urusan dunia sehingga seakan-akan pada leher mereka terdapat sebuah belenggu yang menghalangi mereka untuk menengadah ke langit. Dan hati mereka terbakar oleh api ketamakan serta  nafsu untuk mendapatkan kekayaan, untuk memperoleh harta, untuk menguasai negeri tertentu, untuk menaklukkan musuh,  untuk mendapatkan sekian banyak uang dan harta.
     Jadi, dikarenakan Allah Ta'ala telah mendapatkan mereka dalam kondisi tidak layak dan tenggelam dalam pekerjaan-pekerjaan buruk itulah sebabnya ketiga bencana ini Dia letakkan pada mereka. Dan di sini juga diisyaratkan, bahwa apabila manusia melakukan suatu perbuatan maka bersesuaian dengan itu Allah Ta'ala pun dari pihak-Nya melakukan suatu perbuatan. Misalnya, pada saat manusia menutup semua pintu kamarnya maka sesudah perbuatan manusia itu perbuatan  Allah Ta'ala adalah Dia akan menciptakan kegelapan di dalam kamar tersebut. Oleh karena  hal-hal tersebut di dalam hukum kudrat Allah Ta'ala telah ditetapkan sebagai dampak mutlak bagi perbuatan-perbuatan kita,  kesemuanya itu merupakan perbuatan Allah Ta'ala, karena Dia-lah yang merupakan sebab dari segala sebab.
      Demikian pula misalnya jika seorang menelan racun mematikan maka setelah perbuatan itu perbuatan Allah Ta'ala adalah Dia mematikan orang tersebut. Demikian juga jika seseorang melakukan perbuatan tak senonoh yang dapat mendatangkan penyakit menular maka setelah perbuatan itu Allah Ta'ala adalah Dia akan membuat penyakit menular  itu menjangkiti orang tersebut.
    Jadi, sebagaimana di dalam kehidupan duniawi kita tampak jelas bahwa bagi setiap perbuatan kita terdapat suatu akibat yang mutlak,  dan akibat itu merupakan perbuatan Allah Ta'ala, demikian pula berkenaan dengan kerohanian pun berlaku hukum serupa. Sebagaimana Allah Ta'ala dengan jelas berfirman di dalam kedua tamsil berikut:
·       الَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ       
·       فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ   
Yakni, orang-orang yang  mengamalkan perbuatan ini – yaitu mereka yang telah berusaha keras mencari Allah Ta'ala – maka bagi  perbuatan itu sikap  Kami secara mutlak adalah Kami akan menunjukkan jalan Kami kepada mereka (Al-Ankabuut, 70). Dan orang-orang yang memilih jalan bengkok serta tidak ingin menempuh jalan lurus maka sikap Kami yang bersesuaian dengan itu adalah Kami akan membengkokkan hati mereka (Ash-Shaf, 6). Kemudian untuk lebih memperjelas keadaan ini Dia berfirman:
مَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Yakni, barangsiapa yang  buta di dunia ini maka di akhirat pun dia akan tetap buta, bahkan lebih buruk dari orang-orang buta (Bani Israil, 73). Ini mengisyaratkan bahwa bagi hamba-hamba shalih penampakan Tuhan akan tampil di dunia ini juga, dan di sini pulalah mereka meraih penampakkan Sang Kekasih itu,  yang untuk-Nya mereka meninggalkan segala sesuatu. Ringkasnya,  makna ayat itu adalah bahwa landasan kehidupan surgawi  justru tertanam di  dunia ini juga, sedangkan (demikian pula) akar kebutaan jahannami terletak di dalam kehidupan kotor lagi jijik yang ada di dunia ini juga.
     Kemudian Dia berfirman:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ك
Yakni orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka merupakan pewaris kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai (Al-Baqarah, 26). Di dalam ayat ini Allah Ta'ala telah menamsilkan iman dengan kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
     Jadi, jelas di sini telah diungkapkan dalam warna falsafah yang tinggi, bahwa seperti hubungan sungai-sungai dengan kebun demikian pulalah hubungan amal perbuatan dengan iman. Jadi, sebagaimana sebuah kebun tidak dapat hidup dengan subur tanpa air, demikian pula iman  tanpa amal shalih tidak dapat dikatakan iman yang hidup. Andaikata iman ada namun tidak ada amal maka sia-sialah keimanan itu. Dan apabila amal perbuatan ada sedangkan iman tidak ada, maka amal perbuatan itu merupakan pamer.
     Hakikat surga menurut Islam ialah, bahwa surga merupakan bayangan amal dan iman di dunia ini. Surga bukanlah suatu barang baru yang didapat manusia dari luar. Justru surga bagi manusia muncul dari dalam diri manusia sendiri. Dan surga bagi setiap orang merupakan iman dan amal shalihnya, yang sejak di dunia ini juga mulai terasa kelezatannya, serta seluruh kebun iman dan amal-amalnya kelihatan secara terselubung. Dan sungai-sungai pun kelihatan.  Kebun itu pulalah yang akan terasa secara nyata di alam akhirat. Ajaran suci Allah Ta'ala menerangkan kepada kita bahwa keimanan yang sejati, suci, teguh, dan sempurna --  yang bertalian dengan Sifat-sifat dan kehendak-Nya --  itu merupakan surga   yang indah  dan pohon-pohon yang berbuah lebat, sedangkan amal-amal shalih merupakan sungai-sungai surgawi, sebagaimana Dia berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ()تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
Yakni, kalimah keimanan --  yang suci dari segala kelebihan serta kekurangan, cela, cacat,  kepalsuan dan  kesia-siaan serta sempurna dari segala segi --  adalah ibarat pohon yang terhindar dari segala  macam kekurangan, yang akarnya menghunjam ke dalam bumi sedangkan cabang-cabangnya menjangkau langit dan berbuah sepanjang masa, dan tiada musim ketika dahan-dahannya tidak berbuah (Ibrahim, 25-26).
     Di dalam uraian ini Allah Ta'ala telah mengibaratkan kalimah keimanan sebagai pohon yang berbuah sepanjang masa, lalu menerangkan tiga tandanya:
1.     Tanda pertama, akarnya – yaitu  maknanya yang hakiki --  menghunjam ke dalam kalbu manusia. Yakni fitrat dan hati nurani manusia telah menerima hakikat dan kemurniannya.
2.     Tanda kedua ialah cabang-cabang kalimah itu menjangkau langit. Yakni dia mengandung unsur-unsur logika dan bersesuaian dengan hukum kudrat samawi yang merupakan pekerjaan Tuhan. Artinya,  dalil-dalil kebenaran serta kemurniannya  dapat dibuktikan melalui hukum kudrat. Kemudian dalil-dalil itu demikian luhurnya sehingga seakan-akan ada di langit, yang tidak dapat dijangkau oleh bantahan.
3.     Tanda ketiga ialah, buah yang layak untuk dimakan itu selamanya ada dan tidak pernah habis. Yakni, setelah penerapannya secara amalan maka berkat-berkat serta pengaruh-pengaruhnya tampak dan terasa di setiap zaman, tidak hanya muncul di suatu zaman tertentu saja lalu selanjutnya hilang.  
Dia kemudian berfirman:
مَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
Yakni, kalimah yang buruk adalah ibarat pohon yang tercabut dari bumi, yaitu fitrat manusia tidak menerimanya dan dari segi apapun tidak dapat berdiri tegak – baik dari segi dalil-dalil logika, dari segi hukum kudrat,  maupun dari segi hati nurani (Ibrahim 27). Ia hanya berupa  kisah dan dongengan belaka. Dan sebagaimana  Quran Syarif telah mengibaratkan iman di alam akhirat sebagai pohon-pohon suci, anggur, delima, dan buah-buah lezat, dan telah Dia uraikan bahwa pada hari itu  keimanan tersebut akan menjelma dan tampak dalam bentuk buah-buah  tadi maka seperti itu pulalah pohon buruk di akhirat telah Dia namakan zaqqum, sebagaimana Dia berfirman:
·    أَذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ()إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ()إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ()طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ()
·       إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ()طَعَامُ الْأَثِيمِ()كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ()كَغَلْيِ الْحَمِيمِ()
·       ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ()
Yakni, katakanlah oleh kamu: Apakah kebun-kebun surga yang baik ataukah pohon zaqqum yang merupakan suatu cobaan bagi orang-orang aniaya? Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh dari akar jahannam, yakni yang tumbuh dari ketakabburan dan kesombongan (Ash-Shaffat,  63-65). Itulah akar jahannam. Putiknya berbentuk sedemikian rupa seperti kepala syaitan. Syaitan artinya yang binasa. Kata syaitan berasal dari kata syayatha. Jadi, kesimpulannya adalah memakannya berarti suatu kebinasaan. Dan kemudian difirmankan bahwa pohon zaqqum merupakan makanan  bagi  orang-orang neraka yang sengaja melakukan dosa. Makanan itu bagaikan cairan tembaga yang akan bergolak di dalam perut seperti air mendidih. Kemudian difirmankan kepada orang neraka (penghuni neraka): "Rasakanlah pohon itu, kamu orang terhormat lagi mulia" (Ad-Dukhan, 44-47 & 50). Ini merupakan kalimat kemurkaan yang amat sangat. Maksudnya adalah, "Jika kamu tidak takabbur dan mempertimbangkan kemuliaan serta kehormatan kamu sehingga tidak berpaling dari kebenaran, maka pada hari ini tentu kamu tidak akan merasakan kepahitan-kepahitan tersebut!" Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa sebenarnya kata zaqqum merupakan gabungan kata zuq dan am, sedangkan am merupakan ringkasan dari kalimat   إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ yang di dalamnya terdapat satu huruf pertama ا (alif) dan satu huruf akhir   م (mim). Dan penggunaan yang berulang kali telah mengubah huruf ذ (dzal) menjadi      ز  (zai).
     Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana Allah Ta'ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran dunia ini dengan zaqqum, dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka  bermula dari dunia ini juga. Dia berfirman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:
نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ()الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ
Yakni, neraka adalah api yang  bersumber dari kemurkaan Tuhan dan dikobarkan oleh dosa, dan pertama-tama menguasai hati (Al-Humazah,  7-8). Hal itu mengisyaratkan bahwa sumber asli api tersebut  ialah kedukaan, kekecewaan, dan derita yang merenggut hati. Sebab segala siksaan rohani bermula dari hati lalu menjalari sekujur tubuh.
      Kemudian di tempat lain Dia berfirman:
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ .
Yakni, bahan bakar api neraka yang membuat api itu terus menerus berkobar terdiri dari dua bahan (Al-Baqarah, 25). Pertama, adalah manusia yang meninggalkan Tuhan hakiki dan menyembah benda-benda lain, atau atas kehendak sendiri membuat diri mereka disembah, sebagaimana Dia berfirman:
إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ .
Yakni, "kamu dan sembahan-sembahan palsu kamu --  yang merupakan manusia tetapi disebut tuhan --  akan dilemparkan ke dalam Jahannam." Bahan bakar  yang kedua bagi neraka adalah berhala-berhala. Artinya adalah jika kedua benda ini tidak ada maka neraka pun tidak akan ada (Al-Anbiyyaa, 99).
    Jadi, dari seluruh ayat ini nyatalah bahwa di dalam Kalam Suci Allah Ta'ala surga dan neraka tidaklah sama seperti dunia jasmani ini,  melainkan pangkal dan sumber   keduanya adalah perkara-perkara rohani. Ya, benda-benda itu di alam akhirat akan nampak dalam bentuk jasmani, akan tetapi di alam jasmani ini tidak akan demikian.

Sarana Untuk Menciptakan Hubungan Ruhani Yang Sempurna
Dengan Allah Ta'ala.

     Sekarang saya kembali kepada tujuan semula, mengatakan bahwa sarana untuk menciptakan hubungan ruhani dan  hubungan yang sempurna dengan Allah Ta'ala yang diajarkan  Quran Syarif kepada kita adalah  Islam dan doa Al-Fatihah. Yakni,  pertama-tama mewakafkan seluruh  hidup kita di jalan Allah dan kemudian senantiasa memanjatkan doa yang telah diajarkan kepada orang-orang Islam dalam surah Al-Fatihah. Kedua hal ini merupakan intisari Islam.
     Islam dan doa Al-Fatihah merupakan suatu sarana mulia untuk mencapai Allah di dunia dan untuk mereguk air keselamatan hakiki.  Bahkan inilah sarana yang telah ditetapkan oleh hukum kudrat untuk meraih kemajuan tertinggi bagi manusia dan untuk memperoleh perjumpaan Ilahi. Dan yang menemukan Allah adalah mereka yang masuk ke dalam api ruhani makna Islam dan yang senantiasa memanjatkan doa Al-Fatihah.
     Apakah Islam itu?   Islam adalah api menyala yang membakar kehidupan rendah kita dan menghanguskan berhala-berhala palsu kita lalu mempersembahkan pengorbanan jiwa kita, harta kita, dan kehormatan kita di hadapan Sang Sembahan Yang Mahabenar dan Mahasuci. Setelah masuk ke dalam air yang demikian  kita meminum air kehidupan yang baru. Dan segenap kekuatan ruhani kita lekat menyatu dengan Allah sedemikian rupa, bagai seutas tali yang diikatkan dengan tali lainnya. Bagai api halilintar, dari dalam diri kita muncul sebuah api dan sebuah api lagi turun kepada kita dari atas. Dengan bertemunya kedua kobaran api itu  segenap hawa-nafsu dan kecintaan kita terhadap wujud-wujud selain Allah menjadi hangus terbakar, dan kita menjadi mati dari kehidupan pertama kita. Berdasarkan  Quran Syarif,  keadaan ini dinamakan Islam. Melalui Islam dorongan-dorongan hawa-nafsu kita mengalami maut (kematian), dan kemudian melalui doa kita memperoleh kehidupan baru.
      Untuk kehidupan kedua ini keberadaan ilham Ilahi adalah penting. Pencapaian pada derajat itulah yang dinamakan liqa Ilahi, yakni penampakan dan perwujudan Allah. Setelah mencapai derajat ini manusia meraih suatu kedekatan dengan Allah Ta'ala, sehingga seakan-akan manusia melihat-Nya dengan mata, dan si manusia itu diberi kekuatan. Seluruh indera serta segala kemampuan batinnya dicemerlangkan, dan daya tarik kehidupan suci mulai berlangsung dengan sangat dahsyat. Setelah memasuki derajat ini, Allah Ta'ala menjadi mata yang dengan itu ia melihat, dan menjadi lidah yang dengan itu ia berkata-kata, menjadi tangan yang dengan itu ia menyerang, menjadi telinga yang dengan itu ia mendengar, menjadi kaki yang dengan itu ia berjalan. Mengisyaratkan kepada derajat itulah Allah Ta'ala berfirman:.
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ 
Tangannya (Muhammad saw.) merupakan  Tangan Allah Ta'ala yang di atas tangan-tangan mereka (Al-Fath, 11).   Dan demikian pula Dia berfirman:
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Yakni,  yang engkau lemparkan bukan engkau yang melemparkan melainkan Allah-lah yang telah melemparkan (Al-Anfal, 18).
     Ringkasnya, pada derajat ini timbul keterpaduan yang sempurna dengan Allah Ta'ala. Dan kehendak suci Allah Ta'ala mengalir di dalam urat-urat nadi ruh, dan kekuatan-kekuatan akhlak yang tadinya lemah, pada derajat ini tampak bagaikan gunung-gunung yang kokoh. Akal dan firasat menjadi sangat peka. Inilah makna ayat yang difirmankan Allah Ta'ala:
وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
     Pada derajat ini sungai-sungai kecintaan dan keasyikan bergejolak sedemikian rupa, sehingga mati untuk Allah Ta'ala, menanggung ribuan penderitaan,  dan kehilangan kehormatan demi Allah menjadi begitu mudahnya, seperti mematahkan sebuah ranting yang kecil. Ia ditarik terus menerus ke arah Allah Ta'ala dan ia tidak tahu siapa yang sedang menariknya. Sebuah Tangan gaib senantiasa menuntunnya, dan memenuhi Kehendak Allah Ta'ala merupakan tujuan utama hidupnya )Al-Mujaadilah, 23). Pada  derajat ini Allah Ta'ala nampak sangat dekat, sebagaimana Dia telah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Yakni, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaaf, 17). Dalam kondisi ini, orang yang memiliki derajat tersebut adalah bagaikan  buah matang yang dengan sendirinya jatuh dari pohon. Seperti itulah segenap hubungan rendah yang dimiliki orang, pada derajat tersebut menjadi lenyap. Ia akan memiliki hubungan yang sangat dalam dengan  Allah Ta'ala dan  menjadi jauh dari makhluk, serta meraih  berkata-kata dan bercakap-cakap dengan Allah Ta'ala.
     Sekarang pun pintu-pintu  untuk mencapai derajat tersebut masih terbuka sebagaimana telah terbuka pada masa  dahulu.  Dan sekarang pun karunia Allah Ta'ala masih menganugerahkan nikmat ini kepada para pencari sebagaimana dahulu Dia anugerahkan. Akan tetapi jalan ini tidak dapat dicapai hanya dengan ucapan-ucapan kosong, dan pintu ini tidak dapat terbuka dengan ocehan dan bualan belaka. Banyak yang mendambakannya namun sedikit sekali yang berhasil mendapatkannya.
     Apa yang menyebabkannya demikian? Sebabnya adalah derajat ini sangat bertumpu pada kerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh.  Teruslah bicara sampai Hari Kiamat, apalah yang dapat diperoleh!  Dengan jujur  melangkahkan kaki ke atas api ini --  yang justru karena sangat takut terhadapnya orang-orang lain pada berlarian – adalah syarat pertama jalan itu. Jika tidak ada upaya gigih dalam bentuk amalan maka sekedar berceloteh tidaklah berarti apa-apa. Berkenaan dengan itu Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Yakni, jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku – dimanakah  Aku? – maka katakanlah kepada mereka, "Dia sangat dekat kepada kamu." Aku mengabulkan doa mereka yang memanjatkan doa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka mencari perjumpaan dengan-Ku melalui doa-doa dan beriman kepada-Ku supaya mereka sukses (Al-Baqarah, 187).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...