Perbaikan Ketiga:
Keadaan-keadaan Ruhani Manusia
Persoalan ketiga ialah:
Apakah keadaan keadaan ruhani itu? Hendaknya jelas bahwa sebelum ini
kami sudah menerangkan bahwa menurut petunjuk Quran Syarif sumber dan mata-air
keadaan-keadaan rohani adalah nafs muthmainnah,
yang mengantarkan manusia dari derajat
akhlak sampai pada derajat
kedekatan dengan Tuhan. Sebagaimana
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ()ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَرْضِيَّةً()فَادْخُلِي فِي عِبَادِي()وَادْخُلِي جَنَّتِي
Yakni, wahai jiwa yang
mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb
engkau! Dia ridha (senang) kepada engkau dan engkau pun ridha (senang)
kepada-Nya. Maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke
dalam surga-Ku (Al-Fajr, 28-31)..
Pada tempat ini ada baiknya kalau kami
menafsirkan ayat suci ini agak lebih luas untuk menjelaskan keadaan-keadaan ruhani. Jadi hendaklah diingat bahwa di dalam kehidupan
manusia di dunia ini keadaan ruhani tertinggi adalah memperoleh ketentraman
bersama Allah Ta'ala, dan segala ketenangan, kebahagiaan, dan
kelezatan baginya terpusat pada Tuhan. Inilah keadaan yang
dengan kata lain disebut
kehidupan surgawi.
Dalam
keadaan itu manusia langsung mendapat surga sebagai ganjaran
atas kejujuran hati, ketulusan, dan
kesetiaannya yang sempurna. Orang-orang lain masih mengharapkan surga
yang dijanjikan, sedangkan orang yang
memiliki derajat ruhani tertinggi itu telah masuk ke dalam
surga yang sudah menjadi kenyataan.
Setelah mencapai derajat ini
barulah manusia mengerti bahwa ibadah yang telah dibebankan atasnya
justru merupakan makanan yang dengan itu
ruhnya akan
tumbuh berkembang, dan merupakan landasan yang kuat sekali bagi kehidupan ruhaninya. Untuk
meraih hasilnya tidak bergantung pada suatu alam lain, justru di
tempat ini (di dunia) jugalah hasil itu diperoleh.
Segala pengecaman yang dilakukan oleh nafs lawwaamah
manusia atas kehidupannya yang kotor – dan nafs lawwaamah itu
tetap tidak mampu membangkitkan secara benar keinginan-keinginan baik,
dan tidak dapat membangkitkan kebencian sejati terhadap keinginan-keinginan
buruk, serta tidak dapat pula memberikan kekuatan sempurna
untuk bertahan di atas kebaikan -- melalui gerakan suci inilah hal-hal
tersebut berubah.
Itulah yang merupakan awal
pertumbuhan nafs muthmainnah. Dan setelah mencapai derajat
tersebut tibalah saatnya manusia meraih kejayaan (kesuksesan) yang
sempurna. Sejak itu dorongan-dorongan nafsu mulai padam
dengan sendirinya, dan angin pemberi kekuatan
mulai bertiup di atas ruh,
yang dengan itu manusia memandang kelemahan-kelemahannya yang
sudah-sudah dengan perasaan malu. Pada saat itu di dalam diri manusia
timbul suatu revolusi besar, dan timbullah perubahan luar-biasa di
dalam tingkah lakunya. Kemudian ia sangat jauh meninggalkan keadaan-keadaannya
semula, dibasuh dan dibersihkan. Dan Tuhan
dengan Tangan-Nya Sendiri menuliskan di dalam hati (kalbu) orang itu kecintaan akan kebaikan,
serta dengan Tangan-Nya
Sendiri Dia mencampakkan keluar kotoran keburukan dari
dalam hatinya. Segenap lasykar kebenaran memasuki lubuk hatinya
dan kebenaran menguasai seluruh kubu fitratnya, dan kebenaran
pun meraih kemenangan, sedangkan kebatilan (kepalsuan) melarikan
diri dan membuang senjatanya. Pada kalbu
orang itu terdapat Tangan Tuhan, dan setiap langkah bergerak di
bawah naungan Tuhan. Di
dalam ayat-ayat berikut ini Allah Ta'ala mengisyaratkan kepada hal-hal
tersebut:
·
أُولَئِكَ كَتَبَ فِي
قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
·
وَزَيَّنَهُ فِي
قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ()فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ
حَكِيمٌ
·
جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ
الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Yakni, Allah Ta'ala telah menuliskan
dengan Tangan-Nya Sendiri keimanan dalam hati (kalbu)
orang-orang mukmin dan menolong mereka dengan Ruhulqudus (Al-Mujaadilah,
23). Hai orang-orang yang beriman, Dia telah menjadikan keimanan sebagai
sesuatu yang kamu cintai, dan telah menanamkan di dalam hati kamu keindahan
serta kecantikannya. Dan
Dia telah menanamkan di dalam hati
kamu kebencian terhadap
kekufuran, perbuatan buruk, dan perbuatan dosa. Dan Dia
telah menanamkan di dalam hati kamu rasa jijik terhadap
segala jalan yang buruk. Kesemuanya itu
adalah berkat karunia dan rahmat Allah (Al-Hujuraat,
8-9). Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, dan kebatilan tidak
mungkin bertahan terhadap kebenaran (Bani Israil, 82).
Ringkasnya, semua isyarat ini mengarah
kepada keadaan rohani yang diraih manusia pada derajat ketiga.
Dan manusia kapan pun tidak akan dapat memperoleh penglihatan sejati
selama keadaan ini belum diraihnya. Dan yang difirmankan Allah Ta'ala bahwa, "Aku
telah menuliskan dengan Tangan-Ku sendiri keimanan di dalam kalbu mereka serta
menolong mereka melalui Ruhulqudus", hal itu mengisyaratkan bahwa manusia
sekali-kali tidak akan dapat meraih kebersihan
dan kesucian sejati selama pertolongan samawi belum menyertainya.
Keadaan manusia pada derajat nafs lawwaamah
adalah ia berulang kali bertaubat dan berulang kali tergelincir. Bahkan
acapkali ia berputus asa terhadap
kemampuan dirinya dan menganggap penyakitnya tidak dapat disembuhkan
lagi. Hingga satu jangka waktu tertentu
keadaannya demikian. Kemudian ketika waktu yang ditetapkan telah sempurna,
maka pada malam hari atau pada siang hari turunlah suatu nur
(cahaya) kepadanya, dan di dalam nur
(cahaya) itu terkandung kekuatan Ilahi. Bersamaan
dengan turunnya nur (cahaya) itu timbul suatu perubahan
menakjubkan di dalam dirinya dan terasa adanya suatu kekuatan Tangan
Gaib, lalu nampaklah di hadapannya suatu alam yang menakjubkan.
Pada saat itu manusia menyadari bahwa Tuhan benar-benar ada,
dan pada matanya muncul cahaya yang tidak ada sebelumnya.
Akan tetapi, bagaimanakah kita dapat
menemui jalan itu, dan bagaimana kita dapat memperoleh nur (cahaya) itu? Jadi, hendaknya diketahui bahwa di dunia ini --
yang merupakan tempat berlakunya faktor-faktor sebab -- bagi setiap akibat ada satu penyebabnya,
dan bagi setiap gerak ada satu penggeraknya. Dan untuk meraih setiap ilmu ada satu jalan
yang dinamakan shiraathal mustaqim. Tiada suatu pun di dunia ini
yang dapat diperoleh tanpa mengikuti peraturan-peraturan yang
telah ditetapkan oleh kudrat (kekuasaan Tuhan) baginya sejak awal.
Hukum kudrat menunjukkan, bahwa
untuk memperoleh sesuatu ada shiraathal mustaqim, yang secara kudrati
dengan bertumpu kepadanyalah hal
itu baru dapat diperoleh. Umpamanya,
jika kita duduk di dalam sebuah kamar yang gelap dan memerlukan cahaya
matahari maka shiraatal mustaqim bagi kita ialah kita harus membuka jendela yang
menghadap ke arah matahari. Dengan demikian barulah cahaya
matahari akan masuk ke dalam lalu menyinari kita.
Jadi, jelaslah
untuk memperoleh karunia Tuhan yang sejati dan hakiki
pasti ada suatu jendela tertentu, dan untuk mencapai keruhanian yang
suci pasti ada suatu cara
tersendiri. Dan caranya, carilah shirathal mustaqim bagi hal-hal ruhaniah
sebagaimana kita mencari shraathal mustaqim bagi
keberhasilan-keberhasilan dalam segala urusan kehidupan kita.
Akan tetapi apakah memang demikian
caranya, yaitu kita mencari perjumpaan dengan Tuhan hanya
bertumpu pada kemampuan akal kita dan melalui hal-hal yang kita rancang
sendiri saja? Apakah hanya melalui logika dan falsafah kita saja
maka pintu-pintu itu akan terbuka bagi kita – padahal terbukanya
pintu-pintu tersebut sangat tergantung
pada Tangan-Nya yang perkasa?
Fahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa
hal demikian sama sekali tidak benar. Kita sama sekali tidak dapat meraih Sang Hayyul Qayyum dengan
hanya melalui upaya-upaya kita sendiri. Justru pada jalan ini
satu-satunya shiraathal mustaqim ialah, pertama-tama kita harus mewakafkan
kehidupan kita beserta kemampuan kita pada jalan Allah,
kemudian tetap tekun memanjatkan doa untuk meraih perjumpaan dengan
Allah, supaya kita bisa mendapatkan Tuhan dengan perantaraan
Tuhan sendiri.
Sebuah Doa Yang Indah
Doa paling indah yang diajarkan kepada
kita selaras dengan waktu dan keadaan yang tepat, dan yang menampilkan di hadapan kita gambaran
gejolak ruhaniah yang dimiliki oleh fitrat ialah doa yang telah
diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam Kitab suci-Nya, Quran Syarif, yakni surah Al Fatihah,
dan doa itu ialah:
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala pujian suci yang ada
ialah bagi Allah Yang menciptakan dan memelihara seluruh alam (Al Fatihah,
1-2).
الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
Dia-lah Tuhan Yang
menyediakan bagi kita sarana-sarana rahmat sebelum kita melakukan amal
perbuatan, dan Dia-lah Yang dengan rahmat-Nya memberikan ganjaran sesudah kita
melakukan amal perbuatan (Al-Fatihah, 3).
مَالِكِ
يَوْمِ الدِّينِ
Dia-lah satu-satunya Tuhan Pemilik
Hari Pembalasan
(Al Fatihah, 4). Dan
tidak Dia serahkan Hari itu kepada siapa pun.
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Wahai Dia Yang merupakan
himpunan segala pujian itu, hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya
dari Engkau-lah kami memohon taufik (kemampuan) dalam segala pekerjaan (Al-Fatihah,
5). Di
sini ungkapan penyembahan dengan
kata "kami" mengisyaratkan bahwa, "seluruh penyembahan kami telah terpaut pada
penyembahan terhadap Engkau dan tunduk di hadapan singgasana Engkau".
Sebab manusia dari segi kekuatan
batiniahnya merupakan satu jamaah dan satu ummat. Dan dalam keadaan demikian bersujudnya seluruh
kekuatan kepada Tuhan itulah keadaan
yang disebut Islam.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ
الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Tunjukilah kami jalan Engkau
yang lurus dan teguhkanlah kami di atas jalan itu, lalu tunjukkanlah jalan
orang-orang yang kepada mereka Engkau turunkan nikmat serta kemurahan Engkau,
dan yang telah menjadi penerima anugerah serta karunia Engkau (Al-Fatihah,
6).
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا
الضَّالِّينَ
Dan hindarkanlah kami dari jalan orang-orang yang
Engkau murkai dan yang tidak dapat mencapai Engkau serta yang telah sesat (Al-Fatihah,
7). Amin! Wahai Tuhan,
lakukanlah demikian.
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa nikmat-nikmat
Allah Ta'ala – yang dalam perkataan lain disebut karunia-karunia
-- turun hanya kepada orang-orang yang
telah mengorbankan hidup mereka di jalan Tuhan dan mewakafkan
seluruh wujud mereka di jalan-Nya serta tenggelam dalam keridhaan-Nya,
lalu senantiasa berdoa agar segala sesuatu yang dapat diperoleh manusia
berupa nikmat-nikmat keruhanian, kedekatan dan perjumpaan
dengan Tuhan serta percakapan dan dialog dengan-Nya, semuanya itu dapat mereka peroleh. Dan bersama doa itu mereka melaksanakan ibadah
dengan segenap kemampuan mereka, serta menjauhi dosa dan
senantiasa merebahkan diri di singgasana Ilahi. Dan
sejauh yang mungkin bagi mereka, mereka menghindarkan diri dari keburukan
serta menjauhi jalan-jalan kemurkaan Ilahi. Jadi, karena mereka mencari
Tuhan dengan semangat serta ketulusan
yang tinggi maka mereka menemukan-Nya dan mereka diberi minum
dari mangkuk makrifat suci Allah Ta'ala.
Istiqamah (kegigihan) yang telah
disebut dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa karunia sejati lagi sempurna
yang menyampaikan kita ke alam keruhanian ialah berkaitan erat dengan istiqamah
(kegigihan) yang sempurna. Dan yang
dimaksud dengan istiqamah yang sempurna, ialah suatu kondisi tulus
dan setia sedemikian rupa, yang tidak dapat dirusak oleh suatu ujian
apa pun. Yakni suatu jalinan (hubungan) yang tidak dapat dipotong dengan
pedang, tidak dapat dibakar oleh api, dan tidak dapat dicelakakan oleh bencana
apa pun. Kematian sanak saudara tidak dapat memutuskan jalinan (hubungan)
itu. Perpisahan dari segala yang dicintai tidak dapat mengganggunya. Kekhawatiran
akan runtuhnya kehormatan sedikit pun tidak dapat membuatnya takut. Penderitaan
karena dera siksaan yang dahsyat sedikit pun tidak membuat hatinya gentar. Jadi, jalan ini memang sangat sempit
dan jalan ini sangat sulit ditempuh. Ah, betapa sulitnya! Ke arah
inilah Allah Ta’ala memberikan isyarat di dalam ayat-ayat berikut:
قُلْ
إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Yakni, katakanlah kepada
mereka, "Sekiranya bapak-bapak kamu dan anak laki-laki kamu atau saudara-saudara laki-laki kamu dan
istri-istri kamu dan kaum keluarga kamu dan kekayaan yang kamu usahakan dengan
susah-payah dan perniagaan yang kamu khawatirkan akan terhenti dan gedung-gedung kamu yang disukai hati kamu adalah lebih berharga
daripada Allah dan Rasul-Nya, dan lebih berharga daripada berjihad pada jalan Allah, maka tunggulah saat ketika Allah
menurunkan perintah-Nya, dan Allah sekali-kali tidak akan menunjuki jalan-Nya
kepada orang-orang yang berbuat jahat" (At-Taubah, 24).
Dari ayat-ayat ini jelaslah, bahwa
orang-orang yang meninggalkan kehendak Allah kemudian mencintai
sanak-saudara dan harta-kekayaannya, mereka pada pandangan Allah merupakan
orang-orang jahat, mereka niscaya akan binasa, sebab mereka telah
mengutamakan sesuatu selain Allah.
Itulah derajat ketiga, yang di
dalamnya orang itu menjadi dekat dengan Tuhan, yang untuk mencapainya ia
telah menanggung ribuan penderitaan
dan telah menundukkan kepala di hadapan Tuhan dengan ketulusan dan keikhlasan
sedemikian rupa, sehingga tiada lagi yang ia miliki selain Tuhan,
seakan-akan semuanya telah mati.
Jadi, hakikat sebenarnya ialah, selama
kita sendiri belum mati, Tuhan
Yang Hidup tidak akan dapat kelihatan. Hari bagi penzahiran
Tuhan adalah ketika kehidupan jasmani kita mengalami maut
(kematian). Kita buta selama kita belum menutup mata terhadap benda
lain selain Tuhan. Kita mati selama kita belum seperti orang mati di tangan Tuhan.
Tatkala wajah kita betul-betul
tertuju ke hadapan-Nya maka barulah istiqamah sejati
-- yang mengalahkan seluruh hawa-nafsu
– akan kita peroleh. Sebelumnya tidak. Istiqamah inilah yang mendatangkan maut
(kematian) kepada kehidupan nafsu. Istiqamah kita adalah
sebagaimana Dia berfirman:
بَلَى مَنْ
أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
Yakni, letakkanlah leher di hadapan-Ku
bagai hewan kurban (Al-Baqarah, 113).
Demikian pula kita baru akan mencapai
derajat istiqamah tatkala segala bagian wujud kita dan segala kemampuan
diri kita hanya tercurahkan kepada
pekerjaan ini, dan maut (kematian) kita serta hidup kita menjadi untuk-Nya
semata, sebagaimana Dia berfirman:
قُلْ إِنَّ
صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Yakni, katakanlah: Shalatku
dan pengorbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Tuhan (Al-An'aam,
163). Dan tatkala kecintaan
manusia terhadap Tuhan mencapai derajat demikian – yakni matinya dan hidupnya
tidak untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan semata -- maka barulah Tuhan yang senantiasa mencurahkan
kasih-sayang-Nya kepada orang-orang yang cinta kepada-Nya menurunkan kecintaan-Nya
kepada manusia itu.
Dengan
bertemunya dua kecintaan itu di dalam diri manusia timbul sebuah nur
(cahaya) yang tidak dikenali dan tidak dipahami oleh dunia. Dan ribuan orang shiddiq serta yang berkepribadian
suci telah dibunuh disebabkan dunia tidak mengenali mereka. Mereka
dikatakan pembuat makar dan mementingkan
diri sendiri dikarenakan dunia tidak mampu melihat wajah nurani mereka, sebagaimana Dia
berfirman:
يَنْظُرُونَ
إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
Yakni, orang-orang yang ingkar memang mereka melihat
ke arah engkau namun engkau tidak kelihatan oleh mereka (Al-A'raaf,
199).
Ringkasnya, ketika nur (cahaya) itu mulai
muncul maka sejak hari itu kemunculan nur
(cahaya) tersebut seorang duniawi berubah menjadi seorang wujud
samawi. Dia (Allah) Yang memiliki
segala Wujud berbicara di
dalam diri orang itu, dan Dia memperlihatkan kilauan Ketuhanan-Nya. Dan kalbu orang
itu – yang dipenuhi dengan kecintaan suci -- dijadikan-Nya sebagai singgasana-Nya. Dan semenjak orang itu meraih suatu perubahan
ruhaniah, lalu dia menjadi seorang pribadi baru, maka Dia menjadi Tuhan yang baru
baginya dan menampakkan kebiasaan
dan sunnah-sunnah yang baru. Bukan berarti bahwa Dia merupakan
Tuhan yang baru atau kebiasaan-kebiasaan yang baru, melainkan kebiasaan-kebiasaan
tersebut berlainan dengan kebiasaan-kebiasaan
umum Tuhan yang tidak dikenal oleh falsafah dunia. Berkenaan dengan
orang semacam itu Allah Ta’ala telah berfirman:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ
بِالْعِبَادِ
Yakni, yang tinggi derajatnya
di antara manusia ialah mereka yang telah sirna di dalam keridhaan Tuhan.
Mereka menjual jiwa mereka dan membeli
keridhaan Tuhan. Inilah orang-orang yang mendapat rahmat Tuhan. Demikian
orang-orang yang telah mencapai derajat keadaan rohani mereka menjadi rela
berkorban di jalan Tuhan (Al-Baqarah, 208).
Dalam ayat ini Allah Ta'ala berfirman,
bahwa orang yang mendapat keselamatan dari segala penderitaan, ialah dia
yang menjual jiwanya di jalan Tuhan dan di jalan keridhaan-Nya,
dan dia dengan sepenuh hati membuktikan
keadaan dirinya bahwa dia merupakan kepunyaan Tuhan, dan
menganggap seluruh wujudnya sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk mentaati
Sang Khaliq (Pencipta) serta untuk mengkhidmati
makhluk. Kemudian dia begitu minatnya
dan dengan sepenuh hati mengerjakan kebaikan-kebaikan hakiki yang berkaitan dengan setiap potensi, seakan-akan dia sedang menyaksikan
Sang Kekasih Hakiki di dalam cermin kesetiaannya. Dan kehendaknya menjadi sewarna dengan kehendak
Allah Ta'ala, dan segala kelezatan tampil di dalam kesetiaan
terhadap-Nya. Dan segenap amal
shalih mulai tampil bukan dalam bentuk upaya gigih melainkan dalam
bentuk ketertarikan terhadap kelezatan dan kenikmatan.
Itulah surga yang diperoleh insan rohani sebagai panjar, sedangkan surga
yang akan diperoleh kelak pada hakikatnya merupakan cerminan dan bayangan
surga tersebut, yang akan diperlihatkan oleh kudrat Ilahi
dalam bentuk jasmani di alam ukhrawi. Mengisyaratkan kepada hal
inilah Allah Ta’ala berfirman:
·
وَلِمَنْ خَافَ
مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
·
وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ
شَرَابًا طَهُورًا
· إِنَّ
الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا()عَيْنًا
يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا
·
يُسْقَوْنَ فِيهَا
كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا()عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا
·
!$¯RÎ)
$tRôtFôãr&
úïÌÏÿ»s3ù=Ï9
6xÅ¡»n=y
Wx»n=øîr&ur
#·Ïèyur
·
وَمَنْ كَانَ فِي
هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Yakni, barangsiapa yang takut
kepada Allah Ta'ala dan gentar terhadap martabat kebesaran serta keagungan-Nya
baginya tersedia dua surga, yang satu di dunia ini dan yang lainnya di akhirat
(Ar Rahmaan 47). Dan
orang-orang yang tenggelam di dalam Tuhan, Tuhan telah memberi minum kepada
mereka serbat yang mensucikan kalbu, pikiran-pikiran dan kehendak-kehendak
mereka (Ad-Dahr, 22). Orang-orang baik meminum serbat yang
campurannya kafur, mereka minum dari mata air yang mereka alirkan sendiri (Ad-Dahr,
6-7).
Hakikat Serbat Kafur dan
Zanjabil
Sebelumnya pun sudah saya uraikan bahwa kata
kafur telah digunakan dalam ayat ini dengan maksud tertentu. Sebab, di
dalam bahasa Arab kafara artinya adalah menekan serta menutupi
Jadi, ini mengisyaratkan bahwa mereka
telah meneguk mangkuk inqitha' dan ruju' ilallah (pemutusan dan
kembali kepada Allah) dengan ketulusan sedemikian rupa, sehingga kecintaan
kepada dunia menjadi dingin sama sekali. Ini merupakan hal prinsip, bahwa segala dorongan
nafsu timbul dari keinginan di dalam hati. Dan ketika hati betul-betul jauh dari keinginan-keinginan
yang tidak layak serta sedikit pun tidak
lagi memiliki kaitan dengannya, maka dorongan-dorongan nafsu itu pun
lambat-laun menjadi berkurang hingga akhirnya lenyap.
Jadi, di sini demikian jugalah maksud Allah
Ta'ala, dan itu jugalah yang Dia jelaskan di dalam ayat tersebut, bahwa
orang-orang yang telah tunduk secara sempurna kepada-Nya, mereka telah
keluar sangat jauh dari dorongan-dorongan nafsu, dan mereka telah tunduk
ke hadapan Tuhan sedemikian rupa, sehingga kalbu mereka menjadi dingin
terhadap kesibukan duniawi, dan dorongan-dorongan nafsu mereka
telah tertekan tak ubahnya
seperti kafur yang menekan unsur-unsur beracun.
Kemudian difirmankan, bahwa setelah
meneguk mangkuk kafur itu orang-orang tersebut meneguk mangkuk yang
campurannya zanjabil (Ad-Dahr, 18-19). Kini, hendaknya
diketahui bahwa zanjabil terdiri dari dua kata, yakni zana dan jabal.
Dalam bahasa Arab zana berarti mendaki dan jabal berarti gunung,
arti paduannya adalah mendaki gunung.
Sekarang hendaknya diketahui, bahwa pada
manusia dari saat setelah mengalami
suatu penyakit beracun hingga mencapai derajat kesehatan yang
tinggi terdapat dua kondisi. Kondisi pertama, ialah ketika gejolak unsur-unsur
beracun menjadi lenyap sama sekali dan gejolak unsur-unsur berbahaya
mulai membaik dan serangan infeksi telah pulih, dan taufan fatal yang
tadinya bergejolak telah mereda. Akan tetapi hingga saat itu tubuh masih
lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan berat dan jalannya pun masih
terhuyung-huyung. Sedangkan kondisi
kedua ialah tatkala kesehatan semula telah kembali muncul dan kekuatan
terkumpul penuh di dalam tubuh, dan karena
kembalinya kekuatan maka timbullah semangat sehingga dengan
serta-merta ia mendaki ke atas gunung, dan untuk meluapkan kegembiraan
dia berlari-lari di dataran tinggi.
Jadi, kekuatan ini diraih pada
derajat suluk (jalan ke arah kesempurnaan rohani) yang ketiga. Mengenai
kondisi ini Allah Ta'ala mengisyaratkan dalam ayat tersebut, bahwa orang-orang
yang sangat dekat dengan Tuhan meneguk mangkuk yang
mengandung campuran zanjabil (jahe). Yakni mereka meraih kekuatan
penuh kondisi rohani, lalu memanjat puncak-puncak tinggi, dan
pekerjaan-pekerjaan sulit dapat diselesaikan oleh tangan mereka, dan mereka
memperlihatkan pengorbanan-pengorbanan yang sangat menakjubkan di jalan
Allah.
Khasiat Zanjabil
Di
sini hendaklah jelas pula bahwa menurut ilmu ketabiban zanjabil
merupakan obat yang dalam bahasa Hindi disebut sunth. Zanjabil
banyak memberi kekuatan pada daya panas tubuh dan menghentikan
disentri. Dan dinamakan zanjabil
karena memberikan kekuatan serta
menimbulkan panas sedemikian rupa kepada orang yang lemah, sehingga ia
mampu memanjat gunung-gunung.
Maksud Allah Ta'ala memaparkan ayat-ayat yang
berlawanan arah ini -- di satu tempat memaparkan masalah kafur dan di
tempat lainnya masalah zanjabil --
adalah untuk menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa tatkala
manusia bergerak dari dorongan-dorongan nafsu menuju ke arah kebaikan,
maka pertama-tama kondisi yang
timbul setelah gerakan itu adalah lumpuhnya unsur-unsur beracun yang ia miliki, dan dorongan-dorongan
nafsu mulai berkurang, seperti halnya unsur-unsur beracun yang
dilumpuhkan oleh kafur. Oleh karena itu kafur bermanfaat untuk
penyembuhan penyakit kolera dan typhus. Dan kemudian ketika gejolak-gejolak unsur-unsur
berbahaya telah lenyap sama sekali serta kesehatan rapuh yang
bercampur kelemahan telah dicapai, maka tahapan yang kedua adalah orang sakit yang lemah itu akan mendapatkan kekuatan
dari serbat zanjabil. Dan serbat zanjabil merupakan perwujudan keindahan
serta kecantikan Allah Ta'ala, yang merupakan makanan bagi ruh.
Apabila manusia memperoleh kekuatan
dari perwujudan itu maka dia akan mampu memanjat puncak-puncak yang tinggi
serta memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan besar yang begitu menakjubkan di
jalan Allah Ta'ala. Sebab seseorang sama sekali tidak akan sanggup
memperlihatkan pekerjaan demikian selama di dalam hatinya belum terdapat api
kecintaan. Jadi, di sini untuk menjelaskan kedua keadaan itulah Allah Ta'ala telah menggunakan kedua kata
bahasa Arab tersebut. Pertama kafur, yang berarti sesuatu yang menekan, dan yang kedua zanjabil
yang berarti sesuatu yang mendaki. Dan
di jalan ini pun bagi para pencari
Tuhan terdapat kedua keadaan itu.
Ayat selanjutnya adalah:
إِنَّا
أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا
Yakni, Kami telah menyediakan
bagi orang-orang ingkar – yang tidak mau menerima kebenaran – rantai-rantai,
belenggu leher, dan nyala api yang membakar (Ad-Dahr, 5). Maksud
ayat ini ialah barangsiapa yang tidak mencari Tuhan dengan tulus hati mereka
akan mendapat siksaan dari Tuhan. Mereka terperangkap dalam jeratan-jeratan
dunia sehingga seakan-akan kaki mereka terikat rantai. Dan mereka begitu tunduk kepada urusan-urusan
dunia sehingga seakan-akan pada leher mereka terdapat sebuah belenggu
yang menghalangi mereka untuk menengadah ke langit. Dan
hati mereka terbakar oleh api ketamakan serta nafsu untuk mendapatkan kekayaan,
untuk memperoleh harta, untuk menguasai negeri tertentu, untuk menaklukkan
musuh, untuk mendapatkan sekian banyak
uang dan harta.
Jadi, dikarenakan Allah Ta'ala telah
mendapatkan mereka dalam kondisi tidak layak dan tenggelam dalam
pekerjaan-pekerjaan buruk itulah sebabnya ketiga bencana ini Dia
letakkan pada mereka. Dan di sini juga
diisyaratkan, bahwa apabila manusia melakukan suatu perbuatan maka
bersesuaian dengan itu Allah Ta'ala pun dari pihak-Nya melakukan suatu perbuatan.
Misalnya, pada saat manusia menutup semua pintu kamarnya maka sesudah
perbuatan manusia itu perbuatan
Allah Ta'ala adalah Dia akan menciptakan kegelapan di dalam kamar
tersebut. Oleh karena hal-hal tersebut
di dalam hukum kudrat Allah Ta'ala telah ditetapkan sebagai dampak mutlak
bagi perbuatan-perbuatan kita,
kesemuanya itu merupakan perbuatan Allah Ta'ala, karena Dia-lah yang merupakan sebab dari segala
sebab.
Demikian pula misalnya jika seorang
menelan racun mematikan maka setelah perbuatan itu perbuatan
Allah Ta'ala adalah Dia mematikan orang tersebut. Demikian juga jika
seseorang melakukan perbuatan tak senonoh yang dapat mendatangkan penyakit
menular maka setelah perbuatan itu Allah Ta'ala adalah Dia akan membuat
penyakit menular itu menjangkiti orang
tersebut.
Jadi, sebagaimana di dalam kehidupan
duniawi kita tampak jelas bahwa bagi setiap perbuatan kita terdapat
suatu akibat yang mutlak,
dan akibat itu merupakan perbuatan Allah Ta'ala, demikian
pula berkenaan dengan kerohanian pun berlaku hukum serupa.
Sebagaimana Allah Ta'ala dengan jelas berfirman di dalam kedua tamsil berikut:
·
الَّذِينَ جَاهَدُوا
فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
·
فَلَمَّا زَاغُوا
أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
Yakni, orang-orang yang mengamalkan perbuatan ini – yaitu mereka yang
telah berusaha keras mencari Allah Ta'ala – maka bagi perbuatan itu sikap Kami secara mutlak adalah Kami akan
menunjukkan jalan Kami kepada mereka (Al-Ankabuut, 70). Dan orang-orang
yang memilih jalan bengkok serta tidak ingin menempuh jalan lurus maka sikap
Kami yang bersesuaian dengan itu adalah Kami akan membengkokkan hati mereka (Ash-Shaf,
6). Kemudian untuk lebih memperjelas keadaan ini Dia berfirman:
مَنْ كَانَ
فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Yakni, barangsiapa yang buta di dunia ini maka di akhirat pun dia
akan tetap buta, bahkan lebih buruk dari orang-orang buta (Bani Israil,
73). Ini mengisyaratkan bahwa bagi hamba-hamba shalih penampakan Tuhan
akan tampil di dunia ini juga, dan di sini pulalah mereka meraih penampakkan
Sang Kekasih itu, yang untuk-Nya
mereka meninggalkan segala sesuatu. Ringkasnya,
makna ayat itu adalah bahwa landasan kehidupan surgawi justru tertanam di dunia ini juga, sedangkan (demikian pula) akar
kebutaan jahannami terletak di dalam kehidupan kotor lagi jijik
yang ada di dunia ini juga.
Kemudian Dia
berfirman:
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ك
Yakni orang-orang yang
beriman dan beramal shalih mereka merupakan pewaris kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai (Al-Baqarah, 26). Di dalam ayat ini Allah Ta'ala telah menamsilkan iman
dengan kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Jadi, jelas di sini telah diungkapkan
dalam warna falsafah yang tinggi, bahwa seperti hubungan sungai-sungai
dengan kebun demikian pulalah hubungan amal perbuatan
dengan iman. Jadi, sebagaimana sebuah kebun tidak dapat hidup
dengan subur tanpa air, demikian pula iman tanpa amal shalih tidak dapat
dikatakan iman yang hidup. Andaikata iman ada namun tidak ada amal
maka sia-sialah keimanan itu. Dan
apabila amal perbuatan ada sedangkan iman tidak ada, maka amal
perbuatan itu merupakan pamer.
Hakikat surga menurut Islam ialah,
bahwa surga merupakan bayangan amal dan iman di dunia ini.
Surga bukanlah suatu barang baru yang didapat manusia dari luar. Justru surga
bagi manusia muncul dari dalam diri manusia sendiri. Dan surga bagi setiap orang merupakan iman
dan amal shalihnya, yang sejak di dunia ini juga mulai terasa kelezatannya,
serta seluruh kebun iman dan amal-amalnya kelihatan secara terselubung.
Dan sungai-sungai pun kelihatan. Kebun
itu pulalah yang akan terasa secara nyata di alam akhirat. Ajaran suci
Allah Ta'ala menerangkan kepada kita bahwa keimanan yang sejati, suci,
teguh, dan sempurna -- yang bertalian
dengan Sifat-sifat dan kehendak-Nya -- itu merupakan surga yang
indah dan pohon-pohon yang
berbuah lebat, sedangkan amal-amal shalih merupakan sungai-sungai
surgawi, sebagaimana Dia berfirman:
ضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ()تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
Yakni, kalimah keimanan
-- yang suci dari segala kelebihan serta
kekurangan, cela, cacat, kepalsuan
dan kesia-siaan serta sempurna dari
segala segi -- adalah ibarat pohon yang
terhindar dari segala macam kekurangan,
yang akarnya menghunjam ke dalam bumi sedangkan cabang-cabangnya menjangkau
langit dan berbuah sepanjang masa, dan tiada musim ketika dahan-dahannya tidak
berbuah (Ibrahim, 25-26).
Di
dalam uraian ini Allah Ta'ala telah mengibaratkan kalimah keimanan
sebagai pohon yang berbuah sepanjang masa, lalu menerangkan tiga
tandanya:
1. Tanda pertama, akarnya – yaitu maknanya yang hakiki -- menghunjam ke dalam kalbu manusia. Yakni
fitrat dan hati nurani manusia telah menerima hakikat dan kemurniannya.
2. Tanda kedua ialah cabang-cabang kalimah itu menjangkau
langit. Yakni dia mengandung unsur-unsur logika dan bersesuaian dengan hukum
kudrat samawi yang merupakan pekerjaan Tuhan. Artinya, dalil-dalil kebenaran serta kemurniannya dapat dibuktikan melalui hukum kudrat.
Kemudian dalil-dalil itu demikian luhurnya sehingga seakan-akan ada di langit,
yang tidak dapat dijangkau oleh bantahan.
3. Tanda ketiga ialah, buah yang layak untuk dimakan itu
selamanya ada dan tidak pernah habis. Yakni, setelah penerapannya secara amalan
maka berkat-berkat serta pengaruh-pengaruhnya tampak dan terasa di setiap
zaman, tidak hanya muncul di suatu zaman tertentu saja lalu selanjutnya hilang.
Dia kemudian berfirman:
مَثَلُ
كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا
لَهَا مِنْ قَرَارٍ
Yakni, kalimah yang buruk
adalah ibarat pohon yang tercabut dari bumi, yaitu fitrat manusia tidak
menerimanya dan dari segi apapun tidak dapat berdiri tegak – baik dari segi
dalil-dalil logika, dari segi hukum kudrat,
maupun dari segi hati nurani (Ibrahim 27). Ia hanya
berupa kisah dan dongengan belaka. Dan
sebagaimana Quran Syarif telah mengibaratkan
iman di alam akhirat sebagai pohon-pohon suci, anggur, delima, dan
buah-buah lezat, dan telah Dia uraikan bahwa pada hari itu keimanan tersebut akan menjelma dan
tampak dalam bentuk buah-buah tadi maka seperti itu pulalah pohon buruk
di akhirat telah Dia namakan zaqqum, sebagaimana Dia berfirman:
· أَذَلِكَ
خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ()إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً
لِلظَّالِمِينَ()إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ()طَلْعُهَا
كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ()
· إِنَّ
شَجَرَةَ الزَّقُّومِ()طَعَامُ الْأَثِيمِ()كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي
الْبُطُونِ()كَغَلْيِ الْحَمِيمِ()
· ذُقْ
إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ()
Yakni, katakanlah oleh kamu:
Apakah kebun-kebun surga yang baik ataukah pohon zaqqum yang merupakan suatu
cobaan bagi orang-orang aniaya? Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh dari
akar jahannam, yakni yang tumbuh dari ketakabburan dan kesombongan (Ash-Shaffat, 63-65). Itulah akar jahannam. Putiknya
berbentuk sedemikian rupa seperti kepala syaitan. Syaitan artinya yang binasa.
Kata syaitan berasal dari kata syayatha. Jadi, kesimpulannya
adalah memakannya berarti suatu kebinasaan. Dan
kemudian difirmankan bahwa pohon zaqqum merupakan makanan bagi orang-orang
neraka yang sengaja melakukan dosa. Makanan itu bagaikan cairan tembaga
yang akan bergolak di dalam perut seperti air mendidih. Kemudian difirmankan
kepada orang neraka (penghuni neraka): "Rasakanlah pohon itu, kamu
orang terhormat lagi mulia" (Ad-Dukhan, 44-47 & 50).
Ini merupakan kalimat kemurkaan yang amat sangat. Maksudnya adalah,
"Jika kamu tidak takabbur dan mempertimbangkan kemuliaan serta kehormatan
kamu sehingga tidak berpaling dari kebenaran, maka pada hari ini tentu kamu
tidak akan merasakan kepahitan-kepahitan tersebut!" Ayat ini juga
mengisyaratkan bahwa sebenarnya kata zaqqum merupakan gabungan kata zuq
dan am, sedangkan am merupakan ringkasan dari kalimat إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ
الْكَرِيمُ yang di
dalamnya terdapat satu huruf pertama ا (alif) dan satu huruf akhir م (mim).
Dan penggunaan yang berulang kali
telah mengubah huruf ذ (dzal) menjadi ز (zai).
Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana
Allah Ta'ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai
surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran
dunia ini dengan zaqqum, dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia
telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka bermula dari dunia ini juga. Dia
berfirman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:
نَارُ
اللَّهِ الْمُوقَدَةُ()الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ
Yakni, neraka adalah api
yang bersumber dari kemurkaan Tuhan dan
dikobarkan oleh dosa, dan pertama-tama menguasai hati (Al-Humazah, 7-8). Hal itu mengisyaratkan bahwa sumber
asli api tersebut ialah kedukaan,
kekecewaan, dan derita yang merenggut hati. Sebab segala siksaan rohani
bermula dari hati lalu menjalari sekujur tubuh.
Kemudian di tempat lain Dia berfirman:
وَقُودُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ .
Yakni, bahan bakar api neraka
yang membuat api itu terus menerus berkobar terdiri dari dua bahan (Al-Baqarah,
25). Pertama, adalah manusia yang meninggalkan Tuhan hakiki dan menyembah
benda-benda lain, atau atas kehendak sendiri membuat diri mereka disembah,
sebagaimana Dia berfirman:
إِنَّكُمْ
وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ .
Yakni, "kamu dan
sembahan-sembahan palsu kamu -- yang
merupakan manusia tetapi disebut tuhan -- akan dilemparkan ke dalam Jahannam."
Bahan bakar yang kedua bagi neraka
adalah berhala-berhala. Artinya adalah jika kedua benda ini tidak ada
maka neraka pun tidak akan ada (Al-Anbiyyaa, 99).
Jadi, dari seluruh ayat ini nyatalah bahwa
di dalam Kalam Suci Allah Ta'ala surga dan neraka tidaklah sama
seperti dunia jasmani ini, melainkan
pangkal dan sumber keduanya
adalah perkara-perkara rohani. Ya, benda-benda itu di alam akhirat akan
nampak dalam bentuk jasmani, akan tetapi di alam jasmani ini tidak akan
demikian.
Sarana
Untuk Menciptakan
Hubungan Ruhani Yang Sempurna
Dengan Allah Ta'ala.
Sekarang saya kembali kepada tujuan semula,
mengatakan bahwa sarana untuk menciptakan hubungan ruhani dan hubungan yang sempurna dengan Allah
Ta'ala yang diajarkan Quran Syarif
kepada kita adalah Islam dan
doa Al-Fatihah. Yakni, pertama-tama mewakafkan seluruh hidup kita di jalan Allah dan kemudian
senantiasa memanjatkan doa yang telah diajarkan kepada orang-orang Islam
dalam surah Al-Fatihah. Kedua hal ini merupakan intisari Islam.
Islam dan doa Al-Fatihah
merupakan suatu sarana mulia untuk mencapai Allah di dunia dan untuk
mereguk air keselamatan hakiki. Bahkan inilah sarana yang telah ditetapkan
oleh hukum kudrat untuk meraih kemajuan tertinggi bagi manusia
dan untuk memperoleh perjumpaan Ilahi. Dan
yang menemukan Allah adalah mereka yang masuk ke dalam api ruhani
makna Islam dan yang senantiasa memanjatkan doa Al-Fatihah.
Apakah Islam itu? Islam adalah api menyala yang
membakar kehidupan rendah kita dan menghanguskan berhala-berhala
palsu kita lalu mempersembahkan pengorbanan jiwa kita, harta kita,
dan kehormatan kita di hadapan Sang Sembahan Yang Mahabenar dan Mahasuci.
Setelah masuk ke dalam air yang demikian kita meminum air kehidupan yang baru.
Dan segenap kekuatan ruhani kita lekat menyatu dengan Allah
sedemikian rupa, bagai seutas tali yang diikatkan dengan tali lainnya. Bagai api
halilintar, dari dalam diri kita muncul sebuah api dan sebuah api
lagi turun kepada kita dari atas. Dengan bertemunya kedua kobaran api
itu segenap hawa-nafsu dan kecintaan
kita terhadap wujud-wujud selain Allah menjadi hangus terbakar,
dan kita menjadi mati dari kehidupan pertama kita. Berdasarkan Quran Syarif, keadaan ini dinamakan Islam.
Melalui Islam dorongan-dorongan hawa-nafsu kita mengalami maut
(kematian), dan kemudian melalui doa kita memperoleh kehidupan baru.
Untuk kehidupan kedua ini
keberadaan ilham Ilahi adalah penting. Pencapaian pada derajat itulah
yang dinamakan liqa Ilahi, yakni penampakan dan perwujudan
Allah. Setelah mencapai derajat ini manusia meraih suatu kedekatan
dengan Allah Ta'ala, sehingga seakan-akan manusia melihat-Nya dengan
mata, dan si manusia itu diberi kekuatan. Seluruh indera serta
segala kemampuan batinnya dicemerlangkan, dan daya tarik kehidupan
suci mulai berlangsung dengan sangat dahsyat. Setelah memasuki derajat
ini, Allah Ta'ala menjadi mata yang dengan itu ia melihat, dan
menjadi lidah yang dengan itu ia berkata-kata, menjadi tangan
yang dengan itu ia menyerang, menjadi telinga yang dengan itu ia mendengar,
menjadi kaki yang dengan itu ia berjalan. Mengisyaratkan kepada derajat
itulah Allah Ta'ala berfirman:.
يَدُ
اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Tangannya
(Muhammad saw.) merupakan Tangan Allah
Ta'ala yang di atas tangan-tangan mereka (Al-Fath, 11). Dan
demikian pula Dia berfirman:
وَمَا
رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Yakni, yang engkau lemparkan bukan engkau yang
melemparkan melainkan Allah-lah yang telah melemparkan (Al-Anfal,
18).
Ringkasnya, pada derajat ini timbul keterpaduan
yang sempurna dengan Allah Ta'ala. Dan
kehendak suci Allah Ta'ala mengalir di dalam urat-urat nadi ruh,
dan kekuatan-kekuatan akhlak yang tadinya lemah, pada derajat
ini tampak bagaikan gunung-gunung yang kokoh. Akal dan firasat
menjadi sangat peka. Inilah makna ayat yang difirmankan Allah Ta'ala:
وَأَيَّدَهُمْ
بِرُوحٍ مِنْهُ
Pada derajat ini sungai-sungai
kecintaan dan keasyikan bergejolak sedemikian rupa, sehingga mati
untuk Allah Ta'ala, menanggung ribuan penderitaan, dan kehilangan kehormatan demi Allah
menjadi begitu mudahnya, seperti mematahkan sebuah ranting yang kecil. Ia
ditarik terus menerus ke arah Allah Ta'ala dan ia tidak tahu siapa yang sedang
menariknya. Sebuah Tangan gaib
senantiasa menuntunnya, dan memenuhi Kehendak Allah Ta'ala
merupakan tujuan utama hidupnya )Al-Mujaadilah,
23). Pada derajat ini Allah
Ta'ala nampak sangat dekat, sebagaimana Dia telah berfirman:
وَنَحْنُ
أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Yakni, Kami lebih dekat
kepadanya daripada urat lehernya (Qaaf, 17). Dalam kondisi ini,
orang yang memiliki derajat tersebut adalah bagaikan buah matang yang dengan sendirinya
jatuh dari pohon. Seperti itulah segenap hubungan rendah yang dimiliki
orang, pada derajat tersebut menjadi lenyap. Ia akan memiliki hubungan
yang sangat dalam dengan Allah
Ta'ala dan menjadi jauh dari
makhluk, serta meraih berkata-kata
dan bercakap-cakap dengan Allah Ta'ala.
Sekarang
pun pintu-pintu untuk mencapai derajat
tersebut masih terbuka sebagaimana telah terbuka pada masa dahulu.
Dan sekarang pun karunia
Allah Ta'ala masih menganugerahkan nikmat ini kepada para pencari
sebagaimana dahulu Dia anugerahkan. Akan tetapi jalan ini tidak
dapat dicapai hanya dengan ucapan-ucapan kosong, dan pintu ini tidak
dapat terbuka dengan ocehan dan bualan belaka. Banyak yang
mendambakannya namun sedikit sekali yang berhasil mendapatkannya.
Apa yang menyebabkannya demikian? Sebabnya
adalah derajat ini sangat bertumpu pada kerja keras dan upaya
yang sungguh-sungguh. Teruslah
bicara sampai Hari
Kiamat, apalah yang dapat
diperoleh! Dengan jujur melangkahkan kaki ke atas api ini
-- yang justru karena sangat takut
terhadapnya orang-orang lain pada berlarian – adalah syarat pertama jalan
itu. Jika tidak ada upaya gigih dalam bentuk amalan maka
sekedar berceloteh tidaklah berarti apa-apa. Berkenaan dengan itu Allah Ta'ala
berfirman:
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Yakni, jika hamba-hamba-Ku
bertanya tentang Aku – dimanakah Aku? –
maka katakanlah kepada mereka, "Dia sangat dekat kepada kamu." Aku
mengabulkan doa mereka yang memanjatkan doa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka
mencari perjumpaan dengan-Ku melalui doa-doa dan beriman kepada-Ku supaya
mereka sukses (Al-Baqarah, 187).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar