Masalah Kelima
SARANA-SARANA DAN JALAN APA
SAJA
UNTUK MENDAPATKAN ILMU YAKNI MAKRIFAT?
|
S
|
ebagai jawaban masalah ini, hendaknya jelas bahwa
di sini tidak akan mungkin membahas apa yang telah diterangkan Quran
Syarif secara luas tentang hal itu,
namun sebagai contoh akan diuraikan dalam kadar tertentu, Jadi hendaknya
dimaklumi bahwa Quran Syarif telah
menetapkan tiga macam ilmu yaitu: 'ilmul-yaqin, 'ainul-yaqin,
dan haqqul-yaqin. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam
menafsirkan surah Alhaakumut-Takaatsur dan telah diterangkan bahwa
'ilmul-yaqin ialah mengetahui benda tertentu melalui suatu perantara
dan tidak secara langsung. Misalnya kita menarik kesimpulan tentang adanya api
karena melihat asap, sungguh pun kita tidak melihat api itu. Jadi,
inilah yang disebut 'ilmul-yaqin. Dan
apabila api itu sendiri yang kita lihat maka hal demikian menurut keterangan Quran
Syarif – yakni Surah Alhaakumut-Takaatsur
– di antara tingkat-tingkat ilmu disebut 'ainul-yaqin. Kini tidak perlu
lagi surah Alhaakumut Takaatsur ditulis kembali. Para pemerhati silakan menyimak tafsir tersebut pada
tempatnya.
Kini, hendaknya diketahui bahwa ilmu jenis
pertama ialah 'ilmul-yaqin,
sarananya adalah akal dan keterangan-keterangan (manqulat).
Mengenai para penghuni neraka Allah Ta'ala berfirman:
وَقَالُوا
لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Yakni, para penghuni
neraka berkata, "Sekiranya kami
bijak dan menelaah agama serta akidah dengan cara-cara
yang masuk akal atau mendengarkan dengan penuh perhatian tulisan-tulisan serta
ucapan-ucapan orang-orang bijak dan para peneliti maka tentu hari ini kami
tidak akan berada di dalam neraka" (Al-Mulk, 11). Ayat ini sesuai dengan ayat lain
sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
لَا
يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Yakni, Allah Ta'ala tidak
membebani jiwa-jiwa manusia untuk menerima suatu hal melampaui kemampuan ilmunya, dan Dia mengetengahkan akidah yang mampu dipahami
oleh manusia agar perintah-Nya tidak merupakan suatu beban yang tidak sanggup
dipikul (Al-Baqarah, 287).
Di dalam ayat-ayat ini juga diisyaratkan bahwa dengan
perantaraan telinga pun manusia dapat memperoleh 'ilmul-yaqin. Misalnya,
kami belum pernah melihat London tetapi hanya
mendengar dari orang-orang yang pernah melihat kota itu. namun apakah kita dapat meragukan
bahwa mungkin mereka semua berdusta? Atau misalnya, kami tidak mengalami zaman raja Alamgir dan
tidak pernah pula melihat wajah Alamgir. Akan tetapi apakah kita masih ragu
bahwa Alamgir merupakan seorang raja di anatra raja-raja Moghul?
Nah, mengapa kita sampai begitu yakin? Jawabannya ialah karena mendengarkan
hal itu secara berkesinambungan. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa pendengaran
pun dapat mengantarkan sampai ke tingkat 'ilmul-yaqin. Kitab-kitab para
nabi seandainya pada rangkaian penuturannya tidak ditemukan cacat sedikit pun,
itu juga merupakan sarana untuk memperoleh ilmu melalui pendengaran.
Akan tetapi jika sebuah kitab disebut kitab samawi, lalu misalnya
terdapat 50 atau 60 naskahnya dan sebagian bertentangan
dengan bagian lainnya, maka walaupun suatu golongan meyakini bahwa di dalam
kitab itu hanya 2 atau 4 naskah saja yang sah -- sedangkan sisanya tidak dapat dipercaya
dan palsu -- akan tetapi bagi
peneliti, keyakinan yang tidak berlandaskan pada penelitian-penelitian sempurna, itu adalah sia-sia. Dan
akibatnya ialah seluruh kitab tersebut dikarenakan kontradiksi yang
dimilikinya akan dinyatakan sebagai sampah dan tak patut dipercaya. Dan
sama sekali tidak dapat dibenarkan jika menetapkan keterangan-keterangan yang saling
bertentangan itu sebagai sarana suatu ilmu. Sebab definisi ilmu
ialah sesuatu yang memberikan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan.
Sedangkan pengetahuan yang menimbulkan keyakinan itu tidak
mungkin ditemukan di dalam kumpulan kontradiksi.
Di
sini hendaknya diingat bahwa Quran Syarif tidak terbatas pada pendengaran saja,
sebab di dalamnya terdapat dalil-dalil hebat yang masuk akal
untuk memberikan pemahaman kepada manusia. Dan
sekian banyak akidah, prinsip, dan
perintah-perintah yang dipaparkan oleh Quran Syarif, tidak ada satu perkara pun
yang di dalamnya terkandung kekerasan dan paksaan. Sebagaimana
Quran Syarif sendiri berkata bahwa semua
akidah dan sebagainya itu sejak semula memang sudah ada di dalam fitrat
manusia. dan Quran Syarif dinamakan Dzikr,
sebagaimana firman-Nya:
هَذَا
ذِكْرٌ مُبَارَكٌ
Yakni, Quran yang beberkat ini tidak membawa suatu
barang baru melainkan ia mengingatkan kepada apa-apa yang tertanam dalam fitrat
manusia dan dalam lembaran hukum kudrat (Al-Anbiyya, 51). Kemudian
pada tempat lain Dia berfirman:
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Yakni, agama ini tidak
mungkin membuat seseorang percaya terhadap suatu hal secara paksa, melainkan
bagi setiap perkara ia mengemukakan dalil-dalil (Al-Baqarah,
257). Di samping itu di dalam Quran
Syarif juga terdapat suatu khasiat ruhaniah untuk menyinari
kalbu-kalbu, sebagaimana Dia berfirman:
شِفَاءٌ
لِمَا فِي الصُّدُورِ
Yakni, Quran dengan segala khasiatnya menyembuhkan
penyakit (Yunus, 58). Oleh sebab
itu Quran Syarif tidak dapat
disebut sebagai manquli kitab (kitab yang disampaikan berdasarkan
keterangan secara turun-temurun) melainkan ia mengandung dalil-dalil logis
yang berderajat tinggi, dan di dalamnya terdapat cahaya yang
bersinar-sinar.
Demikian pula dalil-dalil logika
yang bertumpu pada unsur-unsur yang benar, tanpa diragukan mengantarkan sampai
kepada 'ilmul-yaqin. Ke arah inilah Allah Tas’ala mengisyaratkan di dalam ayat-ayat yang tertera
berikut:
إِنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ()الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا
وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
Yakni, apabila seorang
cerdik-pandai dan para ahli pikir
merenungkan kejadian bumi dan benda-benda langit, dan dengan seksama memperhatikan sebab-sebab peredaran malam dan
siang, dengan memperhatikan tatanan itu mereka akan mendapatkan bukti tentang Wujud Allah Ta'ala. Jadi, untuk memperoleh pengertian
yang lebih jelas mereka memohon pertolongan kepada Allah dan mereka mengingat
Dia sambil berdiri, duduk, dan berbaring, sehingga dengan demikian akal
pikiran mereka menjadi jernih.
Jadi, apabila dengan memakai akal
pikiran itu mereka merenungkan kejadian yang demikian indah dan
paripurna benda-benda langit dan bumi, maka serta-merta akan berseru, "Tatanan yang sempurna dan
kokoh ini pasti tidak sia-sia dan tidak tanpa arti melainkan segalanya menampakkan
Wajah Sang Pencipta hakiki". Nah, sesudah mereka menyatakan pengakuan
terhadap Tuhan Yang Menciptakan alam semesta mereka memohon, "Ya Ilahi, Engkau Suci
dari sikap seseorang yang mengingkari Wujud Engkau lalu menyatakan sifat-sifat yang tidak layak kepada Engkau, maka selamatkanlah kami
dari api neraka. Yakni penolakan terhadap Wujud Engkau
sungguh merupakan neraka. Segala kebahagiaan dan ketentraman terdapat
dalam Wujud Engkau dan di dalam mengenali Engkau. Barangsiapa luput dari
pengenalan hakiki Engkau pada hakikatnya ia berada dalam api di
dunia ini (Ali 'Imran, 191-192).
Hakikat Fitrat Manusia
Demikian pula hati nurani manusia pun
merupakan sebuah sarana ilmu yang
di dalam Kitab Allah dinamakan fitrat manusia, sebagaimana Allah
berfirman:
فِطْرَةَ
اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Yakni, di atas fitrat
Allah-lah orang-orang telah diciptakan (Ar-Ruum, 31). Dan
bagaimana gambaran fitrat itu gambaran fitrat itu tidak lain
adalah mempercayai Allah Ta'ala
sebagai suatu Wujud yang tidak ada
sekutu-Nya, Pencipta segala
sesuatu, suci dari kematian dan
kelahiran. Dan saya katakan hati
nurani pada derajat 'ilmul-yaqin, karena walau pun pada zahirnya
tidak terjadi peralihan dari satu ilmu kepada ilmu lain
-- tidak seperti terjadinya peralihan
dari ilmu tentang asap kepada ilmu tentang api
-- akan tetapi derajat 'ilmul-yakin
ini tidak kosong dari proses peralihan yang halus. Dan
proses peralihan itu ialah: Allah telah menanamkan pada setiap benda suatu khasiat
yang tidak diketahui – yang tidak dapat diungkapkan melalui uraian mau pun
ucapan -- akan tetapi dengan merenungkan
hal itu serta dengan membayangkannya maka segera alam pikiran akan beralih ke arah khasiat
tersebut.
Ringkasnya, khasiat itu mutlak
terdapat di dalam benda tersebut sebagaimana mutlaknya asap bagi api.
Misalnya apabila kita memusatkan perhatian pada Dzat Allah Ta'ala
– yakni bagaimana seharusnya Dia, apakah
seperti kita Tuhan itu dilahirkan dan seperti kita menanggung derita, serta seperti kita mengalami kematian -- maka beriringan dengan pemikiran itu kalbu
kita menjadi perih dan hati nurani
bergetar, serta menampakkan gejolak sedemikian rupa yang menolak keras pemikiran tersebut
dan bangkit berseru: "Yang patut bagi Tuhan, yang kekuatan-kekuatan-Nya merupakan tumpuan
bagi segala harapan adalah suci dari segala kekurangan, sempurna, dan berkuasa!"
Dan
bila saja di dalam kalbu kita timbul pemikiran tentang Tuhan maka
langsung saja terasa adanya kemutlakan total antara Tauhid
dengan Tuhan, seperti halnya asap dengan api,
bahkan lebih hebat dari itu. Oleh karenanya ilmu yang kita peroleh
melalui hati nurani kita termasuk ke dalam derajat 'ilmul-yakin.
Akan tetapi di atasnya ada satu derajat lagi yang disebut 'ainul-yaqin,
dan yang dimaksud dengan derajat ini ialah ilmu yang apabila di antara keyakinan
kita dan benda yang kita yakini itu tidak terdapat suatu
perantaran. Misalnya apabila kita mengetahui adanya bau harum dan bau
busuk lewat indera penciuman,
atau kita mengetahui adanya rasa manis atau rasa
asin lewat indera pencicipan, atau kita
mengatahui panas atau dingin dengan
perantaraan indera perasa, maka semua pengetahuan itu termasuk
dalam kategori 'ainul-yaqin.
Akan tetapi berkenaan dengan alam ukhrawi Ilmu Ketuhanan
kita baru akan sampai pada batas 'ainul-yaqin, bila kita sendiri
menerima ilham tanpa perantara, mendengar suara Ilahi dengan
telinga sendiri, dan melihat kasyaf-kasyaf
(pemandangan gaib) yang terang dan benar dengan mata sendiri. Tidak diragukan
lagi untuk memperoleh makrifat yang sempurna kita sangat memerlukan ilham
tanpa perantara, dan di dalam hati kita terdapat rasa lapar serta
dahaga akan makrifat yang sempurna itu.
Jika seandainya Allah Ta'ala sejak semula
tidak menyediakan sarana-sarana makrifat itu bagi kita, maka
mengapa telah Dia timbulkan rasa lapar dan dahaga ini di dalam
diri kita? Apakah di dalam kehidupan ini
-- yang merupakan satu-satunya takaran
untuk khazanah ukhrawi kita --
kita dapat merasa cukup puas beriman kepada Tuhan Yang Sejati, Yang Maha
Sempurna, Yang Maha Kuasa dan Maha Hidup hanya berdasarkan pada kisah-kisah
dan hikayat-hikayat belaka? Atau kita merasa cukup dengan melandaskannya pada makrifat akal
semata yang hingga kini merupakan makrifat
yang cacat dan tidak sempurna?
Tidakkah
hati orang yang sangat asyik dan cinta kepada Tuhan berkeinginan
untuk memperoleh kelezatan dari tutur-kata Sang Kekaksih? Apakah orang-orang yang demi Tuhan telah
memusnahkan seluruh kehidupan dunianya,
telah menyerahkan hatinya, telah
menyerahkan jiwanya, mereka dapat merasa puas dengan hanya berdiri dan mati di
suatu tempat suram tanpa sedikit pun melihat sinar matahari
kebenaran? Bukankah dengan pernyataan Tuhan Yang Maha Hidup ini – "Anal-maujud!" (Aku ada) – Dia melimpahkan derajat makrifat
sedemikian rupa, sehingga jika kita meletakkan buku-buku yang ditulis
sendiri oleh seluruh filsuf dunia
di satu sisi, dan di sisi lain kita letakkan firman "Anal-maujud"
milik Tuhan, maka dalam perbandingan ini seluruh buku tersebut tidak ada
artinya. Orang-orang yang disebut filsuf namun tetap saja buta, apa pula
yang akan mereka ajarkan kepada kita?
Ringkasnya, jika Allah Ta'ala telah
berkehendak untuk menganugerahkan makrifat yang sempurna kepada para pencari
kebenaran maka pasti Dia telah membukakan jalan mukalamah dan mukhatabah-Nya
(ilham dan wahyu). Berkenaan dengan ini Allah Ta’ala berfirman di dalam Quran Syarif:
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, Ya Tuhan, tunjukkanlah
kami jalan istiqamah, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat-nikmat kepada mereka (Al-Fatihah,
6-7). Di sini yang dimaksud nikmat-nikmat
adalah ilham, kasyaf, dan ilmu-ilmu samawi lainnya yang
diterima oleh manusia secara langsung. Begitu juga di tepat lain Dia berfirman:
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Yakni, orang-orang yang telah
beriman kepada Allah lalu beristiqamah sepenuhnya, para malaikat Allah turun
atas mereka dan menyampaikan ilham ini kepada mereka, "Janganlah kamu takut
dan sedih sedikit pun. bagi kamu tersedia surga yang telah dijanjikan kepada
kamu (Ha Mim – As-Sajdah, 31).
Jadi, di dalam ayat ini pun telah
difirmankan dengan kata-kata jelas bahwa hamba-hamba setia Allah Ta'ala
memperoleh ilham dari Allah pada
saat sedih dan takut, dan malaikat-malaikat turun menentramkan mereka. Dan kemudian di dalam satu ayat lagi Dia telah
berfirman:
لَهُمُ
الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, para sahabat Tuhan di dunia ini memperoleh kabar suka melalui ilham dan
percakapan dengan Tuhan, dan di dalam kehidupan mendatang pun akan demikian (Yunus,
65).
Apakah Yang Dimaksud Dengan Ilham?
Namun di sini hendaknya diingat bahwa kata ilham
bukan bukanlah berarti suatu pemikiran
dan gagasan yang timbul di dalam kalbu seperti ketika seorang penyair
sedang berusaha membuat syair. Atau, sesudah ia menyelesaikan syair
penggalan pertama, ia berpikir untuk penggalan berikutnya maka lahirlah syair
penggalan kedua di dalam hatinya. Jadi,
yang timbul di dalam hati serupa itu bukanlah ilham melainkan suatu
hasil renungan dan pemikiran yang sejalan dengan hukum kudrat
Tuhan. Orang yang memikirkan perkara-perkasa baik atau yang merenungkan
perkara-perkara buruk – sesuai dengan yang dicarinya – maka pasti di dalam
hatinya timbul suatu gagasan.
Misalnya, seorang shalih dan jujur membuat
beberapa syair yang mendukung kebenaran, sedangkan seorang lagi
yang alam pikirannya kotor dan rucah membuat syair yang
mendukung kebohongan serta mengandung caci-makian terhadap orang shalih,
maka tidak diragukan lagi bahwa kedua
orang ini memang akan berhasil membuat
beberapa syair. Bahkan sedikit pun tidak mengherankan bahwa musuh orang shalih yang
mendukung kedustaan itu akan menghasilkan syair yang hebat berkat pengalamannya yang panjang.
Jadi,
kalau apa saja yang tercetus di dalam hati disebut ilham maka
seorang penyair yang kurang ajar yang memusuhi kebenaran serta memusuhi
orang-orang yang benar dan senantiasa mengangkat pena
untuk melawan kebenaran serta sudah biasa berdusta akan dapat pula disebut
sebagai orang yang menerima ilham dari Tuhan (mulham).
Di
dalam buku-buku roman dan sebagainya kita acap kali membaca cerita-cerita yang
menarik hati, padahal kita mengetahui bahwa cerita-cerita itu hanyalah karangan
khayal belaka. Akan tetapi karangan itu terus menerus meresap ke dalam
hati orang-orang. Apakah kita dapat menyebut hal itu sebagai ilham? Sama
sekali tidak, melainkan itu merupakan pikiran
orang-orang yang hingga kini tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan Sejati,
yaitu Tuhan yang menghibur hati melalui percakapan
istimewa-Nya dan melalui ilmu-ilmu rohaniah menganugerahkan makrifat
kepada mereka yang belum mengenalnya.
Apakah yang dimaksud dengan ilham? Ilham adalah percakapan
dan dialog Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahaperkasa kepada seorang hamba
pilihan-Nya atau kepada seseorang yang ingin dijadikan-Nya terpilih.
Apabila percakapan atau dialog tersebut mulai berlangsung dengan
suatu kesinambungan yang gencar
serta menghibur, dan di dalamnya tidak terdapat kegelapan pikiran-pikiran buruk serta tidak
tanggung-tanggung dan bukan berupa perkataan yang tidak menentu ujung-pangkalnya
melainkan suatu kalam yang lezat, penuh hikmah dan penuh keperkasaan,
maka itu merupakan Kalam Ilahi yang dengan perantaraannya Dia ingin memberi hiburan (ketenangan)
kepada hamba-Nya serta menampakkan Dzat-Nya Sendiri pada si hamba
itu.
Ya, kadang-kadang sebuah kalam turun
semata-mata sebagai ujian, tidak sempurna dan tidak mengandung
unsur-unsur beberkat. Dalam keadaan
demikian hamba Allah itu diuji pada tingkat permulaan. Yakni apakah
dengan mencicipi secuil ilham itu ia benar-benar akan memperlihatkan
keadaan dan ucapan-ucapannya seperti para mulham (penerima ilham) sejati
atau akan tergelincir.
Jadi apabila ia tidak memilih kebenaran
hakiki seperti halnya para shadiq
(orang-orang yang lurus hati) maka ia akan luput dari kesempurnaan nikmat
itu dan di tangannya hanya terdapat kata-kata yang hampa dan sia-sia belaka. Ilham terus menerus turun kepada jutaan
hamba shalih akan tetapi derajat mereka di sisi Allah tidak
sama. Bahkan para nabi suci Allah
sebagai penerima ilham yang paling utama dan paling bersih sekali pun tidak
sama derajat mereka. Allah Ta'ala berfirman:
تِلْكَ
الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
Yakni, sebagian nabi
memperoleh fadhilah (keunggulan/keutamaan) atas sebagian nabi lainnya (Al-Baqarah,
254). dari itu terbukti bahwa ilham merupakan fadhilah (karunia)
semata dan tidak ada campur-tangan dalam urusan fadhilah, melainkan fadhilah
itu sesuai dengan kadar ketulusan, keikhlasan,
dan kesetiaan yang diketahui oleh Allah. Ya, ilham pun apabila disertai syarat-syaratnya
yang beberkat maka buahnya juga akan ada. Dalam hal ini tidak diragukan lagi jika ilham
turun dalam corak demikian – yakni sang hamba bertanya dan Allah menjawabnya, dengan cara
itu terjadi tanya-jawab dalam suatu pola tertentu, dan di dalam ilham tersebut terdapat keperkasaan dan nur (cahaya) Ilahi serta
mengandung ilmu-ilmu gaib atau makrifat-makrifat sejati – maka itu adalah ilham Ilahi.
Di
dalam ilham Ilahi adalah mutlak bahwa seperti halnya seorang sahabat
yang bertemu dengan sahabatnya lalu bercakap-cakap, maka demikian
pulalah hendaknya percakapan yang berlangsung antara Rabb (Tuhan)
dan hamba-Nya. Dan tatkala sang hamba bertanya tentang suatu hal
maka ia akan mendengar dari Allah Ta'ala
suatu Kalam yang lezat lagi fasih sebagai jawabannya. Di situ sedikit pun tidak ada campur-tangan nafsu, pemikiran dan renungan
sang hamba. Dan mukalamah serta
mukhatabah tersebut menjadi hadiah baginya.
Jadi, itu adalah kalam Ilahi, dan hamba
yang demikian itu memperoleh kehormatan di sisi Allah. Akan tetapi derajat
ini -- yang di dalamnya ilham
merupakan suatu hadiah, dan Allah menjalin suatu hubungan ilham yang
hidup dan suci dengan hamba-Nya
serta berlangsung dengan bersih dan suci --
tidak akan diraih oleh siapa pun kecuali mereka yang maju dalam keimanan,
keikhlasan, dan amal-amal shalih, serta dalam hal-hal tertentu
yang tidak dapat kami jelaskan.
Ilham yang sejati dan suci
menampakkan keajaiban-keajaiban agung Ketuhanan. Acap kali terbit
suatu sinar yang amat berkilauan dan bersamaan dengan itu turun suatu ilham
yang penuh dengan keperkasaan serta kecemerlangan. Adakah suatu
kemuliaan lebih besar dari yang diperoleh seorang mulham (penerima
ilham), yaitu bercakap-cakap dengan Pencipta langit
dan bumi?
Di
dunia ini peluang untuk melihat Allah ialah bercakap-cakap dengan-Nya.
Akan tetapi dalam uraian kami ini yang dimaksudkan bukanlah keadaan seorang
manusia yang dari lidahnya mengalir suatu kata atau suatu kalimat
atau syair tanpa dasar tetapi tidak disertai peristiwa mukalamah
dan mukhatabah. Bahkan orang demikian itu terperangkap dalam ujian
Allah. Sebab Allah dengan cara itu
juga menguji hamba-hamba yang malas dan lalai. Yakni, ada kalanya Dia
mencetuskan suatu kalimat atau ungkapan di dalam hati atau
lidah seseorang maka orang itu pun menjadi buta. Ia tidak tahu dari mana
kalimat itu datang – apakah dari Tuhan atau dari syaitan?
Jadi, adalah wajib beristighfar terhadap kalimat-kalimat semacam itu.
Akan tetapi apabila seorang hamba yang
shalih lagi baik mulai memperoleh
percakapan dengan Allah tanpa tabir, dan sebagai mukhatabah dan mukalamah
ia mendengar suatu Kalam yang bersinar-sinar, lezat, penuh makna, penuh
hikmah serta penuh keperkasaan, dan sedikitnya ia sering mengalami peristiwa di
mana terjadi 10 kali soal-jawab di antara Tuhan dengan ia dalam keadaan
sadar – ia bertanya dan Tuhan menjawab --
kemudian dalam keadaan sadar itu juga ia menyampaikan suatu hal lain dan Tuhan pun menjawabnya,
lalu ia memohon dengan rendah hati Tuhan menjawabnya
pula, demikian pula sampai 10 kali terus berlangsung percakapan antara Tuhan dengan ia, dan Tuhan telah berkali-kali
mengabulkan doa-doanya di dalam percakapan-percakapan itu, membukakan
kepadanya makrifat-makrifat yang tinggi, mengabarkan kepadanya peristiwa-peristiwa
yang akan terjadi, dan di dalam soal-jawab itu berkali-kali Allah
menganugerahkan kepadanya percakapan secara terbuka, maka orang yang
seperti itu hendaknya banyak bersyukur kepada Allah Ta'ala dan hendaknya
paling banyak berkorban di jalan Allah. Sebab semata-mata karena kemurahan-Nya
Allah telah memilih orang itu di antara sekalian hamba-Nya
dan menjadikan dia sebagai pewaris para shiddiq yang telah
mendahului dia. Nikmat ini sangat
jarang terjadi dan merupakan suatu keberuntungan. Barangsiapa memperolehnya
maka segala sesuatu selain itu akan menjadi tidak berarti sama sekali.
Keistimewaan Islam
Di
dalam Islam orang-orang yang memiliki martabat dan derajat
tersebut senantiasa ada, dan hanya di dalam Islam sajalah Tuhan mendekati
sang hamba dan bercakap-cakap
dengan dia. Tuhan berbicara di dalam dirinya, dan di dalam hatinya
Dia mendirikan singgasana-Nya, dan dari dalam diri orang itulah Dia menariknya
ke Langit serta melimpahkan kepada orang itu segala nikmat
yang pernah diberikan-Nya kepada orang-orang terdahulu.
Sungguh sayang sekali dunia yang buta ini tidak mengetahui ke mana manusia
akan sampai setelah setapak demi setapak mendekati Tuhan. Mereka sendiri
tidak melangkahkan kaki ke arah itu, sedangkan orang-orang yang melangkahkan
kaki ke arah sana mereka dinyatakan kafir, atau
sebaliknya dianggap sembahan dan diberi kedudukan sebagai tuhan.
Kedua sikap itu adalah aniaya,
yang satu karena terlalu melebih-lebihkan, dan yang kedua karena mengecilkan.
Akan tetapi hendaknya orang-orang bijak
jangan putus-asa serta jangan mengingkari martabat dan derajat
itu, dan jangan menghinakan orang
yang telah memperoleh martabat tersebut, serta jangan pula mulai menyembahnya.
Pada martabat ini Allah Ta'ala memperlihatkan hubungan-hubungan
dengan hamba itu sedemikian rupa, seakan-akan jubah Ketuhanan
telah dikenakan kepadanya, dan orang semacam itu menjadi cermin untuk
melihat Tuhan. Inilah rahasia yang telah disabdakan oleh Nabi kita saw.: "Barangsiapa yang melihatku
ia telah melihat Tuhan".
Ringkasnya, ini merupakan peringatan
keras bagi para hamba dan di situlah berakhir seluruh suluk
(perjalanan menuju kesempurnaan rohani) dan di situlah ketentraman sempurna
diraih.
Penceramah Memperoleh
Anugerah Mukalamah dan Mukhatabah Ilahiyah
Saya
akan merasa berbuat aniaya terhadap
umat manusia seandainya pada saat ini saya (kami) tidak menyatakan bahwa derajat
yang definisi-definisinya telah saya uraian dan martabat mukalamah dan mukhatabah
yang baru saja saya terangkan secara rinci itu, anugerah
Ilahi telah melimpahkannya kepada saya, supaya
saya memberi penglihatan kepada orang-orang
yang buta, dan kepada para pencari
memberitahukan alamat sesuatu yang telah hilang itu, dan memperdengarkan kabar suka kepada
mereka yang mengakui kebenaran mengenai mata air suci
yang disebut-sebut oleh banyak orang namun sedikit yang menemukannya.
Saya ingin meyakinkan para pendengar bahwa Tuhan – yang dengan menemukan-Nya
timbul keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi manusia – sama sekali
tidak akan dapat ditemukan tanpa mengikuti ajaran Quran Syarif.
Ah, seandainya orang-orang melihat apa yang telah
saya lihat, mendengar apa yang telah saya dengar, dan meninggalkan dongengan-dongengan
serta berlari ke arah kebenaran
Sarana ilmu sempurna yang melaluinya Tuhan akan tampak, air pembilas kotoran yang melaluinya segenap keraguan
akan
lenyap, dan cermin yang melaluinya akan tampak Wujud Maha
Agung itu adalah mukalamah dan mukhatabah
Ilahiyah yang baru saja saya uraian.
Siapa saja yang di dalam ruhnya
terdapat kedambaan untuk meraih kebenaran, bangkit dan carilah.
Saya mengatakan dengan sebenarnya, jika di dalam ruh timbul gejolak
pencarian sejati dan di dalam hati timbul kehausan hakiki maka orang-orang
hendaknya mencari jalan ini dan sibuk dalam upaya untuk menemukannya.
Akan tetapi dari arah mana jalan
ini akan terbuka, dan dengan obat apa tirai ini akan tersingkap? Saya pastikan kepada para pencari kebenaran
bahwa hanya Islam sajalah yang memberikan kabar suka
tentang jalan itu, sedangkan umat-umat lainnya sejak lama telah memasang
segel penutup ilham Ilahi.
Jadi, pahamilah dengan seyakin-yakinnya
bahwa segel ini bukanlah berasal dari Tuhan melainkan suatu dalih
yang diciptakan oleh manusia karena dia sendiri tidak menerimanya.
Dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa sebagaimana kita tidak mungkin
dapat melihat tanpa mata, atau mendegar tanpa telinga, atau berbicara
tanpa lidah, demikian pula kita tidak mungkin dapat melihat Wajah
Sang Kekasih Tersayang itu tanpa
Quran Syarif. Dahulu saya muda,
sekarang sudah tua, namun saya tidak menemukan seorang pun yang telah berhasil
meneguk minuman dari mangkuk makrifat yang nyata itu tanpa
melalui mata air suci ini.
Sarana Untuk Memperoleh Ilmu
Sempurna Adalah
Ilham Allah Ta'ala
Wahai saudara-saudara! Wahai orang-orang
tercinta! Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melawan
kehendak Tuhan. Pahamilah dengan
seyakin-yakinnya bahwa sarana untuk memperoleh ilmu sempurna adalah ilham
Allah Ta'ala yang telah diperoleh para nabi suci Allah Ta'ala. Kemudian sesudah
itu Tuhan yang merupakan sungai karunia sama sekali tidak berkehendak
memasang segel penutup pada ilham
itu selanjutnya guna membinasakan dunia
dengan cara demikian, melainkan pintu-pintu
ilham dan mukalamah dan mukhatabah senantiasa terbuka.
Ya, carilah
pintu-pintu itu melalui jalannya masing-masing, barulah kalian akan menemukannya dengan
mudah. Air kehidupan itu turun dari Langit dan menetap pada tempatnya
yang layak. Sekarang, apa yang seharusnya kalian lakukan agar kalian dapat
meminum air itu? Yang seharusnya kalian lakukan adalah, capailah mata-air
itu dengan jatuh bangun, kemudian letakkanlah mulut kalian pada mata air
itu supaya kalian diminumkan air kehidupan tersebut.
Segala keberuntungan manusia adalah, di mana
pun terlihat cahaya maka dia berlari ke arah itu. dan di mana pun nampak jejak sahabatnya yang hilang, dia akan
menempuh jalan itu. Kalian
menyaksikan bahwa cahaya selamanya turun dari langit dan menerpa
bumi. Demikian pula cahaya hakiki
petunjuk turun dari Langit juga. Ucapan-ucapan dan dugaan-dugaan
manusia sendiri tidak dapat memberikan makrifat sejati kepadanya.
Apakah kalian dapat menemukan Tuhan
tanpa adanya penampakkan Ilahiyah? Apakah kalian dapat melihat dalam kegelapan
tanpa adanya cahaya langit? Seandainya dapat, maka mungkin di tempat ini
pun kalian akan dapat melihat. Akan tetapi walau pun mata kita dapat melihat
tetapi kita tetap saja memerlukan cahaya
langit. Dan walaupun kita
dapat mendengar, kita tetap saja memerlukan udara yang bergerak
dari arah Tuhan. Suatu Tuhan yang
diam dan membiarkan segala sesuatu
bergantung pada dugaan-dugaan kita, bukanlah Tuhan yang sejati.
Justru Tuhan yang sempurna dan hidup
adalah Tuhan yang memberitahukan sendiri tentang keberadaan Wujud-Nya.
Jendela-jendela langit sedang akan terbuka, fajar shidiq hampir
menyingsing. Beberkatlah mereka yang bangkit duduk dan kini mencari Tuhan yang sejati. Itulah
Tuhan yang tidak mengenal perubahan dan tidak pernah
tertimpa musibah, yang cahaya keperkasaan-Nya tidak pernah pudar.
Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Syarif:
اللَّهُ
نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Yakni, Tuhan-lah Yang setiap
saat merupakan cahaya langit dan cahaya bumi (An-Nuur, 36).
Cahaya dari-Nya menerpa semua
tempat. Dia-lah Matahari bagi matahari, Dia-lah Nyawa
bagi seluruh makhluk bernyawa yang ada di dunia. Dia-lah Tuhan yang
sejati dan yang hidup. Beberkatlah orang yang
menerimanya.
Sarana ketiga untuk
memperoleh ilmu ialah hal-hal yang terdapat dalam martabat haqqul-yaqin, yaitu
segala penderitaan, musibah dan kesusahan yang dialami
para nabi serta orang-orang shalih di tangan musuh,
atau atas keputusan samawi. Akibat penderitaan-penderitaan dan
kesusahan-kesusahan semacam ini maka semua petunjuk syariat yang tadinya
ada dalam hati manusia hanya
secara ilmu belaka akan berlaku
padanya dan berubah ke dalam bentuk amalan. Kemudian, setelah tumbuh
dan berkembang dari lahan amal sampailah petunjuk-petunjuk syariat
ke taraf kesempurnaan total, dan wujud si pelaku amal itu sendiri menjadi suatu penjelmaan
sempurna petunjuk-petunjuk Tuhan.
Semua akhlak: kepemaafan, pembalasan (balas dendam), kesabaran, dan
kasih-sayang – yang tadinya memenuhi otak dan hati, kini seluruh bagian tubuh
memperoleh jatah dari akhlak-akhlak itu berkat penerapan secara amal,
dan menggoreskan gambaran serta jejak-jejaknya setelah berlaku
pada seluruh tubuh, sebagaimana Allah Swt. berfirman:
· وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ()الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ
قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ()أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ
صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
· لَتُبْلَوُنَّ
فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ
تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Yakni, Kami akan menguji
kalian dengan ketakutan dan kelaparan dan kerugian harta dan kehilangan jiwa dan kegagalan usaha dan kematian anak keturunan. Yakni semua
penderitaan ini akan menimpa kalian sebagai keputusan takdir atau karena
perbuatan tangan musuh. Adalah kabar suka bagi orang-orang yang pada waktu
tertimpa musibah hanya berkata, "Kami adalah kepunyaan Allah dan
kepada Allah-lah kami akan
kembali." Bagi mereka terdapat berkat dan rahmat dari Allah, dan mereka
inilah orang-orang yang telah mencapai kesempurnaan petunjuk (Al-Baqarah,
156-158).
Yakni, sekedar memiliki ilmu yang
memenuhi hati dan otak tidaklah berarti apa-apa. Justru pada
hakikatnya ilmu adalah sesuatu yang turun dari otak lalu
memberikan budaya serta warna kepada segenap bagian tubuh,
dan mewujudkan seluruh ingatan dalam bentuk amal. Jadi, sarana
untuk memperkokoh ilmu dan untuk mengembangkannya ialah menuangkan ilmu
itu ke dalam seluruh bagian tubuh dalam
bentuk amalan.
Tidak ada ilmu yang paling rendah
sekali pun dapat mencapai kesempurnaannya tanpa penerapan secara amal.
Mislanya, sejak lama kita berpendapat bahwa memasak roti itu adalah pekerjaan
yang sangat mudah dan tidak pelik. Pekerjaan itu hanya sekedar membuat adonan tepung gandum,
dan dari adonan itu diambil sekepal cukup untuk sepotong roti, lalu dileberkan
dengan menghimpitnya pada kedua telapak tangan, kemudian ditaruh di atas
loyang, lalu dibolak-balik di atas api supaya bakarannya merata maka roti pun
akan matang.
Itu hanya teori ilmu kita saja. Tetapi
apabila kita tanpa pengalaman mulai memasak, maka pertama-tama kesulitan yang
akan kita hadapi ialah membuat adonan
yang bagus, karena jika tidak maka bisa keras seperti batu atau terlalu lembek
sehingga tidak dapat digunakan dengan semestinya. Dan
andaikata sesudah dipukul-pukul dan dibanting-banting kita berhasil juga
menyiapkan adonan maka roti itu ada sebagian yang hangus dan sebagian lagi
masih mentah. Di bagian tengah tebal
dan di bagian pinggir tidak merata, padahal sudah 50 tahun kita selalu menyaksikan roti
dimasak.
Ringkas, hanya dengan bekal ilmu saja yang
belum pernah dipraktekkan kita akan menyia-nyiakan berkilo-kilo tepung gandum.
Jadi, tatkala dalam hal-hal kecil saja pun sudah demikian keadaan ilmu kita,
maka bagaimana mungkin kita dapat bertumpu sepenuhnya pada ilmu semata
dalam perkara-perkara besar tanpa penerapan dan praktek secara amalan.
Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta'ala mengajarkan bahwa,
"Musibah-musibah yang Aku timpakan kepada kalian itu pun merupakan sarana ilmu
dan pengalaman. Yakni dengan itu ilmu kalian akan menjadi
sempurna."
Dan
kemudian lebih lanjut Dia berfirman, "Kalian akan diuji juga dalam harta
dan jiwa kalian. Orang-orang akan merampas harta kalian, akan membunuh kalian
dan kalian akan sangat diganggu melalui tangan orang-orang Yahudi, Nashrani dan
orang-orang musyrik. Mereka akan melontarkan kata-kata yang sangat menghina
mengenai kalian. Jadi, apabila kalian sabar dan menghindari hal-hal yang
bukan-bukan maka sikap demikian itu merupakan suatu keteguhan dan kesatriaan (Aali
'Imran, 187).
Makna keseluruhan ayat ini ialah, ilmu
yang beberkat yaitu ilmu yang memperlihatkan kecerlangannya sampai ke
taraf amal terapan. Sedangkan ilmu yang sia-sia ialah yang tetap
terkurung dalam batas ilmu saja namun tidak pernah mencapai taraf penerapan
secara amalan.
Hendaknya diketahui bahwa seperti halnya
harta bertambah dan berlipat-ganda melalui perniagaan, demikian pula ilmu akan mencapai kesempuraan
rohaniahnya melalui terapan amal. Jadi, terapan amal
merupakan sarana utama untuk menyampaian ilmu ke taraf sempurna. Melalui terapan di
dalam ilmu akan timbul cahaya. Dan
pahamilah, sarana apa lagi untuk
mencapai taraf haqqul-yaqin ilmu? Tidak lain adalah menguji segala sisinya
(seginya) secara amal terapan. Demikianlah yang telah berlaku dalam
Islam. Segala sesuatu yang telah diajarkan Allah Ta'ala kepada manusia dengan
perantaraan Quran Syarif, kepada mereka
diberi kesempatan untuk mencemerlangkan ajaran tersebut dalam
bentuk amal terapan serta memperoleh cahaya sepenuhnya dari itu.
Dua Periode Kehidupan
Rasulullah
Saw.
Untuk tujuan itulah Allah Ta'ala membagi
kehidupan Nabi kita saw. dalam dua bagian.
Bagian
pertama adalah periode penderitaan, kesulitan, dan kesusahan.
Sedangkan bagian kedua merupakan periode kemenangan, supaya pada masa-masa sulit dapat tampil akhlak-akhlak
yang memang biasa tampil pada saat-saat kesulitan, dan supaya pada
masa-masa kemenangan serta kekuasaan dapat terbukti akhlak-akhlak
yang memang tidak dapat dibuktikan tanpa adanya kekuasaan. Maka demikianlah bahwa
kedua jenis akhlak Rasulullah saw.
telah terbukti sempurna dan jelas sehubungan dengan berlakunya kedua
periode serta kedua kondisi tersebut.
Zaman-zaman penderitaan yang dialami selama
13 tahun oleh Nabi kita saw. di Mekkah
Mu'azzamah, dengan membaca riwayat
beliau pada periode itu maka dengan jelas akan diketahui bahwa Rasulullah saw.
telah memperlihatkan akhlak-akhlak yang memang seharusnya diperlihatkan
oleh seorang shalih sempurna pada saat-saat sulit – yaitu tetap tawakkal kepada
Allah, tidak berkeluh-kesah, tidak memperlihatkan kemalasan dalam tugas, dan
tidak takut terhadap sosok seseorang --
sedmikian rupa sehingga orang-orang kafir menjadi beriman karena menyaksikan istiqamah
(keteguhan) yang demikian itu dan memberi kesaksian bahwa istiqamah
(keteguhan) dan ketabahan dalam penderitaaan seperti itu tidak dapat dilakukan
oleh seseorang sebelum dia bergantung sepenuhnya kepada Allah. Dan
kemudian tatkala periode kedua datang, yaitu zaman kemenangan, kekuasaan dan
kemakmuran, pada zaman itu pun akhlak-akhlak
luhur Rasulullah saw. – kepemaafan (sifat pemaaf) kedermawanan, dan
keberanian – tampil sedemikian rupa sempurnanya sehingga segolongan besar orang
kafir menjadi beriman setelah menyaksikan akhlak-akhlak tersebut.
Beliau memaafkan orang-orang yang menyakiti
beliau dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang mengusir beliau dari
Mekkah. Beliau melimpahkan harta kepada orang-orang yang memerlukan dari
kalangan mereka. Dan setelah
memperoleh kekuasaan beliau mengampuni musuh-musuh besar beliau. Demikianlah
banyak sekali orang-orang yang menyaksikan akhlak beliau saw. lalu
memberikan kesaksian bahwa selama seseorang bukan berasal dari Allah
dan benar-benar shalih, sama sekali dia tidak akan dapat memperlihatkan akhlak
tersebut. Itulah sebabnya mengapa kedengkian para musuh beliau yang
sudah lama berkobar langsung lenyap.
Akhlak paling utama beliau yang telah
beliau saw, buktikan adalah akhlak yang telah diuraikan dalam Quran
Syarif, yaitu:
قُلْ إِنَّ
صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Yakni, katakanlah kepada
mereka, "Ibadahku dan pengorbananku,
dan matiku serta hidupku ada di jalan Allah" (Al-An'aam,
163). Yakni, ”untuk menzahirkan keperkasaan-Nya dan kemudian untuk memberikan
ketentraman kepada hamba-hamba-Nya sehingga
dengan kematianku mereka memperoleh kehidupan."
Di
sini yang telah disinggung adalah mati di jalan Allah dan demi kebaikan
umat manusia. Jangan pula ada yang
berpendapat dari itu bahwa beliau saw., na'udzubillah, seperti halnya
orang-orang yang bodoh dan gila, beliau sungguh-sungguh telah berniat melakukan
bunuh diri. Yaitu dengan pemahaman bahwa membunuh diri sendiri melalui
suatu alat akan memberikan manfaat kepada orang lain. Justru beliau snagat
menentang hal-hal yang sia-sia itu. Dan
Quran Syarif telah menetapkan perbuatan bunuh diri itu sebagai suatu dosa besar
dan patut dihukum, sebagaimana Dia berfirman:
وَلَا
تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Yakni, janganlah kamu bunuh
diri, dan janganlah kematian kamu terjadi karena tangan kamu sendiri (Al-Baqarah,
196). Jelaslah, misalnya jika perut si Khalid sakit – dan karena kasihan kepadanya – lalu si Zaid
memecahkan kepalanya sendiri maka berarti Zaid tidak melakukan kebaikan keada Khalid, melainkan ia telah melakukan perbuatan tolol
memecahkan kepalanya sendiri dengan
batu. Barulah akan merupakan amal shalih
apabila Zaid berusaha keras dengan jalan yang tepat dan bermanfaat bagi si Khalid yaitu menyediakan obat-obat mujarab baginya, merawatnya sesuai dengan kaidah-kaidah
kedokteran. Akan tetapi dengan memecahkan kepalanya sendiri tidak ada satu
manfaat apa pun yang sampai kepada Zaid. Dia dengan sia-sia telah menyakiti
salah satu anggota badannya yang mulia.
Ringkasnya, maksud ayat ini adalah
Rasulullah saw. telah mewakafkan jiwa
untuk kebahagiaan umat manusia melalui solidaritas yang hakiki dan kerja
keras. Dan dengan doa, dengan jalan
tabligh, dengan memikul beban penderitaan mereka, dan dengan cara yang tepat serta bijak, beliau telah
mengorbankan jiwa dan ketentraman beliau di jalan itu, sebagaimana Allah Ta’ala
berfirman:
·
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ
نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
·
فَلَا تَذْهَبْ
نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
Apakah engkau akan
membinasakan diri engkau dalam kesedihan dan kerjakeras yang engkau lakukan
untuk orang-orang? (Asy-Syu'ara, 4). Dan
apakah engkau akan melepas nyawa engkau
dengan penuh penyesalan bagi orang-orang yang tidak menerima kebenaran itu? (Al-Fathir,
9).
Jadi, cara bijaksana untuk mengorbankan jiwa demi kaum adalah menimpakan kerja keras atas
jiwa untuk kebaikan kaum, sesuai dengan cara-cara bermanfaat hukum kudrat,
mengorbankan jiwa demi mereka dengan menempuh upaya-upaya yang tepat, tidak memukulkan
batu ke kepala sendiri setelah menyaksikan kaum itu berada di dalam bencana
besar atau kesesatan serta mendapatkannya dalam kondisi yang fatal, atau tidak menelan 2 atau 3 butir strychnine agar mati meninggalkan dunia, dan
kemudian beranggapan bahwa, "Kami telah menyelamatkan kaum melalui sikap
kami yang sis-sia ini." Ini bukanlah sikap jantan melainkan
perangai perempuan.
Cara
yang senantiasa ditempuh oleh orang-orang yang tidak mempunyai semangat adalah,
tatkala mereka mendapatkan bencana itu tidak sanggup untuk dihadapi maka
mereka segera mengambil sikap bunuh
diri. Perbuatan bunuh diri demikian, walaupun di
kemudian hari diberi penafsiran macam-macam, namun tidak diragukan lagi bahwa
sikap itu merupakan aib bagi akal dan bagi orang-orang yang berakal.
Akan tetapi jelas bahwa seseorang yang
tidak mempunyai kesempatan untuk membalas, kesabarannya serta sikapnya yang
tidak melawan musuh tidaklah dapat dipercaya. Sebab
siapa yang tahu seandainya dia kuasa untuk membalas maka apa saja yang dia lakukan.
Selama manusia belum menjalani kedua zaman tersebut – pertama-tama zaman
penderitaan dan kedua zaman kekuasaan dan pemerintahan serta kemakmuran
-- selama itu pula akhlak-akhlaknya
yang asli tidak dapat tampil sama sekali. Sangat jelas bahwa seseorang yang
terus menerus mengalami serangan dari pihak lain hanya ketika berada dalam kondisi lemah, tidak punya
apa-apa dan tidak berkuasa, serta tidak memperoleh zaman kekuasaan dan
pemerintahan serta kemakmuran, maka sedikit pun tidak ada yang dapat dibuktikan
dari akhlak-akhlaknya. Dan jika seseorang tidak pernah turun ke medan
perang, maka ini pun tidak akan terbukti apakah dia seorang pemberani
atau pengecut. Kita tidak dapat mengatakan apa pun berkenaan dengan akhlaknya, sebab kita tidak tahu.
Kita tidak mengetahui seandainya dia meraih kekuasan atas musuh-musuhnya, apa
saja sikap yang akan diambil terhadap mereka. Dan
andaikata dia kaya-raya, apakah dia menimbun harta itu atau membagi-bagikannya
kepada orang? Dan seandainya ia turun
ke suatu medan
pertempuran apakah dia melarikan diri tunggang-langgang atau memperlihatkan
kejantanannya seperti para ksatria?
Akan tetapi anugerah serta karunia
Ilahi telah memberikan kesempatan kepada Nabi kita saw. untuk memperlihatkan akhlak-akhlak tersebut. Demikianlah bahwa sifat-sifat
beliau yang pemurah, pemberani, lemah-lembut, pemaaf dan adil, telah tampil pada kesempatannya masing-masing
dengan begitu sempurnanya sehingga tidak dapat dicari bandingannya di dalam
lembaran sejarah dunia.
Di
dalam kedua periode kehidupan beliau – zaman ketika masih lemah dan ketika
berkuasa, zaman ketika tidak memiliki apa-apa dan ketika dipenuhi oleh kemakmuran – beliau
telah memperlihatkan kepada seluruh dunia bahwa wujud suci beliau itu
merupakan himpunan akhlak yang
bertaraf sangat mulia. Dari antara akhlak fadhilah, tidak ada satu akhlak
manusia pun yang untuk menzahirkannya Allah Ta'ala tidak memberikan suatu peluang kepada beliau. Segenap akhlak
fadhilah -- keberanian, kemurahan
hati, keteguhan, kepemaafan, kelemah-lembutan dan sebagainya -- telah terbukti sedemikian rupa, sehingga
mustahil mencari bandingannya di dunia.
Ya, memang benar, barangsiapa telah berbuat
aniaya sampai melampaui batas dan ingin menghancurkan Islam
mereka pun tidak dibiarkan oleh Allah Ta'ala tanpa hukuman, sebab
membiarkan mereka tanpa hukuman berarti seolah-olah menghancurkan
orang-orang shalih di bawah kaki mereka.
Tujuan peperangan Rasulullah
Saw.
Tujuan peperangan Rasulullah saw.
sekali-kali bukanlah untuk sekedar membunuhi orang-orang tanpa sebab. Mereka
telah diusir dari tanah leluhur mereka, dan banyak sekali kaum pria dan wanita Muslim yang tidak berdosa telah
dibunuh, sedangkan orang-orang zalim (aniaya) belum juga berhenti dari berbuat
zalim, dan mereka menghambat ajaran Islam. Untuk itu hukum Tuhan
berkenaan dengan keamanan menghendaki untuk menyelamatkan orang-orang yang
teraniaya dari kehancuran total.
Jadi, pihak yang telah menghunus pedang,
dengan merekalah telah dilakukan perlawanan dengan pedang.
Ringkasnya, untuk mematahkan ancaman
para pembunuh, peperangan-peperangan itu telah dilangsungkan sebagai upaya
menangkal kejahatan, dan telah dilangsungkan pada saat orang-orang zalim
berkeinginan menghancurkan orang-orang benar. Dalam kondisi itu, jika Islam
tidak menerapkan aksi pembelaan diri maka ribuan anak dan kaum wanita tidak
berdosa akan terbunuh sehingga akhirnya Islam menjadi hancur.
Hendaknya diingat, ini merupakan
kebengisan besar para penentang kami, mereka beranggapan bahwa petunjuk
ilhamiyah hendaknya tidak mengandung ajaran untuk melawan para musuh
pada tempat dan kesempatan apa pun serta sennatiasa
memperlihatkan kecintaan dan kasih-sayang dalam bentuk kehalusan dan
kelemah-lembutan.
Orang-orang ini di dalam benak mereka
beranggapan bahwa dengan membatasi segenap sifat sempurna Allah Ta'ala hanya
pada kehalusan dan kelemah-lembutan saja
berarti mereka sedang menjunjung tinggi Allah Ta’ala. Akan tetapi orang-orang
yang menelaah dan merenungkan masalah ini, dengan mudah dapat terbuka kepada
mereka bahwa orang-orang tersebut sedang terperangkap di dalam suatu kekeliruan
besar dan nyata.
Dengan menelaah hukum kudrat Allah
Ta'ala akan terbukti dengan jelas bahwa
Dia memang satu-satunya Rahmat bagi dunia, akan tetapi rahmat
itu tidak selamanya dan tidak dalam setiap kondisi tampil dengan corak kehalusan
dan kelembutan. Justru
semata-mata karena dorongan rahmat-Nya Dia -- bagai seorang dokter ahli – kadang-kadang
memberikan syrup yang manis kepada kita dan
kadang-kadang memberikan obat yang pahit. Rahmat-Nya menerpa seluruh umat
manusia seperti seorang di antara kita yang menyayangi seluruh bagian tubuhnya.
Tidak diragukan lagi bahwa tiap orang di
antara kita menyayangi seluruh bagian wujudnya. Dan
kalau ada yang ingin mencabut sehelai saja rambut kita maka kita akan sangat
marah kepadanya. Akan tetapi kendati pun kita menyayangi tubuh kita, rasa
sayang itu terbagi-bagi di dalam segenap tubuh kita. Dan
seluruh bagian tubuh kita itu terasa sayang oleh kita, kita tidak ingin satu
pun di antaranya cedera.
Akan
tetapi walaupun demikian, jelas terbukti bahwa kita tidak menyayangi
bagian-bagian tubuh kita pada taraf dan kadar yang
sama, melainkan rasa sayang terhadap anggota-anggota badan yang pokok serta
penting – yang sedikit banyak merupakan tumpuan bagi tujuan kita – menguasai
kita. Demikian pula pada pandangan kita rasa sayang terhadap tubuh seutuhnya
adalah lebih besar dibandingkan dengan rasa sayang terhadap salah satu anggota.
Jadi, apabila kita menghadapi keadaan
bahwa keselamatan suatu bagian tubuh bertumpu pada upaya penyayatan
atau pembedahan atau pemotongan bagian tubuh yang kurang penting,
maka untuk menyelamatkan jiwa tanpa ragu kita siap untuk membedah
atau memotong bagian tubuh
tersebut. Dan walaupun pada saat itu di dalam hati kita juga timbul rasa sedih -- bahwa kita membedah atau memotong satu bagian
tubuh kita yang disayang – akan tetapi kita tetap terpaksa melakukan pemotongan
dengan pemikiran: jangan-jangan peradangan pada bagian tubuh tersebut dapat
merusak bagian tubuh penting lainnya.
Jadi, melalui tamsil ini hendaknya dipahami
bahwa Allah pun tatkala melihat hamba-hamba
shalih-Nya sedang dibinasakan oleh
para pemuja kebatilan, dan kerusuhan pun
merebak, maka Dia akan melakukan
upaya yang tepat untuk menyelamatkan nyawa orang-orang shalih dan untuk
menumpas kerusuhan – tidak peduli apakah dari langit maupun dari bumi –
sebabnya adalah Dia merupakan Rahim (Maha Pengasih) dan juga Hakim
(Maha Bijaksana).
اَلْحَمْدُ
الِلَّهِ رّبِّ الْعَلَمِيْنَ
ooo0ooo
Ruh,
Kemang
- Bogor,
Akhir
Ramadhan, Jum’at 11 Oktober 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar