Minggu, 23 Maret 2014

FILSAFAT AJARAN ISLAM BAGIAN VI



Masalah Ketiga 

APA TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA
DAN BAGAIMANA  DAPAT MENCAPAINYA?


J
awaban terhadap masalah ini adalah, manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya – karena pengetahuan yang dangkal serta kemampuan yang terbatas --  menetapkan berbagai tujuan bagi hidupnya, dan mereka berjalan hanya sampai pada tujuan-tujuan dan  cita-cita duniawi belaka lalu berhenti. Akan  tetapi  tujuan yang ditetapkan Allah Ta'ala di dalam Kalam Suci-Nya adalah sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Yakni,  Aku telah menciptakan jin dan manusia agar mereka mengenal-Ku dan menyembah-Ku (Adz-Dzaariyaat, 57). Jadi, menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta'ala dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi milik Allah Ta'ala. Jelas bahwa manusia tidak memperoleh kedudukan untuk – dengan ikhtiarnya – menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab manusia bukan atas kemauannya sendiri datang dan pula bukan atas kemauannya sendiri akan kembali, melainkan dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan), sedangkan Wujud yang  menciptakan serta menganugerahkan kemampuan yang  cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh hewan,  Dia jugalah yang telah menetapkan  suatu tujuan hidup baginya.
      Tidak peduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu untuk menyembah Tuhan dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi fana (larut) di dalam Allah Ta'ala, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di satu tempat lain dalam Al-Quran:
·       إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
·       فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا .........ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
Yakni, agama yang di dalamnya terdapat makrifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam bentuk terbaik adalah Islam (Aali 'Imran, 20).   Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia, dan Allah Ta'ala telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam  serta telah menciptakannya untuk Islam (Ar-Ruum, 31). Yakni, Dia telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya terus-menerus menyembah, menaati,  dan mencintai Tuhan.  Itulah sebabnya Sang  Mahakuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan Islam.
      Rincian ayat-ayat ini sangat luas, dan kami dalam kadar tertentu telah juga menuliskannya pada bagian  ketiga Masalah Pertama.  Akan tetapi pada saat ini kami hanya ingin menzahirkan (mengemukakan)  secara ringkas, bahwa segala organ bagian dalam dan luar yang telah dianugerahkan kepada manusia, atau segala kemampuan yang telah diberikan, tujuan sebenarnya  dari semua itu ialah untuk mendapatkan makrifat Ilahi dan menyembah Allah Ta'ala serta mencintai Allah Ta'ala.  Itulah sebabnya manusia di dunia setelah tenggelam dalam ribuan kesibukan mereka tetap saja tidak menemukan kebahagiaan   sejati dalam suatu apa pun, kecuali pada Allah Ta'ala.
     Setelah menjadi hartawan, setelah memperoleh kedudukan tinggi, setelah menjadi saudagar besar, setelah mencapai tahta kerajaan besar, setelah dijuluki filsuf besar, akhirnya ia pergi dengan hasrat-hasrat besar karena belenggu-belenggu duniawi itu, dan kalbunya senantiasa mengecamnya karena tenggelam dalam dunia. Hati-nuraninya  tidak  pernah menyetujuinya tindakan-tindakannya yang licik, penuh tipu-muslihat, dan curang.
     Seorang manusia bijak dapat juga memahami masalah ini dengan cara demikian: tugas-tugas paling tinggi yang dapat dilakukan oleh kemampuan-kemampuan suatu benda lalu lebih dari itu kemampuan-kemampuan tersebut terhenti maka tugas paling tinggi itu dianggap sebagai tujuan  penciptaan benda tersebut. Misalnya,  tugas paling tinggi seekor lembu jantan ialah membajak tanah atau menimba air sumur untuk pengairan atau untuk menarik pedati. Lebih dari itu ia tidak mempunyai kemampuan lain.
    Akan tetapi apabila kita mengukur kemampuan-kemampuan manusia – yaitu kemampuan paling tinggi yang terdapat dalam dirinya --- maka yang terbukti adalah padanya terdapat pencarian terhadap Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar. Sampai-sampai manusia berkeinginan untuk melebur dan tenggelam di dalam kecintaan Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang tersisa miliknya, semua telah menjadi milik Tuhan.
    Dalam hal makan dan tidur serta hal-hal alami lainnya manusia menyerupai hewan-hewan lain. dalam bidang keterampilan, sebagian hewan sangat jauh melebihi manusia. Bahkan lebah-lebah madu mengambil sari dari setiap bunga lalu menghasilkan madu murni yang sampai sekarang tidak berhasil dibuat oleh manusia. Jadi, jelaslah bahwa kelebihan paling tinggi yang dimiliki manusia yaitu perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Oleh karena itu tujuan sebenarnya hidup manusia ialah agar terbuka jendela hatinya ke arah Allah Ta'ala.

Sarana-sarana Untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia

    Ya,  jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya? Maka hendaklah jelas bahwa sarana paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu adalah: mengenal Allah Ta'ala secara benar dan mengimani Tuhan  yang hakiki. Sebab jika langkah pertama saja sudah salah dan seseorang, misalnya menjadikan burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau manusia  sebagai tuhan maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya dia akan menempuh jalan yang lurus? Tuhan  yang hakiki memberikan pertolongan  kepada orang-orang yang mencari-Nya. Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan kepada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah Ta’ala  memberikan tamsil (perumpamaan) yang indah, yaitu:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

 Yakni, Dia-lah Tuhan Yang Hakiki yang pantas dimintai doa, yang berkuasa atas tiap sesuatu. Dan orang-orang yang berseru kepada wujud-wujud selain Dia sedikit pun tidak dapat menjawab mereka. Keadaan mereka seperi orang yang sambil membuka telapak tangannya ke air lalu berkata, "Hai air datanglah ke mulutku!" Apakah air itu akan datang ke mulutnya? Sekali-kali tidak! Jadi barangsiapa yang tidak mengenal Tuhan Yang Hakiki maka segala doa mereka menjadi sia-sia (Ar-Ra'd, 15).
     Sarana kedua ialah mendapatkan gambaran jelas tentang kejuitaan (حُسْنٌ) serta keindahan yang lengkap di dalam Wujud Allah Ta'ala. Sebab kejuitaan adalah sesuatu yang secara alami menawan hati dan dengan menyaksikannya akan timbul kecintaan secara alami. Ada pun kejuitaan Allah Ta'ala itu terletak pada ke-Esa-an-Nya, Kebesaran-Nya, Kemuliaan-Nya, dan Sifat-sifat-Nya. Sebagaimana  Quran Syarif berkata:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ()اللَّهُ الصَّمَدُ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ()وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Yakni, Tuhan dalah Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan kegagahan-Nya. Tak ada yang bersekutu dengan Dia. Segala sesuatu bergantung pada Dia.  Tiap dzarrah menerima anugerah hidup  dari Dia. Dia Sumber karunia bagi segala sesuatu dan Dia tidak menerima karunia dari sesuatu apa pun. Dia bukan anak seseorang dan bukan bapak seseorang. Bagaimana mungkin, sebab tidak ada sesuatu yang setara  dengan Dia (Al-Ikhlas, 2-5).
     Quran Syarif telah menarik perhatian orang-orang dengan berkali-kali mengemukakan kesempurnaan dan keagungan Tuhan, "Lihatlah, Tuhan seperti itu adalah Wujud yang menarik minat, dan bukan Wujud yang mati, lemah, memiliki sedikit kasih-sayang dan sedikit kekuasaan."
     Sarana ketiga untuk mencapai tujuan sebenarnya yang merupakan tangga kedua ialah mengenal ihsaan Tuhan (kebajikan Tuhan), karena pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari 2 hal, yaitu: kejuitaan (حُسْنٌ)  dan ihsaan (اِحْسَانٌ). Sedangkan ringkasan  sifat-sifat ihsaan Allah Ta'ala terdapat dalam surah Al-Fatihah, sebagaimana Dia berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Sebab, jelaslah bahwa ihsan yang sempurna terletak pada kenyataan bahwa Allah Ta'ala menciptakan hamba-hamba-Nya dari tiada, dan kemudian sifat Rabbubiyyat   senantiasa menaungi mereka, dan Dia sendiri merupakan Penunjang bagi segala sesuatu, serta segala macam rahmat-Nya diwujudkan bagi hamba-hamba-Nya, dan ihsan-Nya tak terbatas  sehingga tidak ada yang dapat menghitungnya.
    Jadi, Allah Ta'ala telah berulang kali menjelaskan tentang ihsan-ihsan-Nya yang demikian, sebagaimana pada tempat lain Dia berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Yakni, jika kamu ingin menghitung nikmat-nikmat Allah Ta'ala maka kamu sekali-kali tidak akan dapat menghitungnya (Ibrahim, 35).
    Sarana keempat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah doa, sebagaimana Dia berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Yakni, kamu berdoalah, Aku akan kabulkan (Al-Mukmin, 61). Dan berkali-kali Dia menarik minat untuk berdoa supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri meraih sesuatu melainkan dengan kekuatan Tuhan menemukan  Tuhan.
     Sarana  kelima yang telah ditetapkan Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya  ialah mujahadah. Yakni, carilah Dia  dengan cara membelanjakan harta di jalan-Nya, dengan cara menyalurkan kemampuan-kemampuan di jalan Allah Ta'ala, dengan cara mengorbankan jiwa pada jalan Allah Ta'ala, dan dengan cara mengerahkan akal pikiran di jalan Allah Ta'ala, sebagaimana Dia berfirman:
·       وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
·       وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
·       وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Yakni, belanjakanlah harta-benda kamu,  jiwa kamu, dan diri  kamu beserta segenap kemampuannya pada jalan Allah (At-Taubah, 41). Dan apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kamu – berupa akal, ilmu, pemahaman, keahlian dan sebagainaya --  kerahkanlah semuanya di jalan Allah Ta'ala (Al-Baqarah, 4). Orang-orang yang berusaha dengan segala cara pada jalan Kami, Kami selalu menunjukkan jalan Kami kepada mereka (Al-Ankabuut, 70).
     Sarana keenam untuk mencapai tujuan sebenarnya yang telah Dia jelaskan ialah istiqamah. Yakni di jalan ini tidak bosan, tidak putus-asa, tidak lelah, dan tidak gentar menghadapi cobaan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ()نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, orang-orang yang berkata, "Tuhan kami Allah dan kami telah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan palsu", kemudian mereka istiqamah – yakni tetap teguh dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah – maka malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil berkata, "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati,  dan bergembiralah serta bersukarialah, sebab kamu telah menjadi pewaris kebahagiaan  yang dijanjikan kepada kamu. Kami adalah sahabat kamu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat (Ha MimAs Sajdah, 31-32).  Ayat ini mengisyaratkan bahwa dengan istiqamah manusia memperoleh keridhaan Allah Ta'ala. Benarlah bahwa  istiqamah itu lebih unggul dari karamat.
     Istiqamah yang sempurna ialah: ketika segala musibah mengepung dari segala penjuru dan di jalan Allah Ta'ala nyawa, kehormatan, dan harga diri dihadapkan kepada bahaya, sementara tidak  terdapat sesuatu yang menghibur – sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji  menutup pintu kasyaf atau mimpi atau ilham yang membesarkan hati – lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan takut yang mengerikan, pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, dan mencemari ketulusan dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, rela terhadap maut (kematian), dan untuk mengokohkan langkah-langkah tidak menunggu-nunggu seorang kawan agar dia memberikan pertolongan, tidak menuntut turunnya kabar suka dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya dan lemah serta tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekali pun,  tetap saja berdiri tegak  dan merebahkan leher ke depan seraya mengatakan, "Apa yang akan terjadi biarlah terjadi”,  dan tidak mengecam keputusan takdir serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan  keluh-kesah sampai selesainya saat cobaan itu.
     Inilah yang yang menyebabkan sampai sekarang masih menimbulkan aroma wangi dari tanah (kubur) para rasul, para nabi, para shiddiq dan para syahid. Ke arah inilah Allah Ta'ala memberikan isyarat dalam doa berikut:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, wahai Allah Ta'ala kami, tunjukkanlah kami jalan istiqamah, yaitu jalan yang di atasnya diperoleh nikmat-nikmat dan kemuliaan dan Engkau meridhainya (Al-Fatihah, 6-7). Dan pada tempat lain Allah Ta'ala mengisyaratkan kepada hal itu juga:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
Wahai Tuhan, dalam menghadapi musibah turunkanlah kepada hati kami perasaan tentram yang karenanya timbul kesabaran, dan semoga kematian kami ada  dalam Islam (Al-Araaf, 127).
     Hendaklah diketahui bahwa pada waktu penderitaan  dan musibah datang, Allah Ta'ala menurunkan suatu nur (cahaya) atas hati hamba-hamba kesayangan-Nya sehingga mereka mendapat kekuatan lalu menghadapi musibah dengan  sangat tenang. Dan karena lezatnya iman mereka menciumi rantai yang membelenggu kaki-kaki mereka di jalan-Nya. Apabila bala-musibah turun kepada orang  yang ber-Tuhan dan tanda-tanda maut (kematian) sudah zahir maka  ia tidak akan mulai bertengkar dengan Tuhan-nya Yang Maha Mulia supaya ia diselamatkan dari bala-bencana tersebut. Sebab bersikeras mendesak minta keselamatan pada masa demikian berarti melawan Allah Ta'ala dan bertentangan dengan  penyerahan diri secara sempurna. Bahkan dengan turunnya bencana, seorang pencinta sejati melangkahkan kaki lebih maju ke depan. Dan pada saat demikian  dia menganggap jiwanya tidak berharga serta mengucapkan selamat tinggal kepada kecintaan terhadap jiwanya lalu ia sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan-nya dan menginginkan karidhaan-Nya. Mengenai hal itu Allah Ta’ala  berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Yakni,  hamba kesayangan Tuhan memberikan jiwanya di jalan Allah, dan sebagai imbalannya dia menerima keridhaan Allah Ta'ala.  Itulah orang-orang yang memperoleh rahmat istimewa dari Allah Ta'ala (Al-Baqarah, 208).
     Ringkasnya, yang telah diuraikan ini adalah ruh istiqamah yang karenanya dapat berjumpa dengan Tuhan. Barangsiapa yang mau memahami, pahamilah.
      Sarana ketujuh untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah bergaul dengan orang-orang benar dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka.  Jadi hendaknya diketahui bahwa salah satu  sebab perlunya  para nabi Allah  ialah manusia secara alami memerlukan  tauladan yang sempurna. Dan tauladan yang sempurna meningkatkan gairah serta membangkitkan semangat. Sedangkan   orang yang tidak mengikuti tauladan akan menjadi malas dan sesat. Ke arah inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan di dalam ayat berikut:
·       وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ     
·       صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, bergaulah kamu dengan orang-orang benar (At-Taubah, 119). Pelajarilah jalan orang-orang sebelum kamu yang telah mendapat karunia (Al-Fatihah, 7).
     Sarana kedelapan adalah kasyaf suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi suci dari Allah Ta'ala. Dikarenakan  menempuh jalan menuju kepada Allah Ta'ala merupakan suatu jalan yang sangat  pelik dan dipenuhi oleh bermacam-macam musibah serta penderitaan, dan mungkin saja mereka tersesat di jalan yang tidak nampak itu, atau dicekam rasa putus asa sehingga enggan meneruskan langkahnya ke depan, oleh karena itu rahmat Ilahi menghendaki  agar di dalam perjalanan tersebut Dia terus menerus menghiburnya dan membesarkan hatinya serta terus menerus mengukuhkan semangat dan meningkatkan gairahnya.
     Jadi, demikianlah sunnah Allah Ta'ala yang berlaku terhadap orang-orang yang menempuh jalan-Nya. Yaitu,  dari waktu ke waktu  Dia menghibur mereka dengan kalam dan ilham-Nya, dan Dia menzahirkan kepada mereka bahwa, "Aku ada bersama kamu." Barulah mereka memperoleh kekuatan, kemudian dengan sangat cepat menempuh jalan  tersebut. Berkenaan dengan itu Dia berfirman:
لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat (Yunus, 65).
      Demikian pula banyak lagi sarana lain yang telah diterangkan oleh  Quran Syarif, akan tetapi sayang sekali kami tidak dapat memaparkannya, karena khawatir terlalu panjang.

----------
Masalah Keempat

APA DAMPAK  PENGAMALAN  SYARIAT DI KEHIDUPAN INI DAN DI KEHIDUPAN AKAN DATANG?

J
awaban permasalahan ini adalah apa yang telah kami terangkan sebelumnya, yaitu peranan syariat yang benar dan sempurna dari Allah Ta'ala pada hati manusia di dalam kehidupan mereka di dunia ini ialah:  mengubahnya dari keadaan seperti binatang menjadi manusia, kemudian dari manusia menjadi manusia berakhlak, lalu dari manusia berakhlak menjadi manusia ber-Tuhan.
     Dan lagi, satu fungsi  pengamalan syariat   dalam kehidupan di dunia ini adalah, dengan mematuhi syariat yang benar pengaruh orang yang demikian terhadap umat manusia ialah:  ia mengenali hak-hak mereka tahap demi tahap, dan menggunakan kemampuan adil, ihsaan, dan solidaritas sesuai tempatnya masing-masing, apa pun yang telah diberikan Tuhan kepadanya berupa ilmu, makrifat, harta-benda  dan kemudahan-kemudahan, ia mengikut-sertakan semua  orang di dalam nikmat-nikmat tersebut sesuai martabat masing-masing.
     Ia memancarkan seluruh cahayanya kepada sekalian umat manusia bagaikan matahari, dan laksana bulan ia menerima nur (cahaya) dari Wujud   Yang Maha Agung lalu menyampaikannya kepada orang-orang lain. Laksana siang ia terang- benderang menunjukkan jalan-jalan kebaikan dan kebajikan kepada orang-orang.  Laksana malam ia menyelimuti setiap yang lemah dan memberikan ketentraman kepada orang-orang yang penat dan letih. Laksana langit ia memberikan tempat di bawah naungannya kepada setiap orang yang memerlukan  dan pada waktu-waktunya ia mencurahkan hujan  rahmatnya.  Laksana bumi dengan penuh kerendahan hati ia menjadi lantai pijakan bagi kebahagiaan-kebahagiaan setiap orang, dan ia menarik semua orang ke dalam curahan kedermawanannya serta menghidangkan  aneka buah-buahan rohani kepada mereka.
     Jadi, inilah dampak syariat yang sempurna. Yaitu mengantarkan orang yang mematuhi syariat yang sempurna tersebut sampai pada titik kesempurnaan hak Allah dan hak sesama manusia. Ia menjadi hilang-sirna dalam Allah dan menjadi pengkhidmat sejati bagi makhluk. Ini adalah dampak pengamalan syariat pada diri orang itu di dalam kehidupan ini.  Akan tetapi dampak yang timbul sesudah kehidupan ini adalah pada Hari itu perjumpaan rohani dengan Tuhan akan nampak olehnya secara nyata. Dan pengkhidmatan terhadap makhluk Allah yang telah ia lakukan atas dasar kecintaan kepada Tuhan --  yang didorong oleh kedambaan akan iman dan amal shalih --  akan nampak dalam bentuk pohon-pohon dan sungai-sungai surga. Firman Allah Ta'ala berkenaan dengan itu ialah:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا()وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا()وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا()وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا()وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا()وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا()وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا()فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا()قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا()وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا()كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا()إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا()فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا() فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا()وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا
Yakni, demi matahari dan cahayanya, dan demi bulan yang mengikuti matahari – yakni mendapat sinar dari matahari dan kemudian seperti matahari ia menyampaikan sinarnya kepada benda-benda lain; dan demi siang yang memperlihatkan kecemerlangan matahari  dan menunjukkan jalan. Dan demi malam yang menimbulkan gelap  serta menutupi segala sesuatu dengan tirai kegelapannya. Dan demi langit serta tujuan yang menyebabkannya ia diciptakan. Dan demi bumi serta tujuan yang menyebabkannya  telah dihamparkan seperti lantai semacam ini. Dan demi jiwa  dan kesempurnaannya yang telah membuatnya setara dengan segala benda tersebut – yakni kesempurnaan-kesempurnaan yang terdapat secara terpisah pada benda-benda itu --  jiwa manusia  sempurna (insan kamil)  menghimpun semua itu di dalam dirinya. Dan seperti halnya  seluruh benda itu secara masing-masing mengkhidmati umat manusia,  seorang manusia sempurna (insan kamil) melaksanakan semua tugas itu seorang diri, sebagaimana yang telah saya  tuliskan.
     Kemudian Dia berfirman: Barangsiapa telah mensucikan jiwanya seperti ini --  seperti halnya matahari, bulan, bumi, dan sebagainya, yakni ia telah sirna di dalam Allah dan menjadi pengkhidmat makhluk Allah --  berarti ia telah mendapat keselamatan dan terhindar dari maut (kematian).
    Hendaknya diingat, bahwa yang dimaksud dengan kehidupan adalah  kehidupan abadi yang akan diraih manusia sempurna (insan kamil) di kemudian hari.  Hal ini mengisyaratkan bahwa buah pengamalan syariat  di dalam kehidupan mendatang  adalah kehidupan abadi yang akan senantiasa kekal karena makanan berupa curahan  pandangan Tuhan.
     Kemudian Dia telah berfirman: Binasalah dan putus-asalah ia dari kehidupan, yakni orang yang telah mencermari jiwanya dan tidak berhasil meraih kesempurnaan-kesempurnaan  -- padahal ia telah dianugerahi kemampuan-kemampuan untuk itu – dan pulang setelah menjalani kehidupan yang kotor.
     Dan kemudian sebagai contoh  Dia berfirman:  bahwa kisah Tsamud menyerupai kisah orang yang malang itu.   Mereka telah melukai unta betina yang dijuluki unta betina Tuhan, dan mereka telah menghalanginya minum air dari sumber mata air mereka. Jadi, pada hakikatnya orang itu telah  melukai unta betina Tuhan dan telah membuatnya luput dari mata air tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa jiwa manusia pun merupakan unta betina Tuhan yang manusia tunggangi.  Yakni kalbu manusia merupakan tempat penampakkan-penampakkan Ilahiyah, sedangkan air bagi unta betina itu  adalah kecintaan dan makrifat Tuhan yang darinya ia hidup.
     Kemudian difirmankan bahwa ketika kaum Tsamud telah melukai unta betina itu dan menghalangi dari air minumnya maka azab pun turun atas mereka, dan Allah Ta'ala sedikit pun tidak mempedulikan bahwa setelah kematian mereka bagaimana nasib  anak-anak serta janda-janda mereka (Asy-Syams,  2-16).
     Jadi, seperti itu pulalah orang-orang yang melukai unta betina – yakni jiwa tersebut --  dan tidak berkeinginan untuk mengantarkannya sampai  pada kesempurnaan serta menghalanginya minum air maka ia pun akan binasa.

Hikmah Sumpah Allah Ta'ala Dengan Berbagai Benda

    Di sini pun hendaknya diingat,  bahwa sumpah Tuhan dengan matahari,  bulan dan lain-lain mengandung rahasia yang dalam sekali, sehingga kebanyakan para penentang kami – disebabkan ketidak-tahuan mereka – mengecam: apa perlunya Tuhan bersumpah dan mengapa Dia bersumpah dengan makhluk? Akan tetapi karena pemahaman mereka bersifat ardhi (bumi) dan bukan bersifat samawi (langit)  maka mereka tidak dapat memahami hikmah yang bertalian dengan rahasia-rahasia kebenaran.
     Jadi, hendaknya jelas bahwa tujuan sebenarnya dari persumpahan itu ialah orang yang bersumpah biasanya ingin mengemukakan kesaksian bagi pernyataannya. Sebab andaikata bagi suatu pernyataan tidak terdapat kesaksian lain maka sebagai gantinya manusia akan bersumpah atas nama Allah Ta'ala. Sebab Allah adalah 'aalimul-gaib (mengetahui hal-hal yang gaib) dan merupakan saksi pertama dalam setiap perkara. Seakan-akan orang itu mengemukakan kesaksian Tuhan sedemikian rupa sehingga Allah Ta'ala tetap saja diam sesudah sumpah itu dan tidak menurunkan azab  atas dirinya maka berarti Allah telah memberi cap restu terhadap keterangan orang tersebut, seperti halnya para saksi.
     Oleh karena itu makhluk hendaknya jangan bersumpah dengan makhluk lain, sebab makhluk bukanlah 'aalimul-gaib dan tidak pula ia berkuasa untuk memberikan hukuman atas sumpah palsu. Akan tetapi  sumpah Allah di dalam ayat ini tidak dapat diartikan sama dengan  bersumpahnya makhluk, melainkan ini merupakan sunnatullah (kebiasaan Allah). Yakni ada 2 macam pekerjaan Allah, pertama pekerjaan yang nyata,  yang dapat dipahami oleh semua orang dan tidak ada seorang pun yang berselisih pendapat mengenainya. Sedangkan yang kedua      adalah pekerjaan tidak nyata, yang dunia sering salah paham serta berselisih pendapat mengenainya.  Jadi, Allah Ta'ala ingin membuktikan pekerjaan-pekerjaan tidak nyata itu di hadapan orang-orang melalui kesaksian dari pekerjaan-pekerjaan nyata.
     Jadi, sudah jelas bahwa di dalam matahari, bulan, siang-malam, langit dan bumi terdapat khasiat-khasiat seperti telah kami uraian. Akan tetapi khasiat-khasiat semacam itu yang terdapat di dalam jiwa manusia -- yang memiliki kekuatan berbicara -- tidak setiap orang mengenalinya, maka Allah telah mengemukakan pekerjaan-pekerjaan nyata-Nya sebagai saksi untuk menjelaskan pekerjaan-pekerjaan tidak nyata. Seakan-akan Dia berfirman bahwa jika kamu ragu terhadap khasiat-khasiat yang terdapat di dalam jiwa manusia  yang memiliki kekuatan berbicara itu maka kajilah oleh kamu matahari,  bulan dan sebagainya, karena khasiat-khasiat tersebut secara nyata terdapat di dalam benda-benda itu. Dan kamu mengetahui bahwa manusia merupakan  satu alam kecil (mikro kosmos), yang di dalam jiwanya tertera gambaran seluruh alam secara ringkas.  Lalu apabila sudah terbukti bahwa benda-benda  besar alam-raya (makro kosmos) mengandung khasiat-khasiat tersebut  -- dan dengan demikian benda-benda itu mengandung faedah kepada makhluk-makhluk – maka manusia yang disebut paling besar dari semua itu dan yang telah diciptakan dengan derajat tinggi, bagaimana mungkin manusia hampa dan luput dari khasiat-khasiat itu?
    Tidak! Bahkan di dalam manusia pun -- seperti halnya matahari -- terdapat suatu cahaya ilmu dan akal yang dengan perantaraan itu dia dapat menyinari seluruh dunia. Dan bagaikan bulan  ia menerima cahaya kasyaf, ilham dan wahyu dari Wujud Yang Maha Agung, lalu ia memantulkan cahaya tersebut kepada orang-orang lain yang belum mencapai kesempurnaan manusiawi. Oleh karena itu bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa kenabian  adalah suatu kebatilan (kepalsuan) dan seluruh kerasulan, syariat dan Kitab-kitab merupakan tipu-daya serta egoisme manusia?
     Kamu juga menyaksikan bahwa dengan terangnya siang seluruh jalan menjadi nampak  dan segala lembah serta tebing menjadi kelihatan. Jadi,   insan kamil (manusia sempurna) merupakan siang yang memancarkan cahaya ruhani, dengan semakin siang maka setiap jalan menjadi jelas.   Ia menunjukkan di mana dan ke mana arah yang benar,  sebab dialah cahaya siang bagi hak (kebenaran).
     Demikian pula kita menyaksikan bagaimana malam   memberi tempat bagi    orang-orang letih dan penat.   Semua buruh yang sepanjang hari tenaga mereka dikuras habis dapat tidur dengan lelap di dalam kemurahan hati sang  malam dan memperoleh ketenangan setelah bekerja. Dan malam pun merupakan tabir penyelubung bagi setiap orang
     Demikian pula hamba-hamba kamil (sempurna) Tuhan datang ke dunia untuk memberikan ketentraman. Orang-orang yang menerima wahyu dan ilham dari Tuhan dengan kerja keras memberikan ketentraman kepada segenap orang bijak. Berkat mereka rahasia-rahasia besar  menjadi terpecahkan dengan mudah.  
     Demikian pula wahyu Ilahi menyelubungi akal manusia sebagaimana malam menyelubungi.   Kekhilafan-kekhilafan kotor manusia tidak akan dibiarkannya zahir kepada dunia. Sebab orang-orang bijak melakukan perbaikan dari dalam terhadap kekhilafan-kekhilafan mereka setelah memperoleh cahaya wahyu. Dan berkat ilham suci Allah mereka berhasil menyelamatkan diri mereka dari terbukanya aib.    
      Inilah sebabnya --  berbeda dengan Plato -- tidak ada seorang pun filsuf Islam   yang mempersembahkan ayam sebagai tumbal bagi berhala. Dikarenakan Plato tidak memperoleh cahaya ilham maka ia telah berbuat kekeliruan dan telah melakukan suatu sikap yang tercela dan bodoh padahal ia dinamakan filsuf. Akan tetapi berkat mengikuti junjungan kita Rasulullah saw.  para cendekiawan Islam telah terpelihara dari perbuatan-perbuatan tercela dan bodoh seperti itu. Kini lihatlah bagaimana telah terbukti bahwa ilham seperti malam menyelubungi orang-orang bijak.  
     Ini pun Anda sekalian ketahui bahwa hamba-hamba  kamil (sempurna) Allah – seperti langit --  menarik setiap orang yang menderita ke dalam naungan mereka   Lebih istimewa lagi para nabi dari Dzat Yang Maha Suci  itu serta para penerima ilham, pada umumnya seperti halnya langit mereka mencurahkan air hujan berkat. Demikian pula mereka  juga memiliki khasiat-khasiat bumi, dari jiwa mereka yang suci tumbuh berbagai pohon-pohon ilmu yang tinggi, yang dari naungan dan buah serta bunganya orang-orang memperoleh manfaat.  
     Jadi, hukum kudrat yang terbuka nyata ini yang ada di hadapan mata kita merupakan saksi bagi hukum yang terselubung itu. Kesaksiannya telah dipaparkan oleh Allah Ta'ala di dalam ayat-ayat tersebut dalam dua bentuk persumpahan. Jadi, lihatlah betapa kalam yang terkandung dalam  Quran Syarif   ini penuh dengan hikmah. Kalam itu keluar dari mulut seorang ummi (yang butahuruf) penghuni padang pasir. Seandainya ini bukan Kalam Ilahi maka orang-orang awam maupun mereka yang disebut terpelajar – sesudah gagal mendalami rahasia makrifatnya --  pasti tidak akan mencelanya.
    Sudah merupakan ketentuan bahwa jika seseorang dengan pemikirannya yang ringan   tidak dapat memahami sesuatu hal dari segi apa pun maka barulah ia menjadikan suatu perkara hikmah  sebagai bahan celaan.   Dan celaaannya itu merupakan saksi bahwa rahasia hikmah tersebut  jauh lebih baik dan lebih tinggi dari pemikiran-pemikiran awam.   Itulah sebabnya orang-orang yang bijak  walaupun dijuluki sebagai orang bijak tetap saja mencela hal itu.  Namun sekali rahasia ini terbuka maka setelah itu tidak ada seorang bijak pun yang akan mencelanya, bahkan ia akan mengambil kelezatan dari itu.
      Hendaklah diingat bahwa untuk memaparkan kesaksian dari hukum kudrat tentang tradisi wahyu dan ilham yang sudah berlaku semenjak awal, Quran Syarif  pada tempat lain pun telah mengambil sumpah semacam itu,  yakni:
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ()وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ() إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ()وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
Yakni, demi langit yang darinya turun hujan,. dan demi bumi yang menumbuhkan bermacam-macam tubuhan dari hujan itu. Quran Syarif  ini adalah Kalam Ilahi dan wahyu-Nya, yang memutuskan perkara antara haq (kebenaran) dan batil (kepalsuan), dan bukan merupakan hal yang sia-sia dan percuma. Yakni datang tepat pada waktunya, datang seperti hujan yang turun pada musimnya (Ath-Thaariq,  12-15).
    Kini Allah Ta'ala telah memaparkan suatu kudrat nyata dalam bentuk sumpah sebagai bukti bagi  Quran Syarif yang merupakan wahyu-Nya. Yakni di dalam hukum kudrat selalu kita lihat dan saksikan bahwa hujan turun dari langit pada waktu sangat diperlukan. Kehijauan bumi bergantung sepenuhnya pada hujan dari langit. Sekiranya hujan tidak turun dari langit  maka lambat-laun sumur-sumur pun menjadi kering. jadi, pada hakikatnya air di bumi pun bergantung pada hujan dari langit. Itulah sebabnya kapan saja air mengucur  dari langit maka air-air sumur di bumi pun jadi naik.
     Mengapa jadi naik? Sebabnya adalah air langit menarik air bumi naik ke atas. Hubungan ini jugalah yang terdapat antara wahyu Ilahi dan akal. Wahyu Ilahi – yakni ilham Ilahi --  merupakan air samawi, sedangkan akal merupakan air bumi. Dan  air [bumi] ini senantiasa memperoleh tarbiyat (tuntunan dan bimbingan tahap demi tahap) dari air samawi, yaitu ilham. Dan seandainya air samawi  -- yakni wahyu – berhenti turun maka air bumi pun lambat laun menjadi kering.
      Tidakkah untuk itu dalil ini sudah mencukupi bahwa apabila suatu kurun masa yang panjang telah berlalu dan di bumi tidak lahir seorang penerima ilham maka akal pikiran orang-orang  bijak menjadi kotor dan rusak, seperti halnya air bumi yang kering dan busuk? Untuk memahami hal itu  cukup dengan menelaah zaman sebelum kedatangan Nabi kita saw. yang menampakkan warnanya ke seluruh dunia. Dikarenakan pada waktu itu zaman Nabi Isa a.s. telah berlalu 600 tahun dan selama jangka waktu itu tidak ada seorang penerima ilham pun yang lahir maka seluruh dunia telah merusak kondisinya sendiri. Sejarah tiap-tiap negeri memberi kesaksian bahwa pada zaman Rasulullah saw.  – yakni sebelum pendakwaan beliau saw. --  pikiran- pikiran buruk telah tersebar di seluruh dunia.
    Kenapa terjadi demikian dan apa sebabnya? Sebabnya adalah rangkaian ilham telah lama terputus. Kerajaan langit pada waktu itu dikuasai hanya oleh akal. Jadi, betapa akal yang tidak sempurna itu telah menjerumuskan orang-orang ke dalam berbagai  kerusakan.  Apakah ada juga yang tidak mengetahui hal itu? Lihatlah, apabila air ilham telah lama tidak mengucur maka air seluruh akal menjadi kering.
     Jadi. di dalam sumpah-sumpah itu Allah Ta'ala mengemukakan hukum alam yang demikian, dan Dia berfirman: "Perhatikanlah oleh kamu, bukankah ini merupakan hukum kudrat Ilahi yang kokoh dan abadi bahwa kehijauan bumi seluruhnya  bergantung pada air langit." Jadi, hukum kudrat yang nyata ini merupakan saksi bagi hukum kudrat yang terselubung, yakni rangkaian ilham Ilahi. Maka ambilah  faedah dari saksi  tersebut, dan janganlah jadikan akal itu semata sebagai penunjuk jalan, sebab akal bukan suatu air yang dapat bertahan tanpa air samawi.
     Sebagaimana keistimewaan air  langit dengan khasiat alaminya ia meninggikan  air semua sumur – tidak peduli apakah airnya jatuh masuk ke dalam suatu sumur atau tidak – demikian pulalah ketika seorang penerima ilham Ilahi tampil ke dunia --  tidak peduli apakah ada orang bijak yang menerimanya atau tidak --  maka pada zaman penerima ilham tersebut akal-akal manusia sendiri menjadi sedemikian rupa bercahaya dan bersihnya sehingga belum pernah tampil demikian sebelum itu. Orang-orang dengan sendirinya mulai mencari kebenaran, dan di dalam daya pikir mereka timbul suatu gerakan secara gaib. Jadi, segenap  kemajuan akal dan gejolak hati ini timbul akibat langkah beberkat si  penerima ilham tersebut serta dengan khasiatnya ia mengangkat  air-air bumi.
    Apabila  kalian menyaksikan bahwa setiap orang bangkit mencari agama-agama dan air bumi pun  mulai bergejolak naik maka bangunlah, waspadalah dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa dari langit hujan deras telah turun dan telah terjadi hujan ilham atas kalbu seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEWARIS NABI, PEWARIS RUHANI dan JEMAAT ILAHI

(Sepenggal Doa Hazrat Masih Mau’ud as dalam Buku Tuhfatun Nadwah) Surat Al-Anbiya Ayat 89 وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَ...