Masalah Ketiga
APA
TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA
DAN BAGAIMANA
DAPAT MENCAPAINYA?
J
|
awaban terhadap masalah ini
adalah, manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya – karena
pengetahuan yang dangkal serta kemampuan yang terbatas -- menetapkan berbagai tujuan bagi
hidupnya, dan mereka berjalan hanya sampai pada tujuan-tujuan dan cita-cita duniawi belaka lalu
berhenti. Akan tetapi tujuan yang ditetapkan Allah Ta'ala di
dalam Kalam Suci-Nya adalah sebagai berikut:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Yakni, Aku telah menciptakan jin
dan manusia agar mereka mengenal-Ku dan menyembah-Ku (Adz-Dzaariyaat,
57). Jadi, menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk
menyembah Allah Ta'ala dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta
menjadi milik Allah Ta'ala. Jelas bahwa manusia tidak memperoleh
kedudukan untuk – dengan ikhtiarnya – menetapkan sendiri tujuan hidupnya.
Sebab manusia bukan atas kemauannya sendiri datang dan pula bukan atas kemauannya
sendiri akan kembali, melainkan dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan),
sedangkan Wujud yang menciptakan serta
menganugerahkan kemampuan yang
cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh
hewan, Dia jugalah yang telah
menetapkan suatu tujuan hidup
baginya.
Tidak peduli apakah manusia mengerti atau
tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak
diragukan lagi yaitu untuk menyembah Tuhan dan meraih makrifat Allah
Ta'ala serta menjadi fana (larut) di dalam Allah Ta'ala, sebagaimana
Allah Ta'ala berfirman di satu tempat lain dalam Al-Quran:
·
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ
اللَّهِ الْإِسْلَامُ
·
فِطْرَةَ اللَّهِ
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا .........ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
Yakni, agama yang di dalamnya
terdapat makrifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam
bentuk terbaik adalah Islam (Aali 'Imran, 20). Dan Islam
telah ditanamkan dalam fitrat manusia, dan Allah Ta'ala telah
menciptakan manusia dalam keadaan Islam
serta telah menciptakannya untuk Islam (Ar-Ruum,
31). Yakni, Dia telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya
terus-menerus menyembah, menaati, dan
mencintai Tuhan. Itulah sebabnya Sang Mahakuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan
kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan Islam.
Rincian ayat-ayat ini sangat luas, dan kami
dalam kadar tertentu telah juga menuliskannya pada
bagian ketiga Masalah Pertama. Akan tetapi pada saat ini kami hanya ingin
menzahirkan (mengemukakan) secara
ringkas, bahwa segala organ bagian dalam dan luar yang telah
dianugerahkan kepada manusia, atau segala kemampuan yang telah
diberikan, tujuan sebenarnya dari
semua itu ialah untuk mendapatkan makrifat Ilahi dan menyembah
Allah Ta'ala serta mencintai Allah Ta'ala. Itulah sebabnya manusia di dunia setelah
tenggelam dalam ribuan kesibukan mereka tetap saja tidak menemukan kebahagiaan sejati dalam suatu apa pun, kecuali pada
Allah Ta'ala.
Setelah menjadi hartawan, setelah
memperoleh kedudukan tinggi, setelah menjadi saudagar besar, setelah mencapai
tahta kerajaan besar, setelah dijuluki filsuf besar, akhirnya ia pergi dengan
hasrat-hasrat besar karena belenggu-belenggu duniawi itu, dan kalbunya
senantiasa mengecamnya karena tenggelam dalam dunia. Hati-nuraninya tidak
pernah menyetujuinya tindakan-tindakannya yang licik, penuh
tipu-muslihat, dan curang.
Seorang manusia bijak dapat juga memahami
masalah ini dengan cara demikian:
tugas-tugas paling tinggi yang dapat dilakukan oleh kemampuan-kemampuan suatu
benda lalu lebih dari itu kemampuan-kemampuan tersebut terhenti maka tugas
paling tinggi itu dianggap sebagai tujuan penciptaan benda tersebut. Misalnya, tugas paling tinggi seekor lembu jantan ialah
membajak tanah atau menimba air sumur untuk pengairan atau untuk menarik
pedati. Lebih dari itu ia tidak mempunyai kemampuan lain.
Akan tetapi apabila kita mengukur
kemampuan-kemampuan manusia – yaitu kemampuan paling tinggi yang terdapat dalam
dirinya --- maka yang terbukti adalah padanya terdapat pencarian
terhadap Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar.
Sampai-sampai manusia berkeinginan untuk melebur dan tenggelam di
dalam kecintaan Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang
tersisa miliknya, semua telah menjadi milik Tuhan.
Dalam hal makan dan tidur serta hal-hal
alami lainnya manusia menyerupai hewan-hewan lain. dalam bidang keterampilan,
sebagian hewan sangat jauh melebihi manusia. Bahkan lebah-lebah madu mengambil
sari dari setiap bunga lalu menghasilkan madu murni yang sampai sekarang tidak
berhasil dibuat oleh manusia. Jadi, jelaslah bahwa kelebihan paling tinggi yang
dimiliki manusia yaitu perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Oleh karena itu tujuan
sebenarnya hidup manusia ialah agar terbuka jendela hatinya ke arah
Allah Ta'ala.
Sarana-sarana Untuk Mencapai
Tujuan Hidup
Manusia
Ya,
jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan
itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya? Maka
hendaklah jelas bahwa sarana paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai
tujuan itu adalah: mengenal Allah Ta'ala secara benar dan mengimani
Tuhan yang hakiki. Sebab
jika langkah pertama saja sudah salah dan seseorang, misalnya menjadikan
burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau manusia sebagai tuhan maka bagaimana mungkin
dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya dia akan menempuh
jalan yang lurus? Tuhan
yang hakiki memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mencari-Nya.
Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan
kepada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah Ta’ala memberikan tamsil (perumpamaan) yang indah,
yaitu:
لَهُ
دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ
بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ
بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ
Yakni, Dia-lah Tuhan
Yang Hakiki yang pantas dimintai doa, yang berkuasa
atas tiap sesuatu. Dan orang-orang
yang berseru kepada wujud-wujud selain Dia sedikit pun tidak dapat menjawab
mereka. Keadaan mereka seperi orang yang sambil membuka telapak tangannya ke
air lalu berkata, "Hai air datanglah ke mulutku!" Apakah air itu akan
datang ke mulutnya? Sekali-kali tidak! Jadi barangsiapa yang tidak mengenal
Tuhan Yang Hakiki maka segala doa mereka menjadi sia-sia (Ar-Ra'd,
15).
Sarana kedua ialah mendapatkan
gambaran jelas tentang kejuitaan (حُسْنٌ) serta keindahan yang
lengkap di dalam Wujud Allah Ta'ala. Sebab kejuitaan adalah sesuatu yang
secara alami menawan hati dan dengan menyaksikannya akan timbul kecintaan
secara alami. Ada
pun kejuitaan Allah Ta'ala itu terletak pada ke-Esa-an-Nya,
Kebesaran-Nya, Kemuliaan-Nya, dan Sifat-sifat-Nya. Sebagaimana Quran Syarif berkata:
قُلْ هُوَ
اللَّهُ أَحَدٌ()اللَّهُ الصَّمَدُ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ()وَلَمْ يَكُنْ
لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Yakni, Tuhan dalah Esa dalam
Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan kegagahan-Nya. Tak ada yang bersekutu dengan Dia.
Segala sesuatu bergantung pada Dia. Tiap
dzarrah menerima anugerah hidup dari Dia. Dia Sumber karunia bagi segala sesuatu dan Dia
tidak menerima karunia dari sesuatu apa pun. Dia bukan anak seseorang dan bukan
bapak seseorang. Bagaimana mungkin, sebab tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia (Al-Ikhlas, 2-5).
Quran Syarif telah menarik perhatian
orang-orang dengan berkali-kali mengemukakan kesempurnaan dan keagungan
Tuhan, "Lihatlah, Tuhan seperti itu adalah Wujud yang menarik minat, dan
bukan Wujud yang mati, lemah, memiliki sedikit kasih-sayang dan sedikit
kekuasaan."
Sarana ketiga untuk mencapai tujuan
sebenarnya yang merupakan tangga kedua ialah mengenal ihsaan Tuhan (kebajikan
Tuhan), karena pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari 2 hal, yaitu:
kejuitaan (حُسْنٌ)
dan ihsaan (اِحْسَانٌ). Sedangkan ringkasan
sifat-sifat ihsaan Allah Ta'ala terdapat dalam surah Al-Fatihah,
sebagaimana Dia berfirman:
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Sebab, jelaslah bahwa ihsan
yang sempurna terletak pada kenyataan bahwa Allah Ta'ala menciptakan
hamba-hamba-Nya dari tiada, dan kemudian sifat Rabbubiyyat senantiasa menaungi mereka, dan Dia sendiri
merupakan Penunjang bagi segala sesuatu, serta segala macam rahmat-Nya diwujudkan
bagi hamba-hamba-Nya, dan ihsan-Nya tak terbatas sehingga tidak ada yang dapat menghitungnya.
Jadi, Allah Ta'ala telah berulang kali
menjelaskan tentang ihsan-ihsan-Nya yang demikian, sebagaimana pada
tempat lain Dia berfirman:
وَإِنْ
تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Yakni, jika kamu ingin
menghitung nikmat-nikmat Allah Ta'ala maka kamu sekali-kali tidak akan dapat
menghitungnya (Ibrahim, 35).
Sarana keempat yang telah ditetapkan
oleh Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah doa, sebagaimana Dia
berfirman:
ادْعُونِي
أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Yakni, kamu berdoalah, Aku
akan kabulkan (Al-Mukmin, 61). Dan
berkali-kali Dia menarik minat untuk berdoa supaya manusia bukan karena kekuatannya
sendiri meraih sesuatu melainkan dengan kekuatan Tuhan menemukan Tuhan.
Sarana
kelima yang telah ditetapkan Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan
sebenarnya ialah mujahadah.
Yakni, carilah Dia dengan cara membelanjakan harta di jalan-Nya, dengan cara menyalurkan kemampuan-kemampuan di jalan
Allah Ta'ala, dengan cara mengorbankan
jiwa pada jalan Allah Ta'ala, dan dengan cara
mengerahkan akal pikiran di jalan Allah Ta'ala, sebagaimana Dia
berfirman:
·
وَجَاهِدُوا
بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
·
وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
· وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ
الْمُحْسِنِينَ
Yakni, belanjakanlah
harta-benda kamu, jiwa kamu, dan diri kamu beserta segenap kemampuannya pada jalan
Allah (At-Taubah, 41). Dan
apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kamu – berupa akal, ilmu, pemahaman,
keahlian dan sebagainaya -- kerahkanlah
semuanya di jalan Allah Ta'ala (Al-Baqarah, 4). Orang-orang yang berusaha
dengan segala cara pada jalan Kami,
Kami selalu menunjukkan jalan Kami kepada mereka (Al-Ankabuut,
70).
Sarana keenam
untuk mencapai tujuan sebenarnya yang telah Dia jelaskan ialah istiqamah.
Yakni di jalan ini tidak bosan, tidak putus-asa, tidak lelah, dan tidak gentar
menghadapi cobaan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ()نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, orang-orang yang
berkata, "Tuhan kami Allah dan kami telah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan
palsu", kemudian mereka istiqamah – yakni tetap teguh dalam
menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah – maka malaikat-malaikat turun
kepada mereka sambil berkata, "Janganlah kamu takut dan jangan pula
bersedih hati, dan bergembiralah serta
bersukarialah, sebab kamu telah menjadi pewaris kebahagiaan yang dijanjikan kepada kamu. Kami adalah
sahabat kamu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat (Ha Mim
– As Sajdah, 31-32). Ayat ini
mengisyaratkan bahwa dengan istiqamah manusia memperoleh keridhaan
Allah Ta'ala. Benarlah bahwa istiqamah itu lebih unggul dari karamat.
Istiqamah yang sempurna ialah:
ketika segala musibah mengepung dari segala penjuru dan di jalan Allah Ta'ala
nyawa, kehormatan, dan harga diri dihadapkan kepada bahaya, sementara
tidak terdapat sesuatu yang menghibur –
sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji menutup pintu kasyaf atau mimpi
atau ilham yang membesarkan hati – lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan
takut yang mengerikan, pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut
dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan
perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, dan mencemari ketulusan
dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, rela terhadap maut
(kematian), dan untuk mengokohkan langkah-langkah tidak menunggu-nunggu seorang
kawan agar dia memberikan pertolongan, tidak menuntut turunnya kabar suka
dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya dan lemah serta
tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekali pun, tetap saja berdiri tegak dan merebahkan leher ke depan seraya
mengatakan, "Apa yang akan terjadi biarlah terjadi”, dan tidak mengecam keputusan takdir
serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh-kesah sampai selesainya saat cobaan
itu.
Inilah yang yang menyebabkan sampai
sekarang masih menimbulkan aroma wangi dari tanah (kubur) para rasul,
para nabi, para shiddiq dan para syahid. Ke arah inilah
Allah Ta'ala memberikan isyarat dalam doa berikut:
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, wahai Allah Ta'ala
kami, tunjukkanlah kami jalan istiqamah, yaitu jalan yang di atasnya diperoleh
nikmat-nikmat dan kemuliaan dan Engkau meridhainya (Al-Fatihah,
6-7). Dan pada tempat lain Allah
Ta'ala mengisyaratkan kepada hal itu juga:
رَبَّنَا
أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
Wahai Tuhan,
dalam menghadapi musibah turunkanlah kepada hati kami perasaan tentram yang
karenanya timbul kesabaran, dan semoga kematian kami ada dalam Islam (Al-Araaf, 127).
Hendaklah diketahui bahwa pada waktu
penderitaan dan musibah datang, Allah
Ta'ala menurunkan suatu nur (cahaya) atas hati hamba-hamba
kesayangan-Nya sehingga mereka mendapat kekuatan lalu menghadapi
musibah dengan sangat tenang. Dan karena lezatnya iman mereka menciumi rantai
yang membelenggu kaki-kaki mereka di jalan-Nya. Apabila bala-musibah
turun kepada orang yang ber-Tuhan dan
tanda-tanda maut (kematian) sudah zahir maka ia tidak akan mulai bertengkar dengan
Tuhan-nya Yang Maha Mulia supaya ia diselamatkan dari bala-bencana
tersebut. Sebab bersikeras mendesak minta keselamatan pada masa demikian
berarti melawan Allah Ta'ala dan bertentangan dengan penyerahan diri secara sempurna. Bahkan
dengan turunnya bencana, seorang pencinta sejati melangkahkan kaki lebih
maju ke depan. Dan pada saat demikian dia menganggap jiwanya tidak berharga
serta mengucapkan selamat tinggal kepada kecintaan terhadap jiwanya lalu
ia sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan-nya dan menginginkan karidhaan-Nya.
Mengenai hal itu Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ
بِالْعِبَادِ
Yakni, hamba kesayangan Tuhan memberikan jiwanya di
jalan Allah, dan sebagai imbalannya dia menerima keridhaan Allah Ta'ala. Itulah orang-orang yang memperoleh rahmat
istimewa dari Allah Ta'ala (Al-Baqarah, 208).
Ringkasnya, yang telah diuraikan ini
adalah ruh istiqamah yang karenanya dapat berjumpa dengan
Tuhan. Barangsiapa yang mau memahami, pahamilah.
Sarana ketujuh
untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah bergaul dengan orang-orang benar
dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka. Jadi hendaknya diketahui bahwa salah
satu sebab perlunya para nabi Allah ialah manusia secara alami
memerlukan tauladan yang
sempurna. Dan tauladan yang
sempurna meningkatkan gairah serta membangkitkan semangat. Sedangkan orang yang tidak mengikuti tauladan
akan menjadi malas dan sesat. Ke arah inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan di dalam
ayat berikut:
·
وَكُونُوا مَعَ
الصَّادِقِينَ
·
صِرَاطَ الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, bergaulah kamu dengan
orang-orang benar (At-Taubah, 119). Pelajarilah jalan orang-orang
sebelum kamu yang telah mendapat karunia (Al-Fatihah, 7).
Sarana kedelapan adalah kasyaf
suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi suci dari Allah Ta'ala.
Dikarenakan menempuh jalan menuju
kepada Allah Ta'ala merupakan suatu jalan yang sangat pelik dan dipenuhi oleh bermacam-macam musibah
serta penderitaan, dan mungkin saja mereka tersesat di jalan yang
tidak nampak itu, atau dicekam rasa putus asa sehingga enggan meneruskan
langkahnya ke depan, oleh karena itu rahmat Ilahi menghendaki agar di dalam perjalanan tersebut Dia
terus menerus menghiburnya dan membesarkan hatinya serta terus
menerus mengukuhkan semangat dan meningkatkan gairahnya.
Jadi, demikianlah sunnah Allah
Ta'ala yang berlaku terhadap orang-orang yang menempuh jalan-Nya.
Yaitu, dari waktu ke waktu Dia menghibur mereka dengan kalam
dan ilham-Nya, dan Dia menzahirkan kepada mereka bahwa, "Aku ada
bersama kamu." Barulah mereka memperoleh kekuatan, kemudian dengan
sangat cepat menempuh jalan
tersebut. Berkenaan dengan itu Dia berfirman:
لَهُمُ
الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, bagi mereka berita
gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat (Yunus, 65).
Demikian pula banyak lagi sarana lain
yang telah diterangkan oleh Quran Syarif,
akan tetapi sayang sekali kami tidak dapat memaparkannya, karena khawatir
terlalu panjang.
----------
Masalah Keempat
Masalah Keempat
APA
DAMPAK PENGAMALAN SYARIAT DI KEHIDUPAN INI DAN DI KEHIDUPAN AKAN
DATANG?
J
|
awaban permasalahan ini
adalah apa yang telah kami terangkan sebelumnya, yaitu peranan syariat yang
benar dan sempurna dari Allah Ta'ala pada hati manusia di dalam
kehidupan mereka di dunia ini ialah:
mengubahnya dari keadaan seperti binatang menjadi manusia,
kemudian dari manusia menjadi manusia berakhlak, lalu dari manusia
berakhlak menjadi manusia ber-Tuhan.
Dan lagi, satu fungsi pengamalan syariat dalam kehidupan di dunia ini adalah,
dengan mematuhi syariat yang benar pengaruh orang yang demikian terhadap
umat manusia ialah: ia mengenali hak-hak
mereka tahap demi tahap, dan menggunakan kemampuan adil, ihsaan,
dan solidaritas sesuai tempatnya masing-masing, apa pun yang telah
diberikan Tuhan kepadanya berupa ilmu, makrifat, harta-benda dan kemudahan-kemudahan, ia mengikut-sertakan
semua orang di dalam nikmat-nikmat
tersebut sesuai martabat masing-masing.
Ia memancarkan seluruh cahayanya
kepada sekalian umat manusia bagaikan matahari, dan laksana bulan
ia menerima nur (cahaya) dari Wujud
Yang Maha Agung lalu menyampaikannya kepada orang-orang lain. Laksana siang
ia terang- benderang menunjukkan jalan-jalan kebaikan dan kebajikan kepada
orang-orang. Laksana malam ia
menyelimuti setiap yang lemah dan memberikan ketentraman kepada orang-orang yang
penat dan letih. Laksana langit ia memberikan tempat di bawah naungannya
kepada setiap orang yang memerlukan dan
pada waktu-waktunya ia mencurahkan hujan
rahmatnya. Laksana bumi
dengan penuh kerendahan hati ia menjadi lantai pijakan bagi
kebahagiaan-kebahagiaan setiap orang, dan ia menarik semua orang ke dalam
curahan kedermawanannya serta menghidangkan aneka buah-buahan rohani kepada mereka.
Jadi, inilah dampak syariat
yang sempurna. Yaitu mengantarkan orang yang mematuhi syariat
yang sempurna tersebut sampai pada titik kesempurnaan hak Allah
dan hak sesama manusia. Ia menjadi hilang-sirna dalam
Allah dan menjadi pengkhidmat sejati bagi makhluk. Ini adalah
dampak pengamalan syariat pada diri orang itu di dalam kehidupan ini. Akan tetapi dampak yang timbul sesudah
kehidupan ini adalah pada Hari itu perjumpaan rohani dengan Tuhan akan
nampak olehnya secara nyata. Dan pengkhidmatan
terhadap makhluk Allah yang telah ia lakukan atas dasar kecintaan kepada
Tuhan -- yang didorong oleh
kedambaan akan iman dan amal shalih -- akan nampak dalam bentuk pohon-pohon
dan sungai-sungai surga. Firman Allah Ta'ala berkenaan dengan itu ialah:
وَالشَّمْسِ
وَضُحَاهَا()وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا()وَالنَّهَارِ إِذَا
جَلَّاهَا()وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا()وَالسَّمَاءِ وَمَا
بَنَاهَا()وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا()وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا()فَأَلْهَمَهَا
فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا()قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا()وَقَدْ خَابَ مَنْ
دَسَّاهَا()كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا()إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا()فَقَالَ
لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا()
فَكَذَّبُوهُ
فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا()وَلَا
يَخَافُ عُقْبَاهَا
Yakni, demi matahari dan
cahayanya, dan demi bulan yang mengikuti matahari – yakni mendapat sinar dari
matahari dan kemudian seperti matahari ia menyampaikan sinarnya kepada benda-benda
lain; dan demi siang yang memperlihatkan kecemerlangan matahari dan menunjukkan jalan. Dan
demi malam yang menimbulkan gelap serta
menutupi segala sesuatu dengan tirai kegelapannya. Dan
demi langit serta tujuan yang menyebabkannya ia diciptakan. Dan demi bumi serta tujuan yang menyebabkannya telah dihamparkan seperti lantai semacam ini.
Dan demi jiwa dan kesempurnaannya yang telah membuatnya
setara dengan segala benda tersebut – yakni kesempurnaan-kesempurnaan yang
terdapat secara terpisah pada benda-benda itu -- jiwa manusia sempurna (insan kamil) menghimpun semua itu di dalam dirinya. Dan seperti halnya
seluruh benda itu secara masing-masing mengkhidmati umat manusia, seorang manusia sempurna (insan kamil)
melaksanakan semua tugas itu seorang diri, sebagaimana yang telah saya tuliskan.
Kemudian Dia
berfirman: Barangsiapa telah mensucikan jiwanya seperti ini -- seperti halnya matahari, bulan, bumi, dan
sebagainya, yakni ia telah sirna di dalam Allah dan menjadi pengkhidmat
makhluk Allah -- berarti ia telah
mendapat keselamatan dan terhindar dari maut (kematian).
Hendaknya diingat, bahwa yang dimaksud
dengan kehidupan adalah kehidupan
abadi yang akan diraih manusia sempurna (insan kamil) di kemudian
hari. Hal ini mengisyaratkan bahwa buah pengamalan
syariat di dalam kehidupan
mendatang adalah kehidupan abadi
yang akan senantiasa kekal karena makanan berupa curahan pandangan Tuhan.
Kemudian Dia
telah berfirman: Binasalah dan putus-asalah ia dari kehidupan, yakni orang yang
telah mencermari jiwanya dan tidak berhasil meraih
kesempurnaan-kesempurnaan -- padahal ia
telah dianugerahi kemampuan-kemampuan untuk itu – dan pulang setelah menjalani
kehidupan yang kotor.
Dan
kemudian sebagai contoh Dia
berfirman: bahwa kisah Tsamud menyerupai
kisah orang yang malang
itu. Mereka telah melukai unta
betina yang dijuluki unta betina Tuhan, dan mereka telah
menghalanginya minum air dari sumber mata air mereka. Jadi, pada
hakikatnya orang itu telah melukai unta
betina Tuhan dan telah membuatnya luput dari mata air tersebut. Hal ini
mengisyaratkan bahwa jiwa manusia pun merupakan unta betina Tuhan
yang manusia tunggangi. Yakni kalbu
manusia merupakan tempat penampakkan-penampakkan Ilahiyah, sedangkan air
bagi unta betina itu adalah kecintaan
dan makrifat Tuhan yang darinya ia hidup.
Kemudian difirmankan bahwa ketika kaum
Tsamud telah melukai unta betina itu dan menghalangi dari air
minumnya maka azab pun turun atas mereka, dan Allah Ta'ala sedikit
pun tidak mempedulikan bahwa setelah kematian mereka bagaimana nasib
anak-anak serta janda-janda mereka (Asy-Syams, 2-16).
Jadi, seperti itu pulalah orang-orang yang
melukai unta betina – yakni jiwa tersebut -- dan tidak berkeinginan untuk mengantarkannya
sampai pada kesempurnaan serta
menghalanginya minum air maka ia pun akan binasa.
Hikmah Sumpah Allah Ta'ala Dengan Berbagai Benda
Di
sini pun hendaknya diingat, bahwa sumpah
Tuhan dengan matahari, bulan dan
lain-lain mengandung rahasia yang dalam sekali, sehingga kebanyakan para
penentang kami – disebabkan ketidak-tahuan mereka – mengecam: apa perlunya
Tuhan bersumpah dan mengapa Dia bersumpah dengan makhluk? Akan
tetapi karena pemahaman mereka bersifat ardhi (bumi) dan bukan bersifat samawi
(langit) maka mereka tidak dapat
memahami hikmah yang bertalian dengan rahasia-rahasia kebenaran.
Jadi, hendaknya jelas bahwa tujuan
sebenarnya dari persumpahan itu ialah orang yang bersumpah
biasanya ingin mengemukakan kesaksian bagi pernyataannya. Sebab
andaikata bagi suatu pernyataan tidak terdapat kesaksian lain maka
sebagai gantinya manusia akan bersumpah atas nama Allah Ta'ala.
Sebab Allah adalah 'aalimul-gaib (mengetahui hal-hal yang gaib) dan
merupakan saksi pertama dalam setiap perkara. Seakan-akan orang itu
mengemukakan kesaksian Tuhan sedemikian rupa sehingga Allah Ta'ala tetap
saja diam sesudah sumpah itu dan tidak menurunkan azab atas dirinya maka berarti Allah telah memberi
cap restu terhadap keterangan orang tersebut, seperti halnya para saksi.
Oleh karena itu makhluk hendaknya jangan bersumpah
dengan makhluk lain, sebab makhluk bukanlah 'aalimul-gaib dan
tidak pula ia berkuasa untuk memberikan hukuman atas sumpah palsu.
Akan tetapi sumpah Allah di dalam
ayat ini tidak dapat diartikan sama dengan
bersumpahnya makhluk, melainkan ini merupakan sunnatullah
(kebiasaan Allah). Yakni ada 2 macam pekerjaan Allah, pertama pekerjaan yang
nyata, yang dapat dipahami oleh
semua orang dan tidak ada seorang pun yang berselisih pendapat mengenainya.
Sedangkan yang kedua adalah pekerjaan
tidak nyata, yang dunia sering salah paham serta berselisih pendapat
mengenainya. Jadi, Allah Ta'ala ingin
membuktikan pekerjaan-pekerjaan tidak nyata itu di hadapan orang-orang
melalui kesaksian dari pekerjaan-pekerjaan nyata.
Jadi, sudah jelas bahwa di dalam matahari,
bulan, siang-malam, langit dan bumi terdapat khasiat-khasiat seperti
telah kami uraian. Akan tetapi khasiat-khasiat semacam itu yang terdapat
di dalam jiwa manusia -- yang memiliki kekuatan berbicara -- tidak
setiap orang mengenalinya, maka Allah telah mengemukakan pekerjaan-pekerjaan
nyata-Nya sebagai saksi untuk menjelaskan pekerjaan-pekerjaan tidak
nyata. Seakan-akan Dia berfirman bahwa jika kamu ragu terhadap khasiat-khasiat
yang terdapat di dalam jiwa manusia
yang memiliki kekuatan berbicara itu maka kajilah oleh kamu
matahari, bulan dan sebagainya, karena
khasiat-khasiat tersebut secara nyata terdapat di dalam benda-benda itu. Dan kamu mengetahui bahwa manusia merupakan satu alam kecil (mikro kosmos), yang di
dalam jiwanya tertera gambaran seluruh alam secara ringkas. Lalu apabila sudah terbukti bahwa benda-benda besar alam-raya (makro kosmos) mengandung khasiat-khasiat
tersebut -- dan dengan demikian
benda-benda itu mengandung faedah kepada makhluk-makhluk – maka manusia yang
disebut paling besar dari semua itu dan yang telah diciptakan dengan derajat
tinggi, bagaimana mungkin manusia hampa dan luput dari khasiat-khasiat itu?
Tidak! Bahkan di dalam manusia pun -- seperti
halnya matahari -- terdapat suatu cahaya ilmu dan akal yang
dengan perantaraan itu dia dapat menyinari seluruh dunia. Dan
bagaikan bulan ia menerima cahaya
kasyaf, ilham dan wahyu dari Wujud Yang Maha Agung, lalu ia
memantulkan cahaya tersebut kepada orang-orang lain yang belum mencapai kesempurnaan
manusiawi. Oleh karena itu bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa kenabian adalah suatu kebatilan (kepalsuan) dan
seluruh kerasulan, syariat dan Kitab-kitab merupakan tipu-daya
serta egoisme manusia?
Kamu juga menyaksikan bahwa dengan terangnya
siang seluruh jalan menjadi nampak dan
segala lembah serta tebing menjadi kelihatan. Jadi, insan
kamil (manusia sempurna) merupakan siang yang memancarkan cahaya ruhani,
dengan semakin siang maka setiap jalan menjadi jelas. Ia
menunjukkan di mana dan ke mana arah yang benar, sebab dialah cahaya siang bagi hak (kebenaran).
Demikian pula kita menyaksikan bagaimana malam
memberi tempat bagi orang-orang letih dan penat. Semua buruh yang sepanjang hari tenaga
mereka dikuras habis dapat tidur dengan lelap di dalam kemurahan hati sang malam dan memperoleh ketenangan
setelah bekerja. Dan malam pun merupakan tabir penyelubung bagi setiap
orang
Demikian pula hamba-hamba kamil (sempurna)
Tuhan datang ke dunia untuk memberikan ketentraman. Orang-orang yang menerima wahyu
dan ilham dari Tuhan dengan kerja keras memberikan ketentraman kepada
segenap orang bijak. Berkat mereka rahasia-rahasia besar menjadi terpecahkan dengan mudah.
Demikian pula wahyu Ilahi
menyelubungi akal manusia sebagaimana malam menyelubungi. Kekhilafan-kekhilafan kotor manusia tidak akan
dibiarkannya zahir kepada dunia. Sebab orang-orang bijak melakukan perbaikan
dari dalam terhadap kekhilafan-kekhilafan mereka setelah memperoleh cahaya
wahyu. Dan berkat ilham
suci Allah mereka berhasil menyelamatkan diri mereka dari terbukanya aib.
Inilah sebabnya -- berbeda dengan Plato
-- tidak ada seorang pun filsuf Islam
yang mempersembahkan ayam sebagai tumbal bagi berhala. Dikarenakan Plato
tidak memperoleh cahaya ilham maka ia telah berbuat kekeliruan dan telah
melakukan suatu sikap yang tercela dan bodoh padahal ia dinamakan filsuf. Akan
tetapi berkat mengikuti junjungan kita Rasulullah saw. para cendekiawan Islam telah terpelihara dari
perbuatan-perbuatan tercela dan bodoh seperti itu. Kini lihatlah bagaimana
telah terbukti bahwa ilham seperti malam menyelubungi orang-orang bijak.
Ini pun Anda sekalian ketahui bahwa hamba-hamba kamil (sempurna) Allah – seperti langit
-- menarik setiap orang yang menderita
ke dalam naungan mereka Lebih istimewa lagi para nabi dari Dzat
Yang Maha Suci itu serta para penerima
ilham, pada umumnya seperti halnya langit mereka mencurahkan air
hujan berkat. Demikian pula mereka
juga memiliki khasiat-khasiat bumi, dari jiwa mereka yang suci
tumbuh berbagai pohon-pohon ilmu yang tinggi, yang dari naungan dan buah
serta bunganya orang-orang memperoleh manfaat.
Jadi, hukum kudrat yang terbuka
nyata ini yang ada di hadapan mata kita merupakan saksi bagi hukum
yang terselubung itu. Kesaksiannya telah dipaparkan oleh Allah Ta'ala di
dalam ayat-ayat tersebut dalam dua bentuk persumpahan. Jadi, lihatlah
betapa kalam yang terkandung dalam Quran Syarif
ini penuh dengan hikmah. Kalam
itu keluar dari mulut seorang ummi (yang butahuruf) penghuni padang pasir. Seandainya
ini bukan Kalam Ilahi maka orang-orang awam maupun mereka yang disebut
terpelajar – sesudah gagal mendalami rahasia makrifatnya -- pasti tidak akan mencelanya.
Sudah merupakan ketentuan bahwa jika seseorang
dengan pemikirannya yang ringan tidak dapat memahami sesuatu hal dari segi apa
pun maka barulah ia menjadikan suatu perkara hikmah sebagai bahan celaan. Dan celaaannya itu merupakan saksi bahwa rahasia
hikmah tersebut jauh lebih baik
dan lebih tinggi dari pemikiran-pemikiran awam. Itulah
sebabnya orang-orang yang bijak walaupun
dijuluki sebagai orang bijak tetap saja mencela hal itu. Namun sekali rahasia ini terbuka maka setelah
itu tidak ada seorang bijak pun yang akan mencelanya, bahkan ia akan
mengambil kelezatan dari itu.
Hendaklah diingat bahwa untuk memaparkan kesaksian
dari hukum kudrat tentang tradisi wahyu dan ilham yang
sudah berlaku semenjak awal, Quran Syarif pada tempat lain pun telah mengambil sumpah
semacam itu, yakni:
وَالسَّمَاءِ
ذَاتِ الرَّجْعِ()وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ()
إِنَّهُ
لَقَوْلٌ فَصْلٌ()وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
Yakni, demi langit yang
darinya turun hujan,. dan demi bumi yang menumbuhkan bermacam-macam tubuhan
dari hujan itu. Quran Syarif ini adalah Kalam
Ilahi dan wahyu-Nya, yang memutuskan perkara antara haq
(kebenaran) dan batil (kepalsuan), dan bukan merupakan hal yang sia-sia
dan percuma. Yakni datang tepat pada waktunya, datang seperti hujan yang turun
pada musimnya (Ath-Thaariq,
12-15).
Kini Allah Ta'ala telah memaparkan suatu kudrat
nyata dalam bentuk sumpah sebagai bukti bagi Quran Syarif yang merupakan wahyu-Nya.
Yakni di dalam hukum kudrat selalu kita lihat dan saksikan bahwa hujan
turun dari langit pada waktu sangat diperlukan. Kehijauan bumi
bergantung sepenuhnya pada hujan dari langit. Sekiranya hujan tidak
turun dari langit maka lambat-laun
sumur-sumur pun menjadi kering. jadi, pada hakikatnya air di bumi pun
bergantung pada hujan dari langit. Itulah sebabnya kapan saja air
mengucur dari langit maka air-air
sumur di bumi pun jadi naik.
Mengapa jadi naik? Sebabnya adalah air
langit menarik air bumi naik ke atas. Hubungan ini jugalah yang
terdapat antara wahyu Ilahi dan akal. Wahyu Ilahi
– yakni ilham Ilahi -- merupakan air
samawi, sedangkan akal merupakan air bumi. Dan air [bumi]
ini senantiasa memperoleh tarbiyat (tuntunan dan bimbingan tahap demi
tahap) dari air samawi, yaitu ilham. Dan
seandainya air samawi -- yakni
wahyu – berhenti turun maka air bumi pun lambat laun menjadi kering.
Tidakkah untuk itu dalil ini sudah
mencukupi bahwa apabila suatu kurun masa yang panjang telah berlalu dan
di bumi tidak lahir seorang penerima ilham maka akal pikiran
orang-orang bijak menjadi kotor
dan rusak, seperti halnya air bumi yang kering dan busuk? Untuk
memahami hal itu cukup dengan menelaah
zaman sebelum kedatangan Nabi kita saw. yang menampakkan warnanya ke
seluruh dunia. Dikarenakan pada waktu itu zaman Nabi Isa a.s. telah berlalu 600
tahun dan selama jangka waktu itu tidak ada seorang penerima ilham pun
yang lahir maka seluruh dunia telah merusak kondisinya sendiri. Sejarah
tiap-tiap negeri memberi kesaksian bahwa pada zaman Rasulullah saw. – yakni sebelum pendakwaan beliau saw. -- pikiran- pikiran buruk telah tersebar
di seluruh dunia.
Kenapa terjadi demikian dan apa sebabnya?
Sebabnya adalah rangkaian ilham telah lama terputus. Kerajaan langit
pada waktu itu dikuasai hanya oleh akal. Jadi, betapa akal yang tidak
sempurna itu telah menjerumuskan orang-orang ke dalam berbagai kerusakan.
Apakah ada juga yang tidak mengetahui hal itu? Lihatlah, apabila air
ilham telah lama tidak mengucur maka air seluruh akal menjadi
kering.
Jadi. di dalam sumpah-sumpah itu
Allah Ta'ala mengemukakan hukum alam yang demikian, dan Dia berfirman:
"Perhatikanlah oleh kamu, bukankah ini merupakan hukum kudrat Ilahi yang
kokoh dan abadi bahwa kehijauan bumi seluruhnya
bergantung pada air langit." Jadi, hukum kudrat yang nyata
ini merupakan saksi bagi hukum kudrat yang terselubung, yakni
rangkaian ilham Ilahi. Maka ambilah
faedah dari saksi
tersebut, dan janganlah jadikan akal itu semata sebagai penunjuk
jalan, sebab akal bukan suatu air yang dapat bertahan tanpa air
samawi.
Sebagaimana keistimewaan air langit dengan khasiat alaminya ia meninggikan
air semua sumur – tidak peduli
apakah airnya jatuh masuk ke dalam suatu sumur atau tidak – demikian pulalah
ketika seorang penerima ilham Ilahi tampil ke dunia -- tidak peduli apakah ada orang bijak yang
menerimanya atau tidak -- maka pada zaman
penerima ilham tersebut akal-akal manusia sendiri menjadi sedemikian
rupa bercahaya dan bersihnya sehingga belum pernah tampil
demikian sebelum itu. Orang-orang dengan sendirinya mulai mencari kebenaran,
dan di dalam daya pikir mereka timbul suatu gerakan secara gaib.
Jadi, segenap kemajuan akal dan gejolak
hati ini timbul akibat langkah beberkat si penerima ilham tersebut serta dengan khasiatnya
ia mengangkat air-air bumi.
Apabila
kalian menyaksikan bahwa setiap orang bangkit mencari agama-agama
dan air bumi pun mulai bergejolak
naik maka bangunlah, waspadalah dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa
dari langit hujan deras telah turun dan telah terjadi hujan
ilham atas kalbu seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar