Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN VII



Masalah Kelima

SARANA-SARANA DAN JALAN APA SAJA
UNTUK MENDAPATKAN ILMU YAKNI MAKRIFAT?

S
ebagai jawaban  masalah ini, hendaknya jelas  bahwa  di sini tidak akan mungkin membahas apa yang telah diterangkan Quran Syarif  secara luas tentang hal itu, namun sebagai contoh akan diuraikan dalam kadar tertentu, Jadi hendaknya dimaklumi bahwa  Quran Syarif telah menetapkan tiga macam ilmu yaitu: 'ilmul-yaqin, 'ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam menafsirkan surah Alhaakumut-Takaatsur dan telah diterangkan bahwa 'ilmul-yaqin ialah mengetahui benda tertentu melalui suatu perantara dan tidak secara langsung. Misalnya kita menarik kesimpulan tentang adanya api karena melihat asap, sungguh pun kita tidak melihat api itu. Jadi, inilah yang disebut 'ilmul-yaqin. Dan apabila api itu sendiri yang kita lihat maka hal demikian menurut keterangan Quran Syarif  – yakni Surah Alhaakumut-Takaatsur – di antara tingkat-tingkat ilmu disebut 'ainul-yaqin. Kini tidak perlu lagi surah Alhaakumut Takaatsur ditulis kembali. Para pemerhati silakan menyimak tafsir tersebut pada tempatnya.
    Kini, hendaknya diketahui bahwa ilmu jenis pertama  ialah 'ilmul-yaqin, sarananya adalah akal dan keterangan-keterangan (manqulat). Mengenai para penghuni neraka Allah Ta'ala berfirman:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Yakni, para penghuni neraka   berkata, "Sekiranya kami bijak dan menelaah agama serta akidah dengan cara-cara yang masuk akal atau mendengarkan dengan penuh perhatian tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan orang-orang bijak dan para peneliti maka tentu hari ini kami tidak akan berada di dalam neraka" (Al-Mulk, 11).    Ayat ini sesuai dengan ayat lain sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Yakni, Allah Ta'ala tidak membebani jiwa-jiwa manusia untuk menerima suatu hal melampaui  kemampuan ilmunya, dan  Dia mengetengahkan akidah yang mampu dipahami oleh manusia agar perintah-Nya tidak merupakan suatu beban yang tidak sanggup dipikul (Al-Baqarah, 287).
     Di dalam ayat-ayat ini juga diisyaratkan bahwa dengan perantaraan telinga pun manusia dapat memperoleh 'ilmul-yaqin. Misalnya, kami belum pernah melihat London tetapi hanya mendengar dari orang-orang yang pernah melihat kota itu. namun apakah kita dapat meragukan bahwa mungkin mereka semua berdusta? Atau misalnya,  kami tidak mengalami zaman raja Alamgir dan tidak pernah pula melihat wajah Alamgir. Akan tetapi apakah kita masih ragu bahwa Alamgir merupakan seorang raja di anatra raja-raja Moghul?
     Nah, mengapa kita sampai begitu yakin?  Jawabannya ialah karena mendengarkan hal itu secara berkesinambungan. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa pendengaran pun dapat mengantarkan sampai ke tingkat 'ilmul-yaqin. Kitab-kitab para nabi seandainya pada rangkaian penuturannya tidak ditemukan cacat sedikit pun, itu juga merupakan sarana untuk memperoleh ilmu melalui pendengaran. Akan tetapi jika sebuah kitab disebut kitab samawi, lalu misalnya terdapat 50 atau  60  naskahnya dan sebagian bertentangan dengan bagian lainnya, maka walaupun suatu golongan meyakini bahwa di dalam kitab itu  hanya  2 atau 4 naskah saja yang sah --  sedangkan sisanya tidak dapat dipercaya dan palsu --  akan tetapi bagi peneliti, keyakinan yang tidak berlandaskan pada penelitian-penelitian  sempurna,  itu adalah sia-sia. Dan akibatnya ialah seluruh kitab tersebut dikarenakan kontradiksi yang dimilikinya akan dinyatakan sebagai sampah dan tak patut dipercaya. Dan sama sekali tidak dapat dibenarkan jika menetapkan keterangan-keterangan yang saling bertentangan itu sebagai sarana suatu ilmu. Sebab definisi ilmu ialah sesuatu yang memberikan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan. Sedangkan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan itu tidak mungkin ditemukan di dalam kumpulan kontradiksi.
     Di sini hendaknya diingat bahwa Quran Syarif  tidak terbatas pada pendengaran saja, sebab di dalamnya terdapat dalil-dalil hebat yang masuk akal untuk memberikan pemahaman kepada manusia. Dan sekian banyak akidah, prinsip,  dan perintah-perintah yang dipaparkan oleh Quran Syarif, tidak ada satu perkara pun yang di dalamnya terkandung kekerasan dan paksaan. Sebagaimana Quran Syarif  sendiri berkata bahwa semua akidah dan sebagainya itu sejak semula memang sudah ada di dalam fitrat manusia. dan Quran Syarif  dinamakan Dzikr, sebagaimana firman-Nya:
هَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ
Yakni,  Quran yang beberkat ini tidak membawa suatu barang baru melainkan ia mengingatkan kepada apa-apa yang tertanam dalam fitrat manusia dan dalam lembaran hukum kudrat (Al-Anbiyya, 51). Kemudian pada tempat lain Dia berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Yakni, agama ini tidak mungkin membuat seseorang percaya terhadap suatu hal secara paksa, melainkan bagi setiap perkara ia mengemukakan dalil-dalil (Al-Baqarah, 257). Di samping itu di dalam Quran Syarif juga terdapat suatu khasiat ruhaniah untuk menyinari kalbu-kalbu, sebagaimana Dia berfirman:
شِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ
Yakni,  Quran dengan segala khasiatnya menyembuhkan penyakit (Yunus, 58). Oleh sebab  itu Quran Syarif  tidak dapat disebut sebagai manquli kitab (kitab yang disampaikan berdasarkan keterangan secara turun-temurun) melainkan ia mengandung dalil-dalil logis yang berderajat tinggi, dan di dalamnya terdapat cahaya yang bersinar-sinar.
       Demikian pula dalil-dalil logika yang bertumpu pada unsur-unsur yang benar, tanpa diragukan mengantarkan sampai kepada 'ilmul-yaqin. Ke arah inilah Allah Tas’ala  mengisyaratkan di dalam ayat-ayat yang tertera berikut:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ()الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Yakni, apabila seorang cerdik-pandai dan para ahli  pikir merenungkan kejadian bumi dan benda-benda langit, dan dengan seksama  memperhatikan sebab-sebab peredaran malam dan siang, dengan memperhatikan tatanan itu mereka akan mendapatkan bukti tentang Wujud Allah Ta'ala. Jadi, untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mereka memohon pertolongan kepada Allah dan mereka mengingat Dia sambil berdiri, duduk, dan berbaring, sehingga dengan demikian akal pikiran mereka menjadi jernih.
     Jadi, apabila dengan memakai akal pikiran itu mereka merenungkan kejadian yang demikian indah dan paripurna benda-benda langit dan bumi, maka serta-merta  akan berseru, "Tatanan yang sempurna dan kokoh ini pasti tidak sia-sia dan tidak tanpa arti melainkan segalanya menampakkan Wajah Sang Pencipta hakiki". Nah, sesudah mereka menyatakan pengakuan terhadap Tuhan Yang Menciptakan alam semesta mereka memohon, "Ya Ilahi, Engkau Suci dari sikap seseorang yang mengingkari Wujud Engkau  lalu menyatakan sifat-sifat yang tidak  layak kepada Engkau, maka selamatkanlah kami dari api neraka. Yakni penolakan terhadap Wujud Engkau sungguh merupakan neraka. Segala kebahagiaan dan ketentraman terdapat dalam Wujud Engkau dan di dalam mengenali Engkau. Barangsiapa luput dari pengenalan hakiki Engkau pada hakikatnya ia berada dalam api di dunia ini (Ali 'Imran, 191-192).

Hakikat Fitrat Manusia

    Demikian pula hati nurani manusia pun merupakan sebuah sarana ilmu  yang di dalam Kitab Allah dinamakan fitrat manusia, sebagaimana Allah berfirman:
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Yakni, di atas fitrat Allah-lah orang-orang telah diciptakan (Ar-Ruum, 31).  Dan bagaimana gambaran fitrat itu gambaran fitrat itu  tidak lain  adalah  mempercayai Allah Ta'ala sebagai suatu  Wujud yang tidak ada sekutu-Nya,  Pencipta segala sesuatu,  suci dari kematian dan kelahiran. Dan saya katakan hati nurani pada derajat 'ilmul-yaqin, karena walau pun pada zahirnya tidak terjadi peralihan dari satu ilmu kepada ilmu lain --  tidak seperti terjadinya peralihan dari ilmu tentang asap kepada ilmu tentang api --  akan tetapi derajat 'ilmul-yakin ini tidak kosong dari proses peralihan yang halus. Dan proses peralihan itu ialah: Allah telah menanamkan pada setiap benda suatu khasiat yang tidak diketahui – yang tidak dapat diungkapkan melalui uraian mau pun ucapan --  akan tetapi dengan merenungkan hal itu serta dengan membayangkannya  maka segera alam  pikiran akan beralih ke arah khasiat tersebut.
     Ringkasnya, khasiat itu mutlak terdapat di dalam benda tersebut sebagaimana mutlaknya asap bagi api. Misalnya apabila kita memusatkan perhatian pada Dzat Allah Ta'ala – yakni bagaimana seharusnya Dia,  apakah seperti kita Tuhan itu dilahirkan dan seperti kita menanggung derita,  serta seperti kita mengalami kematian --  maka beriringan dengan pemikiran itu kalbu kita menjadi perih dan hati nurani  bergetar, serta menampakkan gejolak sedemikian rupa  yang menolak keras pemikiran tersebut dan bangkit berseru: "Yang patut bagi Tuhan,  yang kekuatan-kekuatan-Nya merupakan tumpuan bagi segala harapan adalah suci dari segala kekurangan, sempurna, dan berkuasa!"  Dan bila saja di dalam kalbu kita timbul pemikiran tentang Tuhan maka langsung saja terasa adanya kemutlakan total antara Tauhid dengan Tuhan, seperti halnya asap dengan api, bahkan lebih hebat dari itu. Oleh karenanya ilmu yang kita peroleh melalui hati nurani kita termasuk ke dalam derajat 'ilmul-yakin.
      Akan tetapi di atasnya   ada satu derajat lagi yang disebut 'ainul-yaqin, dan yang dimaksud dengan derajat ini ialah ilmu yang apabila di antara keyakinan kita dan benda yang kita yakini itu tidak terdapat suatu perantaran. Misalnya apabila kita mengetahui adanya bau harum dan bau busuk  lewat indera penciuman, atau kita mengetahui adanya rasa manis atau rasa asin lewat indera pencicipan, atau kita  mengatahui panas atau dingin dengan  perantaraan indera perasa, maka semua pengetahuan itu termasuk dalam kategori  'ainul-yaqin.
       Akan tetapi berkenaan dengan    alam ukhrawi Ilmu Ketuhanan kita baru akan sampai pada batas 'ainul-yaqin, bila kita sendiri menerima ilham tanpa perantara, mendengar suara Ilahi dengan telinga sendiri,  dan melihat kasyaf-kasyaf (pemandangan gaib) yang terang dan benar dengan mata sendiri. Tidak diragukan lagi untuk memperoleh makrifat yang sempurna kita sangat memerlukan ilham tanpa perantara, dan di dalam hati kita terdapat rasa lapar serta dahaga akan makrifat yang sempurna itu.
     Jika seandainya Allah Ta'ala sejak semula tidak menyediakan sarana-sarana makrifat itu bagi kita, maka mengapa telah Dia timbulkan rasa lapar dan dahaga ini di dalam diri kita?  Apakah di dalam kehidupan ini --  yang merupakan satu-satunya takaran untuk khazanah ukhrawi kita --  kita dapat merasa cukup puas beriman kepada Tuhan Yang Sejati, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Kuasa dan Maha Hidup hanya berdasarkan pada kisah-kisah dan hikayat-hikayat belaka? Atau kita merasa cukup  dengan melandaskannya pada makrifat akal semata  yang hingga kini merupakan makrifat yang cacat dan tidak sempurna?
      Tidakkah hati orang yang sangat asyik dan cinta kepada Tuhan berkeinginan untuk memperoleh kelezatan dari tutur-kata Sang Kekaksih?  Apakah orang-orang yang demi Tuhan telah memusnahkan seluruh  kehidupan  dunianya,  telah menyerahkan hatinya,  telah menyerahkan jiwanya, mereka dapat merasa puas dengan hanya berdiri dan mati di suatu tempat suram tanpa sedikit pun melihat sinar matahari kebenaran? Bukankah dengan pernyataan Tuhan Yang Maha Hidup ini – "Anal-maujud!"   (Aku ada) – Dia melimpahkan derajat makrifat sedemikian rupa, sehingga jika kita meletakkan buku-buku yang ditulis sendiri oleh  seluruh filsuf dunia di satu sisi, dan di sisi lain kita letakkan firman "Anal-maujud" milik Tuhan, maka dalam perbandingan ini seluruh buku tersebut tidak ada artinya. Orang-orang yang disebut filsuf namun tetap saja buta, apa pula yang akan mereka ajarkan kepada kita?
    Ringkasnya, jika Allah Ta'ala telah berkehendak untuk menganugerahkan makrifat yang sempurna kepada para pencari kebenaran maka pasti Dia telah membukakan jalan mukalamah dan mukhatabah-Nya (ilham dan wahyu). Berkenaan dengan ini Allah Ta’ala  berfirman di dalam Quran Syarif:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, Ya Tuhan, tunjukkanlah kami jalan istiqamah, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau  anugerahkan nikmat-nikmat kepada mereka (Al-Fatihah, 6-7). Di sini yang dimaksud nikmat-nikmat adalah ilham, kasyaf, dan ilmu-ilmu samawi lainnya yang diterima oleh manusia secara langsung. Begitu juga di tepat lain Dia berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Yakni, orang-orang yang telah beriman kepada Allah lalu beristiqamah sepenuhnya, para malaikat Allah turun atas mereka dan menyampaikan ilham ini kepada mereka, "Janganlah kamu takut dan sedih sedikit pun. bagi kamu tersedia surga yang telah dijanjikan kepada kamu (Ha MimAs-Sajdah, 31).
    Jadi, di dalam ayat ini pun telah difirmankan dengan kata-kata jelas bahwa hamba-hamba setia Allah Ta'ala memperoleh ilham dari Allah  pada saat sedih dan takut, dan malaikat-malaikat turun menentramkan mereka. Dan kemudian di dalam satu ayat lagi Dia telah berfirman:
لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, para sahabat  Tuhan di dunia ini  memperoleh kabar suka melalui ilham dan percakapan dengan Tuhan, dan di dalam kehidupan mendatang pun akan demikian (Yunus, 65).

Apakah Yang Dimaksud Dengan Ilham?

    Namun di sini hendaknya diingat bahwa kata ilham  bukan bukanlah berarti suatu pemikiran dan gagasan yang timbul di dalam kalbu seperti ketika seorang penyair sedang berusaha membuat syair. Atau, sesudah ia menyelesaikan syair penggalan pertama, ia berpikir untuk penggalan berikutnya maka lahirlah syair penggalan kedua di dalam hatinya. Jadi,  yang timbul di dalam hati serupa itu bukanlah ilham melainkan suatu hasil renungan dan pemikiran yang sejalan dengan hukum kudrat Tuhan. Orang yang memikirkan perkara-perkasa baik atau yang merenungkan perkara-perkara buruk – sesuai dengan yang dicarinya – maka pasti di dalam hatinya timbul suatu gagasan.
     Misalnya, seorang shalih dan jujur membuat beberapa syair yang mendukung kebenaran, sedangkan seorang lagi yang alam pikirannya kotor dan rucah membuat syair yang mendukung kebohongan serta mengandung caci-makian terhadap orang shalih, maka  tidak diragukan lagi bahwa kedua orang  ini memang akan berhasil membuat beberapa syair. Bahkan sedikit pun tidak mengherankan bahwa musuh orang shalih yang mendukung kedustaan itu akan menghasilkan syair yang hebat  berkat pengalamannya yang panjang.
    Jadi,  kalau apa saja yang tercetus di dalam hati disebut ilham maka seorang penyair yang kurang ajar yang memusuhi kebenaran serta memusuhi orang-orang yang benar dan senantiasa mengangkat pena untuk melawan kebenaran serta sudah biasa berdusta akan dapat pula disebut sebagai orang yang menerima ilham dari Tuhan (mulham).
    Di dalam buku-buku roman dan sebagainya kita acap kali membaca cerita-cerita yang menarik hati, padahal kita mengetahui bahwa cerita-cerita itu hanyalah karangan khayal belaka. Akan tetapi karangan itu terus menerus meresap ke dalam hati orang-orang. Apakah kita dapat menyebut hal itu sebagai ilham? Sama sekali tidak, melainkan  itu merupakan pikiran orang-orang yang hingga kini tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan Sejati,  yaitu Tuhan  yang menghibur hati melalui percakapan istimewa-Nya dan melalui ilmu-ilmu rohaniah menganugerahkan makrifat  kepada mereka yang belum mengenalnya.
     Apakah yang dimaksud dengan  ilham? Ilham adalah percakapan dan dialog Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahaperkasa kepada seorang hamba pilihan-Nya atau kepada seseorang yang ingin dijadikan-Nya terpilih. Apabila percakapan atau dialog tersebut mulai berlangsung dengan suatu kesinambungan yang  gencar serta menghibur, dan di dalamnya tidak terdapat kegelapan  pikiran-pikiran buruk serta tidak tanggung-tanggung dan bukan berupa perkataan yang tidak menentu ujung-pangkalnya melainkan suatu kalam yang lezat, penuh hikmah dan penuh keperkasaan, maka itu merupakan Kalam Ilahi yang dengan perantaraannya Dia  ingin memberi hiburan (ketenangan) kepada hamba-Nya serta menampakkan Dzat-Nya Sendiri pada si hamba itu.
    Ya,  kadang-kadang sebuah kalam turun semata-mata   sebagai ujian,  tidak sempurna dan tidak mengandung unsur-unsur beberkat.  Dalam keadaan demikian hamba Allah itu diuji pada tingkat permulaan. Yakni apakah dengan mencicipi secuil ilham itu ia benar-benar akan memperlihatkan keadaan dan ucapan-ucapannya seperti para mulham (penerima ilham) sejati atau akan tergelincir.
    Jadi apabila ia tidak memilih kebenaran hakiki  seperti halnya para shadiq (orang-orang yang lurus hati) maka ia akan luput dari kesempurnaan nikmat itu dan di tangannya hanya terdapat kata-kata yang hampa dan sia-sia belaka.  Ilham terus menerus turun kepada jutaan hamba shalih akan tetapi derajat mereka di sisi Allah tidak sama. Bahkan para nabi  suci Allah sebagai penerima ilham yang paling utama dan paling bersih sekali pun tidak sama derajat mereka. Allah Ta'ala berfirman:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
Yakni, sebagian nabi memperoleh fadhilah (keunggulan/keutamaan) atas sebagian nabi lainnya (Al-Baqarah, 254). dari itu terbukti bahwa ilham merupakan fadhilah (karunia) semata dan tidak ada campur-tangan dalam urusan fadhilah, melainkan fadhilah itu sesuai dengan kadar ketulusan, keikhlasan, dan kesetiaan yang diketahui oleh Allah. Ya,  ilham pun apabila disertai syarat-syaratnya yang beberkat maka buahnya juga akan ada.  Dalam hal ini tidak diragukan lagi jika ilham turun dalam corak demikian – yakni sang hamba bertanya dan Allah menjawabnya,  dengan cara itu terjadi tanya-jawab dalam suatu pola tertentu, dan di dalam  ilham tersebut terdapat keperkasaan  dan nur (cahaya) Ilahi serta mengandung ilmu-ilmu gaib atau makrifat-makrifat sejati – maka  itu adalah ilham Ilahi.
      Di dalam ilham Ilahi adalah mutlak bahwa seperti halnya seorang sahabat yang bertemu dengan sahabatnya lalu bercakap-cakap, maka demikian pulalah hendaknya percakapan yang berlangsung antara Rabb (Tuhan) dan hamba-Nya. Dan tatkala sang hamba bertanya tentang suatu hal maka  ia akan mendengar dari Allah Ta'ala suatu Kalam yang lezat lagi fasih sebagai jawabannya. Di situ sedikit pun tidak ada campur-tangan  nafsu, pemikiran dan renungan sang hamba. Dan mukalamah serta mukhatabah tersebut menjadi hadiah baginya.
     Jadi, itu adalah kalam Ilahi, dan hamba yang demikian itu memperoleh kehormatan di sisi Allah. Akan tetapi derajat ini --  yang di dalamnya ilham merupakan suatu hadiah, dan Allah menjalin suatu hubungan ilham yang hidup dan suci dengan  hamba-Nya serta berlangsung dengan bersih dan suci --  tidak akan diraih oleh siapa pun kecuali mereka yang maju dalam keimanan, keikhlasan, dan amal-amal shalih, serta dalam hal-hal tertentu yang tidak dapat kami jelaskan.
      Ilham yang sejati dan suci menampakkan keajaiban-keajaiban agung Ketuhanan. Acap kali terbit suatu sinar yang amat berkilauan dan bersamaan dengan itu turun suatu ilham yang penuh dengan keperkasaan serta kecemerlangan. Adakah suatu kemuliaan lebih besar dari yang diperoleh seorang mulham (penerima ilham), yaitu bercakap-cakap dengan Pencipta langit dan bumi?
     Di dunia ini peluang untuk melihat Allah ialah bercakap-cakap dengan-Nya. Akan tetapi dalam uraian kami ini yang dimaksudkan bukanlah keadaan seorang manusia yang dari lidahnya mengalir suatu kata atau suatu kalimat atau syair tanpa dasar tetapi tidak disertai peristiwa mukalamah dan mukhatabah. Bahkan orang demikian itu terperangkap dalam ujian Allah. Sebab Allah dengan cara itu juga menguji hamba-hamba yang malas dan lalai. Yakni, ada kalanya Dia mencetuskan suatu kalimat atau ungkapan di dalam hati atau lidah seseorang maka orang itu pun menjadi buta. Ia tidak tahu dari mana kalimat itu datang – apakah dari Tuhan atau dari syaitan? Jadi, adalah wajib beristighfar terhadap kalimat-kalimat semacam itu.  
     Akan tetapi apabila seorang hamba yang shalih lagi  baik mulai memperoleh percakapan dengan Allah tanpa tabir, dan sebagai mukhatabah dan mukalamah ia mendengar suatu Kalam yang bersinar-sinar, lezat, penuh makna, penuh hikmah serta penuh keperkasaan, dan sedikitnya ia sering mengalami peristiwa di mana terjadi 10 kali soal-jawab di antara Tuhan dengan ia dalam keadaan sadar – ia bertanya dan Tuhan menjawab --  kemudian dalam keadaan sadar itu juga  ia menyampaikan suatu hal lain dan Tuhan pun menjawabnya, lalu ia memohon dengan rendah hati  Tuhan  menjawabnya pula, demikian pula sampai 10 kali terus berlangsung percakapan antara  Tuhan dengan ia, dan Tuhan telah berkali-kali mengabulkan doa-doanya di dalam percakapan-percakapan itu, membukakan kepadanya makrifat-makrifat yang tinggi, mengabarkan kepadanya peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, dan di dalam soal-jawab itu berkali-kali Allah menganugerahkan kepadanya percakapan secara terbuka, maka orang yang seperti itu hendaknya banyak bersyukur kepada Allah Ta'ala dan hendaknya paling banyak berkorban di jalan Allah. Sebab semata-mata karena kemurahan-Nya Allah telah memilih orang itu di antara sekalian hamba-Nya dan menjadikan dia sebagai pewaris para shiddiq yang telah mendahului dia.  Nikmat ini sangat jarang terjadi dan merupakan suatu keberuntungan. Barangsiapa memperolehnya maka segala sesuatu selain itu akan menjadi tidak berarti sama sekali.

Keistimewaan Islam

     Di dalam Islam orang-orang yang memiliki martabat dan derajat tersebut senantiasa ada, dan hanya di dalam Islam sajalah Tuhan mendekati sang  hamba dan bercakap-cakap dengan dia. Tuhan berbicara di dalam dirinya, dan di dalam hatinya Dia mendirikan singgasana-Nya, dan dari dalam diri orang itulah Dia menariknya ke Langit serta melimpahkan kepada orang itu segala nikmat yang pernah diberikan-Nya kepada orang-orang terdahulu.
     Sungguh sayang sekali dunia yang  buta ini tidak mengetahui ke mana manusia akan sampai setelah setapak demi setapak mendekati Tuhan. Mereka sendiri tidak melangkahkan kaki ke arah itu, sedangkan orang-orang yang melangkahkan kaki ke arah sana  mereka dinyatakan kafir, atau sebaliknya dianggap sembahan dan diberi kedudukan sebagai tuhan. Kedua sikap itu adalah aniaya,  yang satu karena terlalu melebih-lebihkan, dan yang kedua   karena mengecilkan.
    Akan tetapi hendaknya orang-orang bijak jangan putus-asa serta jangan mengingkari martabat dan derajat itu,  dan jangan menghinakan orang yang telah memperoleh martabat tersebut, serta jangan pula mulai menyembahnya. Pada martabat ini Allah Ta'ala memperlihatkan hubungan-hubungan dengan hamba itu sedemikian rupa, seakan-akan jubah Ketuhanan telah dikenakan kepadanya, dan orang semacam itu menjadi cermin untuk melihat Tuhan. Inilah rahasia yang telah disabdakan oleh Nabi  kita saw.: "Barangsiapa yang melihatku ia telah melihat Tuhan".
     Ringkasnya,  ini merupakan peringatan keras bagi para hamba dan di situlah berakhir seluruh suluk (perjalanan menuju kesempurnaan rohani) dan di situlah ketentraman sempurna diraih.

Penceramah Memperoleh Anugerah Mukalamah dan Mukhatabah Ilahiyah  

     Saya   akan merasa berbuat aniaya terhadap umat manusia seandainya pada saat ini saya (kami) tidak menyatakan bahwa derajat yang definisi-definisinya telah saya uraian dan martabat mukalamah dan mukhatabah yang baru saja saya terangkan secara rinci itu,   anugerah Ilahi telah melimpahkannya kepada saya,   supaya saya   memberi penglihatan kepada orang-orang yang buta,  dan kepada para pencari memberitahukan alamat sesuatu yang telah hilang itu,  dan memperdengarkan kabar suka kepada mereka yang  mengakui  kebenaran mengenai mata air suci yang disebut-sebut oleh banyak orang namun sedikit yang menemukannya.
     Saya   ingin    meyakinkan para pendengar  bahwa Tuhan – yang dengan menemukan-Nya timbul keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi manusia – sama sekali tidak akan dapat ditemukan tanpa mengikuti ajaran Quran Syarif.
    Ah,  seandainya orang-orang melihat apa yang telah saya lihat, mendengar apa yang telah saya dengar, dan meninggalkan dongengan-dongengan serta berlari ke arah kebenaran  
     Sarana ilmu sempurna  yang melaluinya Tuhan akan tampak,  air pembilas kotoran yang melaluinya segenap keraguan   akan  lenyap, dan cermin yang melaluinya akan tampak Wujud Maha Agung itu  adalah mukalamah dan mukhatabah Ilahiyah yang baru saja saya uraian.
     Siapa saja yang di dalam ruhnya terdapat kedambaan untuk meraih kebenaran, bangkit dan carilah. Saya mengatakan dengan sebenarnya, jika di dalam ruh timbul gejolak pencarian sejati dan di dalam hati  timbul kehausan hakiki maka orang-orang hendaknya mencari jalan ini dan sibuk dalam upaya untuk menemukannya.
     Akan tetapi dari arah mana jalan ini akan terbuka, dan dengan obat apa tirai ini akan tersingkap?  Saya pastikan kepada para pencari kebenaran bahwa hanya Islam sajalah yang memberikan kabar suka tentang jalan itu, sedangkan umat-umat lainnya sejak lama telah memasang segel penutup ilham Ilahi.
     Jadi, pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa segel ini bukanlah berasal dari Tuhan melainkan suatu dalih yang diciptakan oleh manusia karena dia sendiri tidak menerimanya. Dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa sebagaimana kita tidak mungkin dapat melihat tanpa mata, atau mendegar tanpa telinga, atau berbicara tanpa lidah, demikian pula kita tidak mungkin dapat melihat Wajah Sang Kekasih  Tersayang itu tanpa  Quran Syarif. Dahulu saya muda, sekarang sudah tua, namun saya tidak menemukan seorang pun yang telah berhasil meneguk minuman dari mangkuk makrifat yang nyata itu tanpa melalui mata air suci ini.

Sarana Untuk Memperoleh  Ilmu Sempurna Adalah
Ilham Allah Ta'ala  

     Wahai saudara-saudara! Wahai orang-orang tercinta!   Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melawan kehendak  Tuhan. Pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa sarana untuk memperoleh ilmu sempurna adalah ilham Allah Ta'ala yang telah diperoleh para nabi suci Allah Ta'ala. Kemudian sesudah itu Tuhan yang merupakan sungai karunia sama sekali tidak berkehendak memasang segel  penutup pada ilham itu selanjutnya guna membinasakan  dunia dengan cara demikian, melainkan pintu-pintu ilham dan mukalamah dan mukhatabah senantiasa terbuka.
     Ya,  carilah  pintu-pintu itu melalui jalannya masing-masing,  barulah kalian akan menemukannya dengan mudah. Air kehidupan itu turun dari Langit dan menetap pada tempatnya yang layak. Sekarang, apa yang seharusnya kalian lakukan agar kalian dapat meminum air itu? Yang seharusnya kalian lakukan adalah, capailah mata-air itu dengan jatuh bangun, kemudian letakkanlah mulut kalian pada mata air itu supaya kalian diminumkan air kehidupan tersebut.
        Segala keberuntungan manusia adalah, di mana pun terlihat cahaya maka dia berlari ke arah itu. dan di mana pun  nampak jejak sahabatnya yang hilang, dia akan menempuh jalan itu.  Kalian menyaksikan bahwa cahaya selamanya turun dari langit dan menerpa bumi.  Demikian pula cahaya hakiki petunjuk turun dari Langit juga. Ucapan-ucapan dan dugaan-dugaan manusia sendiri tidak dapat memberikan makrifat sejati kepadanya. Apakah kalian dapat  menemukan Tuhan tanpa adanya penampakkan Ilahiyah?  Apakah kalian dapat melihat dalam kegelapan tanpa adanya cahaya langit? Seandainya dapat, maka mungkin di tempat ini pun kalian akan dapat melihat. Akan tetapi walau pun mata kita dapat melihat tetapi kita tetap saja memerlukan cahaya  langit. Dan walaupun kita dapat mendengar, kita tetap saja memerlukan udara yang bergerak dari arah Tuhan. Suatu Tuhan yang diam dan membiarkan segala  sesuatu bergantung pada dugaan-dugaan kita, bukanlah Tuhan yang sejati. Justru Tuhan yang sempurna dan hidup adalah Tuhan yang memberitahukan sendiri tentang keberadaan Wujud-Nya. Jendela-jendela langit sedang akan terbuka, fajar shidiq hampir menyingsing. Beberkatlah mereka yang bangkit duduk dan kini mencari Tuhan  yang sejati. Itulah Tuhan yang tidak mengenal perubahan dan tidak pernah tertimpa musibah, yang cahaya keperkasaan-Nya tidak pernah pudar. Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Yakni, Tuhan-lah Yang setiap saat merupakan cahaya langit dan cahaya bumi (An-Nuur, 36).
     Cahaya dari-Nya menerpa semua tempat. Dia-lah Matahari bagi matahari, Dia-lah Nyawa bagi seluruh makhluk bernyawa yang ada di dunia. Dia-lah Tuhan yang sejati dan yang hidup. Beberkatlah orang yang menerimanya.
    Sarana ketiga untuk memperoleh ilmu ialah hal-hal yang terdapat  dalam martabat haqqul-yaqin, yaitu segala penderitaan, musibah dan kesusahan yang dialami para nabi serta orang-orang shalih di tangan musuh, atau atas keputusan samawi.   Akibat penderitaan-penderitaan dan kesusahan-kesusahan semacam ini maka semua petunjuk syariat yang tadinya ada dalam hati manusia  hanya secara ilmu belaka  akan berlaku padanya dan berubah ke dalam bentuk amalan. Kemudian, setelah tumbuh dan berkembang dari lahan amal sampailah petunjuk-petunjuk syariat ke taraf kesempurnaan total, dan wujud si pelaku amal  itu sendiri menjadi suatu penjelmaan sempurna petunjuk-petunjuk Tuhan. 
    Semua akhlak:   kepemaafan,   pembalasan (balas dendam), kesabaran, dan kasih-sayang – yang tadinya memenuhi otak dan hati, kini seluruh bagian tubuh memperoleh jatah dari akhlak-akhlak itu berkat penerapan secara amal, dan menggoreskan gambaran serta jejak-jejaknya setelah berlaku pada seluruh tubuh,    sebagaimana Allah Swt. berfirman:
·    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ()الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ()أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
·    لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Yakni, Kami akan menguji kalian dengan ketakutan dan kelaparan dan kerugian harta dan kehilangan  jiwa dan kegagalan  usaha dan kematian anak keturunan. Yakni semua penderitaan ini akan menimpa kalian sebagai keputusan takdir atau karena perbuatan tangan musuh. Adalah kabar suka bagi orang-orang yang pada waktu tertimpa musibah hanya berkata, "Kami adalah kepunyaan Allah dan kepada  Allah-lah kami akan kembali." Bagi mereka terdapat berkat dan rahmat dari Allah, dan mereka inilah orang-orang yang telah mencapai kesempurnaan petunjuk (Al-Baqarah, 156-158).
      Yakni, sekedar memiliki ilmu yang memenuhi hati dan otak tidaklah berarti apa-apa. Justru pada hakikatnya ilmu adalah sesuatu yang turun dari otak lalu memberikan budaya serta warna kepada segenap bagian tubuh, dan mewujudkan seluruh ingatan dalam bentuk amal. Jadi, sarana untuk memperkokoh ilmu dan untuk mengembangkannya ialah menuangkan ilmu itu ke dalam seluruh  bagian tubuh dalam bentuk amalan.
    Tidak ada ilmu yang paling rendah sekali pun dapat mencapai kesempurnaannya tanpa penerapan secara amal. Mislanya, sejak lama kita berpendapat bahwa memasak roti itu adalah pekerjaan yang sangat mudah dan tidak pelik. Pekerjaan itu   hanya sekedar membuat adonan tepung gandum, dan dari adonan itu diambil sekepal cukup untuk sepotong roti, lalu dileberkan dengan menghimpitnya pada kedua telapak tangan, kemudian ditaruh di atas loyang, lalu dibolak-balik di atas api supaya bakarannya merata maka roti pun akan matang.
       Itu hanya teori ilmu kita saja. Tetapi apabila kita tanpa pengalaman mulai memasak, maka pertama-tama kesulitan yang akan kita hadapi  ialah membuat adonan yang bagus, karena jika tidak maka bisa keras seperti batu atau terlalu lembek sehingga tidak dapat digunakan dengan semestinya. Dan andaikata sesudah dipukul-pukul dan dibanting-banting kita berhasil juga menyiapkan adonan maka roti itu ada sebagian yang hangus dan sebagian lagi masih mentah. Di bagian tengah tebal dan di bagian pinggir tidak merata, padahal sudah  50 tahun kita selalu menyaksikan roti dimasak.
    Ringkas, hanya dengan bekal ilmu saja yang belum pernah dipraktekkan kita akan menyia-nyiakan berkilo-kilo tepung gandum. Jadi, tatkala dalam hal-hal kecil saja pun sudah demikian keadaan ilmu kita, maka bagaimana mungkin kita dapat bertumpu sepenuhnya pada ilmu semata dalam perkara-perkara besar tanpa penerapan dan praktek secara amalan. Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta'ala mengajarkan bahwa, "Musibah-musibah yang Aku timpakan kepada kalian itu pun merupakan sarana ilmu dan pengalaman. Yakni dengan itu ilmu kalian akan menjadi sempurna."
     Dan kemudian lebih lanjut Dia berfirman, "Kalian akan diuji juga dalam harta dan jiwa kalian. Orang-orang akan merampas harta kalian, akan membunuh kalian dan kalian akan sangat diganggu melalui tangan orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang musyrik. Mereka akan melontarkan kata-kata yang sangat menghina mengenai kalian. Jadi, apabila kalian sabar dan menghindari hal-hal yang bukan-bukan maka sikap demikian itu merupakan suatu keteguhan dan kesatriaan (Aali 'Imran, 187).
     Makna keseluruhan ayat ini ialah, ilmu yang beberkat yaitu ilmu yang memperlihatkan kecerlangannya sampai ke taraf amal terapan. Sedangkan ilmu yang sia-sia ialah yang tetap terkurung dalam batas ilmu saja namun tidak pernah mencapai taraf penerapan secara amalan.
     Hendaknya diketahui bahwa seperti halnya harta bertambah dan berlipat-ganda melalui perniagaan,  demikian pula ilmu akan mencapai kesempuraan rohaniahnya melalui terapan amal. Jadi, terapan amal merupakan sarana utama untuk menyampaian ilmu ke  taraf sempurna. Melalui terapan di dalam ilmu akan timbul cahaya. Dan pahamilah,  sarana apa lagi untuk mencapai taraf haqqul-yaqin ilmu? Tidak lain  adalah menguji segala sisinya (seginya) secara amal terapan. Demikianlah yang telah berlaku dalam Islam. Segala sesuatu yang telah diajarkan Allah Ta'ala kepada manusia dengan perantaraan Quran Syarif,  kepada mereka diberi kesempatan untuk mencemerlangkan ajaran tersebut dalam bentuk amal terapan serta memperoleh cahaya sepenuhnya dari itu.

Dua Periode Kehidupan Rasulullah Saw.

    Untuk tujuan itulah Allah Ta'ala membagi kehidupan Nabi kita saw. dalam dua bagian.
    Bagian pertama adalah periode penderitaan, kesulitan, dan kesusahan. Sedangkan bagian kedua merupakan periode kemenangan, supaya  pada masa-masa sulit dapat tampil akhlak-akhlak yang memang biasa tampil pada saat-saat kesulitan, dan supaya pada masa-masa kemenangan serta kekuasaan dapat terbukti akhlak-akhlak yang memang tidak dapat dibuktikan tanpa adanya kekuasaan. Maka demikianlah bahwa kedua jenis akhlak Rasulullah saw.  telah terbukti sempurna dan jelas sehubungan dengan berlakunya kedua periode serta kedua kondisi tersebut.
    Zaman-zaman penderitaan yang dialami selama 13 tahun oleh Nabi kita saw. di Mekkah Mu'azzamah, dengan membaca riwayat beliau pada periode itu maka dengan jelas akan diketahui bahwa Rasulullah saw. telah memperlihatkan akhlak-akhlak yang memang seharusnya diperlihatkan oleh seorang shalih sempurna pada saat-saat sulit – yaitu tetap tawakkal kepada Allah, tidak berkeluh-kesah, tidak memperlihatkan kemalasan dalam tugas, dan tidak takut terhadap sosok seseorang --  sedmikian rupa sehingga orang-orang kafir  menjadi beriman  karena menyaksikan istiqamah (keteguhan) yang demikian itu dan memberi kesaksian bahwa istiqamah (keteguhan) dan ketabahan dalam penderitaaan seperti itu tidak dapat dilakukan oleh seseorang sebelum dia bergantung sepenuhnya kepada Allah.  Dan kemudian tatkala periode kedua datang, yaitu zaman kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran,  pada zaman itu pun akhlak-akhlak luhur Rasulullah saw. – kepemaafan (sifat pemaaf) kedermawanan, dan keberanian – tampil sedemikian rupa sempurnanya sehingga segolongan besar orang kafir menjadi beriman setelah menyaksikan akhlak-akhlak tersebut.
    Beliau memaafkan orang-orang yang menyakiti beliau dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang mengusir beliau dari Mekkah. Beliau melimpahkan harta kepada orang-orang yang memerlukan dari kalangan mereka. Dan setelah memperoleh kekuasaan beliau mengampuni musuh-musuh besar beliau. Demikianlah banyak sekali orang-orang yang menyaksikan akhlak beliau saw. lalu memberikan kesaksian bahwa selama seseorang bukan berasal dari Allah dan benar-benar shalih, sama sekali dia tidak akan dapat memperlihatkan akhlak tersebut. Itulah sebabnya mengapa kedengkian para musuh beliau yang sudah lama berkobar langsung lenyap.
    Akhlak paling utama beliau yang telah beliau saw, buktikan adalah akhlak yang telah diuraikan dalam Quran Syarif, yaitu:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Yakni, katakanlah kepada mereka, "Ibadahku dan pengorbananku,  dan matiku serta hidupku ada di jalan Allah" (Al-An'aam, 163). Yakni, ”untuk menzahirkan keperkasaan-Nya dan kemudian untuk memberikan ketentraman kepada hamba-hamba-Nya sehingga  dengan kematianku mereka memperoleh kehidupan."
    Di sini yang telah disinggung adalah mati di jalan Allah dan demi kebaikan umat manusia.  Jangan pula ada yang berpendapat dari itu bahwa beliau saw., na'udzubillah, seperti halnya orang-orang yang bodoh dan gila, beliau sungguh-sungguh telah berniat melakukan bunuh diri. Yaitu dengan pemahaman bahwa membunuh diri sendiri melalui suatu alat akan memberikan manfaat kepada orang lain. Justru beliau snagat menentang hal-hal yang sia-sia itu. Dan Quran Syarif telah menetapkan perbuatan bunuh diri itu sebagai suatu dosa besar dan patut dihukum, sebagaimana Dia berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Yakni, janganlah kamu bunuh diri, dan janganlah kematian kamu terjadi karena tangan kamu sendiri (Al-Baqarah, 196).  Jelaslah, misalnya jika perut si Khalid sakit – dan karena kasihan kepadanya – lalu si Zaid memecahkan kepalanya sendiri maka berarti Zaid tidak melakukan kebaikan keada Khalid, melainkan ia telah melakukan perbuatan tolol memecahkan   kepalanya sendiri dengan batu.  Barulah akan merupakan amal shalih apabila Zaid berusaha keras dengan jalan yang tepat dan bermanfaat bagi si Khalid yaitu menyediakan obat-obat mujarab baginya,  merawatnya sesuai dengan kaidah-kaidah kedokteran. Akan tetapi dengan memecahkan kepalanya sendiri tidak ada satu manfaat apa pun yang sampai kepada Zaid. Dia dengan sia-sia telah menyakiti salah satu anggota badannya yang mulia.
    Ringkasnya, maksud ayat ini adalah Rasulullah saw. telah mewakafkan jiwa  untuk kebahagiaan umat manusia melalui solidaritas yang hakiki dan kerja keras. Dan dengan doa, dengan jalan tabligh, dengan memikul beban penderitaan mereka, dan dengan cara yang tepat serta bijak, beliau telah mengorbankan jiwa dan ketentraman beliau di jalan itu, sebagaimana Allah Ta’ala  berfirman:
·       لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
·       فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

Apakah engkau akan membinasakan diri engkau dalam kesedihan dan kerjakeras yang engkau lakukan untuk orang-orang? (Asy-Syu'ara, 4). Dan apakah engkau akan melepas  nyawa engkau dengan penuh penyesalan bagi orang-orang yang tidak menerima kebenaran itu? (Al-Fathir, 9).
    Jadi, cara bijaksana  untuk mengorbankan jiwa  demi kaum adalah menimpakan kerja keras atas jiwa untuk kebaikan kaum, sesuai dengan cara-cara bermanfaat hukum kudrat, mengorbankan jiwa demi mereka dengan menempuh upaya-upaya yang tepat, tidak memukulkan batu ke kepala sendiri setelah menyaksikan kaum itu berada di dalam bencana besar atau kesesatan serta mendapatkannya dalam kondisi yang fatal,  atau tidak menelan 2 atau 3 butir strychnine  agar mati meninggalkan dunia, dan kemudian beranggapan bahwa, "Kami telah menyelamatkan kaum melalui sikap kami yang sis-sia ini." Ini bukanlah sikap jantan melainkan perangai perempuan.
     Cara yang senantiasa ditempuh oleh orang-orang yang tidak mempunyai semangat adalah, tatkala mereka mendapatkan bencana itu tidak sanggup untuk dihadapi maka mereka  segera mengambil sikap bunuh diri.   Perbuatan bunuh diri demikian, walaupun di kemudian hari diberi penafsiran macam-macam, namun tidak diragukan lagi bahwa sikap itu merupakan aib bagi akal dan bagi orang-orang yang berakal.
    Akan tetapi jelas bahwa seseorang yang tidak mempunyai kesempatan untuk membalas, kesabarannya serta sikapnya yang tidak melawan musuh tidaklah dapat dipercaya.   Sebab siapa yang tahu seandainya dia kuasa untuk membalas maka apa saja yang  dia lakukan.
  Selama manusia belum menjalani  kedua zaman tersebut – pertama-tama zaman penderitaan dan kedua zaman kekuasaan dan pemerintahan   serta kemakmuran --  selama itu pula akhlak-akhlaknya yang asli tidak dapat tampil sama sekali. Sangat jelas bahwa seseorang yang terus menerus mengalami serangan dari pihak lain hanya ketika  berada dalam kondisi lemah, tidak punya apa-apa dan tidak berkuasa, serta tidak memperoleh zaman kekuasaan dan pemerintahan serta kemakmuran, maka sedikit pun tidak ada yang dapat dibuktikan dari akhlak-akhlaknya. Dan jika seseorang tidak pernah turun ke medan perang, maka ini pun tidak akan terbukti apakah dia seorang pemberani atau pengecut. Kita tidak dapat mengatakan apa pun berkenaan dengan   akhlaknya, sebab kita tidak tahu. Kita tidak mengetahui seandainya dia meraih kekuasan atas musuh-musuhnya, apa saja sikap yang akan diambil terhadap mereka. Dan andaikata dia kaya-raya, apakah dia menimbun harta itu atau membagi-bagikannya kepada orang? Dan seandainya ia turun ke suatu medan pertempuran apakah dia melarikan diri tunggang-langgang atau memperlihatkan kejantanannya seperti para ksatria?
     Akan tetapi anugerah serta karunia Ilahi telah memberikan kesempatan kepada Nabi kita saw.  untuk memperlihatkan akhlak-akhlak  tersebut. Demikianlah bahwa sifat-sifat beliau yang pemurah, pemberani, lemah-lembut, pemaaf dan adil,  telah tampil pada kesempatannya masing-masing dengan begitu sempurnanya sehingga tidak dapat dicari bandingannya di dalam lembaran sejarah dunia.
     Di dalam kedua periode kehidupan beliau – zaman ketika masih lemah dan ketika berkuasa, zaman ketika tidak memiliki apa-apa dan  ketika dipenuhi oleh kemakmuran – beliau telah memperlihatkan kepada seluruh dunia bahwa wujud suci beliau itu merupakan himpunan akhlak  yang bertaraf sangat mulia. Dari antara akhlak fadhilah, tidak ada satu akhlak manusia pun yang untuk menzahirkannya  Allah Ta'ala tidak memberikan suatu  peluang kepada beliau. Segenap akhlak fadhilah --  keberanian, kemurahan hati, keteguhan, kepemaafan, kelemah-lembutan dan sebagainya --  telah terbukti sedemikian rupa, sehingga mustahil mencari bandingannya di dunia.
    Ya, memang benar, barangsiapa telah berbuat aniaya sampai melampaui batas dan ingin menghancurkan Islam mereka pun tidak dibiarkan oleh Allah Ta'ala tanpa hukuman, sebab membiarkan mereka tanpa hukuman berarti seolah-olah menghancurkan orang-orang shalih di bawah kaki mereka.

Tujuan peperangan Rasulullah Saw.

    Tujuan peperangan Rasulullah saw. sekali-kali bukanlah untuk sekedar membunuhi orang-orang tanpa sebab. Mereka telah diusir dari tanah leluhur mereka, dan banyak sekali kaum pria dan  wanita Muslim yang tidak berdosa telah dibunuh, sedangkan orang-orang zalim (aniaya) belum juga berhenti dari berbuat zalim, dan mereka menghambat ajaran Islam. Untuk itu hukum Tuhan berkenaan dengan keamanan menghendaki untuk menyelamatkan orang-orang yang teraniaya dari  kehancuran total. Jadi,  pihak yang telah menghunus pedang, dengan merekalah telah dilakukan perlawanan dengan pedang.
       Ringkasnya, untuk mematahkan ancaman para pembunuh, peperangan-peperangan itu telah dilangsungkan sebagai upaya menangkal kejahatan, dan telah dilangsungkan pada saat orang-orang zalim berkeinginan menghancurkan orang-orang benar. Dalam kondisi itu, jika Islam tidak menerapkan aksi pembelaan diri maka ribuan anak dan kaum wanita tidak berdosa akan terbunuh sehingga akhirnya Islam menjadi hancur.
     Hendaknya diingat, ini merupakan kebengisan besar para penentang kami, mereka beranggapan bahwa petunjuk ilhamiyah hendaknya tidak mengandung ajaran untuk melawan para musuh pada tempat dan kesempatan apa pun serta sennatiasa memperlihatkan kecintaan dan kasih-sayang dalam bentuk kehalusan dan kelemah-lembutan.
    Orang-orang ini di dalam benak mereka beranggapan bahwa dengan membatasi segenap sifat sempurna Allah Ta'ala hanya pada  kehalusan dan kelemah-lembutan saja berarti mereka sedang menjunjung tinggi Allah Ta’ala. Akan tetapi orang-orang yang menelaah dan merenungkan masalah ini, dengan mudah dapat terbuka kepada mereka bahwa orang-orang tersebut sedang terperangkap di dalam suatu kekeliruan besar dan nyata.
     Dengan menelaah hukum kudrat Allah Ta'ala akan terbukti dengan jelas bahwa  Dia memang satu-satunya Rahmat bagi dunia, akan tetapi rahmat itu tidak selamanya dan tidak dalam setiap kondisi tampil dengan corak kehalusan dan kelembutan. Justru   semata-mata karena dorongan rahmat-Nya Dia --  bagai seorang dokter ahli – kadang-kadang memberikan syrup yang manis kepada kita dan kadang-kadang memberikan obat yang pahit. Rahmat-Nya menerpa seluruh umat manusia seperti seorang di antara kita yang menyayangi seluruh bagian tubuhnya.
     Tidak diragukan lagi bahwa tiap orang di antara kita menyayangi seluruh bagian wujudnya. Dan kalau ada yang ingin mencabut sehelai saja rambut kita maka kita akan sangat marah kepadanya. Akan tetapi kendati pun kita menyayangi tubuh kita, rasa sayang itu terbagi-bagi di dalam segenap tubuh kita. Dan seluruh bagian tubuh kita itu terasa sayang oleh kita, kita tidak ingin satu pun di antaranya cedera.   
    Akan tetapi walaupun demikian, jelas terbukti bahwa kita tidak menyayangi bagian-bagian tubuh kita pada taraf dan kadar yang sama, melainkan rasa sayang terhadap anggota-anggota badan yang pokok serta penting – yang sedikit banyak merupakan tumpuan bagi tujuan kita – menguasai kita. Demikian pula pada pandangan kita rasa sayang terhadap tubuh seutuhnya adalah lebih besar dibandingkan dengan rasa sayang terhadap salah satu anggota.
     Jadi, apabila kita menghadapi keadaan bahwa keselamatan suatu bagian tubuh bertumpu pada upaya penyayatan atau pembedahan atau pemotongan bagian tubuh yang kurang penting, maka untuk menyelamatkan jiwa tanpa ragu kita siap untuk membedah atau memotong  bagian tubuh tersebut. Dan walaupun pada saat itu  di dalam hati kita juga  timbul rasa sedih --  bahwa kita membedah atau memotong satu bagian tubuh kita yang disayang – akan tetapi kita tetap terpaksa melakukan pemotongan dengan pemikiran: jangan-jangan peradangan pada bagian tubuh tersebut dapat merusak bagian tubuh penting lainnya.
    Jadi, melalui tamsil ini hendaknya dipahami bahwa Allah   pun tatkala melihat hamba-hamba shalih-Nya sedang  dibinasakan oleh para pemuja kebatilan, dan kerusuhan pun  merebak,  maka Dia akan melakukan upaya yang tepat untuk menyelamatkan nyawa orang-orang shalih dan untuk menumpas kerusuhan – tidak peduli apakah dari langit maupun dari bumi – sebabnya adalah Dia merupakan Rahim (Maha Pengasih) dan juga Hakim (Maha Bijaksana).

اَلْحَمْدُ الِلَّهِ رّبِّ الْعَلَمِيْنَ

ooo0ooo


Ruh,   Kemang - Bogor,  
Akhir Ramadhan, Jum’at 11 Oktober 2007.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...