PENGABDIAN DAN KESETIAAN AHMADIYAH PADA PERJUANGAN
KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Tidak sedikit putera Ahmadi yang
gugur sebagai bunga bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan negara tercinta
ini. Dorongan imaniat yang merupakan suatu hal yang tak terpisahkan dari
kehidupan seorang Ahmadi, suatu kecintaan yang tanpa pamrih, yang dilandasi
suatu sabda kudus dari Rasul suci Muhammad saw., bahwa cinta tanah air adalah
sebagian dari Iman, mengantarkan Jemaat Ahmadiyah dan warganya untuk selalu
tampil berkorban bersama rekan-rekan sebangsanya di mana pun mereka berada.
Dalam naskah yang ruang lingkupnya sangat terbatas ini tak dapat kami uraikan
secara luas dan terperinci, akan tetapi kami berusaha mengemukakan hal-hal
spesifik, yang esensil berkenaan dengan judul di atas dengan serelevan mungkin.
Berikut ini kami turunkan sebuah
catatan pribadi dari seorang mubaligh Ahmadiyah, Sayyid Shah Muhammad
Al-Jaelani. Catatan ini kami kutip langsung dari majalah “Sinar Islam” nomor
Yubillium 50 tahun Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Sulh 1355, Januari 1976,
No.15/tahun ke-IV. Berikut ini adalah penuturannya :
“….. Saya terpaksa harus
mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang telah
berlalu sekitar tiga puluh tahun, waktu saya masih aktif sebagai Muballigh Ahmadiyah
di Jawa Tengah dan melibatkan diri dalam gejolak api revolusi 17 Agustus 1945,
di kala Bangsa Indonesia bangun serentak membela dan menegakkan haknya untuk
menjadi satu bangsa yang merdeka.
Dalam bulan Agustus 1945 Amerika
menjatuhkan bom atom di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, yang memaksa Kaisar
Hirohito angkat tangan kepada sekutu dan melepaskan cengkeramannya di
negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang telah dikuasainya selama 3
1/2 tahun.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung
Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan dan serentak menyusun pemerintahan Republik Indonesia.
Dalam pada itu sementara Sekutu yang diwakili oleh tentara Inggeris mendarat di
kepulauan Indonesia
dengan tugas melucuti tentara Jepang. Belanda yang masih merasa berkuasa
mempergunakan kesempatan-kesempatan itu dengan membonceng tentara Sekutu masuk
ke Indonesia,
dengan nama NICA (Nederlands Indies Civil Administration). Pemerintah
R.I. merasa sukar untuk melanjutkan perjuangan
di ibukota Jakarta dan akhirnya dengan
pertimbangan yang masak di antara para
pemimpin maka diputuskan untuk memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Jogyakarta.
Para anggota Jemaat Ahmadiyah
yang tidak kalah patriotiknya, baik anggota biasa maupun pemimpin-pemimpin,
ikut aktif bersama-sama rekan-rekan sebangsanya memasukkan diri dalam kancah
perjuangan, baik secara langsung mengangkat senjata sebagai anggota BKR-TKR,
ataupun lasykar-lasykar rakyat seperti TRIP dan dalam badan-badan perjuangan
lainnya seperti “KOWANI”, KNI dan sebagainya.
Ketua PB. Jemaat Ahmadiyah Indonesia
pada waktu itu, yaitu Bapak R. Mohammad Muhyidin pegawai tinggi RI, aktif dalam
mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta. Dan pada waktu akan diadakan perayaan
Ulang Tahun RI pertama di Jakarta, beliau diangkat
sebagai Sekretaris Panitia. Bahkan beliau sendiri pada hari perayaan
kemerdekaan RI pertama akan memimpin barisan pawai dengan memegang bendera Sang
Merah Putih di muka barisan. Akan tetapi delapan hari sebelum HUT RI yang
pertama, beliau telah diculik oleh Belanda dan hingga kini hilang tak tentu
rimbanya. Menurut keterangan Bapak Suwiryo dan Yusuf Yahya (mantan Walikota dan
Wakil Walikota Jakarta), beliau telah dibawa oleh serdadu-serdadu Belanda ke
suatu tempat di Depok dan kemudian ditembak mati (disyahidkan). Innalillahi wa
inna ilaihi roji’uun.
Maulana Nuruddin dan Haji S.
Yahya Pontoh giat sekali mengunjungi pemusatan atau tempat-tempat tentara India
di Jakarta untuk menjelaskan dalam bahasa Urdu dan Inggeris kepada mereka
kebenaran kesucian perjuangan Bangsa Indonesia hingga banyak dari tentara India
menjadi insyaf dan melarikan diri dan kemudian menggabungkan diri dan berjuang
bersama dengan bangsa Indonesia.
Sebelum pasukan NICA memasuki dan
merebut kota Bandung, Bapak Abdul Wahid HA dan Malik Aziz Ahmad Khan aktif
sebagai penyiar RRI untuk siaran bahasa
Urdu untuk memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia ke benua alit India.
Orang-orang Ahmadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara tidak ketingalan mengambil
bagian dalam perjuangan fisik melawan Belanda. Perlu kiranya menjadi catatan,
bahwa ketika RI memerlukan pinjaman uang dari rakyat, maka anggota Jemaat
Ahmadiyah dengan spontan memberikan dengan segenap kemampuan yang ada. Tidak
sedikit jumlah uang yang diberikan oleh Jemaat Ahmadiyah.
Pada suatu pertemuan Bung Karno
menganjurkan kepada saya untuk pindah ke Jogyakarta, beliau berkata “hendaknya
tuan pindah di Jogyakarta saja, supaya kita dapat sering bertemu dan
membicarakan soal-soal agama”. Saya menjawab, “saya akan istikharah dahulu;
setelah itu baru dapat mengambil keputusan”. Setelah melaksanakan sembahyang
istikharah, diambillah keputusan untuk pindah ke Jogyakarta sesuai anjuran Bung
Karno. Semenjak itu mulailah saya memberikan sumbangan tenaga dan fikiran dalam
perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Di Jogyakarta sudah menetap
beberapa saudara anggota PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia seperti Bapak R. Hidayat
dan Bapak Ahmad Sarido serta Bapak-bapak Ahmadi dari Jawa Barat, antara lain
Bapak Harmaen, Bapak Dahnan Mansur, Bapak Karnaen dan lain-lain. Setelah
mengadakan perundingan, Bapak-bapak tersebut mengambil prakarsa untuk
mengadakan konperensi Jemaat Ahmamdiyah Indonesia di daerah RI bertempat di
Jogyakarta.
Konperensi memikirkan
langkah-langkah yang seharusnya diambil oleh Jemaat pada waktu itu sehubungan
dengan diterimanya perintah dari Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. supaya kita
membantu perjuangan Republik, sedang pada waktu itu belum mendapat pengakuan
dri luar. Tanah air Indonesia
masih dipersengketakan dengan Belanda. Badan itulah yang menjadi wadah bagi
Jemaat untuk membantu perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia pada waktu itu.
Atas prakarsa Dewan Keamanan PBB,
di masa itu dibentuk sebuah komisi yang terdiri dari beberapa Konsul Jendral
negara-negara asing yang berkedudukan di Jakarta.
Anggota-anggota komisi itu seringkali mondar-mandir ke Jogyakarta. Pada suatu
ketika Konsul Jendral Tiongkok Nasionalis yang namanya Mr. Chiang, sebagai
anggota komisi tersebut mengunjungi Jogyakarta. Untuk menghormati kedatangan
Konsul Jendral itu, di Presidenan diadakan suatu pertemuan yang dihadiri oleh
para Menteri Kabinet, pembesar-pembesar militer maupun sipil dan para
terkemuka.
Dalam pertemuan itu Mr. Chiang
berpidato dengan bersemangat dan dengan nada sombong. Ia sangat mencela dan
menghantam bangsa Indonesia
atas kejadian-kejadian di Tangerang, Tegal, Malang
dan lain-lain tempat di mana banyak penduduk China jadi korban. Setelah ia
selesai berpidato, maka hadirin diberikan kesempatan untuk memberikan kata sambutan.
Karena tiada seorang pun yang tampil ke muka dan memang keadaan tak mengizinkan
dan kurang tepat untuk orang-orang Indonesia, saya memberanikan diri
untuk menyambut pidato Mr. Chiang itu. Kurang lebih setelah jam lamanya saya
kupas pidatonya itu.
Selesai memberikan sambutan, saya
diserbu oleh para pemimpin bangsa Indonesia seperti almarhum Bapak Panglima
Besar Sudirman, Sri Sultan Hamengkubowono IX, Dr. Sukirman, Mr. Sujarwo
Condronegoro, H. Tabrani, Bung Tomo dan lain-lain. Mereka semua mengucapkan selamat
dan terima kasih serta memeluk saya. Pidato sambutan saya dianggap mereka
sebagai pembelaan di forum Internasional.
Uraian saya itu disiarkan dalam
berbagai bahasa seperti bahasa Inggeris, Perancis, Tionghoa, Arab, Urdu dan
bahasa Indonesia oleh IBC (Indonesian Broadcasting Corporation) dan
harian-harian yang terbit di Jogyakarta.
Saya teringat juga kejadian
ketika dalam bulan Oktober 1948 mendapat instruksi untuk membawa satu kopor
penuh uang Belanda dari pihak pemerintah pusat R.I. ke Jakarta untuk membantu
perjuangan kaum Republik di Jakarta dan di antaranya untuk membiayai “Sari
Pers” yang ada di bawah pimpinan Sastro Suwignyo di jalan Guntur. Untuk
menyelundupkan uang itu saya harus menempuh jalan-jalan yang berbahaya dan
mempunyai kisah tersendiri.
Setelah Belanda melakukan aksi
militer kedua, saya tetap tinggal di Jogyakarta dan terus membantu para pejuang
misalnya kontak dengan pemuda-pemuda, tentara, pelajar dan anak-anak gerilyawan
di luar kota
Jogyakarta. Karena hal itu nyawa saya sering hampir melayang.
Setelah resolusi Dewan Keamanan
mengenai perundingan RI – Belanda, di Jogyakarta terbentuk Panitia Pemulihan
Pemerinah RI Pusat, yang diketuai oleh Bapak Ki Hajar Dewantara dan saya
sendiri pun menjadi anggota dalam panitia tersebut.
Ketika Bung Karno dan Bung Hatta
serta beberapa pemimpin lainnya kembali dari Bangka
ke Jogyakarta, di Jogyakarta dibentuk Panitia Penyambutan untuk menyambut
rombongan para Pemimpin itu, di mana saya pun menjadi anggota panitia itu.
Ketika Belanda menyerahkan
kedaulatan ke tangan Republik Indonesia,
Bung Karno harus pindah lagi dari Jogyakarta ke Jakarta. Saya mendapat kehormatan terpilih
dalam rombongan 12 orang pengantar beliau ke Jakarta dengan plane pertama “Garuda”, di
mana saya satu-satunya orang yang bukan warga-negara RI. Di antara ke-12 orang
itu terdapat antara lain Ki Hajar Dewantara, Mr. Susanto Tirtoprojo, Sri Paku
Alam, Raden Mas Haryoto dan lain-lain.
Kejadian-kejadian itu menjadi
kenangan yang indah dan memberikan suatu perasaan bangga karena perintah dari
Imam Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. Dengan demikian merasa
sebagai suatu kewajiban yang suci untuk mempertahankan kemerdekaan dan
kehormatan bangsa Indonesia, sesuai dengan sabda Rasulullah saw.: ”Hubbul
wathan minal iimaan”, bahwa kecintaan kepada tanah air adalah sebagian daripada
iman.
Pemerintah RI/Kementerian
Penerangan telah mengeluarkan Surat Penghargaan atas nama saya tertanggal 3
Agustus nomor 39/UP/Ktr dengan kata-kata antara lain :
“Pernyataan penghargaan ini
didasarkan atas jasa-jasanya yang telah diberikan kepada perjuangan Bangsa dan
Negara Republik Indonesia
sewaktu masih harus mempertahankan dan memperkokoh kedudukan negara. Ia selalu
menyumbangkan fikiran dan tenaganya dengan sepenuh keyakinan untuk membuat
pendapat umum internasional bahwa perjuangan RI adalah benar dan adil”.
Atas jasa beliau dalam perjuangan
kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 10 Nopember 1958 Presiden Republik
Indonesia Ir. H. Soekarno menganugerahkan Tanda Jasa Pahlawan kepada Sayyid
Shah Muhammad selaku tokoh Ahmadiyah yang pengabdiannya baru kami turunkan
penuturannya di atas, masih banyak lagi tokoh Ahmadiyah yang lain yang
benar-benar telah mencurahkan segenap apa yang ada padanya untuk kepentingan
perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar